TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 22~Konperensi Pers


__ADS_3

“Apakah Chandra akan bertanggung jawab dan menikahimu? Lalu bagaimana dengan istri sahnya, apakah dia setuju untuk dimadu?”


“Anda baru saja keluar dari poli kandungan, pasti anda habis memeriksakan diri anda ke dokter tentang kehamilan kan?”


Selena menggeleng. “itu tidak benar, aku tidak sedang hamil! sekarang kalian minggir!!” elaknya dengan suara sedikit bergetar lalu menarik tangan bibinya, melangkah maju untuk menerobos gerombolan para wartawan itu. namun gagal, para wartawan itu terus menerjangnya.


kilatan cahaya dan suara jepretan kamera pun selalu mengikutinya tanpa jeda, namun Selena tak perduli itu. Ia tetap jalan cepat, seraya mengeratkan genggamannya.


seketika itu pula suasana lorong rumah sakit berubah menjadi ramai, melihat beberapa orang yang tengah menggerubungi dua wanita sambil terus melemparkan pertanyaan membuat para pasien dan pengunjung yang tak sengaja lewat pun berhenti dan melihat aksi mereka.


tak sedikit dari mereka berbisik membicarakan soal kabar tentang selena yang sudah di anggap pelakor, karena hamil dengan pria beristri. Begitulah resikonya menjadi seorang artis, apapun yang dia perbuat pasti akan menjadi buah bibir para netizen.


Terlebih pemberitaan itu sangat memalukan, sudah di cap sebagai pelakor, ditambah dengan berita kehamilannya yang sudah tersebar hampir di seluruh dunia.


di saat selena terus berusaha lepas dari buruan wartawan, dari kejauhan datang seorang laki-laki dan satu perempuan tengah mendorong kursi roda yang sudah diduduki seorang wanita muda. di belakangnya terdapat sudah ada lima petugas keamanan mengikuti langkahnya.


“BERHENTI KALIAN SEMUA!!”


Seketika keadaan menjadi senyap, pandangan mereka secara serempak menoleh ke arah suara. Begitu pula dengan Selena dan Yuna, dua wanita beda generasi itu nampak terkejut.


“Alya? Kevin?” Lirih Selena, matanya membola kala melihat Kevin dan adiknya disana, ditemani oleh Arina dan beberapa satpam dibelakangnya.


Dalam otak Selena bertanya-tanya, ada apa dengan adiknya itu? Kenapa gadis itu berada disana bersama Kevin pula?


Begitu pun dengan Yuna, wanita setengah baya itu terkejut melihat keponakannya duduk di kursi roda. Terlebih di sampingnya sudah ada Kevin, yang dia sendiri tahu adalah putra bungsu dari keluarga dirgantara. Tak lain dan tak bukan, adalah adik dari Rafael.


Selena ingin sekali berlari ke arah adiknya yang saat ini tengah duduk di kursi roda dan bertanya padanya apa yang sudah terjadi, namun itu tak bisa dia lakukan karena masih ada wartawan.


Tak banyak yang tahu jika dia memiliki adik, terlebih Mereka pasti akan kembali menyerbunya dengan jutaan pertanyaan yang nantinya akan membuat sang adik kembali terluka, cukup kakinya saja yang menjadi korban atas keteledorannya.


Sementara itu Dengan pelan Kevin mulai berjalan sambil mendorong kursi roda itu, mendekat ke tempat Selena dan Yuna berada. Di ikuti arina di belakangnya.


Tanpa harus disuruh para wartawan itu menyingkir untuk memberi jalan, langkahnya terhenti saat sudah di dekat dua wanita itu. Dengan gaya arogannya Kevin maju selangkah menghadap ke arah wartawan, menutupi para wanita dengan tubuhnya.


“Anda tuan Kevin dirgantara kan?” Tanya salah satu wartawan yang berjenis kelamin perempuan.


“Benar.” Jawab Kevin singkat.


“Sedang apa anda disini, dan.. siapa wanita yang duduk di kursi roda ini? Lalu nona Mayra kemana? Apa dia tidak ikut?” Sahut wartawan lain memberi pertanyaan bertubi-tubi.


“Dia teman kampusku, saya datang kesini untuk mengantarnya chek up. Dan soal Mayra dia tidak ikut, dia sedang ada dirumahnya.” Ucap Kevin dengan nada santai, dan tak lupa dengan wajah datarnya.


“Apakah nona Mayra tahu anda pergi bersama nona ini?”


“Ya.”


“Lalu--”


“Cukup!”


Belum sempat wartawan itu menyelesaikan pertanyaannya, Kevin sudah memotongnya. Dia tipe orang yang tidak terlalu suka di interogasi dan banyak bicara, apalagi dengan wartawan. Menurutnya mereka adalah sekumpulan orang-orang bodoh yang selalu ingin tahu urusan orang.


“Aku ingin bertanya pada kalian, siapa yang pertama kali membuat kabar tentang skandal Selena?” Tanya Kevin, mata bulatnya menatap wajah wartawan itu satu persatu.


Kevin berani bertanya seperti itu karena dia melihat semua wajah wartawan yang ada dihadapannya bukanlah wartawan Indonesia, melainkan wartawan Korea. Entah bagaimana caranya mereka semua bisa ada disana, dan bisa mengetahui keberadaan Selena.


Sejenak para wartawan itu terdiam dan saling memandang.


“Kenapa anda ingin tahu soal itu? Apa urusan anda?” Tanya salah satu wartawan pria.


“Tentu saja itu menjadi urusanku karena nona Selena bekerja di agensi keluargaku.” Ucap Kevin memberi alasan yang masuk akal.


“Tapi bukankah itu bukan tugas anda untuk tahu, bahkan kakak anda juga tak ingin tahu. nona hanilah yang harusnya bertanya.” Sahut wartawan itu, dan itu membuat Kevin tertarik.


dia tak langsung menjawab, matanya menatap tajam wajah wartawan yang berani bertanya seperti itu.


‘nyalinya besar juga.’


“Memang benar, tapi apa bedanya? Mau itu Hani ataupun anggota keluargaku yang lainnya menurutku sama saja. Sekarang katakan siapa yang pertama bikin artikel itu?”


Para wartawan itu kembali diam sambil berbisik. Bertanya tanya sana tanya sini, namun tak ada jawaban pasti.


“Kenapa kalian diam? Jawab!” Sentak Kevin, wajahnya terlihat murka.


Suasana kembali senyap, wajah mereka terlihat tegang kala melihat kemarahan di wajah kevin.

__ADS_1


“Baiklah kalau kalian tak mau jawab, saya akan bicara disini saja. Pasang kuping dan alat perekam kalian dengan baik, atau kalau perlu catat apapun yang saya ucapkan.”


Para wartawan itu bersiap-siap dengan alat-alat mereka, mereka penasaran hal apa yang akan di sampaikan oleh putra bungsu dari keluarga dirgantara itu.


Sama halnya dengan para wartawan itu, Selena beserta Yuna juga terlihat penasaran. Beda halnya dengan Alya yang terlihat gusar, kedua tangannya yang ada di pangkuannya terlihat saling meremas. Ada apa ini?


“Saya mewakili kakak sulung saya, Rafael. ingin menyampaikan berita yang mungkin membuat kalian terkejut. nona Selena..” ucapan Kevin terjeda, dia menoleh sekilas ke belakang sambil tangannya mengarah ke Selena, kemudian kembali menatap para wartawan di depannya.


“Yang di kabarkan hamil anaknya Chandra, itu adalah berita hoax.” Sambungnya.


Mendengar itu para wartawan terlihat kaget, sama halnya dengan para pengunjung rumah sakit tersebut yang mendengarnya dan tentu juga bagi Selena.


“Dan.. ayah biologis bayi itu adalah kakak saya sendiri, yaitu Rafael. Sebenarnya kakak saya ingin menyampaikan hal ini secara langsung pada kalian, dia marah pada semua media yang mengatakan jika Selena hamil karena chandra. tapi karena saat ini dia sedang mengurus permasalah di kantor agensi, akhirnya dia meminta tolong padaku untuk menyampaikannya.”


Para wartawan itu masih terdiam, wajah mereka pun belum berubah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka jika Selena dan Rafael memiliki hubungan khusus, bahkan sampai menghasilkan anak.


“Tapi kata nona Renata, dia melihat sendiri jika nona Selena dan Chandra tengah bercumbu di dalam kamar hotel!”


“Sekali lagi saya katakan Itu hoax! Dia hanya sedang cemburu pada suaminya. Ya.. kalian tahu kan kelakuan Chandra sebelum menikah Seperti apa, dia suka main perempuan. Bahkan kakak kedua saya sering melihatnya di klub malam dengan wanita berbeda setiap harinya.”


Sebagian dari wartawan itu terlihat mengangguk-angguk, mereka percaya dengan ucapan Kevin.


Memang bukan rahasia umum lagi dengan kelakuan Chandra yang suka mabuk-mabukan dan main perempuan sebelum menikah, Namun mereka tak langsung percaya begitu saja sebelum ada konfirmasi dari kedua belah pihak.


“Apa buktinya jika omongan anda ini benar? Atau.. jangan-jangan Anda salah satu pria yang pernah tidur dengan Selena? Atau ternyata Anda sendiri yang sebenarnya ayah biologis dari bayi yang Selena kandung?”


Kevin yang mendengar itu terlihat emosi, kedua tangannya sudah terkepal. Dia tidak terima dituduh seperti itu.


Namun dia berusaha menahan emosinya saat merasakan tangan alya menyentuh lengannya, dia pun sadar bukan saatnya emosi. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafas kasar.


Selena yang mendengar itu pun terlihat marah sekaligus sedih, hatinya hancur. apakah pikiran orang lain diluar sana seburuk itu? Menganggap dirinya wanita murahan yang memberikan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya? Padahal dia melakukannya hanya pada satu pria dan itu atas dasar rasa cinta.


“Nona Selena, apakah apa yang di ucapkan tuan Kevin ini benar?”


Selena diam sejenak kemudian mengangguk. “Ya, benar.” Jawabnya dengan suara parau.


“Sudah dengarkan? Saya dan Selena memang tak ada hubungan dekat, kami hanya sekedar kenal. Lagipula kalian semua tahu sebentar lagi saya akan menikah dengan Mayra.”


Para wartawan itu terlihat saling melempar pandang sambil berbisik-bisik, sesekali mengangguk. Seakan mereka berasumsi jika apa yang Kevin katakan benar adanya.


Kemudian tanpa memperdulikan para wartawan yang masih ingin bicara, Kevin langsung berbalik badan, mengajak Selena, Arina dan Yuna untuk pergi sambil mendorong kursi roda yang Alya duduki. Mereka berjalan menelusuri lorong rumah sakit yang sudah di penuh oleh penonton.


Sebelumnya Kevin dan alya sudah meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk mengadakan konferensi pers, dan dia juga sudah mengatakan pada Rafael untuk melakukan itu.


Awalnya pria itu menolak dan akan melakukannya sendiri, namun kalau harus nunggu Rafael datang urusannya akan semakin rumit dan belum tentu kapan pria itu akan datang.


Sementara itu Rafael sendiri disana juga sedang sibuk mengurus media Korea yang terus-menerus membuat berita tentang Selena dan Chandra, sampai harga saham GOLDEN ENTERTAINMENT turun drastis.


Kevin yang mengetahui itu pun berinisiatif untuk melakukan konferensi pers tersebut, berharap jika keadaan akan kembali normal. Ya.. semoga saja.


“Tolong urus ya pak.” Ucap Kevin pada kelima satpam itu saat dirinya berdiri depan mereka.


“Baik, pak.” Sahut mereka secara serempak. Kemudian mereka berlari ke arah wartawan yang terlihat ingin mengejar langkah Kevin.


Setelah acara konferensi pers yang Kevin adakan secara mendadak itu, dunia hiburan kembali heboh hanya dalam hitungan menit. Hampir di setiap stasiun TV ataupun aplikasi video streaming acara itu selalu muncul, dan perlahan-lahan skandal Selena dan Chandra pun menghilang, di gantikan dengan Rafael.


Respon netizen kali ini sedikit menyenangkan, karena banyak sebagian yang setuju jika Selena dan Rafael menjadi pasangan kekasih. Mereka berkomentar jika kali ini Lebih pantas dan serasi ketimbang bersama Chandra yang berstatus suami orang.


mereka menjadi penasaran bagaimana awal mereka bertemu hingga akhirnya menjalin hubungan secara diam-diam, pasalnya hubungan mereka sama sekali tak terendus media manapun.


Bagi yang tahu perjuangan awal karir Selena malah berbeda pendapat, mereka menganggap jika Selena hanya ingin memanfaatkan Rafael untuk mendongkrak popularitasnya sebagai artis.


Ada pula yang menuduh jika Selena memakai guna-guna agar Rafael suka padanya, dan masih banyak hal lainnya yang tentunya bukan mengarah ke hal baik.


Sementara itu Chandra yang masih tinggal di Jakarta tengah kalang kabut setelah mendengar berita tersebut, dia berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya. berusaha menelpon Selena, namun wanita itu tak menjawabnya. Pesan pun tak dia baca.


Sedangkan Renata sang istri terlihat duduk di sofa dengan memasang wajah yang sulit di artikan, dia tak bicara namun matanya lurus ke arah tv yang menayangkan berita tersebut.


Saat ini mereka sedang berada diruang tengah yang ada dirumahnya, hanya mereka berdua. Sedangkan anaknya Arjuna sedang ikut pergi bersama nenek kakeknya.


Sebenarnya Awal kedatangan Chandra ke Indonesia adalah hanya untuk bisa bertemu dengan Selena, dia pikir akan sangat menyenangkan jika mereka bisa ketemu di negara lain sekaligus mengajak wanita yang masih sangat dia cintai itu berlibur.


Pasalnya jika mereka bertemu di Korea, Renata selalu tahu dan dia akan mengadu perbuatannya pada orang tuanya. Namun siapa sangka, saat mereka berdua sedang bercumbu mesra di hotel tiba-tiba Renata datang dan mengamuk disana.


Sehari setelah berita itu beredar orang tua Chandra langsung menyusul, tadinya mereka tak ingin membawa Arjuna. Namun karena disana tak ada yang jaga, alhasil mereka membawanya.

__ADS_1


Sesampainya di sana, orang tuanya langsung mengeksekusi Chandra. Mereka memarahi, bahkan mencacinya dengan kata-kata kasar. Sementara Renata dan Arjuna memilih diam di kamar.


“Bangsat!”


PRANG!


suara umpatan kasar dan benda jatuh mampu menyadarkan Renata, entah apa yang dia lamunkan. Apakah melamunkan Rafael? Pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya, adalah calon suami dari saingannya.


Apakah benar jika Rafael dan Selena akan menikah? Tapi kenapa dia harus mengaku ayah dari bayi yang Selena kandung? Apakah Rafael mencintainya?


Memikirkan itu Entah kenapa Renata merasakan hatinya sesak, dia tak rela jika Rafael benar-benar mencintai Selena. Dia marah dan kecewa pada pria itu tapi apa haknya, dia dan Rafael sudah bukan pasangan lagi. Bahkan dia lebih memilih meninggalkan pria itu dan menikah dengan Chandra.


“Brengsek kau Rafa, aku gak akan biarkan kamu merebut selenaku!” Raung Chandra, wajahnya memerah.


“Sudahlah mas biarkan saja dia nikah sama pria itu, daripada dia mengganggumu terus.” Ucap Renata santai, namun dalam hati dia merasa panas.


Mendengar itu Chandra yang kala itu menatap layar ponselnya, langsung menoleh ke arah sang istri.


“Sampai dunia ini runtuh pun aku tak akan biarkan Selena nikah sama Rafael ataupun pria lain!”


Renata memutar bola matanya malas, jengah mendengar kebucinan sang suami dengan wanita lain. Jika saja wanita itu adalah dirinya sendiri, tentu dia akan sangat senang.


“Lalu maumu apa sekarang? kamu mau datang ke rumahnya dan ingin melamarnya? Telat mas! Seluruh dunia sudah tahu kalo wanita itu calon istrinya Rafael.”


“Aku gak perduli! Bayi itu adalah milikku dan aku tak akan biarkan pria manapun merebutnya.”


“Jadi kamu akan tetap mau menikahinya? Seperti ucapanmu kemarin?” Tanya Renata dengan emosi.


“Tentu saja!”


“Kamu jangan gila mas! Mama papa gak akan pernah setuju kamu menikahi wanita itu!”


“Aku gak perduli, mau mereka setuju atau tidak aku tetap akan menikahinya.”


Renata mendengkus, dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan bahunya di sandaran sofa empuk. Matanya yang sedikit sipit menatap dingin wajah suaminya.


“Silahkan saja kamu pergi kesana, dan aku pastikan setelah itu kamu akan di coret di kartu keluarga!”


“Aku tak perduli dengan semua itu, yang aku inginkan adalah Selena tetap bersamaku!”


Renata yang mendengar itu tertawA kecil, lalu dia bangun dari duduknya menghampiri suaminya yang tengah menatapnya tajam.


“Kamu pikir Selena bakal mau menerima kamu setelah gak punya apa-apa?”


“Tentu saja dia akan menerimaku! Dia bukan cewek matre sepertimu!”


“Oh ya? Aku kok gak yakin ya.”


“Aku akan buktikan sekarang!” Ucap Chandra, kemudian dia berjalan cepat menuju pintu utama.


“Mas, kamu mau kemana?” Tanya Renata, dia menyusul langkah suaminya.


“Ke rumah Selena! Aku akan buktikan ucapanku benar dan akan membawanya kehadapanmu, setelah itu aku akan menalakmu!” Kemudian Chandra kembali melangkah.


“Kamu jangan gila mas, ingat sama Arjuna! Apa kamu gak kasihan sama dia?” Seru Renata, dia menahan lengan suaminya saat pria itu sudah di teras depan.


“Soal Arjuna kamu tenang aja, aku akan tetap bertanggung jawab. Kalau perlu aku akan membawanya saat sudah menikah dengan Selena nanti.”


Renata menggeleng tanda tak setuju. “dia anakku! Aku yang mengandung dan melahirkannya. Aku gak akan biarkan kamu ambil hak asuhnya, aku gak rela pelakor itu merawat anakku!”


“Diam kamu Renata! Sudah berkali-kali aku katakan Selena bukan pelakor, dia wanita yang aku cintai!”


“Terserah, aku gak perduli! Yang penting aku gak akan biarkan kamu mengambilnya dariku!”


“Renata, dia anakku! Aku ayahnya.”


“Dan aku ibunya, aku yang menyusui dan membesarkannya! Jadi aku paling berhak atas diri Juna!”


“Kamu!” Tangan chandra sudah terangkat dan siap menamparnya namun tertahan dan berakhir meninju angin.


Tanpa berkata lagi Chandra langsung pergi menuju mobilnya yang ada di bagasi, masuk dengan langkah terburu dan menyalakannya.


Renata hanya diam memperhatikan mobil suaminya pergi meninggalkan rumah dengan sejuta luka, tanpa sadar air bening itu keluar dari matanya.


“Dasar wanita ****** sialan! Setelah Chandra kau rebut, sekarang Rafa juga kau Embat! Awas saja, aku tak akan biarkan kamu hidup bahagia bersamanya. Aku jamin itu!” Gumamnya sambil menyeringai, di dalam otaknya kini sudah tersusun sebuah rencana untuk menghancurkan hidup Selena.

__ADS_1


__ADS_2