TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 26~Ziarah Bersama


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian Kevin dan Dylan sudah sampai dirumah Alya, di halaman depan rumahnya nampak ada satu mobil warna putih.


kapasitas halaman rumah Alya yang kecil, hanya bisa menampung satu mobil saja. Jadi Kevin harus memberhentikan mobilnya di luar, dia nampak menyipitkan matanya, merasa tak asing dengan mobil tersebut.


“Itu mobil siapa Vin?” Tanya Dylan, ia duduk di jok depan samping Kevin.


“Itu.. kayaknya mobilnya Chandra deh.” Jawabnya ragu.


“Chandra?” ulang Dylan.


Kevin mengangguk. “Lo masih ingat gak, sama pemberitaan kemarin yang di rumah sakit itu?” tanyanya.


Dylan yang mendengar itu mengangguk antusias.


“Nah, abis itu kan gue langsung anterin Alya dan keluarganya pulang. Pas nyampe, Chandra dan mobil itu sudah ada disini.”


“Terus sekarang dia mau ngapain datang kesini lagi? Apa jangan-jangan dia mau nemuin Selena?” tebak Dylan.


Kevin mengangkat kedua bahunya, tanda tak tahu.


“Jadi gimana nih, kita tunggu aja atau langsung masuk?”


“Tunggu ajalah, soal masalah ini bukan urusan kita. Lagian kayaknya Kenzo udah jemput kak Selena dan kak Rendy, pasti sebentar lagi juga tuh orang di usir.”


Pada akhirnya Dylan dan Kevin memilih diam di dalam mobil, sambil memperhatikan gerak-gerik Chandra yang tengah mengetuk pintu. tak berselang lama pintu terbuka, dan menampakkan sosok adinata. Terlihat sangat jelas pria paruh baya itu terkejut, tak lama kemudian Yuna pun datang. Ekspresinya pun tak kalah jauh dari suaminya, dan entah apa yang Yuna ucapkan sehingga membuat wajah adinata murka.


Dengan kasarnya pria paruh baya itu mendorong tubuh Chandra, sambil sebelah tangannya menuding ke arah jalanan tanda mengusir pria itu.


Awalnya Chandra tetap keukeuh tak mau pergi, namun pada akhirnya pria itu pasrah dan pergi masuk mobil.


Setelah mobil Chandra sudah benar-benar pergi, Kevin kembali menyalakan mobilnya dan masuk ke pekarangan rumah Alya. Adinata dan Yuna yang kala itu masih berada di teras, kaget melihat mobil lain masuk ke pekarangan rumah. kedua orang tua itu langsung jalan mendekat, saat Kevin dan Dylan keluar dari mobil tersebut.


Yuna langsung tersenyum lebar saat melihat kevin, beda halnya dengan adinata yang diam saja.


“Nak Kevin datang kemari pasti mau menemui Alya ya?”


DEG!


Tebakan Yuna membuat Kevin mematung di tempat, ia belum bicara soal kedatangannya tapi wanita paruh baya itu malah sudah mengetahuinya.


“Iya Tante, kok Tante bisa tahu?” Tanya Kevin, seraya mengernyit heran.


“sebelumnya Alya sudah minta ijin sama Tante, katanya kalian mau mengerjakan tugas kuliah bersama di luar.” jawab Yuna.


Mendengar ucapan Yuna membuat Dylan menatap Kevin, ia menyikut lengan adiknya sambil meliriknya tajam. Seakan dari lirikan itu meminta penjelasan padanya, namun Kevin hanya nyengir saja dan memberi kode lewat kedipan mata tanda harus diam.


“O-oh.. iya Tante, kami memang ada tugas kelompok yang harus dilakukan diluar kampus.” sahut Kevin.


“terus kenapa pak Dylan ikut denganmu juga?” tanya Yuna, seraya melirik Dylan.


“Emm.. saya hanya ingin mengantarnya saja Tante, kebetulan mobil Kevin sedang ada di bengkel.” ujar Dylan beralasan.


“oh.. begitu. Tante gak nyangka Loh kamu sama Alya ternyata satu kampus, dan Tante juga denger dari om katanya dulu kalian satu sekolah waktu SMA?”


“Iya, Tante. Dulu kami memang satu sekolah, terus Alyanya mana? soalnya udah di tunggu sama anak-anak lain ditempat lokasi.”


“Bentar ya Tante panggilkan, tadi sih dia lagi siap-siap. Yuk masuk.”


Yuna menggiring dua pria muda itu untuk masuk dalam rumah, begitu pula dengan Adinata yang ikutan masuk. Mereka bertiga duduk di sofa yang ada diruang tamu, sementara Yuna pergi ke kamar Alya.


“Apa kabar om, masih ingat dengan saya?” Tanya Dylan pada Adinata.


Di tanya seperti itu, adinata tersenyum sambil mengangguk.


“Tentu saja saya masih ingat pak Dylan, kabar saya juga baik. Bapak sendiri bagaimana?” Jawab Adinata yang di akhiri dengan balik bertanya.


“saya juga baik pak.”


“Jadi.. nak Kevin ini?”


“Dia adik saja pak.”


Adinata mengangguk paham, raut wajahnya seperti tak enak.


“Maaf ya nak Kevin, sebelumnya om memang tahu Soal kamu tapi om gak nyangka Ternyata kamu orangnya.”


“Iya om gak apa-apa.” balas Kevin.


“Kamu sama Alya kan sudah saling kenal sejak SMA, berarti hubungan kalian cukup dekat ya?” Tanya Adinata, mata sipitnya menatap penuh wajah Kevin.


Kevin yang ditanya seperti itu salah tingkah, sementara Dylan menahan senyumnya.


“Ya.. begitulah Om.” jawabnya.


“Kalau begitu, om bisa minta tolong sama kamu?”


“Minta tolong apa om?”


“Sebentar lagi kan Selena dan kakakmu akan menikah, jadi otomatis Selena akan ikut suaminya. Sementara Alya harus menetap disini untuk melanjutkan kuliahnya, sedangkan antara om, Tante dan Rendy gak bisa tinggal disini. Jadi om minta sama kamu untuk menjaganya, bisa?”


Kevin diam, keningnya berkerut dalam. Ia merasa curiga dengan ucapan pria itu, apa adinata sudah tahu dengan rencananya yang akan menikahi alya, tapi dari siapa? Apa Alya sendiri yang memberitahunya?


“Om, ak--”


Drrttt..


Ucapan Kevin terhenti saat mendengar suara getaran, ternyata itu dari ponsel Dylan. Pria itu pamitan pada adinata untuk keluar sebentar, dan pria paruh baya itu mengiyakan.


Kini diruangan itu tersisa Kevin dan Adinata, dua pria berbeda generasi itu duduk berhadapan dengan mata saling berpandangan.


“Gimana nak Kevin dengan permintaan om, apa kamu mau?” Tanya adinata memastikan.


“aku-”


“Om tahu kalau kalian dulunya pernah ada hubungan, dan om juga tahu dengan rencana kamu dan Rafael.” potong adinata.


DEG!


Tubuh Kevin terpaku di tempat, wajahnya pias serta kedua matanya melebar.


“Om, bukan maksudku seperti itu. tapi-”


Ucapan Kevin lagi-lagi terhenti, saat mendengar kekehan adinata.


“Tenanglah nak Kevin, jangan takut begitu. Santai saja.” Ucap adinata disela-sela kekehannya.


“Om gak marah?” Tanya Kevin, ia penasaran.


“Untuk apa om harus marah, niat kalian berdua kan baik mau menolong Selena. Ya.. walaupun disini Alya yang menjadi korbannya, Tapi kamu juga tak sepenuhnya salah.”


“J-jadi om sudah tahu semuanya? dan om setuju?”


Adinata mengangguk mengiyakan.


“Om tahu dari siapa? Apa Alya yang kasih tahu?”


“Enggak, Alya tak bicara apapun soal ini, tapi sejak kedatangan kakakmu kesini sebenarnya om sudah curiga. Ditambah malam harinya om melihat Alya menangis sendirian di taman samping rumah. apapun itu om sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menolong Selena, hanya satu yang om pinta dari kalian berdua. Tolong jaga baik-baik dua keponakan om.”


“Om tenang saja, meskipun ini pernikahan terpaksa tapi aku dan bang Rafa akan menjaga mereka dengan baik.” Ucap Kevin dengan yakin.

__ADS_1


Adinata mengangguk. “Iya nak, om percaya dan terima kasih.”


“Aku boleh bertanya?”


“Tentu. Apa itu?”


“Darimana om tahu kalau aku dan Alya dulunya pernah pacaran?”


“Sebenarnya tadi om hanya menebak saja, tapi begitu melihat ekspresi kamu membuat om yakin kalau kalian memang ada hubungan.”


Kevin tercengang, dia pikir pria itu benar-benar tahu tapi Ternyata hanya menebak saja.


“Selain itu.. paman juga melihat ada foto kalian berdua di kamarnya, jadi om menyimpulkan jika kalian memang ada hubungan.”


Kevin membisu


‘foto berdua? jadi dia masih menyimpannya?’


...💐💐💐...


“Biar aku aja Vin yang nabur, kamu ke makam mamamu aja.” ucap Alya saat melihat Kevin berjongkok di sisi makam kedua orangtuanya, sambil menabur bunga.


Kevin sama sekali tak memperdulikan ucapan alya, dia tetap melakukannya. Sementara Alya sendiri masih duduk di kursi roda, sambil menatap pria itu yang menabur bunga ke pusara orang tuanya.


Harusnya itu adalah tugasnya, tapi Kevin menahannya dan menyuruhnya untuk duduk saja di kursi roda.


Selesai dengan bunga, Kevin bangun dari posisi jongkoknya. Dia jalan mendekati Alya dan tangannya ingin meraih botol air yang tengah di genggamannya, namun gadis itu menahannya.


“Lepaskan!” Pinta Kevin.


Alya menggeleng. “Gak mau! Ini tugasku Vin, biar aku yang lakuin.”


Kevin membuang nafas kasar. “Tapi kaki kamu masih sakit, udahlah jangan dibikin ribet.”


“Aku bilang gak mau ya gak mau, jangan maksa deh!” Suara alya mulai meninggi.


Gadis itu semakin erat menggenggam botol agar Kevin tak bisa mengambilnya, dan terjadilah aksi tarik-tarikan.


“alya, lepas!”


“Gak!”


“aku bilang lepas!”


“Enggak!”


“Alya lepas!”


“gak mau!”


Sementara itu tak jauh dari posisi mereka ada Dylan, ia melihat adegan itu dengan helaan nafas jengah.


‘padahal sebentar lagi mereka akan menikah, tapi kelakuannya masih kayak bocah!’ gerutunya dalam hati.


“Hey kalian berdua! Kalau mau berantem jangan disini dong, ini tuh makam bukannya ring tinju. Gak malu apa sama semua setan yang ada disini, pada lihat tingkah kalian berdua!” Omel Dylan panjang lebar, namun tak di gubris oleh pasangan itu.


“Vin, udahlah ngalah aja sama cewek. Lagian apa yang alya bilang itu benar, ini memang tugasnya.”


Mendengar itu Kevin mendelik tajam ke arah sang kakak. “Lo buta ya, gak lihat kakinya lagi sakit. Kalo bekas jahitannya ke buka lagi, mau Lo tanggung jawab!” serunya.


“Ya tap-”


“diam!” Potong Kevin cepat, kemudian dia kembali menatap Alya. Tangan mereka masih saling berebut botol.


‘dasar pasangan aneh!’ Dylan kembali menggerutu, menatap kesal dua orang itu sambil kedua tangannya memeluk buket besar bunga mawar putih.


“Gak!”


Kevin menghentikan gerakan tangannya, namun tak melepaskan. Sejenak dia menghela nafas kasar, seraya memejamkan matanya.


“Lepas sekarang juga atau aku cium!” Ancam Kevin dengan mata melotot.


Mendengar itu Alya spontan ikutan melotot, wajahnya merona. “Jangan gila kamu ya!”


“Makanya lepas.”


“T-tapi ini tugasku Vin.”


Kevin tak menjawab, dia malah memilih mendekatkan wajahnya ke wajah Alya. Dan hal itu membuatnya gelagapan.


“Iya iya aku lepas! nih..” Alya menyodorkan botol air itu tepat ke wajah Kevin.


Dengan gerakan cepat Kevin menyingkirkannya. “dari tadi kek!”


Alya tak menyahut, dia memilih diam dengan wajah cemberutnya.


“modus!” Cibir Dylan, yang dibalas Kevin dengan delikan tajam.


Kevin jalan kembali ke makam dan mulai membuka tutup botol air itu, lalu menuangkannya ke pusara orang tua Alya.


Makam orang tua Alya memang tak terpisah, kedua peti di jadikan satu lubang. Karena itu memang wasiat terakhir yang mereka inginkan sebelum meninggal.


Setelah selesai menabur bunga dan air, Kevin mendorong kursi roda Alya untuk mendekati makam. Gadis itu diam saja dengan wajah yang masih memerah, sementara Kevin langsung mundur.


Tangan lentik Alya membelai batu nisan yang bertuliskan nama orang tuanya dengan mata berkabut, hatinya merasa sesak kala mengingat masa kecilnya bersama orang tuanya.


Meskipun waktu itu Alya masih berumur 5 tahun, namun ia memiliki daya ingat yang kuat. ia masih ingat masa-masa indah bersama orang tuanya dulu, senyum dan tawa mereka setiap melihat tingkahnya waktu kecil. hingga akhirnya tragedi itu datang, Dimana yang membuat dirinya dan sang kakak harus kehilangan dua orang yang paling mereka sayangi.


“mama.. papa.. gimana kabar kalian disana, maaf jika aku baru datang sekarang. dua tahun belakangan ini aku mendapat masalah yang membuatku harus pergi, tapi kalian tenang saja aku tak pernah lupa untuk mendoakan kalian agar tenang di alam sana. kalian jangan khawatir, aku sama kak Lena akan baik-baik saja. Dan tolong doakan kami juga agar kami selalu kuat menghadapi masalah yang ada.”


Setelah itu Alya mulai berdoa, sambil sesekali mengusap wajah basahnya dengan kedua tangannya. Begitu selesai, ia tersenyum kemudian memutar kursi rodanya dengan kedua tangannya.


“Sudah?” Tanya Kevin, seraya jalan mendekat.


Alya mengangguk. Setelah itu mereka pun pergi dari area makam orang tua Alya, kini tujuan mereka beralih ke makam ibunya Kevin yang masih satu lokasi. Jaraknya memang cukup jauh, sehingga mereka harus keluar ke jalan raya.


Entah hanya perasaannya saja, tapi saat sudah memasuki area makam ibunya Kevin, Alya merasakan ada yang mengintai. Gadis itu celingukan ke arah sekitar, namun tak ada satupun orang selain mereka dan beberapa orang penggali kubur yang nampak membersihkan makam lain.


Kevin dan Dylan berhenti di satu makam yang sudah di keramik warna hitam, disana Alya melihat ada batu nisan bertuliskan 'Tamara Zein' yang Alya tahu adalah nama ibunya Kevin.


Alya mendongak saat merasakan usapan lembut di kepalanya, ternyata pelakunya adalah Kevin.


“tunggu disini.” Ucapnya, dan Alya mengangguk.


Kevin dan Dylan mulai berjalan ke arah makam sang mama, saat sudah dekat Dylan duduk berjongkok di sisi makam, lalu meletakkan buket bunga itu di sana. Kevin pun ikutan berjongkok di sisi lain, kedua laki-laki itu terdiam dengan wajah menunduk, dan mereka pun mulai berdoa dengan keyakinan masing-masing.


Beberapa menit kemudian Kevin dan Dylan sudah selesai berdoa, mereka bangun dari posisinya dan mulai meninggalkan pemakaman.


Saat sudah dekat mobil, Kevin langsung melempar kunci mobilnya ke Dylan, dengan sigap pria itu menangkapnya.


“Lo yang nyetir!” Ucapnya sebelum Dylan mengeluarkan suaranya.


Lalu dia mendorong lebih cepat kursi roda yang Alya duduki, membuka pintu belakang dan mengangkat tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil.


Dirasa sudah aman Kevin menutup kembali pintunya, lalu melangkah ke belakang. Membuka pintu bagasi dan memasukkan kursi roda itu disana, kemudian kembali menutupnya.


Baru setelah itu dia membuka pintu depan dan duduk disana, sementara Dylan juga sudah masuk dan mulai menyalakan mesin mobil.


Beberapa saat setelah kepergian mobil Kevin, muncul seseorang dari balik pohon kelapa yang cukup besar. Dia menatap kepergian mobil itu dengan mata tajamnya, wajah yang ditutupi masker putih itu nampak kaku.

__ADS_1


...💐💐💐...


Tepat pada jam 10 pagi mobil Kevin sudah sampai di villa yang ada Bandung, Dylan yang menjadi supir pun memarkirkan mobil sang adik sebelah mobil warna abu-abu milik Kenzo.


Dylan tak menyadari jika selain ada mobil Kenzo, ada juga dua mobil lain warna biru langit dan merah yang terparkir disana. Dia melepas sealbelt-nya kemudian menoleh ke samping dan ke belakang, lalu menghela nafas panjang. melihat Kevin dan alya sama-sama tertidur.


“Bangun Vin, ini kita sudah sampai.” Ucap Dylan pelan sambil tangannya mengguncang tubuh adiknya.


Kali ini Kevin langsung bangun, dengan mata menyipit. Sejenak ia melihat ke sekeliling, dan benar saja mereka memang sudah ada di depan villa.


“Bangunin juga tuh Alya, gue masuk duluan. Haus!”


Setelah mengatakan itu Dylan langsung membuka pintu, dan keluar dari mobil.


Sesaat setelah Dylan keluar, Kevin juga ikutan keluar. membuka pintu belakang, menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu agar bangun. Namun berkali-kali dia lakukan itu Alya tak bangun juga, dia pun mengguncang bahunya dan kali ini gadis itu bangun dengan wajah linglungnnya.


“Udah sampai?” Tanyanya dengan suara serak.


“hm. bentar, aku ambil kursi rodanya dulu.”


Pria itu pun melipir pergi ke bagasi, dan mengambil kursi roda. Saat sudah kembali Kevin melihat Alya sudah keluar dari mobil, gadis itu berdiri menyenderkan bahunya ke badan mobil.


“Aku jalan aja ya Vin?” Pinta Alya saat Kevin ingin menarik tangannya.


“CK, Jangan aneh-aneh kamu ya. udah cepetan duduk!” Titah Kevin.


“Tapi-”


“duduk!”


Alya menghela nafas, lalu mulai menjatuhkan bokongnya ke kursi roda. Kemudian Kevin mendorongnya, jalan masuk area villa.


“Woy, Vin!” Teriak seseorang.


Kevin yang terkejut mendengar suara itu spontan berhenti, suaranya sangat familiar baginya. dia mencari-cari ke arah suara dan wajahnya terlihat tegang begitu tahu siapa pemilik suara tersebut.


“Rangga!” Pekik Kevin.


Setelah itu ia kembali mendorong kursi roda yang Alya duduki, berjalan agak cepat untuk menghampiri ke tempat Rangga berdiri, disana juga sudah ada Dimas dan Arina. Ketiga orang itu sudah berdiri di depan teras villa, seakan sedang menyambut kedatangannya.


“Ngapain Lo berdua ada disini?” Tanya Kevin, saat sudah berdiri berhadapan.


“Apalagi, selain ingin menyaksikan pernikahan Lo.” Jawab Rangga.


“Hah! K-kalian tahu darimana kalau gue akan nikah disini?”


“Gue yang kasih tahu mereka.” cetus Arina menjawab pertanyaan Kevin.


Kevin menoleh menatap Arina, matanya melotot. “Jadi Lo ajak mereka, tanpa seizin gue?”


Arina yang mendengar itu tersenyum sinis. “Ngapain juga gue harus minta izin sama Lo, emangnya Lo bapak gue?”


“Ppfftt..”


Rangga yang mendengar itu tak bisa menahan tawanya begitu mendengar ucapan terakhir Arina, apalagi saat melihat wajah Kevin yang kesal. Sementara Dimas seperti biasa, dia hanya diam dengan wajah datarnya.


“Lagian mereka kan sahabat Lo, masa Gak Lo undang sih?”


“Bener apa kata si cebol, masa iya Lo nikah sama Mayra kita di undang tapi pas mau nikah sama Alya gak di undang.” Sahut Rangga.


Mendengar kata 'Cebol' keluar dari bibir Rangga membuat gadis itu kesal, sungguh dia sangat tak menyukai julukan itu namun dia berusaha menahan amarahnya. Lagipula ini bukan saatnya dia harus marah, ada hal lain yang harus dia urus.


Kevin mendengus. “Maksudnya bukan begitu, tapi gue kan udah bilang kalau pernikahan ini pernikahan tertutup! Hanya orang-orang terdekat aja yang boleh datang.”


“Jadi maksudnya gue dan Dimas bukan orang terdekat Lo, gitu? Wah.. Lo benar-benar keterlaluan Vin! Selama ini Lo anggap kami itu apa?” Ucap Rangga sok sedih.


“Benalu!”


Rangga berdecak kesal sambil melipat kedua tangannya di perut.


“Oke, lupakan soal itu! btw, Alya memangnya sudah setuju nikah sama Lo?” Tanyanya dengan suara berbisik, berharap agar gadis itu tak mendengarnya.


Tapi sepertinya Rangga lupa jika Alya masih disana, dan gadis itu tentu saja mendengarnya.


“Lo pikir gue siapkan ini semua buat apa jika dia gak setuju?”


“Alya memang setuju, tapi gue enggak!” Cetus Arina.


“Rin, udahlah.” Ucap Alya menenangkan Arina.


“gak bisa Al, dia harus tahu jika apa yang dilakukannya itu salah!”


“Arina udah! Sebelumnya gue udah jelaskan sama Lo kan apa alasannya?”


Arina yang mendengar itu mendengkus, tanpa kata lagi dia mendorong tubuh Kevin lalu membawa kursi roda yang Alya duduki masuk ke dalam villa.


BRUK!


Saat sudah masuk arina tak sengaja menabrak tubuh Dylan, membuat pria itu sedikit terhuyung.


“CK! Kalau jalan pake mata!” Bentak arina, matanya melebar.


“Hey cewek bar-bar.. yang ada jalan itu pake kaki, kalo lihat baru pake mata. Gimana sih?” Sahut Dylan.


Arina berdecih. “Gak adik gak kakak, semuanya sama aja. Menyebalkan!”


“Jelas aja sama, orang kita tumbuh dari benih orang yang sama.”


Gadis itu mendengkus, dengan kesalnya dia menginjak kaki Dylan dengan keras.


“Aww!! YAKH! Kenapa Lo injak kaki gue?” Pekik Dylan sambil mengangkat sebelah kakinya yang sakit, wajahnya memerah menahan nyeri.


“Biar kalian tahu gimana rasanya menahan sakit yang sudah lama terpendam!”


“Apa hubungannya sama gue!”


“Jelaslah ada! Karena Lo-”


“Rin, cukup! Jangan bikin keributan.” Potong Alya cepat, dia menatap kesal wajah sahabatnya itu.


“Lan, maaf ya. Arina kalo lagi kesal emang begitu, nyebelin.” Ucap Alya.


“Gak masalah.” Sahut Dylan sambil tersenyum hangat.


Arina yang melihat Dylan tersenyum bukannya terpesona, malah gadis itu mau muntah. dia pun kembali mendorong kursi rodanya, meninggalkan para lelaki.


Setelah kepergian arina, Kevin juga ingin masuk ke dalam villa namun Dylan mencekal tangannya.


“Tunggu.”


Kevin membisu, dia menoleh kemudian pandangannya turun ke tangannya. Seakan mengerti, Dylan langsung menjauhkan tangannya.


“Ada satu kabar penting yang harus gue kasih tau ke Lo.”


“Apaan.”


“Papa ada di Jakarta.”


DEG!

__ADS_1


__ADS_2