TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 06~Telepon Dari Selena


__ADS_3

di kediaman Alya, tepatnya di kamar nampak tubuh Jessica yang berbaring di ranjang mengulat. Perlahan-lahan kedua matanya terbuka sambil menguap, kemudian beranjak bangun.


Dengan wajah linglungnya ia menggaruk kepalanya, seraya menatap ke sekitar kamar, sejenak ia lupa jika saat ini sedang tak berada di kamarnya.


Begitu kesadarannya sudah kembali ia menjadi panik kala melihat ke arah jendela yang sebagian tirainya terbuka dan sudah terang benderang, dia pun langsung mencari ponselnya untuk mengecek jam.


“ya tuhan.. gue telat!” pekiknya histeris saat jam di hpnya sudah mengarah ke angka 10.


“mampus, mampus, mampus.. mana hari ini dosennya pak Agus lagi!” gerutunya kesal, lalu ia langsung melompat dari ranjang dan masuk kamar mandi.


Bukan hanya kesal karena telat bangun, tapi dia juga kesal dengan kedua sahabatnya yang tak membangunkannya dan malah berakhir ia sendirian disana.


Sekitar beberapa menit kemudian Jessica kembali keluar dengan hanya memakai handuk kimono, lalu membuka lemari milik Alya. Mencari baju yang menurutnya pantas di pakai untuk pergi kuliah dan tentunya pas di badannya juga.


Karena saat ini ia sedang berada di rumah Alya dan dia juga tak membawa baju ganti, mau tak mau dia harus memakai pakaian Alya yang sedikit berbeda dengan ukurannya.


Meski bentuk tubuh Jessika dan Alya sama-sama kecil, namun tinggi badan mereka beda. Tinggi badan Jessica 170 cm, sedangkan Alya 165 cm.


Tak hanya pinjam pakaian, Jessica juga meminjam sepatu dan alat makeupnya. Gadis itu terlihat tak kesulitan untuk mencari barang-barang tersebut, karena sebelum Alya memutuskan pindah kuliah Jessica memang sering menginap. Jadi dia sudah tahu seluk-beluk apapun barang yang ada di kamar Alya.


Beda halnya dengan arina yang jarang menghabiskan waktu bersama, karena gadis itu sibuk bekerja dan membantu usaha ibunya. Semenjak masuk kuliah arina memang sudah jarang main bersama dengan Alya maupun Jessica, malah mereka berdua yang sering datang mengunjungi arina ke rumahnya atau sekedar mampir ke tempat kerja arina di salah satu restoran milik Rangga sebagai pelanggan.


Setelah semuanya dirasa sudah siap, Jessica bergegas pergi dari kamar. Ia menghela nafas kasar begitu menyadari jika rumah Alya sudah benar-benar sepi, bahkan dua pembantu yang kemarin ikut dengannya juga sudah tak ada. Dalam pikirannya pasti mereka berdua sudah kembali ke rumahnya sejak pagi.


Senyum Jessica merekah saat berjalan ke arah dapur, ia melihat ada sisa makanan di meja makan. Meski hanya sekedar dua potongan omelet dan satu susu kaleng, baginya sudah lebih dari cukup daripada perutnya kosong.


Selesai makan, Jessica langsung pergi dari sana tanpa membereskannya terlebih dahulu. Kemudian Ia jalan ke arah teras sambil memesan taksi online.


...💐💐💐...


Jessika sampai di kampus tepat pada Jam makan siang, karena jaraknya dari rumah Alya memang hanya 1 jam. Beda halnya jika dari rumahnya yang hanya memakan waktu beberapa menit saja, itu pun jika jalanannya tidak macet.


Sebelum masuk ke parkiran, Jessica sempat menelpon Alya dan menanyakan keberadaannya. Sahabatnya itu mengatakan jika ia baru saja selesai kelas pertama, dan saat ini ia sedang berada di kantin.


Bergegas Jessica pun masuk ke gedung kampus dengan langkah cepat, menelusuri lorong koridor kampus sambil berlari kecil, raut wajahnya masih terlihat kesal. dia ingin segera sampai ke kantin karena ingin protes pada sahabatnya itu, kenapa tadi pagi tak membangunkannya.


hari ini Jessica ada jadwal 2 kelas, yaitu pagi dan sore tapi dia terlambat bangun pasalnya semalaman dia habis maraton Drakor sampai tengah malam, bahkan matanya sampai sekarang masih terlihat sembab apalagi kantung matanya itu yang sangat terlihat jelas.


karena tak mau dihukum oleh dosen, akhirnya dia pun bolos dan dia akan masuk di kelas berikutnya.


sesampainya di sana mata Jessica menyelisir ke seluruh sudut kantin yang mulai ramai, namun dia tak menemukan sosok Alya.


“dimana sih dia?” gerutunya.


cukup lama Jessica berdiri disana sambil matanya terus mencari keberadaan Alya, hingga akhirnya dia menemukannya setelah segerombolan mahasiswa bangun dari tempatnya, dan nampaklah sosok Alya duduk tepat di belakang para mahasiswa tadi duduk.


dengan cepat Jessica pun menghampirinya, namun tak lama setelah itu langkahnya terhenti begitu dia melihat seorang pria mendekati sahabatnya dan pria itu adalah Dimas. entah apa yang ada di pikirannya tapi dia langsung berbalik badan dan pergi dari sana, meski berat.


...💐💐💐...


“aku boleh duduk disini?” tanya Dimas, pria itu berdiri di samping meja sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.


mendengar suara laki-laki Alya yang kala itu sedang menunduk sambil membaca buku spontan terkejut, dia mendongak dan sempat melihat sekitar. Banyak pasang mata meliriknya dengan sinis, terlebih kaum perempuan. Namun ingin menolak pun rasanya tak enak, akhirnya dia pun mengangguk.


“i-iya boleh.” ucapnya.


Dimas pun langsung duduk di hadapan Alya.


“kamu sendirian aja disini? teman-teman kamu kemana?” tanyanya.


“sebenarnya aku lagi nunggu Jessica sih, tapi gak tau kenapa dia belum sampai juga.” balas Alya sambil celingukan.


Dimas yang mendengar itu manggut-manggut, lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


“udah makan siang?” tanyanya lagi, pasalnya di hadapan gadis itu tak ada makanan ataupun minuman. hanya ada tumpukan buku dan ponselnya saja.


“udah kok tadi makan roti dua bungkus, sama susu kaleng.” jawab Alya. “kamu sendiri kenapa ada disini, biasanya kan kalian suka makan diluar.”


Mendengar pertanyaan Alya, Dimas menghentikan gerakan mulutnya, lalu menatapnya. Tak lama setelahnya ia pun tersenyum tipis, saat gadis di depannya itu menggigit bibir bawahnya dan menundukkan pandangan.


Namun ia penasaran kenapa Alya bisa tahu jika Kevin kuliah juga disana, padahal seingatnya setelah putus keduanya tak saling berkomunikasi.


Pada saat itu Alya dan Kevin putus saat Kevin masih kuliah di Inggris, setelah itu keduanya sama-sama pergi ke luar negeri dan tentunya dengan tujuan yang berbeda.


“harusnya hari ini dia masuk, tapi gak jadi. alasannya sih udah janji sama Mayra mau fitting baju di butik mama, jadinya cuma aku sama Rangga aja yang masuk.” jelas dimas, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Alya.


Pria itu penasaran dengan ekspresi Alya setelah ia berkata begitu, dan hasilnya wajah gadis itu berubah muram. Meskipun Alya menutupinya dengan senyuman, tapi dia tahu dalam hatinya pasti hancur.


sebenarnya Alya sendiri sudah mendengar kabar tentang pernikahan kevin beberapa bulan terakhir ini, bukan hanya dirinya saja. tapi seluruh dunia pun sudah tahu akan hal itu, karena saat Kevin dan Mayra bertunangan, acara itu di selenggarakan secara besar-besaran, bahkan di siarkan langsung di tv.


“oh begitu.” lirihnya.


“kamu pasti udah tahu kabar itu kan?” tanya Dimas dan Alya mengangguk.


“jangankan aku, hewan yang paling kecil saja pasti sudah tahu dengan berita itu.” jawabnya.


Dimas tersenyum miris, sungguh hatinya merasa tak tega melihat kesedihan di wajah gadis yang sudah ia anggap adiknya itu. Tapi mau apa dikata, semuanya sudah terlanjur dan dia tak bisa berbuat apa-apa.


“eh tapi, gimana kamu bisa tau kalau Kevin kuliah disini?” tanya Dimas.


“semalam arina dan Jessica nginep di rumahku, terus mereka cerita banyak soal kampus, termasuk soal Kevin yang kuliah disini ngambil jurusan bisnis.” jawab Alya jujur.


“oh gitu. Iya emang dia ambil jurusan itu, itu pun atas permintaan bang Rafa. tapi kayaknya percuma aja deh.”


“kenapa?”


“ya percuma lah Al, Kevin kan dari dulu udah jenius. Cuma karena disuruh bang Rafa untuk memperdalami dunia bisnis, jadinya dia kuliah lagi. Padahal ya waktu di Inggris dia udah lulus S2, dan terpilih sebagai mahasiswa terbaik.”


“itu karena kakaknya ingin melihat dia sukses, agar kelak dia gak kagok lagi setelah pegang alih perusahaan.”


“mungkin juga seperti itu, tapi kenyataannya gak begitu. Kevin--”


Ting!


terdengar suara notifikasi pesan masuk yang berasal dari ponsel Alya, dan itu membuat ucapan Dimas terhenti. Alya langsung mengambil ponselnya dan melihat layar datar benda pipih tersebut, disana ada satu pesan masuk dari Jessica.


{Gue ada di aula basket, Lo cepatlah kesini!}~jessica


“dim, sorry nih kayaknya aku harus pergi duluan. gak apa-apa kan aku tinggal?”


Dimas mengangguk. “iya gak apa-apa, kamu pergi aja. lagian bentar lagi Manda bakal datang kesini.”


“kamu masih pacaran sama Manda?” tanya Alya.


Dimas mengangguk. “kenapa?” tanyanya kemudian.


Alya menggeleng. “gak apa-apa, hanya sekedar nanya aja. ya udah aku duluan ya, bye..” pamitnya sambil melambai tangan, kemudian dia berlalu pergi.


...💐💐💐...


Alya memasuki aula basket yang terlihat sepi dan sedikit gelap, matanya mencari-cari sosok sahabatnya.


“Jes! Lo dimana?” teriaknya.

__ADS_1


“Disini!” terdengar suara sahutan Jessica dari atas, ternyata gadis itu duduk di kursi penonton yang paling atas.


Alya mendongak, dan dengan cepat dia pun menghampirinya.


“astaga, Lo ngapain sih ngajak ketemunya disini? padahal di kantin kan enak!” cerocosnya begitu sudah duduk di sampingnya.


“tadi gue udah kesana, tapi saat gue mau nyamperin ada Dimas.” balas Jessica.


“terus kenapa kalau ada dia?”


“ih Lo mah kayak gak tau gue aja!” Rajuknya.


“jangan bilang Lo masih suka sama dia?” tebak Alya, sambil memicingkan matanya.


Jessica mengangguk mengiyakan, Alya menghela nafas panjang.


“ya ampun Jes, gue kan sering bilang sama Lo, lupain Dimas. dia itu udah punya pacar!”


“iya gue tau kok, gue selama ini juga udah berusaha hilangin tapi yang namanya hati gak bisa di paksa.”


“iya juga sih, terus sekarang Lo mau ngapain ngajak gue kesini?”


“gue pengen protes sama Lo!” cetus Jessica, raut wajahnya yang tadinya sendu berubah menjadi kesal.


“lah, protes kenapa?” heran Alya.


“kenapa tadi pagi Lo gak bangunin gue, arina juga! pas gue bangun rumah udah kosong melongpong!”


“Kata siapa? Gue udah berusaha bangunin Lo tapi Lo nya aja yang kebo gak bangun-bangun, selain itu gue juga udah kasih pesan ke arina buat bangunin Lo.”


“Mana ada! Enggak tuh.”


“Ya berarti Lo nya aja yang susah di bangunin! Memangnya kemana bi Sumi dan pak Diman?”


bi Sumi dan pak Diman adalah pelayan di keluarga Jessica, dan merekalah yang membersihkan rumah Alya atas utusan diana.


“Udah pulanglah! Dan karena Lo gak bangunin gue, gue akhirnya harus bolos kelas pertama karena datangnya telat!”


“ya sorry, gue kan gak tahu. lagian salah siapa begadang sampai malam coba?”


“salah gue sih.. CK! ya udahlah lupain aja! btw Setelah ini Lo mau kemana?”


“pulanglah.”


“rumah lagi kosong Al, gak takut emang?”


“Enggak, gue udah biasa ditinggal-tinggal.”


“Mending Lo ikut Gue pulang aja ke rumah sampai kak Lena pulang.” usul Jessica.


“Boleh tuh, sekalian gue juga pengen ketemu om dan tante. Kangen banget sama mereka.” balas alya


“mau ketemu sama Abang gue juga gak? Mumpung dia lagi ada dirumah, mana tahu mau kangen-kangenan juga.” goda Jessica, seraya menarik turunkan kedua alisnya.


“is, Lo ngomong apaan sih. Eh tapi seriusan, kak aiden lagi dirumah?”


“iya, 2 hari lalu dia baru balik dari london.”


“oh, ya udah boleh deh.”


”mau kangen-kangenan?”


“ck! Bukan ih, cuma pengen ketemu aja!”


“ngaco aja kalau ngomong, mana mungkin gue sama kakak Lo bisa bersama.”


“Lah kenapa? Kalian sama-sama udah dewasa dan sama-sama sendiri, why not? Papa dan mama juga pasti gak bakal keberatan.”


Alya diam sejenak, kemudian menggeleng. “udah ah jangan di bahas lagi, mending kita pergi aja dari sini. Gue merinding tahu!”


“ayoklah kita pulang sekarang.” ucap Jessica sambil menarik tangan Alya.


“eh, sekarang? bukannya waktu di telepon Lo nanti sore ada kelas lagi?”


“udah gak mood gue, dahlah ayo.”


Alya yang mendengar itu menghela nafas, setelah itu Jessica dan Alya bangun dari duduknya dan mulai meninggalkan tempat tersebut.


“tapi sebelumnya kita ke toko buku dulu yah, Ada buku yang harus gue beli.” ucap Jessica sambil terus berjalan.


“boleh, kebetulan Gue juga mau cari novel baru.” balas Alya.


beberapa menit kemudian Mereka pun sudah berada di pinggir jalan, Jessica mengulurkan tangannya saat ada mobil taksi melintas dan masuk. Sejurus kemudian mobil taksi tersebut mulai berjalan, meninggalkan gedung kampus.


30 menit kemudian mobil taksi yang mereka naiki sudah berada di depan gedung toko buku. setelah itu mereka keluar dan langsung masuk gedung.


Sekitar hampir 2 jam Alya dan Jessica kembali keluar sambil membawa beberapa buku, berjalan ke jalan raya untuk mencari kendaraan umum. Begitu sudah dapat, bergegas mereka pun pergi dari sana.


...💐💐💐...


“Mama aku pulang..” teriak Jessica kencang seraya jalan masuk rumah, sehingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.


“Gak usah teriak-teriak! Mama gak ada!” terdengar Teriakan suara laki-laki yang juga tak kalah kencang berasal dari lantai atas.


Sosok pria tampan, tinggi, putih bersih tengah berjalan menuruni anak tangga sambil memeluk toples berisi keripik kentang. Pria itu memakai kaos polos lengan pendek warna putih dan celana jeans panjang warna biru, rambutnya yang bergaya seperti opa-opa Korea terlihat berantakan, layaknya orang baru bangun tidur.


“Aiden! Mama mana?”


“Call me brother, please!” geram Aiden.


Jessica memutar bola matanya malas. “Bomat! udah ah mana mama?”


“Gak tau, gue baru bangun!” jawabnya ketus, lalu jalan mendekati alya.


“Hai Alya..” sapanya sambil tersenyum, kemudian memeluknya dan langsung mendapat balasan dari si empu. “Gimana kabarmu selama disana, baik-baik aja kan?” Lanjutnya, setelah melepas pelukannya.


Alya tersenyum tipis, kemudian Mengangguk. “Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik aja.” balasnya.


Aiden membalas senyuman Alya, seraya sebelah tangannya mengacak-acak rambutnya gemas.


“jujur aku kaget Loh waktu Rendy bilang kamu bakal kuliah disini, padahal kamu juga disana kuliah.”


“kak Rendy bilang begitu sama kakak?” tanya Alya dengan mata membola.


Aiden mengangguk.


“terus dia bilang apa lagi?” tanyanya lagi.


“gak ada sih, cuma itu aja. Emang kenapa?” balas Aiden balik nanya.


Alya diam sejenak, kemudian menggeleng. “gak ada, cuma nanya aja.”


“ya udah Al, ikut gue ke kamar yuk.” ajak Jessica, dan alya mengiyakannya.

__ADS_1


Setelah itu Jessica langsung menarik Alya, dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Sesampainya disana langkah Alya terhenti, ia terperangah dengan isi kamar sahabatnya yang di penuhi dengan poster dan merch artis KPop kesukaannya, bahkan diranjangnya pun dipenuhi dengan boneka karakter bt21. dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ada satu foto besar yang terpajang di atas ranjangnya, dirinya tentu tahu siapa orang Yang ada di foto tersebut.


“Lo memang bucin akut jes, tapi sayangnya orang yang Lo sukai malah udah bersama orang lain.” ucap Alya, seraya tersenyum miris.


Jessica yang kini sudah duduk di sisi ranjangnya mendengar ucapan Alya, dia pun menghela nafas.


“ingin berhenti pun susah Al, hati gue kayaknya udah terkunci rapat sama dia. Gak taulah, gue bingung.”


Alya jalan mendekati sahabatnya dan duduk disampingnya.


“pasrahin aja semuanya sama tuhan, jika Dimas benar-benar jodoh Lo maka tak ada yang mustahil.”


...💐💐💐...


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, Langit yang cerah kini berubah menjadi kuning, namun ada sedikit kabut hitam yang menutupi. Semilir angin mulai terdengar, di ikuti oleh kilatan kecil petir yang menyambar, sepertinya sebentar lagi badai akan turun.


Saat ini Alya sedang berdiri di dekat kaca, menatap suasana di luar yang mendung.


“Sebaiknya Lo nginep disini aja Al.” ucap Jessica, Wanita cantik rambut panjang itu terlihat sedang duduk di kursi belajarnya. Menatap ke arah Alya, dengan wajah khawatir.


“Kalau Gue nginep disini nanti kak Lena dirumah sendirian.” sahutnya dengan tenang, pura-pura tidak takut dengan cuaca diluar.


“Tapi--”


“It's Ok Jes, Gue bakal baik-baik aja kok.” Potong Alya dengan cepat, seraya berbalik badan.


Jessica menghela nafas. “Oke! Lo boleh pulang, tapi harus di anterin sama Aiden!” pintanya.


“ck! Gak usahlah, gue bisa pulang naik taksi.” tolak Alya.


Mendengar itu Jessica langsung berdiri dari duduknya. “Gak ada! Pokoknya Aiden bakal anterin Lo pulang! Bentar Gue panggilin dia dulu.”


“Tapi Jes--”


Terlambat. Jessica sudah melipir keluar sebelum Alya menyelesaikan ucapannya, dan kini dia bisa pasrah saja.


...💐💐💐...


Saat ini Aiden dan Alya sudah berada di perjalanan pulang, dan benar saja hujan pun turun meski tak besar, namun kilatan dan suara gemuruh terus bersahutan.


“maaf yah ngerepotin, padahal aku udah bilang bisa pulang sendiri.” ujar Alya.


Aiden tersenyum tipis sambil melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali ke depan karena sedang menyetir.


“Gak pa-pa.”


“Tapi aku gak enak.”


“Ya ampun kamu ini kayak sama siapa aja pakai gak enak segala, santai aja.”


Drrrtt.. Drrrttt..


Alya langsung menunduk begitu terdengar Bunyi getaran ponselnya yang sedari tadi dia genggam, Ada panggilan dari Selena.


“Halo kak.”


Seketika wajah Alya terlihat panik. “loh, kakak kenapa?”


“Oke-oke kakak tenang dulu, sekarang kasih tau aku kakak ada dimana?”


Aiden yang sedari tadi menyimak, sesekali meliriknya sekilas.


“Oke, aku akan kesana sekarang. Kakak diam aja disitu sampai aku sampai.”


Setelah itu Alya memutuskan panggilannya, dia melirik ke arah Aiden dengan wajah cemas. “kak, tolong anterin aku ke Hendrick's Hotel yah.” pintanya.


“Hendrick's Hotel?”.


“Iya.”


“Mau ngapain kamu kesana? Dan tunggu, tadi yang nelpon Selena? Dia ada di Indonesia juga?”


“Nanti aku jelasin tapi untuk Sekarang anterin aku dulu, ini urgen!”


Aiden menghela nafas. “Oke.”


...💐💐💐...


Beberapa menit kemudian mobil Aiden sudah sampai di depan hotel, hal pertama yang mereka lihat adalah kerubunan orang yang tengah memegang kamera dan mic. Sebagian dari mereka ada yang sedang berbicara di depan kamera dan sebagiannya lagi seperti ingin masuk hotel namun di tahan oleh beberapa satpam.


“kenapa banyak banget wartawan disini?” Celetuk Aiden.


Alya nampak gigit jari dengan wajah cemasnya, Perasaannya sudah tak karuan. apalagi waktu Selena menelponnya sambil terisak, dia takut kakaknya kenapa-napa.


“Sebenarnya ada apa sih Al? Selena ada disini?” Tanya Aiden.


Alya mengangguk. “Iya, tadi kak lena telpon sambil nangis dan suruh aku kesini.” Jelasnya.


“Terus sekarang gimana? Mau tetap disini atau terobos masuk?”


“Aku gak tau.”


Drrrtt..


Ponselnya kembali bergetar. Selena kembali menelpon, Dengan cepat Alya mengangkatnya.


“Halo kak, ini aku udah di depan tapi banyak wartawan.”


“Oh, oke.”


Setelah itu panggilan berakhir.


“Katanya terobos aja, oh iya kakak punya masker?”


Aiden Mengangguk. “gue temenin yah?” tawarnya.


“Eh jangan, aku-”


“Gak terima penolakan!” Potong Aiden dengan tegas, sorot matanya menajam.


Aiden membuka laci yang ada di bawah dashboard, mengambil masker warna putih dan memakaikannya ke wajah Alya. Lalu gantian ke wajahnya sendiri.


“pakai ini juga!” Aiden memakaikan topi miliknya ke kepala alya, Setelah itu mereka keluar dari mobil.


Mereka berjalan beriringan menuju kerumunan para wartawan, dan berusaha untuk menerobos masuk. Awalnya mereka juga ditahan oleh salah satu satpam dan melarangnya untuk masuk, namun saat Aiden membuka sedikit maskernya dan menyebutkan marganya, dengan segera satpam itu melepaskannya dan membiarkannya masuk.


“lantai berapa?” Tanya Aiden, sambil berjalan cepat menuju lift yang hampir tertutup.


“10.” Jawab Alya.


Pintu lift yang hampir tertutup itu kembali terbuka lebar saat jari telunjuk Aiden menekan tombol hijau, dan terlihat ada seorang laki-laki dan perempuan sudah berada di lift.


DEG!

__ADS_1


Seketika itu pula Alya menghentikan langkahnya, ia terkejut saat mengenali siapa mereka.


__ADS_2