TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 67~Emosi Tak Beralasan


__ADS_3

“please Alya, aku bingung harus berbuat apalagi. Kamu tahu, semenjak Kevin mencabut semua investasinya, aku langsung terusir dari rumah dan di larang pulang sebelum Kevin membatalkannya.”


“ya tuhan.. separah itu?” Alya kaget dengan mata sedikit melebar.


Mingyu mengangguk.


“apa kamu sudah berusaha menemuinya dan meminta maaf langsung padanya?”


“udah Al, tapi Kevin gak mau Nerima maafku. Malah tadi aku terusir saat mau masuk ke kantornya, di apartemen juga begitu. Jadi harapanku satu-satunya hanyalah kamu..”


“tolonglah Al..” mohon mingyu begitu melihat Alya yang hanya diam saja.


Alya yang melihat ekspresi wajah nelangsa mingyu merasa tak tega, tapi dia juga merasa takut kena amukan Kevin.


“kamu yakin ini akan berhasil?”


“yakin banget!”


Alya menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya sejenak. “baiklah, aku akan bantu tapi aku gak janji bakal berhasil.”


Mingyu yang mendengar itu tersenyum senang, saking senangnya ia sampai reflek menggenggam tangan Alya sambil mengucapkan terima kasih.


Jepret!


Raut wajah mingyu langsung berubah saat mendengar suara itu, ia menengok kanan kiri untuk mencari asal suara dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Sean duduk di belakang Alya sambil mengangkat ponselnya sedikit miring.


Dengan cepat mingyu menarik kembali tangannya, jakunnya nampak naik turun serta jantungnya berdegup kencang saat pria bule itu menampilkan senyum smirk padanya.


Memang, saat ini Sean ada disana. Jaraknya cukup dekat, dan hanya terhalang 2 meja saja. Tentu saja kehadirannya tak di sadari oleh Alya, karena Sean selalu jalan di belakangnya.


Sean memang sudah tahu dari awal kedatangan mingyu di kampus, dia terus mengintai semua gerak-geriknya hingga sampai ke cafe dan dia juga sudah merekam apapun yang ia katakan pada Alya.


‘mampus! pasti setelah ini gue pasti bakal kena masalah lebih besar lagi nih.’ batinnya.


“ada apa? Kenapa wajahmu berubah pucat begitu?” tanya Alya yang merasa bingung dengan gelagat mingyu.


Mingyu menggeleng cepat. “gak! Gak apa-apa. Emm.. ya udah Al aku pamit pulang dulu, dan terima kasih mau membantuku. Aku tunggu kabar baiknya.” ucapnya sedikit gugup.


“iya sama-sama.” balas Alya sambil tersenyum.


Mingyu segera bangkit dari duduknya, di ikuti oleh Alya. Sean langsung menutup wajahnya dengan buku menu, pura-pura membacanya dan agar tak ketahuan oleh Alya jika ia mengikutinya.


Saat melihat Alya dan mingyu sudah jalan keluar, dengan cepat Sean berdiri dan pergi dari sana. Ia pun menyusul langkah mereka dengan cara pelan dan mengendap-endap, layaknya seorang detektif.


Kini mingyu dan alya sudah sampai di depan gerbang kampus, Sean perhatikan keduanya nampak berbincang hingga akhirnya Alya balik badan dan masuk ke dalam kampus.


Baru setelah itu mingyu jalan ke arah mobilnya dan masuk, detik berikutnya mobil tersebut mulai jalan meninggalkan area kampus.


...💐💐💐...


Sore hari waktu Korea.


Di sebuah kamar yang luas, nampak Rafael tengah sibuk memasukkan beberapa bajunya ke koper.


Di kamar itu dia tak sendirian, ada Selena disana. Istrinya itu tengah duduk di pinggiran kasur sambil mengunyah potongan apel, matanya sedari tadi tak henti-hentinya menatap pergerakannya.


Sebenarnya bukan packing pakaiannya saja, pakaian Selena pun dia packing dan itu atas kemauannya sendiri. Rencananya besok jika tak ada halangan ia akan memboyong Selena ke rumah baru, dan lusanya dia akan kembali ke Busan.


Rencana perpindahan kerjanya itu sudah dia bicarakan dengan kedua keluarga besar, baik dari kakek maupun papa-nya setuju dengan keputusannya. Mungkin setelah Rafael resmi keluar dari kantor pusat, posisinya akan di gantikan kembali oleh papa-nya.


Sementara perusahaan yang selama ini di pegang oleh aji, akan di amanahkan ke anak laki-laki Haris yang bernama Arnold.


Sebenarnya begitu mendengar Rafael yang ingin pindah tugas ke Seoul membuat Fandy kaget, pasalnya belum ada persiapan sama sekali. Tapi ia juga paham kini cucu tertuanya itu sudah memiliki istri dan dalam keadaan hamil, Rafael sudah memiliki tanggung jawab selain pekerjaan. ingin menyuruh Selena pindah ke Busan juga rasanya tak mungkin, Selena masih memiliki beberapa kontrak dengan beberapa brand dan akting.


Tak hanya Fandy, semua karyawan yang ada di kantor pun begitu. Mereka sudah terlanjur nyaman dengan pemimpin sebaik dan seramah seperti Rafael, di banding dengan Aji yang terkesan killer. namun apa daya, mereka hanya bawahan dan tak ada hak apapun untuk protes.


Sedikit info, saat ini kondisi keuangan Zeous Group sudah membaik setelah Kevin berinvestasi dan memberi penawaran kerjasama. Itu ia lakukan sehari sebelum pernikahan Rafael dan Selena di selenggarakan, dalam artian dia setuju membantu perusahaan kakeknya setelah ia menikah.


Seperti apa yang pernah di prediksi oleh Rendy, setelah Kevin turun tangan kondisi Zeous Group kembali pulih dan sudah berjaya. Sedangkan tentang kabar para koruptor itu juga sudah mendapat hukumannya, mereka kena jeratan hukuman seumur hidup. Dan barang yang mereka curi pun sudah di amankan di kantor polisi, meski tak semuanya karena sebagiannya sudah terjual.


“mas..” panggil Selena.


Rafael mendongak dan menatap penuh wajah Selena. “apa?” tanyanya.


“nanti saat kamu mau berangkat ke bandara, aku ikut antar ya?” pinta Selena.


Rafael tak langsung menjawab, ia menarik bagian penutup kopernya dan menarik resletingnya. Kemudian ia menariknya ke sudut ruangan, berjajar dengan koper Selena yang sebelumnya sudah ia siapkan.


“boleh saja.” ucap Rafael seraya jalan mendekati Selena, ia tersenyum saat melirik ke arah piring kecil yang ada di meja nakas sudah kosong.


“kurang gak?” tanyanya kemudian, dan Selena menggeleng.


“udah kenyang mas, tadi di bawah Hani masak banyak dan aku di suruh habisin semuanya. Di tambah sama kamu yang suruh aku minum susu hamil dan makan buah, Yang di dalam perut juga sepertinya sudah begah, karena aku banyak makan.” ujar Selena sambil mengelus perutnya.


Rafael yang mendengar itu terkekeh, lalu duduk di samping Selena. “kan bagus kalau kamu makan banyak, biar kalian tetap sehat dan kuat.”


“tapi nanti aku kelihatan gendut mas!” protesnya.


“wajarlah kalau kamu gendut, kan lagi hamil!”


“tapi karena keadaanku ini banyak adegan syuting yang harus di hapus, karena sebelumnya aku kelihatan kurus.”


“apa itu masalah bagimu?”


“jujur iya sih, dan kemarin managerku bilang sebelumnya peranku akan di ganti sama artis lain.”


“terus kenapa sekarang kamu masih syuting saja?”


“karena artis lain gak ada yang mau, katanya gak sanggup meranin.”


Rafael manggut-manggut saja, ia tak terlalu mengerti soal kehidupan artis.


“mas..”


“hm..”

__ADS_1


Selena tak langsung bersuara, ia nampak sedikit menggeser tubuhnya untuk mendekati Rafael dan kedua tangannya menyentuh lengannya.


“aku ada rencana, setelah aku melahirkan nanti aku mau berhenti akting dan modeling.” ucap Selena dengan nada pelan, raut wajahnya terlihat memelas.


Rafael Mengernyit. “kenapa? Bukankah ini impianmu menjadi artis dan model terkenal?”


Selena nampak menggigit bibir bawahnya dan menundukkan pandangannya, namun tak lama kemudian ia kembali mendongak saat dagunya di angkat oleh satu jari suaminya.


“kenapa?”


“maafkan aku mas, kalau sekarang aku memanfaatkanmu.”


“maksudnya?”


“seperti yang kamu tahu aku sedang hamil anaknya Chandra, tapi karena aku gak mau nama baikku hancur aku malah menikah sama kamu.”


Setelah mendengar ucapan Selena, wajah Rafael kembali mengendur. “itu bukan sepenuhnya salahmu Selena, kan aku yang duluan mengajakmu menikah.”


“iya juga sih..” lirih Selena. “tapi tetap aja aku manfaatin kamu, bahkan aku juga korbanin Alya buat nikah sama Kevin. Aku egois!”


“ssttss..” Rafael menempelkan jari telunjuknya di bibir Selena. “jangan ngomong begitu, gak baik!” lanjutnya.


Selena segera menyingkirkan tangan suaminya dari bibirnya. “kenyataannya memang begitu kan mas, demi menutupi aibku yang hamil diluar nikah, aku sampai memaksa Alya menikahi Kevin. Padahal aku tahu dia belum pengen menikah dan dia belum mengenal kevin.”


‘kamu salah Len, mereka sebelumnya sudah saling kenal. bahkan mereka sudah pernah menjalin hubungan, namun karena keegoisan papa membuat keduanya harus terpisah.’ batin Rafael.


Rafael menghela nafas berat sebelum kembali bicara. “Pada saat itu juga aku memanfaatkan skandalmu agar pernikahan Kevin dan Mayra gagal, jadi intinya kita sama-sama mengambil kesempatan.”


“memangnya kenapa sih mas mau pernikahan mereka gagal?”


Rafael diam sejenak. “aku hanya kasihan aja sama Kevin, selama ini dia sudah menderita.”


“menderita bagaimana maksudnya?”


“kamu tau kan kalau mereka berdua di jodohkan?”


Selena mengangguk.


“nah, Kevin itu menolaknya tapi papa selalu memaksanya dan menjadikan kakek sebagai jaminan.”


“jaminan?”


“iya. Kakek sudah sering sakit-sakitan akibat terlalu sering memikirkan kelakuan papa yang masih saja suka main perempuan, ditambah dengan aku yang tak kunjung menikah. entah berapa kali Kevin selalu menyuruhku untuk mencari wanita tapi aku selalu menghiraukannya, itu semata-mata agar kesehatan kakek kembali stabil. Yah, aku akui Pada waktu itu aku belum ada pikiran untuk menikah ataupun pacaran dan lebih fokus ke pekerjaan.”


“seharusnya waktu itu mas turuti aja kemauan kakek, biar beliau juga tenang.”


“gimana mau turuti Len, aku tak lagi dekat dengan wanita manapun. Mau menikah sama siapa aku?”


“kan mas bisa cari lewat biro jodoh, atau pilih saja salah satu teman wanita mas yang masih sendiri.”


Rafael kembali diam, ia menatap dalam wajah Selena sebelum akhirnya ia memalingkannya. “entahlah Len, pada waktu itu aku gak berpikir ke sana.”


“ya sudah kalau gitu jangan terlalu di pikirin lagi, sekarang kakek pasti sudah lega karena mas sudah menikah, dan Kevin pun tak jadi menikah dengan Mayra.”


Rafael mengangguk sambil tersenyum. “itu semua karena kamu berhasil membujuk Alya, terima kasih!”


Rafael mengangguk tanpa suara, sambil sebelah tangannya mengusap lembut puncak kepala Selena.


Selena tak merasakan apa-apa saat Rafael melakukan itu, karena sebelumnya Rafael memang sering begitu padanya. Ia selalu beranggapan perlakuan lembut Rafael selama ini hanyalah perhatian seorang teman, sehingga membuatnya tak terlalu baper.


tapi Selena seakan lupa dengan satu hal bahwa tak ada namanya laki-laki dan perempuan murni berteman, pasti salah satunya ada yang memakai hati.


“jadi gimana soal keinginanmu itu? Beneran kamu mau berhenti?” tanya Rafael.


Selena mengangguk. “iya mas. Menurut perhitunganku, kontrak dramaku akan berakhir 1 bulan lagi dan kontrak modelku dengan brand pakaian juga akan berakhir.. Emm.. kurang dua bulan lagi kayaknya. Jadi aku mutusin akan berhenti di dunia artis, itu pun jika kamu setuju.”


“itu mah terserah kamu Lena, kan kamu yang menjalani.”


“tetap ajalah mas aku harus bilang sama kamu, kamu kan suamiku. tak perduli dengan status pernikahan ini, aku tetap akan minta persetujuan darimu dulu.”


Boleh tidak sih Rafael merasa senang mendengar ucapan Selena barusan, ia merasa di anggap suami sungguhan oleh wanita di sampingnya itu.


“apapun yang kamu inginkan, selagi masih positif aku selalu dukung.” ucap Rafael dengan suara tertahan.


Entah apa yang saat ini Rafael rasakan, yang pasti ia merasa senang karena benar-benar di anggap sebagai suami sungguhan, Bukan hanya sekedar status.


“berarti kamu setuju?” tanya Selena memastikan.


“iya.” jawab Rafael.


“kalau begitu mas batalkan saja niatan mas yang ingin pindah kerja ke seoul.” ucap selena antusias.


“Loh, kenapa?” heran Rafael.


“karena.. aku ingin menghabiskan masa kehamilanku di rumahmu yang ada di Busan mas, sekalian aku juga mau bantu mama Risa untuk merawat kakek.”


“hah!”


raut wajah Rafael saat ini terlihat kaget, beda halnya dengan wajah Selena yang sumringah.


...💐💐💐...


Waktu berjalan seakan lebih cepat, tak terasa jam sudah mengarah ke angka 5. Di ruangannya, Kevin nampak sedang meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang, lalu ia mulai merapikan mejanya yang berantakan dan bersiap untuk pulang.


Suasana langit di luar sudah mengeluarkan sinar kuning keemasan, pertanda jika sebentar lagi malam akan tiba.


Selesai merapikan mejanya, Kevin bangun dari kursinya, meraih jas dan tas kerjanya, kemudian berlalu keluar dari ruangannya.


Sambil berjalan keluar, Kevin nampak mengecek ponselnya. Membuka email untuk sekedar mengecek apakah ada yang penting, namun nyatanya tidak ada. Lalu Kevin beralih ke akun what'sapp, ia tertegun saat begitu banyak pesan dari Sean.


Karena penasaran dia pun membukanya, dan wajahnya berubah kaget saat Sean mengiriminya begitu banyak foto Alya bersama seorang pria.


“apa-apaan ini, kenapa dia ada disana?” pekik Kevin dengan mata melotot.


Kenzo yang mendengar pekikan Kevin pun merasa kaget, ia menatap tuan mudanya dan bertanya.

__ADS_1


“ada apa tuan?”


Kevin mendongak dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia menunjukkan ponselnya ke Kenzo.


Tak berbeda jauh dengan Kevin, Kenzo pun kaget. Ia melihat di foto tersebut Alya sedang duduk berdua saja di kursi kayu warna putih bersama andreas, dan posisi mereka sangat dekat.


“maaf tuan, saya benar-benar tak tahu soal ini.” cicit Kenzo.


Kevin berdecak kesal seraya kembali menarik ponselnya, di tatap kembali foto-foto itu. Mendadak ia menjadi emosi saat melihat wajah mingyu disana, mereka terlihat duduk berdua di suatu tempat yang tak bisa Kevin terka.


Namun bukan itu yang membuat Kevin emosi, melainkan saat melihat tangan sahabatnya itu menggenggam erat tangan Alya. Di tambah dengan ekspresi wajah mingyu yang tersenyum sumringah, membuat darahnya tiba-tiba mendidih.


“kurang ajar sekali dia berani menyentuh istriku! Sudah bosan hidup rupanya dia..” desis Kevin dengan rahang mengetat.


Ting! Pintu lift terbuka, Kevin dan Kenzo segera masuk ke dalam lift dan jari Kenzo menekan angka paling bawah.


“segera kau cari tahu kenapa Andreas bisa bersama Alya di kampus!” titah Kevin.


“baik, tuan. Lalu.. soal tuan mingyu bagaimana?”


“biar cecunguk satu itu menjadi urusanku, dia berani menemui Alya pasti ada kaitannya denganku!” ucap Kevin sambil tersenyum smirk.


...💐💐💐...


jam setengah 6 sore Kevin sampai di unit apartemennya, dan dia mendapati tempat itu sepi. Seperti biasa, jika jam segini Santi pasti sudah pulang.


Beda halnya dengan alya yang sepertinya belum pulang, karena Kevin tak melihat sepatunya di rak dekat pintu. Entah istrinya itu ada dimana sekarang, dan Kevin juga malas untuk menghubunginya. Ia masih kesal!


Dengan wajah yang kaku Kevin berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri, siapa tahu setelah itu suasana hatinya akan lebih baik.


Jujur Kevin sendiri tak mengerti apa yang sedang ia rasakan, kenapa melihat Alya di dekati oleh pria lain emosinya selalu muncul. Mungkinkah ia sedang cemburu?


Kevin langsung menggelengkan kepalanya saat pikiran itu timbul di benaknya, ia memungkiri rasa itu.


“gak mungkin gue cemburu. Memangnya siapa dia, sampe gue harus cemburu. Cih!” ucapnya seraya jalan masuk ke kamarnya.


Begitu sudah masuk, Kevin langsung melempar jas dan tas kerjanya ke kasur. Lalu ia duduk di sofa yang ada disana, membuka sepatu dan kaos kakinya, kemudian mulai melonggarkan dasinya dan melepas dua kancing kemejanya.


“gue gak cemburu, Gue hanya gak suka dia dekat-dekat dengan pria lain! Itu saja.” ucapnya lagi.


Sejenak Kevin diam, dadanya nampak naik turun, deru nafasnya terdengar memburu dengan wajahnya yang semakin kaku serta kedua tangannya yang ada di pangkuannya nampak terkepal kuat.


Di dalam pikirannya selalu memungkiri jika saat ini ia sedang cemburu, namun dalam hati ia merasa sesak saat kembali mengingat soal foto tadi.


“Aaarrghht, sialan!” makinya sambil berteriak.


Setelah itu Kevin beranjak dari duduknya, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Di dalam sana Kevin langsung melepaskan seluruh pakaiannya, lalu dia mengisi air hangat ke bathub. Tak lupa ia juga menuangkan sabun dan wewangian yang biasa ia pakai.


Setelah di rasa cukup, Kevin jalan ke arah bathub dan berendam disana. Kedua matanya tertutup saat menghirup aroma sabun yang membuatnya sedikit tenang, dan kedua tangannya terlentang di sisi bathup.


Cukup lama Kevin berendam, beberapa kali dia menenggelamkan kepalanya ke dalam air saat kembali mengingat soal foto itu. Hingga akhirnya ia memutuskan menyudahi aksi berendamnya, ia jalan ke letak shower berada untuk membilas tubuhnya.


Sekitar setengah jam kemudian Kevin sudah selesai dengan acara mandinya, ia keluar dengan memakai handuk kimono dan rambutnya yang basah.


Saat ingin berjalan ke lemari, Kevin menyadari jika pintu kamarnya sedikit terbuka dan disana ia melihat Alya sedang menaiki tangga.


Sepertinya istrinya itu baru saja pulang, karena Kevin melihat sebelah tangannya masih memeluk beberapa buku dan tas ranselnya pun masih bertengger di bahunya.


Kevin tak perduli, ia kembali melanjutkan langkahnya ke lemari untuk berganti pakaian.


...💐💐💐...


Sementara itu di dalam kamarnya, setelah meletakkan buku dan tasnya di meja belajarnya, Alya segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sebenarnya urusan kuliahnya sudah selesai saat jam 4 sore, namun saat ingin pulang arina mengajaknya pergi ke mall. Ia mengatakan ingin membeli sepatu baru, karena sepatunya bagian alasnya sudah mau lepas.


Awalnya alya sempat menolak dan menyuruhnya untuk pergi sendiri, karena dia tak mau pulang telat. Tapi arina menolaknya, gadis itu tetap memaksanya untuk mau menemaninya.


Sedangkan Jessica juga tak bisa mengantar, karena ibunya menyuruhnya untuk cepat pulang. Karena merasa tak tega, akhirnya Alya mengiyakannya dan baru sekarang dia bisa pulang.


Sekitar setengah jam kemudian Alya selesai mandi, ia keluar dari sana sudah dengan keadaan memakai baju piyamanya dan rambutnya di Cepol ke atas.


Sejak mengetahui kamarnya di pasang cctv, Alya membiasakan diri untuk membawa baju ganti ke kamar mandi.


Alya jalan ke meja rias, melepas jepitannya dan seketika rambut panjang lurusnya dan berwarna hitam itu terurai indah menutupi punggungnya hingga ke pinggang.


Ceklek!


Tangan Alya ingin meraih sisir, namun aksinya itu terhenti saat mendengar pintunya itu terbuka. Ia melihat sudah ada sosok suaminya berdiri di ambang pintu, dengan wajah tak bersahabat.


“ada apa Vin, kamu butuh sesuatu?” tanya alya dengan suara tenang.


Meski tak di pungkiri ada ketakutan dalam dirinya saat menyadari ekspresi wajah Kevin, Alya berpikir mungkinkah suaminya itu masih marah padanya soal kejadian kemarin malam?


Kevin tak menjawab, dengan kebisuannya itu ia jalan masuk ke dalam kamar dan mendekati Alya. Mata tajamnya tak pernah lepas dari wajah istrinya, dan rahangnya mengetat.


“Akh!!” Alya memekik kaget saat satu tangan Kevin mencengkram rahangnya.


“pergi darimana saja kau hah, kenapa jam segini baru pulang!?” tanyanya dengan emosi.


“A-aku habis pergi kuliah Vin..” jawab Alya terbata.


“jangan bohong kamu ya, kamu pasti habis keluar sama dia. Iya kan?” sentak Kevin dengan mata melebar.


Alya menggeleng seraya kedua tangannya menyentuh tangan Kevin. “maksudmu siapa Vin, dia siapa?”


“siapa lagi, jika bukan pacarmu! Kalian sengaja kuliah di kampus yang sama agar bisa terus bertemu, dan kamu baru pulang sekarang karena habis jalan dengannya. iya kan?” tuduh Kevin.


Alya kembali menggeleng sambil mengernyit bingung. “aku gak ngerti apa maksudmu.”


Kevin tersenyum smirk. “apa kamu pikir aku tidak tahu apa saja kelakuan kalian seharian ini, kamu lupa jika aku banyak mata-mata. Hem?”


Lagi, Alya menggeleng. Tentu dia tahu akan hal itu, tapi yang membuatnya tak mengerti adalah kenapa Kevin bisa menuduhnya memiliki pacar? Dan juga dapat info dari mana suaminya itu jika dirinya jalan dengan laki-laki lain, padahal kenyataannya ia keluar dengan arina.


“sakit!” rintih Alya saat Kevin menekan rahangnya.

__ADS_1


Namun Kevin tak perduli, dia tetap dengan posisinya. Saat ini Kevin terlihat orang bak kesetanan, sehingga tak bisa mendengar suara Alya yang kesakitan.


__ADS_2