TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 21~Di Serbu Wartawan


__ADS_3

Memikirkan itu alya menjadi bergidik ngeri, menatap takut wajah pria itu. Apakah sekarang Kevin berubah menjadi seorang pembunuh?


“K-kamu sudah gila!” pekik Alya ketakutan, seraya bergerak mundur.


Mendengar kata itu raut wajah Kevin kian berubah, Alya yang melihatnya menjadi semakin takut.


“Aku gila?” Ucap Kevin sambil menunjuk dirinya sendiri, kemudian dia tertawa keras sambil memalingkan wajahnya.


Namun detik berikutnya dia menghentikan tawanya dan diam sejenak, kemudian kembali menatap Alya.


“Yang ada kamu tuh yang gila! Udah tahu kaki lagi sakit, bukannya istirahat tapi ini malah keluyuran!” omelnya.


“Aku gak keluyuran! Aku hanya pergi ke kampus!” balas Alya, ia tak terima di katain keluyuran.


Setelah mengatakan itu wajahnya terlihat kaget, dia baru ingat kalau dia ada kelas pagi. Kemudian matanya melirik ke jam tangannya.


“Ah, sial Udah telat!” Umpatnya, lalu kembali menatap Kevin yang juga sedang menatapnya. “Gara-gara kamu nih, aku jadi telat masuk kelas!” Rajuknya.


“Bagus dong, sekalian aja ajukan cuti.” Sahut Kevin sambil tersenyum, namun Alya merasa senyuman itu sangat mengerikan.


“Cuti? Aku gak mau!” Tolak Alya sambil menggeleng.


“Harus mau! Oh.. atau kamu mau aku potong kaki kamu sekarang juga, iya? Ya udah ayok.”


“Jangan gila kamu! Aku gak mau di ambutasi!” Raung Alya saat Kevin ingin menarik tangannya.


Sejenak Kevin menghela nafas kasar, ia menatap sebal gadis di depannya itu. “Makanya kalau gak mau, nurut!” Geramnya, lalu kedua jarinya menjitak kening Alya.


Jelas saja Alya langsung mengaduh kesakitan, wajahnya cemberut seraya tangannya mengusap Keningnya. “A-aku baru aja masuk kemarin Vin, masa iya langsung ambil cuti aja. Gak enaklah sama mahasiswa lain.”


Kevin berdecak kesal, gadis di depannya itu memang tak pernah berubah. Selalu saja mementingkan orang lain, ketimbang dirinya sendiri.


“Bisa gak, sekali... aja kamu jangan perdulikan omongan orang lain, pikirkan juga dirimu sendiri!” Tegasnya.


“Apa urusanmu, terserah aku lah mau ngapain aja! kamu gak ada hak buat ngatur-ngatur aku! Urusin aja hidupmu sendiri!”


“Terserah kamulah, tapi aku gak akan tanggung jawab jika cedera kaki kamu semakin parah!”


“Aku juga gak akan minta kamu untuk tanggung jawab kok, aku bisa mengurusi diriku sendiri!”


Kevin yang mendengar itu mendengkus kesal, sementara alya nampak ingin bangun namun dia merasakan kakinya semakin sakit. tak mau menyerah, dia pun kembali berdiri, namun tetap saja tidak bisa.


“Mau apa kamu?” Teriak Alya saat Kevin ingin mendekatinya.


“Bantu kamu berdirilah, apalagi!”


“Gak usah! Aku bisa berdiri sendiri!” Tolak Alya dengan nada ketus.


“Yakin nih bisa berdiri sendiri? Perasaan dari tadi aku lihat kamu jatuh Mulu.” Ejek Kevin.


“Iya! Aku bisa sendiri, kamu pergi sana dan jangan ganggu aku lagi!”


Kevin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah kemudian berdiri, namun tak langsung pergi.


“Kenapa masih disini?” tanyanya.


“Perlu yang harus kamu ketahui nona, aku juga kuliah disini. jadi kamu gak ada hak buat ngusir aku.” jawab Kevin.


Alya terkejut sejenak, dia lupa satu fakta jika Kevin juga kuliah disana. masa bodohlah, mau dia tetap mau disini ataupun tidak itu bukan lagi urusannya. Dan mulai saat ini sepertinya dia harus hati-hati, agar tak bisa bertemu dengannya lagi.


Alya kembali berusaha untuk bangun, namun lagi-lagi dia gagal. Dadanya terlihat kembang kempis karena lelah, dan keningnya basah oleh keringat. Kevin yang melihat itu hanya tersenyum miring, menyaksikan kekeraskepalaan gadis itu.


Lama kelamaan Kevin menjadi gemas juga, dia pun kembali mendekati gadis itu. Alya tentu langsung menolaknya, bahkan dia memukul tubuh dan wajah pria itu, namun Kevin tak perduli. Dia tetap memaksanya untuk membantunya berdiri.


“Lepaskan aku! Udah aku bilang, aku gak butuh bantuan kamu!” Seru Alya, dia berusaha melepaskan tangan pria itu yang kini sudah melingkar di pinggangnya.


Kevin menunduk, menatap Alya jengah. “Jangan sok kuat kamu tuh, aku tahu kaki kamu makin sakit kan kalau di gerakkan?”


Alya membisu, memang benar apa yang Kevin katakan. Kakinya akan semakin sakit jika di gerakan, sepertinya lukanya semakin parah.


“Dan itu gara-gara kamu!” cetus Alya, kemudian melengos.


“Salah sendiri kenapa gak bisa diem? Jadi tanggung sendiri akibatnya!” balas Kevin dengan sinis.


Mendengar itu Alya kembali mendongak. “Kamu-”


“Udah diem, sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit!” Potong Kevin cepat.


Alya kembali ingin menolak, namun tertahan saat pria itu melototinya.


Gadis itu mendengkus. “dasar tuan pemaksa!” gumamnya pelan, tanpa Alya sadari jika Kevin mendengarnya.


“Dasar nona keras kepala!” Balas Kevin, kemudian berbalik badan. Menuntun Alya menuju mobilnya.


Alya berdecak kesal dan tak ada niatan untuk membalasnya, dia memilih diam karena percuma. Jika terus melawannya, kevin akan terus menjawab ucapannya.


“Ayo masuk!” Titah Kevin.


“I-iya.” Dengan langkah pincang Alya masuk mobil Kevin, dan duduk di jok depan.


“Pakai sealbelt-nya!” Titahnya lagi yang langsung dilakukan oleh Alya.


Kevin ingin menutup pintu mobilnya namun tertahan, kala suara melengking seorang wanita yang memanggil namanya.


“KEVIN!”


Sontak saja, hal itu membuat keduanya sama-sama menoleh. Alya terkejut, matanya membola saat melihat Mayra yang baru keluar dari mobil taksi, Wanita itu berjalan cepat ke arahnya.


“Ngapain Lo kesini?” Tanya Kevin, setelah Mayra sudah berdiri di depannya.


“Harusnya aku yang nanya, ngapain kamu disini? Sama dia lagi!” jawab Mayra balik nanya, lalu menuding ke wajah Alya.


“Kayaknya Lo lagi amnesia ya? Gue kuliah disini!” balas Kevin.


Setelahnya, Mayra nampak salah tingkah karena kebodohannya. Akibat rasa cemburunya, dia sampai lupa jika Kevin kuliah disana.


“A-aku tahu kamu kuliah disini, tapi kenapa cewek udik ini juga ada disini?”


“Bukan urusan Lo, sekarang pergi dari sini!” Usir Kevin.


Mayra menggeleng kemudian maju selangkah, menatap marah wajah gadis itu.


“Heh, cewek miskin! Lo ngapain disini? Bukannya Lo tinggal di Korea ya?” Tanya Mayra dengan suara tinggi, hingga beberapa mahasiswa yang melintas melirik kearah mereka.


“A-aku-”


Belum sempat Alya menyelesaikan ucapannya, Mayra sudah memotongnya duluan. Gadis manis berkulit kuning Langsat itu menatap Nyalang wajah Alya yang merona.


“Ngapain balik lagi kesini? Disana gak ada cowok yang bisa Lo goda ya? Oh.. atau jangan-jangan Lo mau godain Kevin?” Tuduh Mayra. “Jangan harap itu terjadi, karena gue dan Kevin sebentar lagi akan menikah! Jadi mending Lo pergi aja dari sini!”


Alya menggeleng. “Bukan! Aku gak ada niatan untuk menggodanya, tapi--”

__ADS_1


“Tapi apa hah? Jangan Lo pikir gue gak tahu ya sama rencana busuk Lo itu! Setelah Lo tidur dengan Dylan, sekarang Lo mau tidur sama Kevin juga? Cih, murahan!”


Mendengar tuduhan pedas Mayra, hati Alya bagai di tusuk ujung tombak tajam. Sakit! Tapi dia berusaha terlihat tenang, membiarkan semua orang mengira kalau dia seperti itu. Bukankah itu memang kemauannya?


Alya tersenyum ke arah Mayra yang kini sudah melingkarkan tangannya di lengan Kevin, yang sedari tadi diam dengan wajah datarnya.


“Kamu tenang aja, aku sama Kevin gak ada hubungan apapun lagi. Dan aku juga gak ada niatan merebut dia dari kamu, karena aku bukan tipe cewek yang suka mengambil hak orang lain.” Ucap Alya, yang tersirat akan sindiran.


“Alah Udah deh jangan banyak alasan! Gue tahu akal bulus Lo! Emang yah gak kakak gak adik, semuanya sama! Sama-sama murahan!”


DEG!


Mendengar nama kakaknya di sebutkan raut wajah Alya berubah, dia kaget dari mana wanita itu tahu jika Selena adalah kakaknya.


“K-kamu-”


Mayra tersenyum sinis. “Kenapa? Kaget ya kenapa gue bisa tahu kalau Lo sama pelakor itu kakak adik? Harusnya Lo gak perlu kagetlah, secara keluarga gue adalah keluarga terpandang. Untuk mencari informasi hal beginian sangat mudah kami lakukan.”


Alya segera membuka sabuk sealbelt yang tadi terpasang, lalu keluar dari mobil Kevin. Kemudian berdiri menghadap ke arah Mayra.


“Kamu boleh menghinaku sesuka hatimu, tapi jangan pernah membawa-bawa nama kakakku! Dia tak seperti yang kamu pikirkan.” Desis Alya.


Mendengar itu Mayra tertawa kecil. “Buktinya udah ada kok, seluruh dunia bahkan sudah tahu kalau kakak Lo itu memang murahan! Apa coba namanya wanita yang tidur dengan suami orang selain murahan! Oh.. salah, mungkin kata yang lebih pantes adalah pelacur!”


Alya tak kembali bersuara, wajahnya sudah terlihat merah padam serta kedua tangannya mengepal. Ingin rasanya dia menampar wajah Mayra yang sudah menghina Selena, namun berusaha dia tahan.


Sedangkan Kevin masih tetap diam membisu, namun sedari tadi pandangannya tak lepas dari wajah Alya. Seakan ada magnet tak kasat mata, yang membuatnya ingin terus menatap wajah mantan kekasihnya itu.


“Udah Mending sekarang Lo keluar dari mobil calon suami gue, cepat!” Ketus Mayra sambil menarik tangan Alya dengan kasar hingga gadis itu hilang keseimbangan tubuhnya, dan berakhir jatuh ke aspal.


BRUK!


“Awwss...” ringisnya. dia menyentuh kakinya yang di perban, nampak ada noda merah disana.


Bersamaan dengan itu, datang arina yang tengah berlari ke arah mereka.


“Astaga, Alya!” Suara arina terdengar gemetar, Wajah gadis berambut sebahu itu panik saat melihat wajah sahabatnya merona dan merintih kesakitan.


Alya tak mampu bersuara, hanya bisa menggeleng.


“Al, kaki Lo berdarah!” Pekik Arina, matanya membola.


Tak lama kemudian Rangga muncul, dan menghampiri mereka.


“Kalau mau cakar-cakaran jangan disini, cari tempat yang sepi. Bikin malu aja!” cetusnya, seraya melirik sinis ke Mayra dan Kevin.


Mayra mendelik. “Dia yang duluan, siapa suruh ganggu calon suami gue!”


Arina yang mendengar kata terakhir Mayra langsung mendongak. “Apa Lo bilang tadi? Ganggu? Gue gak salah denger? Yang ada tunangan Lo tuh yang ganggu sahabat gue! Dan sekarang lihat, akibat ulah Lo lukanya jadi nambah parah!” Jerit Arina, dia tak terima Alya dituduh mengganggu Kevin.


Setelah mengatakan itu arina kembali menatap Alya. “ayo Al bangun, kita pergi ke rumah sakit.”


Alya mengangguk, mencoba untuk bangun namun tak bisa. Kakinya semakin sakit jika di gerakan, bahkan lebih sakit dari sebelumnya. Melihat itu, spontan Kevin bergerak ingin membantu. namun tertahan, karena Mayra menahannya.


Rangga yang melihat pemandangan itu mendengkus kesal, dia pun menawarkan bantuan untuk membantu Alya. Menggendongnya ala bridal, dan berlalu begitu saja. Meninggalkan Kevin dan Mayra yang menatap kepergiannya, dengan beda artian.


...💐💐💐...


selena duduk di kursi besi yang ada di ruang tunggu poli kandungan dengan perasaan gelisah, kedua matanya selalu melirik kiri kanan, takut jika ada orang yang mengenalinya. sedangkan di sampingnya sudah ada Yuna, bibinya itu duduk dengan tenang.


saat ini, dirinya dan yuna sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. setelah sarapan usai, yuna langsung mengajaknya untuk pergi ke dokter kandungan. selena sudah berusaha menolaknya, tapi yuna terus memaksanya dan akhirnya dia pun pasrah dan mengiyakannya.


“bibi yakin ini aman?” tanya selena pada yuna, dengan nada berbisik.


selena diam, meskipun wajahnya di tutupi masker tetap saja perasaannya tak tenang.


Drrttt..


tiba-tiba ponselnya yang ada di tasnya bergetar, selena merogoh dan melihat layar ponselnya yang menampakkan nama Rafael.


“halo..”


di detik pertama, terdengar helaan nafas di seberang sana.


[halo Len, kamu habis darimana? kenapa teleponku baru kamu angkat!!]


“hah?”


[emm.. tadi pagi aku menelponmu tapi gak di angkat-angkat! kamu kemana?]


“O--oh maaf, tadi pagi aku tidak pegang hp. mungkin waktu mas telpon, aku sedang berada di dapur dan ponselnya aku tinggal di kamar.”


Selena tanpa sadar memanggil Rafael dengan sebutan berbeda, biasanya dia akan memanggil pria itu dengan sebutan bapak atau pd-nim. Namun kali ini dia menyebutnya 'mas', dan hal itu membuat Rafael di seberang sana membisu.


[k-kamu panggil aku apa tadi?]


Seakan menyadari, Selena terkejut kemudian dia memukul pelan kepalanya sambil mulutnya komat-kamit. Dia tengah Merutuki kebodohannya sendiri, bisa-bisanya bicara seperti itu dan dia berpikiran Rafael pasti marah.


“M-maaf pak kalau saya lancang, tapi..” Selena menggantungkan ucapannya, dia sedikit memiringkan tubuhnya sambil tangannya menutupi bibirnya. Kemudian berbisik.


“Boleh gak kalau mulai sekarang aku memanggilmu dengan sebutan itu? biar lebih sopan aja gitu, karena tak mungkin kan aku selalu memanggilmu dengan sebutan pak. Tapi.. kalau keberatan gak apa-apa kok.”


[oh b-boleh kok! Boleh. Emm.. T-tadi aku cuma kaget aja, soalnya hanya kamu yang memanggilku dengan sebutan itu.]


“benarkah?”


[Hm..]


“Bapak tidak akan memarahi saya kan, kalau saya memanggil anda dengan sebutan begitu?”


Terdengar suara kekehan di seberang sana.


[gak kok, ngapain juga aku harus marah. kamu tenang saja, lagipula aku juga suka kok di panggil begitu]


Selena yang mendengarnya, menghela nafas lega.


[oh iya. kamu lagi ada dimana, kedengarannya kok rame?]


“aku lagi ada di rumah sakit.”


[rumah sakit? siapa yang sakit? kamu?]


“bukan mas, aku tidak sakit dan juga gak ada yang sakit. aku kerumah sakit untuk periksa kandungan saja.”


[periksa kandungan? sama siapa?]


“sama bibi yuna.”


[oh, baiklah.]


“kalau boleh tahu ada apa yah mas Rafa telepon?”

__ADS_1


[oh itu, aku hanya ingin tanya apa Alya masih menolak dengan syaratku?]


“I-iya mas.”


[Semalam aku sudah bicara sama Kevin, dan menyuruhnya untuk bantu yakinkan dia. Ya.. mudahan-mudahan saja setelah ini Alya langsung Nerima.]


“Aku kurang yakin mas, alya itu keras kepala.”


[Jika sudah menyangkut tentang kamu dia pasti akan setuju, Aku yakin itu!]


“Semoga saja.” lirihnya.


[Ya udah kalau gitu aku matiin ya telponnya, bentar lagi aku mau adain rapat sama staf soal skandal kamu ini.]


“Jadi sekarang mas lagi ada di kantor agensi?”


[Iya, berhubung Hani masih masa cuti dan asistennya gak sanggup handle semuanya sendiri. Di tambah manager kamu juga sedang kelimpungan, karena kontrak kerja dari berbagai brand dan drama yang kamu bintangi langsung di batalkan. jadi aku harus turun tangan untuk atasi semuanya.]


Selena merasa sedih mendengarnya, hanya karena kesalahannya semua orang menjadi kena imbasnya. Harusnya dari awal dia tak usah berhubungan lagi dengan Chandra, namun dia malah meneruskannya hanya karena atas dasar rasa cinta.


“Maafkan aku mas, gara-gara masalahku semuanya menjadi repot. Bukannya melawan masalah, aku malah kabur kesini.” Ucap Selena penuh penyesalan.


[It's oke, apapun yang menyangkut kamu sudah menjadi tanggung jawabku sekarang, jadi kamu tenang aja. Oke?]


“Iya mas. makasih udah mau bantu aku, sampai rela ngorbanin dirimu sendiri.”


[Tak masalah, sudah sepatutnya sesama teman harus saling membantu.]


setelah itu panggilan berakhir, selena menyimpan ponselnya ke tempat semula.


“ada apa? siapa yang nelpon?” tanya yuna.


“mas Rafa bi, dia menanyakan aku ada di mana karena sejak pagi telponnya aku abaikan.” jawab selena.


“dia pasti khawatir sama keadaan kamu disini.”


mendengar itu selena hanya tersenyum kecut, andai saja bibi-nya tahu apa yang terjadi.


Beberapa menit kemudian..


“Selena kharisma Putri.” Teriak seorang suster yang berdiri di depan pintu ruang dokter kandungan sambil memegang papan tulisan, matanya terlihat bergerak kanan dan kiri untuk mencari pemilik nama yang dia sebut.


hal itu membuat semua mata pengunjung lain terbelalak dan bisik-bisik, Pasalnya nama itu seperti nama artis yang sedang hangat di perbincangkan.


Mendengar namanya di panggil tubuh Selena menegang, jantungnya berdetak kencang. apalagi begitu menyadari ekspresi orang-orang yang ada disana, membuat dirinya takut.


“Ayo Lena, namamu udah panggil.” bisik Yuna, seraya tangannya menyenggol sikut keponakannya itu.


“Bi, aku takut.” Cicit Lena.


“Gak usah takut, ini hanya pemeriksaan biasa kok.”


Selena diam, setengah wajahnya yang tertutup masker nampak pias.


“Siapa yang bernama Selena, silahkan maju ya.” Teriak sang suster lagi.


“Ayo.” Kali ini Yuna sudah berdiri, dia menarik tangan Selena untuk bangun juga.


Dengan gerakan ragu Selena bangun dari duduknya, kemudian berjalan pelan ke arah ruang dokter.


...💐💐💐...


“dengan ibu Selena kharisma putri?” tanya sang dokter saat selena sudah masuk ke ruangannya.


“I-iya.” Sahut Selena seraya membuka maskernya, dia masih berdiri di ambang pintu.


“Silahkan duduk.” ucap dokter, sambil mempersilahkan wanita itu duduk di kursi depan mejanya.


“ada yang saya bisa bantu?” Tanyanya begitu Selena sudah duduk.


“saya ingin periksa kandungan.”


“baiklah, sekarang anda silahkan berbaring di ranjang.” ucap sang dokter.


selena menurut, dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang pasien, lalu membaringkan tubuhnya di sana.


Sang dokter pun mulai menjalankan tugasnya.


“kondisi bayinya normal sesuai usianya, detak jantung pun sudah mulai terdengar. untuk mengetahui jenis kelaminnya masih belum bisa ya bu, tunggu sampai usianya 5 atau 6 bulan dulu ya baru bisa di lihat.” ucap sang dokter sambil menatap layar monitor yang memperlihatkan kondisi bayi selena, sebelah tangannya memegang alat yang di tempelkan di perut selena.


Selena tak bersuara, dia menatap haru layar monitor yang memperlihatkan bayinya, masih tak menyangka jika di dalam perutnya ada kehidupan lain yang sedang berkembang.


Lalu dia teringat dengan ucapan Chandra waktu di hotel yang menginginkannya untuk aborsi, waktu itu Selena memang menyetujuinya karena dia tak ada jalan lain.


namun setelah Rafael datang dan menawarkan bantuan, dia akan mempertahankannya. Lagipula keluarganya juga tak mengizinkannya untuk melakukan itu, dan dia juga sadar apa resikonya jika tetap melakukan aborsi.


setelah selesai di periksa sang dokter memberikan selembar foto USG pada selena dan wanita itu menerimanya dengan wajah berbinar, kemudian dokter mulai menjelaskan hal apa saja yang tidak boleh dan boleh dilakukan oleh ibu hamil, dan selena mendengarnya dengan baik.


Dokter itu sempat menanyakan tentang keluhannya, Selena pun langsung menjawabnya jika dia suka mual di pagi hari dan badannya suka lemas.


“Rasa mual pada di semester pertama itu hal biasa dan gak ada obatnya, biasanya gejala itu akan muncul di pagi hari saja. Saya akan memberi resep pereda mual dan penguat kandungan. Di utamakan jangan stres ya Bu, karena itu akan berdampak buruk pada janin dan perbanyaklah makan buah-buahan. Istirahat yang cukup, serta jangan melakukan aktifitas yang berat dulu.” Ucap sang dokter panjang lebar.


“Baik, dok.”


begitu semuanya selesai, selena pun keluar dari ruangan dokter. yuna yang melihat keponakannya keluar, langsung berjalan cepat mendekatinya.


“gimana hasilnya?” tanyanya.


“semuanya baik-baik saja bi, bayinya tumbuh dengan sehat.” jawab selena.


“syukurlah kalau begitu, ya sudah sekarang kita tebus obatnya dulu lalu pulang.” ucap yuna, selena mengangguk.


...💐💐💐...


“eh.. eh.. itu dia Selena, cepat ambil gambarnya!”


Tak.. Tak .. Tak..


Jempret!! Jempret!!


saat Yuna dan selena melewati koridor rumah sakit, tiba-tiba datang segerombolan wartawan yang entah datang dari mana dan langsung menghadang jalannya dan menodongnya dengan deretan pertanyaan. entah informasi dari mana mereka mengetahui jika dirinya sedang ada di rumah sakit.


“Nona Selena, apakah berita itu benar tentang anda yang memiliki hubungan dengan Chandra Danendra? Dan apakah benar jika saat ini anda sedang mengandung?”


“Apa yang anda lakukan disini? Kenapa anda keluar dari poli kandungan?”


“Apakah anda benar-benar hamil anaknya Chandra? Berapa usianya? Nona tolong bicaralah dan jelaskan pada kami.”


“Nona Selena tolong bicaralah, apa semua itu benar?”


seperti itulah kira-kira pertanyaan para wartawan dan masih banyak pertanyaan lain yang selena sendiri tak bisa menjawabnya, yang dia lakukan saat ini hanyalah diam dengan wajah terkejutnya karena tak menyangka jika ada wartawan datang.

__ADS_1


‘datang darimana para wartawan ini, dan dapat info darimana jika aku disini?’


__ADS_2