TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 45~Pergi Ke Kantor


__ADS_3

Sama halnya dengan Alya dan Kevin, dylan dan Rafael pun mulai bersiap pergi menuju kantor ZN GROUP. Setelah sarapan usai, mereka pamitan pada keluarga dan pergi ke kantor.


Selena mengantar kepergian suami dan adik iparnya sampai ke teras rumah.


“Kalian baik-baik disini, aku janji bakal cepat pulang.” Ucap Rafael dengan nada pelan, seraya sebelah tangannya mengusap perut buncit Selena yang di baluti kaos polos warna biru.


Sejenak Selena kaget dengan apa yang suaminya lakukan, telapak tangan besar Rafael terasa begitu hangat saat membelai perutnya. namun detik berikutnya, ia kembali menormalkan wajahnya dan mengangguk samar.


“Iya mas. Kamu sama Dylan hati-hati di jalannya.” Sahutnya.


“Hm.. aku berangkat.” Pamit Rafael. mengecup singkat kening Selena, sebelum akhirnya jalan dan masuk mobil.


Lagi-lagi Selena dibuat kaget oleh tindakan kaget, Seketika ia merasakan wajahnya memanas. di barengi dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.


“Kami pergi dulu ya kakak ipar.” ujar Dylan sambil melambaikan tangannya, seraya jalan cepat ke mobil dan masuk di jok belakang.


Selena yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, kemudian mengangguk sambil membalas lambaian tangan adik iparnya itu.


Setelah mobil yang di tumpangi Rafael dan Dylan sudah lenyap, Selena berbalik badan dan kembali masuk rumah.


Huek!


Baru saja beberapa langkah masuk rumah, Selena sudah merasakan mual.


Huek! Huek!


Karena tak kuat lagi, Selena jalan cepat menuju dapur dan berdiri di wastafel sambil kepalanya menunduk. Seorang pelayan yang kebetulan ada di dapur pun merasa kaget, nalurinya sebagai sesama perempuan muncul. Menantu baru majikannya itu pasti sedang mengalami morning sickness.


“Nona tidak apa-apa?” Tanya pelayan itu ragu-ragu.


Selena menggeleng sambil terus mengeluarkan isi perutnya yang tadi sudah di isi dengan roti panggang, namun sekarang semua itu sudah kembali keluar dan akhirnya membuat tubuhnya lemas.


“Saya panggilkan dokter saja ya?” Usulnya.


“T-tidak perlu, makasih. Ini sudah mendingan kok.” Cegah Selena dengan suara lirih, wajahnya terlihat pucat.


“Tapi nona--”


“Beneran gak apa-apa kok, tapi boleh aku minta tolong ambilkan minyak kayu putih sama buatkan teh manis hangat?” Pinta Selena yang langsung di angguki oleh sang pelayan.


Dengan gesit pelayan tersebut itu berlari ke sudut dimana letaknya kotak obat, jaraknya cukup dekat dengan dapur sehingga tak banyak waktu pelayan itu kembali ke dapur dan memberikan apa yang Selena pinta.


Selena menerimanya dan mengucapkan terima kasih, lalu dengan jalan pelan dia mendekat ke kursi yang ada diruang makan. Sementara pelayan tadi tengah membuat teh manis hangat yang Selena inginkan, setelah selesai dia menaruhnya di meja.


“Silahkan nona, mumpung masih hangat. Biar perut nona sedikit baikan.” ucapnya.


Selena yang tengah membalur minyak kayu putih ke tengkuknya mengangguk. “Terima kasih bi.”


“Sama-sama nona.”


Dari kejauhan terlihat Hani datang ke dapur sambil membawa botol susu anaknya, niatnya tadi dia ingin mencucinya. Namun dia malah melihat Selena duduk di kursi yang ada diruang makan, dengan senyum mengembang dia pun mempercepat jalannya dan mendekatinya.


Begitu sudah dekat dan ingin menyapanya, suaranya seakan tertahan di tenggorokan, wajahnya pun berubah cemas saat menyadari wajah wanita itu pucat.


“Ya ampun Selena, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat?” Tanyanya dengan suara sedikit keras, dan hal itu membuat pelayan dan Selena sendiri kaget.


“Aku gak apa-apa kok Hani, tadi hanya mual aja. Biasalah..” jawab Selena, sambil tersenyum kecut.


Hani yang mendengar itu menghela nafas pelan, perasaannya sedikit lega. “Syukurlah, tapi gak parah kan?” Tanyanya lagi.


“Enggak kok. Oh iya ngapain kamu kesini?” balas Selena yang di akhiri dengan bertanya.


“Oh, ini aku mau cuci botol susu Azura aja.” Jawab Hani.


“Biar saya saja yang cuci non.” ucap sang pelayan.


“bisa?”


Pelayan tersebut mengangguk pasti. “Bisa non, saya kan pernah punya bayi juga.”


“oh ya udah, nih.” Sahut Hani Sambil memberikan botol susu anaknya ke pelayan.


Selama pelayan mencuci botol susu anaknya, Hani memilih menunggunya sambil mengobrol dengan Selena.


Selena terkekeh geli saat Hani menceritakan kebahagiaannya begitu mendengar kabar pernikahannya dengan Rafael, wanita itu tak menyangka jika Hani dan ibu mertuanya sangat mengidolakannya bahkan mereka sangat menginginkan dirinya sebagai menantu.


Siapa sangka keinginan itu akhirnya terwujud, kini Selena sudah menikah dengan putra sulung keluarga dirgantara. Tapi.. mereka tak tahu jika pernikahan ini hanya bersifat sementara, setelah Selena melahirkan maka pernikahan itu akan berakhir.


Kini wanita itu berpikir, bagaimana reaksi mereka setelah mengetahui kenyataan yang ada. Terlebih pernikahan Kevin dan Alya juga terjadi karena desakannya, Apakah setelah itu mereka akan membencinya karena sudah memanfaatkan keadaan?


...💐💐💐...


Pagi ini suasana kota Jakarta sangat cerah, namun berbanding terbalik dengan suasana hati Andreas yang keruh. Di dalam kamarnya Andreas duduk di sofa single yang ada di kamarnya, pandangannya terpekur ke layar ponselnya dan jemarinya terus bergerak.


Dengan mulut terkatup rapat Pria itu melihat akun Instagram milik Alya, menggulir setiap foto yang tertera Disana. Bahkan dengan lancangnya dia mengambil foto selfi Alya dan menyimpannya ke galeri ponselnya.


Hingga jarinya berhenti di postingan paling akhir, dan seketika raut wajahnya berubah. Postingan itu sekitar tahun 2018, berarti Alya memposting itu 5 tahun yang lalu.


di postingan tersebut hanyalah video singkat sepasang kaki berbeda ukuran saling bergerak naik turun, dan ada sepasang tangan saling menggenggam.


Kening Andreas berkerut dalam sambil menerka-nerka, apakah sepasang kaki itu adalah milik Alya dan Kevin? Jika memang benar, berarti jauh sebelum dirinya mengenal Alya, mereka sudah bersama?


Tapi kenapa setiap dia bertanya apakah ada laki-laki lain, Alya selalu mengatakan tidak? Apakah mereka sudah putus? Tapi kenapa sekarang malah menikah?


Atau.. mungkin itu milik laki-laki lain, tapi siapa?


Berbagai pertanyaan terus muncul di otaknya, namun tak ada satupun yang bisa dia pecahkan.


‘atau memang benar jika mereka pernah ada hubungan dan jangan-jangan Alya masih mencintainya? itulah kenapa dia selalu nolak gue? dan mungkin Kevin juga sama, makanya mereka memutuskan untuk menikah?’ batin Andreas menduga-duga.


Sebelumnya Andreas sudah mencari tahu informasi pribadi Kevin, tak banyak. Dia hanya mendapat info jika dirinya dan Alya pernah satu sekolah waktu SMA dan sempat bertunangan dengan selebgram bernama Mayra Herlambang, selain itu tak ada info lagi.


Andreas menggeleng, dia tak perduli dengan riwayat hubungan mereka seperti apa. Saat ini keinginannya hanya satu, membuat Alya menjadi miliknya. Apapun yang terjadi!


“Aku gak akan biarkan kalian hidup bahagia di atas penderitaanku!” Desis Andreas.

__ADS_1


Setelah itu dia bangun dari duduknya dan berlalu keluar kamar, tujuannya saat ini adalah ingin menemui papa-nya.


Hari ini adalah hari Senin dan waktu juga masih menunjukkan jam 7 pagi, biasanya jika tak ada hal penting papa-nya akan berangkat ke kantor agak siangan.


Tempat pertama yang Andreas datangi adalah ruang makan, siapa tahu papa-nya ada disana. Dan benar saja, Bobby memang ada disana bersama mama dan kakeknya yang tengah menikmati sarapannya.


Sarah yang kala itu mau bangun dari kursinya, niatnya ingin memanggil Andreas untuk segera turun. Namun putranya itu sudah datang sendiri.


“Sarapan dulu sayang.” Ajaknya.


Andreas tak bersuara, dia hanya mengangguk. Dia pun duduk di samping kakek Rusman yang tengah menyeruput kopinya.


Dengan sigap Sarah mengambil piring Andreas untuk mengambilkannya nasi beserta lauk pauknya, tanpa perlu bertanya wanita itu sudah tahu makanan apa yang anaknya itu inginkan.


“Makasih ma.” Ucap Andreas saat Sarah menyerahkan piring yang sudah terisi penuh oleh makanan.


“Sama-sama sayang.”


Setelah itu mereka berempat pun mulai memakan makanan masing-masing, tanpa ada yang berani bersuara. Kebiasaan dikeluarga itu jika sedang makan memang tak pernah mengobrol, katanya tidak sopan.


Waktu terus berjalan, orang pertama yang pergi meninggalkan meja makan adalah kakek Rusman karena makanannya sudah habis.


Biasanya sehabis sarapan kakek Rusman suka duduk di teras taman belakang rumahnya, atau sekedar jalan-jalan sekitar komplek rumahnya yang nantinya di temani oleh bodyguard yang sudah Bobby sewa. Dan sepertinya hari ini pun begitu, karena kakek Rusman jalan ke teras depan dan menghampiri bodyguardnya.


“Jaya, temani aku keluar. Aku mau cari udara segar, mumpung masih pagi.” Ucapnya.


Bodyguard yang bernama jaya itu mengangguk, mereka pun mulai berjalan bersisian keluar gerbang.


Sementara itu di meja makan, tak lama setelah kakek Rusman pergi, Bobby juga nampak sudah beranjak. Saat ini pria itu masih memakai pakaian santai, dan rencananya akan pergi ke kantor jam 9 nanti.


Melihat papa-nya sudah pergi, Andreas mempercepat makannya. Saat sudah habis, ia segera Meraih gelas yang sudah terisi jus jeruk, lalu meminumnya hingga setengah. Kemudian langsung keluar dari ruang makan, dan mengejar langkah papa-nya.


“Papa, tunggu!” Panggil Andreas saat Bobby ingin masuk ke ruang kerjanya.


Bobby pun menoleh. “Ada apa?” Tanyanya.


“Aku mau bicara serius sama papa.” Jawab Andreas.


“Soal apa?”


“Kuliahku.”


“Kenapa, apa ada masalah?”


Andreas menggeleng, sebelum menjawab pria itu nampak menghela nafas panjang.


“Aku ingin pindah kuliah disini!”


...💐💐💐...


Sementara itu di lain tempat, mobil yang Alya dan Kevin naiki sudah sampai di depan gedung ZN GROUP. Alya menatap takjub gedung yang menjulang tinggi tersebut, perusahaan yang selama ini dia lihat hanya dari majalah bisnis dan televisi itu kini bisa melihatnya secara langsung.


Gedung perkantoran milik suaminya yang sebagian besar dari kaca itu terlihat sangat elegan, banyak yang mengatakan untuk bisa bekerja disini sangatlah sulit. Jangankan bekerja, Lulus interview saja mereka sangat beruntung.


Alya terkejut saat pintu mobil bagiannya terbuka, dia melihat Kevin mengulurkan tangannya mengajaknya keluar.


“Hah!” Alya tidak paham dengan ucapan Kevin tadi.


Kevin tak menjawab, dia malah langsung menarik tangan istrinya untuk keluar. Lalu melampirkan tangan Alya untuk melingkar di lengannya, kemudian mereka jalan masuk.


Tiba di dalam, dua karyawan wanita yang bertugas di bagian informasi langsung berdiri dan memberi hormat. Tak lupa juga dengan sapaannya, dan di balas oleh Alya dan Kevin dengan anggukan.


Selepas itu kedua karyawan itu nampak bisik-bisik sambil mengintip langkah Kevin dan Alya, mereka menerka-nerka tentang pernikahan dadakan Kevin dan menduga wanita yang dibawanya adalah istrinya.


“Aku pikir penggantinya akan lebih cantik dari tunangannya, ternyata biasa saja.”


“Iya, bener. Sayang banget yah pak Kevin malah memilih wanita yang jauh dari levelnya.”


“Cewek itu pasti udah menggoda pak Kevin, atau dia pakai guna-guna biar bisa di nikahi.”


“iyalah! Mana mungkin pak Kevin mau nikahin cewek modelan begitu, kalau gak di jampi-jampi.”


Samar-samar Alya mendengar ucapan dua pegawai wanita yang tengah membicarakan soal dirinya, hatinya sakit selalu dituduh yang tidak-tidak oleh semua orang. ingin sekali ia berteriak kalau dirinya tak seperti itu, tapi sayangnya Alya bukan tipe wanita yang bar-bar.


“Kaki kamu udah gak sakit lagi kan?” Tanya Kevin sambil menatap Alya saat sudah berdiri di depan lift, yang mana membuat gadis itu terkejut.


Sementara itu di belakang mereka sudah ada Kenzo dan Sean.


Alya menggeleng. “Enggak.”


“Oke, setelah semua urusan disini selesai kita kerumah sakit.”


Mendengar itu Alya hanya manggut-manggut saja, lalu dengan sengaja dia melepaskan tangannya dari lengan Kevin dan kini beralih melingkar di pinggangnya.


“aku gugup.” Lirihnya sambil mendongak, menatap wajah Kevin yang terlihat kaget.


Kevin memang sempat kaget dengan sikap Alya yang tiba-tiba agresif, namun sedetik kemudian dia tersenyum tipis dan menarik pinggang istrinya. kini tubuh keduanya sudah menempel tanpa cela.


“Rileks, semuanya akan baik-baik saja.” Bisik Kevin.


Tanpa di duga oleh Alya, suaminya itu malah melayangkan kecupan singkat di keningnya.


TING!


pintu lift terbuka, mereka pun segera masuk dan menekan angka lantai yang dituju.


Beberapa menit setelahnya pintu lift kembali terbuka, mereka sudah di sambut oleh beberapa karyawan. Salah satu dari mereka ada Dylan dan Rafael yang nampak tersenyum hangat ke arahnya.


“Selamat datang di kantor kami nona muda.” Ucap Dylan dengan nada jenaka.


Bukannya merasa tersanjung, Alya malah terlihat malu. Kata 'nona muda' masih sangat asing baginya, padahal semenjak menikah dengan Kevin dia sudah sering di panggil begitu.


Tak lama setelah itu karyawan lain juga menyapa Alya dengan sopan, dan gadis itu membalasnya dengan anggukan serta senyuman tipis.


“Semuanya udah beres kan?” Tanya Kevin pada kedua kakaknya.

__ADS_1


“Beres, tinggal kumpulin semua karyawan aja. Tapi sebelumnya kalian sarapan dulu, gue udah pesan makanan untuk kalian berdua. Pasti kalian belum sarapan kan?”


Mendengar ucapan Dylan Alya mengangguk antusias, saat ini dirinya memang sedang dilanda rasa lapar. Tanpa kata Kevin langsung membawa Alya ke sebuah ruangan, di depan pintu itu tertulis CEO ZN GROUP. Ruangan itu adalah yang selama ini Dylan tempati, namun sebentar lagi akan berpindah ke Kevin.


Begitu sudah masuk, lagi-lagi Alya di buat terpana. Interior ruangan itu memang tak terlihat mewah namun terkesan elegan dan tentunya sangat luas, bahkan lebih luas dari kamarnya yang ada di apartemen. Ingatan gadis itu langsung tertuju pada drama Korea kesukaannya yang berjudul 'business proposal', di dalam drama tersebut ada adegan dimana memperlihatkan ruangan CEO yang sangat luas dan hampir 100% semua interior dan barang-barangnya sama dengan ruangan yang dia datangi sekarang.


Di tengah kekagumannya itu Kevin mengarahkan Alya ke sofa dan menyuruhnya untuk duduk, lalu di susul dengan dirinya. di depannya ada meja yang sudah di penuhi dengan makanan dan minuman yang Dylan pesan


Melihat Alya dan Kevin masuk ruangan, kenzo, Sean, Rafael dan Dylan pun ikut masuk. Rafael duduk di sofa seberang bersama Dylan, sedangkan Kenzo duduk di sofa single paling ujung dekat tembok. Sementara Sean berdiri di belakang sofa yang Alya dan Kevin duduki.


Alya mulai membuka bungkusan makanannya, sementara empat pria itu hanya minum kopi saja.


Drrtt..


Terdengar getaran, Rafael meraba kantong dalam jasnya lalu meraih ponselnya.


“Ya, halo.” Ucapnya saat panggilan tersambung.


Lama terdiam, wajah Rafael terlihat serius lalu matanya melirik ke arah Kevin.


“Oke.”


Panggilan berakhir, Rafael menyimpan ponselnya ke meja.


“Ada masalah?” Tanya Kevin yang memang membaca gelagat sang kakak.


Rafael diam sejenak, kemudian menghela nafas. “Gue gak tahu ini bisa di sebut masalah atau enggak, tapi.. katanya papa akan datang kesini.”


Hening..


Semua orang yang ada disana tak ada yang bersuara, wajah mereka pun nampak berubah. Kecuali Kevin.


...💐💐💐...


Kakek Rusman masih berjalan-jalan keluar komplek, di temani oleh bodyguardnya yang mengekornya di belakang. Hingga langkahnya berhenti di taman yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah.


Biasanya saat hari wekkend di taman tersebut selalu penuh dengan suara anak kecil yang asyik bermain, ditemani oleh pengasuh ataupun orang tuanya. Namun kini taman tersebut sepi dan sunyi, hanya terdengar suara kendaraan umum yang melintas.


Kakek Rusman jalan ke arah ayunan besi, lalu dengan perlahan dia duduk disana. Mata sipitnya menerawang ke sekitar taman sambil tersenyum samar, dia seakan tengah membayangkan bermain dengan cucunya di taman tersebut.


Cucu yang selama ini dia cari, namun hingga saat ini orang suruhannya belum berhasil menemukannya. Mungkin ini adalah karma untuknya karena dulu menolak kehadirannya, hanya karena terlahir dari wanita miskin.


Andai saja dulu dia tak mengusir putra bungsunya dan sang menantu, andai saja waktu putranya memperkenalkan anaknya langsung menerimanya pasti saat ini dirinya dan sang anak sudah hidup bahagia bersama.


Namun.. yang namanya penyesalan selalu datang di akhir dan waktu pun tidak bisa di ulang.


Ini adalah akibat dari kesalahannya sendiri, demi menjunjung tinggi harga diri dan martabat sebagai orang kaya, akhirnya dia harus kehilangan putra bungsunya, putra kebanggaannya.


•FLASHBACK•


Di sebuah rumah yang terlihat luas dan mewah itu nampak ada dua pria berbeda generasi saling berdiri berhadapan, salah satu dari mereka tengah menggendong bayi yang memakai selimut warna pink motif kartun. Sementara dia bagian sofa panjang, sudah ada dua wanita duduk sambil memandang dua pria itu.


“Jadi istrimu sudah melahirkan?” Tanya kakek Rusman menatap tajam wajah Ferdinan dan bayi yang di gendongnya.


“Iya, pa. Dua bulan yang lalu Vanessa sudah melahirkan bayi perempuan.” Jawab Ferdinan pelan.


Mata kakek Rusman melirik ke wajah bayi mungil itu, cantik. Itulah kesan pertama kakek Rusman, hampir 100% wajah bayi itu mirip Vanessa. Hanya di bagian warna rambut dan alis menurun ke Ferdinan yang memiliki rambut warna hitam legam.


Jika kakek Rusman nampak enggan mengakui bayi itu sebagai cucunya, berbanding terbalik dengan sang istri, Hanum. Wanita itu terlihat sangat gembira karena memiliki cucu perempuan, itulah impiannya sejak dulu.


“Lalu apakah sekarang kamu menginginkan papa untuk menerimanya sebagai cucuku?”


Mendengar kata itu, Ferdinan tersenyum.


“Tidak, pa. Kedatanganku dan Vanessa kesini hanyalah ingin memberi tahu jika papa sudah memiliki cucu lain, aku dan Vanessa tak berharap banyak papa bisa menerimanya tapi akuilah keberadaannya.”


Kakek Rusman berdecih, dia bersedekap dada sambil memandang Ferdinan dengan angkuh.


“Sampai kapanpun papa tidak sudi mengakuinya, cucuku hanya satu yaitu Andreas! Selain itu papa juga sudah menganggapmu sudah mati setelah kau menikahi chef kampungan itu!” Cetusnya seraya melirik tajam ke arah Vanessa.


Nenek Hanum terlihat kaget setelah mendengar ucapan kakek Rusman, dengan cepat dia berdiri dan mendorong bahu lebar kakek Rusman.


“Hati-hati dengan lisanmu pa, para malaikat bisa saja mencatat ucapanmu! Dan saat itu terjadi jangan pernah menyesalinya!” Serunya.


Ferdinan yang melihat mama-nya murka, langsung mendekat dan menenangkannya. Di dalam keluarga itu hanya mama-nya yang memihak padanya, wanita itu menerima dan merestui hubungannya dengan Vanessa.


“Ma, sudah. Tak apa-apa.” Ucap Ferdinan.


Kakek Rusman melengos, dengan wajah kaku dia pun berkata.


“Sebaiknya kalian pergi dari sini, saya muak melihat kalian semua. Dan mulai detik ini..” ucapannya menggantung seraya menoleh kearah Ferdinan.


“kau, 'Ferdinan Raka Mahendra' bukan anakku lagi! Aku haramkan kau pernah lahir dari benihku!”


JEDER!


Oeekk.. Oeekk..


selesai dengan ucapan itu, bersamaan pula guntur menyambar dan kilatan cahaya putih. Di susul dengan tangisan bayi yang ada di gendongan Ferdinan.


Ferdinan membisu, wajah tampannya memerah dan kedua matanya berembun. Vanessa dan nenek Hanum pun begitu, mereka nampak menahan tangis.


“Kau.. keterlaluan pa!” Pekik nenek Hanum, setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan suami, anak dan menantu diruang tamu.


Ferdinan menunduk, matanya melihat ke wajah sang putri yang masih menangis kencang. Dengan gemetaran tangannya mengusap pipinya.


“Jangan menangis sayang, tak apa-apa kamu tak di anggap oleh kakekmu. Ada papa dan mama yang akan selalu menyayangimu.”


Lalu pandangannya kembali beralih ke kakek Rusman.


“Baiklah, jika itu yang papa inginkan akan aku turuti. Mulai detik ini kita sudah tak ada hubungan apapun lagi, dan kami janji tak akan menginjakkan kaki ke rumah ini lagi. Semoga papa, mama dan kak Bobby selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan, kami pamit.”


Ferdinan menoleh ke arah istrinya yang sudah berdiri dengan wajah memerah.


“Ayo sayang, kita pergi dari sini.” Ajaknya seraya mengulurkan tangannya pada Vanessa.

__ADS_1


Vanessa mengangguk, lalu menerima uluran tangan suaminya. Sedetik kemudian mereka pergi dari rumah itu.


•END•


__ADS_2