
“tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Bahkan sekarang kau sudah memiliki suami yang baik, dan sebentar lagi akan menjadi ibu.” ucapnya dengan suara pelan, kedua matanya nampak merah dan berkaca-kaca.
Lalu wanita itu bisu sejenak, wajahnya yang tadinya haru mendadak datar. Kedua matanya pun bergerak gelisah, begitu mengingat soal seseorang.
Drrttt..
Wanita itu terlonjak kaget saat mendengar suara getaran, ia merogoh kantong roknya untuk meraih ponsel jadulnya.
“halo..” ucapnya setelah panggilannya itu sudah tersambung.
[Halo nes, ini nenek telpon kamu pakai hp tetangga.]
“iya nek, ada apa?”
[Gak ada kok, nenek cuma mau bilang kapan kamu balik ke kontrakan lama buat ambil barang-barangmu?]
“ah, soal itu. Rencananya sih nanti malam aku akan kesana, sekalian aku juga mau balikin uang mas Adam. Kenapa memangnya?”
[Ya udah kalau gitu, lebih cepat lebih bagus. Gak apa-apa sih, hanya saja tadi saat nenek mau belanja sayuran di warung. Nenek gak sengaja ketemu wulan, dan bilang katanya dia dan ibu Ratmi lihat kamu di restoran tadi pagi.]
wanita yang disebut nes itu mengernyit, ia tak paham dengan ucapan orang diseberang telepon yang ia sebut nenek.
“restoran apa sih nek, aku gak ada pergi ke restoran. Cuma tadi sebelum berangkat jualan, aku sama hilya pergi kerumah sakit dulu.”
[Iyakah? Terus kenapa tadi wulan bilang kamu lagi ada disana, bersama dua pria bule. Dan katanya juga dandanan kamu beda banget, kelihatan lebih muda. Mereka bahkan ngiranya kamu jalani operasi plastik dan sudah nikah lagi.]
“mungkin mereka salah orang kali nek, aku gak pergi kesana. Apalagi sama dua cowok bule, ngapain coba?”
[Hem, Jangan-jangan..]
“jangan-jangan apa?”
[nenek kok tiba-tiba punya pikiran kalau wanita muda yang mereka lihat itu putrimu ya?]
DEG!
wanita itu mendadak bisu, tubuhnya pun seakan terpaku ditempat begitu mendengar kata terakhir sang nenek.
“i-itu tak mungkin nek.” elaknya, merasa belum percaya.
[Kenapa gak mungkin nak, bisa saja itu memanglah putrimu. Wulan dan Ratmi salah mengenali, mengira jika dia adalah kamu karena wajah kalian begitu mirip. Dan dari ucapan mereka tadi nenek menyimpulkan jika putrimu itu juga sudah menikah sekarang.]
Wanita itu diam sejenak, pikirannya saat ini sangat berkecamuk. Antara senang dan takut, tapi lebih dominan ke senang karena ternyata putri bungsunya tinggal di Jakarta dan sudah menikah. Sepertinya setelah ini dia akan mencari tahu tentang kabar itu, siapa sosok yang menjadi suaminya Alya. Apakah pria itu sehebat dan sebaik suaminya Selena? Jika iya, maka dia akan merasa tenang karena dengan begitu keselamatannya bisa terjaga.
“nanti aku akan cari dulu infonya nek, mana tahu mereka benaran salah lihat.”
[Ya sudah kalau gitu, nenek tunggu kabar baiknya. kau hati-hati ya jualannya, dan jangan lupa makan siang.]
“iya nek, makasih.”
Setelah itu sambungan telponnya dengan sang nenek pun terputus, wanita paruh baya yang tak lain adalah Vanessa itu kembali menyimpan ponselnya ke tempat semula.
Yah, Vanessa Ambarwati. Sosok wanita dewasa yang memiliki paras ayu khas orang Sunda, dulu profesinya adalah seorang chef terkenal dan seorang bos yang memiliki beberapa restoran. Berbanding terbalik dengan sekarang yang menjelma menjadi wanita biasa, dan berjualan bakso keliling.
Meski usianya sudah menginjak kepala empat, dan penampilannya yang kucel tak menghilangkan kecantikannya. Dia tetaplah Vanessa, wanita berusia 45 tahun yang harus bekerja keras demi membiayai hidupnya seorang diri.
Setelah insiden kecelakaan yang ia alami bersama sang suami 20 tahun silam, membuat kehidupannya yang penuh kebahagiaan hancur seketika. Dan dari kecelakaan itu pula yang membuatnya harus terpisah dari suaminya beberapa tahun, termasuk dengan kedua putrinya.
Sepanjang tahun ia selalu berdoa agar segera dipertemukan dengan suaminya, sekalipun sudah tak bernyawa ia ingin tahu makamnya. Dan Tuhan memberi jawaban atas doa-doanya itu lewat temannya yang bernama hilya, yang kala itu sedang dirawat dirumah sakit yang sama karena penyakit lambungnya kambuh.
Saat pertama kali melihat Ferdinan ada diruangan itu tentu saja Vanessa kaget, hatinya hancur saat tak sengaja mendengar percakapan dokter yang menanganinya.
Kala itu sang dokter menjelaskan pada orang yang menjaga Ferdinan jika kondisinya memburuk, ia mengalami koma karena ada benturan keras di kepalanya. Hingga sekarang kondisi suaminya itu belum ada perkembangan apa-apa, sepertinya pria yang 20 tahun lalu pernah mengucapkan janji setia didepan semua orang itu begitu enggan untuk membuka matanya.
Namun Vanessa percaya dengan berjalannya waktu dan doa yang khusyuk, suaminya akan kembali membuka matanya dan mereka akan kembali bersama. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan itu semua, karena para penjahat itu masih berkeliaran disekitarnya.
...💐💐💐...
Sementara itu di villa, Kevin nampak jalan mendekat ke ruang tengah. Tadi niatnya ingin membawa Alya istirahat ke kamarnya, sebelum makan siang nanti. Tapi begitu sampai, tak ada sosok istrinya disana.
“dimana Alya?” tanya Kevin pada Tina dan Nana.
Kedua wanita beda usia itu secara serempak menoleh ke asal suara, ia melihat Kevin sudah berdiri menjulang di samping sofa yang mereka duduki.
“tadi dia bilang mau ke toilet, katanya perutnya sakit.” jawab Nana, seraya menuding ke satu arah.
Kevin yang mendengar itu langsung pergi, berjalan agak cepat menuju kamar mandi yang letaknya berada di samping dapur.
“alya!” panggilnya saat sudah dekat toilet yang pintunya tertutup rapat, namun tak ada sahutan.
Tok!.. Tok!.. Tok!..
Kedua jari Kevin mengetuk pintu tersebut, lalu menekan knopnya tapi terkunci.
“sayang, kamu didalam?”
“iya.” balas Alya dari dalam.
Kevin tak lagi berteriak, namun dia menunggu dengan sabar di depan pintu. Hingga beberapa menit setelahnya terdengar suara anak kunci, dan pintu pun terbuka.
“kamu gak apa-apa?” tanya Kevin dengan nada cemas, karena melihat wajah istrinya yang pucat.
Alya menggeleng. “gak apa-apa, hanya lemes aja.”
“nyeri lagi perutnya, hem?” tanya Kevin lagi, seraya tangannya mengusap lembut perut Alya.
Alya mengangguk samar.
__ADS_1
“mau aku belikan lagi jamunya?” tawar Kevin, namun Alya langsung menggeleng.
“gak usah, dibawa tiduran aja udah hilang kok.” ucapnya.
“ya udah kamu istirahat dulu ya, Jeremi udah siapkan kamar untuk kita.”
“tapi Vin aku juga lapar.” Lirih alya.
“nanti aku bawakan ke kamar.”
“gak apa-apa memang bawa makanan ke kamar? Gak dimarahin kak Jeremi?” tanya Alya, seraya menatap wajah suaminya dengan tatapan polos.
Kevin yang menyadari itu tersenyum tipis, sebelah tangannya mengusap kepala sang istri kemudian menggeleng. “gak apa-apa.”
Mereka pun pergi dari sana, melewati ruang tengah dan orang-orang yang ada disana, lalu naik ke tangga untuk mencari kamar yang sudah Jeremi tunjukkan. Tiba di lantai atas, langkah keduanya terhenti saat melihat Fani keluar dari sebuah kamar dengan keadaan muka bantal dan rambutnya yang acak-acakan.
“hai kak Fani..” sapa Alya, seraya tersenyum. Sedangkan Kevin hanya diam saja, menatap wanita itu dengan datar.
Fani yang belum sepenuhnya sadar itu nampak diam saja, kedua matanya berkedip-kedip bingung.
“sudah sayang biarkan saja dia, mending kita masuk kamar.” ucap Kevin, lalu menarik tubuh istrinya untuk kembali berjalan.
Alya tak bersuara, dia hanya menurut saja dengan perintah Kevin. Mereka pun pergi dari sana, meninggalkan Fani yang masih diambang kesadarannya akibat baru bangun tidur.
Beberapa detik setelah kepergian Kevin dan Alya, Fani sadar dan kaget. Secepat kilat ia menoleh ke arah dimana pasutri berada, namun ia tak berkata apapun. Hanya diam memperhatikan.
“kamu sudah bangun?”
Fani kembali menoleh, dan melihat Jeremi tengah menapaki anak tangga bersama Dimas dan mingyu di belakangnya. kedua pria itu sudah kembali rupanya.
Fani hanya mengangguk.
“ya sudah sana bebersih dulu, nanti turun ya ke dapur buat makan siang.” titah Jeremi dengan suara lembut, seraya mengusap puncak kepala Fani.
Namun Fani tak langsung mengiyakan, ia menatap penuh wajah kekasihnya itu.
“tadi.. itu benaran Alya dan Kevin? Mereka beneran datang?” Tanyanya.
“iya. Kenapa memangnya? Apa Kevin marah-marah sama kamu?”
Fani menggeleng. “enggak, cuma tadi aku kira cuma mimpi aja.”
Jeremi tertawa pelan, mingyu dan dimas nampak menahan senyum.
“mereka beneran datang kok, udah dari pagi malah.” ujar Jeremi.
“makanya fan kerjaannya jangan tidur Mulu, jadinya gak tau kan kalau ada tamu agung datang.” celetuk mingyu.
Fani yang mendengar itu tersenyum kikuk, wajahnya merona malu. “aku mau ke kamar dulu.” pamitnya, kemudian langsung pergi dari sana dengan langkah cepat.
“cewek Lo lucu, boleh gak gue tikung?” ujar mingyu, seraya menyeringai.
PLAK!
seketika itu pula mingyu mendapat hantaman keras di kepala bagian belakangnya, dia mendesis seraya menoleh ke kebelakang dan melihat raut murka Dimas.
“yakh! Kenapa Lo mukul gue?” protesnya.
“kenapa.. kenapa. Harusnya gue yang harus nanya, kenapa Lo bisa bilang begitu. Mau belajar jadi fuckboy Lo hah!” ujar Dimas galak, seraya berkacak pinggang.
Sementara itu Jeremi malah terlihat tersenyum, lalu menepuk bahu mingyu. Dan hal itu membuat si empu langsung menoleh.
“boleh aja Lo mau nikung, tapi sebelum itu Lo harus pilih dulu mau rumah sakit atau kuburan?” ucapnya, seraya mengepalkan sebelah tangannya ke udara. Siap melayang ke wajah tampan mingyu.
Glek!
Mingyu yang mendengar kata-kata Jeremi nampak menelan ludah, terlebih saat melihat tangan Jeremi yang ingin menonjoknya. Membuat nyalinya langsung menciut, padahal tadi dia hanya bercanda saja. Tapi sepertinya bagi dua sahabatnya di anggap serius, alhasil dia sekarang macam tikus yang baru saja jatuh ke got.
“hehehehe.. bercanda bro, damai ya.” ucap mingyu sambil cengengesan, seraya menunjukkan dua jarinya hingga berbentuk hurup v.
Setelah itu ia langsung menarik tubuh Dimas dan pergi dari sana, meninggalkan Jeremi yang diam membeku dengan wajah geramnya.
...💐💐💐...
Sedangkan di kamar lain, Kevin sedang duduk berjongkok di bawah. Jemari kekarnya nampak membuka sepasang tali sepatu kets milik Alya yang kini sudah duduk manis di ranjang. Sebenarnya tadi Alya menolak dan akan melakukannya sendiri, namun Kevin melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk saja.
“apa kita akan menginap disini?” tanya Alya, seraya jemari lentiknya memainkan rambut poni suaminya yang mulai memanjang.
“iya.” jawab Kevin singkat tanpa menatap si lawan bicara, ia masih fokus membuka kaitan tali sepatu sang istri.
“tapi kita gak bawa baju ganti Vin.”
“aku sudah menyuruh anak buah yang ada di villa untuk mengirimnya kesini, mungkin nanti sore sampai.”
“termasuk barang-barang pribadiku?”
“hem.”
“terus kapan kita balik ke Jakartanya?”
Kevin tak langsung menjawab, ia bangun dari posisinya lalu mengangkat kedua kaki Alya yang sudah polos ke ranjang dan menutupinya dengan selimut tebal. Lalu tangannya meraih remot, menyalakan AC dengan suhu sedang. Kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Alya.
“minggu malam, atau subuh. Entahlah, nanti saja kita bahasnya. Sekarang kamu diam saja disini, aku mau keluar ambil makanan.”
“sekalian ambil tasku yang ada diruang tengah Vin, ketinggalan disana.”
Kevin mengangguk mengiyakan, sejenak ia mengecup puncak kepala Alya sebelum akhirnya berlalu pergi.
__ADS_1
Sepeninggalan Kevin, mata Alya liar menatap seluruh sudut kamar yang bernuansa putih itu. Terlihat luas dan rapi, meski tak seluas seperti villa miliknya. Jelas saja, karena villa milik Jeremi bernuansa klasik dan bentukan bangunannya pun kecil, mirip seperti rumah panggung yang ada di jaman dulu.
Beda halnya dengan villa milik Kevin yang luas dan mewah, mungkin bisa dikatakan itu seperti rumah pribadi. Villa milik Kevin tak memiliki tembok, semuanya terbuat dari kaca. Bahkan gagang pembatas tangganya pun terbuat dari kaca, namun untungnya tanjakkannya terbuat dari keramik.
Lalu pandangan Alya berhenti ke jendela besar yang ada dikamar itu, meski ada kain tipis yang menghalangi, namun Alya masih bisa melihat pemandangan di luar yang menampilkan suasana alam.
Ia melihat sedikit bayangan puncak gunung yang menjulang, namun sebagiannya tertutupi awan. Dibawahnya ada hutan rimba, dan tak jauh dari sana ia melihat beberapa atap rumah. Sepertinya itu pemukiman warga yang tinggal di pinggiran gunung.
Daerah Puncak yang kini Alya dan Kevin sambangi memang berada di perkampungan, dan jaraknya pun lumayan jauh dari kota. Jadi tak heran jika mereka datangnya telat, selain jauh mereka juga sempat terjebak macet panjang di jalan.
Tadinya Kevin ingin membatalkannya, dan memilih untuk pergi ke Bandung saja. Namun Alya yang menolak itu, dia bersikukuh ingin pergi ke puncak. Alhasil Kevin hanya bisa pasrah, menuruti semua keinginan istri tercintanya.
Tak berselang lama Kevin kembali masuk ke dalam kamar, sambil membawa nampan berisi piring yang sudah penuh oleh nasi beserta lauk-pauknya dan segelas air putih. Dibagian bahu sebelah kirinya ada tas selempang milik Alya, ia meletakkan di kursi yang ada disana lalu jalan mendekat ke ranjang.
“kebiasaan kamu mah kalau disuruh ambil makanan, selalu banyak.” protes Alya, seraya memasang wajah cemberut.
Kevin yang mendengar itu terkekeh, ia mencubit gemas hidung Alya kemudian duduk di depannya.
“biar cepat gemuk!” ucapnya kemudian.
Alya mencebikkan bibirnya, selalu saja kata itu yang Kevin lontarkan setiap ia menolak untuk makan banyak. Kini ia mulai berpikir, apakah tubuhnya sekurus itu sampai-sampai Kevin selalu menyuruhnya makan banyak. Padahal menurutnya tubuhnya sudah gemuk, dan kedua sahabatnya pun mengatakan kalau bentuk tubuhnya sangat berubah sejak awal dia pulang dari Korea.
“kalau aku gemuk, nanti kamu gak bakal suka aku lagi.” gerutu Alya, namun sayangnya Kevin masih bisa mendengarnya.
“bahkan sampai wajahmu keriput, dan gigimu ompong pun Aku akan tetap cinta! Karena apa? Karena perasaanku sama kamu itu tulus, gak memandang fisik ataupun materi.” ucap Kevin.
Alya terdiam sesaat, ia menatap haru wajah Kevin. Merasa tak percaya jika di jaman sekarang masih ada pria yang mencintai dan menerima pasangannya apa adanya, padahal jika Kevin mau bisa saja dia mencari wanita yang lebih baik darinya. Itu semua terbukti setelah perpisahan mereka dulu, Alya belum sekalipun mendengar kabar jika Kevin memiliki wanita lain selain kabar perjodohannya dengan Mayra. Juga kedua sahabatnya pernah cerita, jika Kevin selalu mengacuhkan semua wanita yang ingin mendekatinya.
Laki-laki tampan dan kaya yang kini statusnya sebagai suaminya itu memanglah bukan laki-laki sembarangan, keteguhan hatinya patut di acungi jempol karena mampu menolak pesona semua wanita cantik yang mendekatinya. Dan Alya sangat beruntung bisa dicintai begitu dalam oleh pria itu, begitu pun dengan dirinya yang juga sangat mencintai suaminya itu.
“udah pintar gombal ya sekarang, belajar dari siapa sih, hem?” ujarnya, seraya tangannya mengunyel gemas kedua pipi suaminya.
“itu bukan gombal sayang, tapi pernyataan dan kamu harus percaya itu!” balas Kevin.
Alya tak langsung menjawab, kedua tangannya kini melingkar di leher Kevin dan mendekatkan wajahnya. mengikis jarak antar keduanya, sehingga Alya bisa merasakan aroma khas suaminya yang sudah menjadi candunya.
“kalau aku gak percaya gimana?” bisiknya.
Kevin tersenyum smirk, lalu semakin mendekatkan wajahnya hingga keningnya menempel dengan kening alya.
“aku akan buktikan jika ucapanku tadi itu serius, yaitu dengan menghadirkan calon anak-anak kita nanti. Aku akan mengikatmu dengan erat sampai maut memisahkan!” balas Kevin dengan nada yang sama.
Alya yang mendengar itu nampak menahan senyum, padahal tanpa harus Kevin berkata seperti itu pun dia sudah sangat percaya dan akan memberikan keturunan yang banyak untuk pria tampan yang ada didepannya itu.
Cup!
Alya mendaratkan ciuman hangat di bibir Kevin, agak lama sebelum akhirnya terlepas dan tersenyum manis.
“iya aku percaya kok sama semua ucapanmu, termasuk juga soal perasaanmu. Sebelum ini kita sudah berjanji akan terus bersama-sama, dan melawan semua orang yang mau memisahkan kita.” ucapnya, kemudian memundurkan diri.
“Ya sudah sini makanannya, aku udah lapar.”
Kedua tangan Alya sudah siap terulur untuk mengambil nampan yang ada dipangkuan Kevin, namun suaminya itu malah menariknya.
“biar aku suapi.” ucapnya, kemudian meletakkan nampan tersebut ke meja nakas dan mengambil piring yang sudah penuh oleh makanan.
“aku bisa sendiri vin.” tolak Alya.
Kevin menggeleng. “gak Nerima penolakan!” tegasnya, seraya jemarinya mulai menyentuh sendok.
Alya mendengus sebal, namun setelahnya ia malah tersenyum. Ia membuka mulutnya saat Kevin menyodorkan sendok yang berisi nasi dan ada potongan sayuran diatasnya, hingga akhirnya lenyap dalam mulutnya.
“setelah ini kamu juga harus makan vin.” ucap Alya yang terdengar tak jelas, karena mulutnya penuh.
Kevin merespon ucapan istrinya dengan deheman pelan.
“yang banyak!”
“iya sayang.”
...💐💐💐...
di negara ginseng, lebih tepatnya di sebuah pusat perbelanjaan, Selena dan Hani nampak sibuk memilih beberapa baju. Kedua wanita cantik yang usianya lumayan jauh itu terlihat begitu akrab, sehingga mengabaikan sosok pria tampan yang tengah menggendong bayi di belakangnya.
Ardian sudah tidak heran lagi dengan keakraban keduanya, sebelumnya mereka juga sudah akrab. Hanya saja selama itu mereka bisa berinteraksi hanya saat di kantor agensi, atau saat berada di suatu acara.
Hani yang memiliki watak humble dan tegas, dipertemukan oleh Selena yang memiliki sifat ramah membuat keduanya cepat akrab. Ditambah sekarang status keduanya sudah menjadi ipar, jadi tak heran jika kini menjadi bestie.
Sudah hampir seharian mereka berbelanja, dan hasilnya sudah sangat banyak. Hanya saja tadi Ardian sudah membawanya ke dalam mobil, karena rasanya tak sanggup membawa beban banyak belanjaan. Ditambah ia juga harus menggendong azura, karena ia tak mau putrinya digendong Hani disaat ibunya sedang berburu belanjaan.
Bukan apa-apa, tapi Ardian hanya khawatir putrinya kenapa-kenapa. Karena meskipun Hani sudah menjadi seorang ibu, tapi sifat bar-bar dan sembrononya itu tak bisa hilang.
Setelah cukup memilih beberapa baju, Selena dan Hani berjalan ke arah kasir untuk membayar secara bergantian. Untungnya butik yang mereka datangi tak terlalu ramai, sehingga tak perlu mengantri ramai.
Namun tanpa mereka sadari beberapa orang yang ada disana nampak mencuri pandang sambil berbisik-bisik, lalu menggerakkan tangannya untuk menggenggam ponselnya untuk sekedar ambil foto atau merekam video singkat. Mereka yang tak lain fans dari Selena sendiri merasa senang karena bisa bertemu langsung dengan sang idola, namun mereka tak ada yang berani menghampiri atau sekedar menyapa karena menjunjung tinggi privasi.
Dari sekian fans yang ada disana, ada sosok wanita cantik berpenampilan anggun dan memakai outfit dari merek terkenal. Ia berdiri mematung di ambang pintu, seraya menampilkan senyuman sinis.
Tak lama setelahnya ia jalan mendekat, seraya melipat kedua tangannya di dada.
“aku tak menyangka jika ditoko ini akan kedatangan mantan artis terkenal yang dulu pernah dapat skandal buruk, dan kini sedang ikut mengantri di depan kasir.”
Selena, Hani dan Ardian yang mendengar suara itu segera menoleh. Wajah ketiganya nampak kaget saat melihat seseorang yang mereka kenal, sudah berdiri dibelakang dengan wajah antagonisnya.
“Selena kharisma Putri? Apa kabar?” tanyanya kemudian.
“renata..” lirih Selena tanpa sadar.
__ADS_1