TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 28~Kecupan Pertama


__ADS_3

Malam pun datang, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam. Saat ini Kevin dan Alya sudah berada di ruang makan, mereka sedang menikmati makan malam. Hanya berdua!


Setelah pembicaraannya dengan Kevin selesai Dimas, Arina dan Rangga langsung pamit pulang, awalnya Arina sempat mau menginap tapi dilarang keras oleh Rangga dengan alasan...


‘jangan mengganggu malam pertamanya pengantin baru.’


Tak ada respon banyak dari sang pengantin baru tentang kata itu, mereka hanya diam dan saling melirik.


Dua jam setelah kepergian para sahabat kini pihak keluarga yang ikutan berpamitan pulang karena para orang tua mereka sudah menunggu dirumah, sebelum pergi Dylan sempat berpesan agar Kevin segera pulang dan mengenalkan Alya sebagai istrinya ke hadapan orang tuanya dan pria itu mengiyakan.


Kini tersisa mereka berdua di villa itu, dan tentunya di temani para pelayan dan pengawal.


Beberapa menit kemudian makan malam pun usai, Kevin langsung beranjak dari kursinya dan melangkah menuju lantai atas. Sementara Alya masih di dapur, membantu para pelayan membereskan meja makan dan dapur.


Sebenarnya para pelayan sudah melarangnya, mereka khawatir tuannya akan marah jika melihat istrinya mengerjakan pekerjaan mereka. namun Alya berkata tidak apa-apa dan dia juga mengatakan akan bertanggung jawab jika nanti Kevin marah.


Mendengar hal itu para pelayan tersebut hanya bisa pasrah dan secara diam-diam mereka tersenyum senang karena mendapatkan nona muda yang baik dan sopan, berbeda sekali dengan sifat Mayra yang terlihat angkuh dan suka menyuruh.


Setelah usai Alya keluar dari area dapur, dia melangkah menuju kamarnya yang jaraknya tak jauh dari tangga. namun saat sudah masuk kamar, ia terkejut melihat Kevin sudah ada di kamarnya. Pria itu duduk di sofa yang ada di kamar tersebut sambil bersedekap dada, tatapan matanya menatap Alya dengan tajam.


“Loh Vin kamu disini? Bukannya tadi kamu udah naik ke atas ya?” Tanya Alya, dia masih berdiri di ambang pintu.


“Darimana aja kamu, kenapa lama sekali?” cetus Kevin balik nanya, raut wajahnya terlihat kesal mungkin karena lelah menunggu.


Memang benar setelah makan malam usai dia langsung naik ke lantai atas dan masuk kamarnya namun tak lama setelah itu dia kembali keluar, kemudian berjalan menuju kamar tamu yang Alya tempati.


Dia pikir gadis itu ada disana tapi ternyata kamar itu kosong, karena malas untuk kembali keluar akhirnya dia memutuskan untuk menunggu.


“Tadi aku habis bantuin pelayan beresin dapur.” jawab Alya.


“urusan dapur dan seluruh villa ini sudah jadi pekerjaan mereka dan itu yang membuatku menggaji mereka! jika kamu ikut mengerjakannya untuk apa aku buang-buang uang membayar mereka. dan Apakah kamu sudah lupa dengan statusmu sekarang, hm?” Omel kevin panjang lebar.


“Aku gak lupa Vin.”


“Terus kenapa kamu tetap melakukannya?”


Alya menghela nafas. “Aku hanya sekedar membantu sedikit saja, apa itu tidak boleh?”


“Tidak boleh! Kamu cukup diam dan duduk manis layaknya seorang majikan! apa itu sulit bagimu?”


“Tapi--”


“Jangan banyak protes! cepat kemari, mau sampai kapan kamu berdiri disitu?” potongnya sambil melambaikan tangannya menyuruh gadis itu untuk mendekat.


Alya menurut, dengan langkah pincang dia jalan mendekat dan duduk disamping suaminya. Dia memutuskan untuk tidak bergantung lagi dengan kursi roda, ya.. walaupun kakinya masih terasa nyeri. Tapi kalau terus menerus duduk di kursi roda, tak betah juga.


Dan respon Kevin, tentu saja pria itu melarangnya. Dan karena masalah itu pula mereka sempat bertengkar, namun pertengkaran itu di menangkan oleh Alya setelah arina dan Selena yang ikut membela gadis itu.


Jadi Kevin yang satu-satunya laki-laki melawan tiga wanita memilih mengalah saja, toh yang merasakan sakit juga badan istrinya sendiri. Setidaknya dia sudah mengingatkan, selebihnya biar Alya yang menanggung.


“Ada apa?” Tanya Alya dengan nada jutek dan wajahnya pun cemberut.


Kevin tak langsung menjawab, dia mencondongkan wajahnya sambil sebelah tangannya mengangkat dagu gadis itu dengan dua jari.


“Kalau bicara sama suami itu yang benar! Dan kenapa wajahmu jelek begitu?”


Lagi-lagi Alya menghela nafas, namun kali ini terdengar panjang. dia menyingkirkan tangan Kevin, kemudian dia tersenyum lebar.


“Gak usah senyum begitu, wajahmu tetap jelek!”


“CK! Aku Cemberut salah, senyum juga salah! Terus kamu maunya aku harus gimana?” Seru Alya.


“Wah.. Sekarang kamu sudah berani bicara dengan nada tinggi ya? Udah berani, hm?”


“B-bukan begitu maksudnya, tapi--”


“Dahlah lupakan!” Kevin memundurkan wajahnya. “Besok kita akan pulang ke Jakarta, dan temui keluargaku.” ucapnya kemudian.


Alya terpaku sejenak, matanya menatap penuh wajah kevin. “A-apa kamu mau mengenalkanku ke mereka?”


“Tentu saja! Kita ini sudah menikah dan mereka perlu tahu.” balas Kevin. “Dan terimalah ini.” Sambungnya sambil memberikan dua kartu warna gold dan hitam.


wajah Alya nampak cengo, perlahan ia meraih dua benda berbentuk tipis itu. “Vin, ini..”


“sekarang kan kamu sudah menjadi istriku, apapun yang menyangkut tentangmu sudah menjadi tanggung jawabku! Mengerti?” ucap kevin lembut, namun terkesan tegas.


Pria itu seakan sudah tahu jika istrinya akan menolak pemberiannya.


“Iya aku, tahu tapi satu aja cukup kok.” Alya ingin menyerahkan kartu warna hitam, tapi Kevin menolaknya.


“Udah kamu terima aja, simpan dan pergunakan kartu itu dengan baik! Kata sandinya pakai ulang tahun kamu.” ucapnya, dan hal itu membuat Alya kaget.


Drrtt..


Bersamaan dengan itu ponsel Kevin yang berada di kantong celananya berdering, pria itu merogohnya dan menatap layarnya, tertera ada nama mingyu disana.


“Ada apa?” Ucapnya saat panggilan itu sudah tersambung, dia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah jendela.


Cukup lama Kevin mengobrol dengan mingyu lewat telepon, Alya yang masih duduk di tempatnya hanya diam sambil menatap punggung lebar pria itu.


sampai saat ini dia masih belum menyangka jika dirinya sudah menikah dengan kevin, pria yang dulu dia sakiti dan berakhir kini membencinya.


“Oke, gue kesana sekarang.”


Setelah mengucapkan kata itu Kevin langsung memutuskan sambungan teleponnya kemudian berbalik badan dan berjalan mendekati Alya.


“aku harus pergi sekarang, dan mungkin aku akan pulang larut malam. Kamu istirahat aja, besok kita akan berangkat pagi-pagi.” Ucap Kevin.


Mendengar itu sontak membuat Alya langsung berdiri. “Kamu mau pergi Kemana?”


“Ke rumah teman.”


Kevin sudah siap untuk melangkah, tapi tertahan karena Alya menarik tangannya.

__ADS_1


“Aku ikut kamu aja ya, aku takut disini sendirian.” Ucap Alya lirih dan tanpa sadar dia melingkarkan kedua tangannya di lengan Kevin.


kevin menghela nafas, kemudian menurunkan tangan gadis itu yang di akhiri dengan menggenggamnya.


“Gak bisa Al, temanku semuanya laki-laki. Lagipula Kamu gak Akan sendirian, disini ada banyak pelayan dan bodyguard yang akan menjaga kamu. Udah ya aku harus pergi dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku atau panggil pelayan lain.”


“Tapi aku--”


GREP!


DEG!


Ucapan Alya terhenti, detak jantungnya hampir jatuh ke dasar perut saat kevin menangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang besar itu dan sedikit mencondongkan wajahnya.


“Dengarkan aku baik-baik! disini tak akan ada yang bisa jahatin kamu, ada banyak pengawal di luar yang akan menjagamu. jadi buang jauh-jauh pikiran burukmu itu, okey?” Ucap Kevin dengan suara pelan, kedua matanya menatap istrinya dengan lembut dan itu membuat si empu terhipnotis.


“Tapi kamu bakal pulang cepat kan?”


“Aku akan usahakan.”


Cup!


Tubuh Alya mematung saat Kevin mengecup keningnya, dan tak lupa usapan lembut di kedua pipinya. Setelah itu pria yang kini menjadi suaminya itu berlalu pergi keluar dari kamarnya.


Alya meraba Keningnya yang tadi Kevin cium, wajahnya merona dan bibirnya melengkung ke atas. Meskipun itu bukan kecupan pertama bagi mereka, tapi ini adalah kecupan pertama setelah menyandang sebagai suami istri, dan Alya merasakan ini lebih mendebarkan dibandingkan saat pertama kali mereka berciuman.


Setelah keluar dari kamar Alya, kevin berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas dengan langkah tergesa-gesa.


Selang beberapa menit Kevin kembali keluar dengan pakaian berbeda, menuruni anak tangga dan berjalan ke teras depan.


Kenzo yang pada saat itu sedang mengobrol dengan beberapa pengawal di pos satpam tak sengaja melihat Kevin jalan tergesa-gesa menuju mobilnya, dengan cepat dia pun berlari menghampirinya.


“Mau kemana tuan?” Tanya kenzo


Kevin menoleh. “Gue mau ke rumah sakit, Jakson sudah sadar!” Jawabnya.


“Biar saya antar tuan.”


“Tidak, Lo tetap disini Ken!” Titah kevin saat melihat Kenzo ingin masuk mobilnya.


“T-tapi bagaimana denganmu tuan? Saya tak mungkin membiarkan Anda pergi sendiri.” Ucap Kenzo khawatir.


“Gue bukan anak kecil lagi Ken, gue bisa sendiri, lagipula gue perginya cuma sebentar!” Ucap Kevin kemudian dia bergegas masuk mobil.


Kenzo ingin kembali berbicara namun tertahan begitu melihat tatapan dingin Kevin dan akhirnya dia hanya bisa menghela nafas pasrah.


“Baiklah tuan saya akan tetap disini tapi saya minta tolong anda jangan mengebut karena cuacanya sedang gerimis.”


“Hmm.. Lo tenang aja, gue gak akan mati cuma karena air hujan!” Ucap Kevin yang menyepelekan kekhawatiran Kenzo.


Mendengar ucapan sang tuan muda, Kenzo menghela nafas panjang. Sudah biasa baginya menghadapi sifat cueknya seorang Kevin.


Sebelah tangan Kevin ingin menutup pintu mobil namun tertahan, dia kembali menatap Kenzo dan berkata.


Jeda sejenak.


“Lo udah tau kan apa saja yang harus di persiapkan?”


Kenzo mengangguk paham. “Iya, tuan.”


“Oke, gue pergi dulu.”


“Hati-hati tuan.”


“HM..”


Kevin mulai menyalakan mesin dan sedetik kemudian mobil mewah miliknya mulai meninggalkan pekarangan villa.


Suasana jalanan malam itu terlihat lembab karena yang tadinya hanya gerimis kini berganti hujan yang cukup lebat, ditemani dengan kilatan petir yang terus menyambar.


Namun itu tak membuat seorang Kevin dirgantara yang sering mengikuti balapan mobil liar merasa takut, dia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia mengabaikan pesan Kenzo untuk tidak mengebut.


30 menit pun berlalu, kini mobil Kevin mulai memasuki lapangan parkir sebuah gedung rumah sakit ternama yang ada di kota Bandung.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan aman Kevin bergegas keluar dan berlari kecil masuk rumah sakit, dia menghampiri bagian informasi dan menyebutkan nama pasien.


Seorang suster berhijab yang bertugas disana pun terlihat menjawab sambil menunjukkan ke arah ruangan yang di maksud kevin dengan tangannya, Kevin pun mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia kembali berlari kecil menuju lift dan menekan tombol.


TING!


Begitu pintu lift terbuka Kevin langsung masuk dan kembali menekan tombol angka lantai yang dituju.


Selang beberapa menit kemudian pintu lift kembali terbuka dan kini Kevin sudah berada di lantai dimana orang yang ingin dia kunjungi. Dia menelusuri lorong itu dengan langkah cepat sambil matanya melirik kanan kiri, mencari ruangan yang di maksud.


Setelah ruangannya sudah ditemukan, dengan segera Kevin masuk keruangan tersebut.


Ternyata Disana juga ada mingyu yang sudah datang duluan, dia yang kala itu duduk di kursi dekat ranjang pasien seketika menoleh dan langsung berdiri.


“bagaimana keadaan Lo?” tanya kevin pada seorang pria yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit, wajahnya terlihat pucat dan tatapan matanya sayu. hampir diseluruh tubuhnya di penuhi dengan alat medis dan di bagian kepalanya terbungkus rapat oleh perban .


pria itu mengangguk kecil sambil memejamkan matanya sejenak. “gue baik-baik aja, hanya badan gue jadi kaku.” Ucapnya lirih sambil tertawa kecil.


“itu karena Lo baru aja bangun dari koma, secara Lo kan koma berbulan-bulan wajar kalau kaku tapi kalau sering berlatih lambat laun juga pasti akan kembali semula.”


kali ini mingyu yang berbicara, pria itu kembali duduk di kursi. sementara kevin berdiri di sampingnya.


“baguslah kalau Lo baik-baik aja, gue senang akhirnya Lo bisa sadar.” ucap kevin, dia tersenyum tipis.


mingyu yang mendengarnya juga mengangguk setuju.


saat ini kevin dan mingyu sedang berada diruang vvip, mereka sedang menjenguk teman satu komunitas balapan yang bernama jakson.


waktu mingyu menelponnya ternyata dia mengabarkan tentang keadaan Jakson yang sudah sadar dari komanya. Mendengar hal itu Kevin sangat senang dan tanpa berpikir panjang lagi dia langsung pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


tadi mingyu sempat kaget, dia tidak tahu jika Kevin akan datang secepat itu. dia memang menelponnya tapi niatnya hanya untuk sekedar memberi tahu soal keadaan jakson, dia pikir saat Kevin mengatakan akan datang kesana dalam artian besok, nyatanya pria itu benar-benar datang malam itu juga.


Dalam pikiran mingyu saat ini Kevin pasti langsung berangkat dari Jakarta ke Bandung. Dia akan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh sehingga bisa sampai secepat itu, padahal kenyataannya pria itu memang sedang ada di kota tersebut.


“oh iya dimana seli, gue kok baru nyadar dia gak ada disini?” tanya mingyu sambil celingukan.


biasanya selain keluarganya, setiap dia menjenguk Jakson pasti selalu ada seli di sampingnya.


“gue suruh dia pulang buat istirahat, kasihan dia kelihatan lelah gitu.” saut jakson.


Mingyu yang mendengar itu hanya manggut-manggut mengerti.


sementara kevin diam mematung, keningnya berkerut dalam seperti sedang berpikir.


“eh vin, Lo kenapa diam aja?” tanya mingyu sambil mendongak menatap kevin yang dari tadi terdiam.


“enggak, gue lagi mikir aja soal nama cewek yang Lo sebut tadi.”


“kenapa emang?”


“gue kayak gak asing dengan nama itu tapi lupa siapa.”


“astaga, jadi Lo udah lupa siapa seli?”


“emang dia siapa?”


“ya ampun vin, seli itu pacarnya jakson! Masa Lo lupa sih?”


kevin diam sejenak sambil melirik Jakson yang kala itu juga sedang menatapnya.


“Lo beneran Lupa sama cewek gue vin?” tanya jakson dengan suara lirihnya.


“sedikit.” ucap kevin sambil garuk kepala.


mingyu yang melihat itu geleng-geleng kepala kemudian dia tersenyum licik.


“maklumin ajalah bro calon pengantin, di dalam otaknya pasti hanya ada nama calon istrinya.” ucapnya sambil terkekeh.


Kevin yang mendengar itu melirik sinis ke wajah mingyu, kemudian...


BUG!


Kevin memukul kepala mingyu cukup keras dengan tangannya membuat pria itu meringis kesakitan.


“Ya ampun Vin, tangan Lo terbuat dari apa sih? Kuat bener!” Seru mingyu sambil mengusap kepalanya.


Kevin yang mendengar itu memutar bola matanya malas. “Gak usah lebay, gue cuma mukulnya pelan kok!”


“Pelan pala Lo! Gue tau Lo mukulnya dengan sekuat tenaga, lihat Tuh urat-urat tangan Lo aja sampai kelihatan gitu!! Sakit tau gak! Kalau gue geger otak bagaimana? Memangnya Lo mau ganti rugi?”


“gampang, gue tinggal ganti dengan otak anjing biar pinteran dikit!” Ucap Kevin santai namun itu membuat mingyu meradang.


“Ya!” Teriak mingyu tak terima.


“Kenapa? Atau mau gue ganti pake otak ayam?”


“KEVIN!”


Jakson yang melihat dua temannya sedang beradu mulut bukannya melerai malah dia tertawa geli.


“Gak usah teriak-teriak bego, ini rumah sakit!” Bisik Kevin dan lagi-lagi tangannya kembali memukul bahu mingyu namun kali ini tidak keras.


“Bodo amat! Lagian ruangan ini kedap suara, gak ada yang bakal denger!” Raung mingyu, wajahnya terlihat merona karena emosi.


“Tapi disini ada Jakson, dia juga pasien disini. Lo lupa?”


Mendengar itu sontak raut wajah mingyu kian berubah, dan hal itu membuat Jakson tak bisa lagi menahan tawanya. Kevin juga ikutan tertawa, meskipun kecil.


“Eh, iya juga ya. Tapi gue tetap gak terima Lo mau gantiin otak gue sama ayam dan anjing!”


“abis Cocok sih sama Lo.” Saut Kevin sambil terkekeh.


“YAKH!”


“Itu hukuman buat Lo karena udah ngomong sembarangan!” Cetus Kevin.


“Emang ada yang salah sama omongan gue, gak kan?”


Kevin berdecak kesal mendengar ucapan Mingyu, dia ingin kembali memukulnya namun tertahan saat pria itu sudah mengangkat kedua tangannya.


“Iya-iya Vin sorry, udah jangan pukul gue lagi! Lagian gue becanda aja tadi! Buset deh Lo galak amat sih! Lagi pms ya?”


“Banyak bacot Lo, sekali lagi gue denger Lo bahas itu, gak segan-segan gue bakal cabut semua investasi yang ada di perusahaan Lo!” Ancam Kevin sambil melotot.


GLEK!


Mendengar ancaman Kevin yang terdengar tak main-main membuat Mingyu menelan ludah susah payah, dia tahu betul apapun yang sudah keluar dari mulutnya maka itu yang akan terjadi.


Mingyu tahu dari dulu kevin sangat membenci Mayra. Jangankan orangnya, menyebut namanya saja pria itu sudah mengamuk seperti saat ini. Dia tak habis pikir kenapa Kevin bisa sebenci itu pada Mayra.


“iya iya!”


Diam sejenak.


“Emm.. By the way Lo disini sama siapa?”


“Percuma aja punya wajah kayak idol K-Pop tapi otak kayak Dora! Udah jelas-jelas gue lagi sama kalian sekarang, masih aja nanya!” Ucap Kevin sedikit sewot.


“ck! bukan itu maksud gue bahlul! lusa kan Lo mau nikah tapi kenapa sekarang Lo ada di bandung?” Tanya mingyu.


“iya vin, harusnya sekarang kan Lo di rumah jalani pingitan.” Saut Jakson menimpali.


mendengar pertanyaan dari kedua temannya membuat kevin mati kutu, dia bingung harus jawab apa. Mau bilang kalau sekarang dia sudah menikah tapi rasanya tak mungkin secara pernikahannya dengan alya masih dirahasiakan.

__ADS_1


‘ngapain gue harus dipinhit segala, kalau gue sendiri udah nikah!’


__ADS_2