TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 74~Dendam?


__ADS_3

“sebenarnya ada apa sih Al, kok Hari ini Lo kelihatan kesal gitu?” tanya Arina.


Jessica yang mendengar pertanyaan arina pun mengangguk, ia heran saja dengan Alya yang selama ini selalu bersikap kalem, tapi sekarang malah judes.


“iya Al, terlebih tadi sikap Lo ke Andreas. tapi kalau boleh jujur gue jauh lebih seneng Lo yang kayak gini. Tegas!” sahutnya menimpali. “tadi juga beberapa mahasiswa lain lihat Lo, dan mereka kayak kaget gitu.” lanjutnya.


Alya yang kala itu sedang menunduk seraya tangannya mengaduk-aduk mie bakso langsung mendongak, menatap kedua sahabatnya bergantian kemudian menghela nafas. Saat ini mereka sudah berada di kantin, duduk di kursi paling belakang. Di meja panjang itu sudah ada 3 mangkok berisi bakso, dan 3 gelas minuman beda rasa dan varian.


“gue lagi badmood!” jawabnya ketus.


“kenapa?” tanya arina lagi.


“apa ini ada hubungannya sama Andreas?” tebak Jessica.


“atau.. soal masalah gue yang kemarin maksa Lo antar gue ke mall?” arina ikutan menebak.


“semuanya benar!”


jawaban Alya membuat kedua sahabatnya semakin penasaran, mereka penasaran apa yang sudah terjadi.


“kevin marah sama Lo?” tanya Arina.


Alya mengangguk mengiyakan.


“tuh kan gue bilang juga apa, Kevin pasti marah. Lo sih pake segala ngajak dia ke mall!” omel Jessica ke Arina.


“ck, iya iya gue salah! sorry Al, gara-gara gue Lo jadi di marahin sama Kevin.” ucap arina dengan penuh sesal.


Alya mengangguk seraya tersenyum. “gak apa-apa, lagian udah biasa kok dia marah-marah begitu. Kalian pasti udah tahu kan sifat kevin kayak apa?”


“tetap aja gue ngerasa gak enak.”


“udah gak apa-apa, santai saja.”


“tapi Lo gak di apa-apain sama Kevin kan Al? Dia gak nyakitin Lo kan?” tanya Jessica cemas.


Alya diam, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. bingung, apakah ia harus menceritakan semuanya yang telah terjadi kemarin pada kedua sahabatnya?


“kenapa Lo diam aja?”


“emm.. sebenarnya kemarin gue sama Kevin sempat ribut karena pulang telat, di tambah dia tahu dengan tingkah Andreas yang selalu ngikutin gue di kampus. Tapi kalian tenang saja, dia gak nyakitin gue kok.”


“Lo serius Kevin gak nyakitin Lo? Secara yang kita tahu Kevin itu orangnya trempamen, dia ringan tangan!” seru Jessica.


Alya menggeleng. “enggak. Dia gak nyakitin gue sama sekali, cuma marah-marah doang.”


“kalau dia gak nyakitin Lo, terus kenapa leher Lo merah-merah begitu?” tanya Arina, matanya gagal fokus ke leher Alya yang banyak tanda merah.


DEG!


Alya yang mendengar itu seketika matanya melotot dan tubuhnya menegang, reflek tangannya menutupi lehernya dengan rambutnya yang terurai.


“b-bukan apa-apa kok! I-ini gue lagi alergi aja! Yah, alergi!” ucapnya gugup.


Meski ucapannya barusan tak sepenuhnya bohong, Alya memang memiliki alergi dan kedua sahabatnya tentu tahu itu. Namun itu tak membuat mereka percaya begitu saja, terlebih arina yang tahu betul bagaimana tanda-tanda merah saat Alya alergi.


“Lo jangan bohong Al, udah jelas-jelas itu bukanlah tanda merah akibat alergi tapi karena ulah orang lain. Iya kan?”


“orang lain? Maksudnya?” tanya Jessica tak paham.


“coba singkirin dulu rambut Lo?” pinta arina, namun langsung di tolak oleh Alya.


“singkirin gak?”


Alya menggeleng, arina yang melihat itu berdecak kesal. Lalu ia bangun dari duduknya, dan beralih ke kursi Alya kemudian menyibak rambut panjangnya.


“nah Jes, coba Lo lihat masa iya alergi merahnya begini, mana gede-gede lagi!” cerocos arina setelah melihat dengan jelas tanda merah di leher Alya.


Sedangkan Jessica yang melihatnya tercengang, ia juga paham tanda merah itu bukanlah karena alergi, melainkan bekas ******. Seketika otak mesumnya mulai bekerja, bayang-bayang erotis itu muncul di pelupuk matanya.


“apa Kevin pelakunya?” tebak arina sambil menyipitkan matanya.


Walaupun arina belum pernah pacaran, apalagi ciuman dengan lawan jenis tapi ia sering melihat film barat yang memang kebanyakan ada adegan dewasanya dan meninggalkan bekas, salah satunya seperti yang ia lihat di leher alya. Arina sangat yakin tanda merah yang ada di leher alya adalah kissmark, karena ada warna kebiruan disana.


Alya kembali diam.


“benarkan?”


“udah jujur aja Al, gak usah malu.” celetuk Jessica sambil mengerling genit.


Alya menghela nafas sebelum kembali bicara. “iya, kami memang sudah melakukannya.”


Sejenak hening, arina dan Jessica nampak kaget. Namun setelahnya mereka bersorak gembira, Alya yang melihat itu mengernyit heran.


Tak hanya Alya, bahkan semua orang yang ada disana juga menatapnya dengan mimik heran. Namun setelahnya mereka bersikap tak perduli dan kembali fokus dengan kegiatan masing-masing, ini bukan kali pertama mereka melihat arina dan Jessica selalu teriak heboh.


“jadi.. kalian udah begituan?” tanya arina dengan mata membola.


Jujur saat ini hatinya bahagia, akhirnya Kevin tahu jika Alya masih suci dan keinginannya untuk mempersatukan pasutri itu terjadi juga. dia sangat berharap setelah kejadian ini gumpalan lemak lucu itu segera hadir, agar hubungan mereka semakin kuat.


“wah.. udah jebol ternyata! Gimana rasanya, sakit gak? Kata temen-temen gue yang pada nikah rasanya sakit banget, emang bener ya?”


Alya yang mendengar pertanyaan Jessica langsung menundukkan pandangannya, wajahnya merona malu saat mengingat kejadian semalam.


“ck! Lo apa-apaan sih nanyanya begituan? Gak enak tau kalau anak lain denger!” cetus arina seraya menoyor kepala Jessica.


“gue hanya penasaran aja Rin, gimana rasanya?” sahutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


“gak usah kepo, nanti juga Lo bakal ngalamin setelah nikah!”


“ah.. kelamaan! Ayo Al, ceritain gimana caranya kalian bisa ngelakuin itu!” desak Jessica.


“buset nih bocah malah minta di ceritain, muka polos tapi otaknya mesum juga!”

__ADS_1


“dih, kayak Lo gak aja!” cibir Jessica.


“jelas enggaklah, lihat orang ciuman aja gak pernah!” elaknya.


padahal kenyataannya ia sering melihat mahasiswa lain pacaran sedang ciuman, Meski itu tak sengaja.


“bohong banget! Padahal tadi pagi Lo abis lihat Lusi dan pak Indra begituan di toilet!”


“hehehehe.. tau aja Lo!” arina cengengesan karena ketahuan, tapi sedetik kemudian wajahnya kembali datar. “itu kan gak sengaja, salah mereka sendiri kenapa main di toilet kampus!”


“tapi abis itu Lo dapat duit kan?”


“hahahaha.. iya, lumayan buat jajan seminggu.”


“huh, dasar Lo!”


Tanpa mereka sadari tak jauh dari tempat duduk mereka, ada sosok pria memakai masker hitam dan topi dengan warna senada duduk di salah satu kursi kosong yang ada di kantin sambil menggenggam ponselnya. Jaraknya hanya terpisah 3 meja saja, dan tentunya ia mendengar semua percakapan ketiga gadis itu.


Tak berselang lama ia mulai mengotak-atik layar ponselnya, kemudian beranjak bangun dan meninggalkan kantin.


...💐💐💐...


Sementara itu di negara Korea, terlihat aji sedang duduk di kursi singgasananya yang ada di ruangannya.


“jadi mereka sudah tidur bersama?” gumam aji, matanya menatap ke layar ponselnya yang menampilkan room chat dari detektif yang ia sewa.


Aji memang sengaja menyewa detektif handal untuk mengawasi semua gerak-gerik Alya dan Kevin, karena ia merasa curiga dengan pernikahannya yang tiba-tiba.


Rasanya mustahil saja Kevin mau memaafkan kesalahan Alya dan mau menerimanya kembali hanya karena masih cinta, aji tahu betul watak semua anak-anaknya. Terlebih Kevin yang memiliki sifat trempamen, menurun darinya.


Dan ternyata kecurigaannya benar, tak memakan waktu lama akhirnya ia tahu jika pernikahan putra bungsunya dengan Alya hanyalah settingan, begitu pun dengan pernikahan Rafael dan Selena. Ia tak menyangka Kedua putranya melakukan pernikahan kontrak, agar bisa terhindar dari tuntutan keluarga.


Entah ini hanya kebetulan semata atau memang sudah takdirnya, Alya kembali di saat Kevin membatalkan pernikahannya dengan Mayra. Dan juga skandal Selena timbul di saat Rafael terus di desak oleh kakeknya untuk segera menikah, dan yang membuat aji tak menyangka lagi putra sulungnya itu mau mengurus itu semua seorang diri.


Padahal sebelumnya Rafael tak mau tahu soal permasalahan artis yang ada di agensinya, bahkan mengelolanya saja tidak mau dan lebih memasrahkan sepenuhnya ke Hani.


Aji tak terlalu ambil pusing soal pernikahan Rafael dan Selena, ia tak perduli putra sulungnya itu mau menikah sama siapa saja karena memang tak ada masalah.


Tapi tidak dengan Kevin, putra bungsunya itu memiliki sesuatu yang selama ini ia incar. Yaitu warisan harta Tamara, jelas saja ini adalah masalah besar baginya.


Sudah sejak lama aji sangat menginginkan itu, ia ingin mengambil alih semuanya. Itulah kenapa ia selalu bersikukuh menjodohkan Mayra dengan Kevin, berharap nanti semua harta itu tak akan kemana-mana. Jika nantinya dari hasil pernikahan itu menghasilkan  anak pun, sudah pasti itu bukanlah anaknya Kevin, melainkan anaknya.


Karena kenyataannya selama ini Mayra adalah wanita simpanannya, dan aji sudah merencanakan akan membuat wanita itu hamil lagi.


Namun sayangnya sebelum keinginannya itu tercapai, tiba-tiba dia mendapat kejutan dari putranya yang menikah diam-diam.


“sialan! Kalau mereka sudah tidur bersama, itu tandanya ada kemungkinan gadis itu akan hamil? tidak! Itu tak boleh terjadi, aku gak akan biarkan dia mengandung benih dari Kevin!” pekiknya, seraya geleng-geleng kepala.


Aji tak mau jika kelak sebagian harta itu di ambil oleh calon cucunya yang lahir dari rahim Alya, sampai kapanpun ia tak rela. Lalu jemari aji mulai bergerak, kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


[Ada apa om telepon aku?] Terdengar suara wanita di seberang sana.


“ada kabar bagus buatmu, om yakin setelah mendengar ini kamu akan senang.” ucapnya


[Apaan]


Hening sejenak. Saat ini aji memang sedang menelpon Mayra dan mengatakan fakta tentang status pernikahan Kevin, berharap dengan ini wanita itu mau membantunya.


Aji tahu betul bagaimana isi hati Mayra seperti apa, dia sangat menggilai Kevin. Tapi mayra juga tak bisa menolak pesonanya, buktinya saja dia mau-mau saja setiap di ajak bercinta. Meski setelahnya wanita itu mendapat imbalan, yaitu job modeling.


[Om tahu darimana, udah jelas-jelas mereka itu nikah beneran dan kelihatan saling mencintai!]


“itu hanya sandiwara saja, agar tidak ada yang curiga. Om tahu betul watak Kevin kayak apa, dia gak segampang itu memaafkan orang lain hanya karena alasan cinta.”


[Tidak, om salah. Kevin dan Alya memang masih saling mencintai, aku bisa lihat itu om.] Keukeuh Mayra.


“jadi kamu bakal diam saja melihat mereka bersama? Apa kamu sudah tak cinta lagi dengan Kevin?” sungut aji.


[Tentu saja aku masih cinta, dan sampai sekarang aku masih belum rela. Tapi ini sulit om, Kevin bukan seperti pria lain yang mudah tergoda. Bahkan dia tak suka di sentuh wanita lain, lalu gimana aku harus menggodanya?]


Mayra sendiri heran kenapa Kevin bisa begitu, tak suka di sentuh wanita lain tapi tidak dengan Alya. Bahkan saat kemarin ia vc pun Kevin mencium Alya duluan, dan ia perhatikan wajah Kevin biasa-biasa saja.


Tak seperti dengan dirinya dulu, gandengan tangan saja Kevin langsung merasa risih dan raut mukanya tak pernah bohong. Tak perduli ada banyak pasang mata memandang, Kevin selalu menampilkan raut tak suka.


“percayalah sama om, kamu pasti akan berhasil. Rebutlah perhatian Kevin dan buatlah dia menyukaimu, sebelum Alya hamil!”


[Apa! Alya hamil? J-jadi mereka beneran sudah tidur bersama?]


“iya, tapi untuk hamil saat ini belum, makanya kamu harus bergerak cepat.”


[Tapi om, aku--]


“om akan memberimu separuh harta dari ibunya jika kamu berhasil menjebak Kevin, buatlah seolah-olah kamu dan dia sudah bercinta.”


Di seberang sana Mayra terdiam, tawaran aji memang sangat menggiurkan. Tapi ia tak yakin semua rencana itu akan berhasil, terlebih sampai menjebaknya segala.


“bagaimana?” tanya aji memastikan.


Sejenak Mayra menghela nafas, lalu kembali bicara.


[Baiklah, akan aku coba]


Aji yang mendengar itu pun tersenyum senang, akhirnya ia berhasil juga membujuk Mayra agar mau membantunya.


...💐💐💐...


Kenzo masuk ke ruangan Kevin sambil membawa nasi kotak yang ia pesan lewat online, lalu meletakkannya di meja khusus tamu.


Kevin yang memang sedari tadi sudah duduk di sofa yang ada disana sambil menunggu jatah makan siangnya nampak diam terpaku, mata bulatnya menatap heran ke bungkusan kotak warna putih yang Kenzo bawa.


“apa ini?” tanyanya.


“menu makan siang anda.” jawab Kenzo seadanya.

__ADS_1


Akibat dari jawaban Kenzo membuat kening Kevin mengernyit, lalu ia mendongak agar bisa menatap Kenzo.


“alya mengirim nasi kotak untukku?” tanya Kevin lagi.


Kenzo baru ingat, jika dirinya belum kasih tahu Kevin soal Alya yang menelponnya dan mengabarinya akan pulang telat.


“ah.. maaf tuan, saya lupa memberitahu anda. Tadi pagi nona muda telpon saya katanya hari ini dia akan pulang sore lagi, dan menyuruh saya untuk pesan makanan saja.” Ucapnya.


Kevin yang mendengar itu mendengus lalu membuang wajah, tanpa sadar kedua tangannya yang ada di pangkuannya terkepal. Ia bukan marah karena Alya akan pulang telat, tapi ia berpikir disana Andreas pasti akan selalu menempel pada istrinya.


Bayang-bayang isi chat yang semalam pria itu kirimkan ke nomor Alya terus terngiang-ngiang di matanya, dan entah kenapa setiap mengingat itu hatinya selalu merasa panas. Ada rasa tak suka jika Alya dekat dengan pria lain, meski hanya sekedar teman saja.


Selain itu, karena pesan dari Andreas pula lah yang membuat dirinya nekat menyetubuhi Alya, dan kini dia dalam posisi yang serba salah. Ingin menceraikannya Rasanya tak mungkin, usia pernikahannya belum genap seminggu.


Terlebih Rangga juga melarangnya untuk melakukannya, bukan karena usia pernikahannya melainkan karena hal lain.


“ya sudah, kau keluarlah.” usir Kevin.


Kenzo mengangguk, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan ruangan Kevin. Sementara itu Kevin langsung meraih ponselnya, ia berniat untuk menelpon Alya dan mengatakan untuk menjaga jarak dengan Andreas.


Meski hubungan keduanya sedikit bermasalah, tapi Kevin tetap ingin kasih peringatan pada istrinya itu untuk jangan terlalu akrab dengan laki-laki lain. Terlebih ini laki-laki macam Andreas, yang jelas-jelas yang Kevin tahu pria itu menyukainya.


Kevin berdecak kesal, sudah berkali-kali ia menghubungi nomor Alya namun hasilnya nihil. Nomornya tidak aktif!


“berani sekali dia mematikan hpnya, bukankah sebelumnya sudah aku perintahkan untuk jangan matikan!” gerutunya.


Karena tak kunjung tersambung, Kevin mengecek keberadaan Alya lewat GPS yang sudah terpasang di jam tangannya dan ia berharap istrinya itu sedang memakainya. Kevin menghela nafas lega saat ada koneksi tersambung di area kampus, itu artinya istrinya memakai jam tangannya.


“gak sia-sia ternyata gue ngasih jam tangan itu ke dia.” gumamnya.


Awalnya Kevin memberi jam tangan di lengkapi dengan GPS itu agar ia bisa mengetahui kemanapun Alya pergi, karena pikirnya waktu itu dia akan jarang pulang akibat sibuk dengan urusan kantor. Dan Kevin juga sengaja menyuruh Sean untuk menjaganya, agar istrinya bisa terbebas dari musuhnya di luaran sana.


Entah kenapa Kevin merasa musuhnya akan mengincar Alya, dan itu akan di jadikan alat mereka untuk bisa menindasnya.


Ada satu fakta tentang dirinya di masa lalu yang tak banyak tahu, Kevin hanya takut dengan alasan itu membuat keberadaan Alya dalam bahaya. Dan kini ketakutannya semakin menjadi, setelah mengetahui satu lagi fakta tentang kejadian dimana Alya di lecehkan.


“gue gak ngerti kenapa gadis polos seperti dia begitu di benci oleh banyak orang, bahkan ada anggota keluarga yang belum tahu siapa mau mencelakainya?” lirih Kevin seraya menatap foto close up Alya yang di jadikan foto profil di akun what'sappnya.


•FLASHBACK•


“Lo harus tetap bersamanya Vin, jangan pernah biarkan Alya sendirian karena nyawanya sedang terancam. Ada orang yang sangat ingin membunuhnya!” ucap Rangga dengan mimik serius.


Kevin yang mendengar itu diam sejenak, ia kaget.


“siapa pelakunya dan apa motifnya?” tanya Kevin dengan penasaran.


“gue gak bisa menjelaskannya secara gamblang apa motifnya, karena ini adalah masalah keluarga. Dan..”


Ucapan Rangga menggantung, ia melirik ke arah Kevin.


“dan apa?” Kevin terlihat tak sabaran.


“dan ada satu orang lagi yang ingin mencelakainya, ini ada kaitannya sama orang tua Lo.”


“hah! Papa dan mama risa?”


Rangga menggeleng. “mama tamara.” ucapnya, kemudian menghela nafas.


“dari dulu Lo tahu kan kalau bokap Lo gak pernah suka sama Alya?”


Kevin mengangguk. “gue tau. Papa memang gak pernah suka gue punya hubungan sama Alya, karena dia gak mau punya menantu dari keluarga miskin.”


Rangga yang mendengar kata terakhir Kevin tersenyum sinis, ia tentunya sudah tahu itu hanyalah alasan saja.


“bisa jadi, tapi ada satu alasan lagi kenapa bokap Lo gak suka sama Alya bahkan sampai membencinya.”


“apa?”


“dendam.”


Kevin mengernyit tak paham. “dendam? Dendam apa maksud Lo?”


“seperti apa yang udah gue bilang tadi, gue gak bisa cerita sepenuhnya. Intinya gue kasih tahu aja sama Lo, jangan pernah tinggalin dia sendirian. Untuk masalah rencana Lo yang mau cerai sebaiknya singkirin dulu, nyawa Alya jauh lebih penting. lagian Lo juga belum tau kan apa alasan dia melakukan itu?”


“alasannya sudah jelas, karena dia gak pernah cinta sama gue! Apalagi coba?” cetus Kevin.


Rangga kembali menghela nafas seraya geleng-geleng kepala. “Jangan pernah mendikte seseorang hanya dari luarnya saja, tapi Lo juga perlu pahami apa maksud sebenarnya. Memangnya Lo udah nanya sama dia apa alasannya? Gue tebak pasti belum. Iya kan?”


Kevin membisu, ia memang belum menanyakan itu karena sudah terlanjur di kuasai emosi.


“sekalipun gue nanya sama dia pun, dia gak akan langsung jawab jujur. Iya kan?” balas Kevin dengan pertanyaan.


Rangga mengangguk. “Lo gak penasaran gitu apa alasannya?”


“pastilah! Tapi gue juga tahu dia melakukan itu pasti ada tujuannya, entah itu demi orang lain atau dirinya sendiri. Yang gue gak terima adalah kenapa meski berbohong selingkuh segala coba, mana sama Dylan lagi!”


“karena saat itu dia sedang dalam tekanan Vin, dan orang-orang terdekatnya yang menjadi senjata ampuh baginya untuk menyerah.”


Kevin membisu, tak merespon apapun ucapan Rangga. Tapi raut wajahnya nampak prustasi, membayangkan masa itu Alya mengalami kesulitan setelah kepergiannya ke Inggris.


Selain itu ia juga penasaran apa maksud dari kata ayahnya yang memiliki dendam kepada Alya.


•END•


Kevin mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya, lalu menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut. Dadanya terasa sesak saat membayangkan Alya selama 2 tahun selalu dalam ancaman papa-nya, dan dengan bodohnya ia langsung percaya saja saat papa-nya memberikan video singkat berisi adegan erotis yang menampilkan wajah Dylan dan Alya.


Meski Rangga tak menyebutkan secara pasti jika pelaku yang menyuruh 2 preman itu untuk melecehkan Alya adalah papa-nya, tapi dari ucapan Rangga yang menyebut papa-nya ada dendam terhadap Alya saja sudah membuatnya paham. Jika papa-nya adalah dalang di balik itu semua, ia ingin mencelakainya.


Lalu Kevin teringat saat membawa Alya ke Bandung untuk merencanakan pernikahannya, ia mendapat kabar jika papa-nya tiba-tiba datang ke Jakarta. Mungkinkah hari itu dia sengaja datang, dan ingin mencelakai Alya lagi?


Memikirkan itu semua, Kevin menjadi geram. Entah kesalahan apa yang Alya lakukan sehingga papa-nya menaruh dendam pada istrinya itu, bahkan sampai mau mencelakainya.


Dan satu lagi, Rangga juga menyebutkan soal keluarga. Maksudnya keluarga siapa, bukankah keluarga yang Alya miliki hanyalah keluarga pamannya saja? Tidak mungkin kan mereka mau menyakiti Alya?

__ADS_1


Kevin menggeleng, ia menepis pikiran negatifnya soal keluarga adinata yang ingin menyakiti Alya.


“atau.. dia punya keluarga lain? Tapi rasanya gak mungkin, papa-nya kan hidup sebatang kara?”


__ADS_2