TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 106~Kekhawatiran Sarah


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang luas nan rapi, nampak ada dua sosok pria yang sama-sama tampan dan berpenampilan ala orang kantoran namun beda usia. Mereka duduk di masing-masing kursi, dan di antara mereka ada meja persegi terbuat dari kaca yang sudah di isi oleh beberapa lembar foto seorang wanita cantik.


Nampak, raut wajah pria itu melirik ke foto-foto tersebut. Lalu melirik ke pria yang duduk di depannya.


“apa maksud papa menunjukkan ini padaku?” tanyanya.


Pria yang di sebut papa itu tak langsung merespon, ia menghela nafas sejenak sebelum akhirnya bersuara.


“seharusnya kamu sudah tahu jawabannya, bukankah kemarin papa sudah katakan kalau kamu akan di jodohkan? Dan, inilah calon istrimu. Bagaimana, dia cantik kan?”


“dan bukan juga aku sudah mengatakannya dengan jelas, bahwa aku menolaknya?”


“sayangnya papa tak terima penolakan!” tegasnya, membuat pria muda di depannya menggeram kesal.


“begitu pun denganku, aku tak suka di paksa!” desisnya.


Sejenak, pria dewasa itu menghela nafas berat. Soal itu dia jelas tahu, ia paham betul watak putranya seperti apa. Namun ia juga tak mampu mengabaikan permintaan rekan kerjanya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu, ditambah ia juga ada nazar yang harus di tunaikan.


Selain demi mengeratkan hubungan mereka sebagai sahabat sekaligus rekan kerja, ia juga memiliki banyak hutang Budi terhadap orang tersebut.


“namanya adalah Tamara Zayn, putri tunggal dari pak Albert dan nyonya anjeli. Usianya kini baru menginjak 23 tahun, dan sedang menjalani studi bisnisnya di jakarta. Tapi kata Albert kurang setahun lagi dia bakal wisuda, jadi papa berencana akan melangsungkan pernikahan kalian setelah Ara mendapat gelar wisudanya.”


Penjelasan panjang dari papanya membuat aji membisu di tempatnya duduk, pandangannya begitu lurus menatap sang ayah. Apalagi dengan ekspresi wajahnya yang datar, dan terkesan kaku.


Fandy seakan tak perduli dengan apa pendapat aji yang secara terang-terangan menolak perjodohan tersebut, mengutamakan egonya, pria itu tetap pada rencananya.


“aku tak perduli siapa dia, yang jelas aku tetap menolak keras pernikahan ini!”


“kenapa?” tanya Fandy.


“Karena aku tak menyukainya, dan papa pun sudah tahu aku sudah memiliki calonku sendiri.”


Mendengar itu Fandy tersenyum smirk, lalu bersedekap dada. Menatap remeh putra semata wayangnya tersebut.


“maksudmu, gadis koki itu? Kau jangan gila aji, sampai kiamat pun papa gak akan merestui hubungan kalian! Derajat kalian itu jelas berbeda! Apa kata relasi papa nanti, pewaris utama dari zeous grup menikah dengan rakyat rendahan!”


“itu bukan urusanku!”


Setelah mengatakan itu aji beranjak dari posisinya, dan berbalik pergi menuju pintu. Ia tak ingin mendengar apapun lagi ocehan sang papa, yang menurutnya tak penting.


Namun saat tangannya meraih knop, aji seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar ucapan Fandy.


“sekali saja kau menginjakkan kakimu keluar dari ruangan ini, maka itu artinya kamu akan kehilangan gadis pujaanmu detik itu juga!”


Sontak saja hal itu membuat aji kembali berbalik badan, kedua matanya sudah memerah menahan amarah dan rahangnya mengeras.


Sedangkan yang ditatap nampak tersenyum culas, lalu beranjak dan mendekati aji yang mematung di tempatnya berdiri.


“kau tau kan, papa tak pernah mengingkari apapun yang keluar dari mulut papa ini? Jadi, jika kamu masih menginginkan dia hidup bebas, maka turuti semua keinginan papa.”


Aji tak memberi respon apapun, pria itu hanya diam mematung dengan wajah yang semakin kaku. Kedua telapak tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya terlihat mengepal kuat, seraya terus menatap wajah Fandy dengan penuh kegeraman.


Ia pun hafal betul, ayahnya bukan tipe orang yang suka ingkar dengan semua ucapannya. Sekali Fandy berkata begitu, maka akan dia lakukan. Membuat aji merasa khawatir tentang keselamatan gadis pujaannya, yang secara kebetulan bekerja di bawah kekuasaan keluarga besarnya.


Mungkin soal kehilangan pekerjaan gadis pujaannya itu bisa mengatasinya, namun sayangnya masalahnya tak sampai di situ saja. Aji sangat yakin papanya tak akan berhenti menyiksa Vanessa, sebelum dirinya menyerah.


Mau tak mau, suka tak suka, pada akhirnya aji memilih menurut dengan permintaan ayahnya yang menginginkannya menikah dengan anak dari rekan kerjanya. Merelakan hubungannya dengan sang kekasih yang harus kandas, padahal cinta mereka baru saja bersatu dalam ikatan resmi.


...💐💐💐 ...


“kakek kenapa? Kok nangis?”


Kakek Fandy tersentak kaget begitu mendengar pertanyaan itu, membuat memorinya di masa lampau buyar. ia pun menoleh ke arah suara, dan mendapati cucu menantunya tengah menatapnya.


Selena. Yah, Selena menatap kakek dari suaminya itu dengan tatapan cemas sekaligus bingung. Pasalnya tanpa sebab pria tua itu menangis.


Mendengar pertanyaan Selena, membuat suster Hana yang kala itu duduk di kursinya seraya bermain ponsel langsung beranjak bangun. Memeriksa keadaan kakek Fandy, takutnya penyakitnya kambuh.


kini, kakek Fandy, Selena dan suster Hana sudah berada di ruang tunggu, menunggu jam penerbangan menuju Indonesia yang akan lepas landas satu jam lagi.


Sedangkan Rafael, pria itu tengah pergi ke toilet beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


“apa yang kakek rasakan?” tanya suster Hana, seraya menyentuh pergelangan tangan renta kakek Fandy.


Kakek Fandy menggeleng. “kakek tidak apa-apa.” jawabnya.


“terus kenapa tadi kakek nangis? Gak apa-apa kek, bilang aja sama aku sama suster. Nanti kami akan suruh mas Rafa--”


“tidak, nak. Seriusan kakek baik-baik saja, tadi kakek ke ingat sama masa lalu saja.” potong kakek Fandy, kemudian tersenyum tipis.


“masa lalu?” lirih Selena, seraya mengernyit.


Sementara suster Hana hanya diam menyimak, namun tetap memperhatikan gelagat kakek Fandy yang memang sejak berangkat dari rumah menuju bandara terlihat suram. Penyebabnya jelas, pasti masih memikirkan soal kelakuan anaknya.


Meski suster Hana belum sepenuhnya paham apa yang membuat aji tega menyiksa anak kandungnya sendiri hanya karena menikahi wanita yang bukan derajatnya, tapi wanita muda itu paham apa yang dirasakan sang majikan.


Kakek Fandy hanya mengangguk sebagai respon, kemudian menghela nafas. Dadanya merasakan sesak begitu mengingat perbuatannya di masa lalu, dan kini di reka ulang oleh putranya sendiri. Bahkan, perbuatannya kini jauh lebih kejam dari apa yang dulu ia lakukan. Seakan-akan aji sedang balas dendam padanya, yaitu lewat Kevin dan alya.


Aji sangat tahu, Kevin adalah cucu kesayangan dari kedua keluarga besar tersebut. Menurut kakek Fandy dengan cara menyakiti cucunya, sebagai petunjuk bagaimana kondisinya dulu saat di paksa harus menikahi Tamara dan itu membuat hubungannya dengan Vanessa kandas.


Mengingat itu, air mata kakek Fandy kembali mengucur. Ia sangat menyadari, perbuatannya di masa lalu memanglah kejam. Namun untuk menyesal pun rasanya sangat percuma, semuanya sudah terlanjur terjadi.


Tak lama setelahnya pandangan kakek Fandy kembali fokus ke Selena, saat merasakan pipinya di sentuh lembut oleh wanita tersebut. Menantu cantiknya yang tengah hamil tua itu mengusap air matanya, sambil tersenyum menenangkan.


“aku memang tak paham yang terjadi di masa lalu kakek, sehingga membuat kakek tiba-tiba menangis. Tapi yang namanya masa lalu gak perlu di ungkit lagi, biarkan itu menjadi pembelajaran di kehidupan selanjutnya. Jadi, kakek tak usah di ingat-ingat lagi ya?”


Kakek Fandy membisu, namun otaknya mencerna ucapan Selena. Itu benar, yang namanya masa lalu tak perlu di ungkit lagi ataupun di sesali. Yang harus dia lakukan kini adalah melindungi Kevin dari kekejaman putranya, dan memastikan hidupnya bersama istrinya bebas dari aji.


“berhenti nangisnya kek, itu mas Rafa sudah kembali. Aku gak mau dia berpikir macam-macam melihat kakek nangis.” bisik Selena, seraya melirik ke arah belakang kakek fandy dimana ada sosok suaminya berjalan mendekat.


Kakek Fandy mengerti, dengan cepat ia pun menghapus matanya yang masih berkabut. Menormalkan mimik wajahnya saat cucu tertuanya itu sudah duduk di samping Selena, bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


...💐💐💐...


Sementara itu di kediaman keluarga Mahendra, lebih tepatnya di sebuah kamar mewah nan luas. Nampak Sarah tengah kelimpungan, tak henti-hentinya wanita setengah abad itu sibuk dengan ponselnya.


Saat ini Sarah sedang berusaha menghubungi kontak suaminya, dengan perasaan yang tak menentu. Sejujurnya ia sendiri tak paham kenapa bertingkah seperti itu dan tak biasanya, namun entah kenapa perasaan itu begitu kuat.


Terlebih, sesaat yang lalu sekretaris sang suami menghubunginya dan menanyakan keberadaannya. Sudah jelas Sarah bingung ditanya begitu, setahunya suaminya itu sedang bekerja.


Bukan tanpa alasan sang sekretaris menghubunginya, Pasalnya siang ini ada beberapa jadwal meeting dengan relasi kantor, dan itu sangat penting juga tak bisa di wakilkan.


Sebetulnya itu salahnya juga, kenapa saat melihat sang bos pergi bersama seorang pemuda ia tak bertanya secara detail. Jadilah berakhir seperti ini, dirinya menjadi kelimpungan menghadapi semua panggilan telepon dan memberi alasan yang cukup logis ke seluruh pihak relasi yang sudah mengatur jadwal.


Meski ia sering melakukannya, namun Bobby selalu memberinya alasan terlebih dahulu. Tidak untuk sekarang, Bobby menghilang dan susah di hubungi.


Sama halnya sang sekretaris, Sarah pun yang sedari tadi mencoba menghubungi kontak Bobby selalu tak nyambung. Selalu suara operator yang menjawab, membuat wanita dewasa yang sudah berkepala empat itu mendengkus kesal.


“ya ampun mas, kamu kemana sih? Kenapa nomormu susah banget di hubungi!” gerutunya, sambil terus menghubungi kontak Bobby.


Namun tetap saja hasilnya nihil, kontak suaminya susah di hubungi. Membuat suasana hati Sarah semakin tak karuan, pikirannya mulai negatif.


BRUM!!


Sarah mengalihkan perhatiannya ke jendela yang tertutup tirai transparan berwarna putih, begitu telinganya mendengar suara Gerungan mobil. Lalu dilanjutkan dengan suara gesekan ban mobil dan aspal.


Bergegas, Sarah pun jalan mendekati jendela. Tubuhnya seketika lemas begitu Ia melihat mobil mewah Andreas memasuki halaman depan, dan berhenti tepat di samping mobil pribadi mertuanya. Tadinya Sarah pikir itulah mobil suaminya, nyatanya bukan.


Sarah langsung keluar dari kamarnya dan turun ke bawah, untuk menemui putra semata wayangnya yang kali ini membawa teman perempuannya ke rumah. Siapa lagi, jika bukan Monika.


Sarah memang tahu Andreas dan Monika sudah lama saling kenal, bahkan tak sekali dua kali Sarah mendapat kabar jika Monika sering menginap di apartemen Andreas semasa putranya itu kuliah di Korea.


Tak terbesit rasa curiga sedikitpun di benak sarah, begitu mengetahui anak bujangnya tinggal bersama dengan wanita yang bukan pasangan sahnya. Karena Sarah sangat percaya Andreas bisa menjaga diri dan batasannya, padahal kenyataannya putranya itu sudah sangat melampaui batas dan Sarah tak mengetahui itu semua.


Begitu pun dengan orang tua Monika, mereka yang memang memiliki keluarga background kebarat-baratan tak pernah mempermasalahkannya. Justru, hal seperti itu sudah hal biasa bagi mereka. Asal jangan melewati batas, yang mampu mempermalukan pihak keluarga.


Sungguh miris bukan? Jelas! Namun untuk kaum nonis hal seperti itu memang biasa, meski tak semuanya berpikiran hal yang sama.


“hai Tante..” sapa Monika dengan senyuman manisnya begitu melihat Sarah.


Sarah membalas sapaan Monika dengan senyuman yang sama, lalu mendekati wanita tersebut dan cipika-cipiki. Ciri khas sesama wanita setiap berjumpa.


“bagaimana kabarmu sayang?”

__ADS_1


“aku baik, Tante sendiri bagaimana?”


“tante juga baik sayang. tumben sekali kalian bareng? Ketemu dimana?”


Bukan tanpa alasan kenapa Sarah bisa bertanya begitu, mengingat Monika sudah lama lulus dari dunia perkuliahan dan sekarang wanita itu tengah memegang salah satu perusahaan ayahnya yang ada di jakarta. Sementara orang tuanya menetap di Amerika, sekaligus mengurus anak perusahaan yang ada disana.


Jarak usia antara Andreas dan Monika memang sangat jauh, yaitu 10 tahun. Namun vibes mereka malah terlihat seperti seumuran, itu dikarenakan Monika yang memiliki visual baby face. Di dukung oleh bentuk tubuhnya yang bagus dan postur tinggi, membuatnya terlihat sempurna.


“tadi kami ketemu di resto Chinese tante, dan secara kebetulan aku baru selesai dari pertemuan penting dengan klien. pas mau pulang aku lihat Andreas lagi nongkrong sama teman-teman kuliahnya, terus aku gabung deh.”


Sarah nampak manggut-manggut mendengar penjelasan Monika, lalu ia menyuruhnya untuk istirahat dulu di ruang tamu. Wanita itu berniat akan bicara dengan putranya yang sedari tadi diam, dengan wajah lesu.


“kamu tunggu disini dulu ya nak, Tante mau bicara dulu sama Andreas. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja sama pelayan, mereka ada di belakang. di meja makan juga sudah tersedia banyak makanan. Kalau kamu lapar, tinggal ambil sendiri ya.” ucap Sarah, yang langsung di balas Monika dengan anggukan samar.


Setelah itu Sarah langsung menyeret tubuh putranya pergi dari sana, membawanya naik ke lantai atas.


“ada apa sih ma? Aku tuh lagi capek, mau istirahat.” keluh Andreas begitu sudah tiba di lantai atas.


Namun Sarah tak langsung merespon, wanita itu kembali menyeret tubuh tegap putra tampannya ke sebuah ruangan. Dimana ditempat itu bisa dikatakan ruang keluarga jilid 2, pasalnya disana sudah ada satu set sofa, meja persegi panjang yang di atasnya sudah ada tivi besar dan tipis dan di kedua bagian sisinya ada speaker mini. Sedangkan di bagian bawahnya ada dua benda elektronik berukuran sedang dan berwarna hitam, apalagi jika bukan DVD dan PS.


“mama cuma pengen minta tolong sama kamu, sebentar aja.” ujar Sarah begitu menjatuhkan bobot tubuhnya dan andreas ke sofa panjang.


“apa?”


“coba kamu hubungi papamu, dan tanya keberadaannya.”


“ck! Kenapa gak mama sendiri aja sih?” cetus Andreas.


“kalo mama bisa, gak mungkin mama minta bantuan kamu. Sayangnya panggilan mama gak nyambung, jawabannya selalu aja di luar jangkauan.” keluh Sarah dengan wajah muram.


“terus apa bedanya sama aku ma, pasti jawabannya sama aja!”


“gak ada salahnya mencoba sayang, siapa tau papamu blokir kontak mama dan Tante diandra.”


Mendengar itu Andreas mendelik, menatap curiga pada sang mama.


“jangan bilang kalian sedang bertengkar?” tudingnya, dan Sarah langsung menggeleng.


“gak nak, kami tidak sedang bertengkar. Tapi.. mana tau kan? Secara yang kamu tahu, papamu itu selalu diam kalau ada masalah. Mama takutnya saat ini papamu lagi ada dalam masalah, dia memblokir mama karena tak ingin di ganggu dulu.”


Andreas bisu sejenak, berusaha mencerna ucapan Sarah. otaknya langsung memahami itu, dan semua ucapan mamanya mungkin ada benarnya. Sejurus kemudian Andreas merogoh kantong celananya, dan menghubungi kontak ayahnya.


Sarah hanya diam memperhatikan, hatinya sangat berharap kali ini berhasil. Namun kenyataannya sama saja, di ponsel Andreas pun panggilannya tak tersambung.


“apa aku bilang?”


Sarah hanya menghela nafas berat, air mukanya pun berubah. Membuat Andreas yang melihatnya merasa tak tega, pemuda itu jelas paham apa yang mamanya rasakan.


“positif thinking aja ma, mungkin papa lagi ada perjalanan bisnis di daerah yang susah sinyal.” ujar Andreas memberi alasan, agar Sarah tenang.


“kalau pun iya Tante Diandra gak mungkin gak di ajak ndre.”


Benar juga. Tak mungkin papanya pergi tanpa sekretaris cantiknya itu, jika memang benar soal pekerjaan.


“ya berarti itu bukan urusan kantor tapi lebih ke pribadi, siapa tahu papa pergi ke suatu tempat menemui kenalannya. Secara mama kan tahu, papa itu punya banyak teman yang sebagian besar bukan orang kantoran.”


Andreas tetap saja berpikiran positif, menganggap sepele kepergian papanya yang tiba-tiba itu. Toh, semua ucapannya tak ada yang salah. Bobby memang memiliki banyak kenalan bukan hanya dari kaum kalangan atas, tapi kalangan bawah pun ada. Meski konteksnya tetap sama, yaitu soal bisnis.


“benarkah?” Sarah ragu.


“iya.”


“tapi.. mama tetap khawatir sayang.” Sarah mengungkapkan keresahan hatinya.


Andreas yang mendengar itu menghela nafas, lalu merangkul bahu sang mama. Sejujurnya ia pun sedikit curiga, namun pemuda itu memilih menyingkirkannya.


“buang pikiran buruk itu ma, dan percaya sama ucapanku. Papa bakal baik-baik saja!” tegasnya.


“tapi--”


“atau gini aja, kita tunggu sampai nanti malam. Kalau belum ada kabar juga, aku akan cari papa. Kebetulan aku ada beberapa teman yang bekerja sebagai hacker, nanti aku akan minta bantuan mereka untuk meretas ponsel papa. Siapa tau dari cara membobol semua data-datanya ada petunjuk keberadaannya.” potong Andreas cepat.

__ADS_1


Meski Sarah belum sepenuhnya yakin, wanita itu tetap mengangguk. Menyetujui ucapan Andreas, dan mungkin memang benar. Suaminya itu kini sedang berada di suatu tempat yang susah sinyal.


Yah, hanya itu yang saat ini bisa Sarah lakukan. Ingin mencari pun dia bingung mau mencari kemana, kalau suaminya pun tak ada kabar sama sekali.


__ADS_2