
“bagaimana kondisinya dok?” Tanya Kevin pada seorang dokter pria.
Sang dokter nampak menghela nafas berat sebelum menjawab.
“Buruk! luka tusukan di dadanya lumayan dalam hampir mengena jantungnya dan beliau juga mengeluarkan banyak darah. Namun untungnya orang-orang yang membawanya bisa cepat sampai kesini sehingga nyawanya bisa kami selamatkan. Tapi maaf saat ini beliau koma.”
“Apa!! koma?” Pekik Kevin, matanya melebar.
“Ya, ada Luka di belakang kepalanya dan itu cukup parah. Mungkin karena itu membuatnya koma. Saya menduga sebelum penusukan, beliau sempat di pukuli. karena selain luka di kepala, saya juga menemukan luka lain di bagian tubuh lainnya tapi itu hanya memar-memar biasa.”
Kevin menelan ludah. “Lalu kapan dia akan sadar dok?”
“Saya tidak bisa memastikannya kapan itu tapi yang pasti saat ini kondisi pasien begitu buruk, Kita hanya bisa berdoa saja semoga Tuhan memberikannya keajaiban..” tutur sang dokter.
Saat ini, Kevin dan seorang dokter pria sedang berdiri di depan ruangan ICU di sebuah rumah sakit ternama yang ada di kota bandung bersama dengan kenzo dan beberapa anak buahnya.
Yah, setelah mendapat kabar dari kenzo kalau vilanya yang ada di kota bandung di serang penjahat, kevin langsung pergi menyusul untuk mengeceknya.
Bukan soal vilanya dan para anak buahnya yang dia khawatirkan tapi ada satu orang lagi yang saat ini ikut tinggal disana, dia takut terjadi hal buruk dengannya dan kekhawatirannya pun terjadi.
Menurut info yang di berikan oleh beberapa pengawal, jika ada sekelompok geng motor menyerang villanya. tapi para pengawalnya tak mengetahui ataupun mengenali siapa mereka, karena mereka memakai topeng yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Entah bagaimana caranya para geng motor itu bisa masuk vilanya dan menyerang seseorang yang sangat kevin lindungi, dan berakhirlah di rumah sakit.
“saya mohon tolong lakukan sesuatu yang membuatnya bisa kembali sadar dok, berapapun biayanya akan saya bayar.”
“tentu saja pak kami akan melakukan apapun agar pasien selamat, tapi kami hanya bisa berusaha. Selebihnya tuhan yang menentukan. Seperti yang saya ucapkan tadi, banyak-banyaklah berdoa.”
Hening sejenak..
“Apakah aku boleh menemuinya?” pinta kevin, raut wajahnya yang selama ini kaku dan dingin kini terlihat cemas.
“Mohon maaf sebaiknya untuk saat ini jangan dulu, mungkin besok kau bisa menemuinya. Beliau perlu istirahat yang cukup, dan lagipula...”
Ucapan sang dokter menggantung, sambil matanya melirik ke jam tangannya.
“Jam besuk juga sudah habis, jadi biarkan dia istirahat dan kalian bisa menemuinya besok pagi.”
“tapi-”
“Benar kata dokter tuan, sebaiknya kita menemuinya besok pagi saja dan anda juga perlu istirahat. Saya perhatikan, anda terlihat sangat lelah.” Ucap Kenzo.
“Gue baik-baik aja ken!” cetus Kevin.
Kenzo menggeleng. “Tidak tuan, anda terlihat tidak baik-baik saja. Lebih baik anda pulang dan istirahat, saya akan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar anda.”
Lalu kenzo melirik ke arah dokter. “Terima kasih dokter.”
“Sama-sama, Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu.” pamit dokter.
Kevin dan Kenzo hanya mengangguk, Setelah itu dokter pun berlalu pergi. Setelahnya kevin langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi besi yang ada di depan ruangan itu, membungkukkan badannya sambil kedua tangannya menyugar rambut tebalnya. Sementara kenzo berdiri di hadapannya, beserta para bodyguardnya.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi Ken, kenapa Om Raka bisa di serang?” Tanya Kevin menuntut, dia mendongak menatap wajah kenzo dengan kening berkerut.
“Saya juga kurang tahu tuan, karena pada saat itu saya sedang ada di tempat orang tua saya.”
Kevin diam sejenak sambil berpikir.
“Lo udah cek cctv dan tak melihat sesuatu yang aneh?” tanyanya pada kenzo.
“sudah, tuan dan semuanya berjalan dengan normal.” jawab Kenzo.
Kevin kembali diam, dia melirik ke dua pengawal yang berdiri di belakang kenzo. “Jam berapa kalian melihat kejadian itu?” Tanyanya.
“Sekitar jam 9 tuan.” Jawab salah satu bodyguard berkepala plontos.
“Selain Om Raka, apa ada lagi yang terluka?” Tanya Kevin lagi.
“Tidak tuan. Mereka hanya mengacak-acak ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Sebelum akhirnya masuk ke kamar pak Raka.”
“Berarti mereka datang hanya untuk menyerang Om Raka saja!” Desis Kevin.
Kedua bodyguard itu saling memandang, kemudian sama-sama mengangguk.
“Oke, untuk masalah ini bisa kita bicarakan lagi besok, sekarang Kalian semua pulang biar gue disini.”
“Tapi, tuan-”
“Pulang Ken!”
“Tidak tuan, Saya akan menelpon Adik saya untuk-”
“Gue gak suka mengulang perkataan Ken!” Desis Kevin.
Kenzo menghela nafas pasrah. “Baiklah, tuan. Kami akan pulang Tapi ijinkan satu pengawal untuk standby disini untuk menjaga tuan.”
“Gak perlu, gue bisa jaga diri gue sendiri!”
“Saya mohon tuan, ini demi keselamatan anda sendiri.”
Kevin menghela nafas kasar. “Terserah!”
Kemudian kenzo menunjuk salah satu anak buahnya untuk menemani kevin dan langsung di angguki olehnya.
“Saya permisi pulang dulu tuan, besok pagi-pagi sekali saya akan datang kesini lagi.” ucap kenzo dan kevin hanya mengangguk saja.
Kenzo ingin berbalik namun tiba-tiba tertahan begitu Kevin kembali berbicara.
“Tunggu Ken!” panggil kevin seraya bangun dari posisinya.
“Iya, tuan?”
“Besok suruh Ridwan untuk memasang beberapa kamera rahasia di seluruh sudut villa.”
Kedua alis kenzo berkerut. “Kamera rahasia?”
“Iya, Lo katakan saja seperti itu padanya, pasti dia langsung paham.”
“Baik, tuan. Ada lagi?”
“Emm.. Lo udah kasih tahu Tante Sekar soal gaun?”
“Sudah, tuan. Beliau sudah mempersiapkan segala sesuatunya.”
Kevin terlihat manggut-manggut. “Oke, Sekarang Lo boleh pergi.”
“Baik, tuan. Saya permisi.”
__ADS_1
Setelah itu Kenzo pun benar-benar pergi dari sana, Kevin kembali duduk dan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
Beberapa menit kemudian..
Drrrttt..
Kevin menegakkan badannya saat merasakan Ponselnya bergetar, dengan gerakan malas dia merogoh kantong celananya dan meraih benda itu. Sebelah alisnya terangkat begitu ada nama kakak sulungnya tertera di layar ponselnya, lalu dia melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 23 : 30 malam.
‘ngapain dia telpon gue malam-malam begini?’ gumamnya bertanya-tanya.
Tanpa kata dia pun menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Apa!”
[Lo belum tidur?]
“Kalau gue udah tidur, gak mungkin gue angkat telepon Lo!”
[Ya siapa tau aja Lo lagi ngigau.]
“Gak usah banyak basa-basi, ada apa Lo telepon gue? Malam malam pula, kurang kerjaan!”
[Hm.. gue mau nanya soal rencana kita. Gimana? Lo udah bicara sama dia belum?]
Kevin diam sejenak sebelum akhirnya menepuk jidatnya sendiri, dia lupa jika hari ini harus menemui Alya tapi dia malah pergi ke tempat balapan.
‘sialan, gue lupa!’ rutuknya dalam hati.
“Ehm..Belum sempat, Hari ini gue sibuk!”
[Sibuk apaan! Pasti sibuk balapan kan Lo!]
“Gue beneran sibuk bang, kenapa gak percayaan amat.” elaknya.
[omongan Lo itu gak pernah bisa di percaya, dan Jangan Lo pikir kita tinggal pisah gue gak tau keseharian Lo ya? gue tau Lo baru saja menyelesaikan tesis Lo!]
Kevin diam sejenak kemudian menghela nafas. memang benar Apa yang di katakan Rafael, dia sudah menyelesaikan tesisnya lebih dulu dan kini sekarang tinggal nunggu wisuda S3nya bersama teman-temannya yang lain.
[Tadi malam gue udah kabarin Selena kalau lusa kami akan datang ke Indonesia.]
Mendengar itu Kevin terkejut. “what? lusa? Emang papa sudah setuju?”
[Ya jelaslah dia langsung setuju setelah gue bilang hamilin anak orang, ya kali enggak!]
“Berarti Lo jadi kawin dong.”
[Nikah Vin, bukan kawin!]
“Sama aja!”
Kevin mendengar helaan nafas di seberang sana.
[Belum pasti Vin soalnya menurut penuturan dari selena, Alya menolak. Katanya sih alasannya pengen fokus kuliah. Mending Lo cepetan deh ajak dia bicara, yakinkan dia buat setuju. Oh atau enggak Lo datengin aja ke kampusnya, kalau gak salah dia se kampus juga sama Lo.]
“Hem.. gampanglah itu.”
[ya udah kalau gitu gue tutup dulu teleponnya, baik-baik Lo disana dan jangan balapan lagi. Kalau tetap nekad gue bakal cabut semua fasilitas yang pernah gue kasih!]
“Hm..”
BIP! panggilan pun berakhir, kevin kembali menyimpan ponselnya ke saku celananya. Lalu matanya melirik ke arah jendela ruangan ICU, terdapat disana ada sosok pria paruh baya terbaring lemah dengan alat oksigen yang memenuhi mulut dan hidungnya.
...💐💐💐...
Pagi menyapa, jam masih menunjukkan pukul 06 : 00 namun hawa panas matahari mulai terasa masuk ke sela-sela jendela Di sebuah kamar yang bernuansa biru cerah.
terlihat di kamar itu alya sudah rapi, dia sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu sambil kedua tangannya merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Hari ini dia ada kelas pagi dan dosennya cukup killer sehingga dia tak boleh telat, bisa dihukum dia nanti.
Drrrtt...
Terdengar suara getaran ponselnya yang tergeletak di tengah kasur, alya pun menoleh dan berjalan pelan mendekati ranjang lalu meraih ponselnya. Tertera ada nama jessica di layar ponselnya, dengan segera dia pun mengangkatnya.
“halo.”
[gue udah di depan nih, Lo dimana?]
“Oh, udah sampai. Gue masih ada di kamar kak selena, Lo langsung masuk aja.”
[gak deh Al, Lo langsung turun aja. Gue harus buru-buru nyampe kampus, ada kelas pagi.]
“Oh iya bener, hari ini kita sekelas kan yah. Ya udah tunggu, bentar lagi gue turun.”
Setelah itu alya mengakhiri panggilannya, meraih tas dan beberapa bukunya kemudian berlalu keluar. Dia berjalan pelan menuju dapur, disana sudah ada Keluarganya sedang sarapan. Alya meraih gelas yang sudah berisi jus jeruk dan meneguknya sampai setengah, lalu meraih buah apel dan menggigitnya.
“Semuanya, aku berangkat kuliah dulu yah.” pamitnya, kemudian dia melangkah pergi. namun tak lama dia berhenti karena mendengar suara kakaknya.
“Kamu gak sarapan dulu Al?” tanya selena.
“Enggak kak, nanti aja di kampus.” jawabnya sambil berlalu pergi.
“Tap--Huek..”
Belum sempat selena menyelesaikan ucapannya, Tiba-tiba dia merasa mual. Dia terlihat menutup mulutnya dan tanpa berkata lagi bangkit dari duduknya, berlari menuju wastafel.
Yuna yang melihat itu langsung cemas, walaupun dia marah dan kecewa pada keponakannya itu tapi tetap saja dia seorang wanita yang pernah merasakan morning sickness. dan saat ini selena tengah mengalaminya, dia pun ikutan berdiri dan menyusul selena.
Sesampainya disana, yuna melihat selena sedang berdiri di depan wastafel dapur dengan kepala sedikit menunduk dan terdengar suara muntahan.
“masih sering mual?” tanyanya saat sudah berdiri di samping selena sambil tangannya memijit tengkuknya, Untungnya pagi ini wanita itu mencepol tinggi rambutnya sehingga tak terkena muntahannya.
Selena yang di tanya seperti itu hanya mengangguk tanpa berbicara. Dia terus berusaha mengeluarkan apa yang ada di dalam mulutnya namun hanya cairan kuning yang keluar.
“Udah periksa ke dokter?” tanyanya lagi dan lagi-lagi selena hanya menggeleng.
“Kenapa?”
Sebelum menjawab selena mencuci mulutnya terlebih dahulu. begitu selesai, dia pun menegakkan tubuhnya dan menatap wajah bibinya.
“Aku takut nanti ada yang lihat aku datang ke rumah sakit bi, apalagi harus menemui dokter kandungan. Aku takut nanti mereka membicarakan hal lebih buruk lagi dari ini, aku gak mau bikin kalian lebih malu lagi.” Ucap Selena.
Yuna yang mendengar itu menghela nafas.
“Jangan perdulikan apa kata orang, mereka gak tau masalah yang sebenarnya. Lagipula kan sekarang sudah ada pak Rafael yang akan bertanggung jawab atas kehamilanmu, jadi gak usah takut lagi. Dan kamu juga pasti tau calon suamimu itu bukanlah orang sembarangan, dia pasti akan melindungimu jika ada orang yang berani mengganggumu.”
Selena membisu. Memang benar apa yang di katakan yuna, Rafael memang sudah mengatakan akan menikahinya. Bahkan pria itu sudah mengatakannya pada keluarganya, namun pernikahan itu tak akan terjadi jika alya masih menolak syarat yang Rafael ajukan, dan tentunya persyaratan itu tidak di ketahui oleh Yuna dan Adinata.
__ADS_1
Selena sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa Rafael meminta adiknya disuruh menikah dengan kevin, padahal yang dia tau kevin sendiri sudah memiliki calon istri.
Namun dia juga tak bisa menolak karena ini menyangkut nama baik keluarganya dan juga karirnya, selena tidak Terima jika karirnya yang selama ini dia bangun susah payah berakhir sia-sia hanya karena ulah Renata.
Selena memang masih sangat mencintai Chandra namun dia tidak ingin di bodohi lagi, sudah cukup pengorbanannya selama ini yang berujung sia-sia dan mungkin inilah petunjuk dari Tuhan agar dia bisa bebas dari jeratan Chandra dan Keluarganya, walaupun harus mengorbankan masa depan adiknya.
...💐💐💐...
Alya berjalan ke arah mobil jessica yang sudah terparkir di depan rumahnya. dia membuka pintu depan dan duduk disana. Sejurus kemudian mobil itu pun bergerak dan meninggalkan pekarangan rumahnya.
“Kaki Lo masih sakit ya, gue lihat tadi jalan Lo masih pincang.”
“Hm. Iya, sedikit. Rencananya setelah kelas selesai, gue mau kontrol.”
“Harusnya kalo masih sakit gak usah masuk dulu Al, tunggu sampai sembuh aja.”
“Enggak enak ah sama anak lain, masa baru masuk udah bolos aja.”
“CK! Lo mah selalu gitu, jangan dengerin apa kata mereka. Yang ngerasain sakit kan Lo, bukan mereka. Ya udah nanti gue temenin deh.”
“Eh, gak usah! Habis kelas pak Agus kan Lo ada kelas lagi.”
“Tapi-”
“Gue gak mau ya Lo bolos lagi kayak kemarin.”
“Terus Lo nanti pergi sama siapa? Arina juga nanti siang kerja.”
“Gue bisa kok pergi sendiri.”
Jessica terlihat menggeleng. “Enggak! Lo gak boleh sendiri. Emm.. ya udah nanti gue telpon Abang gue deh suruh anterin Lo.”
“Dih gak usah Jes, Aiden pasti lagi sibuk kerja!”
“Gak apa-apa, dia bisa ijin keluar bentar.”
“Udah, gak usah Jes. Seriusan, gue bisa sendiri kok.”
Jessica terdengar menghela nafas, percuma debat dengan Alya. Tak akan ada ujungnya.
“Ya udahlah terserah Lo, tapi kalau ada apa-apa kabarin Gue.”
“Siap, bosku!” Sahut Alya sambil meletakkan tangannya ke keningnya tanda hormat, kemudian mereka sama-sama terkekeh.
Sekitar 1jam kemudian mereka sudah sampai di kampus, setelah memarkirkan mobilnya dengan aman, mereka pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki area kampus.
Saat sudah hampir sampai, Tiba-tiba Alya merasakan sakit perut. Dia melirik ke jam tangannya yang menunjukkan jam setengah tujuh, kelasnya akan di mulai jam 8 pagi. Masih ada satu setengah jam lagi, lalu dia menatap jessica.
“Jes.” panggilnya.
Jessica menoleh. “Apa?”
“Lo duluan aja yah ke kelasnya, gue mau ke toilet dulu.”
Jessica mengangguk. “Oke, jangan lama-lama.”
Alya mengangguk kemudian dia berbalik arah, sedangkan jessica kembali melanjutkan langkahnya ke kelas.
Dengan langkah tertatih Alya memasuki kamar mandi wanita yang cukup ramai, saat sudah masuk semua mata langsung mengarah menatapnya dengan tatapan berbeda. Ada yang menatapnya sinis, benci bahkan ada yang terlihat cuek.
Alya tak perduli, dia tetap melanjutkan langkahnya. Sebelah tangannya mendorong pintu dalam bilik yang kosong, kemudian masuk dan kembali menutupnya.
Selama 15 menit Alya berada di sana dan tidak ada terjadi apa-apa, semuanya normal. Tak lama setelah itu Alya selesai dan keluar dari sana, suasananya masih sama dan Alya tetap tak perduli. Dia berjalan ke arah wastafel untuk cuci tangan, begitu selesai dia pun keluar dari toilet.
“Astaga!”
Alya terkejut, seraya kedua matanya membola. Hampir saja dia terjungkal, namun untungnya bisa menahan tubuhnya agar tetap berdiri.
Gadis itu celingukan ke kanan dan ke kiri, banyak mata mahasiswa lain menatap ke arahnya. Bahkan kaum wanita yang baru keluar dari toilet juga menatapnya sambil berbisik-bisik, dan hal itu membuatnya tak nyaman.
Alya menatap sosok pria tinggi dan bermuka kaku yang menghalangi jalannya, dan itu membuatnya terkejut tadi.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Toilet cowok ada sebelah sana.” Bisiknya, sambil jari telunjuknya mengarah ke arah belakang pria itu.
Namun pria itu tak menjawabnya, mata bulat itu malah menatapnya tajam kemudian turun ke bawah. Tepatnya ke arah kaki Alya. Gadis itu mendengar pria itu berdecak kesal.
“Ikut aku.” Titahnya, kemudian menarik tangan Alya untuk pergi dari sana.
“E-eh.. k-kamu mau bawa aku kemana? Aku ada kelas!” Teriak Alya.
pria itu tak perduli, dia tetap menariknya dengan kebisuannya.
“Lepasin!” Seru Alya, dia berusaha menarik tangannya agar terlepas namun cengkraman pria itu terlalu kuat.
“Kevin, lepasin! Kakiku sakit!” Kali ini suara Alya terdengar tinggi, sehingga menggema di sepanjang koridor.
Yap, pria yang menariknya adalah Kevin.
Tadi waktu dia sedang mengobrol dengan mahasiswa lain di parkiran, dia melihat Alya turun dari mobil Jessica dan melihat gaya jalan gadis itu yang pincang. Seketika dia teringat dengan malam dimana dia membawa gadis itu ke rumah sakit, Samuel mengatakan jika sebelah kakinya cedera cukup parah.
Mendengar kata terakhir Alya, otomatis membuat langkah Kevin berhenti. Secepat kilat dia berbalik badan, dan menatap tajam gadis itu.
“Udah tahu kaki kamu lagi sakit, kenapa tetap di paksa jalan! Hah?” Serunya.
Alya tak langsung menjawab, dia masih berusaha melepaskan tangannya dari tangan kekar Kevin. Namun bukannya terlepas, dia malah merasakan sakit.
“Vin, aku mohon lepasin! Apa kamu gak lihat semua orang lihat ke arah kita.” Cicit Alya.
Memang saat ini banyak mata tengah menatap mereka, setiap ada mahasiswa lewat pandangan mereka tak lepas menatap ke arahnya.
“Gak perduli!”
Alya mendengkus. “Itu berlaku bagimu, tidak untuk aku! Please, jangan mempersulit keadaanku!”
“Apa? Aku? Mempersulit?” Kevin tertawa kecil. “Yang ada kamu sendiri mempersulit hidupmu sendiri! Harusnya kemarin aku suruh saja Samuel buat ambutasi kaki kamu, biar gak bisa jalan sekalian!”
Mendengar itu Alya menelan ludah, wajahnya terlihat pias.
“Lepasin Vin, aku mohon.” Suara Alya terdengar lirih, matanya sudah berkaca-kaca menahan sakit.
Kevin menyeringai sambil sedikit mencondongkan wajahnya. “Jangan harap! Kali ini aku gak akan pernah membiarkanmu kabur lagi!”
Setelah mengatakan itu Kevin langsung menggendong tubuh Alya ala bridal, dan itu membuat suasana koridor itu ramai oleh sorakan para mahasiswa yang masih berada disana.
Bahkan ada yang diam-diam memfoto atau merekamnya dengan ponsel, lalu menyebarkannya ke sosial media masing-masing dengan caption yang cukup membuat semua orang tertarik untuk menonton.
__ADS_1