TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 81~Mengungkap Rasa


__ADS_3

“kamu jangan terus mengelaknya Vin, akui saja jika kamu dan Mayra memang sudah tidur bersama.”


sejenak, Alya menghela nafas sebelum kembali bicara.


“Aku akan mengijinkanmu untuk menikah lagi, asal sebelum itu.. kamu ceraikan aku.” lanjutnya dengan nada getir.


Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istrinya membuat Kevin berang, ia menatapnya dengan tatapan iblis.


“SAMPAI DUNIA INI RUNTUH PUN AKU TAK AKAN PERNAH MENCERAIKANMU, APALAGI HARUS MENIKAH DENGANNYA! JANGAN HARAP!!” teriak Kevin lantang, seraya jari telunjuknya menuding ke wajah Mayra.


“tapi Mayra sedang hamil Vin, dia hamil anakmu!” balas Alya.


“dan kamu percaya? Kamu percaya dengan omongan wanita binal seperti dia?”


Alya mengangguk. “aku percaya karena ada buktinya.” lalu ia mengambil beberapa foto yang ada di meja, dan memberikannya ke Kevin.


Kevin pun meraihnya, matanya melotot saat melihat lembar demi lembar foto dirinya dan Mayra tengah tidur di satu ranjang luas tanpa pakaian dan hanya tertutup selimut putih, ada juga foto saat dirinya di papah waktu di lorong yang sedikit gelap.


“tidak, ini tidak mungkin!” elak Kevin sambil menggeleng.


Mayra nampak tersenyum seraya jalan mendekati Kevin, tanpa ragu lagi ia bergelayut manja di lengannya.


“sudahlah sayang, akui saja semuanya. Biar Alya juga tahu kalau selama ini kamu gak pernah bahagia sama dia, dan gak pernah puas dengan pelayanannya. Hanya aku yang bisa memuaskanmu diranjang! Iya kan?”


Kevin mendelik tajam ke arah wanita itu, ekspresi wajahnya kini terlihat menyeramkan, namun Mayra malah terlihat tak takut sama sekali.


kemudian tanpa berkata lagi ia menepis kasar tangannya, bahkan sampai mendorongnya. Sehingga membuat tubuh Mayra mundur, dan hampir jatuh.


“apa kau pikir dengan cara sampahmu ini bisa menjebakku, hah? Jelas tidak! Aku akui dulu aku bodoh karena percaya begitu saja dengan semua permainan kalian, namun tidak untuk sekarang.”


Kedua tangan Kevin meremas kuat tumpukkan foto itu hingga menjadi gumpalan, lalu melemparkannya tepat ke wajah Mayra.


“simpan saja semua rencana sampahmu itu untuk bisa memisahkanku dengan Alya, karena itu tak akan pernah terjadi. Katakan juga pada si penyuruhmu itu, apapun yang akan dia lakukan tak akan berhasil.”


“kevin..” Alya kembali bersuara.


“DIAM!” potong Kevin cepat dengan suara menggelegar, ia menatap istrinya dengan mata merah menyala.


Akibat dari suaranya itu membuat sebagian karyawan yang ada di luar bisa mendengarnya, mereka mulai berbisik-bisik sambil mata mereka mengarah ke ruangan Kevin yang sedikit terbuka.


“sekarang kau pergi dari sini, sebelum aku melakukan hal yang nantinya membuatmu menyesal.” ucapannya itu ia tunjukkan untuk Mayra.


Namun bukannya menuruti, Mayra malah menggeleng.


“aku tak akan pergi dari sini sebelum kamu bertanggung jawab atas kehamilanku! Kamu harus nikahi aku Kevin!” balas Mayra dengan nada tinggi.


Mayra sengaja melakukan itu agar para karyawan yang ada disana bisa mendengarnya, dengan cara seperti itu pasti Kevin akan di cap buruk oleh mereka dan pria itu tak akan bisa mengelak lagi.


Namun sepertinya Mayra lupa dengan sifat Kevin, pria itu tak akan perduli jika orang lain mau menganggapnya buruk. Yang pasti ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, cukup 2 tahun lalu ia bertindak bodoh.


“aku tak pernah sekalipun menyentuhmu, apalagi sampai menghamilimu. Satu-satunya wanita yang ku tiduri hanya Alya, dan hanya dia yang nantinya menjadi ibu dari anak-anakku!” Raung Kevin dengan wajah merona, dan kedua tangannya terkepal kuat.


“Pergi kau dari sini!” untuk kesekian kalinya Kevin mengusir Mayra, dan wanita itu tetap menolak.


Mayra terus meyakinkan Kevin jika apa yang diucapkannya memang benar, bahkan ia sampai meminta bantuan Alya sambil memasang wajah nelangsa. Ia sangat tahu kepribadian Alya yang tak tegaan dan selalu mengutamakan urusan orang lain, makanya dia bertingkah seolah-olah terlihat wanita yang teraniaya.


Namun sayangnya rencananya itu berhasil di gagalkan oleh Kevin, ia menutupi tubuh Alya dengan tubuh tegapnya dan menjauhkannya.


Lalu Kevin menyuruh Sean untuk menyeret paksa Mayra keluar dari kantornya, dengan senang hati pria bule itu melakukannya. Karena sedari tadi dia sudah geram dengan tingkah wanita itu, namun ia memilih diam demi menghormati keberadaan Kevin sebagai majikannya.


Sean dan mayra pun keluar. sebelum menutup pintu, telinga Kevin mendengar suara sorakan dari para karyawannya yang mengolok mayra serta teriakan wanita itu yang meminta di lepaskan.


Kini tersisa mereka berdua, pasutri itu diam dengan saling berpandangan dan tentunya dengan beda artian. Kevin terlihat menghela nafas sebelum akhirnya jalan mendekati Alya dan berniat meraih tangannya, namun aksinya itu berhenti begitu mendengar ucapannya.


“kenapa kamu terus saja mengelaknya Vin, akui saja jika semuanya benar.” Alya menatap suaminya dengan sorot kecewa.


“apa yang harus aku akui, semua ucapan Mayra tak benar. Aku tak pernah tidur dengannya, apalagi sampai membuatnya hamil!” sahut Kevin sedikit kesal, karena Alya masih saja tak percaya dengan semua ucapannya.


“tapi semua buktinya sudah ada, dan kamu juga mengiyakannya kan?”


“alya, aku bisa jelaskan. Itu tak seperti yang kamu pikir, aku--” ucapan Kevin menggantung saat satu jari Alya menempel di bibirnya.


“tak perlu kamu jelaskan semuanya, dari ekspresi wajahmu saat Mayra mengatakan soal hotel saja aku sudah paham jika kalian pernah menghabiskan satu malam.”


Alya menurunkan jarinya, lalu beralih menyentuh pundak kevin. Ia menatap netra suaminya dengan mata berkabut, dan wajahnya sedikit merona.


“kamu tenang saja, aku tak akan marah padamu. meski aku ini masih sah menjadi istrimu, tapi aku cukup sadar diri siapa aku di hidupmu. Dan aku juga tahu kalau kamu sudah tak mencintaiku lagi, dan kini aku tahu sekarang kenapa kamu jarang pulang.”


Kevin membisu, jakunnya nampak naik turun pertanda jika ia tengah menahan salivanya. Dalam hati ia ingin sekali mengatakan semuanya, tapi lidahnya seakan kelu.


“aku pikir.. itu karena kamu masih marah sama aku karena perbuatanku dulu, dan butuh waktu untuk menerimaku lagi. tapi Ternyata aku salah, kamu bersikap seperti itu karena sudah ada wanita lain dihatimu. Wanita itu Mayra, iya kan?”


Kevin menggeleng dan sudah siap bicara, namun langsung terpotong oleh Alya.


“jangan berbohong lagi Vin, akui saja jika benar. Jangan hanya kamu sudah tahu tentang perasaanku, kamu jadi menghianati perasaanmu sendiri. Ak--”


CUP!


DEG!


Kali ini ucapan Alya yang terhenti, matanya sedikit membola kala bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Kevin. Bukan hanya sekedar nempel, tapi Kevin ******* habis bibirnya dengan gerakan kasar.


Kevin sudah tidak tahan dengan semuanya, perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Alya semuanya salah besar. Maka dari itu Kevin membungkam mulut istrinya dengan ciuman, seakan dari ciuman itu Kevin ingin menyampaikan soal isi hatinya.


Alya nampak berusaha mengelak dengan cara mendorong dada bidang Kevin, namun apalah daya suaminya itu malah menahan tengkuknya dan mengunci tubuhnya. Sehingga membuat Alya tak bisa berkutik, dan memilih pasrah.


Saat merasakan tak ada perlawanan lagi dari Alya, perlahan-lahan Kevin melembutkan gerakan bibirnya. Mencumbui bibir istrinya yang selama ini ia lakukan secara diam-diam dan hati-hati, kini bisa ia lakukan sepuasnya.


Alya tak membalas, namun matanya terpejam dan kedua tangannya nampak meremas sisi jas Kevin. Menikmati ciuman itu dengan perasaan tak karuan, bahkan Ia membiarkan lidah suaminya untuk menjamah seluruh isi mulutnya.


Namun itu tak bisa bertahan lama, ia mulai terlena dan membalas pagutan suaminya seraya melingkarkan kedua tangannya di lehernya.

__ADS_1


Merasakan itu, Kevin membuka sedikit matanya. Kedua sudut bibirnya terangkat, sebelum akhirnya kembali terpejam dan memperdalam ciumannya.


Sebisa dan sekuat mungkin Kevin menahan tangannya untuk tidak berbuat nakal, meski saat ini inti tubuh bawahnya kembali beraksi dan meminta pelepasan. Lagipula Bukan saatnya ia melakukan itu, dan sepertinya tak akan pernah ia lakukan jika Alya tak meminta duluan.


Beberapa menit setelahnya Kevin melepaskan ciumannya, deru nafas keduanya terdengar berat akibat kekurangan oksigen. Posisi mereka tak berjarak, bahkan kening keduanya pun masih saling menempel.


“tidak ada wanita lain di hatiku, selain nama wanita yang kini menyandang sebagai istriku.” ucap Kevin dengan suara tersendat, seraya menjauhkan wajahnya.


Mendengar kata terakhir Kevin membuat Alya menatapnya, matanya melebar kaget.


Sebelum kembali bersuara jemari kekar Kevin bergerak ke pipi Alya, mengusap jejak air mata yang Alya tak sadari keluar saat mereka ciuman tadi. Ia juga mengelap bibir istrinya yang sudah bengkak dan basah dengan ibu jarinya, lalu berakhir merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya.


“aku tidak tahu apakah ini bisa disebut cinta atau bukan, tapi yang pasti namamu selalu ada disini.” lanjutnya seraya menggenggam tangan Alya, dan menempelkannya ke dadanya.


“aku minta maaf jika sikapku selama 3 bulan ini membuatmu terluka, hingga sampai menuduhku memiliki wanita lain. Sumpah demi tuhan Al, tidak ada wanita lain. Baik itu dulu maupun sekarang, hanya kamu wanita satu-satunya dalam hidupku, hanya kamu satu-satunya wanita yang mampu membuatku seperti ini. meski sebelumnya aku pernah tunangan dengan Mayra tapi percayalah, hubunganku dengannya tak lebih dari seorang teman. Jika kamu pernah melihatku mesra dengannya, itu hanya di depan media dan keluarga saja, selebihnya interaksi kami biasa saja. Kamu pasti tahu aku bagaimana kan, aku tidak suka di sentuh wanita lain selain dirimu.” ucap Kevin panjang lebar, dan matanya nampak berkaca-kaca.


Alya diam sejenak, perlahan tapi pasti ia menurunkan tangannya dari dada Kevin.


“jangan membohongi dirimu sendiri hanya untuk menyenangkan aku, akui saja semuanya biar aku gak terlalu banyak berharap.” balas Alya dengan suara pelan.


“apa saat ini kamu melihatku sedang berbohong?” tanya Kevin.


Alya kembali bisu, ia menatap kedua netra suaminya lekat untuk mencari kebohongan, namun nyatanya ia tak melihat itu. Kevin memang mengatakan hal yang sejujurnya.


“lalu apa maksud dari sikapmu selama ini? bahkan secara terang-terangan kamu menjaga jarak denganku. Apa kamu tahu, dari sikapmu yang seperti itu sudah menunjukkan kalau kamu gak mencintaiku.”


Kevin menghela nafas. “aku minta maaf, tapi aku lakukan itu ada alasannya.”


“alasanmu sudah jelas Vin, kamu bukannya cinta sama aku melainkan hanya kasihan.”


Kevin menggeleng cepat seraya kedua tangan besarnya menyentuh kedua sisi wajah Alya.


“tidak Alya, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku--”


Alya menurunkan kedua tangan Kevin dari wajahnya, ia menggenggamnya erat lalu mengecupi jemarinya.


“sudah cukup Kevin, aku mohon jangan berbohong lagi. Aku gak mau menjadi orang lebih jahat lagi setelah ini, aku.. hiks.. hiks..”


“alya..” Kevin bingung sekaligus kaget dengan tindakan Alya, terlebih setelah melihat wanita itu tiba-tiba menangis di depannya.


“yang seharusnya minta maaf disini adalah aku, aku yang jahat! Aku telah membuat hidupmu hancur, aku memang jahat! Maafkan aku.. maafkan aku karena perbuatanku di masa lalu membuatmu seperti ini, tolong maafkan aku.”


Alya mengucapkan kata-kata itu sambil terus menangis, dan masih mengecupi tangan Kevin. Membuat si empu semakin heran dan tak paham.


“hey, hey.. kamu kenapa jadi nangis gini sih? Dan ini juga, hentikan.”


Kevin menarik paksa tangannya dari genggaman istrinya, lalu mengangkat wajahnya. “kenapa? Apa yang terjadi, Hem?” tanyanya dengan penuh kelembutan.


Namun Alya tak langsung menjawab, ia malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.


“maafkan aku Vin, tolong maafkan aku hiks.. hiks.. aku benar-benar tidak tahu akibat dari perbuatanku membuatmu sakit anxiety, bahkan kamu sampai dirawat dirumah sakit jiwa.”


DEG!


“aku memang wanita jahat, aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku wanita egois!” racau Alya sambil terus menangis.


Kevin tak bersuara, namun ia membalas pelukan Alya. Sebelah tangannya mengusap lembut kepalanya, sedangkan tangan satunya melingkar di pinggangnya.


Alya melerai pelukannya, dengan mata basahnya ia menatap Kevin. “setelah ini kamu boleh hukum aku, apapun itu aku akan terima. atau kalau perlu.. kamu bisa ceraikan aku sekarang juga. Tak perlu menunggu sampai setahun, ak- akh.. aku akan iklhas..”


“apa itu yang kamu inginkan?” tanya Kevin dengan nada santai, namun percayalah, hatinya sedang bergemuruh.


Selain karena kaget karena Alya mengetahui penyakitnya, dia juga kaget dengan permintaannya. Ditambah hatinya sakit melihat istrinya menangis, apalagi kali ini menangisi dirinya.


Alya diam sejenak, kemudian menggeleng. Membuat Kevin tersenyum tipis.


“kalau tidak mau kenapa memintanya, hem?”


“aku sangat bersalah sama kamu Vin, karena perbuatanku kamu jadi sakit.”


Kevin menggeleng. “tidak! Itu bukan sepenuhnya salahmu, tapi.. ini sudah menjadi takdirku memiliki penyakit itu.”


“tap--”


CUP!


Alya tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya kembali di bungkam oleh Kevin.


“tak ada tapi-tapian, semuanya sudah terlanjur terjadi. Jadi sekarang Berhentilah menangis, aku gak suka lihat kamu begini.” ucapnya seraya mengusap air matanya.


Alya menurut, ia berhenti menangis meski masih sesenggukan.


“kamu tahu darimana soal penyakitku?” tanya Kevin setelah melihat Alya sudah tenang.


“dari arina. Dia bilang kamu mengidap penyakit ini sejak kita putus, dan kamu juga pernah dirawat dirumah jiwa setahun lalu. apa itu benar?”


Kevin diam sejenak, kemudian mengangguk. Melihat itu membuat hati Alya teriris, ternyata dugaannya benar. Kevin bisa memiliki penyakit itu akibat ulahnya.


“maaf..” lirih Alya, air matanya kembali menetes.


Kevin menggeleng seraya menggerakkan kedua ibu jarinya untuk mengusap pipi istrinya, lalu ia menangkup wajahnya dan mengecupi kedua kelopak matanya.


“tak perlu di sesali, semuanya sudah terjadi. Lagipula aku sudah baik-baik saja, kamu bisa lihat sendiri kan?”


“tapi.. kata arina kamu sering kambuh.”


“itu benar.” lirih Kevin. “setelah kamu tahu keadaanku yang sebenarnya, apa kamu masih mencintaiku dan masih mau menjadi istriku?” tanyanya.


Sebelum menjawab tangan Alya menyentuh sisi wajah Kevin, membelai rahangnya yang tegas yang kini sudah tumbuh bulu.


“tak ada alasanku untuk mengelak, aku mencintaimu tulus tanpa tapi.” jawabnya.

__ADS_1


“tapi aku sakit Al, aku laki-laki gak sempurna.”


“semua manusia yang terlahir ke dunia ini tak ada yang sempurna vin, dan hanya cinta yang tulus yang bisa menutupinya. Aku gak perduli mau kamu sakit atau tidak, yang penting perasaanku ke kamu gak ada batasan.”


Kevin tersenyum haru mendengar itu, matanya nampak berkaca-kaca. Sejak awal ia memang tak salah pilih, Alya memanglah wanita sempurna. Bertahun-tahun ia menahan sakit dan derita akibat kekejaman ayahnya, belum lagi dengan teman-teman sekolahnya yang sampai saat ini masih membullynya, ditambah dengan sikap dinginnya selama ini. namun istrinya itu masih bisa tersenyum ceria, dan bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa.


“kalau begitu mau berjanji sama aku?”


“apa?”


“jangan ada kebohongan lagi diantara kita. Aku mau setelah ini kita harus saling terbuka, dan berjuang sama-sama melawan semua orang yang ingin memisahkan kita. Mau?”


Alya diam, Ia menatap suaminya dengan ekspresi tak percaya.


“vin..” lirihnya, dan matanya berkaca-kaca.


Kevin mengangguk. “lupakan saja semua masalah yang terjadi, dan jadikan itu sebagai pengalaman hidup. Nanti kita ceritakan kisah cinta kita ke anak-anak kita nanti, biar mereka tahu betapa beratnya perjuangan kita mempertahankan hubungan ini. Dan juga biar mereka kelak bisa menghargai perasaan seseorang yang nantinya akan menjadi pasangan mereka.”


Alya sudah tidak bisa membendung air matanya lagi, kata-kata Kevin tadi cukup membuatnya yakin jika pria itu memang masih mencintainya.


“kita tak perlu berjanji untuk saling melengkapi, cukup menahan diri untuk tidak saling menyakiti.” ucap Alya penuh makna.


Kevin tersenyum, otak jeniusnya langsung paham apa maksud dari perkataan Alya.


“aku pastikan setelah ini tak akan ada air mata kesedihan lagi, melainkan hanya ada air mata kebahagiaan. Maafkan atas kebodohanku di masa lalu yang membiarkanmu pergi dan berjuang sendirian, kali ini aku akan tetap berada disampingmu dan menjagamu.” ucap Kevin sebelum akhirnya ia menunduk dan kembali menyatukan bibirnya ke bibir Alya.


Alya membalas ciuman Kevin dengan air mata berlinang, kini hatinya merasa lega karena Kevin masih mencintainya. Meski suaminya itu belum yakin dengan apa yang dirasanya, tapi Alya tahu dari sorot matanya. Disana terpancar jelas cinta dan kerinduan yang mendalam.


Sementara itu Kenzo yang baru saja kembali dari ruang rapat di buat bingung karena suasana di lantai itu sudah ramai, ia menatap satu persatu karyawan yang ada disana.


“ada apa ini, kenapa kalian kumpul disini?” tanyanya.


“huh, bapak Kenzo habis darimana aja sih!” ujar salah satu karyawan wanita.


“habis rapatlah, emang habis darimana lagi. Kan kamu juga tadi ada disana.” balas Kenzo.


“perasaan rapat udah selesai beberapa menit yang lalu deh, pak Kevin aja udah balik daritadi. Ini bapak baru sampai!” sahut karyawan lainnya.


“saya tadi beresin berkas-berkas ini dulu, dan tadi juga sempat ke toilet. Memang kenapa sih?”


“tadi Mayra datang kesini pak, dia ngamuk dibawah sambil teriak minta pertanggung jawaban sama pak kevin.” adunya.


Kenzo yang mendengar itu mengernyit tak paham. “pertanggung jawaban gimana maksudnya?”


“katanya dia lagi bunting! Dan itu anaknya pak Kevin!”


“WHAT!” pekik Kenzo kaget dengan mata melotot. “kalian serius, ini bukan prank kan?” tanyanya.


“ya enggaklah, ini serius!” ucapnya, dan di iyakan juga oleh pegawai lainnya.


“terus sekarang dia dimana, dan pak Kevin dan nona Alya dimana?” tanya Kenzo beruntun.


“mayra udah pergi, tadi diseret paksa sama bodyguardnya ibu Alya yang bule itu. Karena waktu pak Kevin suruh pergi dia gak mau, malah keukeuh minta di nikahin. Padahal ya pak Kevin tadi kelihatan serem banget, kami yang dengernya aja merinding takut. Terus sekarang ibu sama bapak ada di dalam, gak tau lagi ngapain.”


“emang nekad banget itu si Mayra, udah tahu pak Kevin mudah emosi malah bikin ulah.” sahut pegawai lain yang sudah tahu dengan watak Kevin.


“lagian aku juga gak percaya kalau pak Kevin berbuat kayak gitu, orang dia kelihatan bucin banget sama istrinya. Iya gak?”


“bener banget!”


“terus kenapa dia bisa masuk kesini, siapa yang mengajaknya?” tanya Kenzo.


“ibu Alya sendiri yang suruh, padahal tadi satpam sudah mengusirnya. Tapi ya itu, tetap maksa sambil teriak-teriak.”


“mungkin ibu Alya pikir dengan cara mengijinkannya masuk, semuanya akan beres.”


“mungkin juga.”


“udah, udah jangan di bahas lagi, mending kalian kembali bekerja sebelum pak Kevin lihat. Mau kena marah?”


Secara serempak mereka pun menggeleng kencang, ekspresi wajah mereka terlihat takut.


“ya sudah sana!”


Mereka pun mulai membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing, begitu pun dengan Kenzo yang kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


“mudahan-mudahan saja nona Alya akan baik-baik saja, dan dia bisa menenangkan tuan muda.” gumam Kenzo seraya jalan ke ruangannya, raut wajahnya nampak cemas.


Baru saja Kenzo ingin duduk di kursinya, namun terhenti kala matanya melihat Sean melintas.


“sean, tunggu!” teriaknya.


Sean pun berhenti, ia menoleh ke asal suara dan jalan mendekat.


“ada apa?” tanyanya dengan nada dingin.


“emang benar tadi nona Mayra datang kesini?”


“ya.”


“terus kam--”


“dia sudah pulang di antar supir kantor.”


Kenzo yang mendengar itu manggut-manggut, lalu kembali menatap Sean. “kenapa kamu natap aku begitu?” tanyanya heran, pasalnya Sean menatapnya aneh.


“tidak! Tapi.. aku hanya ingin mengingatkan, jangan macam-macam!”


“A-apa maksudmu bicara begitu?”


“pikir saja sendiri. Kau sudah dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan mana yang bukan, jangan hanya karena materi membuatmu jadi lupa diri.”

__ADS_1


DEG!


Kenzo membisu, wajahnya berubah pias dan jantung berdebar kencang setelah mendengar ucapan Sean.


__ADS_2