TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 97~Rencana Jahat Bobby


__ADS_3

“gimana sayang, enak gak?” tanya Samuel, saat Nana mulai menyuapkan kwetiaw buatannya ke dalam mulutnya.


Pria tampan yang bergelar sebagai dokter spesialis syaraf itu menatap wajah istrinya dengan penasaran, apakah rasa olahan masakannya enak atau tidak. Karena sepanjang hidupnya baru kali ini dia memasak, sehingga membuatnya ketar-ketir.


Bukan hanya Samuel, tapi semua teman-temannya juga ikutan penasaran. Kecuali Kevin, karena pria itu terlihat cuek dan lebih fokus dengan makanannya.


Sedangkan Nana sendiri tak langsung menjawab, ia tengah mengunyah dan merasai makanan yang suaminya buat.


“enak.” jawabnya kemudian.


Samuel yang mendengar itu tersenyum lega, namun sedetik kemudian wajahnya berubah datar saat mendengar suara mingyu.


“jawab jujur aja na, gak usah Bohong gitu. bilang aja kalau gak enak mah.” celetuk mingyu dengan santainya, ia tak sadar akibat dari ucapannya itu membuat wajah Samuel menjadi muram.


Nana menggeleng. “enggak kok, rasanya beneran enak. Kalau gak percaya, cobain aja.” ucapnya meyakinkan, seraya menawarkan.


Mingyu yang mendengar tawaran Nana nampak bergidik, seraya memasang ekspresi jijik. “gak ah! Gak level gue makan makanan kampung kayak gitu. Lagian kalau dilihat dari bentuknya aja udah bisa ketebak, kalau rasanya gak bakal aneh!”


Mendengar ucapan terakhirnya membuat semua pasang mata yang ada disana beralih menatapnya, termasuk Kevin sendiri. Bahkan pria itu menghentikan gerakan bibirnya yang tengah menggigit udang goreng.


PLAK!


“awss!!”


satu pukulan keras mendarat di belakang kepala mingyu, sehingga membuatnya mendesis kesakitan. Kemudian dia pun melirik ke samping bagian kanan, disana ia melihat Jeremi menatapnya tajam.


“munafik amat sih Lo yu! Bilangnya gak level sama makanan kampung, terus itu Yang ada dipiring Lo apa? Itu juga makanan kampung kali!” cetus Jeremi.


Sahabat satunya itu memang hobi sekali mengundang huru-hara, baru saja beberapa menit yang lalu reda dengan keinginannya yang ingin memacari Tina. Sekarang ganti menghina makanan hasil masakan Samuel, sumpah demi apapun kalau tak memandang persahabatannya yang sudah terjalin lama, Jeremi sudah menendangnya keluar dari villanya.


“tau nih, sok banget jadi orang. Padahal waktu jaman smp dia sering bawa bekal, lauknya tempe oreg yang di campur ikan teri!” balas Rangga.


“itu kan dulu, sekarang udah enggak!” protes mingyu, seraya memanyunkan bibirnya.


Ia tak mengelak soal itu, karena memang fakta. Pada masa itu dia sedang dalam masa pertumbuhan dan belum terlalu tahu tentang makanan sehat, jadi apapun bekal yang sudah ibunya buat selalu di makan karena pasti akan higienis. Apalagi rasanya yang memang nagih, membuatnya kadang suka meminta agar porsinya ditambah.


Beda halnya dengan sekarang, dia sudah dewasa dan sudah mengerti semua jenis makanan bergizi. Tentunya perubahan selera makannya itu setelah dia tinggal di Amerika, yang notabenenya semua jenis makanannya mahal dan berkelas.


“gak usah banyak ngeles deh Lo! Orang kemarin gue lihat Lo makan nasi Padang di kantor, mana menunya sayur kangkung sama telor balado gitu!”


Mingyu berdecak kesal, seraya mendelik tajam pada Rangga. ia lupa jika kemarin pria itu memang sempat datang ke kantornya, dan melihatnya sedang makan nasi Padang sebagai menu makan siangnya. Kedatangan Rangga disana tentu bukan tanpa alasan, karena kala itu kantor keduanya memiliki proyek besar. Dan Rangga juga kesana tak sendiri, melainkan bersama ayahnya.


“itu karena terpaksa, papa yang nyuruh ob untuk beli itu nasi Padang. Waktu itu juga gue juga sempet nolak kok, cuma ya karena terlanjur lapar jadinya di makan aja. Mubazir kan kalau dibuang?”


“karena pada dasarnya Lo itu memang doyan makan! Hahaha..”


“rese lu ga, Gak bisa banget jaga rahasia!”


“Lo salah besar jika dalam geng ini akan ada rahasia, karena tanpa harus di Ulik pun Rangga akan tahu sendiri. Apa Lo udah lupa dengan kemampuannya? Selain bisa lihat setan, dia juga bisa baca pikiran orang!” ujar jeremi.


Mingyu mendengus. “itulah yang membuat gue gak pernah setuju kalau papa punya urusan bisnis sama keluarga dia, karena strateginya udah di bongkar duluan sama dia!”


“hahahaha...” Rangga dan Jeremi dengan kompak tertawa keras, begitu mendengar ucapan terakhir mingyu.


Sedangkan yang lainnya hanya menyimak, dan kembali melanjutkan acara makannya. Sama halnya dengan Nana dan Samuel, meski perasaan dokter muda tadi sedikit sedih dengan ucapan mingyu, namun istrinya itu meyakinkan kalau rasanya enak dan menyuruhnya untuk jangan terlalu di ambil omongan mingyu.


Samuel hanya mengangguk saja, ia tentunya sangat memaklumi dengan tingkah dan perilaku mingyu yang terkesan sombong. selalu menganggap remeh apapun yang berkaitan dengan level bawah, Itu dikarenakan orang tuanya yang tak pernah mengajarinya tentang rasa bersyukur. melupakan jika apapun yang ada dalam dunia ini hanya Sementara, Termasuk soal harta dan kedudukan.


Sebenarnya hal seperti ini sudah sering Samuel lihat, dan menurutnya sudah hal biasa bagi orang yang berduit selalu merendahkan apapun menurutnya rendah. Di rumah sakit tempatnya bekerja contohnya, banyak dokter dan suster yang selalu punya pikiran dangkal seperti itu.


Setiap ada pasien yang dari latar belakang keluarga kurang mampu datang berobat ke rumah sakit, selalu di nomor sekiankan. Mengutamakan yang berduit, dan di perlakukan sebagai raja. Padahal keluhan mereka tak seberapa, dibanding dengan orang tak mampu itu yang membutuhkan pertolongan cepat.


Itulah kenapa di jaman sekarang banyak sekali berita tentang anggota keluarga pasien yang meninggal menuntut pihak rumah sakit, karena telatnya penanganan.


Namun untungnya kejadian seperti itu tak akan pernah terjadi lagi di rumah sakit tempat kerjanya, karena Samuel yang kini posisinya sudah menjadi direktur dirumah sakit tersebut sudah membangun program baru. Dia akan menggratiskan seluruh biaya rumah sakit bagi keluarga miskin, namun itu tak berlaku untuk obatnya.


Tentunya kebijakan ini sudah di setujui oleh pemilik rumah sakit, yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Dharma.


Kakek Dharma sendiri adalah dokter senior bedah jantung, yang kini sudah pensiun dan lebih memilih menyerahkan seluruh urusan rumah sakit pada cucunya tersebut. Karena hanya Samuel, cucunya yang memilih di bidang kedokteran. Sedangkan cucu lainnya terjun di dunia perkantoran.


...💐💐💐...


Setelah menyelesaikan acara makan siang bersama teman-temannya yang di iringi dengan obrolan ringan dan canda tawa, Kevin kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya.


Tadinya Jeremi dan Rangga mengajaknya untuk keluar bersama, sambil naik sepeda ontel. Sekaligus ingin melihat-lihat pemandangan alam, dan merasai suasana sejuk. Namun Kevin langsung menolaknya, dengan alasan lelah. Padahal kedua sahabatnya itu tentu tahu itu hanya alasannya saja, dan tak mau jauh-jauh dari Alya.


Jeremi dan Rangga tentu sangat senang dengan perubahan sikap Kevin yang sekarang, pria itu kembali hangat meski sifat introvertnya masih melekat erat dalam dirinya. Namun itu sedikit lebih baik, ketimbang dulu yang selalu terlihat kaku.


“ternyata benar apa kata pepatah, tak selamanya rasa sakit itu akan terus menyakiti. Kadang kala kita harus mengalami yang namanya kegagalan, sebelum nantinya kita mereguk manisnya keberhasilan. Dan gue meyakini di balik skandalnya Selena, pasti ada rencana manis tuhan yang akan tiba.” ujar Jeremi, seraya menatap kepergian Kevin menuju kamarnya.

__ADS_1


Rangga yang mendengar itu nampak tersenyum smirk, dalam bayangannya saat ini muncul potongan demi potongan tragedi besar yang akan terjadi sebentar lagi.


Sementara itu Kevin sudah berada di dalam kamarnya, pria itu langsung mengulas senyum tipis saat melirik ke arah ranjang dimana kini Alya sudah tertidur pulas dengan posisi miring. Sebagian selimutnya tersingkap, sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang di baluti celana panjang warna hitam.


Kevin segera menutup pintu dan menguncinya, lalu jalan mendekat ke arah kasur. Kedua tangannya merapikan selimut itu, lalu menariknya hingga batas dada. Kemudian ia ikutan merebahkan tubuhnya di samping, posisinya kini tidur menyamping dan saling berhadapan.


Terlihat sebelah tangannya menyelinap masuk ke belakang leher alya, Sementara tangan satunya lagi menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Untuk beberapa detik Kevin menatap wajah pulas Alya, dengan pikirannya yang kemelut. Otak jeniusnya kembali teringat dengan kejadian waktu pagi, dimana Jeremi dan Rangga memberikan fakta tentang keluarga ayah Alya dan rencana pamannya serta ayahnya sendiri.


Sumpah demi apapun Kevin masih tak menyangka tentang fakta itu, dan lebih mengagetkannya lagi ternyata Selena bukanlah kakak kandungnya. Melainkan hanya kakak angkatnya.


FLASHBACK ON


“itu karena Selena bukanlah kakak kandungnya.”


DEG!


“apa!” pekik ketiga pria itu secara bersamaan, dengan wajah yang sama-sama kaget.


Dengan tenang Rangga mengangguk, kemudian mulai menjelaskan.


“selena memang bukan kakak kandung Alya, tapi dia hanya kakak angkat. Ibu kandungnya sendiri adalah seorang wanita malam, tapi bukan berarti dia pelacur. Dia hanya bekerja, dan sebelumnya juga pernah menikah. Hanya saja suaminya itu tak mau bertanggung jawab, dan malah pergi dengan wanita lain. Padahal pada masa itu ibunya Selena sedang hamil 2 bulan, dan suaminya tahu akan hal itu. Tapi tetap saja, tak mampu mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ibunya Selena. Kalian pasti penasaran kan kenapa orang tua Alya mengadopsinya? Itu karena ibu kandungnya Selena adalah teman baiknya Vanessa, lebih tepatnya teman satu kampung. makanya saat di detik-detik melahirkan, wanita itu meminta Vanessa untuk mengurusnya. Dia juga sempat mengatakan untuk jangan memberi tahu Selena soal dirinya, karena ia tak mau anaknya sampai tahu mempunyai ibu yang bekerja di klub malam.”


Sejenak senyap, ketiga temannya nampak diam dengan jalan pikiran masing-masing. Mereka tak menyangka ternyata takdir kehidupan kedua gadis itu begitu rumit, dan penuh dengan derita.


“terus Selena tahu gak soal fakta itu?” tanya Jeremi.


Rangga mengangguk. “tahu, tapi dia belum tahu apapun soal ibunya. Vanessa dan Ferdinan hanya mengatakan kalau mereka bukanlah orang tua kandungnya, alasan dia memilih mengadopsinya karena untuk dijadikan pancingan saja agar cepat hamil.” jawab Rangga.


“termasuk Alya sendiri?” tanya Jeremi lagi.


“bahkan dia tak tahu apa-apa soal ini semua.”


“selena tahu orang tua Alya juga bukan orang tuanya sejak kapan?” kali ini Rafael yang bertanya.


“sebulan sebelum kecelakaan itu terjadi.” jawab Rangga.


“setelah itu apa dia gak cari info tentang ibunya?” tanya Samuel lagi.


Rangga diam sejenak. “inilah alasan utama dia ingin menjadi artis, berharap dengan begitu ibu kandungnya bisa melihatnya dan menemuinya. Namun..”


Sedangkan Ketiga temannya yang melihat itu mengernyit heran, sejenak mereka saling berpandangan lalu kembali menatap Rangga.


“Lo kenapa ga?” tanya Jeremi.


Rangga kembali menggeleng. “gak apa-apa! udah cukup sampai disini saja info dari Gue, selebihnya nanti kalian akan tahu sendiri.” ucapnya.


Kemudian pandangan Rangga mengarah ke Kevin. “sekarang Lo udah tahu kan dengan semua faktanya, maka dari itu gue cuma mau bilang. Tolong jaga mereka berdua dengan baik, kalau bisa kasih tahu juga bang Rafa soal ini. Tak perlu cemas berlebihan, ingat dengan kondisi tubuh Lo sendiri. Lagian di belakang, gue dan om Marvin akan selalu standby.”


Kevin mengernyit. “om Marvin?”


Rangga mengangguk. “ya. Lo gak lupa kan kalau dia juga sangat menyayangi Alya?”


Kevin menggeleng, tentu saja ia tahu soal itu. Semenjak istrinya berteman baik dengan Jessica, Marvin memang sudah menganggapnya sebagai keponakannya sendiri. Bahkan pria dewasa berwarganegara amerika yang dikenal sebagai Mafia bengis itu selalu menjaga Alya, sama halnya dengan keluarga Dimas yang sudah menganggapnya putri mereka sendiri.


Sebagai suaminya, jelas saja Kevin merasa beruntung karena banyak pihak yang menyayangi Alya. Tak kenal bulu, mereka semua mau melindunginya. Dan karena hal ini pula cukup membuatnya sedikit tenang, karena nantinya dia tak akan sendirian untuk menjaga istrinya dari bahaya.


END.


...💐💐💐...


‘Ferdinan Raka Mahendra..’


Batin Kevin menyebut nama lengkap ayah mertuanya itu, dengan kernyitan. Benaknya merasakan kalau nama itu tak asing, ia seakan sering mendengarnya. Namun ia lupa dimana dan kapan, apakah sebelumnya dia pernah berhubungan secara bisnis dengannya.


Tapi itu rasanya tak mungkin, karena menurut keterangan dari Jeremi dan Rangga sebelum kecelakaan itu terjadi, perusahaan milik Ferdi sudah bangkrut. Juga dengan semua usaha restoran milik Vanessa, meski tak ada bukti jelas tapi sejak saat itu sudah tak ada kabar lagi.


Lagipula kejadian itu terjadi sudah 20 tahun yang lalu, dan masa itu dia masih sangat kecil. Tapi.. entah kenapa nama ayahnya Alya begitu tak asing baginya.


“apa gue searching di google aja ya, pasti semua infonya ada disana.” gumamnya.


Setelah itu Kevin pun langsung merogoh saku jaketnya dan meraih ponselnya, jemari kekarnya mulai berselancar di layar datar itu. Ia mulai membuka aplikasi yang di maksud, lalu menekan nama lengkap Ferdinan.


Tak membutuhkan waktu lama Kevin sudah melihat banyak artikel tentang Ferdi, dari mulai biodata, pendidikan hingga ke hobinya pun tertera disana. Satu yang pasti, ternyata ayah mertuanya itu penyuka olahraga. Persis seperti dirinya.


Ibu jari Kevin terus menggulir semua artikel itu, hingga gerakannya berhenti ke satu artikel tentang kabar kematiannya yang di anggap misterius. Karena penasaran ia pun menekan artikel tersebut, dan seketika wajahnya terlihat kaget saat melihat satu foto yang memperlihatkan seorang pria muda berparas tampan dengan seorang wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Alya.


“mungkinkah ini mereka?” gumamnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Lalu Kevin melirik ke Alya, kemudian kembali menatap layar ponselnya. ia lakukan itu berulang-ulang, seakan sedang memastikan apakah wanita yang ada di foto beneran sama dengan wajah Alya.


Jemari Kevin mulai mengzoom foto tersebut, kepalanya sedikit miring sambil matanya terus memperhatikan garis wajah kedua mertuanya. Lalu atensinya lebih fokus ke wajah Ferdinan, dan ia kembali mengernyit.


“kok mirip om Raka sih?” gumamnya, saat menyadari ada kemiripan antara ayah mertuanya dengan pria yang dia kenal.


“Raka.. Raka.. Raka..”


Kevin terus melafalkan nama itu, sambil berpikir keras. Berharap dengan ia melakukan itu, bisa mengingat sesuatu. Hingga akhirnya otak jeniusnya menganalisa jika dua nama yang dia pikirkan itu.. orang yang sama!


“jika memang benar om Raka yang ku kenal adalah ayahnya Alya, maka itu artinya mereka selamat dari tragedi kecelakaan itu. Dan mungkin saja setelah kejadian itu mereka terdampar di suatu tempat! Yah, itu bisa saja terjadi. Tapi.. kalau mereka selamat, yang di kubur itu siapa?”


Kevin kembali diam, ingatannya kembali ke masa sekolah. Dimana waktu itu Alya pernah cerita kalau ayah dan ibunya di kubur dalam satu peti yang sama, dan dia dapat cerita itu dari pamannya. Adinata.


“mungkinkah waktu itu Om Adi berkata bohong?” gumamnya, namun setelahnya ia menggeleng. Dalam otaknya tak mungkin jika Om Adi sampai berbohong, menutupi fakta jika Ferdinan masih hidup.


Sekali lagi. Kevin kembali terdiam, hingga tak lama setelahnya ia langsung bangun dari posisinya saat mengingat segerombolan geng motor yang tiba-tiba menyerang villanya.


“itu bisa saja terjadi, om Adi sengaja menutupinya agar keberadaan om Raka tak terendus musuh. sama halnya dengan dia menutupi identitas alya, atau Jangan-jangan... aksi penyerangan itu juga ada kaitannya dengan ini semua?”


Kevin terus menduga-duga, menggabungkan kejadian penyerangan villanya yang terjadi sehari sebelum ia membawa Alya ke Bandung. Kevin juga masih ingat betul dengan penjelasan anak buahnya, jika di dalam rekaman cctv itu mereka melihat beberapa anggota geng motor mengajak Raka Beragumen sebelum akhirnya diserang.


Kevin sangat menyakini jika mereka adalah suruhan bobby atau mungkin papanya sendiri agar bisa menghabisi ferdinan, karena mereka sudah tahu jika pria itu masih hidup.


Drrttt..


Kevin terlonjak kaget saat ponselnya tiba-tiba bergetar, ia menatapnya dan sebelah alisnya terangkat saat ada nama kontak anak buahnya.


“ya, ada apa?”


[Tuan muda gawat, pak Raka menghilang!]


DEG!


...💐💐💐...


di tempat berbeda, lebih tepatnya di sebuah ruangan Yang ada di mansion yang bernuansa emas nampak ada seorang pria muda berparas asia.


Kulitnya berwarna seputih susu dan matanya sipit, ia memakai kaos polos warna hitam, celana jeans hitam serta ada sobekan di bagian pahanya, dan dia juga memakai jaket kulit dengan warna serupa. Rambutnya yang gondrong nampak di ikat dengan modelan cepolan, dan hanya menyisakan beberapa helai di keningnya yang mulus.


Pria itu yang tak lain adalah Roni, sedang duduk di sofa panjang Yang ada diruangan tersebut. Kedua kakinya yang di baluti sepatu kets warna coklat, berada di atas meja dengan posisi menyilang.


Sementara di sofa seberang, lebih tepatnya di depannya terdapat sosok Bobby. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan memakai pakaian kantornya itu menatap diri Roni dengan intens.


“pasti om memanggilku kesini pasti ingin kasih tugas?” celetuk Roni.


Lantas, Bobby langsung mengangguk kemudian tersenyum smirk. “tentu saja!”


“kali ini siapa?” tanya Roni.


“masih orang yang sama.”


Mendengar itu Roni mengernyit, ia membalas tatapan Bobby dengan ekspresi bingung.


“orang yang sama? Maksud om orang yang waktu yang ada di villa Kevin?”


“ya.”


Sejenak Roni diam, ingatannya kembali melayang ke kejadian beberapa bulan lalu. Dia yang kala itu sedang nongkrong di markas bersama para anggotanya, tiba-tiba mendapat tugas dari Bobby untuk mencelakai orang.


Ah, bukan. Mungkin lebih tepatnya membunuh!


Awalnya Roni merasa biasa saja saat salah satu gengnya memberi tahu kalau ada tugas dari orang yang ingin menyewa jasanya, karena memang selama ini dia sudah sering melakukannya. Selain suka mengikuti balap liar, Roni dan gengnya suka Membunuh, merampok, bahkan hingga membekal.


Namun saat dia tahu tentang lokasi dimana orang di tunjukkan berada, membuat pria itu kaget setengah mati. Karena lokasinya berada di dalam villa milik Kevin, musuh bebuyutannya. Tak mau ambil pusing, dia pun langsung mengiyakan itu.


Dan sekali lagi ia di buat kaget, karena orang yang tak lain adalah bobby ingin ikut menyerang. Namun kala itu Bobby meminta jika wajahnya harus memakai masker, agar tak dikenali. Agar penampilannya lebih maksimal, Bobby sampai rela memakai pakaian ala anak geng motor, dan meminjam jaket yang ada logo geng motor milik Roni.


“bukankah dia sudah mati?” tebak Roni.


Bobby menggeleng. “tidak! Dia belum mati, sekarang dia berada dirumah sakit yang ada di Bandung dan dalam keadaan koma.”


“terus apa yang harus aku lakukan sekarang?”


“kita harus bisa menyelinap masuk ke ruang inapnya, setelah itu kita membawanya pergi ke tempat jauh dan membuangnya disana.”


Roni nampak manggut-manggut. “tapi.. sebelum kita melakukannya om harus menyiapkan segala sesuatunya, karena lawan kita bukanlah sembarang. Pria yang ingin om bunuh itu dalam lindungan kekuasaan Kevin, dan aku tahu betul dia pasti sudah menyuruh para anak buahnya untuk standby disana.”


Mendengar itu Bobby tersenyum smirk. “kau tenang saja, aku sudah menyiapkannya.”

__ADS_1


__ADS_2