
Jam di dinding sudah mengarah ke jam 8, setelah sarapan usai semua orang yang ada diruangan itu mulai bersiap-siap untuk keluar.
Dylan menyuruh sekretarisnya untuk memanggil seluruh karyawan untuk datang, gedung kantor ZN GROUP itu ada 15 lantai dan saat ini mereka berada di lantai 10.
Sekretaris Dylan yang bernama Miranda itu mengangguk patuh, dia pun mulai menelpon seseorang lewat telepon kantor untuk membawa semua karyawan untuk datang kesana, termasuk OB dan security.
Beberapa menit kemudian lobby lantai 10 sudah penuh dengan para karyawan, mereka berbaris rapi seperti sedang menjalani upacara. Di paling depan Dylan sudah berdiri bersama Alya dan Kevin, gadis itu terlihat sangat gugup saat banyak pasang mata menatapnya penasaran.
“Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk datang kesini, mungkin kalian kaget kenapa disuruh berkumpul. Seperti yang kalian tahu, posisi saya di kantor ini hanyalah pengganti adik saya yang sedang mengejar studi S3 dan sekarang dia sudah selesai dan di nyatakan lulus.”
“Itu artinya tugas saya disini sudah selesai, untuk ke depannya posisi saya akan digantikan oleh Kevin. Mulai saat ini dan seterusnya dialah pemimpin kalian, dan saya ingatkan agar hati-hati bekerja padanya karena adik saya ini pemarah dan sangat perfeksionis. Jadi mulai sekarang bekerjalah dengan giat dan jangan ada yang berani datang telat, jika itu terjadi maka kalian akan dapat hukuman darinya.”
“Selain itu saya juga ingin memperkenalkan nona muda dirgantara, namanya adalah Alya syaraswati. Mungkin sebagian dari kalian belum tahu tentang dia, tentu saja. Karena dia bukan orang penting, melainkan hanya wanita biasa. Tapi bagi saya dia adalah wanita yang hebat, karena sudah membuat adik saya yang dingin dan pemarah ini jatuh cinta dan yang paling penting adalah mau mengelola perusahaan ini. Aku beri tahu kalian semua, Dia adalah istri SAH dari Kevin. Mereka memang menikah tanpa resepsi dan terkesan dadakan, tapi pernikahan mereka sudah terdaftar di kantor sipil.”
Dylan sengaja menekankan kata 'sah' karena dia pernah dengar beberapa karyawan membicarakan Alya yang di anggap wanita simpanannya Kevin, bahkan julukan pelakor pun tak pernah lepas darinya. Dan sebagai orang yang sudah mengenal Alya lama tentu dia merasa marah, namun dia tak bertindak gegabah.
“Jadi bagi kalian yang selalu berpikir Alya adalah gadis simpanan ataupun pelakor tolong berhenti, termasuk yang selalu membandingkannya dengan mayra!”
Mendengar ucapan terakhir Dylan, semua karyawan nampak berbisik-bisik sambil celingukan, mereka menduga-duga siapa kiranya yang berani mengatakan hal itu.
“sekian dari saya, terima kasih.”
Setelah Dylan selesai bicara, dia pun mundur. Kini giliran Kevin yang maju.
“Saya ucapkan terima kasih atas waktu yang sudah kalian berikan. seperti yang kakak saya bilang tadi, mulai besok saya adalah atasan kalian. Saya harap ke depannya kita semua bisa bekerja sama dengan baik lagi. Terima kasih.”
Semua karyawan pun bertepuk tangan, mereka memberi selamat pada Kevin dengan kelulusannya dan juga soal pernikahannya. Selesai dengan semua itu, mereka mulai membubarkan diri dan kembali bekerja.
Tak lama setelahnya Rafael langsung pamit, setelah mendapat telepon dari Hani kalau Selena dikabarkan pingsan.
Alya yang mendengar itu pun menjadi panik, dia pun meminta izin pada Kevin untuk ikut pergi dengan Rafael dan pria itu mengiyakannya dengan syarat Sean mengikutinya. Sementara dirinya, Dylan dan Kenzo akan tetap di kantor.
Selang 20 menit kemudian, aji datang. Pria itu langsung masuk ke ruangan Anaknya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Papa telat! Acara penyambutannya udah selesai.” Ucap Dylan kala melihat sang papa masuk ke ruangannya, dan langsung duduk di sofa.
Kevin juga sebenarnya sedang berada disana, hanya saja dia duduk di sofa seberang. Pria itu terlihat sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya, mengabaikan apapun yang terjadi disana.
“Tak masalah, papa hanya ingin melihat-lihat saja.” Sahut aji, lalu mata sipitnya berkeliaran menatap ruangan tersebut.
“Oh iya Kapan rencana kamu ke China?” Tanyanya kemudian.
“Besok.” Jawab Dylan singkat.
Dirinya yang saat ini duduk di singgasananya, begitu sibuk dengan tumpukan kertas dan dokumen. Di temani oleh Kenzo yang duduk di depannya.
“Gak mau bareng kami aja?”
Dylan yang mendengar itu diam Sejenak, mengangkat pandangannya untuk melihat sang ayah. Lalu kembali turun, dan berakhir tersenyum smirk.
“Gak, aku udah terlanjur janji sama Darren.” jawabnya.
Aji yang mendengar itu menghela nafas berat, seakan ia kecewa dengan jawaban dylan. lalu pandangannya beralih pada putra bungsunya, yang duduk tepat di depannya.
“Bagaimana kabar pernikahanmu, apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya.
Dylan kembali mengangkat pandangannya saat mendengar pertanyaan itu, ia melihat sang papa kini sedang menatap Kevin. Pikirannya mulai beranggapan negatif, menduga jika pria itu sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahan Kevin.
‘jika itu benar terjadi, aku bersumpah akan membunuhnya. tak perduli jika dia adalah papaku sendiri!’
Sedangkan Kevin mendengar pertanyaan aji langsung mendelik tajam, Bagaikan sebuah pisau tajam yang menancap di pohon.
“Tentu saja.” Jawab Kevin, lalu kembali fokus ke layar laptop.
“Baguslah. Saat ini seluruh dunia sudah tahu jika wanita miskin itu adalah istrimu, maka didiklah dia layaknya seorang istri dari orang terpandang.” Cetus Aji.
Kevin kembali melayangkan tatapannya ke wajah aji, begitu pun dengan aji yang langsung menatap netra bundar dan bening itu. Namun sedetik kemudian dia segera berpaling, dadanya mendadak sesak kala melihat ada diri Tamara muncul di mata Kevin.
“Papa tak perlu khawatir soal itu, dia adalah istriku dan sudah menjadi tanggung jawabku. Jadi papa tak perlu repot-repot menyuruhku untuk mendidiknya.” balas Kevin.
“Selain itu Dia punya nama lengkap, bisakah mulai sekarang anda memanggilnya dengan nama saja?”
Aji tak langsung bicara, ia mengusap tengkuknya. “Maaf, papa hanya belum terbiasa. Ya sudah kalau gitu papa pergi.”
Tanpa menunggu jawaban dari kedua anaknya, aji langsung berlalu keluar. Pria itu terlihat menghela nafas panjang, dan wajahnya prustasi. Saat tiba di lift, aji meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
“Kau ada dimana sekarang, aku ingin bertemu.”
...💐💐💐...
Mobil yang Rafael dan Alya naiki sudah sampai dirumah. setelah keluar dari mobil, kedua orang itu langsung masuk rumah dengan langkah tergesa-gesa menuju kamar di mana Selena berada.
Begitu masuk, mereka melihat sudah ada mama dan grandma. Selena terlihat duduk di kasur dengan kaki selonjoran, Dia menyenderkan bahunya di pangkal ranjang dengan keadaan wajah pucat.
“Lena, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa pingsan begini?” Tanya Rafael dengan wajah panik kala sudah duduk di sisi ranjang, tanpa ragu sebelah tangannya menggenggam tangan istrinya.
Namun Selena hanya diam saja, matanya menatap sayu wajah Rafael. Dia memang tahu pria yang dulu atasannya itu adalah pria yang sangat baik dan perhatian, tapi bukankah ini sudah keterlaluan?
Dalam kepala wanita itu muncul pikiran, Apakah sekarang suaminya itu sedang berakting sebagai suami yang sedang mencemaskan istrinya yang tengah hamil muda di depan keluarga? Tapi kenapa begitu natural sekali?
“Apa yang terjadi ma, grandma? Kenapa Selena malah diam aja?” Pria itu beralih tanya ke Marissa dan Anjeli.
“Tenanglah nak, istrimu tak apa-apa. Dia hanya kelelehan saja. Tadi juga dokter udah datang dan memeriksanya, katanya gak apa-apa.” Jawab Marissa dengan nada tenang.
Wanita itu terlihat tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Rafael yang begitu mengkhawatirkan istrinya, dirinya merasa senang.
“mas, aku gak apa-apa kok.” kali ini selena bersuara dengan lirih, dan hal itu membuat Rafael kembali menatapnya.
“serius kamu gak apa-apa?” tanya rafael.
Selena mengangguk samar. “iya mas, udah jangan panik gitu. Ini udah hal biasa bagi wanita hamil.”
“iya Rafa, apa yang Selena alami ini lumrah dan sudah biasa. Makanya mulai sekarang kamu belajar jadi suami siaga, karena di dalam perut Selena ada anakmu.” ucap Anjeli menimpali.
__ADS_1
Rafael yang mendengar ucapan neneknya hanya mengangguk patuh, sementara Selena menggigit bibirnya.
“Kakak beneran baik-baik aja kan?” tanya Alya, wajah gadis itu juga tak kalah khawatir.
Selena kembali mengangguk, namun kali ini lemah. “Iya dek.”
“Sebenarnya sebelumnya apa yang sudah terjadi? Gak mungkin kamu tiba-tiba pingsan jika tak terjadi sesuatu?” Rafael kembali bertanya.
“Tidak ada mas, aku hanya kecapekan aja. Tadi aku sempat bantu hani ngasuh Azura yang agak rewel, jadi ya gitulah.”
Mendengar hal itu Rafael menghela nafas. “Lain kali jangan begitu lagi, Azura itu udah ada orang tuanya. Lagi pula kamu juga mesti pikirkan kandungan kamu.”
“Iya mas, maaf sudah bikin kalian panik. Kamu datang sama Alya, emang acaranya udah selesai?”
Rafael mengangguk. “Iya udah selesai.”
“semuanya lancar kan raf?” Tanya Anjeli.
“iya grandma, semuanya lancar kok. Sekarang Kevin sudah resmi menjabat di ZN GROUP dan semua karyawan juga udah tahu tentang siapa alya.” jawab Rafael seraya menoleh ke arah Anjeli.
Anjeli yang mendengar itu menghela nafas lega. “syukurlah, jadi semua urusan disini sudah beres. Lalu kapan kalian akan balik ke Seoul?”
“rencananya sih besok, bareng sama Dylan juga.”
“kalau gitu sekalian aja kamu ajak Rebecca, Axel sama Juan ya. Katanya mereka mau pulang besok. Kalau grandma dan mama papamu masih ada satu hari lagi.”
“hani dan Ardian?”
“nanti malam jam penerbangannya.”
Rafael manggut-manggut mengerti. “memangnya mereka bertiga udah beli tiket?”
“belum, katanya mau langsung di bandara aja.”
“ya udah biar Rafa aja nanti yang belikan, mereka suruh siap-siap aja.”
“baiklah.”
Anjeli sudah siap ingin keluar kamar, niatnya ingin memberi tahu pada ketiga cucu bulenya untuk bersiap-siap. Namun terhenti kala Rafael memanggilnya, dan mengatakan ada sesuatu yang ingin dia bicarakan tentang bisnis.
“kalian mengobrol lah, aku tinggal dulu.” Ucap Rafael pada Selena dan Alya.
“Iya mas.”
“istirahat yang banyak ya sayang.” ucap Marissa.
“iya ma, makasih.”
Rafael pun keluar dari kamar, di ikuti oleh Anjeli dan marissa. Kini tertinggal Alya dan Selena.
“sini dek, duduk.” titah Selena saat pintu kamarnya tertutup rapat.
Alya menurut, dia pun langsung naik ke ranjang Setelah sebelumnya melepaskan sepatu hill-nya. Kemudian dia memeluk tubuh kakaknya itu.
“Gimana perkembangan soal pernikahanmu, ada kemajuan?” Tanya Selena.
“Tapi Kevin memperlakukanmu dengan baik kan? Dia gak nyakitin kamu kan?”
“Enggak kak, selama ini Kevin memperlakukanku dengan baik. Ya meskipun kadang mulutnya suka bikin aku jengkel.” Ucap Alya jujur.
Mendengar itu Selena terkekeh, dia mengusap sayang rambut Alya.
“Sifatnya dari dulu memang begitu, tapi aslinya baik kok. kamu yang sabar aja yah?”
Alya mengangguk, dalam hatinya dia membenarkan itu. “Iya kak.” jawabnya, Kemudian melepaskan pelukannya dan duduk bersila.
“Kaki kamu udah gak sakit lagi dek?” Selena nampak melotot saat melihat posisi adiknya duduk.
“Udah enggak kak, kayaknya sih udah benar-benar sembuh. Rencananya setelah urusan kantor selesai, aku dan Kevin akan pergi ke rumah sakit.”
“Baguslah, kakak senang dengarnya. Setelah ini kamu harus lebih hati-hati lagi ya, jangan pergi ke tempat gelap lagi.”
Alya mengangguk, dan mengiyakan.
“Sekarang kamu ceritakan tentang di kantor tadi, Kantornya bagus gak?”
“Bagus banget kak!”
Alya pun mulai menceritakan semuanya kecuali soal orang-orang yang menghinanya. Dia tak mau setelah menceritakan itu akan menjadi beban pikiran Selena, kandungan kakaknya itu terbilang lemah jadi Alya menghindari sesuatu yang membuat kakaknya drop.
...💐💐💐...
“papa habis darimana saja, kenapa baru pulang sekarang?” tanya sarah kala mertuanya baru menginjakkan kakinya ke dalam rumah.
Ditanya seperti itu kakek Rusman menoleh ke arah suara, ternyata asal suara itu dari ruang tamu. Disana sudah ada anak dan menantunya yang sedang duduk di masing-masing sofa panjang.
Mulut kakek Rusman sudah siap terbuka, namun tertahan oleh ucapan Bobby.
“palingan juga habis dari taman kompleks, melamun disana.” Ucapnya tanpa menatap sang ayah, pria itu nampak sibuk dengan korannya.
“papa hanya habis cari udara segar, tadi mumpung masih pagi. Sekalian jalan-jalan bentar.” sahutnya sambil tersenyum tipis.
Bobby melipat korannya, menyeruput kopinya lalu beranjak dari duduknya dan berakhir mendekati papa-nya. Ia sudah berpenampilan rapi layaknya orang kantoran.
“jangan bilang papa menangisi Ferdi lagi disana?” tanyanya curiga.
Kakek Rusman tak menjawab, pria tua itu hanya menghela nafas. Dan itu membuat si anak mendengus kesal.
“mau sampai kapan sih papa begini terus, Ferdi dan Vanesa itu udah mati! Lagian bukannya papa yang dulu mengusir mereka?” ucap Bobby mengingatkan.
“iya nak, papa tahu. Dan papa sangat menyesal akan hal itu, maka dari itu papa sekarang sedang mencari anaknya agar rasa bersalah ini bisa hilang.”
Mendengar itu Bobby berdecih. “ini udah 20 tahun loh papa mencarinya, tapi apa? sampai sekarang gak ada titik terangnya, papa yakin kalo anaknya masih hidup?”
__ADS_1
“sangat yakin!”
“kalau seandainya anaknya juga udah mati gimana?”
“mas, jaga bicaramu!” ucap Sarah.
“kenapa? Aku hanya bicara realita, jika mereka memang masih hidup harusnya ada sedikit informasi tentang keberadaannya. Tapi nyatanya gak ada sama sekali, bahkan keluarga Vanessa pun ikutan menghilang setelah insiden itu. Bisa aja kan tak lama setelah itu mereka mengalami apes dan berujung mati!”
“ya tuhan mas, kenapa kamu bicara begitu sih? Itu sama aja kamu doain mereka!”
“ini hanya seandainya saja, takdir tak ada yang tahu kan?”
“ya tapi--”
“sudah, sudah.. kalian jangan ribut.” ucap kakek Rusman melerai perdebatan anak dan menantunya.
Sebelum kembali bersuara kakek Rusman menghela nafas berat, kemungkinan itu memang ada. Namun entah kenapa hati kecilnya selalu mengatakan jika kedua cucu perempuannya masih hidup.
“dengerin papa Bobby, apa yang kamu ucapkan mungkin ada benarnya. Tapi tak ada salahnya kan berharap. Kalau pun iya mereka sudah meninggal, setidaknya papa harus tahu makam mereka ada dimana.”
Senyap sejenak, Bobby menatap wajah sang papa sambil bersedekap dada. Dirinya seakan tengah menantang pria tua itu.
“oke, kalau mereka beneran udah gak ada dan saat makamnya sudah ditemukan, apakah papa akan membatalkan hak waris itu pada kedua anaknya Ferdi?”
“sampai kapanpun papa gak akan membatalkannya, itu sudah jadi milik adikmu.”
“tapi nyatanya Ferdi itu udah mati pa, dan anak-anaknya pun tak tahu ada dimana. Masih hidup atau mati! Lagian papa itu masih punya cucu, yaitu Andreas!”
“astaga nak, kenapa kamu jadi tamak begini? andreas itu udah ada bagiannya, kamu dan Sarah juga udah dapat bagiannya. Meskipun adikmu sudah meninggal, tetap saja papa gak bisa memberikannya padamu.”
“lalu mau papa apakan bagian itu? Mau papa simpan terus sampai mati?”
“sesuai dengan janji papa pada mamamu, papa akan berikan bagian itu untuk bakti sosial.”
Ya, memang benar. Sebelum istrinya benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya, beliau memang pernah mengatakan pada suaminya agar harta bagian Ferdi tak boleh jatuh pada siapapun kecuali keturunannya. Dan jika rencana itu tak terealisasikan, maka dia akan memberikannya pada dinas sosial.
“pa-”
“udah cukup! Papa gak mau bahas ini lagi, keputusan papa tetap bulat! Jika kamu masih menginginkan bagian itu juga, maka langkahi dulu mayat papa!”
Selepas mengatakan itu kakek Rusman berlalu pergi dari ruang tamu, dia melangkah masuk ke arah kamarnya.
Sementara Bobby hanya bisa mendengkus kesal, kemudian dirinya berlalu keluar rumah sambil mentengteng tas kerjanya setelah sebelumnya berpamitan pada istrinya.
Tanpa sadar, tak jauh dari ruangan tersebut ada sosok Andreas yang berdiri di tengah-tengah ruangan penghubung antara dapur dan ruang tengah. Pria itu hanya diam sambil menyimak semua perdebatan kakek dan ayahnya.
Andreas tahu dari dulu kakeknya itu memang selalu mencari kedua anak pamannya yang dikabarkan sudah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas 20 tahun lalu, dirinya sebenarnya ingin membantu mencari tapi dia tak pernah tahu wujud kedua adik sepupunya seperti apa.
Jangankan mereka, wajah pamannya sendiri saja dia sudah lupa. Jadi bagaimana mau membantu?
...💐💐💐...
Sekitar 5 menit setelah kepergian sang papa, Andreas beranjak dari tempatnya. Dia jalan mendekati ke kamar kakeknya.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan mendapat jawaban dari dalam, Andreas menekan knop pintu tersebut dan membukanya. Di dalam sana dia melihat kakeknya berdiri di depan jendela yang memamerkan pemandangan bagian luar.
“kakek gak apa-apa kan?” tanyanya dengan suara lembut seraya jalan mendekat.
Kakek Rusman menoleh kemudian tersenyum miris. “kamu pasti sudah mendengar semuanya ya?” tanyanya.
Andreas mengangguk tanpa bersuara, dirinya memang tahu hubungan papanya dan kakeknya memang sedikit buruk setelah kejadian pamannya meninggal. Namun baru kali ini dirinya melihat langsung dua pria berbeda generasi itu bertengkar di depan matanya.
“tidak apa-apa nak, hal seperti ini sudah sering terjadi.” saut kakek Rusman, lalu kembali menatap ke jendela.
“kakek hanya berharap sebelum meninggal, kakek sudah menemukan mereka berdua.” ucap kakek Rusman lirih, tangan bebasnya nampak memegang selembar foto usang.
“kakek jangan bicara begitu, kakek itu masih sehat!”
Kakek Rusman kembali tersenyum dan merubah posisi berdirinya menghadap ke Andreas, sebelah tangannya menyentuh bahu lebar sang cucu.
“takdir tuhan tak ada yang tahu nak. Jodoh, maut dan rezeki, semuanya sudah tuhan atur. Kita sebagai manusia hanya bisa menunggu giliran.”
“aku tahu soal itu kek, aku juga sangat berharap kakek bisa hidup lebih lama lagi. Setidaknya sampai aku menikah.”
Kakek Rusman hanya bisa mengangguk sambil menunduk. Namun tak lama setelahnya dia kembali mendongak, menatap wajah tampan Andreas.
“kamu adalah cucu laki-laki satu-satunya dalam keluarga ini, kakek harap ke depannya kamu bisa menjadi orang yang berguna dan bertanggung jawab. Jangan seperti kakek, hanya karena ego malah harus kehilangan sesuatu yang berharga.”
“tentu kek, aku akan selalu ingat apapun pesan kakek.”
Senyap sejenak..
“boleh kakek minta sesuatu sama kamu?”
“apa itu?”
“jika suatu saat nanti kakek meninggal dan belum menemukan mereka, tolong kamu harus cari keberadaan kedua adik sepupumu. Jika sudah ketemu, Jaga dan lindungi mereka demi kakek.”
“tapi aku kan gak tahu wajah mereka kayak apa kek.”
“ini..”
kakek Rusman memberikan selembar foto berukuran 2R pada Andreas, di dalam foto tersebut ada dua anak kecil perempuan. Yang satu sekitaran umur 7 tahun, sementara yang satunya masih balita sekitar umur 9 bulan.
“mereka adalah saudara sepupumu, tapi kakek gak tahu siapa namanya.”
“dua-duanya gak tahu?”
“iya.”
Andreas menatap lekat foto tersebut, kedua sudut bibirnya terangkat. Pria itu menilai kedua anak kecil itu sangatlah cantik, terlebih balita perempuan yang duduk di pangkuan sang kakak. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan. dalam hati dia sudah bertekad akan mencari keberadaan mereka, Apapun yang terjadi!
“kamu mau berjanji kan sama kakek untuk mencari keberadaan mereka?”
__ADS_1
“tentu kek, bahkan sekarang pun aku akan mencari mereka.”
Kakek Rusman bahagia mendengarnya. “terima kasih nak, kamu adalah harapan kakek satu-satunya.”