TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 73~Ketakutan Kakek Rusman


__ADS_3

“apa Lo masih bisa berpikir untuk berpindah tempat disaat emosi dan nafsu udah berada di ubun-ubun, lagian gue langsung matiin lampunya kok saat melakukannya.”


“tapi mobilnya bergoyang bego!”


Setelahnya hening, dua pria itu diam dengan pikiran masing-masing.


“terus setelah ini rencana Lo apa?” tanya Rangga.


Kevin diam sejenak. “gue akan menceraikannya.”


PLAK!


Kevin langsung melotot saat Rangga tiba-tiba saja memukul kepalanya, ia menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan protes. Kedua pria yang sudah bersahabat sejak jaman TK itu saling pandang, dengan mata sama-sama melebar.


“kalau ngomong jangan sembarangan! Enak aja setelah Lo perawanin dia, sekarang Lo mau ninggalin? Otak Lo dimana, hah!” sentak Rangga.


Ia emosi dengan ucapan sahabatnya itu, tak habis pikir bagaimana bisa Kevin yang memiliki otak jenius bisa mengambil keputusan bodoh seperti itu.


Benar kata orang, Terkadang ada kalanya orang yang memiliki IQ tinggi memang suka berubah menjadi bodoh jika soal asmara, tak terkecuali apa yang di alami oleh Kevin sekarang.


“gue juga awalnya gak bakalan mau nidurin dia, tapi di saat situasi kayak gitu apa Lo bisa lawan birahi Lo sendiri? Enggak kan!” cetus Kevin membela diri. “selain itu gue taunya dia itu udah pernah lakuin, jadi gue pikir gak apa-apa. tapi nyatanya.. Arrgh!”


Kevin nampak prustasi, ia mengacak-acak rambut belakangnya, kemudian ia menunduk dengan kedua sikutnya berada di meja dan telapak tangannya memegang kepalanya.


Rangga yang melihat itu bukannya merasa prihatin, ia hanya tersenyum sinis. Namun di balik itu, hatinya merasa lega karena sedikit bebannya berkurang. Cuma Sedikit ya, selebihnya masih banyak.


“itulah kebodohan Lo Vin, selalu kalah sama emosi sesaat!” umpat Rangga dengan suara tertahan, rahangnya nampak mengeras.


Kevin yang mendengar umpatan Rangga langsung mendongak, ia menatap tajam pria di depannya seraya keningnya berkerut dalam.


“Lo jangan salahkan gue terus, Alya yang jauh lebih salah. Suruh siapa pakai drama perselingkuhan segala!” protes Kevin tak terima.


Rangga mendengus, apa yang Kevin ucapkan memang benar tapi ia juga kesal dengan sifat Kevin yang selalu mengutamakan emosi ketimbang akal sehat.


“jadi mau Lo apa sekarang, tetap mau cerai?”


“Iya.”


“Lo gak bisa seenaknya ceraikan dia Vin, kalian ini masih pengantin baru.” ujar Rangga. “ditambah kalian juga sudah berhubungan badan, bagaimana kalau nanti alya hamil?” tanyanya kemudian.


Kevin menggeleng. “kita melakukannya hanya sekali!” elaknya.


Meski tak di pungkiri Kevin merasa resah dengan kemungkinan itu, tapi otaknya selalu beranggapan kalau benihnya tak akan begitu cepat menjadi bayi hanya dalam sekali main. Ia seakan lupa jika masih ada tuhan yang bisa mengubah hal yang tak mungkin menjadi mungkin, dan pria itu juga lupa jika malam itu ia melakukannya berkali-kali.


Rangga yang mendengar itu tersenyum smirk, ia tentu tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya saat ini tapi dengan bodohnya tetap mengelak.


“mau itu melakukannya sekali atau lebih, tetap saja Alya akan hamil jika Lo buangnya di dalam!”


DEG!


Kevin langsung menegakkan badannya saat mendengar kata terakhirnya, ia menelan salivanya. Bersamaan dengan degup jantungnya terpacu lebih cepat kala mengingat jika ia memang mengeluarkannya di dalam dan itu berkali-kali.


“lagian apa Lo gak pernah baca teori tentang ****** dari pria yang belum pernah bercinta sebelumnya akan bertahan lama sampai 3 hari, dan jika Alya dalam masa suburnya maka.. itu bisa saja terjadi.”


Kevin membisu, ia memang tahu tentang teori itu namun otaknya kembali menyangkal itu semua.


“Gak! I-itu tak mungkin terjadi, gue yakin 1000% kalau dia gak bakal hamil!” ucap Kevin seraya menggeleng, berusaha meyakinkan diri.


“kalau beneran gimana?”


Lagi-lagi Kevin menggeleng, namun kali ini terlihat cepat.


Gantian sekarang Rangga yang diam, dia menghela nafas sejenak sambil menatap wajah Kevin yang nampak gundah.


“kenapa sih Vin, Lo kayaknya gak mau alya Sampai hamil anak Lo? Apa segitu bencinya Lo sama dia? Segitu fatalkah kesalahannya karena udah nipu Lo sampai Lo bertingkah seperti ini?” tanya Rangga beruntun, dengan irotasi suara emosi.


Kevin bungkam, namun netranya yang menatap netra Rangga nampak memerah dan ada sedikit genangan air.


Apakah pria itu menangis? Benarkah seorang Kevin Zayn dirgantara bisa menangis hanya karena di ingatkan dengan wanita masa lalunya, dan wanita itu yang kini menjadi istrinya?


“Gue gak benci sama dia.” ucap Kevin dengan suara seraknya.


“gak benci?” ulang Rangga, lalu ia berdecih. “kayaknya Lo lupa ya dengan ucapan Lo selama ini, setiap gue maupun Dimas mengungkit Alya, Lo selalu kelihatan marah dan berucap membencinya. Lalu sekarang apa? Lo bilang gak membencinya?” lanjutnya.


“gue memang pernah berkata begitu, tapi itu sebelum gue tahu kalau dia masih virgin. Lo pasti tahu gue paling gak suka dengan perempuan murahan begitu, karena mereka selalu mengingatkan gue dengan perbuatan mama Marissa dan papa di masa lalu.”


Hening sejenak. Rangga tentu tahu akan hal itu, dan memang benar Kevin tidak menyukai wanita yang suka menjual tubuhnya ke laki-laki hanya demi uang. Jadi wajar jika mengetahui Alya pernah tidur dengan kakak keduanya yang notabenenya adalah seorang player ia marah, namun kenapa setelah ia mengetahui semuanya malah memilih untuk meninggalkannya? Apakah perasaan yang dulu dia miliki untuk Alya benar-benar hilang?


Sedangkan dengan Marissa tidak, padahal dulu wanita itu adalah selingkuhan papa-nya, bahkan saat itu Tamara sedang mengandungnya.


“jadi Lo belum bisa menerima Tante Marissa sebagai ibu sambung Lo?” tanya Rangga.


Kevin menggeleng. “sejak dulu gue udah maafkan mereka dan menerima mama marissa sebagai pengganti mama ara.” jawabnya.


“lalu kenapa sama Alya enggak?” tanya Rangga lagi.


Kevin diam sejenak, tatapannya nampak kosong. “gue hanya kecewa sama dia, kenapa dia memilih berbohong daripada harus Jujur.” jawabnya lagi dengan nada lirih.


“dia melakukannya ada alasannya vin.”


“ya, memang. Dan alasan itu adalah karena dia gak pernah mencintai gue, selama ini dia hanya pura-pura.”


“apa maksud Lo?” Rangga mengernyit tak paham.


“dia Nerima cinta gue waktu itu hanya sekedar kasihan doang, pada kenyataannya dia sama sekali tak memiliki rasa itu.”

__ADS_1


Rangga tercengang, ia tak habis pikir kenapa sahabatnya itu bisa berpikir sedangkal itu. Meskipun Alya tak pernah mengucapkan secara gamblang tentang perasaannya, tapi karena kelebihannya yang bisa membaca pikiran orang tentu itu adalah bohong.


Lagipula dari luar saja bisa terlihat jika Alya memang masih mencintainya, tapi entah apa yang ada di dalam otak sahabatnya itu sampai-sampai beranggapan begitu.


‘Lo benar-benar bodoh Vin, bodoh!’ rutuk Rangga dalam hati, kedua tangannya yang ada di bawah meja nampak mengepal.


Ingin rasanya Rangga menonjok wajah Kevin saat ini juga dan berteriak padanya jika Alya memang mencintainya, tapi ia berusaha menahan diri.


“kenapa Lo sampai berpikiran begitu, apa semalam Alya tak menjelaskannya?”


Meski Rangga sudah tahu apa jawabannya, tapi ia tetap ingin mendengarnya.


Kevin menggeleng, membuat Rangga menghela nafas panjang. Sebisa mungkin dia terlihat tenang, meski di sisi kiri kanannya ada 2 mahluk halus yang sedang menggodanya untuk menimpuk kepala Kevin dengan Vas bunga berukuran besar yang letaknya tak jauh dari tempatnya duduk.


‘kenapa semakin dewasa dia malah berubah jadi bego begini sih, apaan coba? menafsir perasaan orang seebak udelnya! apa mata hatinya sudah tertutup rapat karena sekian lama tak terbuka, jadinya macet dan berkarat? ah.. entahlah, pusing gue..’ batin Rangga yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Kevin.


“Gini Vin, gue sebenarnya pengen bilang ini ke Lo dari lama tapi situasinya serba salah.” ucap Rangga.


“maksudnya?” tanya Kevin sambil mengernyit.


“gue gak ada hak buat berkata jujur sama Lo, mending Lo tanyakan langsung sama Alya. Tapi yang jelas dia melakukan itu karena terpaksa, ada sesuatu yang menekannya sehingga ia memutuskan untuk bersandiwara seperti ini.”


“sesuatu yang menekannya?” ulang Kevin, kerutan di keningnya semakin dalam.


Dan Rangga mengangguk, kemudian dia mencondongkan posisi duduknya. Mata sipitnya menatap mata bulat Kevin dengan intens.


“Lo masih ingat dengan tragedi malam saat ia ingin di perkosa oleh 2 preman?” tanya Rangga.


Kevin langsung mengangguk. Tentu saja ia masih ingat, itulah pertama kalinya ia melihat kembali sosok Alya setelah 2 tahun menghilang.


Sebelum ia menyusul ke lokasi dimana 2 preman itu membawanya, Kevin sudah melihatnya berdiri di pinggir jalan. Awalnya kevin pikir itu hanya sekedar mirip, namun saat ia menemui Aiden dan menceritakan keberadaannya di hotel yang sama dengannya, baru dia yakin jika wanita yang dia lihat di pinggir jalan memanglah Alya.


“itu bukanlah kejahatan yang biasa, melainkan ada yang mengaturnya.” ucap Rangga, membuat Kevin yang mendengarnya merasa kaget.


“jadi maksud Lo ada orang yang sengaja ngirim 2 preman itu untuk mencelakainya?” tebak Kevin dan Rangga mengiyakan.


“siapa?” tanya Kevin dengan mimik serius.


sejak awal dia memang sudah curiga di tambah dengan berita kematian tiba-tiba 2 preman tersebut. Namun karena tidak ada bukti kuat, jadinya ia melupakannya.


...💐💐💐...


Di dalam kamarnya, nampak kakek Rusman sedang duduk di kursi yang ada di balkon. Di sampingnya ada meja kecil yang sudah di penuhi oleh beberapa lembar foto Alya dan Selena, anak buah yang ia sewa mengambilnya dengan cara diam-diam dan dengan jarak yang sedikit jauh.


Kakek Rusman tak henti-hentinya tersenyum menatap foto dua cucunya itu, hatinya bahagia karena bisa mengetahui aktifitas mereka meski dari kejauhan.


“bahagialah terus kalian, kakek disini akan menjaga kalian dari jauh.” gumamnya.


Kalau boleh jujur sebenarnya kakek Rusman ingin sekali ketemu langsung dengan Selena dan Alya, memeluk kedua gadis itu dan mengucapkan kata maaf dengan perlakuan buruknya di masa lalu.


Walaupun itu hanya dugaannya saja, tapi Kakek Rusman belum siap menerima itu. Ia berpikir jika Alya ataupun Selena tahu jika dirinya selalu mengintai, ia takut mereka meminta suaminya untuk menghentikannya.


Kakek Rusman tentu tahu seberapa kuasanya keluarga dirgantara, mereka akan memberantas siapapun yang berani mengganggu ketentraman anggota keluarganya. Belum lagi dengan marga ibu kandungnya Kevin, maka akan semakin sulit ia bisa menjangkau aktifitas kedua cucunya itu.


Jadi selama mereka belum menyadarinya, kakek Rusman akan diam saja dan memilih memantau dari jauh. sepertinya itu bukanlah pilihan yang salah, karena dengan seperti ini Bobby tak akan tahu jika keponakannya masih hidup.


Kakek Rusman belum bisa berpikir terlalu jauh soal reaksi putra sulungnya itu, apakah Bobby akan murka dan berusaha menyingkirkan mereka atau mungkin menerima dengan tangan terbuka. Tapi yang jelas kakek Rusman tahu betul Bobby sangat terobsesi dengan kekuasaan, ia hanya takut demi mendapatkan itu semua membuatnya nekad mencelakai Alya dan Selena.


Terlebih Bobby juga memiliki sifat pencemburu sejak kecil, apapun yang Ferdinan punya, dia juga harus punya. Dan sepertinya kebiasaan itu terbawa sampai dewasa, Bobby menginginkan semua apa yang sudah hak milik Ferdinan.


Padahal baik kakek Rusman dan sang istri sudah membagi rata harta warisan, tapi Bobby tetap saja merasa belum puas.


Mungkin ini adalah kesalahannya yang terlalu memanjakan Bobby, sehingga membuat pria itu memiliki watak arogan dan suka bertingkah sesukanya. Sedangkan Ferdinan memiliki karakter pendiam dan sabar, persis seperti ibunya.


“sampai mati pun aku gak akan biarkan dia mengambil itu semua!” gumam kakek Rusman.


Diam sejenak, lalu tangan renta kakek Rusman merogoh kantong baju bagian atas dan meraih ponselnya. Ia menekan kontak bernama William, pengacara keluarganya.


[Halo, pak Rusman?] Terdengar suara berat dari seberang sana.


“willi, apa kau masih di luar negeri?” tanya kakek Rusman.


[Iya pak, saya masih di London. Urusan disini masih belum selesai.]


“emm.. begitu ya. Kira-kira berapa lama lagi?”


[Belum tahu pak, mungkin sekitar 2 bulan. memangnya ada apa?]


“aku ingin perbarui surat wasiat.”


[perbarui surat wasiat? Maaf sebelumnya, tapi boleh saya tanya alasannya?]


“kedua cucuku sudah ketemu, jadi aku mau merubahnya sedikit.”


William yang mendengar itu tentu merasa kaget sekaligus senang, selain kakek Rusman, dirinya juga sangat mengharapkan kabar tersebut.


[Benarkah? Kedua anak Ferdi sudah ketemu, mereka masih hidup?]


“iya, mereka masih hidup dan sehat.”


[Syukurlah, ya sudah nanti saya akan suruh anakku Jeremy untuk mengurusnya. Kebetulan dia sekarang lagi free.]


“baiklah, aku tunggu.”


Setelah itu panggilan terputus, kakek Rusman menghela nafas lega seraya menaruh ponselnya ke meja.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


Raut wajah kakek Rusman berubah datar saat mendengar suara ketukan, lalu ia menoleh ke belakang.


“siapa?” teriaknya, karena memang pintu kamarnya dalam keadaan terkunci.


Kakek Rusman sengaja melakukan itu, karena biasanya keluarganya suka langsung masuk. Dan ia juga sengaja duduk di balkon, karena di dalam kamarnya ada kamera pengawas yang langsung menyambung ke ponsel Bobby dan sarah.


Ia belum ingin keluarganya mengetahui keberadaan anak-anaknya Ferdi, terlebih Bobby. Sekali lagi, dia hanya takut.


“ini aku Sarah, buka dong pa.” jawab suara di balik pintu.


Kakek Rusman gelagapan, dengan gerakan cepat ia mengambil semua lembaran foto yang ada di meja. Agar tak ada yang menaruh curiga Sebisa mungkin dia berjalan santai saat masuk ke dalam kamar dan membuka laci kecil, di masukkan foto-foto itu di sana dan menguncinya. Tak lupa ia juga mencabutnya dan memasukkannya ke kantong celananya.


Setelah dirasa aman, kakek Rusman melangkah ke arah pintu, membuka anak kunci dan membukanya.


“tumben banget sih di kunci, biasanya juga enggak.” gerutu Sarah dengan kening berkerut.


“tadi papa lagi ganti baju nak, takut ada yang langsung masuk makanya papa kunci dulu.” balas kakek Rusman beralasan.


Sarah yang mendengar itu manggut-manggut percaya. “keluar yuk pa, tadi aku habis bikin kue kesukaan papa.”


Sarah langsung menarik tangan mertuanya untuk keluar kamar, dan kakek Rusman hanya bisa pasrah saja.


Sarah memang sudah biasa membuat kue atau makanan ringan, untuk sekedar mengisi jam kosongnya. Maklum saja, jika di jam kerja begini wanita itu selalu merasa kesepian. Hanya pelayan dan ayah mertuanya lah yang menjadi teman ngobrolnya, meski tak setiap hari.


...💐💐💐...


Siang pun menjelang, tepat pada jam 12 kelas yang Alya ikuti selesai. Ia mulai membereskan buku-bukunya dan alat tulisnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.


Kemudian Alya meraih kruknya dan beranjak berdiri, di ikuti oleh kedua sahabatnya. Mereka jalan bersama keluar kelas, tujuan mereka saat ini adalah kantin.


Sedangkan dari arah belakang, ada Andreas yang tengah mengejar langkahnya.


“alya, tunggu!” teriaknya, namun dihiraukan oleh si empu.


Sebenarnya sedari tadi Andreas terus meneriakinya, tapi Alya seakan tuli. Ia tetap jalan, sementara arina dan Jessica hanya bisa diam dengan mimik bingung, sambil sesekali menoleh ke belakang.


Dalam pikiran kedua gadis itu pasti ada sesuatu yang terjadi di antara Alya dan Andreas, tapi apa? Bukankah kemarin masih terlihat biasa-biasa saja, tapi kenapa sekarang sikap Alya berubah acuh dengan Andreas?


Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan mingyu, atau mungkin dengan Kevin? Entahlah, semuanya serba membingungkan.


“alya, tunggu aku!” suara Andreas kembali terdengar, dan kali ini dengan nada tinggi.


Tetap saja, Alya tak perduli. Dia tetap tak menoleh maupun berhenti, apalagi menyahut.


Jika Alya pikir dengan sikapnya begitu bisa membuat Andreas sadar diri untuk tidak mengganggunya, itu salah besar. Yang ada malah pria itu semakin menjadi, bisa di lihat dengan perilakunya yang sedari tadi terus mengejarnya.


Ckit!


Suara decitan kecil terdengar berasal dari gesekan antara keramik dan alas sepatu yang di paksa berhenti, Andreas berdiri tepat di hadapan ketiga gadis muda dengan deru nafasnya yang beraturan.


Wajah tampannya sedikit merona, dan basah oleh keringat. Mata sipitnya tak luput memandangi wajah cantik Alya, yang sayangnya menatapnya datar.


“Minggir!” desisnya.


“sebenarnya ada apa denganmu Alya, kenapa sikapmu berubah begini?” tanya Andreas dengan suara putus-putus, dadanya masih terasa sesak akibat kekurangan oksigen.


Bukan lelah mengejar langkah Alya, tapi karena memang tubuhnya sedang lemas akibat belum makan.


Pagi tadi Andreas memang sengaja tak sarapan dulu sebelum berangkat kuliah, karena hari ini ia ada jadwal pagi. Dan niatnya juga tadi ingin mengajak Alya sarapan bersama, namun ternyata gadis itu malah datang telat.


“aku gak berubah, perasaan biasa aja.” elaknya, padahal jelas-jelas dari nada bicaranya saja sudah terdengar sinis.


Andreas menggeleng. “enggak, kamu hari ini beda. Kenapa, ada masalah ya sama suami kamu? Dia nyakitin kamu, iya?” tanyanya beruntun.


“kalau iya bilang saja sama aku, biar aku kasih perhitungan sama dia!” lanjutnya dengan sebelah tangannya terkepal, lalu meninjunya ke telapak tangan sebelahnya.


Alya yang melihat itu mendelik tak suka, dia pun langsung menggerakkan kruknya ke kaki Andreas cukup keras. Membuat si empu mengaduh kesakitan, Jessica dan arina yang melihat itu melotot kaget.


Begitu pun dengan para mahasiswa yang tak sengaja melintas, mereka tak menyangka Alya bisa berbuat kasar pada orang lain. Terlebih ini pada Andreas yang di ketahui oleh orang lain masih anak baru, dan Alya tak mengenalnya sebelumnya.


“berani kamu mukul suamiku, maka kamu akan mendapatkan lebih dari ini!” ancamnya, lalu kembali memukulinya dengan kruk.


“mulai sekarang jangan dekati aku lagi, apa kamu lupa jika aku sudah punya suami?”


“aku tahu, tapi aku tak perduli! Toh, kita hanya berteman saja!”


Alya yang mendengar kata terakhir Andreas tersenyum sinis, ia tentu tahu itu hanyalah alasannya saja. Mendekati wanita dengan dalih berteman, padahal ia sedang mengincarnya untuk di jadikan pasangan.


Selama ia kuliah di Korea juga begitu, awal mendekatinya hanya karena ingin berteman saja tapi ujung-ujungnya malah memakai hati juga.


Mungkin bagi orang lain kedengarannya hal biasa, iya biasa jika laki-laki itu bukan seorang player. Alya juga tak memungkiri bahwa ia sempat terpesona dengan visual Andreas yang tampan, tapi itu hanya sekedar kagum saja. tidak lebih!


“sayangnya aku gak mau punya teman player macam kamu, maka aku sarankan berhentilah sebelum suamiku melabrakmu dan menghabisimu!”


Setelah mengatakan itu Alya melangkah pergi, tak lupa ia juga menarik tangan kedua sahabatnya untuk meninggalkan Andreas.


“jika kamu pikir setelah berkata begitu membuatku takut, tentu tidak sayang. Sampai kapanpun aku gak akan berhenti sampai kamu menjadi milikku, kalau bisa aku akan membunuh suamimu itu sekarang juga!” gumamnya seraya menyeringai.


Namun detik berikutnya ia meringis, begitu merasakan punggung dan lengannya nyeri akibat pukulan Alya tadi.


“rasa sakit di tubuh ini tak sebanding dengan rasa sakit hati ini begitu tahu kamu sudah menikah, tapi tak apa-apa. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, dan ku pastikan kau akan menjadi satu-satunya.” ucap Andreas dengan sungguh-sungguh.


Sejak awal merasakan jatuh cinta dengan Alya, Andreas memang sudah berniat akan berhenti menjadi player tapi pada saat itu dia belum sungguh-sungguh. Tapi sepertinya tidak dengan sekarang, dia berjanji pada dirinya sendiri akan benar-benar berubah dan menjadikan Alya sebagai permaisurinya.

__ADS_1


__ADS_2