
“sebaiknya kita masuk sekarang om, sebelum ada orang lain masuk!” bisik Roni, seraya celingukan dan sesekali mendongak.
Bobby yang mendengar itu mengangguk, kemudian jalan cepat ke arah pintu. Sebelah tangannya meraih knop pintu dan menekannya, kemudian mereka berdua pun masuk.
Seringaian iblisnya terbit, seraya jalan mendekat menuju brankar. Pandangannya begitu tajam menatap wajah tirus dan pucat Ferdinan, dan menyiratkan penuh kebencian.
Setelah sudah berdiri tepat di samping brankar, tanpa membuang waktu lama lagi ia langsung mencopot semua yang menempel di tubuh Ferdinan.
Dan.. akhirnya suara nyaring yang berasal dari layar monitor berbunyi, di susul dengan tubuh Ferdinan yang kejang-kejang. Namun kedua pria itu tetap tak perduli, Bobby tetap mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke kursi roda.
sang bodyguard yang kala itu sedang rebahan di sofa seketika bangun, dan jalan cepat menuju ruang inap. Dan ia kaget begitu melihat ada dua orang asing sudah berada di samping brankar, dan Ferdinan sudah duduk di kursi roda dengan tubuh yang masih kejang-kejang.
“SIAPA KALIAN!” teriaknya lumayan kencang, membuat Bobby dan Roni terperanjat kaget.
Ceklek!
“apa yang kalian lakukan dengan pak Raka!”
Keterkejutan mereka tak sampai di situ, secara serempak keduanya menoleh dan melihat ada seorang dokter pria dan suster berhijab berdiri mematung di ambang pintu.
‘Aish, sialan!’ batin Bobby menggerutu.
Sang bodyguard jalan cepat ke arah Bobby dan Roni, begitu pun dengan sang dokter yang ingin menarik kursi roda.
BUG!
sebelum benar-benar sampai, tubuh keduanya sudah terpental jauh karena mendapat tendangan maut dari Bobby dan Roni.
“Arrghtt!” kedua pria itu secara kompak mengerang kesakitan, akibat benturan cukup keras antara tubuhnya dan lantai.
Namun setelahnya sang bodyguard kembali bangkit dan langsung menyerang Bobby, mereka berdua beradu jotos. sementara sang dokter juga berusaha meraih kursi roda yang di duduki Ferdinan, namun dengan gesit Roni menghalanginya dan memberikan beberapa bogeman mentah di tubuhnya.
Terjadilah adegan perkelahian yang cukup sengit, keempat pria itu saling membalas pukulan. membiarkan kondisi Ferdinan yang sangat memperihatinkan, dan tentunya sangat mengancam jiwanya.
Sang suster yang melihat itu semua juga tak bisa berbuat banyak, ia ingin sekali menarik pasien dari sana, namun tubuhnya terpaku dan gemetaran.
Perlahan-lahan sepasang kakinya bergerak mundur, keluar ruangan lalu pergi dari sana sambil berteriak kencang.
“tolooong!”
teriakan lantang sang suster sangat menggema di sepanjang lorong tersebut, namun aksinya berakhir cuma-cuma karena situasi disana sangat sepi. Sang suster lupa kalau lantai yang ia pijaki itu, khusus pasien vip dan di fasilitasi ruangan yang kedap suara. Mau sekeras apapun ia berteriak, tak akan yang bisa mendengarnya. Kecuali jika ada orang lain melewati lorong tersebut.
Bobby yang mendengar itu sejenak berhenti, lalu melirik Roni.
“kejar dia cepat, biar dua cecunguk ini menjadi urusanku!” titah, yang langsung di angguki oleh Roni.
Dengan gerakan cepat, Roni pun berlari keluar ruangan. Mengejar suster berhijab itu yang tengah berlari menuju lift, gerakannya cukup lambat karena suster itu memakai rok panjang yang senada dengan pakaiannya.
GREP!
Roni berhasil meraih tangan suster tersebut, sedikit mencengkeramnya karena wanita itu berontak.
“lepaskan saya!” pekiknya, seraya terus berusaha melepaskan diri.
Ekspresi Wajah sang suster sangat mencerminkan kalau dirinya saat ini sangat ketakutan, karena Roni menampilkan raut iblisnya.
“jangan harap!” desis Roni tajam, lalu menarik kasar tubuh suster itu ke tembok dan berakhir mencekik kuat lehernya.
Sang suster di perlakukan seperti itu tentu saja semakin ketakutan, pernafasannya mulai berkurang selaras dengan rasa sakit di lehernya. Wajahnya mulai merona, mulutnya megap-megap akibat susah bernafas. Kedua tangannya nampak memukuli hingga menarik paksa lengan roni yang ada di lehernya, namun itu tak berhasil.
Begitu pun dengan kedua kakinya yang terlihat ini menendang aset berharga milik Roni, namun dengan gesit pria itu menyudutkan tubuhnya ke tubuh suster tersebut sambil tangannya terus mencekik lehernya.
Di sela-sela perbuatannya itu sebelah tangan Roni meraih sapu tangan yang ada di kantong bajunya, yang sebelumnya ia sudah persiapkan untuk melumpuhkan lawannya. Lalu menempelkannya di wajah suster tersebut, sedikit menekannya dan tak lama setelahnya tubuhnya melemas dan terjatuh begitu saja di lantai.
Ting!
Terdengar suara pintu lift pertanda kalau pintu besi yang jaraknya tak terlalu jauh dari Roni akan terbuka, dan benar saja. pintu lift itu terbuka, dan menampilkan 5 anggota gengnya.
“bos!” seru salah satu dari mereka, seraya jalan cepat. Di ikuti oleh keempat temannya yang mengekor di belakang, lalu pandangan mereka mengarah ke bawah dimana ada suster yang sudah dalam keadaan pingsan.
“kalian urus wanita ini, terserah mau di apakan asal buat dia bisa untuk tutup mulutnya!” titah Roni.
“siap bos!” balas kelima pria itu dengan serempak.
Setelah itu Bobby berbalik badan, jalan cepat menuju ruang inap Ferdinan bertujuan untuk membantu Bobby yang kini sedang beradu jotos dengan bodyguard Kevin.
Sedangkan sang dokter sudah terkapar tak berdaya di lantai, dengan keadaan wajahnya yang babak belur. Karena memang sebelum ia keluar mengejar suster tadi, ia sudah mengalahkan dokter tersebut.
“mungkinkah dia sudah mati?” gumamnya saat melihat tubuh Ferdinan sudah lemas di kursi rodanya.
Bodoh amatlah, Roni tak perduli mau pria itu mati atau masih hidup. Yang jelas ia harus cepat-cepat membawanya pergi dari sana, sebelum ada orang lain lagi yang datang.
Dengan segera, Roni jalan mendekati Ferdinan dan membawanya pergi dari sana. Mengabaikan teriakan bodyguard yang memanggilnya untuk berhenti, namun seketika itu pula suaranya lenyap setelah wajahnya kena bogeman dari Bobby.
Namun hal itu tak mampu membuatnya kalah begitu saja, Bodyguard berbadan kekar yang bernama Iwan itu terus saja melawan setiap serangan Bobby. Padahal wajahnya sudah babak belur, dan ada noda darah di bagian sudut bibir dan pipinya.
Begitu pun dengan wajah Bobby, bahkan tenaganya pun sudah hampir habis. Tapi pria itu tak mau berhenti, dan terus menyerang pria di depannya itu.
Kini Roni sudah berada diluar, dan sudah tak melihat anggota gengnya dan suster tadi. Ia pun segera masuk lift, dan menekan tombol paling bawah menuju baseman.
...💐💐💐...
Ting!
Pintu lift bagian baseman terbuka, dan dia langsung di sambut oleh seluruh anggota gengnya. Tidak Semuanya sih, karena masih berkurang 2 orang lagi yang entah pergi kemana.
“aman kan?” tanya Roni.
“beres bos, semuanya aman terkendali.” jawab salah satu anggota gengnya yang berbadan gempal.
Mendengar itu Roni tersenyum puas, setelahnya ia pun pergi dari sana sambil mendorong kursi roda yang di duduki Ferdinan.
“om Bobby sendiri bagaimana bos?” tanya salah satu anggota inti Zervanous.
__ADS_1
“masih di dalam mengurusi bodyguard Kevin. Sudah biarkan saja, aku yakin dia pasti bisa mengatasinya. Lebih baik kita harus cepat membawanya ke markas!” jawabnya, seraya jalan mengikuti langkah anggota geng lainnya yang sudah berada di depan.
Mendengar itu, pria yang ada disampingnya hanya mengangguk patuh saja.
“ada kabar dari lainnya?” tanyanya kemudian.
“belum bos!”
Roni mengernyit. “kenapa? Biasanya mereka selalu cepat kalau dapat tugas?”
“aku juga kurang tahu bos, pas tadi dihubungi nomornya gak aktif.”
“semuanya?”
“iya bos!”
Kernyitan di kening Roni semakin dalam, pikirannya merasa heran kenapa anggota lainnya yang mendapat tugas untuk menculik Alya mendadak tak bisa di hubungi. Atau jangan-jangan mereka mendapat masalah di perjalanan, atau mungkin mereka tertangkap?
Memikirkan itu Roni nampak menggeleng, mengenyahkan pikiran buruknya. Ia sangat percaya para teman-temannya berhasil melawan, karena ia tahu mereka sudah dibekali ilmu bela diri. Selain itu mereka juga sudah membawa peralatan yang biasanya selalu di gunakan untuk begal, jadi rasanya sangat mustahil jika mereka gagal.
Kini Roni dan teman-temannya sudah berada di luar, dua orang tengah memasukkan tubuh Ferdinan ke dalam mobil milik Bobby. Sedangkan yang lainnya sudah standby di kendaraan masing-masing, begitu pun dengan Roni yang sudah duduk manis di balik kursi supir mobil tersebut.
Roni memang tidak membawa kendaraan sendiri saat pergi ke sana, tadi dia menumpang di mobil Bobby dan meninggalkan motor sportnya di mansionnya.
Setelah memastikan tubuh Ferdinan sudah masuk ke dalam mobil dengan aman, dua anggota geng itu mulai mendekati kendaraannya masing-masing.
“jalan!” teriak Roni seraya melambaikan tangannya, memberi interuksi pada seluruh anggota gengnya untuk jalan duluan.
Satu persatu semua anggota gengnya pun mulai menjalankan motornya, meninggalkan area gedung belakang rumah sakit. baru setelah itu disusul dengan Roni yang mulai menjalankan mobil milik Bobby.
...💐💐💐...
Sementara itu di ruang inap Bobby dan Iwan masih terus berkelahi, kedua pria itu saling adu kekuatan dan keahlian bela diri. Tak perduli dengan keadaan tubuh keduanya yang sudah merasakan sakit, dan tenaganya hampir tak tersisa.
Mungkin itu hanya untuk Bobby, karena ia sudah merasakan tubuhnya melemas. Namun pikirannya menolak itu, dan terus melayangkan pukulan demi pukulan ke tubuh kekar macam biaragawan milik Iwan.
BUG!
BUG!
BRAK!
Iwan melayangkan beberapa pukulan yang sangat keras dengan ritme cepat ke perut Bobby, membuat pria itu kewalahan dan mengerang kesakitan. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang, dan sedikit membungkuk. Deru nafasnya sudah tak beraturan, dan kedua tungkainya melemas.
Bobby sejujurnya sudah tak mampu melawan lagi, namun egonya terus mendominasi. Menyuruhnya untuk melumpuhkan pria di depannya itu, namun nyatanya dia selalu kalah.
“sudahlah kau menyerah saja, sebelum saya menyerang area terfatal dari tubuhmu!” ucap Iwan yang di akhiri dengan ancaman.
Bobby yang mendengar itu berdecih, kemudian jalan maju berniat ingin kembali menyerang. Iwan yang melihat itu tersenyum miring, dalam benaknya beranggapan kalau Bobby seperti ingin mengantar nyawanya sendiri.
Baiklah, jika itu memang maunya Iwan akan lakukan dengan senang hati. Tak perlu banyak gerakan, cukup mengangkat satu kakinya dan menendang keras dada Bobby cukup membuatnya tumbang. Lalu dengan gerakan cepat, kakinya menekan dada pria itu agar tak bisa bangun.
Bobby nampak mengerang kesakitan saat dadanya tertekan, ingin membalas rasanya sudah tak sanggup lagi. Tubuhnya seakan sudah tertempel dengan lantai, bahkan untuk menggerakkan tangannya saja pun ia tak mampu.
Tak!.. Tak!.. Tak!..
Tak berselang lama, terdengar suara derap langkah sepatu dari arah luar dan muncullah sosok pria tinggi. Penampilannya hampir sama dengan Iwan, hanya saja bentuk tubuhnya sedikit lebih kecil.
Dialah bernama Yanto, kawannya yang selama ini untuk menjaga Ferdinan. Namun sejam sebelum kedatangan Roni dan Bobby, Yanto sempat minta ijin ke Iwan untuk keluar mau ke ATM. Tapi setelah kembali, dia malah terkejut dengan keadaan ruangan itu. Ditambah dengan penampilan wajah Iwan yang babak belur, dan orang yang sudah terkapar di lantai.
“astaga! Ada apa ini?” pekiknya dengan wajah kaget.
Iwan dan Bobby yang mendengar itu langsung menoleh, mereka melihat Yanto berdiri di depan pintu dengan ekspresi terkejut.
“segera kau hubungi tuan muda, bilang padanya jika pak Raka di culik!” titah Iwan.
“APA! Di culik sa--”
“kau jangan banyak tanya dulu, cepat hubungi tuan muda mumpung orang yang membawanya belum lama pergi!” potong Iwan agak kesal.
“hahahaha..”
Perhatian Iwan dan Yanto langsung berfokus pada Bobby yang tiba-tiba tertawa.
“percuma saja kalian menghubungi bos kalian sekarang, karena para anak buahku sudah membawanya pergi jauh! Dan mungkin saja saat ini dia sudah mening--Arrgh!!”
Ucapan Bobby tersendat begitu Iwan semakin menekan dadanya, dan Berakhir ia menjerit kesakitan.
“diam kau bajingan, atau mau saya bunuh sekarang juga!” sentak Iwan pada Bobby, lalu pandangannya kembali terarah ke Yanto.
“cepat kau hubungi tuan muda!” titahnya.
Yanto tak kembali bersuara, dia pun langsung meraih ponselnya yang ada di kantong bajunya dan menelpon Kevin.
[Tuan muda gawat, pak Raka menghilang!] Ucap Yanto setelah panggilannya dengan Kevin sudah tersambung.
...💐💐💐...
“gue mau balik ke villa!” ujar Rangga dengan nada tegas.
Jeremi yang mendengar itu menoleh. “kenapa? Udah bosen disini? Mau gue bawa ke tempat lain, disini banyak--”
“gak!” potong Rangga cepat, lalu bangun dari posisi duduknya.
Saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah kedai yang menjual jajanan khas Bogor, duduk di saung yang terbuat dari bambu sambil menikmati udara yang sejuk. Di depan mereka sudah ada meja kayu yang di lapisi karpet motif batik, di atasnya ada dua gelas es kelapa muda, sepiring berisi gorengan bakwan dan beberapa bungkus bekas jajanan.
Jeremi yang melihat sahabatnya sudah pergi, segera menyusul. Berusaha mensejajarkan langkahnya yang lebar, dan terkesan buru-buru.
“bayar dulu bego!” cetus Jeremi saat melihat Rangga sudah siap menaiki sepeda ontelnya, dengan gerakan cepat dia menarik kerah baju sahabatnya itu.
“Lo lah yang bayar, kan Lo yang ngajak gue kesini.” balas Rangga, seraya menyingkirkan tangan Jeremi.
“tapi tadi Lo pesan makanan banyak banget, mana yang mahal lagi. Sedangkan gue cuma es kelapa sama gorengan doang!”
__ADS_1
“jadi Lo gak iklhas nih Jajanin gue?” tuduh Rangga.
Jeremi menghela nafas. “bukannya gak iklhas ga, cuma tadi gue hanya bawa duit 50 ribu. Pasti bakal kuranglah!”
Mendengar itu Rangga berdecak kesal, dia pun langsung merogoh kantong celana bagian belakang untuk meraih dompetnya, dan berakhir mengeluarkan tiga lembar uang warna merah. Untungnya dia selalu siaga bawa dompet kemana-mana, kalau tidak mungkin mereka berdua bakal disuruh cuci piring.
“cukup gak?” tanyanya kemudian.
“mana gue tau, kan belum nanya!” jawab Jeremi, lalu mengambil uang tersebut dari tangan Rangga, kemudian melipir pergi ke dalam kedai.
Selepas kepergian Jeremi, Rangga nampak merogoh kantong celana depannya dan meraih ponselnya. Sejenak jemarinya mengotak-atiknya, sebelum akhirnya menempelkan benda itu ke telinganya.
“halo om Marvin, lagi sibuk gak?”
[Tidak terlalu, kenapa?]
“aku ingin meminta bantuan sama om, tapi dengan syarat om harus datang ke jakarta.”
Sejenak pria di seberang sana yang Rangga panggil 'om marvin' itu bisu sejenak, ia seperti tengah menimbang-nimbang permintaan Rangga.
[Apa ini sangat penting, sampai kau menyuruhku untuk datang ke Indonesia? Kau tahu kan kesibukanku disini seperti apa, dan kau juga pasti tahu konsekuensinya kalau aku tiba disana?]
“jelaslah aku tahu om, tapi ini sangat darurat.”
[Sedarurat apa?]
“ini menyangkut nyawa Alya om, keponakan kesayangan om sendiri. Masa om gak mau bantu sih?”
DEG!
Mendengar nama Alya di sebutkan membuat Marvin yang kala itu sedang berada di sebuah ruangan, sebelah tangannya nampak menggenggam senapan, mendadak membeku. Seiring dengan degupan jantungnya yang berdetak kencang, dan ia juga merasakan desiran tak asing di hatinya.
Sudah lama sekali rasanya ia tak mendengar kabar gadis kecil itu, terakhir kali ia mendengar kabar soal pernikahan diam-diamnya dengan Kevin. Setelah itu, Marvin hanya tahu kabarnya dari Jessica dan sosial medianya saja.
[Ada apa dengannya? Dan siapa yang ingin mencelakainya?]
“makanya om cepat kesini, nanti aku akan jelaskan semuanya. Oh iya, aku juga mau meminta bantuan untuk mengirim beberapa bodyguard kepercayaan om untuk datang ke Bandung, bisa?”
[Kau hubungi saja Darwis, kebetulan dia aku tugaskan untuk menjaga rumahku yang ada di Lembang. Katakan juga padanya untuk mempersiapkan semua senjata, Setelah ini aku akan terbang langsung ke Jakarta.]
“baik, om.” sahut Rangga dengan senang.
Setelah itu obrolan Rangga dengan Marvin pun terhenti, karena Marvin sendiri yang memutuskannya duluan. Kemudian Rangga kembali sibuk dengan ponselnya, berusaha menghubungi Darwis. Setelah menunggu 2 menit, panggilannya pun berhasil tersambung.
Rangga pun mulai menjelaskan tentang permintaannya, tak lupa ia juga membawa nama Marvin agar Darwis percaya. Pria itu tersenyum senang kala permintaannya terpenuhi, setelah itu ia mengakhirinya.
‘kau salah memilih lawan Roni, maka tunggulah kehancuranmu!’ batin Rangga, seraya tersenyum smirk.
Tak berselang lama Jeremi kembali datang, Setelahnya mereka pun pergi dari sana sambil menggoseng masing-masing sepeda ontel yang mereka pinjam dari tetangga.
Terlihat, kedua pria itu tak merasa kaku sama sekali saat mengendarai sepeda tua tersebut. Sangat lihai, dan seperti sudah terbiasa. Jika orang lain yang berasal dari kota pasti tak akan bisa mengendarainya, namun tidak bagi Rangga dan Jeremi.
Meski keduanya berasal dari keluarga Sultan, dan sudah terbiasa memakai kendaraan beroda empat. Mereka tetap bisa naik sepeda, karena sebelumnya mereka sering menggunakannya saat berada di area komplek rumahnya.
“woy ga, tungguin!” teriak Jeremi saat sudah ketinggalan jauh.
Pria itu nampak kewalahan saat ingin mengejar lajuan Rangga yang sangat cepat, sahabatnya itu menggosehnya dengan kekuatan maksimal.
Untung jalanan yang mereka lalui itu sudah berbentuk aspal, sehingga enak untuk di lewati. jika masih berbatuan dan penuh pasir, mungkin mereka akan sering jatuh dan tubuhnya pegal-pegal.
...💐💐💐...
Setelah memakan waktu beberapa menit di jalanan, akhirnya Rangga sampai duluan di villa. Ia segera turun dari sepeda, lalu membawanya ke halaman depan. Menurunkan standarnya, kemudian bergegas masuk ke dalam villa.
Begitu sudah di dalam, lebih tepatnya di ruang tengah. Rangga melihat sudah ada Kevin dan Dimas yang berdiri berhadapan, kedua pria itu seperti sedang membicarakan sesuatu.
“Lo gak bisa seenaknya ninggalin dia gitu aja, kalau sampai Alya nanya macam-macam bagaimana? Gue harus jawab apa?”
Suara Dimas mulai terdengar saat Rangga jalan mendekat, ia tak merasa curiga sama sekali karena memang sudah tahu letak permasalahannya.
“please lah dim, untuk kali ini aja tolongin gue. Ini darurat! Gue harus pergi.” balas Kevin.
“gu--”
“Lo gak boleh pergi Vin!” ujar Rangga dengan irotasi suara yang keras, membuat ucapan dimas berhenti begitu saja dan kini perhatian kedua sahabatnya beralih tertuju padanya.
Sejenak Kevin diam, kemudian menghela nafas. Tanpa harus dijelaskan pun, Rangga pasti sudah tahu apa yang telah terjadi.
“tapi ga, gu--”
“percaya sama omongan gue! Lo tetap disini jagain alya, karena akan kedatangan musuh disini!” potong Rangga lagi.
“musuh?”
“ya.”
Kevin bisu sejenak. “jangan bilang kalau--”
BRAK!!
“Arrrghhtt.. Tolooong!”
DEG!
Kevin tak mampu melanjutkan ucapannya setelah mendengar suara teriakan seseorang dari lantai atas, dan itu terdengar suara perempuan.
Secara serempak ketiga pria itu mendongak ke atas, dengan wajah yang sama-sama kaget.
“abaang.. Tolooong!”
Kembali terdengar suara lain, Rangga sangat mengenali suara itu.
“brengsek!”
__ADS_1