TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 29~Trauma Masa Lalu


__ADS_3

“Jangan bilang Lo datang kesini sama si seagull dan mau kabur dari pernikahan?” Tuduh mingyu sambil memicingkan matanya.


“gue sih belum ada kepikiran ke arah sana sih tapi.. bagus juga ide Lo.” sahut kevin.


dan seketika itu pula mingyu menjadi kelabakan, niat hati hanya sekedar menebak malah Kevin beranggapan memberinya ide. sontak dia pun langsung berdiri, menatap wajah Kevin dengan mata melotot.


“Yakh! Kevin, Lo jangan macam-macam deh! Gue cuma nebak doang tadi bukannya ngasih ide, lagipula Kalau bokap Lo tau bisa berabe urusannya!” pekiknya.


Kevin yang mendengar itu tersenyum licik, kemudian menepuk pelan bahu mingyu yang kala itu sedang menatapnya galak.


“gue gak P E R D U L I!” ucap Kevin menekankan kata terakhirnya.


Mingyu hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sifat Kevin yang acuh tak acuh terhadap papa-nya, sementara Jakson hanya menghela nafas pelan. Mereka tahu, hubungan antara anak dan bapak itu memang sangat buruk.


...💐💐💐...


Keesokan paginya alya bangun dari tidurnya saat merasakan aura panas menerpa wajah cantiknya, dia mengerjapkan kedua matanya dan perlahan matanya mulai terbuka.


“eunghh..”


gadis itu melenguh pelan, meregangkan kedua tangannya seraya merubah posisinya yang tadinya tidur miring kini menjadi terlentang.


“jam berapa ini?” ucapnya pelan kemudian dia melirik ke jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


alya menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat ingin bangun, tapi dia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.


“Apa sih ini?”


Pandangannya turun ke bawah, tepatnya ke area perutnya. Kelopak matanya seketika melebar saat melihat sebuah tangan kekar bertato melingkar disana, dan dalam sekejap dia langsung menoleh ke arah samping.


“Aaakkkhhh!!!” Teriak Alya lantang.


BUK!


BUK!


BUK!


Dengan gerakan cepat Alya bangun dari posisinya, mengambil bantal dan memukuli pria itu secara brutal sambil terus berteriak.


“Siapa kamu, kenapa bisa tidur di kamarku!” Teriaknya sambil terus menyerang pria itu dengan bantal, sesekali dia juga memukulinya dengan tangannya sendiri.


Merasa tidurnya terganggu pria itu mulai bangun dari tidurnya, dia terkejut begitu bangun sudah dipukuli bagaikan maling. Pria itu meronta agar Alya berhenti, namun sepertinya gadis itu tak mendengarnya.


“Hey, berhenti!” Serunya, kedua tangan kekarnya berusaha menahan serangan Alya namun selalu saja Lolos.


“Yakh! Alya, berhenti! Kamu mau jadi istri durhaka menganiaya suamimu sendiri!” Teriaknya lantang, dia mulai emosi.


DUAR!


Mendengar kata-kata itu sontak saja membuat Alya langsung berhenti, sejenak dia diam sambil menyingkirkan anak rambutnya yang menutupi wajahnya. kemudian menatap penuh wajah pria itu, yang ternyata adalah Kevin.


Tadi waktu Kevin masih tertidur sebagian wajahnya memang tertutup oleh rambut poninya yang memanjang, ditambah kepalanya ditutupi tudung Hoodie, jelas saja Alya tak mengenalinya. karena terlanjur panik mendapati ada pria asing yang tidur di ranjangnya, tanpa berpikir panjang lagi Alya langsung menyerangnya.


“K-kevin!” Pekik Alya dengan mata melotot, dia baru menyadari bahwa pria yang tidur bersamanya adalah Kevin, suaminya sendiri.


“Ya! Ini aku!” Seru Kevin sambil menurunkan tudung hoodinya, ia melirik sinis ke arah Alya dan wajahnya terlihat sangat kesal.


“M-maaf Vin, aku gak tahu kalau itu kamu! Lagian kenapa kamu bisa tidur di kamarku?” Cicit Alya.


tangannya terulur ingin merapikan rambut Kevin yang berantakan, tapi dengan kasar pria itu menepisnya.


“Kamu bilang apa, kamarmu? Hey, gadis bodoh! coba lihat dengan baik-baik, ini bukan kamarmu tapi ini adalah kamarku!” Bentaknya.


“Hah!”


Mata bening Alya mulai menelusuri setiap sudut kamar tersebut, dan benar saja kamar itu bukanlah kamar yang dia tempati. bisa terlihat dengan jelas dari tatanan barang-barang dan warna dindingnya yang bernuansa maskulin, Sementara kamar yang kemarin dia tempati itu bernuansa serba putih.


Kevin mendengus. “Harusnya aku yang nanya kayak gitu sama kamu, gimana bisa kamu bisa tidur di kamarku semalam?”


Mendengar itu Alya kembali menatap Kevin, kali ini wajahnya terlihat terkejut.


‘semalam? berarti semalaman aku sama dia tidur satu ranjang?’


Alya menggeleng. “tidak! Itu gak mungkin! Aku masih inget banget kok, setelah kamu pergi aku gak keluar kamar lagi. Dan semalam juga aku tidur di kamarku sendiri.” elaknya.


“buktinya sekarang kamu ada disini!” balas Kevin.


Alya diam, dia sedang berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam sehingga membuatnya bisa tertidur di kamar suaminya.


“atau.. Jangan-jangan kamu sengaja ya datang ke kamarku untuk menggodaku?” tuduh Kevin.


“jangan sembarangan ya kalau ngomong? Aku gak mungkin berbuat kayak gitu!” elak Alya dengan mata membola.


Kevin tak langsung menyahut, ia nampak tersenyum aneh seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Alya.


“terus ini maksudnya apa kamu pakai pakaian tipis kayak gini, kalau bukan buat menggodaku. Hm?”


Seketika itu mata Alya semakin melebar, lalu menatap ke tubuhnya sendiri. Ia menelan ludah saat menyadari dirinya memang memakai lingeri warna hitam yang sangat begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih, Penampilannya saat ini sangat seksi dan menggoda, dadanya yang montok menyembul di bagian belahan lingerie berbentuk v, ditambah dengan rambutnya yang acak-acakan.


Laki-laki manapun yang melihat penampilannya pasti akan tergoda, tak terkecuali Kevin sendiri. Sebenci-benci ia pada Alya, hakikatnya dia tetap pria normal yang memiliki nafsu tinggi. Terlebih wanita yang di hadapannya adalah istrinya sendiri, namun sekuat tenaga ia tahan dan berusaha terlihat biasa saja.


“i-ini-ini aku-” ucap Alya terbata seraya menutup belahan dadanya yang menonjol, terlebih ia kini tak memakai bra.


“maksudku bukan itu, s-semalam aku Nemu baju ini dilemari terus pengen nyoba aja tapi...”


Ucapan Alya menggantung, wajahnya pun berubah seperti baru teringat akan sesuatu.


“tapi apa?”


Alya menggeleng cepat. “en--enggak apa-apa.”


Selepas itu Alya beranjak bangun dari ranjang, merapikan rambut dan pakaiannya. Sementara Kevin yang masih pada posisinya, hanya diam memperhatikan.


“a-aku minta maaf karena sudah lancang tidur di kamarmu, setelah ini aku janji gak bakal ulangi lagi. Maaf sekali lagi.”


Setelah mengatakan itu, Alya bergegas keluar dari kamar suaminya.


Sepanjang jalan menuju kamarnya yang ada di lantai bawah tak henti-hentinya Alya merutuki dirinya sendiri, dari sekian kamar yang ada di villa itu kenapa harus lari ke kamar Kevin.


Alya sudah ingat apa yang sudah terjadi semalam dan kenapa dia bisa tertidur di kamar suaminya, itu dikarenakan ia sedang mencari tempat yang tidak bisa mendengar suara gemuruh.


Semalam memang terjadi hujan lebat, ditambah gemuruh dan kilatan petir yang terus menyambar. Selain takut gelap, ia juga takut mendengar suara Guntur dan hujan.


Ia sudah merasakan ketakutan itu semenjak SMA, dulu dia pernah di kurung oleh teman sekolahnya disuatu tempat yang gelap dan pada saat itu suasananya memang sedang hujan besar. Itulah kenapa ia selalu takut ditempat seperti itu.


...💐💐💐...


Kevin keluar dari kamarnya dengan penampilan layaknya orang kantoran, hanya bedanya dia tak membawa tas kerjanya. dia menuruni anak tangga sambil mata bulatnya melihat sekeliling villa, mencari sosok istrinya.


‘kemana dia?’ tanyanya dalam hati.


Tak berselang lama Kevin melihat sari keluar dari kamar Alya sambil membawa keranjang baju kotor, dengan cepat dia pun memanggilnya.


“Sari!” Teriaknya.


Sari mendongak karena pada saat itu Kevin masih berdiri di tengah-tengah anak tangga, dengan langkah cepat dia jalan ke dekat tangga.


“saya, tuan.”


“Dimana Alya?” Tanyanya seraya kembali melangkah.


“Nona sedang mandi, tuan.” Jawab sari.

__ADS_1


Kevin terlihat manggut-manggut, kemudian memberi isyarat lewat tangannya agar sari pergi.


Sari pun mengikuti arahan sang majikan, sementara Kevin berjalan ke arah ruang tamu. Disana sudah ada Kenzo, pria itu duduk di sofa panjang dengan laptop di pangkuannya dan secangkir kopi di atas meja.


Merasakan kehadiran Kevin, Kenzo pun menoleh dan langsung menurunkan laptopnya ke meja kaca yang ada di depannya. Dia berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Selamat pagi tuan.” Sapanya dan Kevin membalasnya dengan deheman.


“Ada kabar baru?” Tanya Kevin seraya mendudukkan dirinya di samping Kenzo.


“Ada tuan.”


“Apa itu?”


“Pagi ini tuan Aji mulai menanyakan keberadaan anda pada tuan Dylan dan tuan Rafael, dan sesuai dengan kesepakatan, mereka tak mengatakan yang sebenarnya.”


Kevin yang mendengar kata terakhir Kenzo tak bersuara, dia hanya tersenyum sinis.


“Lo udah bawa barang yang gue pinta?”


“Sudah tuan.”


Kemudian Kenzo merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berukuran sedang warna biru tosca lalu memberikannya pada Kevin dan tuan mudanya itu langsung menerimanya.


Kevin membuka kotak itu, wajahnya nampak puas dengan isinya.


...💐💐💐...


Satu jam kemudian terdengar suara pintu yang berasal dari kamar Alya, jarak antara ruang tamu dan kamar Alya memang cukup jauh tapi Kevin yang masih berada diruang tamu sambil bermain ponsel bisa mendengarnya. Dia melihat sosok istrinya itu keluar dengan memakai dress mini warna peach dengan tas selempang yang tersampir di bahu kanannya, setelah itu dia kembali menatap ponselnya.


Alya melihat Kenzo dan Kevin duduk di sofa yang ada di ruang tamu, dengan langkah pelan dan tertatih dia pun berjalan menghampiri mereka.


“Selamat pagi.” Sapanya dengan nada ceria, begitupun dengan wajahnya.


Kenzo yang kala itu sedang menatap layar laptopnya seketika menoleh.


“Pagi juga nona.” Kemudian kembali fokus ke layar laptopnya.


Sementara Kevin hanya diam saja dan tak memperdulikan keberadaan Alya, dia tetap asyik memainkan ponselnya.


Alya duduk di sofa single seberang dan letaknya tak jauh dari posisi Kenzo duduk.


“Apa kita akan langsung pergi? Tidak sarapan dulu?” Tanya Alya, matanya menatap dua pria di depannya bergantian.


Sebelum menjawab, Kenzo melirik ke Kevin.


“Em.. Maaf nona, tapi saya tak terbiasa makan di pagi hari. Biasanya saya hanya minum kopi.” Jawab Kenzo.


Alya manggut-manggut. “Oh begitu.”


Sebenarnya Alya ingin bertanya juga pada Kevin, namun begitu mengingat kejadian waktu bangun tidur, dia jadi segan.


“Buatkan kami roti panggang dan dua gelas kopi.” Ucap Kevin tiba-tiba tanpa menoleh.


Seketika pandangan Kenzo dan Alya langsung tertuju ke arahnya.


“Tapi Tuan, saya--”


Kenzo tak bisa melanjutkan ucapannya begitu melihat tangan Kevin sudah terangkat, dia segera menyudahi bermain ponsel dan memasukkan benda itu ke saku celana bahannya yang berwarna abu-abu.


“Kenapa diam saja? Tidak dengar tadi aku bilang apa?” Ucap Kevin dan kali ini dia menatap sang istri.


“K-kamu menyuruhku?” Tanya Alya sambil menunjuk dirinya sendiri, kedua matanya sedikit melebar.


“Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi? Bukankah ini salah satu tugasmu sebagai istri, yaitu melayani kebutuhan suami?”


Alya yang mendengar kata terakhir Kevin menelan ludah, entah kenapa kata 'melayani' membuatnya merinding.


“O-oh Baiklah.”


“Selamat pagi nona muda.” Sapanya.


Alya tersenyum simpul dan membalasnya. “Iya, pagi juga.”


“Nona butuh sesuatu?”


“Iya, saya mau buat roti panggang dan dua gelas kopi.”


“Maaf sebelumnya tapi untuk siapa?”


“Kenzo dan Kevin.”


Pelayan itu diam sejenak, keningnya terlihat berkerut seperti sedang berpikir. Namun sedetik kemudian dia tersenyum.


“Biar saya saja nona yang kerjakan.”


Alya menggeleng. “Tidak usah, biar aku yang buat. Kamu lanjutkan saja cuci piringnya.”


“Tapi nona, nanti tuan muda akan marah.”


“Tidak akan, lagian dia sendiri kok yang nyuruh. Sudah, kamu kerjakan pekerjaanmu saja.”


“B-baiklah, nona.”


Alya pun mulai melakukan apa yang di inginkan suaminya, dia meraih beberapa lembar roti tawar, botol selai dan pisau kecil. selesai dengan roti, dia pun mengambil dua gelas kecil dan mulai membuat kopi.


setelah semuanya sudah beres dia pun keluar dari dapur, kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi dua piring roti bakar dan dua gelas kecil kopi.


Sesampainya di sana, dia mentata gelas dan piring itu ke meja dengan pelan-pelan. Namun Saat dia ingin berbalik badan, tiba-tiba tangannya di tahan Kevin.


“Tunggu.”


“Kenapa?”


“Ganti.”


Alya mengernyit. “Apanya yang diganti?”


Jari telunjuk Kevin mengarah ke salah satu gelas kopi. “Ganti kopi ini dengan jus alpukat.”


“Loh, bukannya tadi kamu mintanya kopi?”


Kevin tak langsung menjawab, dia melepaskan tangan Alya kemudian menyenderkan bahunya ke sandaran sofa, kedua tangannya melipat di atas perut dan matanya menyipit saat menatap Alya.


“Sepertinya kamu sudah lupa ya kalau aku gak suka minum kopi?”


“T-tapi tadi kamu bilang mintanya kopi.”


“Jangan banyak alasan, cepat ganti!” Seru Kevin, sorot matanya menajam.


“Ck, Iya-iya..”


Alya kembali meraih gelas kopi itu dan membawanya ke dapur, sementara Kevin tersenyum miring sambil menatap kepergian istrinya.


Kenzo yang melihat adegan itu hanya bisa geleng-geleng kepala, dirinya tahu tuan mudanya itu sedang mengerjai istrinya.


“Kau minumlah kopi itu.” Tungkas Kevin sambil tangannya menggeser gelas isi kopi pada Kenzo.


“Maaf tuan, Tapi saya sudah kenyang.” Tolak Kenzo.


Kevin mendelik. “Gue bilang minum ya minum! Atau mau gue paksa?”


Ucapan Kevin terdengar sarkas dan tak terbantahkan, mau tak mau Kenzo pun harus menerimanya.

__ADS_1


“Tidak, tuan.” Ucap Kenzo sedikit ngeri, kemudian dia mengambil gelas itu dan meminumnya hingga setengah.


Beberapa menit kemudian Alya kembali datang dengan membawa gelas berisi jus alpukat, dia meletakkan gelas tersebut ke meja.


Kevin segera meraih gelas tersebut dan sedikit mencecapnya, keningnya terlihat berkerut.


“Terlalu manis.”


“O-oh maaf.. Sini, aku ganti yang baru.” Alya ingin mengambil gelas itu, tapi Kevin melarangnya.


“Gak perlu.”


“Tapi kamu kan gak pernah suka minuman yang manis-manis.”


Kenzo yang mendengar itu mengangguk setuju, sedangkan Kevin terlihat kaget. Dirinya tak menyangka Alya masih mengingat kebiasaannya itu.


“Nona Alya benar tuan, anda tidak boleh minum ataupun makan yang manis-manis. Ingat, anda punya riwayat diabetes.”


“Lo diam Ken! Lagian gue gak bakalan langsung mati karena minum ini.” Bentak Kevin pada Kenzo.


Alya menggelengkan kepalanya cepat. “Udah lebih baik aku ganti aja yang baru!” Ucapnya.


“Kamu tuli ya? Sekali aku bilang gak usah ya gak usah, ngerti?” Nada suara Kevin naik satu oktaf.


Di bentak seperti itu membuat Alya diam, raut wajahnya terlihat antara takut dan kaget.


Kenzo yang melihat raut wajah Alya yang pias merasa kasihan, dia pun mendekatkan kepalanya ke telinga kevin.


“Turunkan emosi anda tuan, nona Alya kelihatan ketakutan.” Bisik Kenzo, kemudian dia kembali menjauhkan kepalanya.


Namun Kevin tak bereaksi, diam tetap diam sambil menatap wajah istrinya dengan memasang wajah garangnya.


Tak mau kena marah lagi, perlahan alya berbalik badan, niatnya ingin pergi ke dapur namun lagi-lagi suaminya itu kembali menahannya.


“A-apalagi..” nada suaranya terdengar bergetar, sepertinya gadis itu benar-benar ketakutan. Mentalnya belum terbiasa menghadapi sikap baru Kevin yang baru dia ketahui.


“Mau kemana?”


“ke dapur.”


“Ngapain?”


Gadis itu menghela nafas. “Bukan hanya kamu saja yang butuh sarapan, tapi aku juga.”


‘sekaligus menghindarimu.’


“Duduk.”


Alya menggeleng cepat. “Gak mau, pasti kamu cuma mau marahin aku doang kan? Aku tahu kamu masih marah soal kejadian tadi pagi, tapi sumpah demi tuhan aku gak tahu kenapa bisa tidur disana. Untuk itu aku minta maaf, kamu bisa hukum aku setelah aku sarapan atau setelah kita sudah di Jakarta.”


Alya beranggapan Kevin bersikap seperti itu karena masih marah karena sudah lancang tidur di kamarnya, bahkan mereka tidur satu ranjang.


Kevin diam sejenak, wajahnya terlihat dingin dan sorot matanya menajam.


“Udah bicaranya?”


“U-udah.”


"Duduk!"


“Tapi-”


“Jangan membantah!”


“Iya-iya aku akan duduk tapi ini lepasin dulu.”


Tanpa berucap, Kevin melepaskan tangan Alya.


Alya ingin berjalan ke arah sofa seberang, tempat dimana dia duduk tadi. namun dia terkejut saat tangannya ditarik ke belakang dan itu membuatnya sedikit oleng. Untungnya dia bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Kini posisinya dia sudah duduk di samping Kevin.


“Kamu apa-apaan sih, main narik-narik aja!” Seru Alya namun Kevin tak berkomentar.


“Makan ini.” Titah Kevin sambil menyodorkan piring ke Alya.


“Kok aku yang makan, harusnya kan Kenzo.”


“Dia bilang udah kenyang karena minum kopi yang kamu bikin, daripada mubazir mending kamu makan aja.”


Alya pun melirik ke arah Kenzo dan pria itu terlihat mengangguk.


“Aku gak---Akkhhmm”


Tahu istrinya akan kembali menolak, Tanpa ba bi Bu lagi Kevin langsung memasukkan roti panggang itu ke mulut Alya, mata gadis itu membola karena terkejut dengan tindakan Kevin yang tiba-tiba.


Terdengar gumaman tak jelas keluar dari mulutnya, tapi yang pasti itu adalah sumpah serapah untuk suaminya.


BUK!


Secara spontan Alya memukul bahu kevin sambil memandang wajah suaminya galak, sedangkan Kevin sendiri hanya tersenyum miring. Kemudian dia memasukkan roti bagiannya ke mulutnya sendiri.


Sementara Kenzo yang sedari tadi memperhatikan tingkah pasutri itu berusaha menahan tawanya agar tak meledak, bisa habis dia kalau ketahuan menertawakannya.


Bukan hanya kehilangan pekerjaan tapi nyawanya pun bisa ikutan hilang.


Alya terlihat sedang berusaha mengunyah rotinya, karena Kevin memasukkan roti itu sekaligus. Bayangkan saja, roti tiga lapis langsung masuk ke mulutnya tanpa di jeda dan itu membuat kedua pipinya melembung.


Di sela-sela mengunyah, gadis itu melirik sinis ke arah suaminya.


‘baru aja sehari jadi suami udah kejam begini, gimana nanti!’


Seperti bisa mendengar, setelah Alya selesai bergumam seperti itu Kevin langsung balas melirik ke arahnya. Sontak saja, hal itu membuat gadis itu kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Drrrtt...


Terdengar suara getaran, Kevin segera meraba kantong celananya dan meraih ponselnya namun ponselnya dalam keadaan mati. Lalu dia melirik Kenzo.


“Hp Lo getar?”


Sama halnya dengan apa yang di lakukan Kevin, Kenzo pun langsung meraba saku jasnya kemudian menggeleng.


“Tidak tuan.”


Kini Kevin melirik ke Alya. “Berarti hp kamu yang getar.”


Tanpa berucap apapun lagi Alya merogoh kantong dressnya, dan ternyata benar, ponselnya yang bergetar. Di layar itu ada nama kakaknya, Alya ingin mengangkatnya tapi terlebih dulu dia ingin minum. Tenggorokannya mulai seret.


Tadinya dia ingin pergi ke dapur tapi dia urungkan begitu melihat gelas jus alpukat yang masih penuh, sesaat dia melirik Kevin yang kala itu sibuk mengunyah sambil matanya lurus ke depan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat dia pun mengambilnya dan meminumnya sampai tandas.


Kevin yang melihat itu pun tercengang, kedua matanya melebar.


“Hei, Kenapa kamu minum minumanku?” Tanya Kevin dengan nada tinggi.


“Tenggorokanku seret gara-gara makan roti tadi.” Jawab Alya santai sambil meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja.


“T-tapi kenapa di habiskan!”


Alya mengelap sudut bibir dengan jari jempolnya, kemudian tersenyum simpul.


“Biar kamu gak bisa minum jus alpukat yang manis ini, jaga kesehatanmu baik-baik suamiku.. karena aku gak mau jadi janda muda.”


Setelah mengatakan itu Alya segera berlalu pergi ke arah samping villa tanpa memperdulikan raut wajah suaminya yang kesal karena omongannya.

__ADS_1


“Ya! Sudah habiskan minumanku, sekarang malah mendoakan aku cepat mati! Dasar istri sialan!”


__ADS_2