
“Kak, kok diam sih? Beneran Chandra mau tanggung jawab?”
“Emm.. Al, mending kamu mandi Dulu sana, badan kamu bau banget.” ucap Rendy berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Eh, masa sih bau.” Alya mencium ketiaknya, dan seketika keningnya berkerut dengan bibirnya monyong hampir menyentuh hidungnya, kemudian nyengir kuda memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi.
“Iya bau, Ya udah aku ke kamar dulu.” ucap Alya kemudian langsung ngibrit ke kamarnya.
Melihat itu Selena kembali berteriak. “ALYA, JANGAN LARI! KAKI KAMU MASIH BELUM SEMBUH!”
seketika itu pula, Alya kembali berhenti dan berjalan pelan.
“Ya ampun anak itu.” Gerutu Selena.
Setelah Alya pergi, Rendy langsung bertanya pada selena. “Apa yang sudah terjadi sama Alya Len, kenapa kakinya diperban begitu?”
“Dia gak ngomong sama kamu?” Ucap Selena balik nanya.
“Dia bilang keserempet mobil, apa itu benar?”
Selena diam sejenak, kemudian mengangguk. “Benar.”
“Ya ampun, kenapa bisa begitu sih?”
“Namanya juga lagi apes.”
“Tapi gak parah kan?”
“Ya Lumayan, tulang keringnya ada yang patah.”
“Terus kenapa kamu membiarkannya keluar rumah?”
Selena menghela nafas. “Aku sudah melarangnya, tapi kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia.”
Kali ini Rendy yang menghela nafas, sebelah tangannya memijat pelipisnya. “Ya ampun, kenapa sejak kalian datang kesini kesialan selalu saja datang. Kemarin kamu kepergok Renata, sekarang alya kecelakaan. Entah besok apalagi.”
Selena yang mendengar itu hanya diam, sambil menggigit bibir bawahnya.
“Terus sekarang gimana, kamu mau jujur sama dia dengan persyaratan yang Rafael ajukan?” Ucap Rendy lagi.
“Iya. tapi sebenarnya aku agak kurang setuju dengan ide Rafael ini, masa iya aku harus korbanin masa depan adikku demi kepentinganku sendiri.”
“Ya mau gimana lagi, ini adalah jalan satu-satunya agar nama kamu bersih dari segala tuduhan yang Renata ucapkan.”
“Tapi ren kalau kita mengikuti rencananya bagaimana dengan hubungan Alya dan Andreas?”
“Andreas siapa?” Tanya Rendy dengan kening berkerut, dia seakan asing dengan nama itu.
“Itu loh Andreas, cowok yang suka nganterin Alya pulang.”
Rendy terdiam, dia ingat dengan pria yang Selena maksud. Memang Alya sering di antar pulang oleh Andreas dan setiap dia tanya apa hubungan mereka berdua, Alya hanya menjawab kalau mereka hanya berteman saja.
“Memangnya mereka beneran pacaran?”
“Setau aku sih gitu, soalnya mereka sering jalan berdua.”
“Ya ampun Len, Sering jalan berdua itu bukan berarti pacaran, bisa aja mereka hanya berteman.”
“Tapi Andreas pernah mau melamar Alya loh.”
“Hah, serius? Kok kamu gak cerita?”
“Udah beberapa bulan yang lalu sih, Aku waktu itu lagi sibuk karena kebanjiran job jadinya gak sempat cerita.”
“Alya sendiri yang ngomong sama kamu?”
Selena mengangguk. “Iya, katanya pria itu ngelamarnya di kampus. Di depan semua mahasiswa dan dosen, gila gak tuh.”
“Terus selanjutnya gimana, Alya terima?” Tanya Rendy serius.
“Sayangnya Enggak, padahal cowoknya ganteng banget dan kelihatan baik.”
“CK! Jangan menilai seseorang dari luarnya aja, bisa aja itu hanya tipuan. Contohnya pacarmu itu!”
Selena yang mendengar itu langsung diam.
...💐💐💐...
Sementara itu di kediaman keluarga dirgantara, tepatnya diruang keluarga terlihat 3 pria tampan tengah duduk di masing-masing sofa.
BRAK!
Dylan tiba-tiba menggebrak meja kaca yang ada di depannya, sampai membuat Kevin yang duduk di dekatnya terlonjak kaget. Kakak keduanya itu terlihat marah dan baru kali ini dia bisa melihat seorang Dylan yang biasanya selalu terlihat tenang dan murah senyum, kini berubah seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Beberapa menit setelah Rafael kembali dari rumah Selena, pria itu mengatakan pada Dylan jika dia akan menikahi Selena.
Mendengar itu sontak saja Dylan terkejut, pasalnya selama ini kakaknya itu selalu menghindar jika membicarakan soal pernikahan. beberapa kali dia mencoba mengenalkan teman wanitanya, berharap Rafael bisa membangun hubungan serius dengan salah satu wanita itu. Namun sayang, tak ada satupun wanita yang dia kenalkan cocok dengannya.
Dan sekarang, tak ada angin tak ada hujan kakaknya mengatakan akan menikah! Yang lebih membuatnya terkejut lagi wanita itu adalah Selena. Belum sampai di situ, Rafael juga mengaku jika dia yang menghamili Selena.
“Ini Gila! Bagaimana bisa Lo berbuat sebejat ini bang!?” Tanya Dylan pada Rafael dengan suara meninggi.
“Semuanya bisa dilakukan jika hati sudah berbicara.” jawab Rafael dengan tenang, mata elangnya menatap datar wajah Dylan.
Jika sedang begini, Rafael terlihat mirip seperti aji namun dengan wajah Tamara. Aji selalu berbicara santai, namun tatapan matanya menajam bagai ujung tombak.
“gue Gak percaya kalau Selena beneran hamil anak Lo, jelas-jelas pas gue tanya dirumah sakit dia bilang hamil anaknya Chandra! kenapa sekarang Lo yang ngaku-ngaku, hah?”
“Waktu itu kami sedang bertengkar, karena Gue masih syok dan belum terima kalau dia hamil jadinya-”
“Jadinya Lo minta untuk menggugurkannya, iya kan?” Potong Dylan cepat, wajahnya sudah merah padam serta kedua tangannya mengepal kuat menahan geram.
Rafael hanya diam dan menundukkan pandangannya kemudian mengangguk.
“Brengsek!”
BUKK!
Dylan langsung bangun dari duduknya, lalu melayangkan Bogeman mentah di pipi Rafael sehingga wajah pria itu berpaling, terlihat darah segar keluar dari sudut bibirnya. Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun, darahnya mendidih saat mengingat ucapan Selena yang mengatakan kalau pria yang menghamilinya tak mau bertanggung jawab dan menyuruhnya untuk membunuh janinnya.
__ADS_1
Dia percaya jika pria itu adalah Chandra karena memang Dylan sudah tahu tentang kehidupan pria itu seperti apa. Chandra sering keluar masuk club', mabuk-mabukan dan main wanita. bahkan hampir setiap hari dia melihat Chandra bermalam di salah satu hotel miliknya yang memiliki cabang di Jakarta dengan wanita yang berbeda. namun ternyata salah, bukan Chandra pelakunya melainkan kakaknya sendiri.
“Lo beneran bajingan bang! Gue gak nyangka Lo bisa sebrengsek itu!” Bentak Dylan dengan lantang, ada kilatan kemerahan di bawah matanya.
“Kalau Lo gak mau punya anak, kenapa gak Lo lakukannya sama pelacur, hah!”
Rafael tetap diam dan tak bersuara. Dylan geram, dia bangun dari posisi duduknya, jalan lebih dekat, lalu mencengkram kuat kerah jas kakak sulungnya sehingga membuatnya berdiri, kobaran api yang sangat besar terpancar di kedua matanya dan kabut putih mulai keluar dari tubuhnya.
“Kenapa Lo diam saja, hah? Apa sekarang Lo mulai bisu!”
Sebelah tangannya yang terkepal sudah terangkat ingin kembali melayangkan pukulan ke wajah kakaknya namun dengan cepat Kevin menahannya, dia bergerak ke tengah, berusaha menjauhkan tubuh Dylan yang ingin kembali menyerang rafael. Kakak keduanya itu terlihat kalap dan tak bisa mengontrol emosinya, namun sekuat tenaga pria itu terus berontak.
“Lepaskan!! Gue mau kasih si brengsek ini pelajaran!” Teriak Dylan lantang sehingga urat lehernya muncul.
Para pelayan yang ada disana melihat adegan itu, namun tak berani melerai. Wajah mereka antara ketakutan dan terkejut, sepertinya mereka juga sama seperti Kevin yang tak pernah melihat Dylan se emosi ini. Bahkan saat sang papa selalu menghinanya dengan kata-kata kasar tiap berkunjung ke rumah itu, Dylan memilih diam.
“Kontrol emosi Lo! Gue tau apa yang Lo rasakan, tapi kekerasan tak akan menyelesaikan masalah. lagipula dia sudah mengakui kesalahannya dan akan bertanggung jawab! Lalu Masalahnya apalagi?” Ucap Kevin dengan nada tak kalah tinggi.
Senyap seketika, diruangan itu hanya terdengar deru nafas mereka yang tak beraturan.
“Yang perlu kita pikirkan adalah tentang reaksi papa dan mama nanti!” Ucap Kevin lagi.
Dylan langsung diam, otaknya mencoba mencerna ucapan Kevin. Benar, Rafael memang sudah mengakuinya dan akan bertanggung jawab. keluarga Selena juga sudah menerimanya, Kini tertinggal satu masalah yaitu orang tuanya.
Perlahan Dylan melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh kakaknya sampai terduduk.
“Lalu setelah ini apa rencana Lo?” Tanya Dylan pada Rafael.
“Apalagi selain kasih tahu papa mama.” Kevin yang menjawab, karena kakak sulungnya hanya diam saja. Wajahnya nampak gusar.
“jangan kasih tahu mereka sekarang.” Ucap Rafael, dan itu membuat kedua adiknya menatapnya tajam.
“Kenapa?” Tanya Kevin dengan kening berkerut.
“Jangan bilang Lo mau kabur?” Desis Dylan. “gue bersumpah akan mengejar Lo, sampai ke ujung dunia sekalipun!” Cetusnya.
“Enggak, gue gak akan kabur. gue akan pulang ke Busan dulu untuk kasih tau semuanya secara langsung. Tapi sebelum itu..” ucapan Rafael menggantung, dia menatap wajah Kevin.
“Lo harus melakukan rencana yang kedua.”
mendengar itu Kevin terlihat mengangguk. “Lo tenang aja.”
Sementara dylan menatap adik dan kakaknya dengan tatapan bingung, dia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan.
“Kalian ini bicara apa sih? Rencana? Rencana apa yang kalian maksud?”
Rafael melirik sekilas ke arah Dylan dan tanpa menjawab, dia berlalu pergi. begitupula dengan kevin, dia pergi keluar rumah meninggalkan kakak keduanya yang masih kebingungan.
“YAKH!!” teriak Dylan, berharap dia mendapat jawaban namun nihil. kakak dan adiknya tak menghiraukannya.
...💐💐💐...
Kevin memarkiran mobil mewahnya di depan gedung apartemennya, tempat selama dua tahun ini dia tinggali. sejak dia kembali dari Inggris, Kevin memang sudah tidak tinggal dirumah orang tuanya yang kini ditinggali oleh dylan.
Bukan karena tak betah, jujur dia ingin sekali tinggal disana. Biar bagaimanapun rumah itu adalah rumah peninggalan mama kandungnya, namun sejak dia mengetahui kalau Marissa bukanlah ibu kandungnya beberapa tahun yang lalu, membuatnya sedikit tak nyaman. Terlebih dia juga ada masalah pribadi dengan kakak keduanya, jadi dia memutuskan membeli apartemen dan tinggal disana.
Saat awal mengetahui kalau Marissa bukan ibu kandungnya Kevin sempat membencinya, dia berpikir ibunya meninggal karena kehadiran wanita itu. Menurut cerita dari grandmanya, Marissa dan Tamara dulunya adalah sahabat, mereka sudah berteman sejak masuk kuliah semester pertama.
Namun siapa sangka, sahabat yang selama ini sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri ternyata menikungnya dari belakang. Suami dan sahabatnya diam diam bermain api hingga menghasilkan anak, yaitu Dylan.
Kevin yang pada saat itu masih berumur 15 tahun, masih belum bisa berpikir jauh. Dia masih labil dan belum sepenuhnya menerima keadaan yang sebenarnya. Di tambah sang grandma selalu mengompornya jika gara-gara Marissa lah ibunya bisa meninggal, wanita itu selalu mengatakan jika ibunya sakit hati atas penghianatan ayahnya sehingga Tamara memutuskan bunuh diri. Padahal kenyataannya tak seperti itu, Tamara meninggal murni karena pendarahan saat melahirkannya.
Fandy yang jengah melihat cucu bungsunya selalu diracuni oleh besannya untuk membenci Marissa akhirnya turun tangan, dia tidak membela Marissa ataupun menyalahkan aji. Sebagai orang tua dia memang menyesal tapi perbuatan Anjeli tidaklah benar, meracuni anak remaja dengan masalah orang tuanya. Fandy takut mental cucunya akan terganggu, dan yang lebih parah ketika dewasa nanti Kevin takut dengan dunia pernikahan.
Lambat laun dengan bertambahnya usia Kevin mulai menerima kehadiran Marissa sebagai ibu tirinya, begitupun menerima Dylan yang dikira kakak kandungnya ternyata kakak tiri. Dia selalu teringat dengan kata-kata kakeknya untuk jangan pernah membenci ayahnya dan juga jangan menyalahkan Marissa, Kevin juga selalu ingat dengan perkataan kakak sulungnya jika semasa kecil Dylan yang selalu menjaganya di kala dia sedang pergi sekolah ataupun bekerja, dan saat dia sakit orang pertama yang mencemaskannya adalah Marissa.
...💐💐💐...
Kini Kevin sudah masuk ke dalam apartemennya, dia melihat Kenzo sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah sambil menatap serius layar laptopnya yang sedang menayangkan sebuah video sambil Jemarinya terus bergerak menekan keyboard.
Kenzo memang sudah biasa keluar masuk ke apartemen Kevin, bahkan dia sering tidur disana.
“Udah Lo lakuin apa yang sudah gue perintahkan?” Tanyanya sambil jalan mendekat.
“Sedang saya proses, tuan.” Jawabnya seraya menoleh sekilas ke arah kevin.
Sambil menunggu Kenzo, Kevin berjalan ke arah dapur. Membuka kulkas, mengambil botol anggur yang cukup besar. Kemudian dia kembali menutup pintu kulkas tersebut, lalu melangkah ke meja bar, tangan kekarnya meraih gelas berukuran sedang yang berada disana dan menuangkan minuman itu disana kemudian meminumnya.
Selang beberapa saat Kenzo sudah selesai dengan tugasnya. “saya Sudah selesai, tuan.” Ucapnya.
Mendengar itu Kevin langsung meletakkan gelas yang tadi dia genggam ke meja bar, lalu berjalan ke tempat Kenzo dan duduk di sampingnya, pria itu menggeser laptopnya untuk menghadapkan ke arah Kevin.
Kevin yang melihat isi video itu nampak jijik, namun dia tetap menontonnya. “Bagus! Segera Lakukan langkah selanjutnya, gue mau semuanya beres sebelum pernikahan itu terjadi.”
“Baik, tuan.” Ucap Kenzo, lalu kembali menggeser laptopnya menghadap ke wajahnya sendiri.
Jeda sejenak, Kenzo melirik ke arah Kevin yang sedang menyenderkan kepalanya disandarkan sofa sambil matanya terpejam.
dua jam yang lalu dia mendarat di Jakarta, dia tak langsung pulang ke apartemennya melainkan pergi ke rumah kediaman Alya untuk mengantar Rafael. Dia memang sengaja tidak ikut masuk dan lebih memilih menunggu di dalam mobil dan istirahat sejenak disana. Saat kakaknya sudah selesai dengan urusannya, dia ikut pulang ke rumah utama.
Sebenarnya Rafael sudah menyuruhnya untuk pulang ke apartemen, tapi dia menolak. Pasalnya kakak sulungnya itu ingin bicara dengan kakak keduanya soal masalah ini, Kevin khawatir jika dia tidak ikut, kedua kakaknya akan berkelahi. Dan ternyata benar, mereka benar-benar berkelahi. Namun untungnya kakak sulungnya itu tak melawan, walaupun wajahnya tetap memar karena tinjuan Dylan.
“Maaf tuan sebelumnya, jika kita menyebarkannya Ke media apa tidak keterlaluan?” Tanya Kenzo hati-hati.
Kevin terlihat menggeleng tanpa merubah posisinya. “Menurut gue enggak, dia memang pantas mendapatkannya. Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dari gue.”
“Tapi hal ini pasti akan berdampak buruk pada perusahaan, tuan tidak lupa kan dengan ancaman tuan Ryan?”
Kevin menyeringai, kemudian dia membuka matanya dan menoleh.
“Lo tenang aja Ken, perusahaan kakek gak akan hancur. Malah sebaliknya! memang gak cepat tapi gue pastikan perusahaan mereka perlahan-lahan akan gulung tikar, karena poin utama mereka udah gue pegang! Lo ngerti kan maksud gue?”
Kenzo mengangguk. “Iya, tuan.”
“Lalu soal nona Mayra sendiri bagaimana? Apa tuan tidak khawatir jika nanti-”
“Ken, bisa tidak Lo gak usah banyak komentar dan cukup lakukan apa udah gue suruh?” Potong Kevin cepat.
Mendengar itu Kenzo langsung menunduk. “Maafkan kelancangan saya tuan.”
__ADS_1
Kevin menghela nafas kasar. “Gue ngerti, Lo pasti kasihan sama dia. Tapi juga lihat-lihat dulu orang yang mau Lo kasihani kayak apa, masih layak atau tidak.”
“Tapi tuan, nona Mayra kan bukan-”
“Iya Ken gue tahu, tapi mau bagaimana lagi. Gue juga gak selamanya diam kan?”
Mendengar itu Kenzo mengangguk paham.
“Ya udah Cepat lakukan!”
“Baik, tuan.” Setelah itu Kenzo kembali fokus pada layar laptopnya.
Beberapa menit kemudian.
“Videonya sudah siap, apa tuan ingin menyebarkannya sekarang?”
Kevin menggeleng. “Jangan dulu, nanti saja. Lo kirimin aja copy-annya ke gue.”
Kenzo mengangguk patuh.
“eh, ngomong-ngomong Ada kabar baru apa dari Alya? Apa dia masih dirumah sakit?” Tanya Kevin sambil melepas jaketnya, kemudian menyampirnya ke sandaran sofa.
“Ada tuan, Nona Alya sudah keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. sebenarnya dokter Samuel melarangnya karena cedera di kakinya masih parah tapi dia memaksa. Dan tadi pagi dia sudah masuk kuliah.” Jelas Kenzo.
Kevin yang mendengar itu menghela nafas, dia kembali menyenderkan bahunya ke sandaran sofa.
'dia memang keras kepala.' batinnya.
“Saya juga dapat kabar baru dari dua preman itu tuan.”
“Apa itu?”
“Mereka dikabarkan meninggal.”
Seketika Kevin menegakkan badannya dan matanya membola.
“What! Lo serius?” Tanyanya yang langsung di iyakan oleh Kenzo.
“Terus.. Lo udah dapat info siapa dalang di balik itu?”
Kenzo menggeleng. “Tidak tuan, sepertinya ini hanya kejahatan biasa.”
Kevin terlihat ragu. “Ya udah lah Lo boleh pergi, gue mau istirahat dulu.”
“Baik, tuan.”
Setelah itu Kenzo menutup layar laptopnya, beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi.
Drrrttt..
Tak berselang Lama Terdengar ponselnya bergetar, dia merogoh kantong celananya dan meraih benda pipih itu, dilihatnya ada nama mingyu disana, temannya waktu SMP.
“Ya.” ucap Kevin malas setelah menerima panggilannya.
[Halo bro, dimana Lu?]
“apartemen.”
[Emm.. gue baru aja dapat undangan pernikahan Lu nih. Gila yah gak nyangka Gue Lo bakal nikah muda, mana sama Mayra lagi. padahal dulu Lo selalu nolak dia.]
Kevin menghela nafas kasar. “Kalau gak ke paksa juga Gue ogah nikah sama dia!”
Mingyu terkekeh geli mendengarnya, dia seakan bisa membayangkan wajah prustasinya Kevin saat harus menikahi Mayra, gadis yang sejak dulu dia benci.
Sejak SMP, Mingyu, Kevin dan Mayra pernah satu sekolah bahkan satu kelas dan dia tau jika wanita itu dari dulu selalu mengejarnya namun Kevin tak pernah menganggapnya ada, bukan hanya Mayra saja tapi seluruh siswi juga mengaguminya namun Kevin sangat sulit di dekati karena sifat cueknya.
Melihat sikapnya yang selalu Acuh terhadap wanita, mingyu sempat berpikir bahwa Kevin tak akan pernah bisa jatuh cinta pada wanita. bahkan dia sempat mengira kalau Kevin adalah gay. selama ini mingyu tak pernah melihat Kevin dekat Ataupun sekedar berteman dengan wanita, namun ternyata pikirannya salah.
Mingyu pernah dapat kabar dari temannya yang kebetulan satu SMA dengan Kevin bahwa pada masa itu Kevin sudah memiliki kekasih, namun temannya itu tak menceritakan secara detail. saat dia kembali ke Indonesia dan menanyakan soal itu ternyata mereka sudah putus, dan menurut kabar wanita itu langsung menghilang.
[Ternyata benar yah apa kata orang Kalau jodoh gak bakal kemana.] ucap mingyu sambil cekikikan.
“Berisik Lo! kalau tujuan Lo nelpon Gue cuma mau bahas dia mending gak usah nelpon!”
[Elah gitu aja marah, iya deh iya Gue gak bakal bahas dia lagi. Oh iya, selain gue dapat undangan nikahan Lo gue juga dapat undangan dari anak-anak nih, Lo dapat gak?]
“Gak!”
[Masa sih enggak, padahal kata si Bryan semua dapat, termasuk Lo. Di grup juga udah ramai.]
“Emang undangan apaan sih?”
[Biasa balapan, udah lama juga Lo gak ikutan balapan lagi kan? Eh, jangan deh Lo kan lagi di pingit. Kata orang tua jaman dulu calon pengantin gak boleh kemana-mana dulu sampai hari-h, kalau dilanggar pamali katanya.]
“Ck! Jaman udah modern gini masih aja Lo percaya gituan, sekalipun iya Gue gak perduli.”
[Jangan gitulah Vin, meskipun Lo gak menyukainya sekiranya hargailah perasaannya. Emangnya apa yang salah sih sama Mayra? Menurut gue dia gadis yang baik dan manis.]
Kevin mencebikkan bibirnya. “Itu menurut Lo karena Lo belum tau sifat aslinya! udah ah kenapa bahas dia sih, gak penting banget!”
[Iya iya gue gak bahas lagi, susah memang ngomong sama orang yang gagal move on mah.]
“Bangsat! Lo Mau Mati Ya!” Bentak kevin.
Mingyu langsung tergelak.
[Hahaha.. iya-iya marah-marah Mulu Lo, Cepat tua! entar gak bisa lakuin malam pertama lagi.]
“kayaknya Lo benar-benar pengen gue pukul ya!”
mendengar itu bukannya merasa takut, mingyu malah kembali tertawa bahkan lebih keras.
[Hahaha.. Jadi gimana Lo mau ikutan Gak?]
“dimana?”
[Malam ini Jam 10 Ditempat biasa.]
“oke, gue bakal datang.”
__ADS_1