TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 91~Menyusul


__ADS_3

“hyeong, kami pinjam kakak ipar dulu ya. Gak lama kok, palingan sore juga udah balik.” seru Ardian, suaminya Hani dari dalam mobil.


“oppa tenang saja, kami akan menjaganya dengan baik.” balas Hani menimpali, ia duduk di jok sebelah.


Di pangkuannya sudah ada azura, bayi montok itu hanya diam dengan mulutnya yang sudah disumpal dot.


Rafael yang mendengar itu mengangguk, lalu jalan mendekati mobil Ardian.


“kalian hati-hati.” ucapnya kemudian.


Setelah mengiyakan ucapan Rafael, Ardian kembali menancap gas dan berbalik arah. Meninggalkan pekarangan luas rumah dirgantara.


“om gak tahu kalau mereka lagi ada di Busan.” ungkap Haris setelah Rafael kembali duduk di kursinya.


“aku juga awalnya gak tahu om, kalau Hani gak nelpon Selena semalam.” balas Rafael.


“ada urusan apa mereka kesini?” tanya Haris.


“katanya sih Ardian ada tugas 5 hari di daerah sini, dan mungkin Hani sengaja ikut karena ingin liburan juga sekalian mampir. Lagian aku kasihan juga sih sama dia, selama menjabat jadi CEO di agensi dia gak pernah cuti panjang. Sekalinya dapat pas lahiran aja, itu juga gak sampai sebulan.”


Haris dan Edwin yang mendengar itu manggut-manggut saja, dan memaklumi.


“kayaknya mereka sangat akrab ya bos?” tanya Edwin.


“pakai tanya lagi, jelas saja akrab. Orang Hani bosnya, ditambah dia juga dari dulu sangat mengidolakan Selena. Bagaimana tidak akrab coba?” jawab Haris.


Edwin terkekeh. “iya juga ya, saya lupa soal fakta itu.”


“padahal masih muda, tapi sudah pelupa. Kamu sama bosmu itu sama saja.”


“itu tandanya kami sudah jodoh pak, dalam artian pekerjaan.”


“hahaha.. ada-ada saja kamu ini. Terus kamu sendiri kapan menikahnya, gak iri apa sama bosmu? Bentar lagi dia mau jadi bapak Loh.”


Edwin menggeleng. “tidak pak, saya masih pengen fokus ke pekerjaan dulu. Kumpulin duit yang banyak, dan bahagiakan keluarga. soal cewek mah nanti saja.”


“jangan begitu dong, yang ada nanti kamu jadi bujang lapuk. Kan sayang, punya muka ganteng tapi gak di manfaatin.”


“om jangan salah, dia banyak gebetannya.” celetuk Rafael.


“oh ya?”


“bos jangan fitnah dong, mana ada saya punya gebetan. Kalau yang suka memang banyak, wajarlah kan saya lebih ganteng dari bos.” ujarnya, seraya kedua alisnya naik turun dan menyeringai tipis.


Rafael yang mendengar itu berdecih, kemudian terkekeh. Di ikuti juga oleh haris.


“Oh iya raf, gimana soal barang produksi kantormu itu. Apa sudah ada jalan keluar?”


Mendengar pertanyaan Haris membuat Rafael diam sejenak, lalu menghela nafas. “gak ada cara lain selain kita harus membelinya dari perusahaan itu.”


“selama ini kamu sudah coba kan, tapi selalu gagal. Beberapa hari yang lalu om juga Dylan sudah berusaha tapi hasilnya tetap sama, mereka tak mau memberikannya.”


Rafael kembali menghela nafas, begitu pun dengan Edwin. Berupaya keras mereka lakukan agar permintaan Fandy yang menginginkan barang terbitan zeous grup bisa kembali, namun semuanya berakhir sia-sia.


“hanya Kevin harapan kalian satu-satunya, om yakin tak harus keluar tenaga banyak dia pasti bisa melakukannya.”


“om benar, untuk saat ini hanya Kevin yang bisa kita andalkan. Tapi masalahnya disana juga dia lagi sibuk-sibuknya, ditambah dia juga gak mau ninggalin Alya sendirian. Om sudah tahu kan permasalahan yang terjadi?”


Haris mengangguk pasti. “iya om sudah tahu dari mamamu, om masih gak nyangka ayahmu bisa sejahat itu. Padahal Kevin itu anaknya sendiri, tapi kok bisa tega begitu.”


“aku juga gak paham kenapa papa begitu benci sama Alya, padahal dia gadis baik-baik meski bukan dari kalangan terpandang. Tapi dia itu sangat mencintai Kevin, begitu pun sebaliknya. Bisa dilihatkan betapa depresinya Kevin dulu?”


Haris yang mendengar ucapan Rafael menghela nafas berat, ia jelas tahu soal itu. Tak perlu harus diceritakan, cukup melihat penderitaan Kevin saja sudah membuat hatinya sesak. Entah terbuat dari apa hati aji, sampai tega memisahkan anaknya dengan wanita dicintanya.


“sudahlah, lupakan saja soal itu. Yang penting kan sekarang Kevin sudah tahu semuanya, dan kita doakan saja semoga pernikahan mereka baik-baik saja.” ucap haris, ia sangat bersyukur jika permasalahan di masa lalu antara dua keponakannya sudah selesai.


Rafael mengangguk mengiyakan, dalam hati ia juga sangat mengharapkan itu.


“kau harus bujuk lagi Kevin agar mau datang kesini, kalau bisa ajak sekalian istrinya.”


“sudah aku katakan seperti itu padanya om, tapi katanya dia harus tanya dulu ke Alya. Karena disana ia sedang sibuk dengan dunia kuliahnya, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi.”


“ya sudah selama kamu nunggu kabar dari Kevin, om sama Dylan akan cari cara yang ampuh agar permasalahan ini cepat selesai. Jujur sebenarnya om juga gak rela sih barang yang sudah kalian ciptakan susah payah, di akui begitu saja oleh perusahaan asing. Ini semua pasti gara-gara mas aji yang gak becus ngurus perusahaan, makanya sampai kecolongan begini.”


Rafael dan Edwin yang mendengar ucapan terakhir Haris hanya bisa diam saja, mereka jelas tahu sebelum zeous grup di pegang alih sepenuhnya oleh Rafael, aji suka seenak hati. Bahkan beberapa kali aji suka mangkir dari tanggung jawabnya sebagai CEO, dan lebih memasrahkan tugasnya ke sekretarisnya.


“oh iya raf, om dengar dari mamamu katanya kamu sudah memajukan jadwal wamilmu. Itu benar?”


“iya om, memang kenapa?”


“gak apa-apa, om hanya bertanya. Bukannya batasnya sampai umur 30, sedangkan kamu sekarang masih 28. Apa ada masalah?”


Rafael membisu, ia menatap lekat wajah oriental sang paman yang juga sedang menatapnya serius.


“tidak ada om, aku hanya ingin memajukannya saja. Bukankah semakin cepat semakin bagus?”


“iya sih. Terus kalau kamu wamil nanti, siapa yang urus perusahaan? Papamu lagi?”


“iya, om.”


“apa gak sayang raf, baru aja beberapa bulan kamu menjabat jadi CEO masa harus balik lagi ke aji?”


“ya mau bagaimana lagi, aku gak ada pengganti lain. Mau suruh Dylan, tapi om tahu sendiri dia seperti apa? Masa aku harus minta ke Kevin? Lebih gak mungkin lagi.”


“benar juga. Terus Selena bagaimana?”


Sekali lagi. Rafael kembali membisu, namun kali ini raut wajahnya agak muram.


“selama aku pergi, dia akan tinggal bersama paman dan bibinya.” ujarnya kemudian.


Mendengar itu haris manggut-manggut, ia sama sekali tak curiga dengan suara keponakannya itu yang terdengar berbeda. Tak seperti Edwin, yang kini tengah memperhatikannya.


“baguslah, setidaknya dia akan tetap aman selama kamu menjalani wamil. Tapi.. Paman tetap menyayangkan dengan keputusanmu yang kembali menyerahkan Zeous Grup ke papamu, namun om juga tak bisa berbuat apa-apa.”


“sudahlah om soal perusahaan nanti tak perlu di khawatirkan, aku percaya papa gak akan berbuat macam-macam lagi. Sekarang semua pergerakannya itu sudah di awasi oleh kami semua, termasuk soal orang-orang yang berkomplot dengannya dan selama ini dia menurut.”


Haris mengernyit. “orang-orang komplotan, maksudmu siapa?”

__ADS_1


“nanti aku akan jelaskan om, tapi jangan sekarang soalnya papa lagi ada dirumah. Aku takut dia denger.” bisik Rafael, dan haris yang mendengar itu hanya bisa mengangguk patuh.


“apa kau juga sudah tahu soal ini?” tanya Haris pada Edwin yang sedari tadi diam menyimak.


Edwin tak bersuara, pria itu hanya mengangguk. Membuat haris menghela nafas, karena ia harus menahan sebentar kekepoannya soal masalah itu.


...💐💐💐...


Sementara itu di hotel, Kevin sudah selesai dengan urusan mandinya dan kini pria itu sudah terlihat rapi dengan pakaian modisnya. Begitu pun dengan tatanan rambut tebalnya yang sudah di sisir.


Alya yang saat ini duduk di sisi ranjang melihat penampilan suaminya yang tak biasa nampak terpesona, wajahnya cengo dengan bibirnya yang terbuka sedikit.


Ah, ini bukan kali pertama ia terpesona oleh ketampanan paripurna seorang Kevin, bahkan sering.


Kini ia benar-benar sadar jika pesona Kevin memang sangat kuat, pantas saja banyak wanita diluaran sana yang tergila-gila padanya. Selain karena memiliki paras tampan, Kevin juga memiliki sisi cantik. Wajahnya yang baby face, membuat siapa saja betah memandangnya. Ditambah dengan predikatnya sebagai pewaris tunggal dari keluarga Zein, yang kekayaannya tak akan habis sampai tujuh turunan.


Sedangkan Kevin yang melihat tingkah istrinya merasa heran, ia jalan ke sudut sofa untuk mengambil sepatunya lalu mendekati istrinya dan duduk disampingnya.


“kamu kenapa sayang, lihatin akunya gitu banget?” tanyanya, seraya memakai sepatunya. Sesekali kepalanya menoleh ke Alya, hanya sekedar ingin melihat ekspresi wajahnya yang menurutnya aneh.


“enggak, aku hanya baru sadar kalau kamu itu ganteng banget.” jawab Alya apa adanya, dengan ekspresi wajahnya yang tak berubah.


Kevin yang mendengar jawaban Alya, nampak terkekeh geli.


“dari dulu aku kan memang ganteng, makanya kamu jadi suka dan cinta mati sama aku.” jawabnya jumawa.


Alya tak mengelak soal itu, dari awal dia masuk sekolah dan tak sengaja melihat Kevin sedang main basket di lapangan bersama teman-temannya, sejak itu pula Alya sudah jatuh dalam pesona seorang Kevin dirgantara.


“kevin.” panggil Alya.


“hm.” Kevin membalasnya dengan deheman, dan tanpa menatapnya karena masih sibuk memasang sepatu ke kakinya.


“jangan selingkuh ya.”


Ucapan Alya mampu mengalihkan perhatian kevin sepenuhnya padanya, lalu mendesah pelan.


“sayang, sebelumnya kita sudah bahas soal ini kan?”


“iya, tapi aku hanya pengen kasih peringatan aja sama kamu. Sekali kamu ada niat bermain hati, maka di detik itu juga aku akan pergi dari hidupmu.”


Sejenak Kevin diam, lalu menegakkan tubuhnya karena sudah selesai dengan urusannya. Kemudian kedua tangannya menangkup sisi wajah Alya, dan mencondongkan wajahnya.


“dan itu takkan pernah terjadi!” tegasnya, lalu mendaratkan ciuman singkat di bibir sang istri.


Setelah itu Kevin bangkit dari duduknya, begitu pun dengan Alya dan mereka pun keluar dari kamar hotel tersebut.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, nampak Sean sudah berdiri di samping pintu lift. Sebelumnya Kevin sudah menghubunginya untuk standby di luar, dan memintanya menunggu sebentar.


Melihat kehadiran tuan mudanya, bergegas jari Sean menekan tombol merah bagian bawah. Tak lama setelahnya pintu besi itu terbuka, dan Sean langsung berdiri di tengah-tengah agar pintu liftnya tidak tertutup.


“kita sarapan diluar aja, biar tak bolak-balik.” ucap Kevin saat sudah tiba di depan lift, yang langsung di angguki oleh Sean.


Mereka bertiga pun masuk, dan seperti Biasanya. Sean selalu berdiri di depan, sedangkan pasutri bucin itu sibuk bermesraan di belakang.


Drrttt..


...💐💐💐...


“ini dimana ya?” gumam Jeremi bertanya ke diri sendiri, seraya mengernyit.


Kedua netranya begitu awas menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto Alya bersama Kevin yang dia posting semalam di akun instagramnya, otaknya sedang menerka-nerka tempat dimanakah pasutri itu berada.


Saat ini ia sedang melihat postingan Alya, dan ada niatan besar untuk menemui gadis itu. Karena selain ingin menginterogasinya, dia juga ingin memastikan beberapa hal.


“aish! Kenapa gue pusing-pusing mikirinnya, kan bisa di lacak. Dasar bego.” rutuknya.


Dia pun keluar dari aplikasi tersebut, lalu menekan ikon salah satu aplikasi khusus pelacak lewat nomor. Tak membutuhkan waktu lama ia sudah menemukannya, senyumnya terbit begitu tahu dimana titik pasti pasutri itu berada.


“gue harus kumpulin anak-anak nih, pasti bakal seru.” gumamnya.


Lalu ia pun kembali keluar dari aplikasi itu, dan masuk ke akun WhatsApp. Mengetikkan sesuatu ke grup, yang isinya hanya para sahabatnya saja.


{Guys, kalian semua harus datang kerumah gue sekarang juga. Ini darurat!}


Begitulah isi pesannya, dan dengan senyum mengembangnya ia pun menekan send.


Tak sampai satu menit ponsel Jeremi sudah ramai oleh suara notifikasi pesan, para teman-temannya sudah mulai membalas pesannya. Menanyakan soal pesannya yang menyuruhnya untuk datang ke kerumahnya, namun Jeremi tak menjelaskan secara rinci. Dia hanya bilang untuk segera datang kerumahnya, jika ingin ikut liburan ke puncak.


Meski tak semuanya muncul, karena ada dua temannya lagi yang tak muncul. Siapa lagi, jika bukan Samuel dan Dimas. Namun Jeremi yakin dua pria itu sudah membacanya, karena sejak dulu kelakuan mereka memang begitu. Selalu mengutamakan menyimak, dibanding ikutan nimbrung.


Menyebalkan!


Setelah berbalas pesan dengan para sahabatnya, Jeremi beranjak dari duduknya. Ia jalan menuju meja kerjanya yang berada di kamarnya, kedua tangannya begitu lincah mengambil beberapa lembar kertas yang entah isinya apa. Merapikannya, lalu menyimpannya ke map warna biru.


Selesai dengan itu, Jeremi jalan menuju lemari untuk berganti pakaian. Karena saat ini ia masih memakai baju piyamanya, namun untungnya dia sudah mandi sebelum sarapan tadi.


...💐💐💐...


“kamu mau kemana jer, kok bawa koper segala?” tanya audryn, mama-nya Jeremi.


Audryn yang kala itu baru selesai beberes di dapur usai sarapan tadi, merasa kaget melihat anaknya sudah rapi dengan menarik koper kecil.


“aku mau ke puncak ma, dan akan menginap beberapa hari disana.” jawab Jeremi, seraya mengotak-atik ponselnya.


Ada beberapa pesan masuk dari teman-temannya, dan juga dari kekasihnya. Karena Jeremi sempat memberi kabar itu ke kekasihnya tersebut, dan wanita itu meminta ikut.


“tumben dadakan gini?” heran audryn.


“iya ma, urgent soalnya dan ini juga masih berkaitan dengan permintaan papa tempo hari.”


Mendengar itu audryn diam sejenak, seraya berpikir keras.


“permintaan papa yang mana sih?” tanyanya kemudian.


“itu loh, yang papa minta aku suruh urus pembaruan isi surat wasiat pak rusman.” jawab Jeremi tanpa menatap sang mama.


“oh.. soal itu, terus hubungannya dengan kamu pergi ke puncak apa?”

__ADS_1


“jelas ada dong ma, soalnya pemilik dari isi surat wasiat itu orangnya ada disana sekarang.”


“hah! Maksudmu.. cucu pak Rusman?”


Jeremi mengangguk, lalu menoleh. “Mama mau ikut juga? Biar sekalian kenalan sama dia.” ajaknya.


“pengen sih, tapi mama udah janji ada arisan besok. Terus sekarang kamu pergi kesana sama siapa?”


“sama anak-anak, Fani juga katanya mau ikut.”


“oh ya udah kamu hati-hati di jalannya, titip salam sama mang Asep dan bi Minah. Mama tinggal dulu.”


“siap ma.”


Setelah itu audryn pun berlalu pergi, meninggalkan Jeremi yang berada disana.


Tin!.. Tin!.. Tin!..


Tok.. Tok.. Tok..


Cekrek!


Tak berselang lama terdengar suara ramai dari luar, seperti suara klakson mobil. Lalu di susul dengan suara ketukan yang memburu, dan pintu terbuka.


Jeremi hanya bisa mendengus sebal mendengar itu. Sudah bisa ia pastikan para sahabatnya sudah tiba, dan seperti biasa. Mereka selalu rusuh.


“woy jer, dimana Lo?” teriakan seseorang dengan begitu lantang, sampai suaranya menggema.


“memang asem itu anak satu, suruh Dateng cepet-cepet kesini tapi orangnya gak ada. Gak tau apa kalau tadi gue lagi asik rebahan, malah disuruh kesini. Woy jer, keluar Lo.” teriak seseorang lagi, namun beda orang.


Di ruang tamu itu sudah terdapat ada empat pria tampan dengan pakaian modisnya, dua diantaranya duduk santai di sofa dengan ditemani dua wanita muda. Salah satu wanita itu perutnya agak buncit, sedangkan satunya lagi terlihat masih remaja.


Jeremi jalan cepat menuju ruang tamu, sembari menarik kopernya. Dalam otaknya sudah menyiapkan sumpah serapah, untuk ia lampiaskan ke kedua sahabatnya yang sejak dulu terkenal bar-bar.


“kalian berdua ini heboh banget! Melebihi emak-emak yang lagi rebutan sembako gratis.” semburnya saat sudah tiba disana.


“habisnya Lo dadakan sih ngajaknya, padahal tadi gue ada niatan mau tidur seharian. Tapi malah disuruh datang kesini, memang ada apa sih?” tanya temannya yang bermata segaris, siapa lagi jika bukan Rangga.


Jeremi yang mendengar itu memutar bola matanya jengah, sahabat satunya ini memang suka bersandiwara. Padahal tanpa dikasih tahu pun jelas saja sudah tahu, karena kelebihannya itu yang sebagai anak indigo.


“gak usah akting deh, Lo pasti sudah tahu apa yang ada di otak gue.” jawab Jeremi.


Dan Rangga pun hanya bisa nyengir kuda, beda halnya dengan teman disampingnya yang tak tahu apa-apa.


Jeremi pun beralih menatapnya. “hubungan Lo sama Kevin udah beres kan?” tanyanya.


“iya. kenapa?” jawabnya, yang di akhiri dengan pertanyaan.


“gak ada, cuma nanya aja.” lalu ia melirik ke gadis remaja yang duduk bersebelahan dengan Dimas. “Oh, Lo bawa adik Lo ga?”


“iya! Tadinya gue gak ada niat ajak dia, tapi berhubung papi dan Rian lagi gak ada dirumah. Ya udahlah gue bawa aja, lumayan kan buat teman Alya nanti disana.”


Jeremi manggut-manggut. “baguslah kalau Nana dan tina ikut, jadinya Fani ada temennya. Eh dim, Lo gak ajak Manda?”


“gak!”


“kenapa tuh anak, tumben-tumbenan judes kayak gitu?”


“biasalah, abis ribut lagi dengan bokapnya.” ujar Rangga memberi tahu.


“kali ini soal apalagi? Kayak biasa?”


“siapa lagi?”


Jeremi yang mendengar itu mendengus, sejak awal dia memang kurang suka jika Dimas berhubungan dengan wanita yang namanya Amanda. Namun sahabat satunya itu susah di kasih tahu, persis seperti Kevin. Batu!


“cuma Fani doang kan yang Lo ajak, gak sama teman-temannya juga?” tanya Rangga memastikan.


“gaklah, gue gak sebodoh itu kali. meski tadi dia sempat bilang mau ajak teman-temannya, tapi gue langsung larang.” jawab Jeremi.


“good job!” balas Rangga, seraya mengacungkan jempolnya ke wajah Jeremi.


“yuk berangkat!”


Rangga dan Jeremi sudah siap melangkah keluar, namun aksinya itu tertahan begitu mingyu berteriak.


“eh, tunggu!” cegahnya, seraya kedua tangannya terulur ke depan.


“apalagi sih penyu?” tanya Jeremi, setengah menggeram.


“kita beneran bakal nyusul Kevin dan Alya ke Bogor? Buat apa sih anjir, mereka itu lagi honeymoon!”


“terus kenapa kalau mereka lagi honeymoon, kita hanya pengen ikutan aja. Gak sampai ganggu mereka bikin kecebong!”


“tetap saja salah ogeb! Yang namanya honeymoon itu dimana-mana selalu berdua, bukan ramai-ramai begini? Lo pengacara apa pebinor sih, kok pengen ganggu mereka?”


“astaga! Siapa yang pengen ganggu mereka?”


“terus ini maksudnya apa Lo pengen nyusul mereka kesana?”


“liburan bareng lah, apalagi?”


“tap--”


“sekalian gue juga pengen interogasi Alya, kemana selama ini dia pergi. Enak saja, selama 2 tahun hilang sampai buat sahabat gue depresi berat, terus tiba-tiba muncul dan denger kabar mereka udah nikah aja. Mana sembunyi-sembunyi lagi! Memangnya Lo gak penasaran apa dengan cerita mereka kenapa tiba-tiba bisa menikah?”


“y-ya penasaran sih..”


“maka dari itu kita susul mereka sekarang!”


“tapi-”


“udah Gak ada tapi-tapian, yuk kita berangkat sekarang, kita kasih suprise pasutri itu. Tapi sebelumnya ke rumah Fani dulu ya, dia minta jemput soalnya.”


“oke deh!”


Pada akhirnya mingyu pun memilih menurut, benar apa kata Jeremi. Dia juga sebenarnya sangat penasaran kemana selama ini Alya pergi, dan kenapa setelah gadis itu kembali Kevin malah langsung menikahinya. Padahal statusnya kala itu menjadi tunangannya Mayra, dan akan segera melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Mingyu dan Jeremi memang belum tahu perihal alasan utama Kevin kenapa memilih membatalkan rencana pernikahannya dengan Mayra dan berakhir menikahi Alya, namun tidak bagi 3 temannya yang sudah tahu.


__ADS_2