
...PERHATIAN! DI BAB INI ADA BEBERAPA ADEGAN MENGANDUNG 18+, AUTHOR HARAP PEMBACA BISA BIJAK! TERIMA KASIH....
...•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••...
Nanda Fitriani, atau biasa di sapa dengan sebutan nana. Sosok gadis muda berparas ayu khas orang Sunda, yang tak lain adalah istri dari dokter muda nan tampan bernama Samuel Adhitama.
Dari ruang makan Nana nampak menatap Alya yang kini sedang sibuk memasak di dapur yang ada di rumahnya, ia tengah membuat seblak pesanannya yang sudah di tunggu-tunggunya.
Saat ini alya dan kevin memang sudah ada di rumah Samuel, mereka tiba disana sejam yang lalu.
Di dapur Alya tak sendiri, ia di bantu oleh pelayan yang bekerja di rumah samuel.
Sedangkan Samuel yang duduk di samping nana menatap istrinya dengan geleng-geleng kepala, ia merasa tak percaya jika istrinya yang tadi marah-marah padanya, kini berubah kalem.
Sejak sore tadi Nana memang ngidam pengen makan jajanan Bandung yang pedas, tapi Nana tak mengatakan namanya apa sehingga sempat membuatnya pusing.
Lalu ia teringat jika Alya jago memasak, dia pun langsung menelpon Kevin dan menjelaskan semuanya.
Sebenarnya Samuel sudah berusaha menelpon Alya, namun nomornya selalu sibuk sehingga ia memutuskan untuk menghubungi Kevin dan meminta bantuannya.
Samuel pikir siapa tahu istri dari sahabatnya itu mengerti dengan klu yang nana sebutkan, dan ternyata tindakannya itu tak salah, Alya memang tahu.
Semenjak di ketahui hamil, Nana memang sering suka marah-marah padanya. Istrinya itu selalu menampilkan wajah judes jika sudah berhadapan dengannya, namun anehnya tidak dengan keluarganya.
Tak terkecuali dengan Alya dan Kevin, Nana akan berubah baik dan bersikap tenang seperti biasa.
Sejujurnya Samuel paham apa yang di alami istrinya itu, sebagai seorang dokter meski bukan ahli kandungan, Samuel tahu emosi wanita hamil itu memang mudah sekali berubah. Tapi lama-lama ia menjadi jengkel juga, setiap pulang kerja dan masuk rumah selalu di suguhi dengan wajah butek istrinya.
Meskipun begitu Samuel masih merasa beruntung karena Nana masih melakukan tugasnya sebagai istri, kecuali soal ranjang. Bukannya tak mau, tapi Samuel memutuskan tak akan menyentuh Nana di saat kandungannya masih muda.
Orang tuanya pun selalu berpesan padanya untuk menjaga nana dengan baik, mengingat ini adalah cucu pertama di keluarganya. terlebih maminya yang tak bosan-bosannya menasehatinya untuk lebih banyak bersabar menghadapi tingkah nana.
Sementara itu di bagian kursi lain, tepatnya depan Samuel ada Kevin yang sedari tadi diam sambil bermain ponsel. Entah apa saja yang pria itu lakukan, namun Samuel perhatikan sahabatnya itu begitu fokus dengan benda tersebut.
“sebenarnya kalian itu habis dari mana aja sih, kok nyampe sininya lama?” tanya Samuel sambil menatap Kevin dengan kening berkerut.
Selama 4 jam Samuel dan Nana menunggu kedatangan pasutri itu, dan selama itu istrinya tak henti-hentinya merengek. Mendesaknya untuk menyusul Kevin ke apartemennya, namun Samuel menolak itu karena rasanya mustahil ia meninggalkan istrinya bersama pelayan saja.
Kevin yang mendengar itu mengangkat pandangannya, melirik Samuel kemudian mendengus.
“Lo tau kan kalau lokasi rumah Lo sama apartemen gue itu jauh?” ucap Kevin balik tanya.
“iya emang, tapi perasaan gak jauh-jauh amat deh. Kalian sadar gak sih, kalian itu datangnya jam berapa tadi? Jam 10! wah.. gila sih, dari jam 7 malam gue dan Nana nungguin kalian, tapi kalian malah datang telat!”
Namun Kevin tak perduli, ia tak merasa bersalah sedikitpun. “jangan salahkan gue, tapi salahkan saja diri Lo sendiri!” Cetusnya.
“Lah, kok salah gue sih?”
“iyalah! Yang hamilin Nana kan lo, kenapa mesti gue dan Alya yang di buat repot!”
“tap--”
“Dan asal kalian tahu, Gara-gara kalian juga gue dan Alya hampir aja di tangkap oleh Zervanous!” potong Kevin dengan kesal, matanya sedikit melebar.
Sejenak Nana dan Samuel diam dan saling memandang, pasutri itu terkejut dengan reaksi Kevin.
“zervanous? Siapa itu?” tanya Nana, matanya menatap Kevin dan Samuel bergantian.
Namun tak ada respon apapun dari dua pria itu.
“mas!” Nana memanggil suaminya. “siapa Zervanous? Kenapa mas Kevin dan mba Alya mau di tangkap segala, apa dia orang jahat?” tanyanya penasaran.
Sejenak Samuel diam, kemudian dia tersenyum dan mengangguk.
“iya sayang. Zervanous adalah nama geng motor yang terkenal jahat, dan sudah jadi buronan polisi karena sering melakukan balap liar dan pembegalan.”
Mendengar itu Nana langsung terlihat syok, sebelah tangannya menutup bibirnya yang sedikit terbuka.
“ya tuhan, j-jadi maksudnya waktu mas Kevin dan mba Alya mau kesini mereka mau di bekal, makanya Zervanous itu ngejar?” tebak Nana sambil menatap Kevin.
Kevin sempat diam, namun setelah mendapat kode dari Samuel ia mengangguk.
“maafin aku ya mas kevin.” wajah Nana terlihat bersalah.
“tak apa-apa, lagian gue dan Alya udah berhasil kabur dari mereka.” sahut Kevin.
“terus nanti kalian pulangnya gimana?”
“ya gak gimana-gimana.”
“atau.. lebih baik kalian nginep aja disini?” usul nana.
Kevin menggeleng. “gak perlu! Besok gue harus masuk kantor pagi, dan Alya juga sama.” tolaknya.
“tapi--”
“gak apa-apa na, Lo tenang aja. gue jamin mereka gak bakal bisa nangkap kita, karena jika nanti mereka masih mau ngikutin, gue bakal tuntun mereka ke kantor polisi. Otomatis mereka bakal langsung kabur.”
“iya sayang, kamu tenang aja ya. Geng motor itu gak akan bisa nangkap Kevin dan Alya, Karena Kevin itu cerdik, dia pasti bisa ngakalin agar bisa kabur dari geng motor itu. Udah ya jangan pikir yang macam-macam, percaya aja sama omongan mas dan Kevin.”
“iya mas..” balas Nana seraya mengangguk.
Nana tentu percaya dengan ucapan Samuel, karena sebelumnya ia sudah kenal dengan kevin dan sudah tahu semua perilakunya. meski tak di pungkiri masih ada rasa khawatir di hatinya.
Dirasa Nana sudah tenang, samuel merubah posisi duduknya yang tadinya sedikit miring, kini menjadi tegak. Ia menatap Kevin dengan serius, dan sedikit mencondongkan wajahnya.
“mereka masih aja ngincer Lo?” tanyanya dengan nada berbisik.
Kevin mengangkat bahunya. “kayaknya.”
“terus gimana caranya kalian bisa kabur, secara yang gue tahu komplotan mereka itu banyak.”
“ya gue ngebutlah, terus kami sembunyi di pinggiran hutan.”
Samuel yang mendengar jawaban Kevin manggut-manggut, ia tahu kehebatan Kevin dalam mengemudi. Di tambah sahabatnya itu sering ikutan balapan, pasti kehebatannya tak perlu di ragukan lagi. Namun tiba-tiba Samuel punya pikiran aneh, dia kembali menatap Kevin dengan lirikan licik.
__ADS_1
“selama di sana kalian ngapain aja? Gak mungkin kan selama 2 jam hanya diam di dalam mobil? Mana di tempat sepi lagi!”
Kevin membisu, namun ia terlihat salah tingkah dan wajahnya merona. “gak ada!” elaknya cepat.
“yakin?” Samuel memicingkan matanya curiga.
“iyalah! Lo pikir kita ngapain?”
“mana tau kalian icip-icip, mumpung sepi..” goda Samuel sambil menarik turunkan alisnya.
dan seketika itu pula wajah kevin semakin memerah, dan matanya melotot. “Gila kali gue lakuin itu di tempat terbuka, kayak gak punya rumah aja!” serunya.
Karena suara Kevin terdengar keras membuat Nana yang mendengarnya kaget, dan spontan menoleh padanya. Sementara itu Samuel malah tertawa lepas, ia merasa lucu dengan ekspresi wajah kevin yang merah dan nada bicaranya pun gugup. Samuel sangat yakin pasti sudah terjadi sesuatu dengan pasutri itu, karena rasanya tak mungkin Kevin bisa salting jika tak terjadi apa-apa.
Dalam hati Samuel sangat bersyukur, karena semenjak menikah Kevin sedikit ada perubahan. Sahabatnya itu yang selama ini selalu terlihat kaku dan dingin, perlahan berubah menjadi cerewet dan banyak senyum. tentunya Kevin akan begitu hanya di depan Alya saja, beda sekali saat bersama Mayra dulu yang sering ia temui Kevin di ranjang rumah sakit.
“santai aja kali Vin, gak usah ngegas gitu.” ucapnya di sela-sela ketawanya.
Dan Kevin hanya bisa mendengus kesal sebagai respons.
“kalian ini lagi ngomongin apa sih?” tanya Nana, karena ia tak bisa mendengar sepenuhnya apa yang Kevin dan suaminya bahas.
Samuel menoleh kemudian menggeleng, sambil mengusap kepala Nana. “gak ada apa-apa sayang..”
“terus tadi kenapa mas ketawa gitu, dan wajah mas Kevin juga kelihatan kesal gitu? Mas Sam jailin dia ya?” tuduh Nana sambil memicingkan matanya.
Samuel kembali menggeleng. “enggak sayang, tadi aku hanya bercanda aja. Iya kan Vin?”
“bodo!” cetus Kevin.
Nana yang melihat itu menghela nafas. “becanda boleh tapi jangan keterlaluan mas, kasihan mas Kevin.”
“rasain Lo!” ledek Kevin, yang langsung di balas Samuel dengan delikan tajam.
“jangan di ulangi lagi mas.” ucap Nana memberi peringatan pada suaminya yang memang suka menggoda Kevin.
“iya sayang..”
Setelah itu Samuel dan Kevin kembali mengobrol, namun bukan melanjutkan hal yang tadi tapi lebih ke pekerjaan masing-masing.
Hingga beberapa menit kemudian seblak yang alya buat sudah jadi dan langsung memindahkannya ke wadah lain yang berukuran besar, setelah itu ia membawanya ke meja makan, di bantu oleh pelayan.
Alya sengaja membuat porsinya sedikit banyak, dan ia juga membaginya menjadi dua rasa. Satu pedas, dan satu tidak.
Nana terlihat memekik kegirangan sambil tepuk tangan, matanya berbinar saat makanan yang di tunggu-tunggunya sudah jadi.
“pakai nasi ya, biar nanti gak sakit perut.” ucap Samuel, dan Nana mengangguk.
Setelah itu Samuel menyuruh pelayan untuk menyiapkan nasi dan minuman.
“aku mau coba yang pedas dulu mas.” pinta Nana.
“tapi jangan banyak-banyak ya.”
Samuel mulai mengambil seblak yang kuahnya warna merah, lalu menyerahkannya ke Nana.
“enak?” tanya Samuel saat melihat nana sudah mulai memakannya.
Dengan antusias istrinya itu mengangguk. “enak banget mas, bumbunya pas!”
Samuel yang mendengar itu tersenyum senang, begitu pun dengan Alya yang ikutan senang karena bisa memenuhi keinginan orang hamil.
...💐💐💐...
Setelah menghabiskan waktu selama hampir tengah malam, pasutri itu memutuskan pulang. Samuel mengucapkan terima kasih pada Alya, karena sudah memenuhi keinginan istrinya.
Begitu pun dengan Nana yang mengucapkan terima kasih pada alya, karena sudah mau di repotkan dengan ngidamnya. Nana juga sempat menyarankan untuk pasutri itu menginap, begitu kembali mengingat tentang Zervanous.
Alya yang memang tak tahu apapun tentang siapa Zervanous, langsung menoleh ke Kevin dan bertanya. Suaminya pun menjelaskan, meski tak sepenuhnya.
Selesai beremeh-temeh, Alya dan Kevin pun pulang. Meninggalkan pekarangan rumah Samuel yang luas dan mewah, dan sepanjang jalan pasutri itu diam dengan pikiran masing-masing.
Sampai di apartemen, Kevin langsung naik ke tangga menuju kamarnya. Begitu pun dengan Alya yang mengekor di belakang, dengan langkah lesu dan wajahnya terlihat pucat.
Sesampainya di lantai atas, Alya langsung masuk kamar dan menutup pintu, lalu ia jalan ke meja rias. Sejenak diam sambil menatap dirinya sendiri di pantulan kaca, kemudian Melepas Hoodie milik Kevin yang sedari tadi ia pakai, lalu menggulung rambutnya hingga ke atas dan menguncinya dengan jepitan.
Lagi-lagi ia menghela nafas saat melihat begitu banyak tanda merah kebiruan di leher dan dadanya, dan itu akibat dari perbuatan Kevin. Alya menggigit bibir bawahnya saat jemarinya menyentuh tanda merah itu, terasa sangat perih dan panas.
Untungnya tadi ia memakai Hoodie, sehingga tak ada yang tahu keadaan leher jenjangnya yang penuh dengan kissmark.
“sebaiknya aku harus mandi, siapa tahu setelah itu badanku menjadi enakan.” lirihnya.
Alya berbalik badan, kemudian jalan perlahan ke arah kamar mandi. Sesekali ia mendesis saat merasakan perih di inti tubuh bawahnya, sejak masih di rumah Samuel dia memang sudah menahannya.
Begitu sudah masuk, Alya melepas seluruh pakaiannya kemudian jalan ke pancuran shower. memejamkan kedua matanya saat air dingin itu mengguyur tubuhnya, seketika itu pula bayangan kejadian di mobil kembali terbayang.
...💐💐💐...
•FLASHBACK•
Setelah berucap demikian kevin kembali mencium bibir Alya dan matanya tertutup, namun kali ini ia melakukannya dengan lembut.
Membuat Alya yang tadi merasa kecewa dengan ucapan Kevin, perlahan terbuai. Ia mulai memejamkan matanya dan membalasnya, dengan sebelah tangannya meremas jaketnya.
Ciuman yang awalnya lembut, lama-kelamaan menjadi intens dan menuntut. Dalam kesunyian malam, Pasutri itu sudah hanyut Dengan balutan gairah yang mereka ciptakan sendiri. Hawa dingin cuaca malam dan hembusan angin dari AC mobil, tak membuat pasutri itu kedinginan. Malah kini mereka merasakan kepanasan, akibat dari gairah yang menggelora.
Kedua tangan Alya mendorong kuat dada Kevin hingga pagutan bibir keduanya terlepas, ia merasakan pasokan udara berkurang sehingga membuat deru nafasnya tak beraturan.
Begitu pula dengan Kevin yang merasakan dadanya sesak kekurangan nafas, namun ia enggan melepaskan bibir istrinya itu.
“Al..” lirih Kevin sambil menatap istrinya dengan mata sayu.
Alya tak menyahut, namun gadis itu tersenyum manis dan membalas tatapan Kevin. Setelah itu Alya melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, lalu tanpa ragu lagi ia bangun dan berpindah duduk di pangkuan Kevin.
Sejenak Alya diam, detakan jantungnya berdetak kencang saat merasakan milik suaminya yang sudah on. Jemari lentiknya menyentuh rahang Kevin yang bebas dari bulu, sebelum akhirnya ia menunduk dan mencium bibirnya lagi. Awalnya hanya sekedar kecupan ringan, setelahnya Alya ******* dan menghisap bibir suaminya dengan rakus.
__ADS_1
Kevin yang saat itu sudah terpancing oleh Api gairah tak membuang-buang kesempatan, ia pun membalas cumbuan istrinya. Tangannya pun seakan tak mau tinggal diam, ia mulai menggerayangi tubuh Alya dengan gerakan acak. Hingga gerakan tangannya berhenti di dadanya, ia meremasnya dengan penuh gairah.
“eunghhh..” lenguh Alya keenakan di sela-sela pagutannya, saat jari nakal suaminya memainkan puncak aset berharganya.
kedua tangan Alya langsung melingkar di leher Kevin, jemari lentiknya menyusup masuk ke sela-sela rambut Kevin dan meremasnya seraya memperdalam ciumannya.
“ahh.. emmh..”
Alya mendesah saat ciuman Kevin turun ke lehernya, suaminya itu menghisap lehernyanya dengan kuat, serta sesekali menggigitnya. Sedangkan tangannya juga tak Berhenti beraksi, kini telapak tangan besar dan hangat itu sudah menyusup masuk ke pakaiannya dan meremas dua bagian tubuhnya yang kenyal dan terasa pas di telapak tangannya.
Deru nafas Kevin semakin berat dan kepalanya juga mendadak pening saat merasakan miliknya semakin keras, sepertinya dia tak yakin akan kuat menahan hasratnya.
Kevin mengangkat kepalanya dan mendorong sedikit tubuh alya, ia langsung membuka jaket beserta kaos yang dia pakai, lalu membuangnya asal. dia juga membuka pakaian Alya, serta piyamanya.
Kini tubuh bagian atas keduanya sudah polos, Kevin menelan ludah susah payah saat matanya tak lepas dari aset berharga Alya yang terlihat kencang dan besar.
“apakah kita akan benar-benar melakukannya disini?” ucap Alya dengan suara pelan, seraya jemarinya membelai bahu Suaminya.
“kenapa tidak?” balas Kevin seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Alya, lalu mengecupi pipinya hingga ke telinga.
tangannya bergerak memainkan kembali puncak milik Alya yang berwarna merah jambu dan sudah nampak menegang, sedangkan kini bibirnya sudah berada di lehernya.
Alya melenguh kenikmatan saat Kevin melakukan itu, ia merasakan ada sesuatu yang menggelitik, apalagi saat bibirnya menghisap kuat lehernya dan sudah bisa di pastikan akan ada jejak merah disana, Membuat ia tak sanggup menahan desahannya.
Kevin terus mencumbui alya dengan penuh hasrat, dan Alya pun membalasnya dengan hal yang sama. Keduanya memang sudah sama-sama berhasrat, dan menginginkan lebih.
Suara kenikmatan Alya terdengar begitu indah di telinga Kevin, dan hal itu membuat jiwa kelelakiannya semakin naik hingga ke ubun-ubun.
Alya menggigit bibir bawahnya saat Kevin sudah mulai menyusu, dan terlihat sangat ganas. Lenguhannya kembali terdengar, seraya mengerutkan tubuhnya saat dirasakan mulut suaminya menghisapnya kuat.
“aww.. Shhh, pelan-pelan..” rintih Alya saat Kevin menggigit ujungnya.
Namun Kevin tak bersuara, pria itu sibuk dengan aset istrinya yang kenyal itu. Ia terlihat layaknya seorang bayi yang kelaparan. Di dalam mobil itu Hanya terdengar suara decapan bibir Kevin dan ******* Alya yang saling bersahutan, mereka benar-benar sudah lupa akan segalanya.
Setelah puas, bibir Kevin kembali naik, mengecupi belahannya yang terasa empuk itu, lalu semakin naik ke leher hingga berhenti di bibirnya, ia seakan tak bosan untuk menciumi bibir itu yang terasa manis.
Ciuman Kevin berpindah ke pipi dan rahang Alya, lalu pindah ke telinganya. Ia mengecupi area itu, sesekali mengulum dan menggigitnya kecil.
“Ahh.. ****! Kenapa kamu selalu saja membuatku gila.. huh!!” racau Kevin saat Alya tak sengaja menggerakkan pinggulnya, dan ia merasakan hangatnya belahan inti tubuh bawah istrinya di miliknya yang sudah keras.
Alya yang mendengar itu hanya tersenyum, kemudian dia mendesah seraya memejamkan matanya saat merasakan geli di inti tubuhnya. lalu ia menunduk dan menyerang bibir Kevin dengan brutal.
Drrttt..
Di sela-sela kegiatannya itu tiba-tiba saja ponselnya yang ada di dashboard mobil bergetar, Seketika itu pula Alya langsung berhenti dan menoleh.
“biarin aja!” cegah Kevin saat Alya ingin meraih ponselnya, saat ini ia berada di ambang batas dan dia tidak akan biarkan istrinya itu berhenti.
Lalu tangan Kevin menekan kepala Alya dan mencium dalam bibirnya, Alya pun hanya bisa menurut dan membalasnya. Tapi itu tak bertahan lama, karena tak sampai 5 menit ponselnya kembali bergetar. Kevin berdecak kesal, saat Alya kembali melepas pagutannya.
“siapa tau penting vin.” ucap alya sambil menatap Kevin yang nampak kesal.
Alya meraih ponselnya, keningnya berkerut saat ada nama Andreas disana. Jari Alya ingin menggeser tombol hijau, namun sayangnya panggilan itu sudah keburu mati.
Ting!
Ting!
Tak lama kemudian ada dua pesan masuk, dan ternyata dari nomor Andreas.
{hai Alya sayang, kamu lagi apa sekarang? Kenapa telponku gak di angkat-angkat sih? Apa sudah tidur ya? Padahal Aku lagi kangen kamu, pengen denger suara kamu.}
{Tapi gak apa-apa deh, Besok kita kan satu kelas lagi. Duh, rasanya aku sudah tak sabar menunggu pagi dan bertemu kamu. Nanti kita makan siang bareng lagi ya, tapi jangan ajak teman-temanmu. Bisa?}
Begitulah isi pesan yang Andreas kirimkan, membuat Kevin yang tak sengaja melihat dan membacanya merasa jengkel.
Dengan cepat Kevin merebut ponselnya dan membanting benda pipih itu, membuat Alya yang melihatnya terkejut.
“kevin, kam--”
Alya tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah terlanjur di bungkam oleh bibir kevin, suaminya itu ******* habis bibirnya dan kembali mencumbui tubuhnya dengan kasar.
Setelah puas Kevin mengangkat tubuh Alya dan mendudukkannya di kursi sebelah, kemudian dia membuka sabuk pengamannya dan melepaskan celananya.
Kedua mata Alya membola seraya menelan ludahnya sendiri saat melihat milik suaminya yang sudah berdiri tegak, nampak besar dan berurat. Perasaan Alya mulai tak enak saat Kevin melepaskan celananya juga, dan merendahkan joknya.
“sepertinya setelah ini aku akan menjadi pria pengecut, karena tak bisa memegang ucapannya sendiri.” ucap Kevin dengan suara berat.
Belum sempat Alya mencerna ucapan Kevin, tapi ia sudah di kejutkan dengan tindakannya yang membuka kedua kakinya lebar-lebar. Lalu...
BLES!
“Aarrgghtt!!”
Alya mencengkram kuat lengan Kevin dan menjerit kesakitan saat merasakan milik suaminya langsung masuk ke inti tubuhnya tanpa pemanasan, dan itu membuat Kevin terkejut.
Bukan hanya terkejut mendengar teriakan Alya yang kesakitan, tapi matanya langsung melotot saat melihat ada bercak darah di kursi jok.
‘darah apa ini?’ batinnya bertanya-tanya.
“sakit?” tanyanya sambil Mengernyit.
Alya mengangguk kaku tanpa suara, seraya mengusap sudut matanya yang basah.
“apa kamu sedang mens?” tanya Kevin lagi dengan memasang wajah bodoh.
Alya menggeleng.
“lalu darah apa ini?”
Alya bungkam.
“jawab aku Alya!” sentak kevin.
Alya tetap diam, kini air matanya kembali keluar membasahi pipinya.
__ADS_1