TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 78~Honeymoon?


__ADS_3

Tring!


{Tuan muda, saya melihat mobil nona muda keluar dari area kampus, dan saya juga sempat mendengar percakapannya dengan Sean jika nona muda akan pergi ke rumah sakit lalu ke kantor.}~Xxx


Kevin yang kala itu sedang fokus dengan pekerjaannya langsung menoleh saat mendengar suara notifikasi pesan masuk dari ponsel miliknya yang ia letakkan di meja kerjanya, ia melihat ada satu pesan dari kontak salah satu anak buahnya.


‘mau ke kantor? kantor siapa?’ batinnya bertanya-tanya, sambil Mengernyit heran.


Kevin memang tahu jika hari ini adalah jadwal Alya chek up, dan dia juga sempat meminta Samuel untuk memberitahunya secara rinci tentang kondisi kaki istrinya.


Awalnya Samuel bingung dengan permintaannya itu, pikirnya kenapa ia tak tanya sendiri saja ke Alya, atau menemaninya dirumah sakit sehingga ia bisa tahu keadaan keseluruhannya. Namun Kevin malah memberinya penjelasan jika dirinya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak bisa mendampinginya kontrol, dan tetap memaksa Samuel untuk mengabarinya.


Alasan Kevin cukup masuk akal, dan Samuel bisa memahami itu. Meski ia tak terlalu tahu paham dengan dunia perkantoran, setidaknya ia tahu apa yang Kevin lakukan ini adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Di sisi lain ia juga bersyukur karena di sela-sela kesibukannya dan sikapnya yang acuh, Kevin masih memperhatikan Alya.


Bukan hanya kali ini saja Kevin meminta seperti itu ke samuel, hari sebelumnya juga ia pernah melakukan ini. Dan hal itu membuat dokter muda yang sebentar lagi akan menjadi ayah itu mencurigainya, ia merasa jika hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja.


Meskipun begitu Samuel tak akan ikut campur, Kevin sudah dewasa dan ia yakin sahabatnya itu bisa mengatasi masalahnya sendiri. kecuali jika situasinya sudah genting.


Karena dirundung penasaran Dengan cepat Kevin menyambar benda itu, dan mulai membalasnya.


{Kantor siapa maksudmu?}~kevin


Send. Pesan pun terkirim, dan tak membutuhkan waktu lama anak buahnya itu membalas.


{Kantor anda.}~Xxx


DEG!


Kevin terkejut setelah membaca balasan itu, benarkah Alya mau datang ke kantornya? Tapi Mau ngapain dia kesini? Apa dia ingin menemui seseorang yang bekerja disini? Tapi siapa? Setahunya tak ada karyawan yang dia kenal, sekalipun ada pasti dia juga tahu. Atau.. dia mau menemuinya?


Kevin terus berperang dalam dirinya, menanyakan keinginan istrinya yang akan berkunjung ke kantornya. Sebenarnya secara pribadi Kevin sendiri tak masalah jika Alya akan datang, bahkan ia merasa senang karena dengan begitu ia bisa melihat Alya semakin lama dan dengan jarak yang dekat. Hanya saja dia heran, kenapa tiba-tiba begini?


Tanpa sadar, Kevin tersenyum saat wajah Alya terbayang di pelupuk matanya. Apalagi begitu mengingat perhatian-perhatian kecil yang Alya tunjukkan padanya selama ini, membuat dadanya berdebar kencang. Ia seperti kembali ke masa lalu, dimana dirinya dulu merasakan pertama kali yang namanya jatuh cinta.


Ia akui, Di sudut hatinya yang paling dalam ada sebersit rasa rindu terhadap wanita itu. Wanita yang dulu pernah ia sangat cintai, atau.. mungkin hingga saat ini cinta itu masih ada? Ah entahlah, Kevin belum bisa yakin perasaan yang ia rasakan ini adalah beneran cinta atau hanya sekedar rasa nyaman.


Setelah kejadian dimana ia bercinta dengannya di mobil, Kevin merasa ada sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya. Ia selalu ingin di dekat Alya dan merindukan aroma tubuhnya, bahkan hanya sekedar membayangkannya saja bagian inti tubuh bawahnya langsung bangun. Dan hal itu membuat Kevin kewalahan, karena tak bisa menuntaskannya.


Tapi selama ini ia selalu bisa menutupinya dengan bersikap dingin dan ketus, bahkan dia sengaja pulang larut malam agar nanti bisa menyelinap masuk ke kamarnya. Memastikan istrinya itu sudah tidur, barulah setelahnya ia akan melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Kevin akan memeluk Alya dari belakang, menghirupi dalam-dalam aroma tubuhnya dan berakhir mencumbunya. Namun sayangnya ia lakukan semua itu secara diam-diam, dan penuh kehati-hatian. Saat nafsunya sudah tak tertahankan lagi, ia akan berhenti dan pergi dari sana. Menuntaskan hasratnya seorang diri di kamar mandi.


Terkadang Kevin ada keinginan untuk meminta langsung haknya pada Alya, karena jujur setelah ia sudah merasakan rasanya bercinta, membuatnya tak bisa berhenti. Tapi selalu dia urungkan kembali, begitu mengingat saat pertama kali ia menyentuh istrinya dengan cara kasar dan jeritan kesakitan Alya selalu terngiang-ngiang di telinganya.


Kevin berpikir setelah kejadian itu Alya pasti tak akan mau melakukannya lagi, dan trauma di sentuh olehnya. Meski itu belum pasti, tapi dengan sifat istrinya yang tak enakan membuat Kevin yakin jika Alya pasti merasakan itu, hanya saja ia tak berani mengatakannya.


Maka dari itu sebisa mungkin Selama 3 bulan terakhir ini Kevin selalu berusaha menghindari kontak fisik dengan Alya, pulang telat dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. mengobrol pun hanya terjadi di meja makan saja, dan itu hanya sekedar basa-basi saja. Begitu pun soal komunikasi, Kevin mulai membatasinya.


Selain itu alasan Kevin yang jarang pulang di karenakan dia sibuk dengan urusan kantor, Belum lagi dengan proyek pembangunan hotel dan mall yang ada di luar kota yang sampai detik ini belum juga rampung, seakan mendukungnya untuk sering meninggalkan istrinya di apartemen.


“Ahh.. Sialan!” makinya setengah mendesah saat merasakan barang pusakanya sudah tegang, begitu terbayang wajah Alya.


“kenapa kamu selalu bisa membuatku menjadi gila seperti ini sih Al! Bahkan cukup membayangkanmu saja, dia sudah bangun. Apalagi nanti kalau kamu sudah ada disini, aku gak yakin bisa menahan diri.” keluhnya, ia menatap ke area pusakanya dengan tatapan nelangsa.


Sudahlah, Kevin tak terlalu ambil pusing dan lebih melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Namun itu tak bisa bertahan lama, karena ponselnya kembali menyala dan terdengar deringan panjang, pertanda jika ada yang menelponnya.


Kevin meliriknya, dan Seketika itu pula satu alisnya terangkat kala melihat ada nama kontak kakak sulungnya sebagai pemanggil, tanpa berpikir panjang lagi ia pun langsung mengangkatnya.


“ada apa?” tanyanya setelah panggilan itu sudah tersambung.


[Lagi dimana?] Rafael malah balik nanya.


“kantor.” jawab Kevin dengan suara lesu dan sedikit serak.


[Lo kenapa? Sakit?]


“Gak!”


[Terus kenapa suara Lo begitu? Kayak orang lagi nahan sesuatu.]


“gak apa-apa, gue lagi capek aja! Ada apa sih Lo telpon gue di jam kerja begini, lagi banyak kerjaan nih.”


[Disini udah sore Vin, Lo lupa perbedaan Korea dan Indonesia 2 jam lebih cepat?]


“hmm.. whatever! Ada apa sih?”


[Begini Vin, Sebelumnya gue minta maaf karena harus mengatakan ini sama Lo, tapi.. gue gak tau lagi harus bagaimana.]


Kevin yang mendengar itu nampak menghela nafas, ia melempar sedikit kasar tumpukkan kertas itu di meja. Perasaannya mulai tak enak, jika kakaknya sudah bicara begitu pasti ada sesuatu yang terjadi.


“gak usah bertele-tele, langsung ke inti saja!”

__ADS_1


[kakek minta Lo buat datang ke Busan sebentar, dia ingin membahas soal jam tangan terbitan Zeous Group yang sudah di beli oleh penguasa asing.]


“kenapa begitu? Bukannya sebelum sidang terakhir di adakan kakek sudah mengikhlaskannya, kenapa sekarang dia meminta lagi?”


[Gue juga kurang paham, dan Sebenarnya sudah seminggu ini gue dan papa sudah membujuknya buat iklhasin aja. Toh selain jam tangan itu, masih ada brand lain yang jauh lebih menjanjikan, tapi kakek tetap gak mau.]


“terus gue harus ngapain? Ambil lagi barang itu dari mereka, gitu?”


[Iya, itu juga kalau bisa.]


“jelas gak bisalah! Dimana-mana itu Barang yang udah di beli, gak bisa di ambil kembali! Kecuali sebelumnya di antara si penjual dan pembeli ada perjanjian. Tapi kenyataannya kan bukan Lo ataupun papa yang jual, tapi orang lain!”


[Gue juga tahu dengan semua itu, tapi sayangnya kakek gak mau ngerti. Dia gak perduli mau gimanapun caranya, asal semua jam tangan itu datang kembali. Bahkan gara-gara masalah ini kesehatannya sedikit menurun, gue pusing Vin harus gimana lagi!]


“ya udah kalau gitu di beli aja!”


[Itu dia masalahnya, mereka nolak saat gue ajuin mau beli! Mungkin karena mereka tahu asal mula barang itu dari kita, dan takut di anggap pencuri oleh konsumen jadinya mereka nolak. Ya.. meski fisiknya sudah dirubah tapi konsumen lama kita pasti bakal langsung mengenalinya.]


“apa bedanya sama gue! Pasti mereka juga bakal nolak.”


[Gue rasa sih enggak, karena sekarang kan Lo udah mimpin kantor mama. Mungkin mereka gak ada berpikir sampai sejauh itu.]


“siapa yang jamin?”


[Dicoba dulu aja Vin, siapa tahu berhasil. Selama ini kan apapun tindakan yang Lo ambil gak pernah meleset!]


Kevin menghela nafas berat, seraya kedua jarinya memijat pelipisnya. “masalahnya gue juga disini lagi sibuk bang, udah 2 bulan terakhir ini gue sering lembur dan harus bolak balik ke luar kota. selain itu gue juga gak mungkin ninggalin Alya terlalu lama, apalagi ini sampai ke luar negeri. Lo tahu kan setelah gue tahu segalanya, gue jadi parnoan!”


[Jadi ceritanya ada yang trauma di tinggalin nih?]


“gak udah ngeledek deh, ini gue serius!”


[Hahaha.. Ya udah kalau gitu ajak aja dia kesini, sekalian bisa nemenin kakaknya sampai melahirkan nanti. Itung-itung kalian honeymoon, siapa tahu habis itu Kevin junior cepat jadi.] Ucap Rafael membuat Kevin terpaku di tempat.


Kandungan Selena saat ini sudah memasuki bulan ke 8, itu artinya tinggal 1 bulan lagi wanita itu akan melahirkan. Menurut prediksi dokter, Selena akan melahirkan putra pertamanya di pertengahan bulan depan.


Yaps, jenis kelamin bayinya adalah laki-laki. pertama kali saat sang dokter menyatakan jenis kelaminnya, Selena sangat senang begitu pun dengan rafael. Meski bayi itu bukanlah darah dagingnya sendiri, tapi Rafael sudah sangat menyayanginya dan menganggap ia adalah putranya sendiri.


Fandy dan Marissa pun tak kalah bahagia, karena sebentar lagi penerus pertama dari 2 keluarga terpandang akan lahir. saking senangnya Marissa sampai langsung menginfokan kabar itu ke seluruh keluarga besar dirgantara dan Zein, dan entah bagaimana caranya kabar itu bisa bocor ke media dan menjadi heboh dikalangan para netizen dan fans.


Beda halnya dengan aji yang nampak biasa-biasa saja, karena ia tentu tahu anak itu bukanlah anak kandung Rafael, melainkan Chandra. Dalam otak pria itu sudah menyusun rencana besar, agar Selena bisa tersingkirkan dari keluarganya.


Setelah menyelesaikan masa kontrak terakhirnya beberapa bulan yang lalu, Selena benar-benar sudah berhenti dari dunia keartisan Dan memilih menjadi wanita biasa. Dan semenjak itu ia menetap di rumah keluarga Rafael yang ada di Busan, menemani dan membantu Marissa untuk merawat Fandy yang sudah semakin sepuh.


[Jadi gimana, Lo bisa gak kesini?] Tanya Rafael, karena sedari tadi Kevin hanya diam saja.


Kevin menghela nafas sejenak. “gue gak tahu, Alya juga lagi sibuk-sibuknya.”


[Cuti sebentar gak apa-apa kali Vin, gak usah lama-lama, seminggu aja cukup. biar nanti pas lahiran Selena semuanya bisa kumpul. Keluarga om Haris dan Dylan juga udah janji bakal Dateng, sekalian mau ngenalin calonnya.]


Kevin yang mendengar kata terakhir Rafael terkejut, benarkah Dylan sudah memiliki calon?


“dia udah ada calon? Seriusan dia mau nikah?” tanyanya dengan mata melotot.


Rasanya tak percaya saja kakak keduanya yang player itu mau berhubungan serius dengan wanita, padahal sebelumnya dia selalu berkata jika tak akan pernah mau menikah.


[Gue juga sebenarnya agak ragu, takutnya ini hanya alasannya saja untuk menghindari keinginan mama yang terus memaksanya nikah. tapi ya.. kita lihat aja nanti.]


“sama kayak Lo dong! Dulu kan Lo juga selalu di desak sama kakek buat cepat nikah. Makanya Lo sampai nekad nikahin Selena.” cetus Kevin, dan Rafael terkekeh geli saat mengingat itu.


[Demi keadaan juga, tapi mudah-mudahan aja sih dylan beneran mau nikah!]


“Hmm.. semoga aja.” lirih Kevin, ia sangat mengharapkan Dylan juga bisa menemukan wanita yang bisa dia jadikan sebagai pasangan hidup.


Sedikit info, kini hubungan kevin dan Dylan sudah membaik. Kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka pun sudah usai. Dylan sudah menjelaskan semuanya ke Kevin, termasuk soal siapa wanita yang ada di dalam video itu begitu kevin tiba-tiba datang ke Taiwan dan melabraknya.


Ternyata wanita dalam video itu adalah Jia, seorang artis dari agensi keluarganya. Jia sendiri dari dulu sudah tergila-gila dengan Dylan, makanya wanita itu berani merekam saat mereka berhubungan badan. Pas di tanya, katanya untuk kenang-kenangan saja. Awalnya memang begitu, tapi ternyata Jia juga melakukan itu atas suruhan Aji.


Aji menyuruhnya untuk membuat video mesum bersama Dylan, lalu mengedit wajahnya menjadi wajah Alya. Di dukung oleh Bentuk tubuh dan tinggi badan Jia dengan Alya yang sama persis, bukan hal yang sulit untuk merubahnya. Baru setelah itu aji melakukan sandiwaranya di depan Kevin, dan terjadilah kesalahpahaman itu.


2 Minggu setelah Alya mengungkapkan perasaannya, Kevin memang secara diam-diam datang ke Taiwan untuk menemui Dylan. Sesampainya disana ia langsung memarahinya, tak lupa ia juga memukuli tubuh kakak keduanya itu dengan penuh emosi. Namun untungnya Dylan tak melawan, pria itu hanya diam dan mengucapkan kata maaf.


Dan akibatnya membuat Dylan harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit selama seminggu, luka disekujur tubuhnya cukup parah dan ada cedera di bagian tulang rusuknya. sehingga mau tak mau Dylan harus berdiam diri di ruang perawatan khusus, namun pihak keluarganya tak ada yang tahu karena pria itu yang menginginkannya.


Selama dirumah sakit pun ia hanya ditemani oleh satu bodyguard, untuk urusan pekerjaan ia serahkan ke Darren.


Selesai dengan Dylan, Kevin terbang ke Busan dan menemui Rafael. Sama halnya dengan Dylan, Kevin juga melabrak kakak sulungnya itu dan berakhir memukulinya. Namun kali ini Kevin menyerang Rafael tak sekejam seperti ia menyerang Dylan, karena ia tahu kakak sulungnya itu memiliki daya tubuh yang lemah.


Mulai dari situlah Kevin tahu jika Rafael mengetahui soal Alya, karena gadis itu memiliki cincin peninggalan Tamara.


Waktu itu Kevin juga mengaku jika memang memberikan cincin tersebut ke Alya saat melamarnya, tapi Kevin tak menyangka ternyata selama ini Alya masih memakainya.


[harusnya Lo bilang terima kasih sama gue, karena masalah ini akhirnya kalian bisa nikah dan Lo tahu semuanya!]

__ADS_1


Kevin yang mendengar ucapan kakak sulungnya itu nampak memutar bola matanya, jengah.


“apa investasi gue sebesar 40% di Zeous belum kurang? Oh, jangan lupa juga dengan penthouse dengan harga milyaran yang ada di Paris atas nama Lo itu! Masih kurang juga, hem?”


[Kurang! Kurang.. banyak! Setelah ini Lo harus ngasih hadiah spesial buat keponakan Lo nanti!]


“cih, dasar bapak matre!” umpat Kevin dengan kesal, namun setelahnya ia malah terkekeh. “tenang aja, gue udah siapin dan gue jamin kalian akan langsung jantungan pas dengernya!” lanjutnya.


[Apa Lo akan memberikannya satu club bola Argentina?]


“yee.. itu mah Lo yang pengen!”


[Hahahaha.. baiklah, baiklah.. jadi gimana? Mau gak Lo bantu, ini demi kakek Loh..]


“ck! Okelah gue setuju, setelah ini gue bakal obrolin ini ke Alya. Tapi gak janji dia bakal langsung setuju!”


[Gue yakin 1000% dia bakal setuju.]


Setelah itu panggilan pun berakhir, Kevin kembali meletakkan ponselnya di meja. Ia menghela nafas pelan, Kepalanya yang masih bersandar di kursi nampak sedikit mendongak seraya memejamkan matanya, kemudian memutar kursinya menghadap tembok.


Ukuran sandaran kursinya yang panjang dan besar membuat tubuh Kevin seakan menghilang, hanya terlihat kedua lengannya yang di lapisi kemeja warna hitam.


“honeymoon..” gumamnya setengah melamun, seraya kedua jarinya mengusap-usap dagunya yang sedikit kasar akibat tumbuh rambut halus.


Ucapan kakak sulungnya tentang honeymoon cukup mengusik pikiran Kevin, entah kenapa ia seperti tertarik ingin melakukannya. Tapi ia ragu, takut jika nanti Alya malah keberatan. Secara hubungan mereka saat ini saja sedang tak karuan.


Tring!.. Tring!..


tak lama kemudian kevin kembali memutar kursinya menghadap ke meja kala mendengar suara dari ponselnya, ia menghela nafas saat ada 2 pesan masuk dari kontak Jeniffer.


{Jangan lupa nanti sore kita pergi ke bogor, untuk meninjau proyek yang ada disana.}


{Tapi.. bisa kan nanti kamu jemput aku lagi ke kantor, soalnya mobilku masih di bengkel.}


begitulah isi pesan yang muncul layar ponselnya, namun Kevin mengabaikan pesan itu dan lebih memilih meraih gagang telepon.


“ke ruangan gue sekarang sambil bawa jadwal harian!” ucapnya dengan nada tegas, kemudian ia kembali meletakkan gagang telepon itu ke tempatnya.


Tok.. tok.. tok..


Tak sampai 5 menit terdengar suara ketukan, Kevin mempersilahkan masuk dan pintu pun terbuka sehingga menampakkan diri Kenzo sambil membawa tablet berlogo apel digigit warna silver.


“apa aja jadwal gue hari ini?” tanya Kevin.


Saat ini Kenzo sudah berdiri di depan meja kerja Kevin sambil membacakan jadwal apa saja yang akan ia jalani hari ini, dan si empu hanya diam sambil mendengarkannya dengan baik.


Saat Kenzo sudah selesai, Kevin nampak manggut-manggut.


“untuk jadwal rapat dengan pihak angkasa group, bisa di wakilkan?” tanya Kevin.


“bisa tuan. Tapi.. kalau boleh saya tahu, apa alasannya?”


Bukan apa-apa, hanya saja baru kali ada jadwal rapat dengan perusahaan lain dan minta untuk di wakilkan. Biasanya ia selalu melarang, karena Kevin tipe orang yang hati-hati.


Belajar dari pengalaman insiden yang di alami oleh perusahaan milik paman dan kakeknya untuk jangan terlalu percaya dengan orang lain, meskipun orang itu sudah bekerja lama. Karena aksi kejahatan bukan karena hanya niat pelakunya, tapi juga ada kesempatan.


“sebentar lagi Alya mau kesini, dan rencananya gue bakal ajak dia ke Bandung. Dan mungkin akan menginap di villa, Sekalian juga mau jenguk Jakson! Jadi gue minta, jadwal peninjauan proyek yang ada di bogor di majukan satu jam lagi. Oh, ya kirim supir kantor untuk jemput Jeniffer!” titah Kevin.


Kenzo diam sejenak, sambil mengernyit. “apa dia..”


“ya!” potong Kevin dengan nada kesal.


“baik tuan, setelah ini akan saya laksanakan. Ada lagi?”


Hening sejenak.


“suruh ob belikan gue martabak telur, dan jus naga!”


Kening Kenzo kembali berkerut saat mendengar permintaan Kevin, merasa aneh. “tapi tuan.. anda kan paling tidak suka makanan yang mengandung minyak berlebih dan juga pedas, apalagi buah naga. Anda paling tidak suka buah itu.”


“tapi gue pengen makan itu, cari yang tidak pedas!” serunya sedikit geram.


Kevin sendiri tak paham dengan dirinya sendiri kenapa ia bisa memesan itu, tapi yang pasti ia ingin makan itu.


“lalu buah naga itu?”


“tetap belikan! Yang manis ya..”


“tapi--”


“Udah sih Lo gak usah banyak nanya, turutin aja!” potong Kevin seraya menatap sebal ke arah Kenzo.


“ba-baik tuan, kalau gitu saya permisi.” pamit Kenzo seraya menunduk, kemudian berlalu pergi setelah mendengar deheman kevin.

__ADS_1


“makin lama dia makin cerewet aja!” Gerutunya dengan bibir di majukan satu senti, tak lupa dengan lirikan mata julidnya memandang kepergian kenzo.


__ADS_2