TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 63~Hukuman


__ADS_3

“dan kamu harusnya sudah tahu aku tak pernah menerima penolakan, apapun yang aku ucapkan maka itu yang terjadi. Paham?” bisik Kevin.


Alya mengangguk saja. untuk saat ini dia hanya bisa memilih menurut. Ia takut jika terus membela tiara, suaminya itu akan berbuat yang lebih kejam lagi.


Meski Alya tak tahu apa yang sudah Kevin berbuat, tapi ia meyakini Kevin pasti melakukan sesuatu yang membuat targetnya menyesal telah berurusan dengan orang terdekatnya.


“bagus.” ucapnya seraya menepuk-nepuk pelan puncak kepala Alya.


Setelah itu Kevin kembali menegakkan badannya dan berlalu pergi begitu saja, setelah sebelumnya ia mengambil kembali jasnya di sandaran kursi.


...💐💐💐...


Sama seperti hari kemarin, setelah selesai membersihkan diri, Kevin segera turun dari tangga dengan wajah fresh dan pakaian santainya. Dia jalan menuju meja makan, yang mana disana Alya sudah duduk manis menunggunya.


Dan.. Untuk yang kesekian kalinya Alya terpana dengan penampilan Kevin, entah kenapa semakin dewasa Kevin terlihat semakin menggoda. Dan itu membuatnya berpikiran buruk, takut jika omongan kedua sahabatnya akan benar-benar terjadi.


‘memangnya kenapa kalau nanti Kevin bersama wanita lain, itu hak dia mau sama siapa aja. Lo mesti sadar Alya, Kevin itu udah gak mencintai Lo lagi. jadi Lo gak ada hak buat ngelarang dia!’


Meski ia tahu akhir dari pernikahan ini akan seperti apa, tetap saja hatinya tak rela jika Mayra ataupun Jeniffer berhasil merebut Kevin darinya.


Kalau bisa dia ingin memiliki Kevin seutuhnya, menghabiskan sisa hidupnya bersama pria itu. Sama seperti apa yang pernah dulu mereka janjikan semasa SMA dulu, yaitu hidup berdua selamanya dalam satu keluarga yang penuh cinta dan kebahagiaan.


Tapi semua keinginan itu lenyap bagaikan ditelan bumi, di gantikan dengan kehampaan. dan itu semua karena perbuatannya sendiri.


TAK!


”aduh!” pekik Alya saat merasakan keningnya sakit, dan pelakunya adalah Kevin.


Kevin memukul kening Alya dengan sendok yang dia pegang, sambil menatapnya tajam. Sudah hampir satu menit ia memperhatikan istrinya yang diam sambil menatapnya kosong, bahkan saat dia bicara pun tak dia dengar.


Karena kesal tak di anggap, Kevin meraih sendok memukul kening Alya agar segera sadar.


“kamu apa-apaan sih, main pukul-pukul aja!” protes Alya.


“jangan kebanyakan bengong, makan!” titahnya.


“iya..”


Alya mulai meraih centong nasi untuk mengambil nasi, di lanjut mengambil lauk pauknya. Setelah itu ia mulai makan.


“mau di ambilin gak nasinya?” tanya Alya saat melihat piring Kevin masih kosong.


“gak usah! Aku bukan anak 5 tahun yang membutuhkan bantuan orang dewasa untuk ambil makanan!” jawab Kevin ketus.


Setelah mengatakan itu Kevin langsung mengambil nasi dan lauk lainnya, mereka pun menikmati makanannya dengan senyap.


“enak gak?” tanya Alya lagi.


“hmm..” Kevin menjawab dengan deheman, sambil terus mengunyah makanannya dan tanpa menatap Alya.


“semua makanan ini mba intan yang masak, bukan aku.”


“hmm..” lagi-lagi Kevin menjawabnya dengan deheman.


Alya yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas, namun sedetik kemudian ia tersenyum karena sepertinya Kevin menyukainya.


“oh iya, soal keinginanku waktu di chat boleh gak?”


Mendengar itu Kevin langsung menatap Alya. “terserah, tapi jangan terlalu sering bikin makanan yang berlemak.”


“okey!” Alya terlihat sangat senang sekali.


“jangan cuma buat di pagi doang, tapi buat siang juga. Kadang aku suka malas kalau makan di kantin, Nanti kamu suruh aja Sean yang antar ke kantor.”


“iya, nanti juga aku akan bawakan buat kak Kenzo. Dia suka makanan apa?”


“vegetarian.”


Alya manggut-manggut paham.


Setelah itu tak ada percakapan lagi, baik Alya maupun Kevin fokus dengan makanannya.


...💐💐💐...


Beberapa menit kemudian pasutri itu sudah menyelesaikan acara makan malamnya, segera Alya membawa piring dan gelas kotor ke wastafel. Sebagian makanan yang tersisa ia masukkan ke dalam kulkas, agar tidak basi.


Di Saat Alya sibuk menata sisa makanan ke kulkas, Kevin yang kala itu baru selesai menghabiskan air minumnya langsung jalan ke arah wastafel. Menggulung lengan bajunya yang panjang, lalu meraih piring kotor dan spons yang sudah di basahi oleh sabun.


Jika malam kemarin setelah makan Kevin langsung pergi, tidak untuk sekarang. Kini pria itu akan membantu Alya untuk mencuci piring.


Alya sudah selesai dengan urusannya, kemudian ia menutup kulkas dan seketika ia kaget saat melihat Kevin sudah berdiri di depan wastafel, sibuk cuci piring dan gelas kotor.


“kamu ngapain?” tanyanya dengan kening berkerut.


Kevin tak langsung menjawab, pria itu menoleh sekilas lalu kembali fokus ke kegiatannya.


“joging!” jawabnya ketus. “udah tau lagi cuci piring, pake nanya lagi!” sambungnya.


Alya segera jalan mendekat meski setengah pincang, kemudian merebut spons dan piring kotor yang sempat Kevin pegang, lalu mendorong tubuhnya.


“udah gak usah, biar aku aja. Mending kamu pergi aja sana, ini pekerjaan kasar vin.” cegah Alya.


“apaan sih, orang cuma cuci piring doang. Udah ah minggir, ganggu kesenangan orang aja!” cetus Kevin seraya mendorong tubuh Alya.


“tapi--”


“udah diem! Lagian ini udah sering aku lakukan, sana pergi ke kamar terus belajar!” usir Kevin.


Namun Alya tak memperdulikan ucapan Kevin, gadis itu kembali merebut spons yang Kevin pegang dan membuat suaminya itu berdecak kesal.


“biar aku aja yang cuci, kamu pasti capek Kan habis pulang kerja. Mending kamu istirahat aja ya.” ucap Alya dengan nada lembut.


Kevin kembali menarik sponsnya dari tangan alya. “apa capeknya sih cuma cuci piring doang, udah deh jangan ribet. Pergi sana!”


Alya menghela nafas, percuma saja dia terus memaksa, yang ada nanti jadi ribut. Alya paham betul watak Kevin yang tak suka di bantah dan pemaksa, jadi dia lebih memilih mengalah saja.


“ya udah aku bantuin ya, biar cepat selesai.”


“sponsnya cuma satu!”


“aku ambil yang baru.”

__ADS_1


“gak perlu! Udah sih kamu nurut aja, pergi sana!”


“tapi nanti tangan kamu rusak Vin! Udah ya aku aja..”


Mendengar itu Kevin mendelik jengkel, dan tak kembali bersuara namun tak juga pergi.


“vin..”


“udah diem ah, gak usah ganggu konsentrasiku!”


Alya menurut, dia diam dan mematung di tempat. Mata bulatnya memperhatikan gerakan tangan Kevin yang begitu lancar dan cepat mencuci piring, sepertinya memang benar sebelumnya Kevin sering melakukannya sehingga tak ada canggung sama sekali.


Drrttt..


Di saat Kevin tengah fokus dengan kegiatannya, Alya mendengar suara getaran. Ia pun menoleh kanan kiri sekedar mencari asal suara, dan netranya berhenti di meja makan. Disana ada ponsel yang layarnya berkedip-kedip.


Kevin yang mendengar itu pun ikutan menoleh.


“itu ponsel kamu Vin?” tanya Alya.


“hm. Liatin siapa yang nelpon.”


Alya menurut, ia pun perlahan jalan ke meja dan meraih benda tersebut.


“mayra yang nelpon, dia video call.” ucap Alya setelah melihat id dengan nama Mayra.


Seketika itu pula raut wajah Kevin berubah. “matikan!”


Lagi-lagi Alya hanya bisa menurut, dengan ibu jarinya ia menggeser tombol merah dan kembali menaruhnya ke meja. Namun belum sampai 5 detik ponsel Kevin kembali bergetar, dengan nama kontak yang sama.


“vin..”


“dia lagi?”


“iya.”


“biarin!”


“tapi siapa tau aja dia mau ngasih tau sesuatu yang penting.”


Kevin yang kala itu baru saja selesai cuci piring dan sedang mengelap kedua tangannya di kain yang menggantung dekat wastafel nampak mendengus, kemudian dia berbalik badan dan jalan mendekati Alya.


“gak ada yang penting jika membahas tentang dia!” cetus Kevin, seraya mengambil ponselnya dan merejek panggilan Mayra.


“jangan terlalu kejam padanya Vin, biar bagaimanapun dia tetap wanita dan jangan lupa dia juga pernah menjadi bagian dari hidupmu meski kamu sendiri tak menginginkannya.”


Kevin mendelik menatap tajam ke wajah Alya. “lalu apa kamu mau aku terus merespon dia, memberi harapan padanya. Iya?”


Alya menggeleng. “bukan itu maksudku, tapi setidaknya lembutkan sedikit sikapmu. Aku sama Mayra sama-sama perempuan, jadi aku tahu gimana rasanya di kasarin sama pria yang dicintainya.”


Sejenak senyap. Baik Alya maupun Kevin sama-sama diam, dengan keadaan saling menatap dalam beda artian. Hingga akhirnya aksi tatap-tatapan itu berhenti saat ponsel Kevin kembali bergetar, ia berdecak kesal saat lagi-lagi Mayra menelponnya.


“angkat aja Vin, sebentar saja.” ucap Alya sambil tersenyum, membuat Kevin kembali menatapnya.


Kevin diam sejenak lalu menghela nafas kasar, menarik kursi dan duduk disana. kemudian jarinya menggeser tombol hijau dan nampaklah wajah Mayra yang seperti sedang berbaring di ranjang serba putih.


“mau apa Lo?” tanya Kevin ketus.


Mayra berbicara setengah berteriak dan sambil menangis, entah itu asli atau hanya pura-pura.


Alya terlihat ingin pergi dari dapur, berniat akan memberi ruang Kevin dan Mayra untuk mengobrol. Namun aksinya itu terhenti saat Kevin mencekal lengannya, suaminya itu langsung melotot saat dirinya ingin berontak.


Kevin memberi isyarat pada Alya untuk duduk di kursi yang ada di depannya, Alya menggeleng seraya menarik tangannya.


Namun apalah daya, kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Kevin. Pada akhirnya Alya memilih menurut, dia pun duduk di kursi depan Kevin.


[Aku sedang di rumah sakit Vin, aku mohon kamu datang kesini ya temenin aku]


Mendengar kata rumah sakit membuat Alya kaget, beda halnya dengan Kevin yang nampak cuek.


“siapa Lo, sampai-sampai gue harus nemenin Lo segala. Gak penting!”


Kevin mendesis dan langsung mendelik tajam saat merasakan ada yang mencubit pinggangnya, pelakunya siapa lagi jika bukan Alya.


[Vin, ayolah sekali aja. Disini aku sendirian, mama dan papaku lagi ada urusan.]


“bodoh amat!”


[Vin..]


“sorry ya Mayra, gue gak bisa dan gak akan pernah bisa nemenin Lo. Minta aja cowok selingkuhanmu itu buat nemenin Lo, gue disini lagi sibuk bikin anak sama Alya!”


Mendengar kata terakhir Kevin membuat Alya mata Alya melotot. Tak terkecuali Mayra yang mendengar itu juga ikutan melotot, hatinya berdenyut nyeri saat membayangkan Kevin dan Alya bercinta.


[Ap-apa kalian sudah melakukannya?]


“tentu saja! Bahkan hampir setiap waktu kami melakukannya, Iya kan sayang?”


Kevin menggeser sedikit ponselnya ke arah Alya, hingga wajahnya muncul di layar ponsel Kevin. Lalu tanpa di duga sebelumnya Kevin langsung mencondongkan wajahnya ke wajah Alya dan mencium bibirnya.


Mayra nampak terkejut begitu melihat adegan itu, dia tak menyangka jika sedari tadi Alya ada bersama Kevin. Mayra pikir Kevin sedang sendirian.


Namun sedetik kemudian raut wajah Mayra berubah, ia menatap Alya dengan penuh kebencian dan dendam. Dalam batinnya ia bersumpah akan merebut kembali dari Alya, apapun caranya!


Bukan hanya Mayra saja yang terkejut, tapi Alya pun begitu. Belum selesai dia kaget dengan ucapan terakhir Kevin, kini suaminya itu malah bertingkah di luar dugaan.


“kamu apa-apaan sih?” desis Alya sambil memukul lengan Kevin.


“biar dia tau sayang, kalau aku tuh lagi benar-benar sibuk.”


“kevin, stop it!” pekik Alya.


“why, memang itu kan kenyataannya? Gak usah malu-malu gitu lah..” goda Kevin seraya mencolek dagu Alya.


Alya memutar bola matanya malas, tak mau tergoda dengan ucapan Kevin karena ia tahu saat ini Kevin sedang bersandiwara.


“tadi aku dengar kamu lagi ada dirumah sakit, emang kamu sakit apa may?” tanya Alya pada Mayra.


“mau sakit apapun, itu bukan urusan Lo!” jawab Mayra dengan nada ketus.


Kemudian tanpa basa-basi lagi Mayra langsung mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


“dia pasti marah sama aku.” ucap Alya sambil menatap Kevin.


Kevin mengangkat bahunya. “aku gak peduli! Mau dia marah atau enggak, itu bukan urusanku.”


“ck! Kamu jahat banget sih jadi cowok, gak ada empatinya sama sekali!”


“buat apa berempati sama cewek licik kayak dia, buang-buang waktu aja!”


“jangan gitulah Vin, kasihan Mayra. Aku lihat tadi wajahnya memang pucat gitu, kayaknya dia beneran sakit deh.”


“bodoh amat!”


“besok kita jenguk aja yuk?” ajak Alya dengan wajah sumringah.


“ogah!” tolak Kevin seraya bangun dari duduknya.


“ya udah kalau kamu gak mau, biar aku aja! Nanti aku bakal masakin dia makanan yang enak!”


Kemudian Alya bangun dari duduknya dan siap berbalik badan, namun dengan cepat Kevin kembali membalikkan badannya agar bisa menghadapnya.


“jangan harap aku bakal ijinkan!” desisnya dengan rahang mengetat.


“sebentar aja kok, aku janji gak bakal lama. Lagian aku kesana sama kak Sean, nanti juga aku bakal ajak arina dan Jessica.”


“berani membantah? Apa kamu tidak sadar sebahaya apa Mayra buat kamu, belum lagi nanti orang tuanya lihat kamu. Mau kamu dihina lagi?”


Alya tersenyum, perlahan tapi pasti ia menggerakkan sebelah tangannya untuk mengusap sisi wajah Kevin. “apa kamu lupa jika sejak dulu aku sudah mendapat hinaan seperti itu, bahkan ada yang jauh lebih kejam. Hem?”


Sebelum menjawab, Kevin menghela nafas kasar. Lalu dengan sekali gerakan dia menarik pinggang Alya agar bisa menempel sepenuhnya dengan tubuhnya, dan itu membuat Alya terkejut sejenak.


“dan dengan bodohnya kamu selalu diam saja setiap di hina seperti itu, apa kamu tidak merasa sakit hati?”


“tidak! Hinaan mereka adalah makanan sehari-hariku, jadi aku biasa saja. Selama mereka tak membahas soal keluargaku, maka aku akan menerimanya.”


“itu menurutmu, tapi bagaimana menurut keluargamu? Teman-temanmu? Apa mereka juga punya berpikiran yang sama sepertimu?”


Alya diam.


“kamu gak bisa jawab kan? Karena kamu hanya mementingkan dirimu sendiri saja, kamu gak pernah tahu kan perasaan orang-orang terdekatmu setiap melihatmu dihina? ya.. mungkin keluargamu tak tahu dengan kehidupan apa yang selama ini kamu jalani, tapi sahabatmu tahu semuanya. Jika dia tak memandang kamu, pasti mereka akan berterus terang pada keluargamu. Terutama kakakmu, aku yakin dia akan langsung bertindak setelah mengetahui semuanya.”


Alya tetap diam, suaranya bagai tercekat di tenggorokan begitu mendengar ucapan panjang Kevin. Alya akui, semua perkataan suaminya memang benar. Dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, menutupi semua fakta perjalanan hidupnya semenjak kakaknya memutuskan pergi ke Korea untuk mengejar mimpinya.


Setiap keluarganya bertanya tentang kesehariannya, Alya selalu mengatakan baik-baik saja. Dia berbohong dengan pergaulannya di sekolah, padahal kenyataannya hampir setiap hari dia selalu menjadi korban Bullyan kakak kelasnya.


Bukan hanya di sekolah, setiap ia bertemu teman sekolahnya di tempat umum pun selalu di jahili. Namun entah terbuat dari apa hatinya yang selalu memaafkan mereka, dan menganggap itu hanyalah candaan biasa.


“tapi.. kamu tenang saja, saat ini sudah ada aku yang menjadi tamengmu. Aku akan berantas siapa saja yang berani menyentuhmu, walau hanya seujung kuku!”


“Vin--”


“ssttsss...” Kevin menempelkan jarinya ke bibir Alya. “perlu yang kamu ingat, setiap ucapan yang keluar dari mulutku, maka itu yang terjadi. Aku gak perduli jika pelakunya itu sahabatku, atau mungkin keluargaku. Akan aku habisi!” sambungnya.


Alya kembali diam, ia menatap intens netra Kevin. Entah sadar atau tidak, kini kedua tangannya sudah melingkar di leher Kevin.


“apa menurutmu yang aku lakukan ini egois?” tanya Alya dengan nada pelan.


“menurutku, ya.” jawab Kevin.


Alya menggeleng. “enggak Vin, menurutku ini bukan egois. Tapi apa yang aku lakukan ini adalah sebuah pengorbanan, pengorbanan untuk melindungi keluarganya dari orang yang ingin menyakitinya. gak ada bedanya sama kamu. Kamu rela menikahiku yang jelas-jelas kamu membenciku, tapi tetap saja kamu melakukannya. Itu semua demi apa? Demi keluargamu. Terutama kakekmu. tak cuma itu, kamu juga menjagaku sedemikian rupa. Sampai-sampai kamu menyewa bodyguard dan memberiku alat agar keberadaanku selalu kamu pantau. Seolah-olah aku ini adalah orang terpenting dalam hidupmu, padahal aku tahu kamu melakukan itu karena sedang menjalani peran seorang suami.”


Alya nampak menghela nafas sebelum melanjutkan.


“aku gak tahu separah apa masalah yang ada di perusahaan papamu sehingga kamu mau mengorbankan dirimu untuk menikahi wanita sepertiku, tapi yang jelas kamu melakukannya demi kenyamanan keluargamu. Iya kan?”


Kevin diam sejenak, kedua netranya menatap netra Alya bergantian. Disana Kevin bisa merasakan ada kepedihan yang mendalam, namun ia belum paham apa itu.


“ya, kamu benar. Aku lakukan ini demi keluargaku.” ucap Kevin dengan suara berat.


Alya yang mendengar itu tersenyum manis, ia tahu di balik sifat cuek dan tutur katanya yang kasar Kevin adalah laki-laki yang baik dan memiliki hati lembut.


“jadi mulai sekarang berubahlah, buang jauh-jauh rasa kasihan pada semua orang yang pernah menyakitimu, dan jadilah wanita yang memiliki sifat tegas.”


“tapi-”


“gak ada tapi-tapian, sekali aku bilang buang, maka buanglah. Jika tetap gak mau maka siap-siap aja dapat hukuman dariku!”


Mata Alya langsung melotot. “hukuman?”


“ya.”


Alya mendengus sebal. “baiklah, aku akan berubah. Tapi.. boleh kan kalau besok aku mau jenguk mayra.”


“tadi aku udah kasih jawabannya.” ucap Kevin seraya menjauhkan diri dari Alya.


“Ayolah Vin, cuma sebentar aja kok. Itung-itung menjaga silaturahmi.” nada suara Alya terdengar manja.


“Gak!”


Kevin udah siap beranjak pergi dari dapur, namun Alya menghadangnya.


“sebentar aja Vin..”


“sekali enggak tetap enggak! Udah ah minggir!”


“aku gak mau minggir sebelum kamu kasih ijin.” keukeuh Alya, dan Kevin berdecak kesal.


“kamu memang keras kepala ya! Jawabanku tetap sama, aku gak akan pernah ijinkan kamu untuk dekat-dekat sama Mayra maupun keluarganya! Atau mau aku hukum!”


“aku gak perduli!”


Kevin yang mendengar itu nampak tersenyum smirk. “oh begitu ya, baiklah jika itu maumu. Rasakan ini.


Selepas itu Kevin langsung menggendong tubuh Alya layaknya anak koala, kemudian membawanya keluar dari dapur. Akibat dari aksinya itu membuat Alya langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Kevin, serta kedua kakinya pun melingkar di pinggangnya.


Alya nampak menahan nafas saat kedua tangan Kevin meremas bokongnya, perasaannya menjadi tidak enak setelah suaminya itu membawanya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


“kamu mau apa?” pekik Alya dengan mata melotot saat Kevin menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Namun Kevin tak menjawab, dia hanya tersenyum smirk.


DEG!


jantung Alya bagaikan lepas dari sarangnya saat melihat Kevin membuka kaosnya, ia menelan salivanya susah payah begitu menatap tubuh bagian atas Kevin yang polos. Terlihat begitu kencang, dan pastinya keras.

__ADS_1


‘ya tuhan.. apa dia akan menghukumku dengan cara seperti ini? mungkinkah setelah ini aku akan kehilangan keperawananku?’


__ADS_2