
“itu, itu! Nona muda udah keluar!” pekik fahmi seraya menepuk bahu Ridwan saat ingin menyimpan ponselnya ke saku celananya.
Ridwan kaget, spontan ia pun langsung menoleh. “apa kita harus menampakkan diri di depannya?” tanyanya ragu.
“pakek nanya lagi, haruslah! Kalau kita tetap sembunyi, gimana caranya kita membawanya ke tuan muda?” jawab Fahmi.
“Ya sudah, kita samperin dia.”
Bergegas, mereka pun jalan cepat ke arah dimana Alya berada. Sesampainya disana, mereka langsung menghadang langkah Alya dan hal itu membuat si empu kaget.
“siapa kalian?” tanyanya, mata bulatnya menatap bergantian 2 pria asing di depannya dengan tatapan waspada.
“kalian jangan macam-macam ya, kalau nekad aku akan teriak!” pekiknya dengan mata melotot, dan memperlihatkan wajah judes saat kedua pria itu ingin mendekatinya.
Akibat dari suaranya itu membuat sebagian orang yang berlalu lalang disana melirik penasaran, membuat 2 pemuda yang ada di depannya ketar-ketir.
“tenanglah nona, kami bukan orang jahat. Kami adalah bodyguard yang tuan muda sewa untuk melindungi nona.” sahut Fahmi dengan nada panik, bisa di dilihat dari mimik wajahnya.
Sejenak, Alya diam saat kata 'tuan muda' terucap dari bibir salah satu pria di depannya. Keningnya berkerut tipis seraya menduga-duga, mungkinkah tuan muda yang mereka maksud adalah Kevin?
“tuan muda? Maksudmu.. Kevin?” tanya Alya agak ragu.
“iya nona.” jawab mereka serempak.
Awalnya, Alya tak langsung percaya dengan ucapannya. Siapa tahu kedua pemuda yang ada dihadapannya itu adalah seorang penjahat yang sedang menyamar jadi anak buah Kevin. Lalu matanya tak sengaja melihat Bros berbentuk kelopak bunga warna merah yang Ada di masing-masing kerah baju kedua pria itu, dari situ Alya bisa percaya jika mereka memang anak buahnya Kevin.
“apa kalian bodyguard bayangan yang suamiku sewa?” tanya alya lagi.
Hah! Bodyguard bayangan? Baik Ridwan, maupun Fahmi sama sekali tak paham dengan ucapan Alya barusan.
“bodyguard bayangan? Maksud nona apa?” kali ini Ridwan yang bertanya.
“maksudnya itu kalian yang bertugas untuk menjagaku dari jarak jauh, makanya aku bilang bodyguard bayangan.” jelas Alya.
“Oh begitu..” ujar kedua pria itu secara bersamaan, seraya manggut-manggut.
“iya nona.” ucap Ridwan.
“terus ngapain kalian bisa menampakkan diri?” tanya Alya.
“kami ditugaskan untuk membawa nona ke proyek, karena sekarang tuan muda sedang mencari nona. Dan tuan muda juga bilang ponsel nona tak bisa dihubungi, makanya tadi Kenzo menelpon saya dan menanyakan keberadaan nona.” jawab Ridwan menjelaskan.
Mendengar itu raut wajah Alya berubah kaget, ia langsung merogoh tasnya dan meraih ponselnya yang ternyata sudah dalam keadaan mati karena kehabisan baterai.
“ya ampun, hpku mati! Pantas saja sedari tadi senyap. Ya sudah kita kesana sekarang!” ujarnya seraya kembali menyimpan ponselnya ke tas.
“baik nona.”
Selepas itu, Alya bergegas pergi dari sana dengan langkah cepat. Di ikuti oleh Ridwan dan fahmi mengekor di belakang. Kedua pria itu nampak menuntun langkah Alya ke jalan raya, dimana disana sudah ada satu mobil merek sedan warna hitam terparkir.
Dengan sigap Ridwan membuka pintu belakang, mempersilahkan alya untuk masuk ke dalam. Sedangkan Fahmi sudah standby di kursi pengemudi dan mesin mobil pun sudah di nyalakan, tak lama setelahnya Ridwan pun menyusul masuk ke kursi sebelah dan mobil tersebut perlahan bergerak untuk meninggalkan area tempat itu.
Sepanjang jalan menuju lokasi proyek, Alya tak henti-hentinya mengajak kedua pria di depannya mengobrol. Ia merasa senang karena kedua bodyguard yang baru saja ia tahu namanya itu asyik di ajak bicara, tak seperti Sean yang kaku dan irit bicara. Alya juga baru tahu jika usia mereka ternyata hanya terpaut 3 tahun lebih tua darinya, yang berarti sebaya dengan Kevin.
Sama halnya dengan Alya, Ridwan dan fahmi pun merasakan hal yang sama. Mereka senang karena mendapatkan nona muda yang humble, dan cerewet. Sehingga mereka tak merasa canggung jika berhadapan dengannya, ditambah dengan perhatian kecilnya untuk selalu sabar menghadapi tingkah trempamen suaminya.
‘bukankah ini adalah pasangan dengan porsi lengkap? satunya dingin, dan satunya cerewet tapi tetap perhatian. sepertinya hidup tuan muda selanjutnya akan tentram.’ gumam Ridwan dalam hati sambil menahan senyum.
...💐💐💐...
“nona muda sudah kembali.” seru Kenzo dari ambang pintu.
Kevin yang mendengar itu langsung berdiri, melipat lengan kemejanya hingga ke siku, lalu ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik sebelum akhirnya ia melangkah keluar basecamp.
Sean pun begitu, dengan wajah khawatirnya ia bergegas keluar menyusul langkah Kevin. Pikirannya berkecamuk, takut jika tuan mudanya melakukan hal fatal. Karena ia bisa membaca mimik wajah majikannya itu, saat mendengar istrinya sudah kembali.
Disana tak ada hanya mereka bertiga, jeni dan Amara pun berada di ruangan tersebut dan tadi mereka sempat mengobrol dengan kevin.
“kamu habis darimana saja, hah! Pergi gak pamit, telpon pun gak aktif. Apa kamu tahu kami semua panik nyariin kamu!”
Suara nyaring Kevin mulai terdengar di gendang telinga jeni dan amara, mereka melihat kini Kevin sedang berdiri di depan Alya sambil berkacak pinggang. Sedangkan para anak buahnya pada menyingkir, menatap nelangsa si nona muda yang kena marah.
Sementara Alya sendiri hanya bisa diam sambil memasang wajah polos, namun tidak dengan sorot matanya yang memperlihatkan penyesalan. Jenifer yang menyadari itu berdecih, menganggap jika saat ini alya hanya sedang akting agar bisa dikasihani.
‘dasar munafik!’
“maafkan aku Vin, aku gak bermaksud begitu. Tadi perutku tiba-tiba sakit dan pengen ke kamar mandi, jadinya aku keliling tempat ini buat nyari tapi gak nemu.” jelas Alya.
“kamu punya mulut kan? Bisa kan tanya ke orang yang ada disini? Atau kamu bisa samperin aku ke dalam, tapi kamu malah pergi sendirian. Bahkan Sean kamu suruh pergi ke warung!”
“aku cuma gak mau ngerepotin orang lain, lagian di dalam kamu kan lagi kerja. Aku cuma takut kalau aku samperin bakal ganggu aktivitas kalian.”
Mendengar itu Kevin berdecak kesal seraya membuang wajahnya sekilas ke samping, merasa geram dengan tingkah istrinya itu. Sebenarnya Kevin sama sekali tak marah dengan Alya, tapi dia hanya khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu, terlebih sekarang mereka berada di luar kota dan Alya belum kenal dengan suasana disana.
Perlahan-lahan Alya jalan mendekat, meraih lengan suaminya. Ia menatap penuh wajah suaminya yang merona, karena menahan emosi.
“maafkan aku, aku janji gak bakal ulangi lagi. Tadi itu benar-benar mendesak!” ujarnya penuh sesal.
Kevin menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya sejenak, lalu mengangguk.
“sudah, sudah lupakan saja. Tapi janji ya gak bakal ulangi lagi?”
Alya mengangguk antusias. “iya aku janji.”
“Asal kamu tahu saja, bukan hanya aku yang khawatir tapi Sean juga! Lihat dia sekarang.” ucap Kevin, lalu jarinya mengarah ke Sean.
Alya pun mengikuti, dan dia semakin merasa bersalah begitu menyadari ekspresi pria bule itu. Sean yang selama ini selalu memasang wajah dingin kaku, kini berubah sendu.
__ADS_1
“maafkan aku kak, aku gak bermaksud begitu.”
Sean tak langsung bersuara, pria itu menghela nafas sambil mengangguk. “saya mengerti nona, tapi lain kali jangan seperti ini lagi. Saya benar-benar khawatir, apalagi kaki nona itu belum sepenuhnya sembuh.”
“iya kak.”
Kevin menurunkan tangan Alya dari lengannya, lalu beralih merengkuh pinggangnya dan membawanya ke pelukannya.
“kita pergi sekarang.” ucapnya, lalu pergi menuju mobilnya.
Melihat itu, sean langsung jalan cepat menyusul langkah keduanya. Sedangkan Kenzo jalan ke mobil pribadinya, di ikuti oleh jeni dan Amara. Mereka masuk ke mobil masing-masing, begitupun dengan Ridwan dan fahmi yang juga mulai masuk mobilnya. Tak berselang lama ketiga mobil itu mulai bergerak, meninggalkan area proyek yang remang-remang.
“kita bakal langsung pulang ke Bandung?” tanya Alya pada Kevin.
Kevin yang kala itu sedang fokus ke layar ponselnya menjawab, tanpa mengalihkan pandangannya.
“gak. Kita akan makan malam dulu disini, jika memungkinkan akan langsung ke bandung.”
“kalau tidak?”
“cari hotel.”
Alya yang mendengar itu hanya manggut-manggut, lalu melempar pandangannya ke luar jendela yang memperlihatkan pemukiman warga dan toko-toko kecil. Semakin lama jalanan yang mereka tempuh semakin ramai, banyak penjual kaki lima mangkal di sepanjang jalan tersebut.
Srek!
Alya kembali menoleh saat merasakan beban berat di perutnya, ia tersenyum tipis seraya tangannya menyentuh sepasang lengan kekar suaminya melingkar erat disana.
“kenapa?” tanyanya dengan suara berbisik.
“perutnya masih sakit gak?” balas Kevin dengan pertanyaan.
“sedikit.” jawab Alya.
“udah minum jamunya kan?”
DEG!
Pertanyaan Kevin kali ini membuat Alya kaget, ia tak menyangka pria yang kini tengah memeluknya dari samping itu masih mengingat kebiasaannya yang selalu minum jamu setiap datang bulan.
“k--kamu masih ingat?”
Kevin tak langsung menjawab, pria itu tersenyum tipis sebelum akhirnya mendaratkan ciuman hangat di pipi Alya.
“apapun tentang kamu, aku selalu ingat.”
Alya membisu sejenak dengan wajah merona, dirinya benar-benar tak menyangka jika Kevin bisa berkata begitu.
“aku belum minum jamunya, kan aku gak tahu bakal datang sekarang.”
Kevin Mengernyit, ia pun sedikit melonggarkan rengkuhannya lalu menoleh dan menatap lekat wajah istrinya.
Alya yang mendengar itu meringis. “aku lupa.”
Kevin menghela nafas, lalu kembali mendekap tubuh alya dan kali ini semakin erat. Bahkan saat ini ia mendaratkan dagunya ke bahu kecil istrinya, yang mana itu membuat jantung si empu berpacu. Meski bukan kali pertama mereka bersentuhan secara intim seperti ini, Tapi entah kenapa Alya selalu saja di buat panas dingin oleh suaminya itu.
“ya udah nanti pas di restoran, kamu pesen makanan yang hangat ya. Beli jamunya pas mau pulang aja, gimana?”
Alya mengangguk setuju seraya tersenyum tipis, namun di detik berikutnya Alya dibuat kaget saat tangan Kevin mengangkat ujung kaosnya dan membuka kancing celananya.
“kamu ngapain?” pekiknya dengan mata melotot, seraya tangannya menahan gerakan jari Kevin yang ingin menurunkan resleting celananya.
“tenanglah sayang, aku hanya pengen elus perut kamu aja kok. Siapa tahu dengan begitu rasa sakitnya berkurang.”
“hah! Mana ada begitu, modus aja kamu mah. udah biarin aja, nanti juga nyerinya ilang.” ucapnya, lalu menyingkirkan tangan suaminya dan kembali mengancingkan celananya.
“tap--”
“Lagian disini ada kak Sean Vin, kalau dia lihat sama perbuatan kamu gimana?” potong Alya cepat.
“kamu yakin?”
“iya, kan ini udah biasa.”
Kevin menghela nafas kemudian mengangguk, ia memilih untuk menurut saja. Lagipula apa yang dikatakan istrinya itu ada benarnya juga, disana mereka tak hanya berdua. Ada Sean yang menjadi pihak ketiga, dan ia tak mau perbuatannya di ketahui oleh pria bule itu.
Tak lama setelahnya perhatian Kevin kembali teralih ke Alya, saat istrinya itu merubah posisi duduknya menjadi menghadapnya, lalu mendongak.
Cup!
Secara otomatis kedua mata Kevin terpejam saat Alya mencium bibirnya duluan, sejenak ********** sebelum akhirnya melepaskan.
“aku baik-baik aja kok, jadi kamu gak usah cemas begitu.” Bisiknya.
Kevin mengangguk samar, seraya sebelah tangannya mengelus lembut pipi istrinya. “iya sayang, dan maaf karena sudah marah-marah sama kamu tadi.”
“gak apa-apa, aku paham kamu khawatir. Aku janji, setelah ini akan meminta ijin dulu sebelum pergi.”
Kevin kembali mengangguk tanpa suara, lalu melayangkan kecupan di kening istrinya dan berakhir mempererat pelukannya.
...💐💐💐...
Setelah memakan waktu setengah jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Ketiga mobil tersebut mulai memasuki area parkir sebuah restoran mewah, dan dengan teratur memarkirkan mobilnya di ruang kosong.
Mobil pertama yang pintunya terbuka adalah milik Kenzo, pria tampan bertubuh kurus itu keluar, lalu di susul oleh Amara yang duduk di jok sebelah dan terakhir Jenifer yang duduk di kursi belakang.
Mereka tak langsung masuk ke dalam restoran, karena sedang menunggu mobil Kevin yang datang paling akhir. Sementara mobil yang di tumpangi Ridwan dan fahmi sudah terparkir di samping mobil Kenzo, kedua pemuda itu juga sudah keluar dan ikutan berbaris menunggu sang majikan.
__ADS_1
Hingga 3 menit setelahnya orang yang di tunggu pun datang, Kevin dan Alya jalan mendekati para anak buahnya beserta kliennya.
Jenifer menatap tak suka ke arah Alya saat menyadari tangannya melingkar di lengan Kevin, ia beranggapan tingkahnya saat ini sangatlah lebay dan seperti sengaja ingin mengumbar kemesraan di depannya. Alya yang menyadari itu memilih cuek, dan pura-pura tak melihat dengan tingkah Jenifer yang menurutnya sedang cemburu.
‘siapa suruh menyukai suami orang, kayak gak ada lakik lain aja! sekarang nikmatin tuh sakit hati!’ gerutu Alya dalam hati.
“Lo udah reservasi tempatnya kan?” tanya Kevin pada Kenzo.
“sudah tuan.” jawab Kenzo sambil mengangguk.
Selepas itu Kevin dan Alya melangkah masuk ke dalam restoran, di ikuti oleh keenam orang yang ada di belakangnya. Begitu sudah di dalam datang seorang pelayan perempuan berambut pendek, dengan ramah dan full senyum ia menyapa tamunya.
“reservasi atas nama Kevin dirgantara ada di meja nomor 10, mari saya tunjukkan tempatnya.” ucapnya seraya tangannya mengarah ke kiri, dan tubuhnya sedikit menunduk.
Mereka pun kembali melangkah, mengikuti langkah pelayan tersebut menuju meja yang di maksud. Begitu sudah tiba, masing-masing sudah menarik kursi dan duduk disana. Tak lama setelahnya datang dua pelayan pria, masing-masing keduanya sudah membawa buku menu, pulpen dan buku kecil. Dengan terampil dan cekatan kedua pelayan pria itu mencatat apapun yang mereka pesankan, setelahnya mereka pun pergi.
Sambil menunggu pesanannya datang, jeni berinisiatif mengajak Kevin mengobrol. Membahas soal pekerjaan di kantor, hingga membahas ke pribadi. Dan seperti biasa, Kevin selalu meresponnya meski datar. Sebenarnya Kenzo juga ikut menimpali, namun jeni selalu mengabaikannya dan menganggap semua orang yang ada disana buram.
Bisa di lihat saat Kevin ingin menoleh ke Alya, jeni selalu menarik perhatiannya lewat obrolan bisnis atau mengenang masa sekolah dulu. Seakan gadis itu ingin menunjukkan ke Alya jika dirinya sudah tahu banyak tentang Kevin, dan ingin mengunggulinya. Dan dari situ Alya bisa tahu jika keduanya pernah kuliah di tempat yang sama waktu di Inggris, lalu ingatannya melayang ke hari pertama ia menjadi seorang istri. Hari dimana ia bertemu dengan keluarga suaminya, dan di hari itu pula ia melihat potret Kevin bersama Jenifer yang ada di dalam kamarnya.
Jenifer tak sadar jika perilakunya ini diperhatikan oleh Amara dan Kenzo, terlebih Sean yang sedari tadi sudah menatap wanita itu tajam. Beda halnya dengan Kevin yang nampak biasa-biasa saja, atau mungkin tak sadar.
Ah, tentu saja. Hal yang paling bisa mengalihkan watak introvertnya itu hanya Alya saja, selain itu ia masa bodoh.
Sedangkan Alya sendiri memilih diam dan membiarkan Jenifer untuk memonopoli suaminya, ia percaya kevin tak akan macam-macam. Ia meliarkan pandangannya untuk melihat-lihat seisi restoran tersebut. Terlihat agak penuh dan tentunya berisik, karena sebagian pengunjungnya kebanyakan keluarga. ada beberapa yang berpasangan, selebihnya gerombolan para muda-mudi.
Alya tersenyum saat pandangannya tak sengaja menatap balita perempuan berparas asing yang tengah duduk di trolinya, yang ia kira usianya masih bulanan. Gadis itu terkekeh pelan saat balita itu membalas tatapannya dan menggerakkan jari-jari mungilnya sambil mulutnya mengemut dotnya.
Kevin yang duduk di sebelahnya tak sengaja mendengar kekehan sang istri pun langsung menoleh, perlahan ia menggeser kursinya untuk merapat dengan kursi Alya.
Jenifer yang melihat itu langsung cemberut, dan mendengus sebal.
“kenapa sayang?” tanya Kevin tepat di telinga Alya.
Alya pun menoleh. “ah! Enggak apa-apa Vin, cuma aku lagi lihat bayi itu. Lucu ya..” ucapnya seraya menunjuk ke arah posisi balita yang dia maksud lewat dagunya.
Kevin mengikuti arah pandang yang Alya maksud, kedua sudut bibirnya sedikit terangkat saat memandang netra balita tersebut yang warna abu-abu.
“hemm.. lucu.” balas Kevin, lalu ia kembali menatap Alya seraya tangannya mengusap kepalanya.
“kamu mau punya bayi selucu dia?” tanyanya dengan nada berbisik.
“mau!” jawab Alya cepat seraya menoleh, bola matanya nampak berbinar.
Dan hal itu membuat Kevin terkekeh geli, dengan gemas ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Alya dan menggesek hidung mancungnya ke hidung mini sang istri.
“nanti kita bikin ya, mau berapa?”
“sekasihnya aja, tapi aku pernah ada impian pengen punya anak kembar.”
“kembar? Emm.. Kayaknya sih masih bisa, soalnya ada saudara dari pihak grandpa yang kembar.”
“oh ya? Bagus dong!”
“kita pasrahkan saja semuanya sama tuhan ya, mau seberapa ia kasih anak, kita harus mensyukurinya.”
Alya yang mendengar itu mengangguk setuju, ia tersenyum senang karena ada kesempatan untuk memiliki anak kembar. Ya.. mudah-mudahan saja impiannya itu bisa terwujud.
Pasutri itu nampak sangat bahagia, dan lupa daratan. Sehingga melupakan jika ada lima pasang mata yang iri dengan kemesraan mereka, kecuali Jenifer yang menatap dongkol.
...💐💐💐...
Saat ini Selena tengah berdiri di teras utama, sambil tangannya melambai-lambai ke arah mobil pamannya yang sudah berjalan. Begitu mobil tersebut sudah menghilang Rafael segera menuntun Selena untuk masuk ke dalam rumah, karena ia merasa malam ini cuacanya sedikit buruk. Bisa ia rasakan dengan hembusan anginnya yang sedikit kencang, dan itu sangat tak bagus untuk wanita hamil.
Saat sudah di dalam, Rafael langsung menutup pintunya dan tak lupa menguncinya. Keadaan di dalam rumah sudah sepi, orang tuanya sudah masuk kamar beberapa menit setelah keluarga adinata pamitan, begitu pun para pelayan yang sudah masuk kamar masing-masing dan sebagian ruangan lampunya pun sudah padam.
Kini hanya tersisa mereka berdua yang belum masuk kamar.
“hoam..”
Ceklek!
Rafael menoleh saat mendengar suara nguapan Selena, bertepatan dengan itu ia menekan kunci bagian kedua. ia melihat istrinya itu jalan sedikit sempoyongan menuju tangga, sepertinya Selena sudah benar-benar mengantuk.
Dengan cepat ia pun berlari, dan meraih tubuh sang istri. Hal itu membuat langkah wanita itu terhenti dan menoleh ke samping.
“udah minum susunya belum?” tanya Rafael, yang di balas Selena dengan gelengan.
“minum susunya dulu ya, baru setelah itu tidur.”
“tapi kamu yang bikinin ya mas? Aku males banget ke dapur.” pinta Selena.
Rafael mengangguk sambil tersenyum, ia kembali menuntun istrinya naik tangga dan menyuruhnya untuk menunggunya di kamar saja.
Sesampainya di kamar, Selena langsung duduk di sisi ranjang. Sementara Rafael kembali keluar, ia pergi ke dapur untuk membuatkan susu hamil untuk istrinya.
Sambil menunggu suaminya kembali, Selena meraih ponselnya. Mengecek semua sosial medianya, siapa tahu ada berita baru. Senyum Selena merekah saat melihat postingan Alya sedang bersama Kevin, pasutri itu foto berdua dengan ekspresi wajah Bahagia.
“bahagialah selalu kalian.” Lirihnya dengan mata berbinar.
Selena senang, teramat senang begitu melihat pernikahan adiknya yang harmonis. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sebentar lagi akan menyandang sebagai singel parent, karena setelah ia melahirkan di hari itu juga ia akan berpisah dengan Rafael.
Mungkin saat di awal pernikahan ia biasa saja, namun tidak dengan sekarang. Setelah ia menyadari dengan perasaannya, Selena Merasa tak rela. Apalah daya, semuanya sudah terlanjur dan kini ia hanya bisa pasrah.
Drrttt..
Selena terkejut saat mendengar suara getaran, matanya kini beralih ke ponsel yang ada di meja nakas dan itu milik Rafael. Rasa keterkejutannya tak sampai disitu, mendadak dan tak bisa di cegah kedua bola matanya mulai berkaca-kaca saat sebuah pesan singkat cukup menyakitkan hatinya.
__ADS_1
‘ya tuhan! ternyata mereka..’