TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 47~Permintaan Marissa


__ADS_3

Suasana diruangan CEO masih sama, ketiga pria itu masih sibuk dengan tugasnya. Hari ini adalah hari terakhir Dylan dan Miranda bekerja disana, karena besok akan di gantikan oleh Kevin dan Kenzo.


Sebelumnya Dylan sudah membicarakan hal ini pada Miranda, ya walaupun wanita itu sempat keberatan karena harus berhenti bekerja disana tapi akhirnya setuju juga.


Dylan juga sudah menjelaskan padanya jika Kevin memang tak suka jika berdekatan dengan wanita lain selain istrinya, apalagi harus satu ruangan yang sama. Maka dari itu dia memilih setuju daripada nanti dapat masalah.


Kevin meregangkan otot-otot tangan dan lehernya yang terasa kaku, lalu matanya melirik jam tangannya. Disana sudah menunjukkan jam 11 siang, dia pun meraih ponselnya yang ada di meja.


Di layar itu terdapat ada beberapa pesan masuk dari Alya yang mengingatkannya untuk makan siang dan soal janjinya yang akan mengantarnya ke rumah sakit, selain itu ada 3 panggilan tak terjawab dari Mayra.


Kevin menghiraukan panggilan dari mantan tunangannya itu, menurutnya tak penting. dia memilih membalas pesan sang istri, menyuruhnya untuk siap-siap karena setelah ini dia akan menjemputnya.


Setelah pesan terkirim, Kevin mulai menutup laptopnya dan membereskan beberapa berkas yang berserakan di meja. Kemudian dia bangun, dan jalan mendekati Kenzo.


“semuanya udah gue beresin, tapi agar lebih optimal lagi Lo bisa cek ulang. Kalau ada yang menurut Lo kurang, Lo kasih tanda dan nanti bawa aja ke apartemen. gue mau jemput Alya dulu.” Ucap Kevin saat sudah berdiri di samping meja Dylan.


Kenzo mengangguk. “Baik, tuan.”


“Lo mau ikutan balik gak?” tanya Kevin pada Dylan yang masih terlihat sibuk.


Dylan tak menyahut ataupun menoleh, namun tangan kirinya bergerak tanda mengusir. kevin pun pergi dari ruangan, saat diluar Miranda menyapa dengan senyuman manisnya dan Kevin hanya membalasnya dengan deheman sambil berlalu.


‘dingin banget, mana jutek lagi. untung tampan, huh!’ batin Miranda.


Kevin jalan menuju lift lalu jarinya menekan tombol bawah, tak lama setelah itu pintu lift terbuka dan Kevin langsung masuk dan menekan angka satu. Saat sudah di dalam, Kevin kembali meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


“Lo lagi ada di resto gak?”


[Gak, gue ada di rumah. Kenapa?]


“Ada sesuatu yang gue bicarakan sama Lo, ini soal mata batin gue yang Lo buka.”


[Kenapa, Lo mau tutup?]


“Iya, Lo bisa kan datang ke resto tapi nanti setelah gue nemenin Alya checkup.”


[Oke]


Setelah itu Panggilan pun berakhir, Kevin menghela nafas seraya mengusap tengkuknya yang terasa merinding.


Butuh waktu 5 menit untuk sampai di lobby, para karyawan yang melihat Kevin keluar lift langsung memberinya sapaan sambil menundukkan kepalanya tanda hormat.


Sama seperti yang ada di dalam, saat Kevin melintasi parkiran, semua karyawan yang ada disana menyapanya sambil menunduk hormat, dan dia membalasnya hanya anggukan saja.


Kevin menekan kunci mobilnya saat roda besi berkaki empat itu sudah ada didekatnya, dan dengan langkah lebar dia jalan masuk mobil.


Drrttt..


Saat pantatnya baru saja mendarat di jok mobil depan, ponselnya kembali bergetar. Kevin merogoh kantong celananya, dan melihat id mingyu Disana. Ia mendengkus kesal, hingga saat ini mereka memang masih marahan dan dari kemarin pula mingyu selalu berusaha menghubungi kevin.


Kevin sudah tahu siapa yang sudah membawa Mayra ke pesta pernikahan kakaknya lewat kamera cctv lorong hotel, disana dia melihat mingyu dan Mayra datang bersama.


Karena kesal dengan tingkah sahabatnya itu, Kevin melampiaskannya ke pekerjaan. Dia langsung menarik semua investasinya dari perusahaan keluarga mingyu, dan hasilnya pria itu dimarahi habis-habisan oleh ayahnya setelah Kevin menjelaskan apa alasannya.


Ibu jari Kevin langsung menekan tombol merah, lalu mematikan layar ponselnya. Namun tak berselang lama ponselnya kembali bergetar, dirinya pikir itu dari mingyu namun ternyata dari anak buahnya. Dengan cepat dia pun menerimanya.


“ya, ada apa?”


[Tuan, saya ingin memberi info soal kondisi pak Raka dan juga soal siapa penyerangnya]


Mendengar itu wajah Kevin terlihat serius. “katakan semuanya.”


[Seperti yang kita duga sebelumnya, pak Raka memang sengaja diserang. Saya rasa ini gak ada kaitannya dengan tuan, tapi lebih ke urusan pribadi pak Raka sendiri]


“jadi maksudmu orang yang ingin menyerang om Raka itu adalah musuhnya sendiri?”


[Iya tuan.]


“kamu dapat info ini darimana? Apa salah satu dari mereka ada yang tertangkap?”


[Tidak tuan, tapi tadi kami sempat menggeledah isi kamar pak Raka dan mengecek kamera cctv. Disana kami melihat sebelum penyerangan, salah satu dari mereka sempat berbicara pada pak Raka. Tapi kami tak bisa mendengar suaranya.]


mendengar hal itu Kevin memijat pelipisnya, dia baru ingat jika kamar yang om Raka tempati memang ada cctvnya karena dia sendiri yang memasangnya.


“lalu apa kamu lihat wajahnya? Siapa tahu dia adalah ketua komplotannya.”

__ADS_1


[Tidak tuan, orang itu tetap memakai topengnya]


“oke, kalian terus cari informasi apapun. Kumpulkan semua yang kalian temui disana.”


[Baik, tuan]


“lalu.. kondisinya sekarang bagaimana?”


[Ada sedikit kemajuan tuan, pak Raka sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya namun dia belum sadar.]


“baiklah, infokan apapun soal kondisinya dan jaga keamanannya.”


[Baik, tuan]


Setelah itu panggilan berakhir, Kevin meletakkan ponselnya di dashboard mobilnya kemudian menghela nafas. Dalam pikirannya saat ini melintas tentang siapa musuh om Raka dan apa alasannya.


Setahunya selama ini dirinya mengenal om Raka adalah pria yang baik dan murah senyum, dia bahkan sering membantu para pekerja villa. Dan pria itu pun selalu memberinya nasehat kala dirinya dapat masalah.


Sebenarnya Kevin sendiri belum terlalu kenal dengan sosok pria paruh baya bernama Raka itu, namun selama ini dia memahami sifatnya yang sepertinya memang memiliki pribadi baik. Bahkan setiap mereka mengobrol, Kevin selalu terbayang wajah Alya.


Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Tutur kata dan gaya tersenyumnya pun mirip dengan Alya, padahal saat itu dia tak sedang memikirkannya.


Mengingat nama Alya, Kevin menjadi sadar jika hari ini ada janji dengan istrinya tersebut. Bergegas dia pun menutup pintu mobilnya, memakai sealbelt dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Tak lama setelahnya mobil yang dia naiki pun mulai meninggalkan area parkiran kantor.


...💐💐💐...


Sementara itu dirumah, Alya yang baru saja mendapat pesan balasan dari suaminya pun segera beranjak dari posisi rebahannya. Sejenak ia melirik ke arah kakaknya, Wanita yang tengah hamil muda itu sudah terlelap di ranjang. dengan hati-hati dia turun dari kasur dan tak lupa ia juga membenarkan selimut yang menutupi tubuh Selena, kemudian ia pun berlalu keluar kamar.


Saat sudah di luar dia berpapasan dengan Marissa, ibu mertuanya itu baru saja keluar dari sebuah ruangan yang entah apa.


“mau kemana sayang?” tanya Marissa saat melihat Alya keluar dari kamar Selena.


“ke bawah ma, tadi Kevin chat aku katanya bentar lagi dia mau sampai kesini.” jawab Alya.


Marissa manggut-manggut, seraya jalan mendekati menantunya tersebut. Saat sudah dekat, sebelah tangannya meraih lengan Alya dan menatap wajahnya.


“bisa ikut mama sebentar, ada yang mau mama bicarakan.” pintanya.


Agak ragu Alya mengangguk, pasalnya wajah ibu mertuanya itu terlihat tak karuan. Antara serius dan sendu.


“bisa?” tanya Marissa, dan langsung mendapat anggukan kaku dari menantunya tersebut.


“ayo duduk sini.” ajak Marissa, dan gadis itu hanya bisa menurut.


Mereka pun duduk berhadapan di sofa panjang berukuran besar, dan empuk.


Senyap sejenak.


“dulu.. ruangan ini adalah kamar Tamara, tapi papa mengubahnya menjadi perpustakaan.” ucap Marissa memulai duluan. “lihatlah, disana ada begitu banyak foto Tamara. Dia adalah ibu kandung Kevin dan Rafael.” sambungnya sambil jari telunjuknya mengarah ke sudut ruangan.


Alya mengikuti arah yang di maksud, matanya berbinar kala melihat berbagai potret wajah bule Tamara yang sangat cantik. Dari mulai foto selfi sendiri, sampai foto bersama suami dan satu anak laki-laki yang dirinya yakini itu adalah Rafael.


“mama Ara cantik banget ya ma, wajahnya mirip banget sama kak rafa.” tutur Alya dengan suara lembut.


Marissa yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, dalam diam dia mengiyakan ucapan Alya.


“apa sebelumnya Kevin pernah menceritakan tentang ibu kandungnya?” tanya Marissa.


Alya mengangguk. “pernah ma, waktu kita masih SMA.”


“apa dia juga cerita soal..” Marissa seakan ragu ingin mengungkap soal masa lalunya.


Namun Alya malah mengangguk, gadis itu seakan tahu apa yang akan ibu mertuanya katakan. “pernah ma, dulu Kevin sering cerita soal masalah keluarganya padaku.”


DEG!


Jujur saja Marissa terkejut mendengarnya, ia tak menyangka Kevin yang selama ini di kenal pendiam dan dingin ternyata sangat terbuka dengan Alya. Bahkan aib keluarganya pun dia ceritakan, padahal sama keluarganya sendiri pria itu sangat tertutup.


“lalu apa pendapatmu?” tanya Marissa.


“menurutku semua manusia tak pernah luput dari kesalahan, mau itu sengaja atau tidak. Rasa benci dan marah itu hal yang wajar, setidaknya jadikan hal itu sebagai pengalaman hidup. aku tahu dan bisa rasakan apa yang Kevin rasakan saat itu, tapi jika terus menyalahkan mama dan papa juga tindakan yang tak baik. Jadi aku sering mengatakan padanya untuk belajar iklhas dan menerimanya dengan lapang dada, tapi.. tak semua orang bisa menerima itu.”


Marissa yang mendengar ucapan panjang Alya manggut-manggut kemudian tersenyum, dia sangat kagum dengan gadis di depannya itu. Meskipun usianya masih sangat muda tapi ia memiliki pola pikir yang dewasa, dan kini dirinya paham kenapa dulu Kevin bisa sangat menyukainya.


“kamu benar, tidak semua orang bisa menerima kesalahan. Terlebih kesalahan kami harus menyakiti anak remaja yang belum mengerti apa-apa, dan mama sangat bersyukur Kevin bisa bertemu dengan gadis sepertimu.”

__ADS_1


Sejenak Marissa menghela nafas, seraya menyenderkan bahunya di sandaran sofa.


“sejak kecil Kevin itu sudah memiliki sifat cuek, entah sifat itu menurun dari siapa. Tapi meskipun begitu dia masih bisa bersikap hangat pada orang lain, terlebih orang tua. Namun sejak dia mengetahui satu fakta soal mama dan dylan, sifat cueknya semakin buruk dan lebih cenderung menutup diri. dia sudah susah di ajak bicara, sukanya menyendiri dan selalu merasa masa bodoh dengan sekitar. Tapi jika dia sudah nyaman dengan seseorang, dia akan sangat terbuka. Dan mama yakin orang itu adalah kamu.”


Sebelum melanjutkan ucapannya, Marissa kembali menegakkan tubuhnya dan kedua tangannya meraih tangan Alya, lalu menggenggamnya.


“jadi.. mama mohon teruslah bertahan sama Kevin, bimbing dan dampingi dia terus. Percayalah nak, meskipun dari luar Kevin terlihat kuat, nyatanya dia hanya pria rapuh.”


Alya menatap tangannya dan wajah ibu mertuanya bergantian, perasaannya menjadi tak karuan saat mendengar permintaan Marissa. Andai saja ibu mertuanya itu tahu hal yang sebenarnya terjadi.


“mau kan kamu berjanji sama mama, apapun yang terjadi jangan pernah ada kata perpisahan lagi di antara kalian?”


Alya tergagap, dia bingung harus bagaimana. Tak mungkin dia berjanji seperti itu jika pada kenyataannya dirinya dan Kevin memang sudah ada perjanjian.


“kamu mau kan?”


“ma, A-aku--”


“Alya! Kamu dimana?”


Belum sempat ucapannya keluar, sudah terdengar teriakan dari arah luar. Dari suaranya saja Alya sudah bisa menebak jika itu adalah suara Kevin, ternyata suaminya itu sudah datang.


“ma, itu suara Kevin. Aku harus keluar.” ucap Alya


“kamu harus bilang janji dulu sama mama Al, kamu sama Kevin jangan pernah pisah lagi.”


“t-tapi-”


“alya!”


Lagi terdengar, Kevin meneriaki nama istrinya.


Drrtt...


Terdengar getaran ponselnya, Alya merogoh tas Selempangnya dan meraih ponselnya. Disana tertera ada nama Kevin memanggil.


“al..”


Kedua mata Alya terpejam seraya membuang nafas kasar, lalu dia kembali membukanya dan berkata..


“baiklah ma, aku janji. aku dan Kevin gak bakalan pisah lagi!”


...💐💐💐...


“kamu habis dari mana aja sih Al, daritadi aku cariin juga!” omel Kevin sambil berkacak pinggang, kala melihat istrinya tengah jalan menuruni anak tangga.


Namun di detik berikutnya ia pun jalan menghampirinya, meraih tangan dan merengkuh pinggangnya, lalu membantunya turun dari anak tangga.


“maaf, tadi aku habis ngobrol sama mama di ruangan perpustakaan.” sahut Alya. “kamu udah lama?” tanyanya kemudian.


Kevin tak langsung menjawab, dirinya tetap fokus memperhatikan langkah istrinya itu. Hingga akhirnya mereka sudah benar-benar turun dari anak tangga, dan kini posisi mereka berada di tengah-tengah ruangan rumah mewah tersebut.


“ngobrolin apa aja? Jangan-jangan kamu jelekin aku di hadapan mama ya?” tuduhnya.


“mana berani aku begitu.” elak Alya dengan mata sedikit melebar.


“terus?”


“ada pokoknya, urusan perempuan. Cowok gak boleh tahu! Yuk berangkat.” ajaknya seraya melingkarkan tangannya di lengan suaminya.


Kevin yang mendengar itu mencebikkan bibirnya, wajahnya terlihat kesal. Namun dia tetap menuruti ucapan istrinya, dan mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut.


Sebelumnya Alya sudah berpamitan pada Marissa dan semua anggota keluarga lainnya jika dirinya dan Kevin akan langsung pergi.


“sebelum pergi kerumah sakit, kita makan siang di restoran Rangga dulu. Gak apa-apa kan?”


Kevin mengatakan itu saat mereka sudah duduk di jok belakang, sementara bagian depan sudah ada Sean sebagai supir.


“gak masalah.”


Setelah itu mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan pekarangan rumah utama dirgantara, pasutri itu juga nampak tak mengobrol lagi. Kevin terlihat sibuk dengan ponselnya, dan Alya menatap lurus ke depan. Pikirannya masih berkelana pada pembicaraannya dengan Marissa di ruang perpustakaan tadi.


Permintaan ibu mertuanya yang memintanya agar dirinya dan Kevin tak boleh pisah dan ucapan soal kondisi Kevin yang lemah membuatnya bingung, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kevin? Kenapa Marissa meminta hal seperti itu padanya?


Sejenak Alya melirik ke arah Kevin, mata beningnya memindai wajah dan tubuh suaminya dengan seksama. Menurutnya tak ada yang aneh, Kevin terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Yah, secara penampilan dan sifat Kevin benar-benar berubah, Alya menyadari itu. Tapi bukankah itu suatu hal yang wajar, seseorang yang sudah menginjak usia dewasa pasti akan mengalami fase perubahan diri. Termasuk juga dirinya, tapi begitu mengingat ekspresi wajah Marissa membuatnya berpikiran buruk.


‘apa Kevin mengidap penyakit yang cukup parah?’ batin Alya bertanya-tanya.


__ADS_2