
“pergi darimana saja kau hah, kenapa jam segini baru pulang!?” tanya Kevin dengan emosi.
“A-aku habis pergi kuliah Vin..” jawab Alya terbata.
“jangan bohong kamu ya, kamu pasti habis keluar sama dia. Iya kan?” sentak Kevin dengan mata melebar.
Alya menggeleng seraya kedua tangannya menyentuh tangan Kevin. “maksudmu siapa Vin, dia siapa?”
“siapa lagi, jika bukan pacarmu! Kalian sengaja kuliah di kampus yang sama agar bisa terus bertemu, dan kamu baru pulang sekarang karena habis jalan dengannya. iya kan?” tuduh Kevin.
Alya kembali menggeleng sambil Mengernyit bingung. “aku gak ngerti apa maksudmu.”
Kevin tersenyum smirk. “apa kamu pikir aku tidak tahu apa saja kelakuan kalian seharian ini, kamu lupa jika aku banyak mata-mata. Hem?”
Lagi, Alya menggeleng. Tentu dia tahu akan hal itu, tapi yang membuatnya tak mengerti adalah kenapa Kevin bisa menuduhnya memiliki pacar? Dan juga dapat info dari mana suaminya itu jika dirinya jalan dengan laki-laki lain, padahal kenyataannya ia keluar dengan arina.
“sakit!” rintih Alya saat Kevin menekan rahangnya.
Namun Kevin tak perduli, dia tetap dengan posisinya. Saat ini Kevin terlihat seperti orang kesetanan, sehingga tak bisa mendengar suara Alya yang merintih kesakitan.
“vin, kamu itu salah paham. Aku gak jalan sama laki-laki manapun dan aku juga gak punya pacar!” jelas Alya sambil menahan rasa sakit di rahangnya.
“salah paham katamu?” lirih Kevin, Alya mengangguk.
“kamu pikir aku akan mempercayai omonganmu itu, jelas tidak! perlu aku kasih tau, aku bukan laki-laki yang 2 tahun lalu kamu kenali. Dulu kamu memang berhasil membohongiku dengan pura-pura mencintaiku, tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah muak dengan semua tipu muslihatmu itu! dan apa kamu sudah lupa dengan ucapanku waktu itu, aku memang tak melarang kamu buat berhubungan khusus dengan pria lain tapi jangan tunjukkan keromantisan kalian di tempat umum!”
“aku ingat Vin, Tapi aku memang gak ada hubungan apapun dengan pria lain, bahkan aku gak tau siapa laki-laki yang kamu maksud!” ucap Alya.
“masih terus mengelak rupanya.”
“karena aku memang gak tahu siapa dia!”
“Andreas! Laki-laki itu adalah Andreas, kalian kuliah di satu kampus yang sama kan?”
Alya diam begitu mendengar nama Andreas di sebutkan, dan kini ia sudah paham kenapa suaminya itu terlihat marah. Seharian ini di kampus Andreas memang selalu mengikutinya, itu bukan di sengaja, melainkan jadwal kelasnya memang di haruskan mereka selalu bertemu.
Itu bukan berarti Alya tak menolak kehadirannya, ia sudah beberapa kali menghindar. Namun laki-laki itu bagaikan anak itik yang kehilangan induknya, setiap dia pergi Andreas selalu mengikuti.
Alya tentu saja kesal, karena ia tahu aktifitasnya sedang di pantau oleh Sean. Ditambah saat kedatangan mingyu, Andreas selalu memotong ucapannya dan itu membuat rasa kesalnya terhadap pria itu semakin memuncak.
“kamu salah paham Vin, aku gak ada hubungan apapun dengannya.” lirih Alya, dia menatap manik suaminya yang memerah dengan sendu.
Alya sedih saat mendengar ucapan Kevin yang menganggapnya pura-pura mencintainya, padahal kenyataannya dia sungguh-sungguh mencintainya. Bahkan rasa itu masih bertahta sampai sekarang, dan mungkin sampai ajal menjemputnya.
Ingin rasanya Alya jujur dengan perasaannya itu, tapi rasanya akan percuma. Laki-laki di depannya itu sudah sangat membencinya, dan sudah tak mencintainya lagi.
“tolong dengarkan penjelasanku dulu Vin, baru setelah itu terserah mau kamu apakan aku. Bunuh sekalian pun silahkan.” ujarnya pasrah.
Kevin tak bersuara lagi, namun ia mulai melepaskan cengkramannya. Dada tegapnya nampak naik turun, mengikuti deru nafasnya yang tak beraturan.
Alya menghela nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, lalu kedua tangannya meraih telapak tangan Kevin dan menggenggamnya erat.
“dengarkan aku baik-baik, Andreas memang kuliah disana dan dia satu kelas denganku. Awalnya aku gak tau soal kepindahannya itu, tapi sumpah demi tuhan aku gak ada hubungan apapun dengannya. jika kamu gak percaya, kamu bisa tanya sama arina dan Jessica. Selain dengan Andreas, disana juga ada mereka. dan soal aku telat pulang itu karena aku harus nemenin arina pergi ke mall untuk beli sepatu baru, aku udah usaha nolak tapi dia maksa. Karena gak enak, jadinya aku nemenin.”
Alya mengatakan itu semua sambil menatap wajah Kevin yang masih saja terlihat kaku, namun rahangnya sudah mengendur.
“aku sudah menjelaskan semuanya sama kamu, sekarang terserah kamu mau percaya atau tidak tapi apa yang aku katakan ini benar adanya.”
Kevin menepis kasar tangan Alya yang menggenggam tangannya, lalu ia mendorong tubuh Alya hingga pantatnya menabrak meja rias. Jika saja Alya tak sigap menahan tubuhnya dengan tangannya yang memegang sisi meja, mungkin saja dia akan jatuh ke lantai.
“mungkin bagimu hubungan di antara kalian biasa saja, tapi tidak bagi orang lain. Orang bodoh saja bisa menilai jika kalian itu memiliki hubungan khusus!” cetus Kevin. “aku masih ingat dengan jelas saat di pernikahan bang Rafa, disana ia mengatakan bahwa kamu menolak lamarannya. Itu menandakan jika kalian memang ada hubungan, iya kan?” sambungnya.
Alya menggeleng. “tidak ada! Aku tegaskan sekali lagi, aku dan Andreas gak ada hubungan apapun. Ya dia memang pernah melamarku saat di Korea, tapi aku langsung menolaknya dan itu kejadiannya sudah lama berlalu.”
“tapi dia masih mengharapkanmu!” teriak Kevin dengan suara meninggi, membuat Alya Seketika Berhenti dengan wajah tegang.
“Dia bahkan dengan lancang mendekatimu, padahal ia tahu kamu sudah menikah!” lanjut Kevin.
Alya menelan salivanya seraya menormalkan ekspresi wajahnya. Hal seperti ini sering ia alami saat pacaran dulu, dan untuk menaklukan Kevin hanyalah harus bersikap tenang. Sebenarnya Alya heran kenapa Kevin bisa semarah ini setelah mengetahui Andreas satu kampus dengannya, harusnya kan dia tak perlu marah.
“itu bukan urusanku, yang pasti aku gak ada hubungan apapun sama dia.” balas Alya.
Seketika hening, pasutri itu diam dengan saling menatap dalam beda artian.
“kenapa?” tanya Kevin setelah sekian lama membisu.
“k-kenapa apanya?”
Alya gugup saat Kevin perlahan jalan mendekatinya, tatapan matanya begitu tajam menghunus netranya.
“kenapa kamu menolaknya?” tanya Kevin lagi, namun kali ini dengan nada berbisik.
Alya diam sejenak. “itu bukan urusanmu!” cetusnya.
“jelas ini urusanku, karena saat ini kamu masih menjadi istriku. Siapapun laki-laki yang berani mendekatimu, maka harus berhadapan dulu denganku!” desis Kevin.
“apa kamu masih ingat dengan ucapanku kemarin, Hem? siapapun yang berani menyentuhmu walau hanya seujung rambut saja, maka bersiap-siap saja namanya akan terdaftar di batu nisan! dan.. aku tidak perduli jika orang itu adalah sahabatku sendiri.”
Alya kembali diam, ia menelan ludahnya susah payah. Jantungnya terpompa begitu cepat seiring Kevin mengucapkan kata-katanya, yang terdengar seperti ancaman.
“A-apa kamu sudah tahu kalau mingyu datang ke kampus?” tanya Alya dengan suara bergetar.
Kevin tak langsung menjawab, jemari kekarnya bergerak menyentuh pipi dan rahang Alya. “tanpa harus aku jawab pun sepertinya kamu sudah tahu.” jawabnya.
Alya panik, pasti setelah ini mingyu akan dapat masalah lagi.
‘ya tuhan.. kenapa dia berubah menjadi menyeramkan begini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu vin, sehingga kamu bisa jadi begini?’ batin Alya, ia merasa sedih sekaligus takut melihat Kevin yang berubah seperti monster saat emosi.
“Vin, tolong jangan marah padanya. Dia hanya ingin minta bantuan padaku agar bisa mendamaikan kalian..”
“bahkan sekarang kau sudah berani membela laki-laki lain di depan suamimu sendiri, hebat sekali..”
“B-bukan begitu maksudku, tapi.. T-tapi kalian kan udah temenan lama, Masa hanya karena masalah sepele membuat persahabatan kalian hancur.”
“masalah sepele katamu? Kau tak ingat dia datang ke pesta dengan siapa, hah? Dengan Mayra! Dan kamu bilang masalah sepele? otakmu terbuat apa sih hah! Dia datang kesana karena ingin mengacaukan pesta, dan dengan pakaiannya itu dia juga pasti ingin menyeretku ke altar! Apa kamu mau aku nikah juga sama dia, gitu?”
“bukan begitu..”
__ADS_1
“terus maksudmu apa, hah! Apa?” sentak Kevin seraya memundurkan tubuhnya, lalu berbalik membelakangi alya dengan kedua tangannya yang terkepal kuat.
Saat ini Kevin sedang berusaha mengontrol tubuhnya untuk tidak menyakiti Alya, gejala anxiety itu mulai ia rasakan dan dia tak mau istrinya yang menjadi korban pelampiasannya.
Sedangkan di belakang Alya kembali berdiri, dan meraih lengan kevin.
“kevin, tenanglah dulu. Ak--”
Prank!!
Alya berniat ingin menarik lengan Kevin dan membuatnya kembali menghadapnya, namun suaminya itu langsung menepisnya. Akibat dari ulahnya itu Alya tak sengaja menyenggol botol parfum yang ada di meja, dan berakhir jatuh ke lantai.
“Ah!..” erang Alya saat percikan kaca itu menggores kulit kakinya.
Kevin yang melihat itu Seketika kaget dan wajahnya berubah panik, saat Matanya melihat di bagian mata kaki Alya mengeluarkan noda merah. Tanpa aba-aba lagi Kevin kembali mendekati Alya dan langsung mengangkatnya, lalu mendudukkannya di meja rias.
“Al..” lirih Kevin, ia menatap wajah istrinya dengan nanar.
Alya menggeleng sambil tersenyum menenangkan. “tidak apa-apa, ini hanya luka kecil.” Ucapnya.
“tapi--ah!” ucapan Kevin terpotong, ia menyentuh dadanya sambil mengernyit.
Kini gantian Alya yang panik melihat Kevin yang seperti menahan sesuatu, dengan cepat dia pun menarik tubuh Kevin dan mendekapnya.
“tenanglah Vin, atur emosimu. Tarik nafas, lalu keluarkan perlahan.” ucap Alya dengan suara lembut, seraya sebelah tangannya mengusap dada Kevin.
Tanpa kata Kevin menuruti ucapan Alya, ia lakukan itu secara berulang sambil matanya terpejam. Dulu saat jaman mereka masih pacaran, Alya selalu menggunakan cara seperti itu untuk menenangkan emosi Kevin.
Alya tahu Kevin sejak dulu memiliki gangguan dalam pernafasan, ia akan merasa sesak jika sedang emosi. Kevin pernah cerita padanya soal keterbatasannya itu, di karenakan dirinya lahir trematur.
“sudah enakan?” tanya Alya, dan Kevin mengangguk kecil sebagai respon.
“maafkan aku jika ucapanku membuatmu kesal, aku gak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kalian baikan, itu saja kok.”
Kevin diam.
“kamu boleh marah padanya tapi jangan sampai persahabatan kalian putus, cukup dengan menasihatinya aja pasti mingyu akan mengerti. Dan apa kamu tau, akibat dari ulahmu yang mencabut semua investasi di kantor papanya, dia sampai di usir dari rumah. Kan kasihan..”
Alya mengatakan itu sambil terus mendekap tubuh Kevin, dan menatap wajah suaminya yang sudah terlihat rileks.
“jadi aku mohon maafkanlah dia, dan lupakan masalah tentang Mayra. Dia juga sepertinya sudah tidak mau berurusan lagi dengan mayra, begitu melihat kamu marah begini.”
“apa kamu bisa menjamin dia tidak akan mengulanginya lagi?” tanya Kevin dengan suara tertahan, sambil kedua tangannya sudah bertengger di pinggang istrinya.
Alya tersenyum. “kalau dia mengulanginya lagi, maka aku akan menyuruh arina untuk memberinya pelajaran. Kamu tau kan kalau dia jago karate?”
Kevin yang mendengar itu tersenyum smirk. “apa kamu pikir mingyu itu tidak jago bela diri? Dia bahkan sudah menguasai sabuk hitam, sama kayak Dylan!”
“benarkah?” ragu Alya.
Namun Kevin hanya diam saja, ia hanya menatap Alya. Memperhatikan wajah cantik alami istrinya yang terlihat tirus.
“ya udah gak apa-apa, biar mereka bisa duel bareng.”
“mingyu pasti akan langsung mengibarkan bendera putih sebelum berperang, karena pantang baginya melawan perempuan.”
Alya yang mendengar itu manggut-manggut, lalu dia melepaskan rengkuhannya.
Kevin menghela nafas. “oke. Aku akan maafkan dia dan melupakan kesalahannya.”
“serius?”
“iya.”
Alya tersenyum senang. “terus soal aku dan Andreas, kamu percaya kan?”
Kevin diam sejenak, jemarinya merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alya dan menyelipkannya ke belakang telinganya.
“hanya padamu saja, tidak untuk dia! Dan aku minta mulai sekarang, kamu jangan dekat-dekat lagi dengannya! Setidaknya tunggulah sampai kita bercerai nanti, mengerti?”
Alya diam sejenak, ia menatap netra Kevin bergantian. “iya..”
Sebelah tangan Kevin terangkat untuk menyentuh sisi wajah Alya, mungkin lebih tepatnya ke rahangnya.
“apa masih sakit?” tanyanya.
Pandangan keduanya bertemu dan saling diam sejenak, dengan jarak wajah yang sangat dekat. Saking dekatnya, hidung mereka hampir bersentuhan.
Alya menggeleng. “udah enggak apa-apa kok, aku tahu kamu gak sengaja. Jadi lupakan aja.”
Kevin menghela nafas berat. “tapi kaki kamu juga terluka.” Bisiknya.
Alya tersenyum tipis seraya tangannya menyentuh sisi wajah Kevin, dan ibu jarinya mengusap lembut pipinya. “cuma tergores, jangan terlalu di pikirkan. Sekarang kamu minggir, aku mau turun.”
Alya mendorong dada Kevin dan siap turun dari meja, namun Kevin tak membiarkan itu. Ia kembali mengangkat tubuh Alya bridal style, lalu jalan ke ranjang dan menurunkan istrinya disana.
“tetap disini dan jangan turun, aku mau ambil kotak obat dulu.” ucap Kevin sebelum akhirnya jalan keluar kamar.
Sementara Alya yang melihat kepergian Kevin hanya menghela nafas panjang sambil geleng-geleng kepala.
...💐💐💐...
Kevin menuruni anak tangga dengan langkah tergesa-gesa, ia pergi ke arah dapur. Tangannya membuka satu persatu laci, dari mulai yang di atas dan di bawah hanya untuk mencari kotak obat.
Ia berdecak kesal karena benda yang dia cari tak kunjung ditemukan, seingatnya dia menyimpan kotak putih itu di dapur.
Kevin benar-benar merasa bersalah terhadap Alya, akibat emosi yang tak bisa dia kontrol sehingga melukai istrinya. Meski tak sengaja, tapi tetap saja ia merasa bersalah.
Walaupun ini bukan kali pertama Kevin melukai seorang wanita, sebelumnya ia pernah melukai wanita-wanita yang selalu mengejarnya, termasuk mayra. tapi dia tak pernah merasakan bersalah sedikitpun, palingan hanya rasa kasihan saja.
Tapi kenapa jika soal Alya dia merasa berbeda, hatinya selalu terluka jika mengetahui Alya terluka. Bahkan saat kemarin melihat raut kesedihan yang Alya tunjukkan, Kevin langsung menyalahkan dirinya sendiri.
Apakah karena Alya adalah istrinya, sehingga ia selalu tak tega melihatnya menderita? Atau mungkin..
“Tidak, itu tidak mungkin!” gumam Kevin seraya menggeleng saat pikirannya mengatakan masih mencintai Alya.
Kevin terus mengelak, ia tak mau berpikir macam-macam. Ia meyakini perasaan yang saat ini dirasakannya hanyalah rasa kasihan, tak lebih dari itu.
__ADS_1
Senyum tipis Kevin terbit saat benda yang dia cari-cari telah ketemu, segera dia pun kembali keluar dan naik tangga. Namun sebelumnya ia sudah mengambil sapu dan alat pel, untuk nanti dia pergunakan membersihkan kamar Alya dari bekas pecahan botol parfum.
Kevin kembali masuk ke dalam kamar Alya, dengan langkah lebarnya ia mendekati Alya yang masih duduk di ranjang dan mulai mengobati lukanya.
Sedangkan Alya hanya diam saja sambil terus memperhatikan suaminya, yang begitu fokus mengobati luka di kakinya. Perasaannya menghangat karena meski Kevin selalu bersikap ketus dan dingin padanya, namun masih perhatian.
“mana lagi yang luka?” tanya Kevin setelah selesai mengobati kaki Alya.
Alya menggeleng.
Kevin membereskan kotak obat itu dan menutupnya kembali, lalu ia letakkan di lantai.
“diam disini, aku mau beresin ini dulu.” ucap Kevin seraya berdiri, dan Alya hanya mengangguk.
Mata Alya tak pernah lepas dari Kevin, semua pergerakan suaminya itu selalu dia pantau.
“hati-hati Vin..” seru Alya saat melihat Kevin memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai, dan suaminya itu membalaskan dengan deheman saja.
Dirasa sudah bersih, Kevin mengambil alat pel dan mengelap lantai itu hingga bersih. Kevin saat melakukannya terlihat sudah lihai, tak kaku sama sekali.
Setelah beres semua Kevin keluar dari kamar Alya, dengan membawa alat pel dan kantong plastik. Tak lama kemudian Kevin kembali masuk, niatnya ingin mengambil kotak obat itu dan akan menyimpannya di kamarnya saja.
“vin..” cegah Alya saat Kevin ingin kembali keluar dari kamarnya.
“apa?”
“ini kan udah jam 7 lewat, apa kamu udah makan?” tanya Alya.
“belum.” jawab Kevin.
“oh ya udah kita turun bareng, aku juga udah lapar. Mba intan pasti udah masak.”
Kevin mengangguk setuju, ia menggandeng lengan Alya karena lantainya masih sedikit basah dan mereka pun turun bersama-sama.
Sesampainya di dapur, Alya langsung membuka tudung saji dan matanya berbinar saat makanan kesukaan Kevin dan dirinya sudah tersaji di meja makan.
“perlu aku panasin gak?” tanya Alya.
“gak perlu, lama! Mending kita makan langsung saja.” balas Kevin.
Pasutri itu pun menarik kursinya masing-masing dan menyantap makanannya.
“oh iya, bekal makan tadi siang enak gak?” Tanya alya di sela-sela kunyahannya.
“hm..”
“abis gak?” tanya Alya lagi.
“hm..”
Alya menghela nafas saat Kevin kembali dingin padanya, padahal tadi hangat, tapi tak apalah. Itu masih mending, daripada tak di respon sama sekali.
“besok mau di bekelin apa lagi?”
“terserah!”
Alya tersenyum lebar karena kali ini Kevin meresponnya dengan ucapan.
“na--”
“fokus makan aja dan jangan banyak bicara, nanti keselek baru tau rasa!” potong Kevin dengan nada ketus.
Bukannya merasa kesal, Alya malah tetap tersenyum. Kevin yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan makannya.
...💐💐💐...
Sementara di kediaman keluarga Mahendra, Andreas sedang berbaring di ranjang king size-nya. Sebelah tangannya tengah menggenggam ponselnya, ia tersenyum ke layar ponselnya yang menampilkan deretan foto Alya.
Saat di kampus, Andreas memang secara diam-diam memotretnya. Ia mengambil foto Alya dengan segala angle, dan ekspresinya pun berbeda-beda.
“mau dari segi manapun kamu tetap cantik al, gak salah memang aku bisa suka sama kamu.” gumamnya sambil jarinya menggeser tiap foto Alya.
Pria itu terlihat begitu senang karena seharian ini bisa bersama Alya, meski Alya terus berusaha menghindar. Namun Andreas yang sedang di mabuk cinta itu tak perduli, ia terus mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Bahkan Andreas lupa jika disana tak hanya mereka berdua, tapi ada arina dan Jessica juga.
Cinta memang membuat orang yang mengalaminya menjadi buta, mereka selalu menghiraukan apapun yang menurutnya sebagai pengganggu. Termasuk soal kenyataan jika Alya bukanlah gadis lajang, melainkan sudah bersuami.
Bahkan Barang pengikat yang melekat di tubuh Alya dan predikat sebagai nona muda di keluarga dirgantara pun, tak mampu membuat Andreas mundur. Dengan percaya dirinya dia terus melangkah, dan akan melakukan segala cara untuk merebutnya dari Kevin.
Andreas selalu berpikir Alya pasti akan berpaling dari Kevin, dan dia juga meyakini jika Alya tak akan mempermasalahkan aibnya yang seorang Casanova.
Drrttt...
senyuman Andreas seketika meredup saat ada yang menelponnya, ia berdecak kesal saat ada nama Monika.
“ada apa?” ketus Andreas saat teleponnya tersambung.
[Kamu lagi dimana sekarang ndre, bisa kita ketemu? Aku kangen..]
“maaf Mon, aku gak bisa. Aku lelah, baru aja pulang dari kampus.”
Monika yang mendengar kata kampus merasa kaget.
[Kamu beneran pindah kuliah disini ndre?]
Sebelumnya Andreas memang pernah mengatakan pada Monika jika dia akan pindah kuliah, namun saat itu Monika menganggapnya bercanda karena ia tahu tahun ini Andreas akan wisuda.
“ya.”
[Ya Tuhan, kenapa kamu baru pindah sekarang sih? Kan sayang skripsimu yang ada di Korea. Oh.. atau jangan-jangan kamu sengaja ya pindah kuliah karena ingin mendekati Alya?]
Monika yakin dengan tebakannya itu, karena rasanya tak mungkin Andreas rela pindah kuliah hanya demi pendidikan semata.
“itu kamu tau!”
[oh my God! Kamu memang benar-benar nekad ndre, aku gak tau harus ngomong apalagi sama kamu!]
“dan kamu pasti sudah tahu aku suka dengan tantangan!”
__ADS_1
[Kamu akan hancur Andreas, Kevin pasti akan menghabisimu!]
Namun Andreas tak terlihat takut sama sekali dengan ucapan Monika, dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.