TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 64~Salah Paham


__ADS_3

“Ayolah Vin, cuma sebentar aja kok. Itung-itung menjaga silaturahmi.” nada suara Alya terdengar manja.


“Gak!”


Kevin udah siap beranjak pergi dari dapur, namun Alya menghadangnya.


“sebentar aja Vin..”


“sekali enggak tetap enggak! Udah ah minggir!”


“aku gak mau minggir sebelum kamu kasih ijin.” keukeuh Alya, dan Kevin berdecak kesal.


“kamu memang keras kepala ya! Jawabanku tetap sama, aku gak akan pernah ijinkan kamu untuk dekat-dekat sama Mayra maupun keluarganya! Atau mau aku hukum!”


“aku gak perduli!”


Kevin yang mendengar itu nampak tersenyum smirk. “oh begitu ya, baiklah jika itu maumu. Rasakan ini.


Selepas itu Kevin langsung menggendong tubuh Alya layaknya anak koala, kemudian membawanya keluar dari dapur. Akibat dari aksinya itu membuat Alya langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Kevin, serta kedua kakinya pun melingkar di pinggangnya.


Alya nampak menahan nafas saat kedua tangan Kevin meremas bokongnya, perasaannya menjadi tidak enak setelah suaminya itu membawanya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


“kamu mau apa?” pekik Alya dengan mata melotot saat Kevin menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


Namun Kevin tak menjawab, dia hanya tersenyum smirk.


DEG!


jantung Alya bagaikan lepas dari sarangnya saat melihat Kevin membuka kaosnya, ia menelan salivanya susah payah begitu menatap tubuh bagian atas Kevin yang polos. Terlihat begitu kencang, dan pastinya keras.


‘ya tuhan.. apa dia akan menghukumku dengan cara seperti ini? mungkinkah setelah ini aku akan kehilangan keperawananku?’


“k-kevin! Ka-kamu mau ngapain?”


Alya histeris, raut wajahnya semakin horor saat melihat suaminya itu mulai membuka resleting celananya hingga terlepas dari kakinya dan hanya menyisakan boxernya saja. Alya tak bisa mengontrol matanya yang saat ini fokus menatap ke tonjolan yang ada di antara kedua kaki Kevin. Pikirannya mulai kotor, ia tengah menerka-nerka dengan ukurannya.


“menurutmu apa?” ucap Kevin balik tanya, seraya jalan mendekati Alya, dan hal itu mampu membuat pikiran kotor Alya buyar.


Menyadari dengan ekspresi wajah Alya, Kevin mendengus lalu menjitak keningnya dan itu membuat Alya mendesis.


“buang jauh-jauh pikiran mesummu itu, ingat sama surat perjanjian! Lagian aku buka baju bukan ingin memangsamu, jadi jangan ge'er!” cetus Kevin, ia sudah duduk di pinggiran kasur.


Alya yang mendengar itu langsung menunduk malu, karena sudah ketahuan punya pikiran jorok. Namun tak lama setelahnya ia kembali mendongak saat Kevin melemparkan botol minyak ke pangkuannya.


“pijitkan aku.” ucap Kevin seraya merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurep.


Alya diam dengan wajah cengonya, matanya menatap ke botol yang dia genggam dan wajah Kevin bergantian.


“j-jadi kamu buka baju di depanku karena ingin di pijit?” tanyanya.


“iyalah! Badan aku lagi capek banget, dan aku ingat kamu itu jago pijat! Daripada aku datang ke spa, mending aku suruh kamu aja.”


Mendengar kata spa, membuat wajah Alya berubah. Ia tak suka Kevin datang ke tempat seperti itu.


“kamu sering datang ke tempat begitu?”


“hm.. udah ah cepetan pijitin!”


Alya menurut, ia mulai bergerak mendekati Kevin dan mengolesi minyak ke punggungnya.


“kaki kamu jangan di tekuk begitu, nanti jahitannya kembali ke buka!” omel Kevin saat melihat kaki kanan Alya ingin di tekuk.


“susah Vin..” rajuknya.


Kevin tak lagi bersuara, namun ia bangun dari posisinya kemudian berpindah ke sisi kiri Alya dan kembali tengkurap.


“sering kamu datang kesana?” Alya kembali bersuara sambil menggerakkan kedua tangannya memijat punggung Kevin.


“kemana?” tanya Kevin tak paham.


“ke tempat spa.” jawab Alya.


“sering..” suara Kevin terdengar lirih, ia mulai merasakan tubuhnya lebih ringan begitu Alya memijatnya.


“sama siapa?” nada bicara Alya terdengar ketus.


“sendiri. Kadang sama Kenzo atau teman-temanku.”


“hanya sekedar mijit atau...”


Kevin yang kala itu wajahnya menghadap ke arah lain, langsung menoleh ke arah Alya saat tahu apa yang akan istrinya itu katakan.


“jangan berpikir negatif begitu, aku kesana murni karena ingin di pijat! Kalau kamu pikir aku tidurin pegawainya juga kamu salah besar, aku gak semurahan itu. Kalau aku mau, di bar milik Dylan juga banyak pelacur yang jauh lebih cantik dan seksi dan siap aku tiduri! tapi sayangnya aku gak mau mengotori tubuhku sendiri demi kenikmatan sesaat! jadi, berhentilah berpikiran jelek! Karena aku beda dengan pria lainnya!”


Sesaat Alya terdiam, menatap Kevin dengan wajah cengonya. Harus Alya akui semua yang Kevin ucapkan memanglah benar, sepanjang dia mengenalnya tak sekalipun Alya melihat Kevin genit atau sekedar menebar senyum menggoda ke wanita lain.


Malahan kebanyakan para wanita yang menggodanya, namun Kevin seakan buta dengan keberadaan mereka. Kecuali dirinya.


Itu bukan berarti Alya juga ikutan menggodanya, tidak sama sekali. Sejak pertama kali melihat Kevin di lapangan basket semasa SMA dulu, Alya memang sudah menyukainya. Namun Alya tak pernah menunjukkannya secara gamblang, cukup melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup baginya.


Tapi siapa yang menyangka ternyata diam-diam juga Kevin memiliki perasaan yang sama, pria itu mencintainya dengan segala kekurangannya.


Lain dulu lain pula sekarang, pria yang beberapa tahun lalu menyatakan cintanya kini berbalik membencinya. Dan semua itu adalah akibat dari ulahnya sendiri, dia membuat skenario seolah-olah dialah wanita jahat karena sudah menyakiti pria yang tulus mencintainya.


“termasuk juga aku? Aku kan juga seorang pelacur, bahkan aku pernah tidur dengan kakakmu.” goda Alya.


Kevin tak langsung membalas, ia menatap Alya dengan tajam. Rahangnya juga terlihat mengeras, ia seperti tak menyukai ucapan Alya.


“itu tidak berlaku untuk sekarang, Sekarang kamu adalah istriku dan hanya aku yang boleh menyentuhmu! Setidaknya sampai batas akhir kontrak kamu tidak boleh bersentuhan dengan pria lain, Mengerti?”

__ADS_1


“aku ngerti Vin, tapi buktinya kamu sampai sekarang gak nyentuh-nyentuh aku tuh. Paling mentok pelukan sama ciuman aja!”


“jadi kamu mau yang lebih gitu? Jangan harap! Dan kamu juga perlu ingat sama surat perjanjian.”


“iya, iya.. aku selalu ingat itu, tapi kamu juga perlu tahu satu hal. Manusia hanya bisa merencanakan tapi tuhanlah yang menentukan, bisa aja saat ini kamu bilang mustahil, gak tau entar mah. Tapi aku sih yakin yah kamu gak bakalan tergoda kalau aku goda sekalipun, bisa di lihat sih kamu itu gak ada hasrat-hasratnya jika lagi sama aku. Oh.. jangan-jangan apa yang Jessica bilang kalau kamu gay itu benar ya?”


Kevin yang mendengar itu segera bangun dari rebahannya, duduk menghadap Alya dengan tatapan membunuh. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Alya yang mengira dirinya sudah tak perkasa.


“apa katamu, aku gay? Jadi Kamu meragukan kejantananku. Begitu?”


Sebenarnya Alya tak ada maksud untuk ragu, tapi dia hanya sedang menggoda Kevin. Mana tahu jika Kevin langsung terpancing.


“emang iya kan?” Alya mengangkat sebelah alisnya, pertanda jika ia sedang menantang Kevin.


Sudah terlanjur basah, lebih baik dia lanjutkan saja aksi menggodanya. Ia kini merasa terhibur dengan wajah Kevin yang merona karena amarah, tanpa Alya sadari jika ucapannya itu membuat singa bangun dari tidur panjangnya dan sudah siap menerkam mangsanya.


Kevin tak lagi bersuara, namun ia langsung mendorong tubuh Alya hingga istrinya itu rebahan di kasur. Tanpa aba-aba lagi, Kevin langsung menindihnya.


Dalam posisinya Alya nampak kaget, matanya melotot saat Kevin ******* kasar bibirnya sambil Sebelah tangannya meremas dadanya.


DEG!


Tubuh Alya membeku dengan debaran jantung yang bergelora, saat merasakan ada sesuatu yang keras tengah menusuk-nusuk ke inti tubuhnya.


“kamu bisa merasakannya kan?” tanya Kevin dengan nada berbisik setelah melepaskan ciumannya.


Alya mengangguk. Ia menahan nafas saat dengan sengaja Kevin menggerakkan pinggulnya naik turun, seakan sedang menggoda inti tubuhnya. Meski saat ini bagian bawah tubuh Alya masih di baluti celana, namun Kevin masih bisa merasakan belahannya. Itu di karenakan Alya memakai set piyama yang berbahan tipis, di tambah Alya juga suka tak memakai dalaman.


“Apa sekarang kamu masih berani meragukannya?” tanya Kevin lagi, suaranya terdengar berat.


Alya menggeleng.


Sebelum kembali berbicara Kevin menghembuskan nafas hangatnya ke wajah Alya, membuat jantung gadis itu semakin berpacu. Jemari kekarnya membelai lembut wajah Alya, ia menelusuri wajah istrinya itu dengan gerakan pelan.


“apa setiap hari kamu selalu seperti ini? Selalu tak pernah pakai dalaman?”


Alya mengangguk. “setiap mau tidur aja.” ucapnya.


“selalu pastikan pintu kamarmu sudah terkunci setiap mau tidur, karena aku tidak menjamin setelah ini aku tidak akan menerobos masuk ke kamarmu dan berakhir menidurimu.”


DEG!


Alya kaget. Apa suaminya itu sudah lupa dengan ucapannya tadi?


“tapi--”


“persetan dengan isi surat perjanjian! Kamu itu sudah menjadi istriku, Jadi mau aku tiduri sampai hamil pun tak ada masalah. soal perasaan tak terlalu penting, karena pada akhirnya aku yang akan mendapatkan hak asuh anak!”


Alya bungkam, namun kedua bola matanya sudah berkaca-kaca.


“dan apa kamu pikir aku akan membiarkan itu? Jelas tidak!” desis Alya, lalu dengan kuat dia mendorong tubuh Kevin hingga pria itu bergeser ke samping.


Alya bangun dari rebahannya, kemudian turun dari ranjang. Dari posisinya itu, ia menatap suaminya itu dengan sinis.


Kevin yang mendengar itu nampak tersenyum smirk, kemudian ia ikutan turun dari ranjang. Kini pasutri itu sudah berdiri berhadapan dengan saling menatap dalam artian berbeda.


“kamu bilang apa? Aku Egois dan kejam? Apa aku gak salah dengar? Bukannya kamu ya yang kejam dan egois?”


“apa maksudmu?”


Kevin tertawa pelan. “sekarang malah pura-pura lupa. Apa perlu aku ingatkan kejadian 2 tahun lalu, Hem?”


Alya membisu, raut wajahnya berubah. Ia tahu apa yang akan Kevin katakan selanjutnya, sudah pasti suaminya itu akan menyindirnya.


“2 tahun lalu ada seorang lelaki memiliki wanita yang sangat di cintanya, saking cintanya dia rela melakukan apapun asal wanita itu selalu merasa aman setiap di dekatnya. Meski banyak masalah dan cobaan menerpa hubungan keduanya, namun lelaki ini tetap terus ingin bersama. Hingga pada suatu hari si lelaki memutuskan pergi belajar ke luar negeri agar kelak bisa menjadi orang hebat dan akan menunjukkan keberhasilannya ke si wanita, namun ternyata apa? Dia hanya mendapat kekecewaan, karena mendapati wanita yang dicintainya berhianat dengan saudaranya sendiri.”


“apa kamu bisa bayangkan gimana sakitnya lelaki itu? Disaat dia sedang fokus sekolah demi kebahagiaan wanita pujaannya, namun yang di perjuangkannya malah menorehkan luka.”


“dan apa kamu tahu, demi wanita ini pula si lelaki sampai rela bertengkar setiap hari dengan ayahnya. Memohon-mohon agar bisa merestui hubungan keduanya, namun ayahnya tak sekalipun perduli. Bahkan dia pernah mengancam akan mencelakainya, tapi si lelaki ini tetap keukeuh pada pendiriannya. Bisa kamu bayangkan?”


Alya tetap diam, ia menatap Kevin dengan mata yang merah dan basah. Beda halnya dengan Kevin yang terlihat biasa saja, wajahnya tetap kaku. Namun Alya bisa menangkap ada emosi yang menggelora setiap Kevin menceritakan itu.


“vin.. maafin aku..” lirih Alya, bersama dengan itu air matanya menetes.


Kevin menggeleng. “kenapa kamu harus minta maaf sama aku? Aku bukan lelaki itu! Lelaki yang aku ceritakan itu sudah lama mati, dia mati bersamaan dengan kepergian wanita pujaannya yang memilih hidup bebas di luar sana. yah, mungkin selama ini dia merasa terkekang oleh lelaki itu sehingga memutuskan berhianat dan bisa pergi bebas. benarkan?”


Alya menggeleng. “vin.. bukan--”


“sudah cukup! Aku gak mau dengar apapun lagi semua ucapan kamu.”


Kevin berjalan ke arah pintu, tangannya membuka kunci dan membukanya lebar-lebar.


“pergilah ke kamarmu, lalu tidur. Masa hukumanmu sudah berakhir dan ingat pesanku tadi, kunci pintunya.”


“tapi kamu--”


“pergi!” sentak Kevin.


Untuk beberapa saat Alya nampak menutup matanya rapat-rapat karena terkejut di bentak oleh Kevin, sedetik kemudian ia kembali membuka dan mulai menggerakkan kakinya.


Kevin langsung memalingkan wajahnya saat Alya menatapnya dengan tatapan pedih, karena jujur sebenci apapun ia terhadap istrinya, hatinya selalu saja sakit setiap melihatnya menangis.


Alya nampak menghela nafas berat, baru setelah itu ia berlalu keluar.


BAM!


Kevin langsung menutup pintu kamarnya dengan keras setelah Alya keluar, membuat Alya yang masih berdiri disana berjingat kaget. Namun setelahnya ia langsung menangis tanpa suara, air matanya terus mengalir dengan derasnya dan Dadanya terasa sesak. ternyata selama ini Kevin berpikir alasannya berhianat adalah merasa terkekang.


“kamu salah Vin, salah besar. Aku tak sama sekali terkekang olehmu, justru aku merasa bahagia karena selalu di nomor satukan dalam hidupmu. dan yang perlu kamu tahu aku sangat mencintaimu, melebihi diriku sendiri. Meski sekarang di dalam hatimu sudah tak ada aku, itu tak jadi masalah. Aku tetap merasa bahagia karena di kehidupanku yang sekarang sudah menjadi istrimu, dan aku akan terus mengenangnya sampai nyawa ini lepas dari raga. Tapi percayalah, rasa cinta ini tak akan pernah hilang meski nanti kita hidup di beda dunia.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Alya beranjak dari sana, secara perlahan dan tertatih ia jalan menuju kamarnya. Alya tak melakukan apa yang Kevin katakan yang menyuruhnya untuk mengunci kamar, dia sudah tak perduli jika nanti diam-diam Kevin akan masuk ke kamarnya dan menidurinya.


...💐💐💐...


Pagi pun datang menyapa.


di dalam kamarnya, kevin nampak menggeliat karena terkena terpaan panasnya matahari pagi yang masuk di sela-sela jendela kamar.


Mata Kevin melirik jam yang sudah menunjukkan angka 7, kemudian dia turun dari ranjang. Langkahnya terlihat lunglai sepanjang menuju ke kamar mandi, setelah sebelumnya mengambil handuk yang tergantung di tembok.


Sementara itu Alya yang masih memakai pakaian yang semalam nampak sibuk memasak di dapur, ia sengaja bangun pagi-pagi agar bisa membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuk Kevin.


Karena hari ini jadwal kuliahnya sangat padat, dan bisa di perkirakan Alya akan pulang sore atau mungkin malam. Akhirnya dia inisiatif untuk memasak sekaligus, biar nanti siangnya dia akan minta bantuan Santi untuk menghangatkan makanan dan Sean yang akan mengantarnya ke kantor Kevin.


Sekitar 30 menit kemudian semua masakan olahan Alya sudah siap tersaji di meja makan,  dapur pun sudah dia bersihkan. Sekarang dia harus segera mandi untuk siap-siap pergi kuliah.


Alya pun keluar dari dapur, menaiki tangga dan masuk kamar. Di dalam sana Alya langsung melepaskan semua pakaiannya dan menggulung rambut panjangnya, kemudian dia masuk ke kamar mandi.


Di saat Alya sibuk membersihkan diri, Kevin baru keluar dari kamarnya dengan pakaian kantornya. Sejenak ia diam di tempat sambil melirik ke pintu kamar Alya yang masih tertutup rapat, hingga akhirnya ia kembali melangkah dan turun ke bawah.


Kenzo yang sudah standby di ruang tengah dengan pakaian formalnya segera memberi hormat pada Kevin, dan si empu hanya berdehem sebagai respon.


“kita berangkat sekarang.” ucap Kevin.


Ia sudah siap melangkah, namun langsung terhenti setelah mendengar ucapan kenzo.


“sebaiknya anda sarapan dulu tuan, nona muda sudah masak banyak tadi.”


Kevin mengernyit heran, dia melirik ke jam tangannya yang masih menunjukkan jam 7 lewat. Tanpa berucap apapun lagi, Kevin langsung melangkah ke dapur dan dia kaget di meja sudah tersaji banyak makanan. Bukan hanya makanan, tapi disana juga sudah ada secangkir kopi dan segelas susu putih yang sepertinya sengaja Alya buatkan untuk Kenzo dan Kevin.


Kevin meyakini Sepertinya alya belum terlalu lama menyajikannya, karena bisa melihat ada kepulan asap di atas makanannya.


‘kapan dia bangunnya? masa iya dia bangun subuh hanya untuk memasak semua makanan ini?’


“terus dimana dia sekarang, apa sudah berangkat?” tanya Kevin seraya menarik kursi dan duduk.


Kenzo juga ikutan duduk, itu juga setelah mendapat kode dari Kevin.


“sepertinya belum tuan, karena di bawah saya sempat melihat masih ada Sean sedang mengelap mobil.”


Kevin yang mendengar itu manggut-manggut saja, ia mulai meminum susunya. Baru setelah itu mulai mengambil makanan dan menaruhnya ke piring.


Sementara Kenzo hanya mengambil dua lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat, dia juga sudah menyeruput kopinya dan bibirnya sedikit melengkung ke atas saat rasa manisnya begitu pas.


Selesai sarapan, Kenzo dan Kevin bangun dari duduknya dan langsung pergi keluar apartemen. Mereka berjalan bersisian menuju lift, bersamaan dengan itu keluarlah sosok pria dewasa dengan penampilan ala kantoran dari pintu apartemen sebelah.


Sama halnya dengan Kevin dan Kenzo, pria itu juga jalan menuju lift. Biasanya dia suka pakai tangga darurat, namun hari ini ada pertemuan penting sehingga dia harus bergerak cepat sebelum atasannya mengamuk karena dirinya datang telat.


Saat sudah di dekat lift, pria itu menunduk hormat ke Kevin dan Kenzo dan hanya di balas oleh Kenzo dengan hal yang sama.


Sementara Kevin terlihat tak perduli, dia sibuk dengan tablet milik Kenzo. Jemari kekarnya selalu bergerak, mengecek beberapa email dan jadwalnya.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, ketiga pria itu masuk ke dalam kotak besi itu. Jari Kenzo segera menekan angka paling bawah, sementara pria tadi tak ikut menekan karena tujuan mereka sama.


Untuk beberapa saat keadaan sunyi, hingga akhirnya pria tadi mengeluarkan suaranya.


“kalian juga penghuni di unit sebelah?” tanyanya.


“iya.” jawab Kenzo dengan datar, sementara Kevin hanya diam saja.


“oh ya, bukannya unit itu pemiliknya seorang wanita muda. Apa kalian tinggal bersamanya?”


“untuk saya tidak, tapi bos saya. Dan wanita muda yang anda maksudkan adalah istrinya bos saya.”


“oh.. begitu. Ternyata mereka sudah menikah.” lirih pria itu sambil manggut-manggut.


Kemudian dia tersenyum misterius, namun Kenzo dan Kevin tak menyadari itu.


Ting!


Tak berselang lama pintu lift kembali terbuka, mereka pun keluar bersama menuju parkiran.


Kevin dan Kenzo berjalan ke arah berbeda dengan pria tadi, dan matanya tak henti-hentinya menatap kepergian Kevin dan Kenzo.


Lagi-lagi pria itu tersenyum. “sekarang kau sudah tenang pak Rusman, karena kedua cucu Anda sudah saya temukan dan mereka berada di tangan orang yang tepat.”


Yap, pria itu adalah Adnan. Orang suruhan kakek Rusman sekaligus sekretaris Bobby.


Sebenarnya waktu pertama kali melihat Alya di lift Adnan sudah yakin jika dia adalah anak dari Ferdinan dan Vanessa, karena wajah Alya begitu mirip dengan Vanessa.


Namun Adnan tak langsung memberi tahukannya ke kakek Rusman, dia perlu mencari tahu dulu tentang keberadaannya di Indonesia.


Menurut kabar yang dia terima Alya pernah tinggal di Jakarta dari SD sampai kuliah, dia tinggal disini sendirian. Sebelum akhirnya Alya menyusul kakaknya ke luar negeri. Dan sekarang kedua gadis itu di kabarkan ada di Jakarta, dan Adnan kaget ternyata mereka sudah sama-sama menikah dengan anak dari keluarga dirgantara.


Adnan tentu tahu siapa Rafael dan Kevin, kedua pria itu terkenal hebat di dunia bisnis. Meski dia sempat kaget setelah mendengar berita buruk tentang Selena dan ayah mertuanya, terlebih soal berita pernikahan Kevin dan Mayra yang batal menikah karena Kevin diam-diam sudah menikahi wanita lain, dan ternyata wanita itu adalah Alya.


...💐💐💐...


Siang harinya.


“pak, saya sudah menemukan kedua cucu Anda.” ucap Adnan.


Kakek Rusman yang mendengar itu tersenyum senang.


“benarkah? Kau tidak bohong kan?” tanyanya dengan rasa tak percaya.


“tidak pak, saya serius. Kedua cucu Anda memang sudah saya temukan dan keadaannya baik-baik saja, dan mereka juga sudah menikah!”

__ADS_1


Lalu Adnan memberikan 2 lembar foto ke hadapan kakek Rusman, seketika mata pria tua itu membola saat melihat foto tersebut.


“ya tuhan.. ternyata mereka..”


__ADS_2