
Selamat siang pemirsa! Saatnya breaking news. Kali ini saya xxx akan membawakan berita hot news, heboh dan menggemparkan datang dari model cantik dan multitalent bernama Selena kharisma Putri. Dirinya di kabarkan memiliki hubungan khusus dengan Chandra Danendra, seorang CEO muda dari danendra Corp. Seperti yang sudah diketahui, Chandra sudah menikah dengan Renata Indrawan. Putri tunggal dari pengusaha batubara bernama Romi indrawan. Hubungan keduanya terkuak setelah Renata, selaku istri dari Chandra memergoki mereka tengah berada di sebuah kamar hotel mewah. Berita ini langsung tersebar dan menjadi viral setelah Renata mengungkapkannya di depan media, beliau juga mengatakan jika saat ini Selena tengah mengandung dan dugaan sementara jika janin itu adalah anaknya Chandra. Mengenai berita ini benar atau tidak pihak agensi maupun Selena belum memberikan informasi apapun. Se--
KLIK! BRAK!
Layar tv besar dan tipis itu langsung mati begitu selena menekan tombol merah, dan dengan emosi dia melemparkan remotnya ke sembarang arah.
“Aaarrgghh!” Teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya.
wanita itu terduduk lemas di sisi ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya di sana, pandangannya menatap kosong ke langit-langit kamarnya yang berwarna biru.
Saat ini dirinya sedang Berada di kamarnya sendirian, sedangkan Alya sudah pergi ke kampus sejak pagi.
dua hari lalu Alya memang sudah di ijinkan pulang, walaupun Samuel sempat melarangnya karena luka di kakinya belum sembuh sempurna, tapi gadis itu tetap kekeuh ingin pulang. Alhasil dokter tampan dan muda itu mengijinkannya tapi dengan catatan dia harus rutin kontrol.
“Aku pikir berita itu sudah tenggelam, ternyata masih ada.” ucapnya Lirih.
Wajah cantik model itu yang biasanya selalu cerah dan penuh senyuman berubah terlihat sendu, tatapan matanya yang biasanya selalu berbinar-binar kini terlihat kosong dan hampa. dia tahu kehidupan yang saat ini ia jalani memanglah sulit, tapi itu adalah impiannya sejak kecil. dia ingin menjadi artis terkenal, tapi sepertinya semuanya akan segera berakhir karena kesalahannya sendiri.
perlahan tangannya mengusap perutnya yang sedikit buncit.
‘haruskah aku membuangmu agar karirku bisa terselamatkan? seperti apa yang ayahmu inginkan?’
Sejujurnya Selena tak sanggup jika harus aborsi, bahkan Alya pun sudah melarangnya untuk melakukan itu. tapi keadaan yang memaksanya, terlebih ayah kandung dari janinnya pun menginginkan hal itu.
Ting Nong!
Terdengar Suara bel, Selena Mengernyit.
“Siapa yang datang? Apa Alya udah pulang?” Gumamnya.
Tanpa mengulur waktu lagi Dia pun bangun dari pembaringannya dan berlalu keluar kamar.
“sebentar!” teriaknya sambil berjalan cepat menuju pintu utama.
Ceklek!
Pintu utama pun terbuka dan seketika dia terkejut, kedua matanya melebar seperti ingin keluar dari tempatnya dan bibirnya sedikit terbuka.
“Ka--”
GEP!
Ucapan Selena menggantung saat Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dan modis langsung menarik tangannya dan membawanya masuk rumah, dia menggiringnya ke ruang tamu.
wanita paruh baya itu tak sendirian, dia datang bersama dua orang pria yang mengekorinya di belakang dengan raut wajah cemas.
PLAK!
satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi putih mulus milik Selena hingga menimbulkan rona merah.
“UMMA!”
“YEOBO!”
secara spontan dan serempak kedua pria itu berteriak. mereka adalah Rendy, kakak sepupunya Selena dan satunya lagi adalah Adinata, ayahnya Rendy sekaligus pamannya. sementara wanita yang menampar Selena adalah Yuna, bibinya.
“Dasar anak kurang ajar! Gak tau diri! Berani-beraninya kamu melakukan itu, malu-maluin keluarga saja!” makinya lantang sehingga suaranya menggema ke seluruh ruangan, dadanya terlihat naik turun serta wajahnya yang sudah merah padam.
setelah berkata seperti itu Yuna langsung memukuli tubuh Selena serta menjambak rambutnya, Adinata dan Rendy yang melihat itu langsung bertindak. Rendy menarik tubuh ibunya agar bisa berjauhan dengan Selena, sementara Adi merangkul tubuh Selena.
“umma, tenanglah.. jangan memukuli Lena seperti itu, dia sedang hamil!” seru Rendy berusaha menenangkan ibunya yang sedang kalap.
“Gimana umma bisa tenang! dia hamil di luar nikah! dan lebih parahnya lagi dia hamil dengan pria yang sudah beristri, mau taruh dimana muka umma!” Ucapnya dengan nada meninggi sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah Selena yang berada di pelukan Adi, wanita itu menunduk sambil memegang pipinya.
“Iya aku tahu tapi gak usah marah-marah gitu, nanti darah tinggi umma kumat.”
“Apa yang dikatakan Rendy benar, kita bisa bicarakannya dengan baik-baik.” ucap Adinata halus, kemudian dia melepaskan rangkulannya dari Selena dan beralih merangkul bahu sang istri.
dia mengajaknya untuk duduk di sofa panjang, begitupula dengan Rendy yang juga membawa Selena untuk duduk di sofa sebelahnya.
disaat Adi sedang menenangkan sang istri, Rendy mengalihkan pandangannya ke arah Selena.
“Len.” panggilnya.
Selena menoleh tapi tak bersuara, dia hanya menatap wajah pria itu dengan mata sendunya.
“aku mau tanya serius sama kamu, apa semua pemberitaan itu benar? Kamu hamil anaknya Chandra?” Tanya Rendy dengan pelan.
sebenarnya Rendy sudah mengetahuinya tentang hubungan selena dan Chandra dari awal, Rendy juga tahu jika inilah salah satu alasan kenapa selena ingin pulang ke Indonesia, yaitu ingin menemui chandra yang kebetulan sedang berada di Indonesia juga.
tapi dia tak menyangka jika hubungan mereka akan terkuak di media, tahu begini dari awal dia akan melarang gadis itu untuk pulang. Terlebih Selena membawa Alya, pasti gadis itu akan merasa khawatir.
Rendy tahu betul bagaimana sifat Alya, dia pasti akan lebih mendahului perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Apalagi ini soal kakaknya sendiri, sudah pasti Alya akan melakukan apapun demi kakaknya kembali aman. Meskipun itu harus mengorbankan hidupnya sendiri.
sejenak selena diam, kemudian mengangguk. “maaf.”
Mendengar itu Rendy menghela nafas berat, sambil mengusap wajahnya kasar dengan sebelah tangannya. Adinata yang mendengar ucapan Selena menghela nafas panjang dengan wajah sendu, dia merasa sudah gagal untuk menjaga keponakannya itu.
Beda halnya dengan Yuna yang terlihat diam ,sambil menatap Selena sinis.
“dia akan tanggung jawab kan?” tanya Adi, Selena mendongak menatap wajah sang paman kemudian kembali menunduk dan berakhir menggeleng.
“sesuai dugaanku, dia pasti tak akan tanggung jawab!? Seharusnya dari awal kamu itu sadar, bahwa kamu hanya dijadikan mainan!” Sarkas Yuna.
“maafkan aku..” hanya kata itu yang bisa selena ucapkan, menyesal pun percuma karena semuanya sudah terlambat.
“Tak ada gunanya minta maaf sekarang, semuanya terlanjur terjadi. Lagipula apa dengan kata maaf semuanya akan kembali ke semula, enggak kan!”
“umma, cukup!” Seru Rendy, Yuna mendengus.
“Lalu apa rencanamu sekarang?” Tanya Adinata lagi.
“Apalagi, Gugurkan saja anak itu!” Ucap Yuna dengan entengnya.
Mendengar itu, Rendy dan adinata langsung menatap Yuna. Sementara Selena menangis, sekarang bibinya yang dia pikir akan membelanya ternyata juga mengharapkan dia melakukan hal itu.
“Kamu jangan gila, aku tak akan ijinkan Selena untuk aborsi!” Bentak Adinata pada istrinya.
“Terus kita harus bagaimana? Gak mungkin kita mempertahankannya tanpa sosok suami, apa kata orang nanti.”
“Masih banyak cara lain selain membunuhnya, biar gimanapun anak itu tidak bersalah!” ucap Rendy menatap tajam ibunya dan di iyakan oleh adinata.
__ADS_1
“Rendy benar, masih ada cara lain selain harus membunuhnya.” sahut Adi, kemudian dia menoleh ke arah Selena. “Kamu jangan dengarkan omongan bibimu yah, dia hanya lagi emosi aja makanya ucapannya ngaco.” lalu ia mendelik tajam ke arah istrinya.
Selena hanya mengangguk.
“Makanya kalau gak mau bibi marah gak usah bikin malu! Kamu itu seorang wanita, harusnya bisa jaga diri.” ucap Yuna dengan nada Sinis.
“Maafin aku bi.” ucap Selena dengan suara bergetar.
“Ma, udahlah jangan marahin Selena terus! Disini dia itu korban! Seharusnya kita sebagai keluarganya harus dukung bukannya menyalahkan!” Ucap Adinata.
“appa benar ma, seharusnya eomma dukung Lena agar bisa melewati ini semua, bukannya menyalahkan.” ucap Rendy menimpali.
“Iya korban, tapi keenakan!”
“UMMA!” teriak Rendy dan adinata bersamaan.
“Kalian ini selalu saja membelanya! kalau dia bisa menolaknya gak mungkin bisa hamil, dianya aja yang murahan!”
“diamlah, kalau kamu gak mau kasih solusi sebaiknya tak usah berbicara apapun lagi!” Bentak Adinata.
“Ren, bawa Selena ke kamarnya.” titah Adinata pada putranya, Rendy mengangguk lalu membawa Selena menuju kamarnya.
...💐💐💐...
“kau ini, bisa tidak kalau bicara jangan sembarangan!” Ucap Adinata pada istrinya, mata sipitnya menatap tajam ke Yuna.
“Sembarangan bagaimana, dia memang murahan pa! Berpacaran dengan pria yang sudah beristri dan anak apalagi kalau bukan murahan! Sama seperti ibunya dulu.”
“cukup! jangan bicarakan hal itu disini. kalau dia dengar bagaimana?”
“biarkan saja, biar dia tau siapa dia sebenarnya! memang benar yah apa kata pepatah, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. kelakuannya sama bejadnya seperti ibunya dulu!”
“Astaga...”
“Kenapa? kamu takut kalau dia tahu kalau dia--”
BRAKK!!
“CUKUP!” Bentak adinata lantang sambil menggebrak meja dan itu membuat Yuna langsung diam.
“Kedatangan kita kesini bukan untuk membicarakan itu! Biar gimanapun dia tetap keponakan kita. Apa kamu sudah lupa dengan wasiat mas Ferdinan dan Vanessa dulu, hah?”
Yuna mendengus. “tentu saja ingat tapi aku kesal, dia udah mencoreng arang di wajah kita!”
“Maka dari itu tujuan kita kesini adalah untuk menuntaskan permasalahan ini tapi kamu malah menyalahkannya terus.”
“kenyataannya Dia memang bersalah!”
“Iya, aku tahu tapi apa kamu gak punya rasa kasihan sedikitpun? kau seorang wanita sekaligus ibu, coba bayangkan jika ada di posisinya, bagaimana perasaanmu?”
Yuna terdiam, dia mencerna ucapan suaminya. Jika dia ada di posisi Selena tentu akan merasakan sakit, Sudah di hamili namun pria yang menghamilinya tak mau bertanggung jawab di tambah keluarganya yang menyalahkannya.
“Terus kita harus bagaimana, seiring berjalannya waktu perutnya pasti akan membesar?”
“Itu dia yang harus kita pikirkan sekarang.”
“Sudahlah pa solusi terbaik terbaik saat ini adalah dia harus aborsi!”
“Tapi-”
“Sudah, diamlah!”
Untuk beberapa saat mereka terdiam, baik Adinata maupun Yuna sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga tanpa sadar jika di ambang pintu ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan mereka.
Seorang pria tampan, gagah dan berpakaian kantoran. Sudah hampir 20 menit dia berdiri disana dan menyaksikan pertengkaran Adi dan Yuna. Hingga pada akhirnya dia pun bersuara yang mana itu membuat Yuna dan Adi terkejut.
“Kalian gak usah khawatir, karena saya yang Akan Bertanggung jawab!”
DEG!
...💐💐💐...
Sementara itu di kampus Di dalam kelasnya Alya yang kala itu sedang sibuk membaca buku tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Rangga, pria tampan, berkulit putih bersih, hidung mini, bibirnya penuh dan bermata segaris itu datang ke kelasnya sambil membawa setumpuk kertas undangan. Dia berjalan mendekati Alya dan duduk di sampingnya.
“Hai Al.” sapanya dengan senyum manisnya sehingga membuat kedua matanya menghilang.
Alya menoleh seraya menutup bukunya. “Oh, hai Rangga.”
“Katanya kemarin Lo sakit yah? Sakit apa?”
Alya terkejut mendengarnya. “Kamu tau dari mana?”
“Dari dimas.”
Kemarin Dimas memang sempat menjenguk Alya dirumah sakit setelah mendapat kabar dari Diana--mamanya jessica.
Pada saat itu dia mengantar sekar--mamanya ke rumah Diana untuk acara arisan, namun ternyata acara itu dibatalkan karena Diana pergi ke rumah sakit bersama Aiden dan Jessica.
Sekar pun menelpon Diana dan menanyakan ada dimana, dan dia mengatakan sedang ada dirumah sakit menjenguk Alya. Mendengar itu Sekar langsung panik, akhirnya dia dan dimas menyusulnya ke rumah sakit.
“Sakit apa?” Tanya Rangga lagi.
“O-oh kemarin aku keserempet mobil aja kok.” Jawab Alya gugup.
Rangga tak langsung menjawab, mata sipitnya menelisik wajah Alya kemudian turun ke arah kakinya yang memakai sepatu hil hak rendah yang berwarna coklat. Nampak di tulang keringnya ada kain putih melingkari kaki gadis itu.
“Kaki Lo patah?” Tanyanya lagi, namun wajahnya seakan sedang meledeknya.
Alya tak heran lagi kenapa Rangga bisa berekspresi seperti itu, begitu mengingat kelebihan yang pria itu miliki. dan sepertinya dia juga sudah tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
“Hehehe.. iya. Jangan kasih tahu ke siapapun ya?” Bisiknya.
Rangga tersenyum tipis. “Tenang aja, gue gak kayak si cebol yang ember itu. Rahasia Lo aman di tangan gue!”
Mendengar itu Alya tertawa kecil, dia paham siapa yang Rangga maksud.
“Termasuk rahasia yang ada di hati Lo.” Sambung Rangga dengan nada berbisik, dan hal itu membuat Alya menegang.
Alya kembali menoleh ke arah Rangga dengan wajah pucatnya. Pria itu tersenyum misterius, seakan ada sesuatu di balik senyuman itu.
“Sekarang Lo gak sendirian Al, ada kami yang akan menjaga Lo.” Ucap Rangga serius sambil tangannya menepuk pelan bahu gadis itu.
__ADS_1
Alya tersenyum samar. Dia merasa beruntung, karena selain ada kedua sahabatnya beserta keluarganya yang sangat menyayanginya. Sahabat Kevin pun menyayanginya, meskipun dirinya dan pria itu sudah tak ada hubungan lagi.
Hanya saja karena satu hal, membuatnya harus pergi menjauh. Meninggalkan orang-orang yang menyayanginya di sini dan satu orang yang sangat dicintainya, tapi siapa sangka setelah pelariannya selama dua tahun, dia kembali dengan keadaan yang berbeda.
“Heh bantet! Ngapain Lo kesini?” Ucap arina yang tiba-tiba datang.
Rangga yang mendengar itu mendengus kesal. “Bisa gak sih Lo gak usah panggil gue bantet!” cetusnya.
Sungguh dia benci dengan panggilan itu, Padahal tingginya 170 cm. bagi orang Indonesia itu sudah di anggap paling tinggi, tapi kalau sudah di sandingkan dengan Dimas dan Kevin pria itu memang terlihat lebih pendek, bahkan terkesan seperti bocah karena kedua sahabatnya itu memang sedikit lebih tinggi darinya.
“Kenapa, Lo malu sama cewek-cewek disini? Udahlah terima nasib aja kalau Lo itu emang bantet!”
“Gaklah, ngapain malu! Tubuh Gue emang bantet tapi tetap laku! Daripada Lo, udah mah cebol, jomblo akut lagi.”
Alya yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Kurang ajar Lo ya! Sembarangan aja manggil gue cebol!”
“Lo emang cebol, nih lihat!” Rangga berdiri tepat di depan Arina, mensejajari tubuhnya dengan tubuh gadis itu. “Tinggi badan Lo aja hanya sebatas bahu gue, berarti Lo cebol Dong!”
Wajah arina terlihat kesal, kedua tangannya mengepal kuat, ingin sekali dia kasih Bogeman mentah ke wajah pria di depannya itu tapi dia berusaha dia tahan. tak bisa dipungkiri jika apa yang Rangga ucapkan memang benar adanya, tinggi badannya memang ada di bawahnya.
“Mending Lo pergi aja deh, disini tuh bukan wilayah Lo!”
“Elah galak amat sih Lo jadi cewek, pantesan aja gak laku-laku! Lagian Gue datang kesini mau kasih kalian undangan pernikahan!”
“Hah! Undangan pernikahan? Kamu mau nikah?” Tanya salah satu mahasiswi cantik berambut panjang dan berponi yang sedari tadi diam memperhatikan.
“Oh bukan dong tapi ini undangan pernikahan Kevin, kalian sudah tahu kan kalau dia sudah bertunangan dengan Mayra?”
Semua orang yang ada disana langsung mengangguk kecuali Alya dan Arina. Raut wajah alya terlihat terkejut, seketika dia teringat kejadian waktu di lift hotel.
Sementara arina menatap sahabatnya dalam diam.
“Nanti datang yah Al dan kalau bisa bawa pasangan yang lebih cakep, Siapa tau nanti Kevin cemburu dan mengganti pengantinnya sama Lo.” ucap Rangga sambil memberikan surat undangan yang berwarna putih dan gold, pria itu menyeringai misterius.
Alya tersenyum tipis dan menerima undangan tersebut. “Aku usahakan.”
Setelah memberikan undangan ke Alya, Rangga memberi juga undangan itu ke seluruh mahasiswa yang ada di sana termasuk arina. Begitu selesai dia pergi dari sana.
...💐💐💐...
1 jam kemudian kelas pun berakhir. Alya dan Arina keluar dari kelasnya, mereka berjalan beriringan menyelusuri Lorong kampus yang terlihat ramai.
“Al, ke kantin yuk?” Ajak Arina sambil kedua tangannya melingkar di lengan Alya.
Sebelum menjawab, Alya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 11 siang.
“Ayo, kebetulan Gue juga udah laper.”
Mereka pun berjalan menuju kantin. Sebenarnya Arina sedikit kaget karena sahabatnya mau di ajak ke kantin tanpa Jessica, pasalnya jika hanya berdua saja biasanya selalu ada yang mengganggu mereka.
Dulu saat awal-awal mereka masuk kampus itu, mereka selalu kena bully karena di anggap rakyat jelata. Mereka bisa masuk disana karena beasiswa, dan karena hal itu pula tak ada yang mau berteman dengan mereka. Menurutnya tak level!
Namun tak semuanya anak orang kaya seperti itu, buktinya Jessica yang berasal dari keluarga berada mau berteman dengannya. Bukan hanya dirinya saja tapi keluarganya pun menerima mereka.
Setiap Alya ataupun arina kena Bullyan Jessica selalu muncul dan menolong mereka, karena sudah tidak tahan melihat kedua temannya selalu di ganggu, dengan lantang dia mengatakan jika ada yang berani mengganggu arina dan Alya maka itu sama saja mereka menantangnya dan tak segan-segan dia akan melaporkannya ke polisi.
Kini Alya dan arina sudah ada di kantin dan menikmati makanannya. Arina bernafas lega karena pikiran buruknya tentang pembullyan tak terjadi, walaupun tatapan sinis mereka selalu tak pernah hilang.
Arina menatap lekat wajah Alya yang kemerahan, keningnya basah karena keringat. Sepertinya gadis itu kepedasan, tadi dia melihat Alya menyendokkan sambal ijo sebanyak 5 kali. Padahal sahabatnya itu paling tidak kuat sama makanan pedas, bukan karena punya penyakit tapi karena tidak suka saja. Dan jika sudah seperti itu arina sudah paham kalau saat ini suasana hati sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
‘apa ini ada kaitannya dengan surat undangan itu?’ gumam arina dalam hati sambil terus memperhatikan wajah Alya.
“Al, Lo baik-baik aja kan?” Tanya arina cemas, pasalnya saat ini gadis itu sudah mengeluarkan air matanya. Entah karena efek sambal atau memang benar-benar menangis.
“Tentu.” Ucapnya singkat tanpa menatap arina, pipinya terlihat mengembung karena bakso besar yang ada di mulutnya.
“Gak usah bohong sama gue Al, gue tau Lo lagi gak baik-baik aja.”
Alya menggeleng seraya menelan makanannya. “Ngapain juga gue bohong.”
Alya ingin memasukkan bakso yang berukuran kecil ke mulutnya namun arina menahannya, sontak hal itu membuatnya menatap penuh sahabatnya itu.
“Mulut memang bisa berbohong tapi Mata Lo gak bisa!” Cetusnya sambil jari telunjuknya mengarah ke mata Alya yang berair.
“Gue tau Lo pasti sakit hati kan setelah dapat undangan pernikahan Kevin, makanya Lo makan bakso pedas ini.” Sambungnya.
“Gak kok, gue biasa aja!” Elaknya, kemudian menyingkirkan tangan arina dan kembali melanjutkan makannya.
Sementara arina menghela nafas kasar. “Al..”
“Udahlah Rin gak usah dibahas lagi, itu sudah menjadi masa lalu. Dan dia juga udah bahagia sama pasangannya yang sekarang!” Potong Alya cepat. Dia sudah tak mau mendengar apapun lagi tentang pria itu.
“Al, sebenarnya-”
“Please Rin, ini kita sedang di kantin dan Lo bisa lihat sendiri kan mata anak anak lain sedari tadi natap gue gak enak banget. jika Lo masih mau bahas pernikahan kevin jangan disini, nanti mereka denger dan ngira gue masih berharap sama dia.”
“Kenyataannya memang gitu kan?” Arina mengangkat sebelah alisnya.
“Rin..”
“Ya ya.. terserah Lo aja deh.”
Setelah itu mereka kembali melanjutkan acara makannya.
“Al, habis ini Lo ada kelas lagi gak?” Tanya Arina sambil tangannya memegang sendok yang berisi nasi goreng.
“Gak ada!”
“Main ke rumah gue yuk! Kemarin kan Lo udah ke rumah Jessica, sekarang gantian ke rumah gue.”
Alya mengangguk. “Boleh tapi mungkin gak bakalan lama yah, soalnya...”
“Iya gue tau kok, pasti soal kak Lena kan?”
“Sstts.. jangan keras-keras ngomongnya, nanti ada yang denger.” ucapnya dengan nada berbisik sambil jari telunjuknya menempel di bibirnya.
Melihat itu Arina langsung menutup bibirnya dengan tangannya sambil mengedar ke seluruh kantin kemudian terkekeh.
“Sorry.”
__ADS_1