
“baguslah, karena itu memang yang harus kamu lakukan. Berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab.” ucap adinata dengan nada tegas.
Rafael yang mendengar itu manggut-manggut, mengiyakan ucapan adinata.
“tapi..” ucapannya menggantung.
“apa?” tanya adinata penasaran.
“Saya akan menikahi Selena setelah Kevin menikah, dan saya juga akan mengadakan konferensi pers tentang masalah ini. apa paman tidak keberatan?”
“tidak sama sekali, itu terserah kalian. Selama itu tak mengganggu kehidupan Selena atau pun keluarga, paman setuju-setuju saja. Tapi Apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan Selena?”
Rafael menggeleng. “Belum paman, dari kemarin saya sudah usaha hubungi Selena tapi dia tak mau menjawab. Mungkin dia masih marah dan Itulah kenapa saya tiba-tiba datang kesini.”
“Oh.. begitu. Yah.. Kamu maklumin saja, saat ini pikirannya sedang kalut jadi dia butuh waktu untuk sendiri. Apa kamu mau bertemu dengannya sekarang?”
Pria itu pun mengangguk tanpa berucap. Tentu saja dia ingin bertemu dengannya, bukankah tujuan awalnya memang ingin menemui gadis itu sekaligus ingin membicarakan rencananya.
“Ya sudah akan paman panggilkan, kamu tunggulah disini.” Ucap Adinata, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Selena.
...💐💐💐...
Adinata masuk ke kamar Selena, dia melihat gadis itu duduk di kursi kayu depan meja rias dengan keadaan masih menangis. Sementara Rendy terlihat berjongkok di depannya, kedua tangannya menggenggam tangan Selena. Sepertinya pria itu masih berusaha menenangkan sepupunya tersebut.
“Rendy.” Panggil adinata.
Merasa namanya dipanggil, Rendy pun menoleh ke arah suara dan melihat sang papa berjalan ke arahnya. Dia pun langsung berdiri.
“Ada apa pa?” Tanyanya.
“Di depan ada nak Rafael.” jawab adinata.
Seketika kening mulus Rendy berkerut, darimana pria itu tahu jika saat ini dia ada di Jakarta dan ada apa dia datang kesini? Bukankah saat ini dia ada di Korea. Pertanyaan itu terus bersarang di dalam otak Rendy, ia penasaran ada gerangan apa Rafael datang ke rumahnya.
Selena yang mendengar ucapan pamannya langsung berhenti menangis, dia menatap wajah Adinata dengan wajah terkejut serta matanya membola.
“P-pak Rafael ada disini? Dirumah ini?” Pekik Selena, Dalam pikirannya ini pasti ada hubungannya dengan pekerjaannya.
‘apakah akan secepat ini karirku berakhir? ya tuhan.. aku belum siap.’ batinnya.
“Iya, katanya dia ingin bertemu denganmu.” Ucap Adinata yang mampu membuat Selena ketar ketir.
“Ren, bagaimana ini. Aku belum siap.” Lirih Selena, dia menggenggam erat tangan pria itu.
“Kenapa kamu bohong sama paman Len.” celetukan Adinata membuat pandangan putra dan keponakannya fokus ke arahnya.
Selena menatap sang paman sambil mengernyit tak mengerti, sama halnya dengan Rendy.
“Maksud paman apa? Aku bohong apa?"
"Iya kamu bohong, katanya kamu hamil anaknya Chandra tapi ternyata bukan. Itu anaknya Rafael kan?”
DEG!
“Hah!”
Mendengar ucapan sang papa, Rendy langsung menatap Selena dengan wajah kaget. Sementara Selena diam sambil mengernyit, dia tak mengerti apa yang pamannya ucapkan.
“Paman ini ngomong apa sih? Lena gak ngerti.” elaknya dengan wajah bingung.
“Udah jangan mengelak lagi, Rafael sudah menceritakan semuanya kalau kalian selama ini diam diam menjalin hubungan. Iya kan?”
Apalagi ini. Diam diam menjalin hubungan? Dengan Rafael? Yang benar saja!
Wanita itu bangun dari duduknya sambil menggeleng. “Tapi paman aku gak-”
“Udah sebaiknya kamu cepat temui dia dan segera bicarakan tentang pernikahan kalian.”
“Apa? Pernikahan? Tapi-”
“Kita temui dia.” Ucap Rendy dengan nada dingin, lalu menarik tangan Selena untuk keluar kamar.
...💐💐💐...
“Jelaskan padaku apa maksudmu berbicara kayak gitu sama appa? Kenapa kamu ngaku-ngaku hamilin Selena?” Tanya Rendy saat sudah tiba di ruang tamu, dia duduk di sofa panjang depan Rafael, sementara Selena duduk di sebelahnya.
Raut wajah pria itu terlihat kaku, rahangnya mengeras dan ada kilatan merah di bawah matanya. Sepertinya dia sedang menahan amarahnya agar tidak meledak.
Rafael tak langsung menjawab, dia menatap Selena dan Rendy bergantian kemudian tersenyum.
“Tenanglah ren, aku datang kesini ada tujuannya yaitu ingin menolong sepupumu yang cantik ini.” Ucap Rafael dengan tenang, seraya melirik ke arah Selena.
“jangan bertele-tele, Jawab aja pertanyaanku!” Seru Rendy.
“Ren.” Tegur Selena.
“Oke oke, aku bakal jawab tapi bisakah kita cari tempat aman dulu. Soalnya masalah ini tak boleh ada yang tahu.”
“Termasuk orang tuaku?”
“Iya.”
“Baiklah, kita bicarakan hal ini di kamar Alya saja. Kebetulan kamar itu kedap suara.” putus Rendy.
Selena dan Rafael terlihat mengangguk setuju dengan penuturan Rendy, sedetik kemudian mereka berlalu dari sana dan pergi ke kamar Alya. Begitu masuk, Rendy segera menutup kamar itu dan menguncinya. Kebetulan di kamar itu ada meja bundar dan dua kursi kayu, biasa Alya gunakan untuk belajar kelompok. Rendy dan Rafael duduk di kursi kayu itu, sementara Selena duduk di bibir ranjang paling ujung.
“Jadi bagaimana?” Tanya Rendy mengawali obrolan.
“Ehm.. oke gini, aku akan bantu permasalahan Selena asal kalian bantu aku juga.” balas Rafael.
Rendy yang mendengar itu mengernyit tak mengerti, begitu pun dengan selena. “Maksudnya?”
“Kalian tahu kan, kalau dalam seminggu ini Kevin dan Mayra akan menikah?” kedua iris mata Rafael menatap serius Rendy dan Selena bergantian.
Dengan kompak, Selena dan Rendy mengangguk.
“Nah, jadi aku minta kalian untuk menggagalkan pernikahan itu.”
Tentu saja! Selena dan Rendy terlihat kaget sambil saling tatap, kemudian kembali menatap Rafael.
“Menggagalkan bagaimana maksud bapak? Bapak gak bakal nyuruh Saya untuk bakar gedungnya kan?” Tanya Selena dengan wajah polosnya.
Rafael yang mendengar itu langsung tertawa, sambil menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu Lena. Kalau kamu melakukan itu, yang ada kamu akan berakhir di penjara.”
“Atau bapak ingin saya Carikan wanita pengganti Mayra?” Tanya Selena lagi.
“Bukan.” balas Rafael.
“Lalu gimana?”
“Caranya mudah kok, kalian cukup yakinkan Alya untuk bersedia menikah dengan Kevin.”
__ADS_1
“WHAT!!”
teriak Rendy dan Selena bersamaan, dengan mata melebar.
Sedangkan Rafael hanya mengangguk saja.
Hening..
Untuk beberapa detik Rendy dan Selena terdiam, wajah keduanya terlihat shock begitu mendengar syarat yang Rafael ajukan.
“Bagaimana?” Tanyanya, sambil matanya menatap Selena dan Rendy bergantian.
“kamu lagi gak lagi sakit kan raf?” balas Rendy balik nanya.
“Iyalah.” Jawabnya. “Emang kenapa?” Tanyanya kemudian.
“kamu serius mau nikahin Alya sama Kevin?” Tanya Rendy lagi.
Rafael mengangguk pasti.
“Terus Mayra gimana? Keluargamu juga gimana?”
“kalian tenang aja, soal itu biar menjadi urusanku. Yang penting sekarang kalian setuju atau tidak?”
Selena dan Rendy kembali diam, mereka tak tahu harus jawab apa.
“Jadi gimana, kalian setuju gak sama syaratku?” Tanya Rafael lagi tak sabar.
“Ap-apa gak ada syarat lain pak, selain menikah?” Kali ini Selena yang bertanya.
Rafael menoleh ke wanita itu, kemudian menggeleng. “Gak ada! Hanya itu yang saat ini aku inginkan.”
“Tapi, ah.. kayaknya itu akan susah pak. adik saya itu belum mau berhubungan sama laki-laki. Apalagi dia belum mengenal Kevin, Terlebih umurnya juga masih kecil.”
“memang saat ini umur Alya berapa?” Tanya Rafael.
“21 tahun.” Jawab Selena.
“Cuma beda 3 tahun doang, masih cocok kok. Kalau soal kenal apa belum, mereka kan bisa kenalan dulu sebelum nikah.”
“Tapi-”
Selena tak melanjutkan ucapannya saat tangan kekar Rafael menarik tangannya, yang di akhiri menggenggamnya.
“jangan khawatir, adikmu akan aman sama Kevin dan dia juga masih bisa kok melanjutkan kuliahnya sampai sarjana.” Ucap Rafael meyakinkan.
Kemudian pria itu melepaskan genggaman tangannya. “Yah.. seperti yang kalian tahu dari luar Kevin memang terlihat berandalan dan susah di atur, tapi aslinya baik kok. Aku yakin dia bisa menjaga Alya dengan baik.” Sambungnya.
“Apa kamu udah bicarakan hal ini sama Kevin sendiri?” Tanya Rendy.
Rafael menoleh ke arah Rendy, kemudian mengangguk. “Udah, dan dia setuju.”
...💐💐💐...
•FLASHBACK•
BRAKK!
terdengar suara nyaring di lantai bawah, seperti suara pintu yang dibuka paksa dan asal suara itu berasal dari ruang kerja milik Aji.
Dirumah itu memang memiliki dua ruang kerja, di lantai bawah milik Aji, sedangkan di lantai atas milik rafael.
Aji yang kala itu sedang sibuk dengan laptop dan beberapa lembar kertas langsung melirik ke arah suara, disana sudah ada sang istri berdiri di ambang pintu.
Marissa tak langsung menjawab, dia masuk ke ruang kerja suaminya dan berakhir menutup pintu.
“Keterlaluan kamu mas!” serunya.
“Apa maksudmu? Aku keterlaluan kenapa?” sahut aji sambil mengernyit.
“Gak usah pura-pura gak tahu, aku sudah tahu semuanya. Aku gak nyangka kamu bisa sejahat ini! Ayah macam apa kamu ini?”
“Aku gak ngerti kamu itu ngomong apa, aku jahat kenapa?” irotasi suaranya masih terdengar lembut.
“Kenapa mas, kenapa disaat anggota keluarga kita mengulurkan bantuan kamu malah menolaknya! Sedangkan giliran pak Ryan ingin membantu, kamu langsung menerimanya!”
Aji yang mendengar itu terkejut, dan spontan langsung berdiri. “Darimana kamu tahu soal itu?” tanyanya.
Sebelum menjawab, Marissa tersenyum miris. “Jadi semua itu benarkan?”
“Aku tanya kamu tahu darimana?!” kini suaranya terdengar keras, matanya melotot.
“Aku benar-benar gak nyangka sama kamu mas! Hanya demi materi, kamu sampai tega mengorbankan kebahagiaan anakmu sendiri.”
“Jawab pertanyaanku Marissa!”
“Kevin sudah menceritakan semuanya!”
Mendengar jawaban Marissa membuat aji membuang nafas kasar, wajahnya pun terlihat marah.
“Mas pasti sengaja kan melakukan itu semua, agar Mayra dan Kevin bisa menikah? Dan mas akan mendapat keuntungan, iya kan?”
“Tidak!” Elaknya seraya membuang wajah.
“Jangan membohongiku lagi mas, apa selama ini kamu belum puas menyiksa anakmu sendiri?”
“Tutup mulutmu itu, aku tidak pernah menyiksa anak-anakku! Aku melakukan ini semua demi kebaikan mereka!!” teriak aji menuding wajah Marissa dengan jarinya, dia tak terima di tuduh menyiksa anak kandungnya sendiri.
“Tidak menyiksa? Lalu menurutmu apa yang mas lakukan ini tidak menyiksanya? Apa mas belum puas melihat keadaan Kevin dulu, dia-”
“Apa yang Kevin alami dulu itu bukan salahku, dianya saja yang salah memilih wanita!” potong aji cepat. “Harusnya sekarang dia beruntung bisa menikah dengan putri tunggal pak Ryan yang kaya raya, hidupnya pasti akan makmur.” sambungnya.
“Tidak semua kebahagiaan bisa dinilai dengan materi mas, lagipula Kevin tak mencintai Mayra.”
“Urusan cinta itu belakangan, rasa itu akan muncul jika mereka sudah hidup bersama. Bukankah dulu juga kita juga seperti itu?”
“T-tapi-”
“Sudahlah, lebih baik kau keluar dari sini dan jangan menggangguku!” Cetusnya, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya.
“Mas..”
“Keluar!”
Marissa diam sejenak, sedetik kemudian dia menghela nafas. Setelahnya wanita itu pun keluar dari ruang kerja suaminya.
Sementara itu di lantai atas terlihat Kevin berdiri di ujung tangga, dia hanya diam sambil menatap kepergian ibu tirinya.
Tadinya ia ingin turun ke dapur untuk ambil minum, tapi saat kakinya menyentuh anak tangga tak sengaja ia dengar suara ribut diruang kerja papa-nya. Ruangan itu memang tak kedap suara, sehingga apapun yang orang tuanya katakan bisa di dengar olehnya.
Kevin tertawa kecil kala mengingat kata-kata papa-nya, namun wajahnya terlihat geram.
__ADS_1
“Kebaikan? Hah, omong kosong!” gumamnya.
Kemudian dia pun menunduk, pandangannya mengarah ke jari manis kirinya. Terdapat ada cincin putih melingkar disana, cincin itu adalah simbol pertunangannya dengan Mayra setahun yang lalu.
Tak lama setelahnya dia berbalik badan, melangkah masuk kamarnya dan berakhir menutup pintu.
Tanpa pria itu sadari tak jauh dari posisinya tadi ada Rafael, dia berdiri di depan pintu ruang kerjanya yang letaknya berada di ujung ruangan. Sama seperti Kevin, Rafael juga mendengar semua perkataan orang tuanya tadi.
Drrttt ...
Terdengar suara getaran yang berasal dari ponselnya yang sedari tadi ia genggam, Rafael meliriknya. Disana tertera ada nama kontak yang di kenalnya tengah memanggil, dengan segera dia pun menerimanya.
“ya, katakan.”
Entah apa yang seseorang itu katakan, tapi yang jelas raut wajah Rafael langsung berubah. Setelahnya dia menghela nafas.
“baiklah..”
Rafael mengakhiri panggilan tersebut, lalu dia melangkah menuju kamar kevin.
Tok .. Tok .. Tok ..
Rafael mengetuk pintu kamar Kevin, cukup lama ia melakukan itu hingga akhirnya sang adik membukanya.
“Ada apa?” tanyanya malas, namun bisa Rafael lihat ada raut kemarahan di wajah kevin.
“Gue mau bicara hal serius sama Lo.” jawab Rafael.
“Soal apa?” tanyanya lagi.
“Pernikahan Lo.”
Kevin memutar bola matanya. “Kali ini apalagi, gue udah setuju buat lanjutkan pernikahan konyol ini!”
“Bisa tidak kita bicaranya di dalam saja?”
Tanpa kata Kevin melebarkan pintu kamarnya, mempersilahkan kakak sulungnya masuk.
Rafael berjalan lebih dalam lagi ke kamar Kevin yang terlihat luas, bersih dan bernuansa maskulin. Matanya menelisik ke penjuru kamar itu dengan teliti, hingga langkahnya berhenti dan mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.
“Lo jadi balik besok?” tanya Rafael.
“Hm..” hanya itu jawaban Kevin.
Setelah itu tak ada sahutan lagi dari Rafael, pria itu masih dengan kegiatannya. Yaitu melihat-lihat kamar adiknya.
“Sebenarnya Lo mau bicara sama gue atau mau lihat-lihat kamar gue sih?” tanya Kevin, wajahnya terlihat kesal. Pasalnya dari tadi kakak sulungnya itu hanya diam sambil celingukan, seperti mencari sesuatu.
“Selow bro.” saut Rafael santai.
Sementara Kevin yang sudah duduk di depan meja riasnya mendengus sebal.
“Duduknya jauh amat, sini lah.” ucapnya seraya menepuk-nepuk kasur.
“Gak usah banyak bacot! To the poin aja, Lo mau ngomong apa!”
Rafael menghela nafas. “Sebelum bicara gue mau nanya dulu sama Lo.”
“Apaan!”
“Lo gak ada perasaan sedikitpun sama Mayra? Secara kalian kan udah tunangan selama setahun.”
“Gak ada!”
“Kenapa?”
“Itu masalah pribadi gue, dan.. GAK SEMUANYA LO HARUS TAU!”
“Harus dong, gue kan Abang Lo, gak baik rahasia-rahasiaan sama saudara.”
“Heleh.. kayak Lo gak aja! Jangan sampai gue bilang sama mama, Lo pernah pacaran sama Renata dan hal apa saja yang kalian lakukan!”
Mendengar ucapan Kevin yang bernada ancaman, membuat Rafael tak berani menggoda adiknya yang emosian itu.
“Oke, gini. Kalau Lo mau pernikahan ini batal, gue akan kabulin tapi Lo harus ikutin rencana gue.”
Kevin mengernyit. “Lo lagi gak bercanda kan? Baru aja kemarin Lo mohon-mohon sama gue buat lanjutin, saat gue udah setuju Lo mau batalin gitu aja? Maksud Lo apa, hah!” Ucapnya penuh emosi, dia merasa di permainkan.
“Soal kemarin gue minta maaf, karena jujur gue juga sebenarnya gak setuju. tapi mau bagaimana lagi, keadaannya yang memaksa.”
“Terus kenapa sekarang Lo mau batalin?”
“Semua orang bisa berubah kan? Lagian sebentar lagi Lo juga akan memegang perusahaan mama Ara, dan gue yakin Lo bisa bantu perusahaan yang ada disini.”
“Selain itu.. emm.. gue juga ada rencana lain.”
“Maksudnya?”
“Lo masih ingat gak sama Selena?” tanya rafael.
Kevin diam sejenak sambil berpikir. “Selena mantan sekretaris Lo yang sekarang jadi artis itu?” Tebaknya yang di angguki oleh Rafael.
“Lo juga pasti tahu kalau sekarang dia lagi kena skandal?”
“Ya, terus?”
“Jadi gini, Selena itu punya adik cewek dan kemarin saat gue mau nyusul Lo ke Jakarta, kita berangkat bareng. Kata Rendy sih dia mau lanjut kuliah disana, jadi gue berencana mau nolong Selena tapi dengan syarat dia juga harus bantu balik. Gue akan minta pada mereka untuk meyakinkan adiknya agar mau nikah sama Lo.”
DEG!
Mendengar ucapan terakhir Rafael, kevin terkejut bukan main dan tubuhnya seketika menegang.
“W-what? Gue? Nikah sama adiknya? Lo gila!”
“Why not? Gak apa-apa kali Vin, lagian anaknya juga cantik kok dan kelihatannya anak baik-baik.”
Kevin tak langsung menjawab, dia segera berdiri dari duduknya dan mengusap wajahnya kasar. “Lo gila bang! Benar-benar gila! Gimana bisa Lo nyuruh gue nikah sama cewek yang--”
“Ya kalo Lo gak mau sih gak masalah, gue gak akan maksa. Berarti Lo dan Mayra akan tetap menikah.” potong Rafael.
Kevin kembali melirik Rafael, wajahnya terlihat memerah. Sedangkan Rafael nampak tersenyum tipis.
“Gimana?” Tanyanya memastikan.
“Kalau--dia nolak bagaimana?”
Rafael tersenyum lebar, dia bangkit dari duduknya dan jalan mendekati Kevin kemudian merangkul bahunya.
“Gue jamin dia akan setuju, jika menyangkut soal kakaknya.”
Kevin terlihat memejamkan matanya seraya membuang wajah, sedetik kemudian dia kembali menoleh ke arah sang kakak.
__ADS_1
“Oke, gue setuju.”
•END•