
[Jadi gimana, kamu bisa gak luangkan waktu buat ketemu?]
Di seberang sana Jenifer yang kala itu sudah berada di restoran langganannya bersama teman kantornya sangat berharap Kevin bisa menemuinya, dia ingin menghabiskan waktu makan siangnya bersama pria pujaannya.
“sorry Jen, aku gak bisa. Aku sudah dapat kiriman makan siang dari istriku, dan soal ide arsiteknya kamu bisa bicarakannya dengan Kenzo. Aku serahkan sepenuhnya padanya.”
Jenifer yang mendengar itu merasa kecewa sekaligus patah hati, di benaknya ia merutuki perbuatan Alya yang selangkah lebih cepat darinya.
Meski apa yang saat ini ia rasakan adalah salah, berani menyukai suami orang tapi Jenifer seakan tak perduli. Selama Kevin masih bersikap baik padanya, maka selama itu ia tak akan menyerah.
Sama halnya seperti dulu, dari sekian banyaknya perempuan yang mendekatinya hanya dirinya yang bisa mengobrol santai dengan Kevin. Namun sayangnya itu hanya sekedar teman ngobrol saja, bukan untuk teman hidup. Karena Kevin malah jatuh ke pelukan Alya, gadis miskin dan yatim piatu.
[Oh begitu ya, maaf.]
"It's oke.”
[Ya udah kalau gitu aku tutup dulu, maaf udah ganggu waktu kamu.]
Kevin membalas ucapan Jenifer dengan deheman, kemudian dia langsung menggeser tombol merah lebih dulu.
“mengganggu saja!” gerutu Kevin saat panggilannya sudah terputus.
Kevin pikir setelah itu tak akan ada lagi yang menganggu acara makannya, sayangnya salah. Ponselnya kembali menyala dan bergetar-getar pertanda jika ada yang kembali menelponnya, namun kali ini dengan orang yang berbeda.
Kevin memutar bola matanya malas seraya berdecak kesal saat melihat ada kontak mingyu di sana, ia tentu tahu apa saja yang akan sahabatnya itu bicarakan.
Hingga saat ini Kevin memang belum berbaikan dengan mingyu, ia masih kesal dengan perbuatannya yang hampir saja acara pernikahan kakak sulungnya berantakan. Masih untung waktu itu neneknya bisa mengatasinya dan tak ada wartawan datang, jika tidak maka akan ada kabar miring lagi.
Di tambah semalam ia juga masih merasa dongkol dengan Mayra, tanpa rasa malu mantan tunangannya itu menyuruhnya untuk menemaninya di rumah sakit.
Kevin menghiraukan panggilan mingyu dan lebih memilih melanjutkan makan, ia tak perduli mau seberapa kali pun mingyu menelponnya, tak akan dia angkat.
Tanpa Kevin sadari jika saat ini mingyu sudah ada di depan kantornya, ia ingin masuk namun di cegah oleh dua satpam.
Saat mingyu bertanya, Mereka mengatakan Kevin sudah memberi perintah agar jangan membiarkan mingyu ataupun Mayra masuk ke dalam kantornya.
Mingyu kesal! Benar-benar kesal, ia tak menyangka jika kemarahan Kevin akan sepanjang ini. Sepertinya sahabatnya itu sudah tak mau bertemu atau berurusan apapun lagi dengannya.
Mingyu mengacak-acak rambutnya prustasi saat panggilannya tak satupun di jawab oleh Kevin, namun hal itu tak membuat ketampanannya memudar.
Malah dengan keadaannya yang seperti itu membuat beberapa karyawan wanita yang baru saja kembali dari makan siangnya, menatapnya dengan tatapan memuja.
Ingin rasanya mingyu berteriak memanggil nama sahabatnya, memohon agar bisa memaafkannya. Namun ia tak bisa lakukan begitu mengingat keluarga darimana ia berasal, jika nekad maka ayahnya akan semakin murka padanya.
“ah sialan! Gue harus apa sekarang?” Gerutunya saat sudah berada di dalam mobilnya.
Mingyu diam sambil otaknya terus memikirkan cara agar dirinya dan Kevin bisa berbaikan.
“gak ada cara lain, gue harus bisa membujuk istrinya agar mau bantu gue baikan dengan Kevin. Tapi.. dimana gue harus nemuin dia, sedangkan kalau datang ke apartemen juga bakal terusir lagi.”
Kembali, mingyu mengacak-acak rambutnya prustasi dan kali ini sambil teriak.
“lebih baik gue datangi lagi aja kampusnya, siapa tahu sekarang dia ada disana.”
Bergegas mingyu menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari area kantor Kevin, membelah jalanan ibu kota yang selalu terlihat ramai.
Namun di tengah perjalanan ponsel mingyu berdering, ia berdecak sebal saat ada nama sanha disana. Mingyu memilih langsung merejeknya dan mematikan ponselnya, ia yakin pria itu akan terus menelponnya sebelum panggilannya terjawab.
...💐💐💐...
Setelah menghabiskan waktu 1 jam dalam perjalanan akhirnya mingyu sudah sampai di depan gerbang gedung kampus, ia memarkirkan mobilnya di luar gerbang samping pos satpam.
Sebelum benar-benar masuk, mingyu sempat menanyakan keberadaan alya ke salah satu satpam. Seketika senyumnya merekah indah menghiasi wajah tampannya saat mendengar jawaban pak satpam, jika hari ini Alya sudah masuk kuliah.
Tanpa membuang waktu lagi mingyu segera masuk ke area kampus, setelah sebelumnya memberi tips pada satpam untuk mengijinkannya masuk.
Dengan langkah lebarnya mingyu jalan masuk lebih dalam lagi ke kampus yang selama ini terkenal elit dan mahal dengan biaya bulanannya, mingyu tak heran karena sepanjang jalan ia memasuki kampus tersebut memang sangat bagus.
Saat mingyu sudah memasuki koridor kampus, hampir semua mahasiswa yang melintas menatapnya dengan berbagai artian. Namun mingyu tak perduli, matanya terus saja memindai seluruh sudut kampus untuk mencari keberadaan Alya.
“coba aja gue punya nomornya, pasti gak bakal seribet ini.” gerutunya dengan nafas tersendat-sendat karena rasa lelah.
Mingyu sudah mengitari sebagian isi kampus tersebut, bukan bagian dalam, hanya bagian luar saja. Ia tak berani jika harus masuk ke dalam dan dia juga takut bertanya pada mahasiswa lain, khawatir jika ada yang tanya macam-macam.
Saat ini mingyu sedang berada di koridor samping ruang laboratorium, menyenderkan separuh tubuh di tembok. Setiap mahasiswa yang melintas selalu saja meliriknya penasaran, karena mungkin sudah tak asing dengan wajahnya. tapi mereka juga enggan menyapa, apalagi mengajaknya bicara.
Tanpa sadar dari arah belakang ada seorang laki-laki tengah menatapnya curiga, ia baru saja turun dari tangga lantai atas dan melihat orang yang dia kenali. Semakin dekat, semakin dia yakin jika orang yang saat ini ia lihat memang orang dia kenal. Segera ia pun jalan lebih dekat, dan menepuk pundaknya.
“woy bro, ngapain Lo disini?” tanyanya dengan suara melengking.
Mingyu yang mendengar itu tentu saja terkejut, mata sipitnya seketika melebar saat melihat anak tetangga samping rumahnya kuliah disini.
“Felix! Lo kuliah disini?” pekik mingyu.
Pria yang mingyu panggil Felix itu mengangguk seraya mengeratkan tas ranselnya yang melorot, sebelah tangannya nampak merengkuh dua buku tebal yang entah apa.
“Lo ngapain disini, mau kuliah lagi?” tanya Felix lagi.
Yang Felix tahu mingyu itu sudah sarjana S2 di Amerika 3 tahun lalu, dan ia sudah bekerja di salah satu anak perusahaan ayahnya.
Tapi kenapa pria itu ada disini dengan penampilan yang santai, tak seperti biasanya yang selalu memakai pakaian formal.
“enggak. Gue kesini bukan buat kuliah lagi, capek kali sekolah Mulu! Gue lagi nyari orang.” jawab mingyu setengah menggerutu.
“siapa?”
“Alya! Lo tau gak dia ada dimana sekarang?”
“alya yang mana, fakultas apa?”
“duh..” mingyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. “gue gak tahu dia fakultas mana tapi masa Lo gak tahu siapa Alya?”
“disini nama Alya itu ada 5, dan fakultas mereka beda-beda.”
“alya istrinya Kevin!”
“Oh.. Alya yang itu! Bilang dong dari tadi. Emm.. tadi sih sebelum gue masuk kelas, gue lihat dia lagi ada di kantin bareng teman-temannya.”
“dimana tempatnya?” mingyu nampak antusias.
__ADS_1
“ada di lantai 3. Lo mau kesana?”
Mingyu mengangguk. “iya, tapi Lo anterin ya?”
“gak bisa, gue harus balik!” tolak Felix.
“ayolah.. bentaran aja kok, gue segan kalau kesana sendirian!”
“santai aja kali, disini mah bebas asal Lo gak bikin ulah.”
“gak mau. Udah sih temenin gue sebentar aja!”
“ck! Emang Lo mau ngapain sih ketemu sama dia disini, bahaya tau.”
Kening mingyu berkerut begitu mendengar kata terakhir Felix. “lah, kenapa? Gue cuma mau ketemu dia, apa salahnya?”
“emang gak salah sih, tapi yang jadi masalahnya itu anak-anak sini lagi sensi sama Alya setelah dapat kabar Kevin nikahin dia! Mereka selalu beranggapan kalau Alya adalah pelakor karena udah merebut Kevin dari Mayra.”
Mingyu diam sejenak, ia jadi ingat soal video yang dia tonton kemarin di kantor Kevin. “emang separah itu ya?” tanyanya.
“banget! Gue jadi kasihan sama dia karena dari dulu selalu kena bully.”
“selalu kena bully? Maksudnya?”
Felix diam sejenak. “panjang kalau di ceritain, tapi kalau Lo tetap keukeuh pengen ketemu dia samperin aja ke atas. Mana tau sekarang suasana kantin lagi sepi! Udah ya gue mau balik, udah di tungguin ayang!”
Setelah mengatakan itu Felix langsung berlalu pergi, menghiraukan panggilan mingyu yang terus meneriakinya.
Mingyu menggaruk belakang kepalanya dengan wajah bingung, antara harus samperin Alya atau tidak. Dan pada akhirnya dia memilih mendatangi Alya, urusan mahasiswa lain bisa di pikirkan lagi.
...💐💐💐...
“permisi, letak kantin dimana ya?” tanya mingyu pada seorang mahasiswa laki-laki yang sedang berdiri di balkon sambil membaca buku saat sudah berada di lantai 3.
“oh kantin ya. Tinggal ikutin lorong ini aja, terus belok kanan. Di situ kantinnya.” jawabnya sambil jari telunjuknya mengarah ke belakang tubuh mingyu.
Mingyu mengikuti arah pandang yang di maksud sambil manggut-manggut mengerti, kemudian mengucapkan Terima kasih. dan di balas mahasiswa tadi dengan anggukan.
Dengan langkah cepat mingyu jalan ke arah yang di tuju, sesuai arahan sang mahasiswa tadi, mingyu pun belok ke kanan dan jalan lebih dalam lagi. Begitu sudah masuk, mingyu nampak tercengang karena kantin kampus tersebut sangat luas. Bahkan lebih luas dari kantin kampusnya saat di amerika.
Kemudian mata mingyu mulai mencari sosok Alya, dengan awas dia meneliti setiap sudut kantin yang masih sedikit ramai oleh mahasiswa yang sedang makan siang. Hingga pandangannya berhenti di meja barisan tengah, disana ada Alya bersama dua teman wanita dan satu laki-laki.
Kening mingyu berkerut dalam saat mengenali wajah pria itu. “andreas? Dia kuliah disini juga?” gumamnya.
Mingyu kenal siapa Andreas, ia pernah beberapa kali bertemu dengannya saat liburan ke Korea bersama keluarganya. Mingyu bertemu dengan Andreas pertama kali saat di acara ulang tahun temannya, dan disana Andreas di kenalkan sebagai kekasih temannya. Dua hari setelah pertemuan itu, mingyu kembali bertemu dengannya di klub malam bersama wanita lain.
Begitu pun dengan hari-hari berikutnya, mingyu selalu melihat Andreas selalu jalan bersama wanita yang berbeda-beda. Dan semenjak itu mingyu sudah menilai jika Andreas adalah seorang player, salah satu korbannya pasti adalah temannya.
Tapi kenapa sekarang pria itu ada disini, dan sepertinya Andreas sudah mengenal lama dengan Alya. Atau mungkin sebelum ini mereka berdua sudah saling mengenal, dan memiliki hubungan?
Mingyu terus menduga-duga tentang keakraban antara Alya dan Andreas, hingga ia memiliki kecurigaan tentang hubungan keduanya.
“jika memang benar mereka ada hubungan khusus kasihan banget Kevin, baru aja nikah beberapa hari tapi sudah di selingkuhi.” lirihnya.
‘ternyata memang benar ya, seseorang yang udah pernah selingkuh pasti ke depannya akan terus terulang. ck.. ck.. ck.. malang bener deh nasib Lo Vin, di khianati kesekian kalinya oleh orang yang sama.’ Gerutu mingyu dalam hati.
“alya!” panggil mingyu setelah sudah dekat.
Alya yang mendengar itu langsung menoleh, di ikuti oleh kedua sahabatnya dan andreas. sejenak ia diam sambil keningnya berkerut, hingga akhirnya wajahnya berubah kaget.
“masih ingat sama aku?” tanya mingyu saat menyadari perubahan wajah Alya.
“kamu.. mingyu kan, temannya Kevin?” jawab Alya sambil menerka.
Mingyu tersenyum kemudian mengangguk.
“kok datang kesini, ada apa?” tanya Alya heran, darimana pria itu tahu lokasi kampusnya.
Sementara itu Jessica dan arina nampak saling pandang, kemudian beralih menatap Alya.
“dia siapa Al? Idol Korea ya?” tanya Jessica sambil mesem-mesem dan sesekali melirik mingyu.
“bukan! Dia mingyu, teman sekolahnya Kevin waktu SMP.” jawab Alya
“namanya kok mirip member seventeen ya?” ucap Jessica.
“cuma mirip doang, wajahnya kan beda.” kali ini mingyu yang membalas. “tapi tetap gantengan gue kan?” tanyanya narsis.
Jessica yang mendengar itu tersenyum geli, dia tahu semua teman-teman Kevin good looking semua tapi ia tak menyangka akan ada yang lebih slengean dari Rangga.
Sedangkan arina hanya diam, dan Andreas memasang wajah sinis pada mingyu.
“alya, aku datang kesini mau minta bantuan sama kamu.” ucap mingyu kemudian.
“bantuan apa?”
Sebelum kembali berbicara, mingyu menatap ketiga orang yang sedari tadi tak henti-hentinya menatapnya. Terlebih mata Andreas.
“bisa kita bicara berdua saja?”
Alya terlihat sudah ingin buka suara, namun tertahan begitu mendengar ucapan Andreas.
“lama gak? Soalnya setelah ini kami ada kelas!” ujarnya ketus.
“mungkin.”
“kalau begitu gak usah, nanti saja kalau kelas sudah selesai!”
“kira-kira selesainya jam berapa?”
Alya ingin kembali menjawab, namun lagi-lagi gagal karena terlanjur kedahuluan oleh Andreas. Sehingga membuatnya menatap jengkel ke wajah pria itu, sedangkan arina dan Jessica mengernyit heran.
“pokoknya lama, Mending Lo pulang aja deh daripada capek nunggu!” usir Andreas seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Mingyu menghela nafas seraya bersedekap dada. “perasaan dari tadi gue nanyanya ke Alya deh, tapi kenapa Lo terus ya yang jawab?”
“karena--”
“Diam!” sentak Alya pada andreas, dia benar-benar kesal dengan pria itu.
__ADS_1
“tapi Al, ap yang--”
“aku bilang diam dan jangan bicara lagi. Mingyu datang kesini ingin bicara denganku, bukan denganmu!”
“tau nih, daritadi Lo potong Mulu. Gak sopan banget!” cetus Arina sambil melirik sinis ke wajah Andreas.
Andreas diam dengan raut wajahnya yang semakin kusut.
“kalau kamu sibuk gak apa-apa Al, bisa lain waktu.” ucap mingyu merasa tak enak hati.
“emang mau ngomongin masalah apa sih, penting?” tanya Arina penasaran.
“iya penting, ini menyangkut hubungan pertemananku dengan Kevin.”
“kalian ribut?” kali ini Alya yang bertanya dan mingyu mengangguk.
Alya terlihat melirik jam tangannya, kemudian ia meraih kruk dan tasnya lalu berdiri, baru setelah itu kembali bicara.
“masih ada waktu setengah jam lagi, kita bicaranya di luar saja.” ajaknya.
...💐💐💐...
“jadi, gimana?” tanya Alya terlebih dahulu setelah sudah berada di cafe dekat kampus.
Alya sengaja mengajak mingyu ke cafe biasa dia nongkrong, agar mingyu bisa leluasa bercerita.
Sebelum menjawab, mingyu meneguk minumannya dulu. Sedari tadi dia sudah merasa lelah dan haus karena mencari keberadaan Alya.
“Kamu masih ingat gak sama kejadian dimana Mayra datang ke pesta pernikahan bang Rafael?”
Alya mengangguk.
“nah, disitu akar masalahnya. Kevin marah karena aku ketahuan membawa Mayra kesana, dan dia melampiaskannya ke perusahaan papaku.”
“maksudnya gimana, aku kurang paham?”
“jadi gini. Di dalam perusahaan papaku Kevin adalah investor terbesar, banyak proyek penting di kantor papa yang sudah bekerjasama dengan perusahaan Kevin. Jadi jika dia mencabut semua investasinya, maka proyek-proyek itu tak bisa berjalan dan otomatis papaku rugi besar.”
Alya yang mendengar ucapan mingyu nampak tercengang, ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya ini.
“bagaimana dia bisa investasi, sedangkan dia aja baru 2 hari masuk kantor. Kamu jangan ngada-ngada deh..” ucap Alya sambil terkekeh.
Mingyu menggeleng. “enggak Al, aku gak lagi ngada-ngada. Apa yang aku ucapkan ini benar adanya, jauh sebelum dia sarjana Kevin sudah menguasai ilmu bisnis. mungkin kamu baru tahu dengan fakta ini, tapi semenjak kuliah di inggris Kevin sudah terjun ke dunia bisnis. Tapi dia lebih sering bekerja di balik layar, sehingga namanya sudah terkenal oleh semua pengusaha padahal mereka tak pernah bertemu secara langsung.”
“kamu serius?”
“aku berani bersumpah! Kevin bukanlah pria sembarangan, dia adalah pria yang memiliki otak jenius. Bahkan dia pernah menyelamatkan kantor pamannya dari kebangkrutan, dan dia juga menangkap para koruptor di Zeous Group hanya karena insting! Kamu jangan sepelekan dengan sikapnya yang acuh, dia bisa memantau apapun yang membuatnya tertarik dalam diam.”
Alya yang mendengar ungkapan panjang mingyu merasa kaget, ia menelan salivanya susah payah. Jantungnya berdebar kencang saat mengetahui fakta mengejutkan tentang suaminya.
‘sehebat itukah dia?’ batin Alya bertanya-tanya.
Alya mengakui Kevin memang memiliki otak jenius, dan dia juga pernah mendengar berita tentang pembobolan data perusahaan dan barang produksinya. namun ia tak menyangka jika suaminya lah yang mengungkapkannya, Menangkap para koruptor hanya karena insting!
Tak bisa Alya pungkiri jika dirinya merasa bangga dengan Kevin, dan seketika ia teringat dengan ucapan Kevin semalam. Mungkinkah ini keberhasilan yang Kevin maksudkan?
“memangnya menurutmu apa yang membuat ZN GROUP bisa berdiri kokoh sampai sekarang jika tanpa bantuan Kevin?” ucap mingyu.
“bukannya Dylan yang mengelolanya?”
“ya, memang. Tapi Dylan hanya sosok pengganti, dan setahuku Dylan pernah bilang ingin menyerah tapi mama-nya selalu menahannya. Coba aja kamu pikirkan, Dylan harus mengurus dua perusahaan besar sekaligus. Belum lagi dengan bisnis-bisnis lainnya, kalau tanpa campur tangan Kevin mungkin sekarang dia sudah stress. hanya saja waktu itu keluarganya memaksa Dylan untuk mengurus kantor itu sampai Kevin lulus kuliah, sedangkan bang Rafael sudah mengambil alih Zeous Group dan papanya di kantor pusat.”
“terus kenapa sekarang Kevin mau mengelolanya?”
“karena dia sudah menikah dan bentar lagi umurnya 25 tahun, yang aku denger sih itu adalah salah satu syarat dari wasiat ibu kandungnya. dan karena alasan ini pula yang membuat om aji menjodohkan Mayra dengan Kevin, agar perusahaan itu cepat di kelola oleh Kevin. Ya mungkin dia kasihan sama Dylan karena harus menanggung beban berat, mengurus dua perusahaan sekaligus.”
Alya manggut-manggut paham, meski tak sepenuhnya.
“maka dari itu, aku mohon banget sama kamu bantu aku.”
“apa yang harus ku lakukan? Kalian sudah lama berteman, pasti kamu tahu sifatnya kayak apa kan?”
“aku tahu Kevin emang susah di bujuk tapi aku tahu hanya kamu yang bisa membuatnya luluh!”
“hah!”
Mingyu tersenyum. “aku sudah tahu sejarah kisah cinta kalian, jadi aku yakin kamu pasti bisa membuatnya bisa memaafkanku.”
Alya langsung menggeleng. “kamu salah, Kevin pasti akan ikutan memarahiku jika aku membantumu. Terlebih ini menyangkut Mayra.”
Alya masih ingat dengan kejadian semalam, gara-gara ingin menjenguk Mayra di rumah sakit membuatnya harus mendapat hukuman. Apalagi jika suaminya tahu dia membantu mingyu yang masih berkaitan dengan Mayra.
“aku jamin enggak, percaya deh sama omongan aku. Kevin akan--”
“apapun itu, aku tetap gak bisa. Maaf..”
Mingyu menghela nafas, ia menatap Alya dengan sorot memelas. “ayolah Al, coba dulu.. sekali saja!”
Namun Alya tetap menolak, ia tak mau ambil resiko jika nanti Kevin semakin membencinya.
“please Alya, aku bingung harus berbuat apalagi. Kamu tahu, semenjak Kevin mencabut semua investasinya, aku langsung terusir dari rumah dan di larang pulang sebelum Kevin membatalkannya.”
“ya tuhan.. separah itu?” Alya kaget dengan mata sedikit melebar.
Mingyu mengangguk.
“apa kamu sudah berusaha menemuinya dan meminta maaf langsung padanya?”
“udah Al, tapi Kevin gak mau Nerima maafku. Malah tadi aku terusir saat mau masuk ke kantornya, di apartemen juga begitu. Jadi harapanku satu-satunya hanyalah kamu..”
“tolonglah Al..” mohon mingyu begitu melihat Alya yang hanya diam saja.
Alya yang melihat ekspresi wajah nelangsa mingyu merasa tak tega, tapi dia juga merasa takut kena amukan Kevin.
“kamu yakin ini akan berhasil?”
“yakin banget!”
Alya menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya sejenak. “baiklah, aku akan bantu tapi aku gak janji bakal berhasil.”
__ADS_1