TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 82~Gairah Pasutri Bucin


__ADS_3

Suasana di dalam ruang kerja milik Kevin nampak tenang dan nyaman, ditambah dengan aroma ruangan yang menenangkan dan hembusan angin yang keluar dari lubang AC, membuat siapa saja yang berdiam disana akan betah.


Namun sepertinya suasana seperti itu tak berpengaruh besar untuk pasutri yang tengah di Landa gairah, buktinya saja di lantai marmer itu terdapat ada beberapa potong pakaian berserakan disana.


Di kombinasi oleh suara kecupan bibir dan ******* memenuhi ruangan tersebut, seakan menandakan ada sepasang manusia tengah bermesraan. Untungnya ruangan tersebut kedap suara dan jendelanya pun gelap jika terlihat dari luar, sehingga semua karyawan yang ada disana tak ada yang tahu dengan aktifitas mereka.


Di sofa empuk berukuran panjang dan sedikit luas itu Kevin jadikan tempat untuk meraup kerinduannya terhadap sang istri, membelai dan mengecupi seluruh wajahnya sampai puas.


Bukan hanya wajah, Kevin juga menyerbu lehernya yang putih bersih itu dan meninggalkan jejak merah keunguan disana sebagai stempel kepemilikan.


Alya nampak menggigit bibir bawahnya saat merasakan tangan kekar suaminya memijit lembut salah satu dadanya yang masih terbungkus kaos, sedangkan wajahnya sembunyi di ceruk lehernya. Alya juga merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan bergerak-gerak di area perut bawahnya, jantungnya berdebar kencang saat tahu apa itu.


“apa kita akan melakukannya disini?” tanya Alya dengan suara berbisik.


Kevin yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya, nampak merona dan menatap sang istri yang ada di bawah Kungkungannya dengan tatapan sayu.


“kamu takut?” balas Kevin balik tanya, suara dan deru nafasnya terdengar berat.


Sejenak Alya tersenyum, kemudian menggeleng. “tidak, karena aku tahu ruangan ini kedap suara.” jawabnya.


“kalau denganku?”


Alya mengernyit tak paham.


Seakan mengerti, Kevin pun kembali berucap. “gak takut sama sentuhanku?”


“untuk apa aku harus takut sama sentuhan suamiku sendiri? Kalaupun iya, mungkin aku akan langsung menolak saat kamu menciumku tadi.”


“di awal kamu sempat menolaknya.”


Alya menghela nafas. “itu karena aku kaget dan masih marah sama kamu, bukannya takut.”


Sejenak Kevin diam, raut wajahnya seperti kaget. “jadi kamu gak keberatan jika nanti kita melakukannya lagi? Kamu gak trauma gitu?”


Alya yang mendengar ucapan Kevin terkekeh, kemudian menggeleng. Ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh tegap suaminya, maju sedikit lalu ******* bibirnya sekilas.


“enggak sama sekali.” ucapnya.


Kevin kembali diam.


“kenapa? Apa Selama ini kamu berpikir aku trauma di sentuh sama kamu?” tanya Alya.


Suaminya itu mengangguk, membuat Alya kembali terkekeh.


“kenapa kamu sampai berpikir begitu sih, memangnya aku pernah terlihat takut saat berada di dekatmu. Hem?”


“enggak.”


“terus kenapa kamu sampai punya pikiran seperti itu?”


“aku merasa bersalah dengan kejadian di mobil itu, jeritan kesakitanmu selalu terbayang-bayang dan itu membuatku berpikir kalau kamu pasti trauma. Apalagi itu pengalaman pertamamu, tapi aku melakukannya dengan kasar.”


Alya menghela nafas. “buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu, aku tegaskan sekali lagi. Aku gak takut ataupun trauma dengan kejadian itu! soal sakit, itu memang benar dan wajar bagi yang pertama, setelahnya gak sakit lagi kok.”


“tapi.. itumu berdarah.” lirih Kevin dengan mimik wajah memelas.


“setiap wanita yang belum pernah berhubungan badan sebelumnya pasti akan mengeluarkan darah, karena ada sobekan di selaput daranya. Setelah itu udah gak bakal berdarah lagi.”


“beneran?”


“iya.”


Kevin tersenyum lega, ia lega karena pikirannya selama ini ternyata salah. “aku minta maaf soal kejadian malam itu, kalau tahu kamu masih virgin mungkin aku akan melakukannya dengan lembut.”


Alya mengangguk. “iya gak apa-apa, aku paham kok. Ini juga salahku sendiri yang udah bohongi kamu.”


“yang penting sekarang kita sudah bersama, dan akan lewati semuanya bersama-sama.”


Sekali lagi Alya mengangguk, hatinya benar-benar lega karena permasalahannya dengan Kevin sudah selesai. Di tambah dengan pengungkapan isi hati suaminya, membuat tekadnya semakin bulat untuk menyingkirkan siapapun yang ingin memisahkannya dengan Kevin. Termasuk juga untuk urusan dengan ayah mertuanya, Alya akan belajar melawannya.


“kamu harus menjelaskan semuanya sama aku dari awal Vin, Se.. muanya!” pinta Alya dengan penuh penekanan di akhir katanya.


“dari awal?” beo Kevin.


“ya. Apa kamu gak sadar, Sampai saat ini kamu belum ceritakan gimana bisa selamatkan aku dari kedua preman itu? dan juga soal alasanmu selama 3 bulan ini jarang pulang. oh! Jangan lupa juga soal Mayra tadi. Pokoknya kamu harus jelaskan semuanya!” balas Alya dengan cerewetnya.


Sejenak ia menghela nafas, raut wajahnya berubah sendu.


“Kamu gak tau kan, selama itu aku selalu kesepian dirumah. Selalu overthingking tiap kamu pergi ke luar kota dan gak sekalipun ngabarin aku, Belum lagi dengan sifat introvertmu, itu membuatku sedih. Aku berasa jadi wanita yang gak punya suami!” lanjutnya seraya memainkan jemarinya di dada bidang suaminya yang terpampang nyata.


“kan ada kedua sahabatmu, ajak aja mereka main.” ujar Kevin santai, padahal aslinya dia sedang menahan hasratnya akibat ulah tangan nakal istrinya itu.


“ck. Mereka juga punya kesibukan masing-masing Kevin, di kampus aja kami bisa kumpul pas di kelas aja.” cetus Alya, ia menatap sebal wajah suaminya.


Kevin terkekeh, merasa lucu dengan ekspresi wajah istrinya yang cemberut. “baiklah, baiklah.. nanti aku ceritakan semuanya, tanpa terlewati sedikit pun.”


“bener ya?”


“iya. Sekarang kita harus pergi dulu, waktunya udah mepet.” ucapnya seraya bangun dari posisinya, jemarinya nampak merapikan kancing kemejanya yang semuanya terbuka.


“tapi.. itunya kamu gimana?” lirih Alya, seraya matanya melirik ke inti bawah suaminya yang mengembung.


“biarkan saja, nanti juga lemes sendiri. Ayo, sekarang kamu bangun. Jadi ikut kan?”


Alya mengangguk, kemudian bangun dari posisi rebahannya.


...💐💐💐...


Kevin dan Alya keluar bersama dari kantor sambil berpegangan tangan, mereka nampak jalan tergesa-gesa menuju parkiran di ikuti oleh Sean dan Kenzo di belakang.


Ketika sudah sampai di tempat dimana mobilnya terparkir, Kevin membuka pintu belakang dan menyuruh Alya masuk duluan, baru setelah itu ia menyusul.


Kenzo pun begitu, ia duduk di kursi supir. Sementara Sean akan membawa mobil yang biasa Alya pakai sendirian, dan membuntutinya di belakang.


Tadinya Kevin menyuruh Sean untuk ikut ke mobilnya saja, namun tak jadi setelah dapat kabar jika supir kantor yang akan menjemput Jenifer sedang tak ada.

__ADS_1


Menurut penjelasan dari Kenzo, supir kantor sedang mengantar Mayra pulang. Karena memang wanita itu datang kesana memakai taksi, tapi entah kenapa sampai saat ini belum juga kembali.


Kevin yang mendengar itu pun kesal, jika begitu artinya dia harus menjemput jeni ke kantornya. Padahal jarak antara kantornya dan kantor wanita itu sangat jauh, tapi mau apa dikata. Maka dari itu mereka keluar dari kantor dengan langkah terburu-buru, mengejar waktu yang sudah mepet.


Sepanjang perjalanan Kevin nampak sibuk dengan laptopnya, jemari kekarnya tak henti-hentinya bergerak di atas keyboard. Sementara Alya memilih diam, sambil matanya menatap ke jalanan.


Drrttt..


Tiba-tiba terdengar suara getaran yang berasal dari ponsel Kevin yang ia simpan di kantong jasnya, bergegas ia pun merogohnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


“aku dan Kenzo sedang dalam perjalanan, kamu tunggu saja.” ucap Kevin setelah menerima panggilan yang ternyata dari kontak Jenifer.


Setelah itu Kevin mengakhirinya tanpa menunggu jawaban dari Jenifer, padahal di seberang sana wanita itu ingin bicara.


“dari jeni ya?” tanya Alya.


“hm..” jawab Kevin dengan deheman dan tanpa menoleh.


Sebelum berangkat Kevin sudah mengatakan pada Alya kalau ia akan menjemput Jenifer di kantornya, dan menjelaskan alasannya. Kevin juga menunjukkan riwayat pesannya, sebagai bukti dari ucapannya.


Meski awalnya Alya merasa kesal dengan keberanian Jenifer yang meminta suaminya untuk menjemputnya, tapi pada akhirnya ia pun membiarkan. Toh, sekarang dia ikut kesana dan ia sudah punya rencana akan terus menempeli suaminya agar jeni tak ada kesempatan untuk mendekat.


“dia masih kerja di kantor papanya?” tanya Alya lagi.


“masih.” jawab Kevin.


“bukannya papanya sudah sehat ya?”


Alya sudah tahu perihal alasan kenapa Jenifer banting setir profesi, dari yang dulunya seorang desainer, kini menjadi wanita kantoran. Itu pun arina yang kasih tahu, karena memang kabar itu sempat heboh di kalangan alumni SMA. Sahabatnya itu juga mengatakan kalau perusahaan Kevin dan perusahaan milik ayah Jenifer tengah bekerjasama dalam membangun beberapa proyek penting di luar kota.


Setelah mendengar kabar itu Alya langsung di Landa kegalauan, pikirannya selalu buruk setiap mengetahui Kevin pergi ke Bogor untuk meninjau pembangunan disana. Namun sebisa mungkin ia selalu santai dan berpikiran positif, tapi nyatanya hatinya tak pernah sejalan. Sebagai seorang istri tentu Alya merasa khawatir, ia takut suaminya itu berbuat yang tidak-tidak. meski ia tahu Kevin bukan tipe pria yang mudah tergoda, ditambah dengan perilakunya yang tak suka deketan dengan wanita lain jika tak ada urusan serius.


Tapi tetap saja hatinya tak bisa tenang, pikirannya selalu buruk. Hingga pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Kevin, dan suaminya itu menjelaskan semuanya. Suaminya itu juga mengatakan untuk jangan berpikiran aneh-aneh, karena interaksinya dengan Jenifer hanya sebatas pekerjaan.


Kala itu Alya mendengar penjelasannya hanya bisa diam dan memaklumi, ia sangat percaya Kevin tak akan berbuat macam-macam. Walaupun nantinya suaminya menyukai Jenifer ataupun wanita lain, pasti ia akan mengatakannya langsung.


“memang, tapi belum sepenuhnya stabil meski sekarang sudah tidak dirawat dirumah sakit lagi. jadi, selama itu ia akan menggantikan posisinya.” jawab Kevin tanpa menatap Alya.


“lalu usaha butiknya gimana?”


“ada ibunya yang mengelolanya, dia juga kan seorang desainer.”


Mendengar itu Alya manggut-manggut mengerti, ia jelas tahu ibunya Jenifer adalah desainer senior yang sangat terkenal dan sangat disegani oleh semua orang. Semua pakaian hasil ciptaannya selalu diburu oleh semua kalangan, termasuk kakaknya yang sering belanja di butiknya. Bahkan sebagian pakaian yang ada di lemarinya berasal dari butik itu, namun sayangnya Alya jarang memakainya.


“kenapa harus jeni yang menggantikannya, kenapa gak sama anggota keluarga lainnya?”


“om Nattan disini tinggal sendirian, semua keluarganya tinggal di inggris.”


“oh.. begitu. Kasihan juga ya..” gumamnya.


“kenapa memangnya kamu nanya gitu?” tanya Kevin seraya menatap Alya.


Alya menggeleng sambil tersenyum. “gak apa-apa, hanya penasaran aja.” jawabnya.


“iya aku tahu dan aku juga percaya kamu gak bakal begitu, tapi yang namanya cemburu gak bisa ditahan Vin. Sama halnya saat kamu tahu aku di deketin Andreas, kamu gak suka kan? Itu juga yang aku rasakan saat melihatmu pergi dengan dia. Meski disana ada orang lain lagi, tapi tetap aja..”


Lagi, Kevin menghela nafas dan kali ini terdengar panjang. Segera ia menurunkan laptopnya ke samping, lalu merangkul tubuh Alya.


“sudah, sudah.. jangan terlalu dipikirkan. Hubunganku dengan Jenifer hanya sebatas kerja dan teman saja, tidak lebih. Selain itu kamu juga harus percaya sama aku, dan pahami jika gak ada wanita lain selain dirimu dihidupku. Oke?”


Alya menggangguk seraya membalas dekapan hangat suaminya.


Kevin yang melihat itu pun tersenyum, ia senang dengan perubahan Alya yang kini menunjukkan rasa cemburunya tanpa malu. Beda halnya saat mereka masih pacaran dulu, Alya selalu berusaha menutupinya.


...💐💐💐...


Setengah jam pun berlalu, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. dari dalam mobil, Alya menatap gedung kantor milik ayah Jenifer yang tak kalah bagus dan mewah dari kantor suaminya.


“kamu gak mau keluar?” tanya Alya pada suaminya.


“ngapain?” balas Kevin heran.


“jemput jeni ke dalam.”


Kevin tak kembali membalas, ia malah menyuruh Kenzo untuk menekan klakson mobil.


Tin! Tin!


Jenifer yang kala itu sudah menunggu di ruang tunggu yang ada di lobby, terlonjak kaget begitu mendengar itu. Ia menoleh ke asal suara dan senyumnya mengembang saat melihat mobil Kevin sudah terparkir di depan kantornya, bergegas ia pun bangun dan keluar.


Alya yang melihat kedatangan Jenifer tanpa sadar berdecih, ia menatap tak suka penampilan wanita itu yang memakai pakaian ketat, dandanan wajahnya pun terlihat menor, dan yang paling mencolok adalah raut wajahnya yang berseri-seri.


dalam hati ia menduga jika Jenifer pasti sengaja berpenampilan seperti itu untuk menarik perhatian suaminya, atau mungkin itu memang sudah menjadi style-nya?


“dia udah keluar tuh.” bisik Alya tepat di telinga Kevin.


Kevin pun menoleh ke samping, lalu jarinya menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil.


“kalian naik ke mobil belakang aja, disini penuh.” Ucapnya dengan nada datar pada Jenifer dan sekretarisnya yang Kevin ketahui bernama Amara.


Raut wajah Jenifer yang awalnya berseri mendadak berubah suram dan tubuhnya mematung ditempat begitu mendengar ucapan Kevin, terlebih ia melihat di dalam mobil itu ada Alya.


tiba-tiba dadanya merasa sesak. Ada rasa tak rela kala melihat Kevin duduk berduaan saja dengan Alya, apalagi setelah menyadari posisi duduk mereka yang begitu intim.


padahal itu hal biasa, terlebih dengan status gadis itu yang sebagai istrinya dan dia tak ada hak untuk melarang. Namun di balik itu ia juga merasa heran kenapa Alya bisa ikut, padahal sebelumnya tidak pernah.


“hai kak jeni, udah lama ya kita gak ketemu.” sapa Alya dengan senyum mengembang.


Meskipun usia Jenifer dan dirinya hanya beda setahun, namun Alya tetap memanggilnya dengan embel-embel kakak agar terdengar sopan. Begitu pun dengan suasana hatinya, walaupun ia kesal dengannya, tetap saja Alya harus bersikap biasa.


“i-iya. Hai juga..” sahut Jenifer dengan terbata. “ya sudah aku ke belakang dulu.” lanjutnya yang di balas Alya dan kevin dengan anggukan, kemudian ia berputar arah menuju mobil yang di maksud.


Saat sudah di dalam mobil ekspresi Jenifer kembali berubah kaku, matanya menatap tajam ke mobil Kevin dan kedua tangannya yang ada di pangkuannya terkepal kuat.


Amara yang menyadari itu pun menghela nafas, kemudian menepuk pelan bahu Jenifer dan berbisik. “aku kan udah sering bilang padamu, jangan terlalu banyak berharap. sekarang kamu bisa lihat sendiri kan?”

__ADS_1


Jenifer yang mendengar itu mendengus, dengan angkuhnya dia pun berkata. “kucing mana yang bisa menolak jika di suguhi ikan asin!”


Amara tak lagi membalas, ia hanya geleng-geleng kepala. Tanpa mereka sadari jika di mobil tersebut ada sean, dan tentunya ia mendengar semua percakapan dua wanita itu.


‘ternyata banyak tikus kotor yang bermimpi ingin menjadi kelinci menggemaskan!’ gumamnya dalam hati, seraya tersenyum smirk.


Kemudian ia mulai menyalakan mesin mobil, begitu melihat mobil Kevin sudah berjalan meninggalkan area parkir kantor Jenifer.


...💐💐💐...


Sementara itu di dalam mobil, Kevin sedang asyik memainkan rambut istrinya. Menarik, mengacak, hingga menciumi aromanya, dan dia lakukan itu berulang kali.


Alya yang menyadari itu hanya diam saja, ia membiarkan suaminya itu untuk melakukan itu semua.


“besok kan wekkend, kamu ada rencana kemana?” tanya Kevin tiba-tiba.


“em.. kayaknya gak ada. Kenapa?”


“setelah urusan di Bogor beres, kita pergi ke Bandung ya?”


Alya yang mendengar itu mengernyit. “bandung? Mau ngapain?”


Kevin tersenyum kemudian meraih dan mengecup punggung tangan Alya dan berkata. “aku mau jenguk temanku yang sakit, sekalian nanti kita jalan-jalan. Mau?”


“boleh. berapa lama?”


“2 hari aja, Senin sorenya kita pulang. Tapi.. kalau kamu mau lebih gak apa-apa, nanti aku akan atur ulang jadwalku.”


Alya langsung menggeleng. “gak perlu, 2 hari aja udah cukup kok. Lagian kalau nambah hari aku gak bisa. lagi sibuk-sibuknya dengan urusan kampus, karena bentar lagi kan mau ujian semester.”


Kevin manggut-manggut Mengerti.


“eh, tapi kita kan gak bawa apa-apa vin? kamu sih gak bilang-bilang dulu.”


“sengaja, biar kamu panik.” goda Kevin.


“ck! Kamu mah..” Rajuk Alya seraya memukul pelan lengan suaminya.


Kevin terkekeh geli, kemudian dia merangkul bahu istrinya dan membawanya ke pelukannya. Tak lupa ia juga mengecup keningnya, lalu menunduk dan berkata.


“udah tenang saja, semuanya sudah aku siapkan. Kamu tinggal terima beres.” Bisiknya.


“benar ya?”


“iya! Gak percayaan amat.”


“aku hanya pengen memastikan aja, takutnya kamu sembrono.”


“enggaklah, kamu pasti tahu aku gimana kan? Apapun yang aku rencanakan pasti sebelumnya udah di pikirkan matang-matang.”


Alya yang mendengar itu tersenyum lalu mengangguk, ia tentu tahu akan hal itu. “termasuk juga tentang pernikahan ini?” tanyanya seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kevin, dan mendongak menatap wajah tampan suaminya.


Akibatnya membuat jarak keduanya sangat dekat, bahkan hidung mereka sampai bersentuhan. Sedikit saja mereka bergerak, maka bibir keduanya akan menyatu.


“hm. Meskipun awalnya aku gak ada pikiran akan berakhir seperti ini.”


“setelah kamu tahu segalanya, menyesal gak?”


Sejenak Kevin menghela nafas berat, seraya jarinya mengelus lembut pipi istrinya. “tentu saja! Aku menyesal karena sudah bertindak bodoh, dan malah memilih untuk membencimu. Maaf yah..”


Alya mengangguk kecil. “tak apa-apa, semuanya sudah terlanjur terjadi dan kamu gak perlu merasa bersalah begitu. Yang bodoh bukan hanya kamu, tapi juga aku. Karena masalah ini juga membuatmu jadi sakit.”


Kevin tak lagi bersuara, dia hanya mengangguk lalu menarik dagu Alya dan bibir keduanya pun menempal. Matanya terpejam, menikmati manisnya bibir istrinya yang sedari tadi menggodanya untuk di sentuh.


Sama halnya dengan Kevin, Alya pun begitu. Ia memejamkan matanya, seraya membalas ciuman Suaminya dengan penuh perasaan.


Namun itu tak bertahan lama, karena Alya langsung mendorong dada suaminya saat mengingat di mobil itu masih ada orang lain.


“kenapa di lepas sih sayang, kan aku belum puas?” protes kevin sambil memasang wajah cemberut.


“ada Kenzo vin.” Lirihnya. Wajahnya nampak merona malu karena mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut Kevin.


Sudah lama sekali ia tak mendengar kata itu, jantungnya berdegup tak karuan begitu panggilan yang dulu Kevin sematkan padanya kembali terulang.


Kevin yang mendengar itu langsung melirik kenzo, dan berkata.


“ken, pakai headset!” Titahnya.


Tanpa harus bersuara, Kenzo pun menurut. Ia langsung mengambil headset yang ada di laci dashboard, memutar musik dengan volume tinggi dan memasangnya ke telinganya.


“sekarang aman, kita lanjut lagi.”


“ta-tap--mhhpp..”


Alya sudah tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya sudah keburu di bungkam oleh Kevin, suaminya itu mencumbui bibirnya dengan dalam dan penuh tuntutan.


Alya terbuai, ia pun kembali membalas pagutan suaminya seraya mengeratkan kedua tangannya di tubuh tegapnya.


Perlahan tapi pasti Kevin mulai menyudutkan tubuh istrinya ke pintu mobil dan semakin memperdalam ciumannya, sementara tangannya sudah menelusup masuk ke dalam pakaiannya, membelai perut, punggung dan berakhir naik dadanya.


Mata Alya langsung terbuka lebar dan Sebelah tangannya bergerak cepat saat tangan Kevin menaikan cup branya, kemudian menggeleng.


“tenanglah sayang, aku hanya ingin menyentuhnya langsung. Kamu cukup nikmati saja, oke..” bisik kevin tepat di depan bibir Alya.


“tapi ada Kenzo Vin, kalau dia lihat bagaimana?”


“gak bakal, kan ketutup sama baju.”


Setelah mengatakan itu Kevin kembali menyerang bibir istrinya, dan tangannya mulai meremas dadanya.


Pada akhirnya Alya hanya bisa menerima dan menikmati apapun yang di lakukan suaminya, jemarinya nampak mencengkram kulit punggung Kevin saat merasakan geli akibat gerakan jari Kevin yang menggoda puncak dadanya.


Sedangkan Kenzo yang melihat adegan itu hanya bisa memalingkannya wajahnya, berusaha fokus ke jalanan.


Namun ia juga merasa senang begitu melihat hubungan Kevin dan Alya yang membaik, hatinya lega karena kehadiran Mayra tadi tak membuat hubungan keduanya kandas.

__ADS_1


__ADS_2