TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 55~Terpesona


__ADS_3

Kevin dan Kenzo keluar dari ruang kerja Dylan tepat pada jam setengah 5 sore, kedua pria tampan itu berjalan bersisian menuju lift. Sementara Dylan sendiri masih berada di ruangannya, ia tengah membereskan barang-barang pribadinya karena besok ruangan itu akan menjadi milik adiknya.


“ken, nanti Lo anterin gue dulu ke rumah utama. Gue mau ambil kruk dan beberapa barang.” ucap Kevin.


Karena mobilnya di bawa Sean untuk mengantar Alya, alhasil dia harus nebeng ke mobil Kenzo.


Sebenarnya bisa saja dia menelpon Sean untuk menjemput, tapi rasanya itu akan lama. Belum lagi nanti di jalan kejebak macet, dan pelayan di apartemennya pasti sudah pulang. Otomatis Alya disana akan sendirian, dan tidak ada yang mengawasi.


“baik, tuan.” sahut Kenzo, seraya sedikit menundukkan kepalanya.


Kenzo paham apa yang saat ini Kevin pikirkan, jika Sean menyuruhnya datang ke kantor maka Alya akan sendirian. Bukan tanpa alasan kenapa Kevin tak ingin Alya sendirian, keadaannya masih sangat rawan. Apalagi setelah melihat rekaman cctv yang ada di apartemennya, disana ia melihat aji datang namun sayangnya baik dirinya maupun Kevin tak bisa mendengar apapun yang mereka katakan.


Jam 2 siang tadi setelah acara rapat bersama perusahaan Jeniffer selesai, Kevin memang sempat mengecek kamera cctv apartemennya. sudah menjadi kebiasaannya yang selalu mengecek kinerja para pekerja, baik itu di rumah utama maupun di apartemennya. Namun ia malah melihat papa-nya mendatangi Alya secara tiba-tiba, padahal papa-nya tak pernah berkunjung kesana semenjak ia memilih tinggal sendiri.


“saya mohon anda tenanglah tuan, nona muda baik-baik saja. Tuan besar tak menyakitinya sedikit pun.” ucap Kenzo dengan nada pelan, berusaha membuat Kevin tenang.


Kevin tak bersuara, dia hanya menghela nafas panjang. Raut wajahnya memang datar, tapi Kenzo tahu saat ini suasana hatinya sedang gundah bisa dilihat dari sorot matanya.


Kata orang, mata adalah jendela dunia. Di kala mulut tak bisa berucap, maka lihatlah matanya dan kau akan tahu jawabannya.


TING!


pintu lift terbuka, Kenzo dan Kevin bergerak maju masuk. Jari telunjuk Kenzo menekan angka paling bawah, tak lama setelahnya pintu besi itu kembali tertutup.


Drrttt..


Ponsel milik Kevin yang berada di saku jasnya bergetar, ia segera meraihnya. Di layar itu terpampang ada nama Jenifer, tanpa ragu lagi Kevin menerimanya.


“ada apa?” ucap Kevin to the poin.


[Hehe.. tidak apa-apa, aku hanya ingin ucapkan terima kasih karena sudah mau menyetujui kerja sama dengan perusahaanku.]


“kau sudah mengatakannya saat di kantor, dan ini adalah kedua kalinya kau mengucapkan itu.”


Nada suara Kevin terdengar seperti menahan kesal, bukannya merasa tak enak tapi Jenifer malah penasaran hal apa yang membuat pria itu begitu. Namun sayangnya, dia tak ada keberanian untuk bertanya. Ia tentu paham bagaimana watak pria itu, tapi tetap saja Jeniffer merasa penasaran.


[Ah.. iya maaf, aku masih belum percaya aja. Menurut kabarnya kamu itu susah sekali di ajak kerja sama, tapi kali ini kamu langsung setuju.]


“aku menolak karena ada alasannya, begitu pun sebaliknya.” Kevin memberi jawaban dengan spesifik.


[Iya syukurlah, itu tandanya perusahaanku di nilai bagus. Oh iya, aku sudah kasih tahu soal ini ke papaku dan dia sangat senang sekali.]


“bagaimana keadaannya? Maaf, aku belum bisa menjenguknya.”


[Keadaannya sudah membaik, tinggal perawatan intensif aja. Gak apa-apa kok kamu belum bisa jenguk, aku paham kamu kan sibuk. Tapi lain kali kalau ada waktu bisa kan datang kesini, katanya papa pengen ketemu kamu.]


Kevin diam sejenak. “oke, nanti kalau ada waktu senggang aku akan kesana...” ucap kevin.


Di seberang sana Jenifer yang mendengar itu tersenyum lebar, dalam hati dia berdoa semoga Kevin datang sendiri sehingga ia bisa bersamanya berdua saja.


“bersama istriku.” sambung Kevin.


Seketika itu pula senyum Jenifer lenyap bagai ditelan bumi, setelah mendengar kata istri. Punah sudah keinginannya untuk bisa berduaan dengan Kevin.


[Ah.. I-iya, ya sudah kalau gitu aku tutup ya. Sekali lagi makasih.]


“hm..”


Kevin memutuskan panggilan itu terlebih dahulu, bersamaan dengan itu pintu lift kembali terbuka. Bergegas Kenzo dan Kevin keluar dari sana, lalu pergi menuju parkiran.


...💐💐💐...


Hanya butuh waktu setengah jam Kevin dan Kenzo sudah sampai di rumah utama, Kevin keluar dari sisi pintu depan lalu berjalan masuk rumah. Sementara Kenzo akan menunggunya di teras depan bersama para pengawal.


Begitu sudah masuk dalam rumah, Kevin di sambut oleh neneknya yang saat itu berada di ruang tamu sambil membaca majalah fashion. Anjeli terkejut dengan kedatangan cucunya yang tiba-tiba.


“loh, kamu kok pulang kesini? Mana istrimu?” tanya Anjeli sambil melirik ke belakang tubuh Kevin.


“alya ada di apartemen, aku kesini mau ambil barang.” jawab kevin.


“oh begitu, ya udah sana ambil lalu langsung pulang. Jangan biarkan istrimu sendirian.”


“iya.”


Kevin langsung melipir pergi, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di dalam sana, Kevin menarik koper kecil yang ada di atas lemari. Membawanya ke ranjang dan membukanya, lalu dia membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian dan barang pribadi lainnya.


Setelah semuanya selesai, ia kembali menutupnya kemudian menariknya keluar kamar. Kevin kembali turun ke lantai bawah, lalu pergi ke arah gudang. Dia menyalakan sakral lampu, kemudian berjalan masuk untuk mencari bekas kruknya.


Senyum Kevin merekah saat sudah menemukan benda itu, namun sebelumnya ia mengeceknya dulu apakah masih layak di pakai atau tidak.


Setelah memastikan benda itu masih layak di pakai, Kevin keluar dari sana dan kembali mematikan lampunya kemudian menutup pintu.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat papa-nya sedang duduk di sofa yang ada di ruang tengah, di pangkuannya ada laptop yang menyala. Sedangkan di sampingnya ada kakeknya yang tengah menonton televisi.


Dalam diamnya Kevin menatap tajam ke arah papa-nya yang tak tahu keberadaannya, tak lama setelahnya ia pergi dari sana.


“sudah?” tanya Anjeli begitu melihat cucunya kembali sambil membawa koper dan satu Kruk.


“iya.” jawab Kevin singkat dan wajahnya terlihat kaku.


Anjeli diam sejenak, ia merasa ada yang aneh dengan sikap Kevin sekarang. Tidak biasanya cucunya satu itu bersikap dingin padanya.


“kamu kenapa nak, ada masalah?” tanyanya.


“gak ada, aku hanya merasa lelah aja.” jawab Kevin.


Anjeli kembali diam, kemudian menghela nafas. “terus, itu Kruk buat siapa?” tanyanya lagi.


“buat Alya, Grandma kan tahu kakinya sedang cedera.”


Anjeli menaruh majalah ke meja kemudian beranjak bangun, ia mendekati Kevin dengan senyuman tipis. “ini kan Kruk bekas kamu waktu sakit, apa nanti dia gak curiga kalau kasih Kruk ini? Grandma tebak, kamu pasti belum cerita apapun kan sama dia?”


“untuk apa aku harus cerita ke dia, gak penting juga kan? Bukannya merasa bersalah, yang ada nanti dia malah kasihan dan aku gak butuh itu.” cetus Kevin.


“jangan bicara begitu nak, gak baik. Siapa tahu setelah dia menjadi istrimu, sifatnya berubah.”


“bagiku, sekalinya pendusta tetap saja pendusta. Ya, memang dia bisa berubah tapi yang namanya watak itu bakal susah di rubahnya. Soal Kruk ini, grandma tenang aja Alya gak bakal curiga sedikit pun karena aku sudah bilang padanya jika aku pernah cedera kaki akibat kecelakaan Mobil.”

__ADS_1


Anjeli yang mendengar itu manggut-manggut, ia kembali tersenyum kemudian mengusap bahu tegap Kevin dengan sebelah tangannya.


“besok kami akan pulang ke Seoul, Grandma hanya ingin bilang hati-hati. Sekarang kamu sudah menikah dan sudah menjadi CEO di perusahaan mamamu, kamu pasti tahu persaingan dalam dunia bisnis itu begitu kejam?”


Kevin mengangguk. “iya Grandma, aku tahu. aku akan menjaganya sebisaku.”


“bagus! Karena itu memang sudah menjadi tugasmu sebagai suami, tapi perlu di ingat juga apapun kesalahannya dia tetap seorang perempuan yang mesti kamu hormati. Jangan pernah sekali pun berbuat kasar padanya, apalagi sampai main tangan.”


“iya grandma, Kevin gak akan pernah lupa soal itu.”


Anjeli tersenyum, di usapnya kembali bahu cucunya itu. “sekarang Grandma sudah tenang karena wasiat dari ibumu sudah terlaksana. Pasti sekarang di atas sana mamamu sedang tersenyum, karena melihat anak-anaknya sudah menikah semua.”


“masih ada satu lagi grandma.”


“dia bukan anak Tamara, dia anak selingkuhan papamu yang sekarang sudah menjadi ibu sambungmu!” cetus Anjeli.


Kevin tak bersuara, dirinya tahu neneknya dari dulu memang tak pernah menyukai Marissa karena di anggap sudah menghancurkan pernikahan anaknya. Namun ia sendiri juga tahu, neneknya itu sangat menyayangi Dylan.


“kamu tunggu sebentar disini, Grandma mau kasih sesuatu buat istrimu.”


Kevin mengangguk mengiyakan. Setelah itu Anjeli pergi menuju kamarnya, sementara Kevin memilih duduk di sofa.


Beberapa menit kemudian Anjeli kembali datang sambil membawa sekotak beludru berukuran besar dan berwarna biru, Kevin yang melihat itu mengernyit heran.


“apa ini Grandma?” tanya Kevin, seraya bangun dari duduknya.


“ini adalah satu set perhiasan milik ibu kandungmu, waktu masih mengandung kamu tamara pernah bilang sama Grandma untuk menyerahkan semua perhiasannya ke menantunya.” jawab Anjeli.


Kevin tak langsung menjawab, ia meraih benda itu dan membukanya. Seketika matanya membola saat melihat isinya.


‘ini mah bukan satu set, tapi semua perhiasan milik mama Ara dijadikan satu.’


“grandma mau menipuku ya? Jangan mentang-mentang aku laki-laki tapi gak tahu bagaimana bentuk satu set perhiasan.” selidik Kevin.


Anjeli yang mendengar ucapan Kevin tertawa, memang cucu satunya itu tak bisa di bohongi.


“kamu benar, ini memang bukan satu set. Tapi perhiasan 10 kotak Grandma jadikan satu.” ujarnya.


Kevin menghela nafas.“ini terlalu banyak Grandma, perlu grandma ketahui Alya itu tak suka dengan barang-barang yang berlebihan.”


Anjeli tersenyum mendengar penuturan Kevin, meski sudah berpisah lama dan mengaku membencinya tapi cucunya itu masih mengingat hal sekecil apapun soal Alya. Dalam benaknya meyakini jika Kevin memang masih memiliki rasa terhadap Alya, namun masih terhalang ego.


“tak apa-apa nak, simpan aja dulu. Siapa tahu nanti dia mau pakai.”


Kevin kembali menghela nafas sambil kembali menutup benda itu. “baiklah, nanti aku kasihkan ke dia.”


“oh iya kamu udah kasih gelang simbol keluarga kita belum?”


“udah, kemarin. Aku juga udah jelasin semuanya.”


“bagus! Setidaknya dia di kenal sebagai anggota keluarga kita lewat gelang itu.”


“tanpa gelang itu juga Alya sudah di kenal sebagai istriku.” gerutu Kevin.


“memang, tapi tak semua percaya dan tak semua orang mengenal dunia digital. Lagian kamu sendiri yang salah, nikah kok diam-diam. Mana gak ada resepsi lagi!”


“lebih aneh lagi kalau aku nikah terang-terangan di saat semua orang tau aku akan menikah dengan Mayra.”


Kevin mengangguk mengiyakan, kemudian berlalu pergi keluar rumah. Kenzo yang melihat tuan mudanya sudah keluar segera jalan mendekat, ia mengambil koper dan Kruk yang Kevin bawa. Lalu dia letakkan di bagasi, sementara kotak perhiasan itu akan Kevin pegang. Setelahnya mereka masuk mobil dan melajukan mobilnya untuk meninggalkan area halaman rumah utama.


...💐💐💐...


Alya melirik ke arah jam dinding yang ada diruang makan, disana jarum menunjukkan ke angka 6 namun Kevin tak kunjung juga pulang. Lalu pandangannya beralih ke meja makan, semua masakannya sudah siap.


“kenapa dia belum pulang juga sih? Apa urusan kantornya masih belum selesai?” tanya Alya pada dirinya sendiri.


Alya meraih ponselnya yang ada di meja samping piring kosong, ia mendesah pelan karena tak ada satu pun pesan atau panggilan dari suaminya.


“atau sekarang dia lagi makan malam sama Jenifer lagi?” gumamnya.


Meskipun itu hanya dugaannya saja, hatinya tetap merasa sesak. Ia tak rela Kevin bersama wanita lain, Apalagi begitu mengingat soal siang tadi.


‘salahkah jika aku saat ini merasa cemburu, tidak kan? lagian dia kan suamiku, gak etis rasanya jika dia memang benar sedang bersama Jenifer!’


Alya langsung menoleh saat mendengar suara seperti ada yang menekan kode apartemen, Tak lama setelah itu pintu terbuka dan terdengar derap langkah kaki. dengan langkah pincang Alya jalan mendekat, Hatinya merasa lega saat melihat Kevin sudah pulang, namun dia merasa heran dengan bawaan yang Kevin bawa.


“kamu mau kemana Vin, kok bawa koper segala?” tanya Alya sambil terus jalan mendekati suaminya.


“gak kemana-mana, tadi aku habis dari rumah ambil barang dan kruk.” jawab Kevin, kemudian dia menyerahkan Kruk dan kotak perhiasan pada Alya.


“mulai besok kamu harus pakai ini, baik diluar ataupun dalam rumah!”


Ucapan Kevin terdengar tegas dan tak mau di bantah, dan itu membuat nyali Alya menciut.


“terus ini?” Alya menunjuk ke kotak perhiasan.


“itu kotak isinya perhiasan, hadiah pernikahan dari mama Ara.”


“perhiasan dari mama Ara!” pekik Alya dengan mata membola. “Bukannya mama kamu udah meninggal? Apa bisa ya orang yang udah meninggal ngasih hadiah?” tanyanya polos.


Ingin rasanya Kevin tertawa mendengar pertanyaan polos istrinya, kenapa gadis di depannya itu malah punya pikiran aneh seperti itu sih?


“ya enggaklah, gila aja kamu itu!” jawab Kevin.


“terus kenapa--”


“grandma yang ngasih, tapi pakai atas nama mama Ara!” potong Kevin cepat agar Alya tak berpikiran aneh-aneh lagi.


“oh.. bilang dong dari tadi!”


“kamunya aja yang aneh, mana ada orang yang udah meninggal bertahun-tahun bisa hidup lagi.”


“hehehe..” Alya malah nyengir. “siapa tau aja dia mengalami mati suri, terus bangkit deh dari kubur.”


“iya, terus dia bakalan datengin kamu dengan keadaan sudah menjadi mumi!”


Alya yang mendengar itu hanya mampu nyengir kuda tanpa suara, kalau di pikir-pikir lagi bodoh juga dia bisa punya pikiran seperti itu.

__ADS_1


‘ini pasti karena aku kebanyakan nonton film horor, jadi halunya kebawa sampai ke dunia nyata.’ batin Alya merutuki kebodohannya sendiri.


“udah masak belum?” tanya Kevin.


“udah.” jawab Alya sambil mengangguk. “kamu mau makan sekarang?” tanyanya kemudian.


“aku mandi dulu.” jawab Kevin, kemudian berlalu pergi sambil menarik kopernya menuju kamarnya.


Sama seperti Kevin, Alya juga ikutan naik ke tangga untuk menyimpan Kruk dan kotak perhiasan ke kamarnya. Setelah itu Alya kembali keluar, dia menunggu kedatangan Kevin di ruang tengah sambil bermain ponsel.


Beberapa menit kemudian Kevin turun dengan pakaian santai dan wajah freshnya, rambutnya yang tebal nampak sedikit lembab.


DEG!


Bagaikan ada adegan slow motion begitu melihat Kevin menuruni anak tangga, sambil sebelah tangannya mengibas rambutnya ke belakang.


Alya menelan ludah saat melihat penampilan suaminya yang berbeda, Kevin terlihat sangat tampan di tambah dengan tattonya yang terpampang di lengan kanannya. Tatto itu terlihat begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih, ditambah dengan otot-otot kekarnya di balik kaos oblong lengan pendek yang Kevin kenakan.


Bukannya merasa seram tapi Alya malah terpesona, sumpah demi apapun Alya ingin sekali meraba seluruh tubuh Kevin yang kekar itu. Namun dengan cepat ia menepisnya, dan berusaha mengontrol diri.


Sementara itu Kevin yang baru sampai di ruang makan malah menatap datar ke makanan yang sudah tersaji di meja. Raut wajahnya tak terbaca, apakah ia suka atau tidak pada makanan yang istrinya masak.


“makanan ini semua kamu yang masak?” tanya Kevin sambil menatap Alya yang kini berdiri di sampingnya.


“i-iya, kenapa? Kamu gak suka?” jawab Alya dengan di akhiri pertanyaan.


“Gak.” jawab Kevin singkat, lalu dia menarik kursi dan duduk.


“kalau kamu gak suka gak apa-apa Vin, nanti aku masakin makanan lain.”


“gak usah! Makan yang ada aja.”


Kevin mulai menyendokkan nasi ke piringnya, lalu mengambil lauk dan sayur dan mulai memakannya.


hal itu tak pernah lepas dari pandangan Alya, Bahkan saat Kevin sudah mulai makan pun Alya masih mematung di tempatnya.


“kenapa kamu masih berdiri aja, gak mau makan?” tanya Kevin saat menyadari Alya masih berdiri mematung.


“ah.. i-iya.” Alya segera duduk di kursi depan Kevin dan mengambil nasi.


“maaf Vin, kalau menunya sederhana. Waktunya mepet, dan biar kamu langsung makan aja setelah pulang.”


“hm.”


“gimana rasanya, enak gak?”


“hm..”


Alya tersenyum senang, meski respon Kevin datar tapi setidaknya masakannya bisa diterima oleh lidah suaminya.


...💐💐💐...


Selesai dengan acara makan malamnya, kini pasutri itu sudah duduk berdampingan di sofa panjang sambil pandangan mereka mengarah ke layar tv yang tipis dan besar.


Alya terlihat begitu fokus menonton sinetron artis ibu kota yang sedang viral, sambil mulutnya tak henti-hentinya mengunyah kripik kentang.


Sedangkan Kevin juga sama fokus menatap layar tv sambil kedua tangannya bersedekap dada, namun sesekali matanya melirik ke arah Alya. Ia tersenyum miring saat menyadari bagian sudut bibir istrinya belepotan oleh bumbu halus dari kripik.


Sebenarnya di apartemennya tidak ada makanan ringan dalam bentuk plastik, seperti apa yang saat ini Alya makan. Biasanya cemilannya selalu berbentuk wadah, itu pun hanya untuk di berikan pada Kenzo atau intan. Selebihnya Kevin tak pernah memakannya.


Kevin tak heran dan tak akan bertanya kenapa Alya bisa menemukan makanan itu, karena tadi siang dia dapat notifikasi dari kartu kreditnya jika ada pengeluaran uang senilai 500 ribu. Jadi sudah di pastikan setelah mengantarnya dari kantor, istrinya itu habis belanja.


“tadi siang ada yang datang ya?” tanya Kevin tiba-tiba, dan hal itu membuat Alya menoleh.


“i-iya.” jawabnya dengan gugup.


Rasanya percuma saja kan jika dia berbohong, ujung-ujungnya Kevin akan mengetahuinya lewat kamera pengawas.


“apa yang dia lakukan?” tanya Kevin lagi.


“gak ada, hanya kunjungan biasa.” elak Alya, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke tv.


“kunjungan biasa?” ulang Kevin, matanya menyipit. “apa kamu tahu, semenjak aku memutuskan tinggal sendiri, baru kali ini dia datang dan datangnya pas aku gak ada.” sambungnya.


Mendengar itu Alya kembali menoleh ke arah Kevin, dia terkejut bukan main saat jaraknya begitu dekat dengan Kevin. Spontan dia pun sedikit memundurkan wajahnya, saat merasakan panas di seluruh wajahnya.


“O-oh ya, maaf.. A-aku gak tau.” ucap Alya jujur, karena memang dia tidak tahu soal itu.


“bilang sama aku sekarang, apa saja yang kalian bicarakan.” desak Kevin.


“tidak ada Vin, papa hanya berkunjung biasa aja. Ngobrol biasa layaknya anak dan orang tua.”


Kevin tak langsung menjawab, dengan dua jarinya Kevin meraih dagu Alya dan mengarahkannya tepat ke wajahnya. Sehingga kini keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.


“kamu pikir aku sebodoh itu bisa kamu tipu, hm? meski aku tak bisa mendengar apapun suara kalian tapi gerakan tubuhnya aku tahu, jika kalian membicarakan sesuatu yang penting.”


Perasaan Alya begitu mendengar Kevin tak bisa mendengar pembicaraannya dengan mertuanya merasa lega, untuk saat ini ia masih aman.


“i-itu hanya perasaan kamu aja Vin, aku sama papa aji gak bicara ap--.”


DEG!


jantung Alya bagaikan merosot ke dasar perut saat ibu jari Kevin mengusap bibirnya dengan gerakan lembut, apalagi begitu melihat senyuman miring yang Kevin tampilkan. Alya merasakan jika saat ini dirinya dalam bahaya.


“kamu yakin?” suara Kevin terdengar sensual, membuat Alya yang mendengarnya kalang kabut.


“i-iya.” ucap Alya terbata, seraya sebelah tangannya mendorong dada Kevin agar menjauh.


Namun yang ada Alya malah semakin dekat ke tubuh Kevin, saat tangan Suaminya itu merengkuh pinggangnya.


“V-vin, k-kamu mau apa?” bukan hanya gugup, tapi suara Alya juga terdengar gemetar.


“aku ingin kamu bicara jujur.” bisik Kevin.


“T-tadi kan aku udah bilang jujur.”


“oh ya, berani bersumpah?”

__ADS_1


Alya bungkam.


‘aduh.. gimana ini? gak mungkin aku bersumpah jika kenyataannya apa yang aku ucapkan tadi bohong, tapi kalau jujur juga bisa abis aku...’


__ADS_2