
Setelah hampir lima jam menghabiskan waktu dengan urusan kantor, akhirnya Kevin dan Dylan pulang.
Sebenarnya hanya Dylan saja yang sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung itu, sedangkan Kevin? Pria itu hanya tiduran di sofa sambil main ponsel, Entah apa saja yang adiknya itu lakukan.
Saat ini mereka sedang ada di lift yang akan turun ke lobi, lift khusus pimpinan penting.
“Lo pulang duluan aja, habis ini gue ada janji ketemu sama orang.” Ucap Dylan.
Mendengar itu Kevin nampak mengerutkan keningnya, mata bulatnya menatap curiga ke kakak keduanya itu.
“Mau pergi kemana Lo?” Tanyanya.
Sebenarnya Kevin malas bertanya karena tentu sudah tahu pria itu akan pergi kemana, dan lebih malasnya lagi pasti nanti tiba dirumah Marissa akan bertanya padanya tentang keberadaan Dylan.
“Ada lah pokoknya. Sekalian Gue juga mau ngecek hotel dulu, udah beberapa hari ini gak kesana.” Jawab Dylan.
Selain memiliki perusahaan sendiri yang ada di Taiwan, Dylan juga memiliki beberapa cabang hotel berbintang lima di Jakarta. Dan itu semua dia kelola sendiri, tanpa bantuan siapapun.
Terlahir sebagai anak yang tak pernah diharapkan, terlebih di benci sang papa membuat pria itu gila kerja. Dengan begitu dia bisa melupakan kepedihan hidupnya, meskipun itu hanya bersifat sementara.
Sebenarnya Dylan sendiri sudah dapat warisan dari Fandy, yaitu satu perusahaan dibidang periklanan di Jakarta dan satu restoran. Namun Dylan menolaknya dan lebih memilih usahanya sendiri, sedangkan perusahaan dan restoran itu di kelola oleh orang kepercayaan keluarganya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Kevin dan Dylan keluar dari kotak besi itu. Sepanjang jalan para karyawan yang berpapasan dengan mereka memberi sapaan sambil tunduk hormat.
Mereka berjalan bersisian menuju mobil masing-masing, masuk hingga akhirnya pisah saat sudah di gerbang.
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan Kenzo yang tadi sempat ikut ke kantor pun sudah pulang dengan mobil kantor.
Satu jam setengah Kevin sudah sampai dirumah, satu pengawal berlari ke arahnya dan membuka pintu mobilnya. Kevin pun keluar, berjalan masuk ke dalam rumah.
Rumah megah dan luas itu nampak sepi, hanya ada beberapa pelayan yang terlihat.
“Kamu sudah pulang.” Ucap Alya saat melihat suaminya masuk kamar, dia baru saja keluar dari kamar mandi.
“Hm..” jawab Kevin dengan deheman sambil melangkah ke ranjang, menaruh ponsel dan dompetnya di meja nakas lalu menghempaskan tubuhnya disana, lalu matanya terpejam.
“Mandi dulu Vin, biar seger.” Ucap Alya kembali terdengar.
“5 menit lagi.” tawarnya.
Alya jalan ke sofa dan duduk disana, menatap sang suami yang rebahan di kasur. Kakinya memang sedikit baikan, tapi jika terlalu lama berdiri rasa nyeri itu suka timbul.
“Nanti kamu ketiduran, gak baik tidur sore-sore.”
Mendengar itu Kevin menghela nafas, meraup wajahnya lalu bangun. Seketika pandangannya memperhatikan penampilan Alya yang sudah memakai baju santai, sedangkan si empu langsung memalingkan wajahnya.
“Aku akan siapkan air hangat kalau kamu mau mandi sekarang.” Ucap Alya lagi sedikit gugup, pasalnya suaminya itu menatapnya tanpa kedip.
“Gak usah, aku bisa siapkan sendiri.” tolaknya.
Setelah itu dia membuka kancing jasnya dan mengendurkan dasinya, kemudian berdiri dari kasur lalu berjalan mendekati alya. Saat sudah dekat, ia membungkukkan badannya. Sebelah tangannya meraih dagu istrinya dan mengangkat wajahnya, matanya menatap lekat sudut bibir dan pipi istrinya.
“Sudah gak sakit lagi kan?” Tanyanya dengan nada berbisik.
Alya tak mampu bersuara, dia hanya menggeleng.
Jantungnya serasa terhempas ke dasar perut saat wajah suaminya begitu dekat, hidungnya mencium aroma mint yang mengeruar dari mulut Kevin.
Tak lama setelah itu Kevin menurunkan tangannya dan kembali menegakkan badannya, lalu berjalan ke kamar mandi.
Selepas kepergian Kevin, Alya menghela nafas panjang sambil menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa. Wajahnya merona dan tangannya menyentuh dadanya yang masih berdebar.
‘jantung.. tolong kondisikan!’ gumam Alya dalam hati.
Sekitar 15 menit kemudian Kevin keluar dengan hanya memakai handuk kimono, rambut hitam lebatnya nampak basah.
Biasanya dia hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya, namun sekarang tidak. Dia sadar di kamar itu dia tak sendirian, ada istrinya dan Kevin belum berani telanjang di depannya.
Alya yang saat ini duduk di sisi ranjang meliriknya sekilas, lalu langsung memalingkan wajahnya ke arah layar tv yang menyala. Sekali lagi, jantungnya berdegup kencang saat melihat penampilan Kevin yang terkesan seksi.
“bajuku mana, kenapa kamu gak siapkan?”
“u-udah aku siapkan d-diruang ganti, aku letakkan di gantungan dekat kaca.” jawab Alya gugup tanpa menatap Kevin.
Tanpa membalas ucapan sang istri, Kevin berlalu pergi masuk ke arah ruang ganti, dimana tempat semua perlengkapannya di simpan.
Selesai berpakaian, Kevin keluar dari ruang ganti. Dia mengajak istrinya keluar kamar untuk makan malam, karena Marrisa sudah memanggil mereka berdua.
...💐💐💐...
“Kamu upload fotoku?” Tanya Alya.
“Hm.” Jawab Kevin dengan deheman.
“kok gak bilang-bilang sih?” Alya merajuk.
Kevin yang kala itu duduk di kasur sambil memangku laptopnya mengecek email dari perusahaannya, melirik istrinya dengan satu alisnya terangkat.
“kenapa, masalah?”
“Ya .. enggak sih, tapi tetap aja kamu harus bilang dulu sama aku. Mana aku di tag lagi!”
Kevin kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptopnya. “kalo gak suka tinggal hapus aja, gitu aja repot! Lagian ya, Mau aku bilang atau enggak sama kamu hasilnya akan tetap sama! Aku akan tetap meng-uploadnya.” Ucapnya tanpa menatap si lawan bicara.
Alya yang mendengar itu nampak cemberut, Dirinya tentu tahu kelakuan pria yang ada di hadapannya itu.
“Tapi-”
“apalagi?”
__ADS_1
“Setidaknya tunggulah sampai kak Selena dan bang Rafael menikah, Setelah itu kamu bebas mau ngapain aja.”
Kevin membuang nafas kasar, dia menutup dan meletakkan laptopnya ke meja nakas. Lalu menatap intens wajah Alya.
“Apa bedanya sama sekarang? Ujung-ujungnya mereka semua pasti akan tahu.”
“Tapi Vin-”
Alya tak bisa melanjutkan ucapannya saat bibirnya di bungkam oleh jari telunjuk Kevin.
“Ssstttss! Ingat sama isi surat perjanjian, disana tertulis kita harus terlihat pasangan asli yang saling mencintai. Paham!”
Alya mengangguk.
“Terus kalau sudah tahu kenapa masih protes? Oh.. atau kamu takut pacarmu yang ada diluar negeri cemburu? Kalau iya, nanti aku akan bantu jelaskan ke dia.”
Alya menggeleng seraya menyingkirkan tangan Kevin dari bibirnya. “Enggak, bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Aku hanya belum siap terekspos di media, apalagi di kenal sebagai istri kamu. Belum lagi nanti di kampus pasti akan di cap pelakor, karena sudah merebutmu dari Mayra.”
Mendengar itu Kevin diam sejenak kemudian menghela nafas, Dia menggenggam kedua tangan istrinya erat.
“Siap gak siap kamu harus terima itu, kita udah terlanjur menikah dan kamu juga sudah setuju. Seperti omonganku waktu di mobil, selama kamu menjadi istriku kamu dan keluargamu akan aku jaga. Kamu percayakan sama aku?”
“Aku percaya, tapi-”
“Kenapa lagi? Omongan orang lain?” Tebak Kevin dan Alya mengangguk.
“Jangan di dengarkan!”
“Tapi-”
“Udah deh Al jangan banyak tapinya, aku pusing dan capek tahu gak. Dari kemarin belum tidur karena mengurus ini semua!”
Kevin mengucapkan kata itu dengan meninggikan suaranya, dan langsung melepaskan genggaman tangannya.
Dia benar-benar lagi capek! Baik tubuh maupun pikirannya, berharap setelah pulang akan jauh lebih baik. Namun nyatanya istrinya malah mengajaknya ribut dengan alasan sepele.
Alya yang mendengar itu langsung diam, lalu menunduk sambil meremas kedua tangannya.
Setelah acara makan malam selesai, pasutri itu memang kembali ke kamar. Dan saat ini mereka duduk berhadapan di tengah kasur.
“Maaf.” Lirih Alya menatap bersalah ke wajah Kevin yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kevin nampak membuang nafas kasar sambil mengacak rambut belakangnya. “Sudahlah lupakan saja, lebih baik kita tidur. Besok kakakmu dan abangku menikah, jadi kita harus simpan tenaga buat besok!”
Alya mengangguk mengiyakan, lalu setelah itu mereka mulai mengambil posisi tidur. Kevin sengaja tak mematikan lampu kamarnya karena tahu istrinya takut gelap, padahal jika sendirian ia tidur dengan keadaan kamar gelap.
Alya meletakkan guling di tengah kasur sebagai pembatas, menarik selimut lalu mulai merebahkan tubuhnya. Sama halnya dengan Kevin, pria itu juga melakukan yang Alya lakukan dan mulai memejamkan matanya.
Karena dilanda rasa lelah, tak berselang lama terdengar dengkuran halus pertanda jika Kevin sudah tertidur pulas. Beda halnya dengan Alya yang masih membuka matanya, dia tidur dengan posisi miring menghadap ke arah Kevin yang sudah tidur terlentang.
Sudut bibir gadis itu melengkung ke atas, hingga menimbulkan senyum tipis. Hatinya senang, karena impian terbesarnya sudah dia wujudkan. Meski keadaannya sudah berbeda.
Setelah itu dia pun ikutan memejamkan matanya, namun belum bisa tidur juga. Perasaannya selalu merasa gelisah. Alya punya kebiasaan susah tidur jika berada di tempat baru, sudah beberapa kali dia pindah posisi namun tak juga bisa tidur nyenyak. Dan karena ulahnya itu membuat kasurnya terguncang, terkena gerakan tubuhnya.
SREET!
DEG!
Kevin yang merasa tidurnya terganggu berdecak kesal, dia pun langsung membuang guling penghalang itu dan menarik pinggang Alya hingga tubuh keduanya saling menempel.
Seketika itu pula tubuh Alya menegang, begitupun dengan wajahnya. Bulu halusnya merinding saat merasakan nafas hangat pria itu menerpa kulit lehernya, di susul oleh Jantungnya yang berdegup kencang saat kedua tangan kekar suaminya itu melingkar erat di perutnya.
“V-vin-”
CUP!
Tubuh gadis itu semakin kaku saat Kevin mengecup lembut lehernya, apa suaminya itu tak sadar dengan dilakukannya?
“Tidurlah Al, sumpah demi apapun aku capek banget. Dan.. maaf soal tadi karena sudah membentakmu.” Bisik Kevin tepat di telinga alya dengan mata tertutup.
Alya tentu sadar akan hal itu, dari dulu Kevin memang gampang emosi dan suka berbuat sesuka hati. Tapi pria itu juga mudah meminta maaf, sama seperti sekarang. Perlakuannya dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah, dia akan mengucapkan kata maaf sambil memeluknya.
Kalau boleh jujur Alya sendiri suka heran, kenapa setelah dua tahun perpisahan mereka sifat Kevin seperti bunglon. Terkadang cuek dan membencinya, tapi terkadang juga pria itu nampak santai dan menunjukkan seolah-olah masih ada rasa dengannya. Entahlah, Alya sendiri bingung harus bagaimana menjabarkannya.
“Setelah pernikahan bang Rafa, aku akan di angkat menjadi CEO di ZN GROUP dan disana aku akan mengumumkan tentang pernikahan kita.”
Mendengar itu Alya terkejut, namun tak merubah posisinya. “Secepat itu? Lalu Dylan bagaimana, Dia kan kerja disana Juga?” Tanyanya.
“Dia akan kembali ke Taiwan, mengurus perusahaannya disana. Maka dari itu mulai sekarang persiapkan dirimu, tegarkan hatimu dan tebalkan telingamu karena sebagian besar karyawan disana ada fans berat Mayra. Kamu ngerti kan maksudku?”
“I-iya.”
“Sekarang tidurlah.” Titahnya tanpa merubah posisi, malah ia semakin mempererat pelukannya dan menduselkan wajahnya di leher istrinya.
Dan Alya hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bersuara, kemudian dia mencoba untuk tidur meski susah.
...💐💐💐...
Keesokan paginya.
Tepat pada jam 8 pagi Kevin dan Alya sudah keluar dari kamar dengan penampilan rapi sambil mentengteng dua koper, rencananya hari ini mereka akan pulang ke apartemen dulu. Baru nanti sorenya mereka akan berangkat ke tempat pernikahan.
saat ingin turun tangga, pasutri itu mendengar ada suara ribut di lantai bawah.
“Itu di bawah lagi ada apa ya Vin, kok kayak ada orang lagi marah-marah?” Tanya Alya dengan kening berkerut.
“Gak tahu! Ya sudah kita turun aja.”
__ADS_1
Alya mengangguk setuju, mereka pun turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi. Saat sudah di lantai bawah, suara ribut itu semakin jelas yang ternyata berasal dari ruang tengah dan sekarang Kevin sudah tahu siapa biang keroknya.
Alya menoleh ke arah Kevin dengan wajah cemas, dia tengah dilanda ketakutan begitu melihat orang tua Mayra.
Seakan mengerti, Kevin langsung merengkuh tubuh istrinya ke pelukannya. Mengusap lembut kepalanya agar gadis itu bisa tenang.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Bisiknya.
“Gimana aku bisa tenang Vin kalau situasinya seperti ini, bahkan ini jauh dari yang aku bayangkan.” balas Alya, dia mendongak menatap wajah suaminya yang selalu terlihat tenang itu.
“Kamu percaya aja sama aku, oke?”
Alya menghela nafas berat, meskipun ragu dia tetap mengangguk.
...💐💐💐...
“Kalian ini keterlaluan ya, main seenaknya mengganti pernikahan yang sudah kami susun untuk Mayra malah digantikan dengan pernikahan Rafael tanpa memberi tahu kami!” Teriak tuan Ryan, dia berdiri di depan aji dan Marissa sambil berkacak pinggang.
“Kami minta maaf pak, sebelumnya saya juga tak tahu kejadiannya akan seperti ini. Rencananya setelah Kevin dan Mayra menikah, Rafael dan Selena akan menikah. Tapi ternyata Kevin diam-diam sudah menikahi wanita lain.” tutur aji.
“Alah! Jangan banyak alasan kamu, kalian pasti sengaja kan ingin mempermalukan keluargaku?” balas tuan Ryan.
“Tidak pak, bukan seperti itu. Memang begitu kebenarannya.”
Aji berusaha menjelaskan perihal yang sebenarnya dengan tenang, namun sepertinya tuan Ryan tak mau mendengarkannya.
Saat ini mereka sedang berada diruang tengah, aji dan Marissa berusaha bicara baik-baik dengan tuan Ryan. Namun pria itu sedang di kuasai amarah sehingga tidak bisa menerima apapun yang aji maupun Marissa katakan, setelah kemarin melihat Mayra pulang dengan keadaan menangis tersedu-sedu.
Wanita itu mengatakan jika keluarga Kevin membatalkan pernikahannya di karenakan Kevin sudah menikah dengan wanita lain, namun Mayra tak mengatakan mengenai video asusilanya.
Ya, Mayra mengakui dalam video itu memang dirinya. Dia tak memungkiri jika kini dirinya sudah tak suci lagi, dan itu adalah hal yang pertama baginya. Bahkan dia sendiri tak tahu siapa pria pertama yang menidurinya, karena pada saat itu dia sedang mabuk berat. Dia juga kaget darimana Kevin bisa dapat video itu.
“Saya tak mau tahu, Kevin dan Mayra harus menikah!” Cetus tuan Ryan.
“Pa, sudahlah. Jika Kevin sudah menikah dengan wanita lain, maka biarkan.” Ucap nyonya Desti.
Sebenarnya nyonya Desti juga marah, dia tak terima putrinya di perlakukan seperti itu. Tapi apa boleh buat, Kevin sudah terlanjur menikah. Bahkan pria itu langsung mempublikasikannya ke media.
“Gak bisa begitulah, seluruh penjuru negeri sudah tahu tentang pernikahan ini. Mau taruh dimana mukaku kalau pernikahan ini batal.”
“Ya mama tahu, tapi masalahnya sekarang Kevin juga sudah menikah. Dan dia juga sudah mempublikasikannya ke media, gimana reaksi netizen jika Kevin juga harus menikahi Mayra. Mereka pasti akan berpikiran buruk tentang anak kita.”
Tuan Ryan nampak diam. Apa yang diucapkan sang istri memang ada benarnya, tapi tetap saja hatinya menolak akan hal itu.
“Tidak bisa, aku tetap menginginkan Mayra menikah dengan Kevin!” keukeuh tuan Ryan.
“Itu tak mungkin terjadi pak.” Ucap Marissa membuka suara.
“Kenapa tidak bisa? Apa kamu sudah lupa dengan perjanjian yang sudah kita sepakati?”
“Oh.. tentu saja aku ingat, tapi maaf sekali lagi saya tidak bisa menyuruh Kevin menikah dengan Mayra. Karena saat ini Kevin sudah menikah! Lagipula, perjanjian itu anda buat dengan suami saya. Saya sebenarnya tak perduli, tapi sebagai istri yang baik aku akan ikut andil.”
“jadi kau setuju kan jika pernikahan ini di lanjutkan?” tanya tuan Ryan memastikan, wajah tuanya nampak berbinar.
“untuk itu saya minta maaf, tidak bisa! Kevin dan Alya sudah terlanjur menikah, dan pernikahan mereka sudah sah di mata hukum dan negara.”
Mendengar itu tuan Ryan nampak mendengkus kesal, lalu dia melontarkan kata yang mampu membuat semua orang yang ada disana terkejut.
“Ceraikan saja kalau begitu! Gampang kan?”
Marissa geram, tak ada sejarahnya pernikahan dalam keluarga dirgantara berakhir dengan perceraian.
“tetap tak bisa! Sekalipun Kevin menginginkannya, saya tak pernah mengijinkannya.”
“Apa hakmu untuk melarangnya hah, kau bukan ibu kandungnya! kau harusnya sadar diri kalau kau hanya ibu sambungnya! Kalau saja bukan karena kebaikan Tamara waktu itu, kau dan anak harammu itu pasti tak akan hidup enak seperti ini!”
Marissa seketika diam dan wajahnya memerah, Begitupun dengan nyonya Desti yang kaget. beda halnya dengan Aji yang diam saja dan wajahnya pun nampak datar-datar saja.
“Papa! Jaga ucapanmu!” Seru nyonya Desti.
“Memang begitu kebenarannya kok!”
“tapi gak harus menjelaskannya se detail begitu, ingat pa kita sekarang sedang bertamu!”
“Aku tak perduli! Yang aku inginkan adalah pernikahan ini tetap jalan, atau kalian mau perusahaan kalian bangkrut!” Ancam tuan Ryan.
“Saya mohon pak Ryan tenanglah dulu, saya akan mencoba bujuk Kevin agar mau menikahi Mayra!”
Mendengar itu Marissa langsung mendelik tajam ke arah aji.
“Jangan gila kamu Mas! Aku gak mau Kevin sampai poligami!” Serunya tak terima.
Pernikahan Kevin dan Alya baru seumur jagung tapi suaminya itu malah ingin menghancurkannya, Benar-benar gila!
“Kau diamlah!” Bisik aji tajam.
“Tapi mas..”
“Diam!”
“Apakah ucapanmu kali ini bisa di pegang? Saya tak mau membuang waktu lagi!” Ucap tuan Ryan ketus sambil memicingkan kedua matanya.
“Tentu saja! Kalaupun dia menolak, istrinya harus siap di ceraikan.”
“MAS!” kali ini Marissa berteriak dan bangkit dari duduknya.
Kevin yang sedari tadi diam sambil mendengar ucapan ayahnya pun nampak murka, rahangnya mengeras. Sedangkan Alya nampak sedih.
Apakah usia pernikahannya akan sesingkat itu, apakah setelah ini Kevin akan menuruti permintaan ayahnya dan berakhir meninggalkannya?
Membayangkannya saja hatinya sudah sakit, dan tubuhnya melemas. meskipun dari awal pernikahan ini hanya sebatas di atas surat kontrak, tetap saja tak harus secepat ini.
__ADS_1
lalu.. Alya dan seisi ruangan itu langsung dikejutkan dengan teriakan lantang Kevin.
“SAMPAI DUNIA KIAMAT PUN AKU TAK AKAN BERCERAI DENGAN ISTRIKU! DAN TAK ADA YANG NAMANYA POLIGAMI!”