
“aneh aja gitu, kalian udah nikah tapi tidurnya beda kamar. Orang lain yang gak ada hubungan apapun aja bisa tidur bareng, bahkan sampe menghasilkan anak! Ini kalian udah nikah, mau di apa-apain juga gak masalah tapi malah pisah kamar!”
“oh.. atau jangan-jangan Kevin gay, makanya dia gak mau satu ranjang sama Lo!”
DEG!
Mendengar tebakan Jessica membuat mata Alya melebar, jantungnya berdebar tak karuan.
‘masa sih Kevin udah gak suka perempuan?’ batin Alya bertanya-tanya.
PLAK!
“Aduh!” seru Jessica sambil tangannya mengusap punggungnya karena kena timpukan arina pakai bantal sofa.
“kalau ngomong jangan sembarangan, Kevin gak mungkin kayak gitu! Sekalipun mereka pisah kamar pasti ada alasannya!” cetus Arina, menatap galak wajah Jessica.
Teman satunya itu memang suka ngadi-ngadi, mana ada seorang Kevin dirgantara bisa pindah haluan hanya karena tidur beda kamar.
“gue tadi cuma nebak doang kali, gak beneran nuduh Kevin udah belok!” seru Jessica membela diri.
“tetap aja gak boleh ngomong begitu!” gertaknya, kemudian ia menoleh kanan kiri dengan mata awas. “kalau anak buahnya denger dan laporin omongan Lo itu ke dia gimana coba? Bisa abis Lo di cincang sama kevin! Dia pasti gak perduli Lo anak dari siapa dan keluarga mana, jika menyangkut harga dirinya sebagai laki-laki tetap akan dibrantas!” sambungnya dengan nada berbisik.
Jessica diam sambil memasang wajah cemberutnya.
“iya Jes, jangan sembarangan bilang kayak gitu. Kevin gak belok kok, dia masih normal. Beberapa kali dia masih suka cium gue, cuma untuk masalah ini gue gak berani bilang ke kalian. Gue takut salah!”
“tuh dengerin! lagian kan Alya baru aja masuk kuliah, kevin juga lagi fokus sama jabatan barunya. Mungkin alasan kenapa mereka memilih pisah kamar karena mau fokus dulu sama kesibukan masing-masing, dan nunda dulu buat punya anak.”
“benar begitu kan Al?” arina menoleh ke sahabatnya.
Meski ragu, Alya mengangguk. “i-iya, benar.”
Tak lama setelah Alya mengatakan itu, intan datang sambil membawa nampan berisi tiga gelas berisi jus jeruk dan satu toples makanan kering.
“silahkan di minum non.” ucapnya setelah semua gelas yang ia bawa sudah berada di meja.
“makasih mba.” sahut alya sambil tersenyum ramah, dan langsung di balas intan dengan anggukan. Kemudian berlalu pergi.
“maafin gue Al karena udah ngomong yang enggak-enggak soal Kevin, gue berani sumpah gak bermaksud.” sesal Jessica.
“iya gak apa-apa, udah jangan di bahas lagi.”
“eh tapi kalau kalian pisah kamar itu berarti.. kalian belum begituan dong?” tanya Jessica.
Mendengar pertanyaan Jessica membuat arina langsung menatap Alya, kedua alisnya sedikit terangkat seakan menuntutnya memberi jawaban.
Lagi, Alya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil senyum miris.
“benar Al, Lo sama Kevin belum begituan?” kali ini arina ikut bertanya, dia juga penasaran.
“belum.” jawab Alya dengan nada pelan.
“astaga.. ternyata selama ini interaksi kalian hanya sebatas ciuman dan pelukan aja!” pekik arina kaget.
Alya mengangguk mengiyakan.
“apa selama itu Lo gak ngerasain Kevin terangsang gitu, biasanya kan cowok lain kalau lagi ciuman suka raba-raba.”
Alya diam sejenak, ia tengah mengingat-ingat saat terakhir kali mereka berciuman. Lalu terbesit bayangan saat dirinya pertama kali datang ke apartemen, wajah Alya langsung merona begitu mengingat kejadian di kamar.
“seingat gue sih enggak, dia cuma nahan tengkuk gue dan...” ucap Alya menggantung.
“dan apa?” tanya Jessica tak sabar.
“dan.. pegang dada gue.” jawab Alya dengan suara pelan dan menunduk malu.
Untuk beberapa detik arina dan Jessica diam dengan saling menatap.
“cuma pegang doang atau diremas?” tanya Jessica lagi, wajahnya terlihat begitu penasaran.
“dikit.” ujarnya dan masih dengan suara pelan.
“itu berarti Kevin punya nafsu sama Lo Al, cuma kayaknya di batasi aja! Jadi sekarang terbukti kan kalau Kevin itu normal?” ucap Arina, ia menatap kedua sahabatnya bergantian.
Jessica yang mendengar itu manggut-manggut, mengiyakan ucapan Arina. Sementara Alya hanya diam saja.
“hebat juga ya, dia bisa nahan nafsunya. Kalau cowok lain mah pasti langsung di sikat! Ya meskipun gue tau kalian nikah karena keadaan tapi kan Lo istri sahnya, dia ada hak untuk melakukannya. Sekalipun kalian sampai begituan dan belum siap punya anak, kan bisa di cegah lewat kb.”
__ADS_1
“eh jangan di kb lah, bahaya! Kata bunda gue wanita yang belum pernah hamil jangan dulu pakai kb, takutnya nanti susah hamil.” cegah Arina.
“masa sih?” ragu Jessica.
“seriusan! Ada tetangga gue yang dulu baru aja nikah langsung pakai kb, sampe sekarang usia pernikahannya udah 5 tahun belum juga hamil.”
“belum tentu juga, siapa tau salah satu dari mereka ada yang mandul. Bisa aja kan?”
“gak ada, gak ada! Udah Al mending kayak gini aja, Gue gak mau Lo di anggap lebih buruk lagi oleh orang lain kalau sampai pakai kb!”
“iya iya, Lo tenang aja gue gak bakal pakai kb. Lagian gue juga gak yakin dia akan melakukannya sama gue.”
“kenapa enggak?” tanya Jessica.
‘karena dia pernah mengatakan tak akan melakukan itu dengan orang yang di bencinya, tak perduli jika dia menginginkannya.’ batin Alya begitu mengingat ucapan Kevin waktu terakhir kali menciumnya.
“kenapa diam? Lo masih berpikiran jika Kevin membenci Lo?” kali ini Arina yang bertanya.
“memang kenyataannya begitu, gue sih hanya bisa pasrah aja sama keadaan.” jawab Alya.
“tapi menurut gue enggak sih, dia masih ada rasa sama Lo. Entah itu rasa cinta atau sekedar kasihan, makanya gue suruh Lo buat menggodanya. Gue yakin secuek-cueknya kevin, dia tetap pria normal. Dia pasti memiliki nafsu besar terhadap wanita, tapi berusaha dia tahan aja.” ucap arina, berusaha mengompori Alya.
“gue setuju! Perlu di ingat juga Al, Kevin itu keturunannya om aji yang suka main perempuan. Meski tak semua anak menuruni sifat bapaknya, tapi gue yakin Kevin pasti tak akan menolak jika di goda oleh istrinya sendiri.” sahut Jessica menimpali.
“memangnya Lo gak takut apa jika nanti Kevin melampiaskan hasratnya ke wanita lain, gue yakin banget nih ya saat ini Mayra pasti masih mengincar Kevin.” sambungnya.
“iya Al, di tambah dengan kehadiran Jenifer. Gue yakin 1000 % dia juga masih mau mengincar Kevin!” arina kembali berucap, dia tersenyum smirk saat melihat wajah cemas Alya.
Alya yang mendengar ucapan kedua sahabatnya itu hanya bisa diam saja, dalam hati dia merasa was-was. Takut jika apa yang arina dan Jessica ucapkan beneran terjadi, sumpah demi apapun dia tak rela.
Tanpa sadar dia menggigit jari kukunya, pertanda jika dirinya sedang resah. Dan hal itu membuat arina dan Jessica lebih semangat lagi untuk memanasi Alya.
Alya memang pernah bertekad akan membuat Kevin bisa mencintainya lagi, namun dia selalu ragu saat ingin melakukannya. Ketakutannya hanya satu, di saat Kevin tergoda maka rahasia kebohongannya yang pernah tidur dengan Dylan akan terbongkar. Dia takut Kevin akan semakin membencinya jika mengetahui jika dirinya masih perawan.
‘haruskah aku melakukannya?’
...💐💐💐...
Waktu pun terus berjalan, tak terasa jam sudah menunjukkan angka setengah Lima. Arina dan Jessica berpamitan pulang, namun sebelum itu ia mengajak kedua sahabatnya itu untuk makan bersama.
Tadi, saat kedua sahabatnya terlalu asik nonton TV Alya sempat membuat pasta. Bukan hanya arina dan Jessica saja yang dia ajak, intan dan Sean juga Alya ajak. Kedua orang itu sempat menolak, namun Alya tetap memaksa dan mengancam akan mengatakan pada Kevin untuk memecatnya. Alhasil mereka pun hanya bisa pasrah, dan ikut makan bersama.
Begitu semuanya beres, Alya keluar dari dapur dan naik tangga, dia ingin membersihkan diri karena tubuhnya sudah sangat lengket.
Namun sebelum itu ia sudah menyuruh intan untuk masak, dia menyerahkan sepenuhnya pada wanita itu untuk menu makanannya.
“mba intan udah selesai masak?” tanya Alya saat kembali masuk dapur dan sudah memakai piyamanya, ia melihat art itu mulai kemas-kemas, siap ingin pulang.
“sudah non, sudah saya siapkan di meja makan.” jawab intan.
Alya langsung menoleh ke arah meja makan, disana sudah terhidang berbagai menu makanan.
“yah.. padahal tadi aku mau bantuin.” rajuknya. “apa itu menu makanan yang Kevin suka makan?” tanyanya kemudian.
Intan tersenyum tipis sambil mengangguk. “ iya non. gak apa-apa non, non kan pasti capek karena tadi memasak pasta.”
“cuma masak pasta mana capeknya sih mba, orang cuma rebus mie-nya aja. Bumbunya kan sudah ada.” cibir Alya sambil setengah menyenderkan badannya ke Meja bar.
“tetap aja itu pasti capek, perlu tenaga. Kalau gak ada tenaga, mana bisa jadi.”
Alya yang mendengar itu terkekeh geli, begitu pun dengan intan. Kedua wanita itu terlihat begitu akrab, padahal baru 2 hari mereka bertemu tapi sudah seperti mengenal lama.
Mungkin karena alya yang memiliki sifat friendly, dan selalu bersikap ramah sehingga membuat intan yang sedikit pemalu merasa nyaman.
Biasanya kebanyakan seorang majikan selalu bersikap tegas dan semena-mena terhadap pembantunya, namun itu tidak berlaku di diri Alya. Di tambah mengingat usia Alya yang masih sangat muda, biasanya anak di usia segitu akan bersikap masa bodoh dan manja, tapi gadis itu sangat mandiri dan seperti sudah tahu dengan segala urusan dapur dan pekerjaan rumah.
‘tuan muda sangat beruntung memiliki anda nona, semoga saja pernikahan kalian tetap langgeng sampai maut memisahkan.’ doa intan dalam hati, ia merasa senang karena tuan mudanya memilih istri sebaik dan sedewasa macam Alya.
“Ya udah non, saya pulang dulu.” pamit intan.
“gak mau nunggu kak Sean dulu?”
Intan menggeleng. “enggak non, kebetulan suami saya jemput.”
“oh mba intan udah nikah?”
“iya non, sudah. Saya pamit ya non, takutnya suami saya kesal karena kelamaan nunggu.”
__ADS_1
“eh iya, maaf malah aku ngajak mba ngobrol. Ya udah hati-hati ya mba.”
“beres non.” intan mengacungkan ibu jarinya, kemudian dia berlalu pergi.
Selepas intan pergi, Alya nampak jalan mendekat ke arah kulkas lalu membukanya. Tubuhnya sedikit membungkuk saat sebelah tangannya meraih satu piring kecil yang berisi potongan kue coklat, kemudian ia kembali menutup pintu kulkasnya dan berjalan ke meja bar. Menaruh piring itu disana, lalu ia mengambil sendok di rak dekat kompor.
Saat ia ingin memotong kuenya pakai sendok, ia mendengar suara mesin dan di susul suara pintu terbuka. Alya tak bisa melihatnya siapa yang datang, tapi ia sudah menduga jika itu adalah suaminya karena sempat mendengar suaranya sedikit.
Tak berselang lama terdengar derap langkah sepatu yang beradu dengan keramik lantai, semakin lama suara itu semakin dekat hingga akhirnya hidungnya menghirup aroma maskulin milik Kevin. Namun Alya tetap tak menoleh, dia sedang asyik menonton video di ponselnya sambil memakan kue.
Memang benar, Kevin kini sedang jalan ke arah Alya. Ia menatap diri istrinya yang sedang duduk di kursi depan meja bar, gadis itu membelakanginya dengan rambut panjangnya di biarkan tergerai, sehingga Kevin tak tahu apa yang sedang di lakukan istrinya itu.
“kamu ngapain?” tanyanya setelah sudah dekat.
Kevin berdiri di belakang tubuh Alya, dengan kepalanya miring. Tubuh Alya tertelan oleh tubuh besar Kevin, sehingga menampilkan sepasang kakinya saja yang menjuntai di antara kaki Kevin.
“makan kue.” jawabnya singkat seraya menoleh sekilas ke arah Kevin, lalu kembali menatap ke layar ponselnya.
Kevin membisu, namun kepalanya perlahan mendekat sambil hidungnya mengendus-endus ke ceruk leher Alya. Kevin memang memiliki penciuman yang sensitif, dia tak menyukai aroma yang menyengat.
Alya yang menyadari itu mengernyit heran sambil memiringkan tubuhnya. “kamu ngapain sih?” tanyanya.
“badan kamu bau.“ jawab Kevin.
“hah!” Alya langsung menunduk dan mengendus-endus ketiaknya.
“enggak ah, wangi kok!”
“menurutku kamu bau, mandi dulu sana!” titah Kevin seraya membuka jasnya, lalu melemparnya ke sandaran kursi yang ada di ruang makan, lalu melonggarkan dasinya.
“aku udah mandi vin.” cetus Alya.
“mandi lagi, terus pakai parfum.”
“gak mau ah, orang aku udah mandi masa harus mandi lagi. Kamu kali yang bau, kan baru pulang.”
Kemudian Alya kembali menegakkan tubuhnya, sedikit menarik dasi Kevin sehingga membuatnya kaget dan tubuh tegapnya membungkuk, lalu mencondongkan wajahnya ke ceruk leher kevin dan mengendus-endusnya. kemudian ia mengangkat sebelah tangannya dan kembali mengendus ke ketiaknya.
“emm.. bau asem!” ejeknya sambil mengerutkan wajahnya. “udah terbukti Kamu yang bau bukan aku, mandi sana!” usir Alya sambil mendorong dada Kevin, kemudian dia kembali fokus ke makanan dan tontonannya.
Namun itu tak bertahan lama, Dengan sekali gerakan Kevin memutar tubuh Alya agar bisa menghadapnya lagi, lalu mengungkung tubuh Alya dengan kedua tangannya berpegangan di keramik marmer meja bar di kedua sisi tubuh Alya.
Akibat dari aksinya itu membuat Alya kaget dan spontan kedua tangannya menahan dada Kevin, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, serta tubuhnya mendadak memanas begitu merasakan dada suaminya yang keras.
‘astaga.. ini badan manusia apa batu sih? kok keras banget.’ batin Alya dengan mata membola, dan bibirnya sedikit terbuka.
“tadi gimana kuliahnya, lancar?” tanya Kevin dengan nada berbisik.
Sejenak Alya diam, ia menelan ludahnya susah payah. Aroma mint yang keluar dari mulut Kevin dan aroma khas tubuhnya membuat Alya di Landa kegugupan, lalu pandangannya menatap ke bibir tipis serta berwarna merah alami itu.
Entah setan apa yang merasukinya sehingga ada keinginan untuk merasai benda kenyal itu, Tapi dengan cepat Alya menepis keinginannya itu dan menjemput kesadarannya.
“L-lancar kok.” jawab Alya gugup sambil menatap kevin.
“disana gak ada yang jahatin atau gangguin kamu kan?” tanya Kevin lagi, sebelah tangannya nampak menyentuh ujung rambut alya dan menggulungnya, sementara matanya tetap fokus ke wajahnya.
Alya hanya bisa mengangguk, suaranya seakan tersendat di tenggorokannya. Kevin nampak menghela nafas panjang, sebelum akhirnya kembali bicara.
“bagus kalau gitu, jika nanti mereka berani mengusikmu maka aku gak akan segan-segan untuk menghancurkan hidup mereka.” ucapnya dengan nada ancaman.
Dan hal itu membuat mata alya terbelalak, kemudian menggeleng. Ia jadi ingat dengan Tiara, bagaimana kalau suaminya tahu dengan kejadian di kampus. Atau.. memang dia sudah tahu, makanya Kevin bisa berkata seperti itu?
‘dia pasti udah tahu dari kak sean! yah, aku yakin banget Kevin memperkerjakan bukan jadi bodyguard aja tapi bisa juga jadi mata-mata. astaga.. kalau itu benar, tandnaya hidup Tiara sedang dalam bahaya.’ batin Alya.
“jangan gitu dong Vin, kasihan mereka.”
“aku tak perduli! Mereka saja tak perduli dengan orang yang dihinanya, kenapa aku mesti kasihan? Lagipula aku kan pernah bilang sama kamu kalau aku akan melindungimu, jadi siapapun orang yang berani mengganggumu maka siap-siap saja namanya akan tertulis di batu nisan!”
DEG!
‘udah fix sih ini mah Kevin sudah tau, dan sepertinya dia juga sudah melakukan sesuatu pada Tiara ataupun keluarganya. ya tuhan.. kenapa dia bisa berubah jadi kejam begini sih?’
“tapi Vin ak--”
Ucapan Alya langsung terhenti karena bibirnya sudah di sumpal oleh jari telunjuk Kevin, lalu semakin mendekatkan wajahnya pada Alya.
“dan kamu harusnya sudah tahu aku tak pernah menerima penolakan, apapun yang aku ucapkan maka itu yang terjadi. Paham?” bisik Kevin.
__ADS_1
Alya mengangguk, untuk saat ini dia hanya bisa memilih menurut. Ia takut jika terus membela tiara, suaminya itu akan berbuat yang lebih kejam lagi. Meski Alya tak tahu apa yang sudah Kevin berbuat, tapi ia meyakini Kevin pasti melakukan sesuatu yang membuat targetnya menyesal telah berurusan dengan orang terdekatnya.