TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 25~Memberitahu Dylan


__ADS_3

Tring!


suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Alya, dia yang kala itu tengah berbaring sambil membaca novel menoleh ke meja nakas, meraih benda pipih itu dan membuka pesannya.


Wajahnya terlihat kaget saat membaca pesan tersebut, yang ternyata dari Kevin.


{5 menit lagi aku akan sampai ke rumahmu, ada sesuatu yang harus kita bicarakan.}~kevin


Alya melirik ke jam dinding, disana sudah jam 9 malam. Lalu dia menoleh ke samping, disana Selena sudah tidur nyenyak.


Dia pun langsung membalas.


{apa gak bisa besok aja, ini sudah malam dan aku juga ingin istirahat.}~alya


Beberapa detik kemudian Kevin kembali membalas.


{Hanya sebentar.}~kevin


Alya yang membaca itu berdecak sebal, lalu dia pun kembali membalas.


{Baiklah.}~alya


Setelah itu tak ada balasan lagi, pria itu hanya membacanya.


Alya meletakkan kembali ponselnya ke tempat semula, menutup bukunya dan perlahan-lahan beranjak bangun dari kasur agar tidak mengganggu kakaknya yang sedang tidur.


Dengan langkah tertatih-tatih Alya jalan mendekat ke kursi rodanya yang jaraknya cukup jauh dari ranjang, kemudian duduk disana.


Terdengar desisan yang keluar dari mulutnya saat mengangkat kakinya yang sakit, kemudian dia memutar kursi roda itu menuju pintu dengan kedua tangannya.


“Mau kemana nak?”


Saat sudah berada di luar Alya di buat kaget saat mendengar suara itu, dia pun menoleh ke asal suara dan melihat pamannya baru keluar dari dapur sambil memegang sebotol air putih.


“Eh paman bikin kaget aja! Ini aku mau ke depan.” Ucap Alya.


Kening Adinata berkerut. “Ngapain?”


“ada temanku yang mau datang bawa catatan kampus.”


“temanmu? Siapa? Arina atau Jessica?”


“Anu.. I-itu--”


Tin! Tin!


Belum sempat Alya menyelesaikan ucapannya sudah terdengar suara klakson mobil, dan seketika itu membuat Alya dan adinata menoleh ke arah suara.


“Itu pasti temanku datang paman, ya sudah aku kesana dulu.”


“Biar paman antar ya?”


“Gak usah paman, lagian dia hanya sebentar kok. Paman istirahat aja.”


“Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Gak enak sama tetangga.”


“Iya.”


Setelah itu adinata pun pergi menaiki anak tangga, sementara Alya pergi ke depan.


Ceklek!


Pintu utama pun terbuka dan menampilkan sosok Kevin, alya terkesima melihat penampilan Kevin yang mengenakan pakaian formal ala orang kantoran. Wajahnya tetap datar, namun Alya tahu pria itu nampak lelah.


“orang rumah udah pada tidur?” tanya Kevin.


Alya mengangguk seraya melebarkan pintu rumahnya dan mempersilahkan pria itu untuk masuk, namun Kevin menolaknya dan lebih memilih duduk di kursi kayu yang di depan teras.


“Mau minum apa?” Tawar Alya.


Kevin menggeleng. “Gak usah, aku gak akan lama.” Tolaknya, kemudian dia memberikan paperbag kecil warna coklat ke hadapan Alya.


“Apa ini?” Tanyanya.


“Gak tahu, tadi aku habis hadiri rapat dengan klien terus di kasih itu.” Jawab Kevin jujur sambil tangannya melonggarkan dasinya.


Memang benar, setelah dia mengantar Alya dan keluarganya pulang Kevin langsung pergi ke kantor. Karena sebelumnya Dylan sudah menelponnya agar menyuruhnya untuk datang, memintanya untuk menemaninya rapat dengan klien yang datang dari Malaysia. Sore harinya mereka pergi ke restoran dengan alasan yang sama, mereka mengadakan rapat hingga malam hari.


Saat ingin pulang, klien tersebut memberikan paperbag kecil pada Kevin dan Dylan sebagai ucapan terima kasih karena telah menerima ajakan kontrak kerja dengan perusahaannya.


Alya tak menyahut, dia memilih membuka isi paperbag tersebut yang ternyata berisi sebuah benda yang berbentuk seperti peti harta karun dan berwarna gold. Karena penasaran dia pun membukanya, dan seketika dia pun terkejut.


“Wah.. ternyata kotak musik.” Pekik Alya senang, matanya berbinar-binar kala melihat patung boneka tingker ball berputar-putar di iringi dengan suara musik klasik.


“Ini boleh buat aku gak?” Tanya Alya sambil menatap Kevin penuh harap.


“Tadi Aku kan sudah kasih ke kamu, itu berarti benda itu sudah jadi milikmu.” Jawabnya.


Mendengar itu Alya tersenyum lebar, dia terlihat begitu senang sekali.


“Terima kasih. Oh iya, tadi katanya di chat kamu mau bicara?”


“Ya.”


“Soal apa?”


“rencana pernikahan kita.”


Mendengar kata 'pernikahan kita' membuat jantung Alya berdetak kencang, ia tak menyangka akan segera menikah dengan laki-laki yang sudah dia campakkan.


Meski Alya tahu ini hanya pernikahan paksa, dan situasinya pun sudah berbeda, tetap saja ia merasa gugup.


“O-oh iya, jadi gimana?”


“Kamu sudah tahu kan pernikahanku dengan Mayra akan di adakan dua hari lagi?”


“Iya, lalu?”


Kevin tak bersuara, dia menarik kursi roda yang Alya duduki untuk mendekatinya. Degupan jantung Alya semakin menggila saat Kevin mendekatkan bibirnya ke telinganya.


Dan.. entah apa yang Kevin bisikkan namun yang pasti sekarang wajah Alya nampak berubah, kedua tangannya yang bertumpu di pangkuannya nampak saling meremas.


“Bagaimana?” Tanya Kevin setelah dia sedikit menjauhkan wajahnya, namun posisi mereka tetap sama.


Tatapan Kevin begitu intens menatap kedua manik Alya yang nampak gusar.


“K-kamu yakin?” Tanya Alya ragu.


“hm.”


Alya diam sejenak, sambil menggigit bibir bawahnya. “Tapi kalau Mayra dan papamu tahu bagaimana?”


“Mereka gak akan tahu jika tak ada yang bocor.”


“Baiklah aku setuju, tapi boleh gak kalau aku ajak kedua sahabatku?”


Kevin mengangkat sebelah bahunya, seraya menjauhkan wajahnya dan merubah posisi.


“Selama mereka tak berbuat ulah, aku tak masalah.”


Alya tersenyum senang, reflek dia menyentuh bahu kevin dan itu membuat si empu kaget.

__ADS_1


“Aku jamin mereka gak akan berbuat macam-macam.” Ucapnya meyakinkan, lalu menurunkan tangannya.


“Ya sudah kalau gitu aku pamit, besok aku dan Kenzo akan datang kemari.” Ujar Kevin kemudian berdiri.


Alya mengangguk mengiyakan, setelah itu Kevin berlalu pergi dan masuk mobil. Pria itu menyembunyikan klakson, kemudian menjalankan mobilnya.


Alya masih menatap kepergian Kevin hingga menghilang dari pandangan, pandangannya menunduk. Menatap ke barang yang tadi Kevin berikan sambil tersenyum, kemudian dia memutar kursi rodanya untuk masuk rumah dan berakhir menutup pintu.


...💐💐💐...


Malam semakin larut, Kevin tiba dirumah Dylan tepat pada jam 11 malam. suasana rumah itu sudah terlihat sangat sepi dan hanya menyisakan beberapa satpam yang berjaga di luar.


Kevin memilih pulang kerumah kakaknya ketimbang ke apartemennya, jarak apartemennya sangat jauh dari rumah Alya ditambah tubuhnya juga sangat lelah. Jadi dia pikir lebih baik malam ini tidur disana saja, daripada nanti dia pingsan di jalan.


Sejak kemarin malam dia belum istirahat, dari tengah malam hingga pagi dia harus terjaga diruang inap om Raka. Lalu paginya dia harus ke rumah Alya dan mengurus para wartawan, kemudian siangnya dia harus pergi ke kantor dan baru selesai pada malam hari, belum lagi dia harus balik lagi kerumah Alya untuk membicarakan soal pernikahan mereka.


Dengan langkah pelan dia berjalan ke arah teras.


Tok! Tok! Tok!


Kevin mengetuk pintu, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan terlihat sosok wanita tua memakai daster rumahan. Nampak wajah wanita itu kaget melihat kedatangan Kevin.


“Loh, den Kevin tumben pulang kesini tanpa kasih tahu bibi dulu.” Tanya bi tum, salah satu pelayan yang ada rumah Dylan.


“Iya Bi, mendadak sih. Badanku capek banget, gak kuat kayaknya harus balik ke apartemen.” Keluh Kevin sambil jalan masuk rumah lalu duduk di sofa yang ada diruang tamu.


Bi tum segera menutup pintu dan tak lupa menguncinya, kemudian jalan mendekati Kevin.


“Mau bibi bikinin minuman atau makanan dulu?” Tawarnya.


dia memperhatikan wajah putra bungsu anak majikannya itu yang nampak pucat, ditambah dia juga melihat sebelah tangannya di perban. Membuat pikiran buruk muncul di benak wanita tua itu.


Kevin menggeleng. “Enggak usah bi, aku udah makan diluar. Bibi istirahat aja, habis ini aku Mau langsung ke kamar.”


Bi tum menurut. “Baik, den. Kalo gitu bibi pamit ke dalam.”


Kevin membalasnya dengan gumaman, Setelah itu bi tum berlalu ke belakang, begitupun dengan Kevin yang tak lama setelahnya bangkit dari posisinya. Berjalan menuju kamarnya yang ada di kamar atas.


Sesampainya di kamar Kevin langsung melepaskan jas, dasi serta sepatunya dan melemparnya ke sembarang arah. Kemudian membanting tubuhnya di ranjang, kedua matanya nampak tertutup. Hingga beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus, pria itu tertidur sebelum membersihkan diri.


...💐💐💐...


Keesokan harinya Kevin bangun saat merasakan tubuhnya di guncang, dan dia juga mendengar suara bariton yang menyuruhnya untuk bangun.


“Woy Vin, bangun Lo! Ini udah siang!”


Kevin berdecak kesal, dengan kasar dia menepis tangan yang mengganggunya kemudian menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


“Ayo bangun.. atau gue siram nih!”


Terdengar suara itu lagi yang ternyata adalah Dylan.


Tadi waktu sarapan bi tum mengatakan jika semalam Kevin pulang kerumah, Dylan yang mendengar itu pun kaget. Pasalnya semalam adiknya itu bilang mau langsung pulang ke apartemen, tapi kenapa malah sekarang ada di rumah?


“ayo bangun Vin, Kenzo dari tadi udah nungguin Lo tuh dan ini juga hp Lo bunyi terus.” Ujar Dylan yang masih terus berusaha membangunkan adiknya.


Kevin yang mendengar itu langsung membuka matanya, secepat kilat dia pun menyibak selimut dan bangun dari rebahannya.


“Jam berapa sekarang?” Tanyanya dengan wajah kaget.


“Jam 8.” Jawab Dylan.


“Shit! Gue kesiangan, kenapa gak bangunin gue dari tadi sih?” Omelnya, dengan cepat dia pun turun dari kasur lalu meraih ponselnya.


Disana Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Kenzo dan Alya, juga pesan. Kevin merutuki kebodohannya karena bangun telat.


“Lah, dari tadi kan gue udah bangunin Lo. Tapi Lo nya aja susah!” Saut Dylan membela diri.


Tapi ya sudahlah, percuma saja sih dia jelaskan pada adiknya itu. Pasti ujung-ujungnya dia yang disalahkan, orang dewasa harusnya ngalah sama anak kecil kan?


Sementara itu Kevin sendiri, setelah memeriksa ponselnya, dia langsung melipir ke kamar mandi.


Dylan yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, kemudian berlalu keluar kamar.


Selang 15 menit Kevin kembali keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit pinggangnya, lalu berjalan menuju ruang ganti untuk berpakaian.


Lima menit kemudian dia pun keluar sudah berpakaian lengkap, bahkan sepatu pun sudah dia pakai.


Drrtt..


Bersamaan dengan itu ponselnya yang ada meja nakas bergetar, dengan cepat Kevin meraihnya. Ternyata Alya menelponnya.


“Ya.” Ucap Kevin datar setelah panggilan sudah tersambung.


[Halo Vin maaf kalo ganggu, tapi hari ini kita jadi gak perginya?]


“Iya jadi kok, maaf tadi telponnya gak ke angkat soalnya aku masih tidur.”


Kevin mendengar suara helaan nafas di seberang sana.


[Iya gak apa-apa, aku ngerti kok. Oh iya aku udah kasih tahu soal rencana kita semalam ke kak Lena dan kak Rendy, terus mereka juga nanya kita berangkatnya bareng atau misah aja?]


“Berarti mereka sudah setuju?”


[Iya.]


“bibi sama paman kamu gimana? Mereka tahu soal rencana kita ini?”


[Enggak, kata kak Rendy untuk sementara mereka jangan tahu dulu.]


“Lalu arina dan Jessica?”


[Mereka juga udah aku kasih tahu, tapi hanya arina saja yang bisa datang. Kalo Jessica gak bisa, katanya dia harus pergi ke Bangkok menjenguk neneknya yang sakit.]


Kevin yang mendengar itu manggut-manggut saja.


“Oke gini, sebelum pergi aku sebenernya ada niatan mau pergi ke makam mama dulu setelah itu baru jemput kamu. nanti kak Lena, arina dan kak Rendy biar sama Kenzo aja, gimana?”


“Tapi kalau kamu keberatan gak apa-apa, bareng aja sama mereka. Nanti aku nyusul.”


Alya tak langsung menjawab, diseberang sana gadis itu nampak berpikir.


[Enggak kok, aku gak keberatan. Tapi..]


Ucapan Alya menggantung, Kevin hanya diam menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.


[Boleh gak aku ikut kamu ke makam, kebetulan kan makam orang tuaku dan mama kamu kan satu daerah. Ya Biar sekalian aja gitu.]


“Boleh. Ya udah kamu tunggu aku aja, satu jam lagi aku sampai.”


Alya Di seberang sana nampak tersenyum senang.


[Iya, aku tunggu.]


Setelah itu panggilan berakhir, Kevin memasukkan ponselnya ke saku celananya. Dia berjalan ke arah meja rias untuk merapikan rambutnya yang berantakan, setelah itu dia mengambil botol parfum dan menyemprotnya ke seluruh badannya.


Begitu selesai dia pun keluar dari kamar, menemui Kenzo yang kata Dylan sudah menunggunya.


...💐💐💐...


“Dimana Dylan?” Tanya Kevin saat sudah di lantai bawah, tepatnya ruang keluarga.

__ADS_1


Diruangan itu hanya ada Kenzo yang duduk di sofa sambil menyeruput kopinya.


Kenzo yang mendengar itu mendongak. “Tadi saya lihat dia masuk ke ruang kerjanya.” Jawabnya.


“Lo udah persiapkan semuanya?” Tanya Kevin lagi.


“Sudah, tuan.” Sahut Kenzo.


“Oke. Gini Ken, sebelum berangkat gue mau ke makam mama dulu. sekarang Lo pergi duluan kerumah Alya. Jemput kak Rendy dan kak Lena aja, setelah itu Lo pergi kerumah Arina buat jemput dia. biar nanti Alya sama gue, kebetulan dia juga mau ke makam orang tuanya.”


Kenzo mengangguk mengerti, dia pun bangun dari duduknya. Sebelah tangannya menyerahkan sebuah amplop coklat dan memberikannya pada Kevin.


“semuanya sudah saya urus, tinggal kalian tanda tangan saja.” Ujar kenzo, yang di balas Kevin dengan anggukan. setelah itu dia berlalu pergi.


Setelah kepergian Kenzo, Kevin bergegas pergi ke ruangan kerja Dylan sambil membawa amplop tersebut. Dia berencana mau mengatakan soal rencananya yang ingin menikahi Alya.


Meskipun hubungan mereka kurang baik, tapi tetap saja dia ingin mengatakannya. Dan Kevin juga yakin kakak keduanya itu pasti bisa menjaga rahasia. Selain itu dia juga ingin Dylan sebagai saksi pernikahannya, anggap saja perwakilan dari keluarganya.


Baik dirinya maupun Alya memang memilih untuk merahasiakannya dulu dari pihak orang tua, jika kondisinya sudah aman baru mereka akan mempublikasikannya.


Ceklek


Kevin membuka pintu ruang kerja Dylan tanpa mengetuk pintu, membuat si empu yang tengah fokus dengan laptopnya nampak menoleh dengan ekspresi kaget. Namun sedetik kemudian dia kembali fokus pada pekerjaannya.


“Lo lagi sibuk gak?” Tanya Kevin seraya jalan mendekati meja Dylan dan duduk di depannya.


“Gak terlalu, kenapa?” Tanyanya balik tanpa menatap sang adik.


“Gue mau bilang sesuatu sama Lo, mungkin Lo akan kaget setelah mendengarnya.”


“Apaan?”


“Gue akan menikah!”


Dylan yang mendengar itu memutar bola matanya malas, semua orang juga sudah tahu jika dirinya memang akan menikah.


“Jadi ceritanya Lo udah bisa Nerima Mayra nih?” Ucapnya sambil menatap wajah Kevin dan tak lupa dengan ekspresi tengilnya.


Kening Kevin berkerut dalam saat nama Mayra di sebutkan.


“Sejak kapan gue Nerima dia? Kan Lo tahu, Dari awal gue udah nolak mentah-mentah itu cewek!” Ucap Kevin dengan nada Ketus.


“Lah tadi Lo bilang mau nikah, itu artinya Lo udah nerima Mayra kan?”


Kevin mendengkus.


“Gue memang bakal nikah tapi bukan sama cewek murahan itu!” Ucap Kevin sedikit kesal.


Wajah Dylan nampak bingung, dia menutup laptopnya dan menatap wajah adiknya serius.


“Kalau bukan sama Mayra, terus sama siapa? Lo punya gebetan baru?” Tanyanya.


“Iya.”


“wih.. cepat amat, Siapa siapa?” Dylan begitu antusias.


“Alya.”


DEG!


“Apa!” Pekik Dylan terkejut.


“Dan.. kami akan menikah hari ini!” Ucap Kevin dengan penuh ketegasan.


“A-apa!” Teriak Dylan dan spontan langsung berdiri, mata pria itu melebar.


“Kenapa? Apa Lo keberatan?” Tanya Kevin sambil tersenyum sinis. “Lo tenang aja ini hanya pernikahan kontrak!”


“Apa! Nikah kontrak? Vin Lo jangan bercanda deh!!”


“Siapa juga yang bercanda, ini gue serius!!”


Sejenak Dylan terdiam hingga detik berikutnya dia menggelengkan kepalanya.


“Lo jangan macam-macam Vin, kasihan Alya! Lo tahu kan dia itu udah gak punya orang tua.”


“Gue tahu dan Gue juga gak akan macam-macam, gue nikahin dia juga karena terpaksa!”


“Maksud Lo apa?”


“Gue terpaksa nikahin dia agar gue gak perlu nikahin Mayra, Lo paham kan maksud gue?”


“Jadi maksudnya Lo nikahin dia agar Lo bisa bebas dari perjodohan itu?”


Kevin mengangguk mengiyakan.


Dylan kembali diam, dia tahu dari awal Kevin memang sudah menolak perjodohan ini dan dia juga tahu alasan di balik perjodohan ini adalah demi bisnis.


“Apa Lo yakin ini akan berhasil? Gue tahu betul tuan Ryan itu orangnya sangat licik, dia akan melakukan apapun agar tujuannya tergapai.” Ucap Dylan bernegosiasi agar Kevin membatalkan rencananya.


Bukan maksud Dylan tak setuju, dia sangat setuju jika Kevin dan Alya menikah tapi bukan dengan cara nikah kontrak. Dia menginginkan mereka nikah sungguhan dan dia sangat berharap pasangan itu tak pernah berpisah lagi.


Kevin menyeringai. “Lo tenang aja, gue udah atur semuanya dan gue yakin dia tak akan berkutik.”


Dylan membisu sambil matanya memperhatikan wajah Kevin, entah kenapa dia merasa adiknya itu sedang merencanakan sesuatu.


“Terus bagaimana soal papa, apa Lo udah kasih tau dia?”


“Gue akan kasih tahu mereka setelah kami sudah menikah!”


Meskipun dia keberatan dengan rencana adiknya itu, tapi pada akhirnya dia setuju saja. Dia yakin Kevin pasti sudah memikirkan konsekuensinya sebelum mengambil keputusan.


“Ya sudah terserah Lo aja gimana baiknya, tapi kalau boleh saran jangan terlalu benci sama dia nanti bisa cinta lagi Loh!”


Kevin berdecih, meremehkan omongan dylan.


“Dan itu tak akan pernah terjadi, perasaan gue ke dia udah mati sejak mengetahui perselingkuhan kalian!” Cetusnya.


Dylan menghela nafas berat, wajahnya nampak sendu. Dan seketika itu pula bayangan kejadian dimana dia harus pura-pura memiliki hubungan dengan Alya muncul.


Entah sampai kapan dia harus menutupi fakta ini semua dari adiknya, termasuk soal isu dirinya dan Alya pernah tidur bersama. tapi jika dia mengaku pun tetap salah.


“Oh iya Sebelum berangkat, Gue mau ke makam mama Ara dulu. Lo mau ikut gak?”


Dylan mengangguk lemah. “Boleh, kebetulan gue juga udah lama gak mampir kesana.”


“Eh tapi tunggu dulu, emangnya Lo mau pergi kemana?”


“Ya ke tempat pernikahan gue lah, gimana sih Lo?”


“Maksud gue itu Dimana tempatnya?”


“Di villa yang ada di Bandung! Udah cepetan, Alya udah nungguin.”


Setelah mengatakan itu Kevin langsung bangun dari duduknya dan berlalu keluar dari ruang kerja Dylan.


Sementara Dylan sendiri nampak bengong, dia masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya.


hingga akhirnya dia sadar dan segera mengejar langkah kevin setelah mendengar teriakan menggelegarnya.


“ini dia seriusan mau menikah gak sih, kok kayak tahu bulat gini. Dadakan!” gerutu Dylan bertanya-tanya sambil berjalan menyusul langkah Kevin.

__ADS_1


__ADS_2