TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 09~Sang Penolong


__ADS_3

“Siapa kau?”


BUGH!


“Arrggh!”


Seseorang yang menariknya tak menjawab dengan suara, melainkan dengan Bogeman mentahnya hingga sudut bibir preman itu berdarah dalam sekali gerakan. Kemudian dia kembali menyeretnya lebih jauh dari gubug, dan tanpa ba bi Bu lagi orang itu kembali memukulinya tanpa ampun.


Suasana disana memang gelap, namun ada sedikit cahaya dari rembulan sehingga menampilkan sosok pria berparas tampan tengah mengukung dan memukuli salah satu preman.


Melihat kawannya di serang, pria yang dari tadi menahan bahu Alya bangkit dari posisinya, ia ingin menolongnya namun tertahan begitu melihat ada segerombolan pria, berbadan kekar dan memakai baju serba hitam mirip seperti bodyguard mencegat jalannya dan tanpa basa basi lagi langsung menyerangnya.


“Siapa ka-”


BUGH!


belum sempat ucapannya selesai, dia sudah mendapat tinjuan yang cukup keras.


BUKK!!


BRAKK!!


BRUKK!!!


BRUK


Terjadilah perkelahian yang cukup sengit, kedua pria bertato itu berusaha melawan. Padahal wajahnya sudah babak belur dan berlumuran darah, tenaganya juga sudah terkuras habis.


“Siapa Kalian, hah! Kenapa kalian menyerang kami!” teriaknya.


Pria yang tadi menariknya tak bersuara, dia menatap pria bertato itu dengan tatapan mengerikan sambil menyeringai.


BUG!


Lagi-lagi tak ada jawaban suara, yang ada hanya tinjuan dan pukulan keras yang terus mengena di tubuhnya sebagai jawaban dari pertanyaannya. dia ingin balik memukul namun lawannya selalu bisa membaca pergerakannya sehingga dia tak bisa membalas.


Pria yang tak diketahui namanya itu terus menghantamnya bagai orang kesetanan, hingga wajahnya bonyok dan penuh darah.


setelah di rasa lawannya sudah tak berdaya, dia berhenti memukulinya. Dada tegapnya terlihat kembang kempis dan deru nafasnya terdengar tak beraturan


“CEPAT BAWA MEREKA KE KANTOR POLISI SEBELUM AKU BENAR-BENAR MEMBUNUHNYA DISINI!!!” Teriaknya lantang, sampai urat dilehernya terlihat dan wajahnya merah padam.


Dengan cepat sebagian dari anak buahnya langsung membawa kedua preman itu pergi sebelum bosnya melakukan apa yang dia ucapkan.


“bagaimana dengan nona itu, tuan?” Tanya salah satu anak buahnya yang masih berada disana.


tanpa menjawab, pria yang di sebut tuan itu langsung berlari masuk ke dalam gubug. sesampainya disana, dia berhenti sejenak, kedua matanya melotot begitu melihat sosok Alya sudah tergeletak tak berdaya di tanah dengan tubuh hampir telanjang. dengan cepat dia pun menghampirinya, berjongkok sambil kedua tangannya mengangkat sebagian tubuh Alya lalu meletakkannya di pangkuannya.


Matanya memindai tubuh Alya yang setengah polos hingga berhenti di lutut gadis itu, dimana kain tipis milik Alya masih tertinggal. dengan tangan sedikit bergetar dan penuh luka dia menaikkan benda tipis itu untuk menutupi area sensitif bagian bawah milik Alya.


Setelah selesai dia kembali menatap wajah Alya. “Hey, bangun!” Serunya sambil menepuk pelan pipi Alya, namun gadis itu tak bereaksi, matanya tertutup rapat.


Pria itu merasakan tubuh Alya dingin, wajahnya pun terlihat pucat.


SREETT!


tanpa ragu, dengan gerakan cepat dia membuka kemejanya yang berwarna putih sehingga semua kancingnya terlepas dan hanya menyisakan kaos warna abu-abu yang masih melekat di tubuh tegapnya, kemudian dia memakaikan kemeja itu ke tubuh Alya.


“Cepat ambil selimut di dalam mobilku!” Teriaknya pada anak buahnya, dia merasa kurang jika hanya kemeja saja.


Sesaat kemudian seorang pria tampan, berbadan kurus serta memakai pakaian ala kantoran berlari ke arah pria yang memangku Alya dan memberikan apa yang pria itu pinta.


“Ini, tuan muda.” Ucapnya.


Pria itu langsung menerimanya dan dengan gerakan cepat, dia membungkus tubuh Alya dengan selimut tersebut kemudian mengangkatnya. Meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa-gesa.


...💐💐💐...


Alya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya untuk menormalkan pandangannya yang kabur, dan perlahan membuka sempurna matanya.


Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih, Matanya menelisik ke seluruh ruangan yang sama-sama berwarna putih. Indra penciumannya menghirup aroma obat, dan bisa dia duga jika saat ini dia sedang ada dirumah sakit.


Hah! Rumah sakit?


Menyadari itu Alya segera bangun dari pembaringannya, namun seketika dia jatuh kembali sambil tangannya yang kena infus memegang kepalanya yang kliyengan.


“Aasshh.. pusing.” rintihnya, kemudian kembali berbaring. Dia kembali membuka matanya, menelisik ke penjuru sudut ruangan yang cukup luas dan sepi.


Krreett!


Tak lama Suara pintu terbuka, Alya menoleh ke arah pintu. Terlihat sosok pria tampan, tinggi tegap berpakaian formal berjalan ke arahnya. Sejenak pria itu terkejut, namun sedetik kemudian dia tersenyum.


“selamat pagi nona, Syukurlah Nona sudah sadar.” ucap pria itu seraya jalan mendekat.


“Dimana ini?” Tanya alya dengan suara Paraunya.


“Anda sekarang berada dirumah sakit, semalam setelah kami menolong anda dari dua pria itu kami langsung membawa anda ke rumah sakit.” Jelasnya.


Alya terdiam, mencoba mengingat-ingat tentang kejadian semalam. Dia ingat tentang malam itu. Seketika Dadanya merasakan sesak dan tanpa permisi air hangat itu keluar dari pelupuk matanya, dia tak menyangka akan mengalami hal buruk di hari keduanya datang disini.


“K-kamu siapa?”


“Nama saya Kenzo, saya-”


Drrrttt.. Drrrttt..


Ucapan Kenzo terhenti begitu ponselnya bergetar, dia merogoh kantong celananya dan dengan cepat dia pun mengangkatnya setelah tau siapa yang menelponnya.


“Iya tuan muda.”


[bagaimana keadaannya? Apa dia sudah sadar?]


“Sudah tuan, baru saja.”


Terdengar helaan nafas di seberang sana.


[oke, Ken! Sebentar lagi gue akan berangkat ke bandara dan Lo gak usah nyusul. Gue perintahkan Lo untuk stay disana sampai kakaknya datang, gue udah menghubunginya dan sekarang dia sedang ada di perjalanan.]


“Baik, tuan muda.”


BIP!


panggilan berakhir, Kenzo kembali menyimpan ponselnya ke saku celananya lalu kembali menatap Alya.

__ADS_1


“Nona butuh sesuatu?” Tanyanya, karena Alya saat ini tengah menatapnya.


“Saya ingin pulang.”


“Maaf Nona, untuk sekarang anda belum bisa pulang.”


“Kenapa? saya sudah baik-baik saja kok, dan berhentilah memanggilku nona. Panggil saja aku Alya.”


Kenzo menggeleng. “Maaf, saya tidak bisa Nona. karena nanti terdengar tidak sopan.” tolaknya.


Alya mengernyit tak mengerti. “Tidak sopan bagaimana, aku hanya menyuruhmu untuk memanggilku dengan nama.”


“Maaf Nona, saya tetap tidak bisa.”


Alya menghela nafas. “Baiklah, terserah kamu saja tapi aku harus pulang sekarang.”


Alya ingin bangkit lagi, namun dengan cepat Kenzo berlari ke arahnya dan menahannya.


“Nona belum bisa pulang, kondisi Nona masih lemah.” ucapnya, seraya menahan kedua bahu alya.


“aku harus pulang, kakakku pasti sedang mencariku sekarang.” balas Alya.


“Nona tenang saja, tuan kami sudah mengabarinya dan sekarang dia ada di perjalanan menuju kemari.”


“Tuan? Siapa maksudmu?”


Kenzo terlihat ingin kembali bicara namun sudah keduluan dengan orang yang di belakangnya.


“Kau sudah sadar ternyata.”


Alya menoleh ke arah suara begitupula dengan Kenzo. Pria itu langsung mundur dua langkah sambil sedikit membungkukkan badannya. Sementara Alya terlihat kaget, matanya melebar.


“D--dylan!” pekik alya dengan mata membola, sementara Dylan tersenyum sambil jalan mendekat.


“Bagaimana keadaanmu, apa ada yang sakit?” Tanya Dylan, pria tampan berpakaian formal itu berdiri di depan brankar sambil memasukan kedua tangannya di saku celana bahannya. Sementara Alya masih dalam posisi berbaring.


Alya diam sejenak, matanya terus menatap pria itu dan wajahnya masih terlihat kaget.


“J--jadi kamu yang nolongin aku?” Tanyanya sambil sebelah tangannya meremas baju bagian dadanya.


“Menolong?” Dylan Mengernyiit tak mengerti.


alya mengangguk samar. “semalam kamu kan yang nolongin aku dari dua preman itu?” Lirihnya.


kening dylan semakin berkerut dalam sambil memundurkan sedikit wajahnya. Dia benar-benar tidak paham dengan ucapan gadis di depannya itu.


‘semalam? emang ada apa dengan semalam? but wait.. apa kata dia tadi, dua preman?’


“maksud kamu apa sih Al? menolong siapa? Aku merasa gak menolong siapapun.” Ucap Dylan dengan raut wajah bingung.


kini giliran Alya yang Mengernyit, Lalu matanya melirik ke arah Kenzo.


“Dia Tuan yang kamu maksud kan?” tebaknya.


Kenzo menggeleng. “bukan nona, Semalam yang menolong anda bukan Tuan Dylan tapi Tuan Kevin.” ucap Kenzo.


DEG!


Alya sangat terkejut mendengarnya, Dia tidak menyangka jika ternyata yang menolongnya adalah Kevin. Remasan di bajunya semakin kuat sehingga membuatnya kusut sambil menggigit bibir bawahnya.


Alya teringat sesuatu! pandangannya langsung turun kebawah menatap ke arah tubuhnya, dia baru menyadari jika saat ini dia memakai kemeja warna putih yang terlihat kebesaran dan dia juga mencium aroma tak asing di kemeja itu.


Kemeja yang dia pakai sama persis dengan apa yang Kevin kenakan tadi malam waktu di lift hotel, ditambah dengan aroma parfum yang mengeruar dari kemeja tersebut. itu saja sudah membuktikan kalau Kevin memang penolongnya, tapi pertanyaannya adalah dari mana pria itu bisa tahu keberadaannya?


“oh.. jadi yang nolong kamu kevin.” ucap dylan sambil manggut-manggut, dan hal itu membuat lamunan Alya buyar. “Pantas saja tadi waktu pulang ke rumah, dia kayak kucel gitu.” Sambungnya.


“Eh Tapi sekarang dimana dia, kenapa dia gak ada disini?” Tanya Dylan pada Kenzo.


“saat ini tuan Kevin sedang ada di perjalanan menuju bandara.” Jawab Kenzo.


“Bandara?” beo Dylan.


“Apa tuan lupa jika Hari ini tuan Kevin dan tuan Rafa akan pulang ke Busan untuk menengok tuan sepuh?”


Mendengar itu Dylan langsung menepuk jidatnya, dia lupa sebelum berangkat Rafael memang sempat mengajaknya namun dia tidak bisa. Ada beberapa hal yang membuatnya harus stay di Jakarta, dan itu berhubungan dengan pengangkatan Kevin sebagai CEO baru di ZE GROUP yang akan di laksanakan setelah adiknya itu menikah.


“Ah, iya gue Lupa! Lalu kenapa Lo masih ada disini? Tidak ikut mereka?” Tanya Dylan lagi.


Dia heran, Biasanya Kenzo selalu ikut kemanapun Kevin pergi. Mereka bagaikan amplop dan perangko yang selalu menempel dan tak pernah bisa di pisahkan, tapi kenapa sekarang tidak?


Kenzo menggeleng. “Tidak tuan, barusan tuan kevin menelpon saya dan menugaskan saya untuk menjaga nona Alya sampai kakaknya datang.” jelas Kenzo.


Dylan nampak mengangguk, namun sedetik kemudian kedua matanya membola, dia langsung menatap alya dengan mimik wajah terkejut. “Selena ada di Jakarta, seriusan?”


Alya mengangguk mengiyakan.


Sebenarnya dia sendiri masih terkejut sekaligus tak percaya saat Kenzo mengatakan jika Alya sedang dirawat dirumah sakit tersebut, dan lebih mengherankannya lagi kenapa dia bersama Kenzo? Apakah Alya dan Kevin sudah bertemu? Begitu pikirnya.


terakhir kali dia bertemu gadis itu saat dia berkunjung ke Gwangju perihal masalah bisnis beberapa bulan lalu, kebetulan saat di perjalanan pulang ke hotel dia melihat Alya bersama teman wanitanya tengah nongkrong di depan toserba. dan kini dia kembali terkejut Ternyata gadis itu pulang tak sendiri, melainkan bersama kakaknya.


Namun tiba-tiba wajahnya terlihat serius, seperti sedang berpikir.


“Hm, Jadi berita itu benar yah.” gerutu Dylan sambil kedua jarinya mengusap-usap dagunya yang mulus.


Alya menatap dylan sambil mengernyit. “berita apa?” Tanyanya.


“Kamu belum tahu?” Ucap Dylan balik nanya.


Gadis itu menggeleng, dia baru saja sadar beberapa saat yang lalu. Bagaimana dia bisa tahu apa yang sudah terjadi?


“berita apaan emang?” Tanyanya lagi.


“Soal kedatangan kakakmu ke negara ini, dan..” Dylan menggantung ucapannya.


“Dan apa?”


Dylan menghela nafas. “Aku sebenernya gak mau kasih tahu soal ini karena aku tahu pasti setelah ini kamu akan kepikiran, tapi.. sepertinya kamu harus tahu.”


Kemudian Dylan mengeluarkan ponsel pintarnya, jemarinya begitu lincah bermain di depan layar itu, kemudian dia memperlihatkan layar ponselnya ke gadis itu.


Seketika wajah Alya terlihat syok, dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya saat membaca berbagai macam artikel dan hastag tentang Selena.


Alya membaca satu persatu artikel tersebut, banyak foto foto mesra mereka berdua. Di mulai saat di lokasi syuting, hotel dan yang terakhir mereka terlihat sedang berada di sebuah taman yang dihiasi berbagai bunga, sepertinya itu di pulau Jeju. Selain itu Alya juga membaca Berbagai kecaman dari para netizen, hingga dia tak kuasa menahan tangisnya.

__ADS_1


“Hiks.. Hiks..”


Dylan dan Kenzo terkejut saat tiba-tiba Alya menangis tersedu-sedu, dengan segera Dylan mengusap lembut kepala gadis itu agar bisa tenang.


“Tenangkan diri kamu Al, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Lirih Dylan yang masih berusaha menenangkan Alya.


Pria itu tahu, Alya sangat menyayangi keluarganya melebihi dirinya sendiri. Terlebih kakaknya.


Alya terlihat menggeleng dan berusaha bangkit, namun karena kondisi tubuhnya yang masih lemas membuatnya sedikit kesusahan. Ditambah dia juga merasakan sakit di kaki kanannya.


Dengan cepat dia mencabut selang infus, tak dia perdulikan lagi darah kental merembes keluar, lalu kembali bangun dari pembaringannya. Melihat itu Kenzo dan Dylan langsung dilanda panik, mereka langsung menahan gadis itu untuk tidak bangun.


“Apa yang kamu lakukan Al! Lihat nih darah kamu keluar banyak! Astaga!” Bentak Dylan, Dia benar-benar terkejut dengan tindakan gadis yang ada di depannya ini.


“Aku harus pergi Lan!” Ucapnya dengan nada bergetar, Dia menatap Dylan dengan tatapan gusar.


Dylan menghela nafas kasar. “Iya tapi lihat dulu kondisi kamu seperti apa! Lagian mau kemana sih!?”


“A-aku harus ketemu sama Renata, yah! Renata. dia pasti yang udah menyebarkan gosip itu ke wartawan!”


“Renata?” Tanya Dylan, Alya mengangguk.


Pria itu menggeleng. “Udah mending kamu diam aja disini, pulihin kondisi kamu dulu baru setelah itu boleh keluar. Ken, panggilkan dokter!”


“Baik, tuan.”


Kenzo segera berlalu keluar untuk mencari dokter yang menangani Alya, sementara Dylan menahan pergerakan Alya yang masih berusaha ingin turun dari ranjangnya.


Selang beberapa menit kemudian kenzo kembali masuk bersama seorang dokter tampan yang di perkirakan umurnya setara dengan Kevin.


Alya mengenali dokter itu, Dia adalah Samuel Adhitama. seorang dokter muda yang sangat populer karena ketampanannya di rumah sakit tersebut.


Samuel berjalan menghampiri Alya dengan senyum menawannya.


“Tenang ya Al jangan bergerak dulu.” ucap Samuel dengan tenang, lalu dia meraih tangan Alya.


Gadis itu ingin menolak saat Samuel ingin memasukkan kembali jarum infusnya, namun Dylan dan Kenzo menahannya.


“Aku mau keluar Sam.” pinta Alya dengan nada berbisik pada Samuel setelah pria itu sudah selesai dengan tugasnya, dia tak mau Kenzo dan Dylan mendengarnya. Padahal kenyataannya dua pria itu masih bisa mendengarnya.


“Nanti yah Al kalau kondisi kamu sudah stabil, untuk saat ini belum bisa. Lagi pula kakimu masih sakit kan?”


Alya melihat ke arah kaki kanannya yang di perban, dia tak tahu apa yang terjadi dengan kakinya namun memang dia merasakan sakit.


“aku bisa rawat jalan.” Ucapnya cepat dan meyakinkan.


Samuel memasukkan kedua tangannya ke saku jas putihnya sambil menggeleng.


“Tetap gak bisa Al, fisik kamu masih lemah. Tunggu sampai kondisi kamu benar-benar fit yah.” tutur Samuel dengan lembut.


“tapi aku harus temui kak lena Sam.”


“bukankah dia akan datang kesini?”


kedua mata alya melotot. “dari mana kamu tahu kalau kak lena akan kesini?”


Dokter tampan itu tersenyum tipis. “sebelum pergi kevin sempat bilang padaku jika dia akan menghubungi selena, jadi aku berpikir kalau hari ini dia akan datang kesini.”


“Kalau kamu gak percaya, kamu bisa tanya Kenzo. Dia adalah asisten pribadinya kevin.” Sambungnya sambil melirik sekilas ke arah pria itu.


Lalu pandangan Alya lari ke wajah Kenzo, dari isyarat matanya sepertinya ia meminta jawaban dan untungnya Kenzo peka.


“Itu benar nona. tadi waktu anda sadar tuan kasih kabar jika dia sudah menghubungi kakak anda dan sedang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi akan sampai.” Saut Kenzo.


Mendengar penjelasan dari Kenzo Alya diam.


“Ya sudah aku permisi, mau cek pasien lain. kamu istirahat yah, jangan banyak gerak dulu.”


alya mengangguk tanpa bersuara, setelah itu Samuel berlalu keluar. namun saat di ambang pintu tiba-tiba langkahnya terhenti begitu mengingat sesuatu, dia melirik ke arah Dylan.


“Bisa kita bicara?”


“Soal apa?”


“Ikut saja dulu.”


Pria itu mengangguk, kemudian mereka pergi keluar dan menutup pintu. Kini hanya tersisa Kenzo disana.


...💐💐💐...


Alya melirik ke arah pria itu, matanya memperhatikan penampilan Kenzo dari atas sampai ke bawah seakan sedang menilai.


Sudah 1 jam berlalu setelah kepergian Samuel dan Dylan, dan selama itu Alya tak mengeluarkan suaranya, namun beda halnya dengan matanya yang terus memperhatikan Kenzo.


Di tatap seperti itu membuat pria tampan, berkulit putih dan berbadan kurus itu nampak salah tingkah, dia melihat penampilannya sendiri. Mana tahu ada yang salah.


“ada yang salah dengan penampilan saya, nona?” tanyanya, dan Alya menggeleng.


“Siapa namamu tadi?” Tanya Alya pelan.


“Kenzo, nona.” Jawab Kenzo sopan.


“Kelihatannya kamu masih muda, Kamu masih sekolah?” Tanyanya lagi.


Di tanya seperti itu Kenzo nampak tersenyum kikuk. “Tidak nona, saya sudah bekerja. Dan umur saya lebih tua 5 tahun dari tuan Kevin.”


Alya melongo, dia seakan tak percaya dengan ucapan Kenzo.


‘5 tahun lebih tua dari Kevin? berarti sekarang umurnya sudah 30 tahun dong! tapi kok mukanya masih kayak ABG sih..’ batin Alya merasa heran.


“B-benarkah? Aku pikir kamu masih SMA..” cicit Alya.


Kenzo tak bersuara, dia hanya tersenyum. Bukan kali pertama dia mendengar hal ini, sudah sering. Bahkan setiap dia jalan berdua dengan tuan mudanya, Kenzo selalu di anggap adiknya Kevin. Padahal kenyataannya dialah yang lebih tua.


“Emm.. Aku mau nanya sesuatu sama kamu, boleh?”


“Silahkan nona.”


“M-memang benar s-semalam yang nolong aku K-kevin?” tanya Alya terbata, menatap penuh wajah Kenzo sambil kedua tangannya masih meremas baju yang dia yakini milik Kevin.


Kenzo diam sejenak. “Apa nona tidak percaya dengan penjelasan ku tadi?” ucap Kenzo balik nanya.


Alya menggeleng. “Bukan itu, tapi-tapi aku hanya kurang yakin saja. Lagipula darimana dia bisa tahu posisiku saat itu?”

__ADS_1


“Untuk soal itu saya tidak berani jawab, tapi jika nona masih penasaran nona bisa tanya langsung ke tuan Kevin setelah beliau kembali.”


Mendengar ucapan kenzo membuat Alya mendesah pelan, ia kecewa karena tak mendapat jawaban yang pasti.


__ADS_2