
di sebuah ruang tamu yang terlihat luas dan megah terlihat sosok pria tampan tengah duduk di sofa empuk panjang sambil sebelah tangannya memijat pelipisnya, sementara sebelahnya lagi berada di atas pahanya dan masih menggenggam ponselnya.
dia baru saja selesai menelpon adiknya, Kevin.
benar sekali, pria yang tadi menelpon Kevin adalah kakak sulungnya yang bernama... Rafael.
Rafael Prasetyo Dirgantara, Biasa di panggil dengan sebutan Rafa. Sosok pria tampan berusia 28 tahun, tingginya sekitar 185 cm dan memiliki tubuh atletis. Rafael sendiri adalah anak tertua di keluarga dirgantara dan seorang direktur utama di perusahaan milik Kakeknya, ZEOUS GRUP.
‘kenapa dia keras kepala sekali..’ gerutunya dalam hati, begitu mengingat percakapannya dengan adik bungsunya.
dia menghela nafas, seraya meletakkan ponselnya ke meja kaca warna hitam yang ada di hadapannya.
Sesaat yang lalu dia memang menelpon Kevin untuk memintanya agar pertunangannya dengan anak dari rekan bisnis papanya kembali di lanjutkan, namun Kevin tetap menolaknya.
Rafael paham kenapa Kevin tetap bersikukuh pada keputusannya, meski di awal Kevin itu sempat menolaknya karena ia tidak menyukai gadis itu, namun pada akhirnya Kevin memilih setuju demi perusahaan kakeknya terancam bangkrut.
Namun saat mendengar kabar jika rencana pernikahan itu di majukan dari tanggal yang sudah ditentukan, ditambah dengan syarat yang di ajukan oleh keluarga calon istrinya membuat Kevin murka, dan tak perlu berpikir ulang lagi ia langsung membatalkan rencana itu.
Dan sekarang Rafael sedang berusaha membujuknya agar mau setuju, bahkan ia sampai membawa-bawa nama kakeknya. Berharap sang adik mau nurut, namun sayangnya tak berhasil.
Mengenai perusahaan, Zeous Group adalah sebuah perusahaan besar yang memproduksi barang elektronik modern, seperti tv, komputer dan elektronik canggih lainnya. Perusahaan itu sudah berkembang baik sejak berpuluh-puluh tahun, namun kini perusahaan itu sedang di ambang kebangkrutan setelah beberapa bulan lalu mendapat kerugian besar akibat ada karyawan senior yang korupsi dan pencurian barang.
Seminggu yang lalu perusahaan itu baru saja meluncurkan barang baru, sebuah jam tangan mewah yang di lengkapi dengan alat pelacak dan pendeteksi detak nadi untuk pengguna. Bukan hanya soal fitur, tapi desainnya juga terlihat sangat mewah karena semua sisi kaca arlojinya dan sabuk perekatnya di lapisi emas asli.
Namun bukanya mendapat untung, perusahaan itu mendapat masalah soal keuangan. Ada beberapa karyawan seniornya yang korupsi, brangkas penyimpanan uang dan emas batangan raib di curi oleh mereka semua. Termasuk soal barang yang baru saja mereka luncurkan, barang itu baru saja di pasarkan hanya 5 buah dan itu sudah sold out.
Banyak konsumen yang meminta pihak perusahaan untuk mengeluarkan lebih banyak lagi, dan pihak perusahaan belum bisa memenuhi itu. Bagaimana mau di penuhi, sisa barangnya saja sudah di curi. Otomatis mereka perlu memproduksinya lagi dari awal, dan perlu biaya yang sangat banyak.
Meski sekarang pelakunya sudah di tangkap polisi dan sedang menjalani proses persidangan, namun barang yang mereka ambil tak bisa di kembalikan karena sudah terlanjur di jual ke perusahaan asing, dan karena masalah ini pula membuat para investor pergi dan tak mau berkerjasama lagi dengan Zeous Group.
Sebenarnya ada satu investor yang masih bertahan dan siap membantu, namun ia memberi syarat pada Rafael. Investor itu adalah Ryan Herlambang, seorang CEO dari perusahaan Herlambang Corp. Ryan sendiri adalah ayah dari wanita yang akan Kevin nikahi, yang dengan kata lain calon mertuanya.
Ryan siap membantu Rafael jika rencana pernikahan anaknya dengan Kevin di percepat, dan dia juga meminta saham perusahaan sebesar 50% untuk di berikan pada putrinya.
Rafael yang mendengar itu tentunya saja kaget, dia tak percaya jika pak Ryan berani meminta itu. Meskipun begitu Rafael tak bisa berbuat apa-apa karena keadaannya sangat darurat, dia pun lebih memilih untuk menurut. Setelahnya ia memberitahukan hal ini pada Kevin, dan adiknya itu pun marah besar. tanpa berpikir panjang lagi Kevin langsung mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan ini, Dia tidak Sudi jika sebagian saham perusahaan kakeknya di miliki oleh keluarga Ryan.
Drrrttt.. Drrrttt...
suara getaran terdengar, Rafael yang kala itu sedang menunduk langsung melirik ke layar ponselnya Dan melihat Nama temannya disana. dengan gerakan malas dia pun kembali meraih benda itu dan jari jempolnya menggeser tombol hijau, kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“halo.” Sahut Rafael dengan suara lirih.
[suara Lu kok lemes banget, lagi dimana nih?]
“dirumah, kenapa?”
terdengar gumaman di seberang sana.
[Temenin gue makan siang bareng yuk? Gak enak banget makan sendirian, Kebetulan gue ada di restoran dekat rumah Lo nih.]
Rafael Diam Sejenak, sebenarnya dia sedang malas keluar rumah ditambah suasana hatinya yang sedang tak baik setelah pembicaraannya dengan adik bungsunya itu. tapi tak lama setelah itu dia menerima ajakannya, siapa tau suasana hatinya bisa berubah menjadi lebih baik setelah bertemu dengan temannya itu.
“oke.”
...💐💐💐...
Sebuah mobil mewah warna silver terlihat memasuki area parkir di depan halaman restoran, begitu mobil itu sudah terparkir dengan cantik barulah si pemilik mobil tersebut keluar yang tak lain adalah Rafael.
Hal pertama saat pria itu keluar adalah, dia langsung mendapat berbagai tatapan yang berasal dari kaum wanita. Ada yang menatapnya kagum, terkejut bahkan ada beberapa pelanggan wanita yang teriak. Mereka seakan tak menyangka bisa bertemu langsung dengan Rafael.
Rafael memang bukan aktor maupun idol Korea, namun karena selain dia dikenal sebagai direktur muda yang sukses dan parasnya yang tampan, dia juga dikenal sebagai anak pemilik dari agensi terbesar di Seoul, GOLDEN ENTERTAINMENT.
Mereka berpikiran, jika bisa dekat dengan Rafael maka itu artinya jalan menuju kesuksesan yang memiliki cita cita menjadi artis akan terasa mudah.
Yah, dijaman sekarang tak ada orang yang benar-benar tulus menjadi teman. Jangankan orang lain, hubungan yang masih ada ikatan darah pun bisa menjadi musuh jika tidak bisa dimanfaatkan. Sama halnya dengan Rafael, semua orang yang kenal atau dekat dengannya tidak ada yang benar-benar tulus. Baik itu laki-laki ataupun perempuan.
Tapi.. ada satu orang yang benar-benar memiliki niat tulus ingin berteman dengannya, dia adalah Rendy.
Nama lengkapnya adalah Rendy Saputra, pria asal Indonesia yang merantau ke Korea. Usianya saat ini 27 tahun, setahun lebih muda dari Rafael. Sosok Rendy ini hanyalah pria biasa, bukan dari kalangan artis maupun bangsawan. Mereka dipertemukan dalam sebuah acara event Perusahaan Rafael yang kebetulan kala itu Rendy datang untuk menggantikan sang papa yang berhalangan hadir tiga tahun lalu.
Rafael memasuki ke sebuah cafe yang sudah Rendy janjikan, kedua mata sipitnya mengedar ke seluruh isi tempat itu untuk mencari sosok dicarinya. sampai pada akhirnya dia menemukannya, ternyata pria itu duduk di sudut ruangan yang sedikit gelap dekat jendela.
Dengan langkah pasti Rafael pun jalan mendekat, namun sesaat kemudian langkahnya melambat saat tak sengaja matanya melirik ke meja yang Rendy tempati, keningnya berkerut. Pasalnya di meja itu terdapat ada satu gelas berisi cairan merah yang sudah hampir habis dan sepiring Pasta yang tinggal setengah, dalam pikirannya mungkinkah ia habis bertemu dengan seseorang?
“Bro.” seru Rafael.
Rendy yang kala itu sedang menyantap makanannya langsung mendongak dan dia tersenyum sambil tangannya terangkat ke udara, hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya.
“oi datang juga akhirnya, kirain gak jadi. Makananku hampir habis, karena kelamaan nunggu.” balasnya, dia segera berdiri kemudian mereka saling berjabat tangan layaknya seorang pria pada umumnya. setelah itu Rendy dan Rafael duduk berhadapan.
“Sorry lah, tadi ngurus beberapa kerjaan dulu.” Ucapnya.
Rendy mengangguk paham, sementara Rafael sendiri melirik ke meja.
“habis ketemuan ya?” tanyanya.
“iya, kok tau?”
“Ini..” ucap Rafael sambil jari telunjuknya mengarah ke meja.
Rendy pun mengikuti arah yang ditunjuk Rafael, kemudian tertawa pelan.
“oh iya, tadi habis ketemu sama sepupuku.” jelas Rendy. “mau pesan apa nih?” tanyanya kemudian.
“coffe latte saja.” jawabnya.
“oke.”
Rendy pun berteriak sambil melambaikan tangannya ke salah satu pelayan wanita yang sedang membersihkan meja lain, dan dengan sigap pelayan itu pun datang. Rendy mulai memesan kopi yang Rafael inginkan, setelahnya pelayan itu pun mengangguk dan berlalu pergi.
sepeninggalan pelayan itu, Rendy kembali menatap wajah Rafael yang terlihat suram, sambil sesekali menyuapi sisa makanannya ke mulutnya.
“itu Muka kusut amat, ada masalah?” tanyanya.
Sebelum menjawab Rafael terlihat menghela nafas berat. “biasalah..”
“soal adekmu lagi?” tebak Rendy dan Rafael mengangguk.
Rendy memang sedikit mengetahui tentang permasalahan yang di keluarga Rafael karena pria itu selalu menceritakannya.
“dia masih nolak?” tebak Rendy lagi.
“hm..”
“ya udah jangan di paksa, yang ada nanti ribet nanti.”
__ADS_1
“gak bisalah ren, aku harus bisa buat Kevin setuju biar perusahaan kembali stabil. Ditambah dengan berita ini, kesehatan kakek juga menurun.”
Rendy diam sejenak, apa yang dikatakan Rafael memang ada benarnya.
“terus kamu udah coba bicara sama papamu belum?”
“udah ratusan kali aku coba ngomong sama dia, mama juga udah coba bujuk tapi tetap aja gak mempan.”
Rafael menghela nafas sebelum melanjutkan.
“dia kayaknya gak perduli dengan perasaan anaknya bagaimana, di pikirannya hanyalah soal bagaimana perusahaan tetap berdiri! Kamu tahu kan alasan kenapa papa bersikeras melanjutkan perjodohan ini?”
Rendy Mengangguk. “apa papamu itu gak tahu kalau tipe kayak Kevin itu gak bisa di paksa, ditambah Kevin juga memiliki daya tubuh yang lemah?”
Kali ini Rafael mengangguk seraya mengusap wajahnya prustasi. Meski secara fisik Kevin terlihat gagah dan kuat, namun nyatanya ia memiliki keterbatasan dalam pernafasan. Itu di karenakan dirinya terlahir trematur, Kevin tak boleh berpikir keras apalagi sampai stres, maka tubuhnya akan drop.
Selain itu Kevin juga memiliki riwayat anxiety, dan pernah masuk rumah sakit jiwa akibat depresi.
“papa sudah tahu soal itu tapi ya itu.. dia tetap melakukannya. Katanya perlahan Kevin bisa menerima keadaan dan penyakit anxiety-nya akan sembuh. Tapi nyatanya sampai sekarang dia masih sering kumat.”
seketika hening.
“terus rencanamu apa sekarang?” tanya Rendy dengan suara pelan.
“aku sih ada rencana akan ke Jakarta, tapi belum tahu kapan!”
“Jakarta!” pekik Rendy. “Ngapain?” tanyanya kemudian.
“aku harus melakukan sesuatu agar kevin setuju menikah dengan Mayra, itulah jalan satu-satunya.”
Rendy meletakkan sendok dan garpu yang dia pegang di atas piring, karena makanannya sudah habis.
“aku paham gimana perasaanmu raf tapi memaksa Kevin juga gak baik, resikonya besar.” Ucap Rendy.
“tapi ini jalan satu-satunya ren agar semuanya baik-baik saja, perusahaan akan aman dan kakek juga akan sembuh.” Tungkas Rafael.
“dengan cara mengorbankan hidup adikmu sendiri? Selain itu apa kamu juga gak mikirin soal Mayra? Kamu gak takut Kevin akan mencelakainya? Kamu sudah pernah lihat sendiri kan, bagaimana keadaan Kevin dulu? kalau kamu memaksanya untuk menikah, aku takutnya dia akan berbuat diluar kendali.”
Rafael membisu sambil menggeleng, pandangannya menunduk menatap meja, dia bingung harus berkata apa. Seketika sekelebat bayangan Kevin yang terikat oleh kain putih di sebuah ruangan isolasi sambil berteriak histeris muncul di ingatannya, hatinya terasa teriris saat menyaksikan kehancuran adik kecilnya itu.
“jujur saja ren sebagai seorang kakak aku juga pengen lihat adikku bahagia, aku gak mau masa-masa buruknya kembali. tapi.. posisiku saat ini serba salah, mau membela kevin resikonya perusahaan akan terancam bangkrut karena pasti setelah ini pak ryan akan langsung memutuskan semua kerjasamanya dengan perusahaan.”
“apa gak ada cara lain selain menikah?”
Rafael mengangguk. “Ada, yaitu suntikan dana dari investor lain. Aku pernah cerita kan sama kamu kalau Darren dan om haris pernah mau bantu?”
Rendy mengangguk. “Tapi papamu malah nolak.”
“Itu dia.” Ucapnya, kemudian menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya.
“aku gak ngerti lagi, isi otaknya itu apa sampai menolak bantuan mereka. Dan saat pak Ryan kasih bantuan, dia malah langsung terima.”
“Kenapa gak minta bantuan saja sama Kevin sendiri?”
Rafael menggeleng. “Gak bisa!”
“Kenapa gak bisa? Kamu pernah bilang kan kalau kevin itu dapat warisan sebuah perusahaan peninggalan mama kandungnya?”
“iya, lalu?”
“kenapa gak suruh dia kelola saja perusahaan itu?”
“sekarang dia umur berapa?”
“24.”
“Tinggal setahun lagi, dan bukannya waktu kuliah di inggris kevin itu sudah lulus S2 ya?”
“iya memang tapi dia belum terlalu paham sama dunia bisnis, Taulah kelakuannya seperti apa. sejak dia balik liburan 2 tahun lalu entah kenapa sifatnya langsung berubah, dia sering bolos, suka ribut dan dia sering mengikuti balap liar. makanya beberapa bulan setelah lulus itu aku suruh dia kuliah lagi.”
“tapi aku sangat yakin kevin bisa melakukannya dengan baik. inget raf, gen jenius di keluarga kalian itu sangat kuat! buktinya setahun yang lalu adek bungsumu itu bisa mampu membuat perusahaan paman Haris yang pada saat itu terancam bangkrut kembali berdiri dan kamu bisa lihat kan sekarang, kini perusahaan itu sudah ada di list kedua perusahaan paling terpengaruh di seluruh dunia. Jangan lupa juga sebelumnya dia pernah menangkap pelaku yang mau sabotase data di perusahaanmu, dan hebatnya dia lakukan itu hanya karena insting.”
Rafael hanya manggut-manggut saja begitu mendengar ucapan panjang Rendy, apa yang di katakan sahabatnya itu benar juga dan mungkin saja setelah itu masalah di perusahaan akan cepat selesai tanpa harus ada korban.
“jadi maksudmu jika kevin bersedia mengelola perusahaan mama Ara, maka perusahaan itu akan menjadi perusahaan besar dan kemungkinan dia juga bisa menolong Zeous grup?”
“betul!”
“tapi sepertinya ini sulit ren, aku tahu banget wataknya kayak apa. Sekali bilang tidak, ya keputusannya tetap tidak. Lagian saat ini ZE Group juga sedang di kelola oleh dylan, dan dia juga gak kalah hebatnya.”
“iya memang, kedua adikmu memang sama-sama hebat tapi perlu di ingat juga, dia hanya sosok pengganti. setelah tugasnya udah selesai dia akan kembali mengurus perusahaannya sendiri.”
Rendy menghela nafas dalam-dalam kemudian menepuk pelan bahu Rafael.
“lagipula yang menjadi pewaris sebenarnya adalah kevin dan dia lebih berhak atas perusahaan itu, paham kan maksudku?”
Rafael mengangguk kecil.
“jadi gimana sekarang?”
“oke, aku akan mencobanya.”
Rendy tersenyum. “kalau gitu kamu sekalian aja sama Selena perginya, Kebetulan dia mau nganterin adiknya yang mau kuliah di jakarta.”
“lah, bukannya adiknya itu udah kuliah disini?”
Rendy menghela nafas, kini wajahnya yang berubah kusut. “iya memang, tapi ada satu masalah yang membuatnya harus memindahkan kuliahnya. Dia takut kalau adiknya tetap disini akan kena juga, ya.. kamu tahulah k-net kayak apa.”
Rafael yang mendengar itu manggut-manggut, dirinya memang tak tahu apapun masalah yang kini Selena alami. Sebagai seseorang yang sudah saling mengenal lama dengan sepupu sahabatnya itu, tentu ada rasa penasaran. Terlebih Selena dulunya adalah mantan karyawannya dan hubungan mereka cukup dekat, kendati begitu dia tetap tahu batasan.
“jadi gimana, mau gak?”
“baiklah.”
...💐💐💐...
di sebuah apartemen sederhana terlihat seorang wanita muda sedang duduk di sofa yang ada diruang tamu, di depannya terdapat ada sebuah laptop yang sedang menayangkan sebuah film.
Mata bulat gadis itu begitu lekat menyaksikan setiap adegan dalam film tersebut, namun pas ada adegan romantis wajahnya berubah kaget dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
“ya ampun, katanya gak ada adegan kissing tapi ini apa? Mana hot lagi, ck!” Gerutunya sambil sebelah tangannya menutupi sebagian wajahnya.
ia merasa kesal karena telah ditipu oleh temannya yang sudah merekomendasikan film tersebut.
“ahh..”
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara lenguhan wanita dari ambang pintu di susul dengan suara pintu terbuka, dan nampaklah sosok wanita cantik berpakaian modis. Wanita itu bernama Selena kharisma Putri, seorang aktris dan model terkenal.
Selena masuk ke dalam apartemen dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan.
wanita muda yang tadi tengah menonton film itu berjalan menghampiri Selena, dia tersenyum lebar saat mengetahui apa yang dibawa Selena. kedua tangannya meraih kantong plastik itu dan membawanya ke dapur.
Selena yang sedari tadi memperhatikannya dan mengekorinya dari belakang ikutan tersenyum, karena bisa memenuhi keinginan Sang Adik.
“Senang banget kamu.” ucapnya sambil menatap wajah sang adik yang tak henti-hentinya tersenyum dan sebelah tangannya mengusap lembut puncak rambut lurus wanita itu dengan sayang.
“habisin yah, ini susah loh nyarinya.” ucap Selena lagi.
bagaimana tidak susah, makanan yang adiknya minta adalah makanan khas Jakarta yaitu ketoprak yang jarang di temui di negara gingseng itu tapi demi sang adik dia rela mengeluarkan uang yang banyak agar keinginannya bisa terpenuhi dan akhirnya dia berhasil mendapatkannya. entah kenapa, adiknya itu sangat menginginkan makanan itu sejak kemarin.
“makasih kak.” ucap gadis itu dan Selena mengangguk.
“ya sudah kakak mau mandi dulu.” pamitnya.
Setelah itu ia berbalik badan dan pergi keluar dari dapur, tapi tak lama langkahnya terhenti karena mendengar dering ponselnya. Keningnya berkerut saat membaca nama kontaknya, ternyata Rendy yang menelponnya.
“halo..”
[kamu udah pulang?]
“iya, baru aja, ada apa?”
[Aku ingin membicarakan soal kepulanganmu ke Jakarta.]
“kenapa?”
[gak ada, cuma..]
“cuma apa?” potong Selena cepat, wajahnya terlihat begitu penasaran.
[jadi gini, ada temanku yang ingin pulang ke Jakarta juga dan berhubung kamu juga akan pulang dengan tujuan yang sama jadi aku menyarankan untuk pergi bersama kalian.]
“teman kamu? siapa?”
[Rafael.]
Selena diam sejenak.
“dia mau ke Jakarta juga?”
[Iya]
“tapi, kami belum packing.”
[jadi kamu setuju?]
“tak ada salahnya kan, lagipula dia juga bisa dibilang bosku.” ucap Selena sambil terkekeh.
[benar juga, aku lupa kalau dia adalah anak pemilik agensimu. ya sudah kalau kamu setuju, siap-siap saja besok aku jemput. aku tutup yah teleponnya.]
“hm.”
BIP!
setelah panggilannya berakhir, Selena membalikkan badannya dan berkata pada adiknya yang tengah duduk di meja makan sambil menikmati makanannya.
“Alya, selesai makan kamu langsung packing semua barang-barang kamu yah.” titah Selena.
gadis yang di panggil Alya itu langsung menoleh, wajahnya terlihat bingung dengan ucapan Selena.
“hah! packing? emang kita mau kemana kak?”
“udah kamu turuti aja omongan kakak.”
“tapi--”
“kakak mau mandi dulu.”
setelah itu Selena berlalu berlalu pergi, tanpa menunggu jawaban Alya.
...💐💐💐...
Malam harinya..
“sebenarnya kita mau kemana sih kak?” tanya Alya, dia berjalan menghampiri Selena yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
ini adalah pertanyaan yang kesekian kalinya yang Alya lontarkan pada Selena, tapi wanita itu sampai sekarang tak memberi jawaban yang jelas.
“Kak--”
“Kita akan Pindah!”
Alya tersentak, namun setelahnya ia malah terkekeh.
“seriuslah kak!?”
Selena yang kala itu menatap lurus ke depan langsung menoleh, menatap Alya dengan tatapan serius.
“emang sekarang kakak kelihatan gak serius?”
Dan seketika itu pula membuat senyuman Alya meredup. “Emm.. emang kita mau pindah kemana?”
“Jakarta!”
DEG!
“j-jakarta! k--kok tiba-tiba?” alya kaget.
“kenapa?” tanya Selena.
“k--kenapa apanya?”
“ya kamu, kamu kayaknya gak senang kalau kita pindah ke sana?” Selena menatap wajah adiknya dengan tajam, sehingga membuat Alya salah tingkah.
“Bu--Bukan begitu kak.”
“Lalu?” Tanya Selena, sambil sebelah alisnya terangkat.
“Eung... ka-kalau kita pindah terus kerjaan kakak disini gimana? terus kuliahku juga gimana?”
“kakak udah mengajukan cuti untuk beberapa hari! dan bukannya kamu sekarang sedang libur kuliah sampai bulan depan?”
__ADS_1
“iya kak.”
‘cuti beberapa hari? berarti ini hanya sementara kan?’