TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 69~Rencana Selena


__ADS_3

[Ya Tuhan, kenapa kamu baru pindah sekarang sih? Kan sayang skripsimu yang ada di Korea. Oh.. atau jangan-jangan kamu sengaja ya pindah kuliah karena ingin mendekati Alya?]


Monika yakin dengan tebakannya itu, karena rasanya tak mungkin Andreas rela pindah kuliah hanya demi pendidikan semata.


“itu kamu tau!”


[oh my God! Kamu memang benar-benar nekad ndre, aku gak tau harus ngomong apalagi sama kamu!]


“dan kamu pasti sudah tahu aku suka dengan tantangan!”


[Kamu akan hancur Andreas, Kevin pasti akan menghabisimu!]


Namun Andreas tak terlihat takut sama sekali dengan ucapan Monika, dia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


“Aku tak perduli! Mau dia sehebat apapun, aku tak akan takut dengannya.”


[Dasar keras kepala! Ya sudahlah terserah kamu aja, tapi aku tetap pengen ketemu kamu.]


“ck! Ngapain sih?”


[Aku kangen ndre, apa kamu tidak merindukanku?]


“tidak!”


[Oh.. ayolah ndre, sebentar saja.]


“cari laki-laki lain saja, aku malas!”


[Gak! Aku maunya sama kamu, aku tunggu di tempat biasa.]


“terserah!”


KLIK!


tanpa menunggu jawaban dari Monika, Andreas langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Andreas tak perduli dengan permintaan Monika yang ingin menemuinya dan menunggu kedatangannya, ia sudah tak ingin melakukannya lagi.


Sudah beberapa bulan ini Andreas memang sudah berhenti dengan kebiasaannya yang main perempuan, mungkin lebih tepatnya sejak ia jatuh cinta dengan Alya.


Berhenti bukan berarti benar-benar berhenti, ia hanya mengurangi saja. Andreas masih suka main ke klub dan main wanita, namun tak seintens dulu.


Dan wanita yang sering dia ajaki bercinta adalah Monika dan dialah wanita pertama yang dia tiduri serta mengenalkannya ke dunia malam, beda halnya dengan Monika yang sebelumnya sudah tidur dengan pria lain.


Ting!


Notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Andreas yang kala itu masih menggenggam benda pipih itu langsung melihatnya. Ia berdecak kesal saat Monika mengiriminya pesan dengan kata-kata bernada ancaman.


{Segera datang ke tempat biasa, jika tidak aku akan mengadukan tingkahmu selama di Korea ke orang tuamu. Dan aku juga akan mengaku pada mamamu kalau aku sedang hamil anakmu!}


“wanita Sialan!” makinya dengan suara tertahan.


Selama ini keluarganya memang tak tahu dengan perilakunya yang suka main wanita, kecuali Bobby. Karena papanya itu sering mengunjunginya ke apartemennya dan pernah memergokinya tengah bercinta dengan wanita kencannya, namun tak juga menasihatinya.


Meski awalnya Bobby sempat marah-marah, namun ujungnya malah menyuruhnya untuk hati-hati agar ibu dan kakeknya tak tahu, maka jika itu terjadi Andreas akan terancam tak mendapat warisan.


Saat itu Andreas sempat heran kenapa papanya bisa mengatakan itu, padahal sebelumnya ia sudah merasa was-was jika ketahuan nanti. Namun yang terjadi malah kebalikannya, papanya justru mendukung tabiatnya itu.


Sebenarnya Andreas tak perduli dengan ancaman Monika, ia berpikir itu hanyalah gertakannya saja agar dirinya mau datang. Tapi Andreas juga tahu dengan sifat Monika, wanita itu selalu bertindak nekad dan tak pernah main-main.


Karena takut ancaman Monika terjadi, dengan terpaksa ia mengiyakannya. Akan sangat bahaya jika ibu dan kakeknya tahu, selain nanti tak akan dapat warisan, dia juga pasti akan kena amukan ibunya.


Andreas pun bangkit dari ranjangnya dan mulai bersiap-siap untuk menemui Monika, sambil otaknya terus memikirkan hukuman apa yang pantas untuk wanita itu.


...💐💐💐...


Sementara itu di apartemen, Kevin dan Alya sudah selesai dengan acara makan malamnya. Sama halnya seperti apa yang terjadi kemarin, sekarang pun sama. Pasutri itu dengan kompaknya membereskan dapur, hanya bedanya kali ini tak ada pertengkaran.


Selesai dengan urusan dapur, Alya nampak naik lagi ke atas berniat masuk kamar sambil membawa Tumblr berisi air putih. Di dalam kamar, Alya sedang meminum obat resep dari dokter Samuel.


Drrttt..


Alya Mendengar suara getaran, dan arah suaranya berasal dari tasnya yang ada di meja belajar. Segera Alya menaruh Tumblr yang tadi ia pegang ke meja nakas, lalu ia beranjak bangun dan jalan perlahan ke meja belajar. Tangannya membuka resleting tas bagian depan, kemudian merogohnya dan mengambil ponselnya.


Alya tersenyum riang saat ada nama kontak kakaknya di layar datar itu, dengan cepat ia pun menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga kanannya.


“kakak.. aku kangen!” seru Alya saat panggilannya dengan Selena sudah tersambung.


Di seberang sana selena yang mendengar suara Alya bernada manja itu terkekeh.


[Iya dek, kakak juga kangen. Gimana kabarmu disana, baik-baik aja kan?]


“iya kak, aku baik-baik aja.”


[Kaki kamu gimana, ada perubahan?]


“emm.. belum kak, kaki aku masih di gips.”


[Yang sabar ya dek, terus ikuti apapun omongan dokter Samuel biar cepat sembuh.]


“iya kak.”


[Kuliahmu gimana?]


“baik juga kok kak.”


[Disana gak ada yang jahatin kamu kan?]


DEG!


Alya diam setelah mendengar pertanyaan Selena, ia mengernyit heran kenapa kakaknya itu bisa bertanya seperti itu.


‘apa kak Selena tahu jika aku sering di bully, tapi dari siapa? Apa arina yang bilang?’


[Dek, kenapa diam aja?]


“eh, gak apa-apa kak. Aku hanya heran saja kenapa kakak bisa nanya gitu?”


[Kakak hanya khawatir aja sama kamu dek, kakak tahu repotasi Kevin di kampus itu kayak apa. Dia terkenal sebagai most wanted, dan sebelumnya juga dia di kabarkan akan menikah dengan Mayra tapi gak jadi. kakak takutnya kamu di jahati sama anak-anak disana karena di anggap buruk]


Alya tersenyum lega, ternyata kakaknya tak tahu apa-apa. “Aku disini baik-baik aja kok, dan disini juga gak ada yang jahatin aku. Lagian Kevin udah nyewa bodyguard buat jaga aku 24 jam, Jadi kakak tenang saja.”


[Syukurlah kalau gitu, kakak senang dengarnya.]


“kakak sendiri gimana?”


[Kakak juga baik-baik aja dek.]


“kandungannya gimana? Kak Rafa jagain kakak kan? Disana keluarganya pada baik kan sama kakak?”


[Iya dek, kandungan kakak juga baik dan dalam keadaan sehat. Sama seperti suamimu, mas Rafa juga menjaga kakak dengan baik dan keluarganya pun begitu.]


“bagus deh..”


[Oh iya Al, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu dan ini penting]


“apa tuh?”


[Emm.. Sebenarnya ini ada kaitannya dengan kerjaan kakak, dan sebelum memutuskannya kakak pengen denger pendapatmu]


“ada apa sih?” Alya mulai penasaran.


[Kakak ada rencana pengen berhenti dari dunia artis]


Jujur saja setelah mendengar Ucapan Selena, Alya kaget.


“berhenti? Kenapa, bukankah ini impian kakak? Dan ini kan alasan kenapa kakak menerima tawaran kak Rafa?”


[Iya emang, tapi kakak udah lelah dek. Kakak pengen hidup normal aja.]

__ADS_1


Selena menghela nafas sebelum melanjutkan.


[Sebelumnya kakak minta maaf kalau keputusan kakak ini membuatmu kecewa, dan maaf karena sudah mengorbankanmu dalam masalah kakak. Tapi jujur kakak gak ada maksud. Sebenarnya kakak sudah merencanakan ini udah lama, jauh sebelum kakak hamil. Kakak akan bilang sama kamu setelah masa kontrak kakak abis, tapi akhirnya malah kayak gini. Kakak minta maaf dek..]


Alya diam sejenak, ia menghela nafas panjang.


“ya sudahlah kak gak perlu di sesali lagi, semuanya udah terlanjur. Sekarang kita jalani aja yang udah ada.”


[Kamu gak marah sama kakak?]


“marah mah pasti kak, tapi bukan karena masalah pernikahan ini tapi karena kakak gak pernah jujur sama aku. Soal hubungan kakak dengan Chandra dan soal kehamilan ini, itu yang buatku marah. Harusnya kakak bilang aja sama aku, biar nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama.”


[Maafkan kakak dek..]


“sudahlah kak lupakan saja, sekarang kita jalani aja peran baru kita sebagai seorang istri dari anak pengusaha besar. Pasti bebannya jauh lebih rumit lagi kan?”


[Kamu benar, karena cobaannya sangat besar. Hampir seluruh wanita yang ada di muka bumi ini mengidolakan Kevin dan mas Rafa, meski mereka bukan artis. Tapi.. apa kamu tidak menyesal?]


“menyesal kenapa?”


[Karena masalah kakak ini kamu jadi nikah muda.]


‘menyesal? tentu saja tidak, karena inilah impian terbesarku.’


“enggak kak, aku gak menyesal sama sekali.”


Hening sejenak.


[Kamu bisa kok minta pisah dari Kevin setelah kakak melahirkan nanti.]


DEG!


“pisah?”


[Iya. Kakak gak mau membuat hidupmu semakin berantakan karena menjalani pernikahan paksa ini, jadi sebelum semuanya terlanjur kamu bisa mempersiapkan diri dari sekarang.]


Alya menelan ludahnya, ia bingung harus berkata apa. Dalam hati ia tak mau pisah dari Kevin, tapi kenyataannya di antara mereka ada kontrak tertulis.


“ya meskipun ini pernikahan paksa, tapi gak semudah itu mengakhiri kak. Lagipula kami menikah belum ada seminggu, masa harus pisah?”


[Kakak gak bilang harus pisah sekarang dek, tapi nanti. Kakak hanya minta kamu siapkan diri, dan jaga hati kamu untuk tidak menyukai Kevin.]


“m-memangnya kenapa kalau nanti aku suka sama dia? Apa kakak akan melarang dan memisahkan kami?”


Jujur Alya takut ucapannya tadi akan terjadi, dia takut kakaknya akan memisahkannya dengan Kevin sebelum waktunya.


Selena menghela nafas.


[Iya, kakak akan memisahkan kalian.]


DEG!


Tubuh Alya seakan mematung di tempat, dan jantungnya berdebar tak karuan. Mengingat soal surat perjanjian itu saja ia sudah sedih, apalagi dengan kakaknya yang memintanya cerai dari Kevin setelah melahirkan. Rasanya setelah itu Alya tak sanggup lagi untuk bertahan hidup.


[Kecuali jika Kevin juga menyukaimu! Kakak gak mau kamu bertahan dengan laki-laki yang tak pernah mengharapkanmu, karena itu rasanya sakit. Kamu ngerti kan maksud kakak?]


“J-Jadi.. jika seandainya nanti kita saling menyukai, kakak gak akan memisahkan kami?”


Raut wajah Alya nampak sumringah setelah mendengar ucapan Selena, setidaknya dia ada harapan.


[Jelas enggaklah dek, kakak gak mungkin Setega itu. Kamu ini ada-ada deh..]


“siapa tau aja kak, aku kan cuma nanya.”


[Gaklah, eh Tapi kakak penasaran deh kenapa dulu waktu kakak suruh untuk menikah dengan Kevin kamu langsung nolak?]


Aly diam sejenak. “waktu itu aku hanya kaget aja kak, baru aja balik ke indo udah disuruh nikah aja. Ditambah dengar kabar kakak hamil.” elaknya.


Selena terkekeh.


[Benar juga ya, apalagi kamu harus nikah dengan pria yang sebelumnya belum kamu kenali, pasti itu sulit kamu terima.]


“gak apa-apa kak, mungkin ini sudah jalan takdirku.”


[Jadi gimana, kamu setuju gak?]


“terserah kakak saja itu mah, aku hanya bisa mendukung.”


[Ah.. jawabanmu sama aja kayak mas Rafa.]


“kakak udah bilang ke dia?”


[Iya. Sebelum kakak nelpon kamu, kakak udah obrolin dulu ke dia dan katanya terserah.]


“paman sama bibi dan kak Rendy udah belum?”


[Belum, mungkin besok.]


“ya udah gimana baiknya kakak aja, tapi menurutku lebih baik berhenti aja. Sekarang kan kakak lagi hamil dan aku gak mau kakak kecapekan, yang ada nanti bisa membahayakan kandungannya.”


[Iya dek, kakak juga berpikiran seperti itu. Rencananya juga setelah masa kontraknya abis, kakak akan tinggal di rumah mas Rafa yang ada di Busan.]


“oh ya, bagus itu. Biar kakak juga dekat dengan mama Risa dan kakek.”


[Iya dek, nanti kalau kalian ada waktu main kesini ya?]


“aku usahakan ya kak, untuk akhir-akhir ini kami sama-sama sibuk.”


[Iya dek, sebisa kalian saja. Udahan dulu ya..]


“iya kak, titip salam buat keluarga disana.”


[Pasti. Kirim balik juga ya..]


“hm..”


Setelah itu panggilan terputus, Alya menghela nafas panjang seraya menaruh ponselnya ke meja belajar.


“habis telpon siapa?”


Alya terlonjak kaget saat mendengar itu, dengan cepat ia menoleh ke asal suara dan dia melihat Kevin jalan mendekatinya.


“oh, tadi kak Lena nelpon nanyain kabar dan juga ngasih tau aku tentang rencananya yang mau Risen dari entertain.”


Kevin mengangkat sebelah alisnya saat mendengar itu. “keluar? Maksudnya berhenti?” Tanyanya.


Alya mengangguk.


“kenapa?” tanyanya lagi.


“katanya sih Lelah. Ya aku sih wajar soalnya kakak saat ini sedang hamil dan rentan capek, mungkin lebih tepatnya dia pengen istirahat dulu. Tapi.. gak tau deh.”


Kevin merespon ucapan Alya dengan manggut-manggut.


“ada apa kamu kemari?” tanya Alya.


“oh.. itu..” ucapan Kevin menggantung sambil garuk-garuk kepalanya.


“itu apa?”


“itu.. Emm.. kamu bisa gak masak jajanan Bandung?”


Alya mengernyit. “jajanan Bandung? Jajanan yang mana?”


“aku gak tau namanya apa, tapi yang pasti isinya sayuran, sosis sama kerupuk rebusan gitu dan kuahnya warna merah.”


Alya diam sambil berpikir.


“Ya udah deh kalau gak tau, aku cari di Google aja.”

__ADS_1


Kevin sudah siap berbalik badan, namun segera di tahan oleh Alya.


“eh tunggu dulu.”


“apa lagi?”


“emang buat siapa sih jajanannya? Kamu?”


“bukan, tapi buat Nana istrinya samuel. Kamu ingat kan sama cewek yang waktu di ruangannya, saat kamu suruh aku ke rumah sakit?”


Alya mengangguk.


“sekarang dia itu lagi hamil dan ngidam pengen makan jajanan itu, tapi hasil olahan kamu.”


“emang jenis jajanan kayak apa sih?”


“macam.. kayak bakso gitu tapi isinya yang tadi aku sebutin.”


“udah tanya sama dokter Samuelnya, apa namanya?”


Kevin menghela nafas. “masalahnya Samuel juga gak tau apa namanya, Nana hanya bilang pengen jajanan khas Bandung yang isinya sayuran, sosis sama kerupuk rebusan.”


‘isinya sayuran, sosis dsn kerupuk rebusan? kok bahan-bahan itu kayak mau buat seblak ya?’


“maksudmu seblak?” tebak Alya.


“aku gak tau.. Alya syaraswati..!!” geram Kevin.


Melihat suaminya tengah menahan kesal malah membuat Alya tersenyum, ia merasa lucu saja dengan ekspresi wajah kevin saat ini. Terlihat begitu menggemaskan.


“bukan apa-apa Vin, tapi bahan-bahan yang kamu maksudkan itu biasa buat bikin seblak, itu memang jajanan Bandung dan rasanya pedas.”


“benarkah? Kamu udah pernah bikin?” tanya Kevin dengan mata membola.


“pernah dulu, sama arina. ya udah kamu telpon lagi dokter Samuel, aku mau nanya langsung ke istrinya.”


“pake hp kamu ajalah, hpku tinggal di ruang kerja. Punya nomornya kan?”


Tanpa menunggu persetujuan dari Alya, Kevin langsung mengambil ponsel Alya dan mengotak-atiknya.


Tak membutuhkan waktu lama panggilan ke kontak Samuel langsung tersambung, Kevin langsung menyerahkannya ke Alya begitu suara berat Samuel terdengar.


Kevin hanya bisa menyimak saat Alya sibuk mengobrol dengan istrinya Samuel, dan tebakan Alya pun benar. Jajanan yang di maksudnya tadi adalah seblak, jajanan khas Bandung.


Tak lama setelah itu Alya memutuskan panggilannya, kemudian dia langsung menarik tangan Kevin untuk keluar dari kamar.


“kita harus belanja dulu bahan-bahannya Vin, karena di kulkas gak ada.” ucap Alya saat sudah tiba di dapur dan mengecek ke kulkas.


Kevin yang mendengar itu berdecak kesal, malas rasanya dia keluar. Apalagi malam-malam begini.


“aku bakal suruh Kenzo aja yang beli bahan-bahannya.” ucap Kevin.


“eh gak usah, kita aja yang beli. Ayok..”


“tapi aku males Al, badanku juga capek..” keluhnya sambil memukul-mukul pelan bahunya bergantian.


“ya udah kalau gitu biar aku sendiri aja, sini kunci mobilnya?” sahut Alya sambil menadahkan tangan ke hadapan Kevin.


“jangan gila kamu ya, mana mungkin aku ijinkan kamu nyetir sendiri. Malam-malam pula!” pekik Kevin dengan mata melotot.


Kevin tahu Alya bisa menyetir, karena dia pernah mengajarinya saat SMA dulu. Tapi bukan berarti dia akan membiarkan istrinya menyetir sendirian, apalagi dengan kakinya yang masih cedera.


“ya udah makanya, ayok..”


“ck! Nyebelin banget sih, orang lain yang ngidam, masa kita yang di buat repot!” gerutu Kevin.


“anggap aja pahala.”


“pahala apaan, bikin repot iya. Kenapa gak suruh suaminya aja sih yang bikin! Kan dia yang buat bunting?”


“udah jangan banyak ngedumel, ayo pergi! nanti keburu tokonya tutup.”


Alya langsung memutar paksa tubuh Kevin dan mendorongnya dengan kedua tangannya, dan Kevin hanya bisa pasrah saja.


...💐💐💐...


Kevin memarkirkan mobilnya di depan supermarket 24 jam, jaraknya memang sedikit jauh dari apartemennya dan memakan waktu hampir satu jam.


Entah sudah berapa kali ponsel Alya bergetar karena Samuel tak henti-hentinya menelponnya, menanyai apakah pesanan istrinya sudah jadi atau belum.


Sebenarnya ini adalah toko yang kesekian yang pasutri itu kunjungi, karena toko-toko sebelumnya sudah pada tutup. Dan sepanjang jalan tadi mulut Kevin tak henti-hentinya mengoceh, memaki sahabatnya yang sudah mengganggu waktu istirahatnya.


Alya melepas sabuk pengamannya yang melingkar di tubuhnya lalu siap membuka pintu, namun Kevin mencegahnya.


“pakai ini dulu, di luar dingin.” Ucapnya seraya memberikan hoodie-nya yang menggantung di jok belakang.


Alya menurut, ia pun meraihnya dan langsung memakainya. Bibirnya melengkung ke atas, saat hidungnya mencium aroma suaminya dari Hoodie tersebut. Setelah itu mereka benar-benar keluar dari mobil, dan jalan bersisian masuk toko.


Saat ini Alya tak memakai tongkatnya karena dia sudah meminum obatnya, maka kakinya tak merasa linu.


Begitu masuk Kevin langsung menarik troli besi, ia jalan di belakang Alya yang sedang memilih-milih bahan apa saja yang akan mereka beli.


Saat pasutri itu sibuk dengan belanjaan, dua pegawai wanita yang ada disana nampak berbisik-bisik sambil menatap mereka. Sepertinya mereka mengenali siapa Kevin dan Alya, dan tak menyangka bisa bertemu langsung dengan pasutri yang saat ini masih hangat di perbincangkan di dunia Maya itu.


“sudah semua?” tanya Kevin saat menyadari troli yang dia dorong sudah terisi banyak belanjaan.


Alya mengangguk. “kamu mau beli sesuatu?” tanyanya.


“gak!” jawab Kevin datar.


“tapi dapur kita bahan makanannya dikit lagi vin.”


“itu udah jadi tugas intan, dia udah biasa ngatur semua urusan dapur dan aku tinggal ngasih jatah uangnya saja.”


“oh, ya udah kita bayar sekarang.”


Tanpa kata Kevin langsung membawa trolinya ke kasir, dan si pegawai yang tadi bergosip pun dengan sigap langsung melayani. Namun di sela-sela kegiatannya itu, matanya curi-curi pandang ke Kevin dan Alya bergantian.


“nanti kita masaknya di rumah Sam aja, biar gak bolak-balik.” ucap Kevin, dan Alya mengangguk.


“semua totalnya 450 ribu pak.” ujar si pegawai.


Kevin langsung merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dompetnya, ia menarik kartu hitam dan memberikannya ke pegawai kasir.


Selesai dengan pembayaran, Kevin dan Alya bergegas keluar dari toko. Nampak sebelah tangan Kevin membawa kantong plastik berisi belanjaannya, dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Alya.


Sampai di mobil, Kevin memasukkan barang belanjaannya di pintu bagasi. baru setelah itu gantian dirinya ikutan masuk pintu depan, menyusul Alya yang sudah duduk manis di kursi sebelah.


Kini mobil mewah Kevin sudah jalan, membelah jalanan ibukota di malam hari. Suasananya masih terlihat ramai karena memang masih sore, dan sepanjang jalan tak henti-hentinya Alya melihat begitu banyak pasangan anak muda melintas dengan kendaraan motor.


Tok.. Tok.. Tok..


Alya terkejut saat mendengar suara itu, dan spontan ia menoleh ke arah suara. Ternyata asal suara itu dari kaca mobil samping Kevin duduk, Alya melihat ada seseorang memakai helm full face yang mengendarai motor gede tengah mengetuk-ngetuk kaca dan di belakangnya ada seorang wanita berpakaian seksi.


“hey, buka!” teriaknya.


Namun Kevin bergeming, wajahnya pun terlihat kesal.


Saat ini mereka sedang berhenti di jalan tol menunggu lampu hijau, namun tiba-tiba ada seseorang yang tak Alya kenali mengetuk mobil Kevin.


“hey, anak manja buka kacanya! Kalau enggak, gue pecahin nih!” serunya lagi dan kali ini bernada ancaman.


“vin, dia siapa?” tanya Alya.


Kevin menoleh sekilas ke arah Alya. “bukan siapa-siapa, hanya orang iseng!” jawabnya dengan ketus.


Tok.. Tok.. Tok..


Alya kembali di kejutkan dengan suara ketukan, namun kali ini bagian kaca sampingnya dan penampilannya pun tak kalah jauh dari orang yang mengetuk kaca sebelah kevin.

__ADS_1


__ADS_2