TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 88~I Love You


__ADS_3

“gue titip dia Ken, jaga baik-baik. Apapun permintaannya yang menurut Lo masih di batas wajar turutin aja.”


Pesan Kevin sebelum mengakhiri panggilannya, membuat Kenzo menghela nafas lelah.


Bukan hanya lelah badan, lelah lelah hati, maupun pikiran. Ia sadar betul jalan yang saat ini ia tempuh adalah salah, namun Kenzo tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa pasrah. Belum lagi dengan keberadaan Jeniffer di sampingnya, membuatnya harus sekuat baja.


Semenjak Kevin sudah menjabat menjadi CEO di kantornya, pekerjaan Kenzo semakin berat. Mungkin jika soal masalah kantornya saja dia masih bisa mengatasinya, tapi ia juga harus mengurus Jenifer.


Ah, cukup menyebutkan namanya saja sudah membuat kepala Kenzo pening. Wanita satu itu memang selalu merepotkan!


Bukan hanya sekali ini saja Kevin menitipkan sahabat wanitanya itu padanya, tapi sering! Ya, walaupun itu masih masalah pekerjaan. Tapi lain sisi ia juga tahu rencana wanita itu yang ingin mendekati Kevin, bisa dilihat dari gelagatnya. Apalagi setelah melihat tingkahnya waktu di restoran, membuat kecurigaannya semakin kuat.


Sepertinya kedepannya dia harus mempersiapkan diri, karena ia menyadari sekarang tuan mudanya itu mulai bucin dengan istrinya, dan itu artinya pekerjaannya semakin menumpuk. Di tambah dengan misi rahasianya yang harus melakukan sesuatu pada Pasutri itu, membuatnya harus pasang badan.


Pertanyaannya adalah, misi semacam apa yang Kenzo maksudkan sehingga ia berat melakukannya? Apakah Kenzo ingin menghianati Kevin?


Banyak yang mengatakan uang adalah segalanya, apapun bisa dilakukan jika uang sudah berbicara. Termasuk merubah watak seseorang yang dulunya baik, menjelma menjadi jahat.


Hal ini pula yang kini Kenzo lakukan, demi mendapatkan tumpukan kertas warna merah, Kenzo rela melakukan apapun. Termasuk menghianati tuan mudanya.


Jelas saja, dia melakukan itu bukan semata-mata demi materi. Kenzo adalah tipe pria yang pekerja keras, ditambah dia memiliki paras yang tampan dan otak yang cerdas. Tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan lain, Tapi karena ada hal lain, yaitu...


Drrttt..


Pandangan Kenzo beralih ke ponselnya yang sedari tadi ia pegang, pria itu mendesah pelan kala satu pesan masuk dari nomor asing.


{Saya harap kau bisa melakukannya dengan baik, jika tidak? Maka di hari itu juga kau akan mendengar kabar buruk tentang ayahmu. Saya juga tak akan segan-segan untuk menyetubuhi adik dan ibumu!}


Tanpa sadar tangannya mencengkram kuat ponselnya, ekspresi wajahnya tak terbaca. Namun yang pasti di iris matanya ada genangan air, yang jika sekali kedip akan meluap.


Saat ini ia sudah berada di dalam kamar hotel, duduk seorang diri di pinggiran kasur yang luas dan empuk. Kepala Kenzo menunduk seraya melemaskan tangannya, punggung lebarnya sedikit bergetar. Sejujurnya ia tak ingin menghianati tuan mudanya, biar bagaimanapun Kevin adalah sosok penyelamatnya kala dirinya dulu masih menganggur. Namun ia juga tak bisa menolak permintaan orang itu, ada 3 nyawa yang harus dia selamatkan.


...💐💐💐...


Masih di balkon, setelah percakapannya dengan Kenzo selesai, Kevin menelpon seseorang.


“bagaimana?” tanyanya.


[Tepat dengan dugaan anda tuan.]


Kevin berdecak, wajahnya berubah kaku dan sorot matanya menajam.


“ternyata dia belum berubah juga! Selain mereka, apa ada orang lain lagi yang terlibat?”


[Untuk saat ini tidak ada tuan, dan sepertinya dia melakukan itu juga karena terpaksa. Tuan pasti tahu kan?]


“jelas saja. Aku sudah mengenal dia luar dan dalam, makanya aku sempat tak percaya dengan informasimu itu. Tapi Ternyata.. ah..”


[Namanya juga manusia biasa tuan, polah pikirnya suka berubah-ubah. Tapi kalau pada dasarnya hatinya baik, maka dia akan cepat berhenti.]


“sayangnya dia tak bisa berhenti, karena.. ah, sudahlah! Lebih baik kau perketat pengawasan, kalau perlu tambahin mata-mata dan harus bisa pastikan dia tak bisa berbuat seenaknya. Setelah ini aku juga bakal kasih tahu bang Rafa dan Dylan, siapa tahu mereka bisa bantu.”


[Baik tuan.]


“oh iya, bagaimana dengan kondisi om Raka? Apa ada perkembangan?”


[Belum ada tuan.]


Mendengar itu Kevin menghela nafas, seraya mengusap wajahnya kasar.


[Eh, tapi tuan kemarin saya mendapat info dari dokter katanya ada seorang wanita yang ingin memaksa masuk ke ruang inap pak Raka.]


Kevin mengernyit. “Siapa?”


[Dokter sendiri tidak tahu namanya siapa, tapi dia wanita dewasa. Mungkin.. seumuran dengan nyonya Marissa. Dokter juga sempat bertanya-tanya padanya, namun wanita itu tidak menjawab. Dia hanya mengatakan ingin bertemu dengan pak Raka, tapi dokter tak mengijinkan.


Pas saya cek di cctv memang benar ada seorang wanita berpakaian sederhana dan tingginya semampai, namun saya tak bisa mengenali wajahnya karena dia memakai masker dan topi.]


“oke kalau gitu, kalau wanita itu datang lagi segera kabari aku. Siapa tahu dia anggota keluarga om Raka yang selama ini mencarinya.”


[Baik tuan.]


Setelah itu Kevin mengakhiri sambungan teleponnya, ia mendesah pelan. Tanpa kevin sadari jika di belakangnya sudah ada Alya memperhatikan, penampilannya terlihat segar dengan rambut panjangnya yang lembab, lengkap memakai baju tidur.


Sebenarnya Alya sudah selesai mandi semenit yang lalu, ia duduk di sisi ranjang seraya menunggu Kevin selesai bicara di telepon. Alya beranjak dari duduknya, ia jalan ke balkon dan menghampiri Kevin. Baru saja ia ingin memanggilnya, suaminya itu sudah menoleh ke belakang.


“sudah selesai mandinya?” tanyanya dengan suara lembut, seraya tangannya terulur ke arah sang istri.


Alya mengangguk, lalu meraih tangan besar Kevin dan menggenggamnya. Ia sedikit tersentak saat suaminya itu menariknya, dan membawanya ke dekapannya. Namun itu hanya bertahan sebentar, setelahnya ia tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kevin.

__ADS_1


Hangat dan nyaman, itulah yang selalu Alya rasakan setiap berada di dekapan pria itu. Kepalanya mendongak untuk bisa menatap wajah tampan suaminya dari jarak dekat, sedangkan si pemilik wajah menatap ke depan.


“tadi habis bahas apa sih, kok lama banget?” tanyanya.


Menurutnya waktunya di kamar mandi sangat lama, sekitar sejaman. Dia pikir setelah keluar Kevin sudah selesai dengan teleponnya, namun nyatanya tidak.


“bukan apa-apa, hanya masalah pekerjaan.” jawab Kevin bohong.


Tak mungkin ia berkata jujur, yang ada nanti menjadi beban pikiran istrinya. Kevin tahu betul Alya seperti apa, jadi dia lebih memilih berbohong.


“ada masalah?” tanya alya lagi.


“gak ada sayang, kenapa sih kamu nanya gitu?” ucap Kevin balik nanya, seraya menunduk.


Alya menggeleng. “pengen tau aja, soalnya.. kamu kelihatan stres.”


Mendengar itu Kevin bisu sejenak, kemudian tersenyum. “jangan terlalu di pikirin, semuanya baik-baik aja kok.”


“tapi---”


“gak apa-apa sayang, biar itu menjadi urusanku. Tugasmu cukup diam dan kuliah yang bener, okey?”


Meski penasaran, pada akhirnya Alya mengangguk. Dia lebih memilih menurut, ketimbang harus berdebat dengan suaminya.


Setelahnya mereka saling berpelukan, saling merapatkan diri dan menyalurkan kehangatan di tengah hembusan angin malam.


Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu hingga akhirnya Kevin mengurai pelukannya, sejenak menatap wajah sang istri, lalu menarik dagunya dan mencium bibirnya.


Alya yang tadinya kaget dengan perlakuan Kevin pada akhirnya terbuai, matanya tertutup rapat seraya membalas ciumannya. Kedua tangannya merangkak naik, hingga berakhir melingkar di belakang lehernya.


Dalam hitungan detik Pasutri itu sudah saling berciuman dengan mesra, dan kembali merapatkan diri. Melupakan keberadaannya saat ini berada di luar, yang bisa saja orang lain bisa melihatnya.


Semakin lama aksi ciuman itu semakin intens dan menuntut, beberapa kali Kevin menggerakkan kepalanya kanan kiri, bersamaan dengan suara decapan bibir dan Deru nafas yang mulai tak teratur.


sebelah tangan Kevin sudah berada di belakang leher Alya, menekannya dan memperdalam ciumannya. sementara tangan satunya lagi sudah menelusup masuk ke dalam bajunya. Mengusap punggung mulusnya dengan gerakan lembut, namun mampu membuat bulu halus istrinya meremang.


Beberapa menit setelahnya aksi ciuman itu berhenti, pasutri itu tengah menormalkan deru nafasnya yang memburu dengan kening keduanya saling menempel.


Alya terpekik kaget saat merasakan tubuhnya melayang, spontan ia mengeratkan pegangannya di leher Kevin saat suaminya itu menggendongnya ala koala, lalu membawanya masuk kamar dan berakhir merebahkannya di ranjang.


KLEK!


Mendadak Alya menahan nafas saat suaminya itu mematikan lampu utama, dan menyalakan lampu tidur. Setelah itu ia membuka semua kancing kemejanya, melepasnya dan melemparnya asal. Kemudian merangkak naik ke ranjang, dan menindih tubuhnya.


“tenang sayang, jangan takut. Ada aku disini.” Bisiknya, lalu mengecup pipinya.


Kevin memang tahu Alya sangat takut dengan gelap, makanya ia menyalakan lampu tidur. Sehingga membuat kamar itu temaram, ditambah disana sudah ada beberapa lilin aromaterapi yang berbaris rapi di atas meja panjang tak jauh dari ranjang, seakan memberi kesan romantis.


“aku merindukanmu..” Lirihnya, seraya bibirnya terus mengecupi pipi istrinya hingga menjalar ke rahangnya.


Perlahan-lahan rasa takut Alya terhadap gelap memudar, di gantikan oleh buaian akibat sentuhan hangat bibir kevin. matanya merem melek, menikmati kecupan demi kecupan yang Kevin lakukan di wajahnya. Ditambah dengan Aroma khas yang mengeruar dari tubuh suaminya, membuatnya ingin terus menghirupnya.


“emmhh.. aku juga merindukanmu. Tapi sekarang aku sedang datang bulan.” ucap Alya setengah mengerang, saat bibir suaminya itu mengecupi ceruk lehernya.


“aku tahu itu sayang. Tenang saja, aku tak akan melewati batas. kecuali.. ini.” balas Kevin dengan suara berat.


“Ahh!! Ssstt.. pelan-pelan.” pekik Alya tiba-tiba, saat satu tangan suaminya meremas kuat salah satu dadanya.


Bukannya merasa bersalah, Kevin malah terkekeh. “maaf sayang, habisnya gemes.”


“tap--emmhh.”


Terlambat! Bibirnya sudah terlanjur di bungkam oleh bibir suaminya, dan tubuhnya pun sudah terpenjara dalam kungkungannya. Kevin mencium dalam bibir Alya, sesekali menghisapnya atas bawah, lalu ********** habis. Ia seakan sedang Melampiaskan Kerinduan yang selama 3 bulan ini ia tahan.


Jika sebelumnya ia akan melakukannya secara diam-diam dan hati-hati, tidak dengan sekarang. Dia melakukannya dengan bebas, dan tentunya dalam keadaan istrinya sadar.


Bukan hanya kevin, Alya sendiri juga merindukan sentuhannya. Selama 3 bulan setelah kejadian malam pertama di mobil itu, Kevin mengabaikannya dan tak menganggapnya ada. Tanpa wanita itu ketahui jika selama itu kevin masih terus menyentuhnya secara diam-diam, meski hanya sekedar melakukan foreplay.


“i love you Alya, i love you so much!” racau Kevin saat ciumannya kembali turun ke leher, mencumbui bagian itu hingga meninggalkan tanda kepemilikan.


Sementara tangannya sudah aktif meremas bergantian dua gundukkan kenyal favoritnya, Kevin tak heran lagi begitu menyadari bagian atas tubuh istrinya tak memakai dalaman. Karena itu sudah kebiasaannya, bedanya sekarang Alya memakai cd karena sedang datang bulan.


“i love you to.” balas Alya dengan suara tertahan.


Kepalanya mendongak ke atas, memberi akses suaminya untuk terus mencumbui lehernya. Sementara kedua matanya terpejam, seakan menikmati sentuhan sang suami. Jemari lentiknya bermain di punggung polosnya, merabanya dengan lembut.


Puas di leher, kini kepala Kevin semakin turun. Bibirnya mengecupi tulang selangkanya, hingga semakin turun ke dadanya. Sejenak Ia menduselkan wajahnya disana, sebelum akhirnya jemarinya membuka satu persatu kancing bajunya. Ia menelan ludah saat melihat dua gundukkan Alya yang ranum, seakan memintanya untuk segera di jamah.


Meski sudah berulang kali ia melihat, bahkan merasakannya. Kevin selalu terpesona setiap melihatnya, libidonya langsung naik 2 kali lipat kala tangannya sudah menyentuhnya.

__ADS_1


“boleh ya sayang..” pintanya dengan suara serak.


“t-tapi aku lagi datang bulan vin.” balas Alya gugup. Ia merasakan sesuatu yang keras menimpa perut bawahnya.


“tidak sayang, bukan itu yang aku maksud. Kan aku sudah bilang, aku hanya pengen ini.” ucap Kevin, lalu pandangannya mengarah ke dadanya.


“boleh kan?” tanyanya lagi dan kembali menatap Alya.


“kalau kamu gak kuat gimana?” ragu Alya.


“akan aku selesaikan sendiri.”


Pada akhirnya Alya pun mengangguk setuju, tanpa membuang waktu lagi Kevin pun melakukan aksinya. Nampak, Alya menggigit bibir bawahnya seraya kedua tangannya meremas seprei saat suaminya mulai mencumbui aset berharganya.


Alya tak mampu menahan desahannya kala rasa geli itu menyerangnya, bahkan dia juga merasakan darah men-nya keluar deras, dan inti tubuhnya berdenyut.


Kini, Di kamar yang luas dan temaram itu hanya terdengar suara ******* dan erangan yang ditimbulkan oleh Alya. Ia seakan tak perduli jika ada orang lain mendengar suaranya, karena pintu balkonnya masih terbuka.


...💐💐💐...


“jadi sekarang mereka lagi ada di Bogor?” tanya kakek Rusman pada seseorang di sambungan telepon.


[Iya pak]


“ada urusan apa disana?”


[Kalau itu saya kurang tahu pak, tapi sepanjang saya mengawasi sepertinya Kevin ada proyek disini. Soalnya saya melihat dia mendatangi bangunan baru, semacam kayak mall gitu. Dan mungkin Alya ingin ikut, makanya dia bisa bersamanya.]


“apa hanya mereka berdua?”


“tidak pak, ada 2 perempuan muda berpenampilan orang kantoran dan 1 laki-laki berpakaian jas. 3 laki-laki lainnya berpenampilan bodyguard.”


Kakek Rusman yang mendengar itu manggut-manggut mengerti. Ia lega, karena cucu menantunya itu semakin memperketat penjagaan.


Semenjak kakek Rusman mengetahui istri Kevin adalah cucunya, ia sering menyuruh anak buahnya untuk memantau kegiatan mereka. Sehingga ia bisa tahu perkembangan mereka, tanpa harus keluar rumah. Kendati begitu, kakek Rusman tetap merasa cemas karena kini Bobby mulai curiga padanya. Meski putra sulungnya itu tak pernah menunjukkannya secara nyata, namun ia tahu pria itu diam-diam memperhatikannya.


“ya sudah biarkan saja, jangan di ikuti lagi. Aku yakin cucuku akan aman sama suaminya. Terlebih mereka membawa bodyguard.”


[Apa.. bapak yakin nona Alya akan aman disana? Bapak tahu kan kalau hotel dimana saat ini mereka menginap itu milik--]


“ya, aku tahu. Tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa, karena mereka belum tahu tentangku. Lagipula ini kejadiannya sudah lama, dan mereka semua sudah tertangkap.”


[Meski pelaku utamanya sudah di hukum mati, tapi disana masih ada keluarganya pak. Dan menurut info yang saya dapat, hotel itu sudah di pegang penuh oleh anaknya.]


Kakek Rusman yang mendengar itu menghela nafas berat, sebenarnya hatinya juga merasa was-was tentang keberadaan mereka disana. Terlebih lokasinya sangat dekat dengan keberadaan orang yang selama ini ia hindari, orang yang sedari dulu ingin melenyapkan semua keturunannya. Sama seperti mereka melenyapkan Ferdinan.


Sebenarnya itu hanya dugaannya saja, karena tak ada bukti apapun mengarah kesana. namun ia merasa kecelakaan yang di alami Ferdinan dan Vanessa sangat janggal, Meski pihak polisi sudah menyatakan itu hanyalah kecelakaan lalu lintas biasa, tapi fellingnya seakan tak mempercayai itu.


Dan.. mungkin ini juga menjadi alasan utama kenapa Ferdinan memilih menitipkan kedua cucunya ke adinata, dan menyuruhnya untuk pergi sejauh mungkin. Agar tak ada seorang pun yang bisa mendeteksi keberadaannya, termasuk juga dirinya.


“selama ini aku sudah menilai cara kevin memperlakukannya seperti apa, jadi aku sangat yakin Alya akan aman jika bersamanya.”


[Baiklah pak jika itu sudah menjadi keputusan anda, saya akan turuti. Lalu.. bagaimana dengan masalah Hesti pak, apa bapak tak ingin mengusutnya?]


“tidak! Aku sudah tidak ingin tahu dengan masalah si pelacur itu, apalagi soal anaknya. Dia masih berada di rumah sakit jiwa kan?”


[Iya pak]


“bagus. Selama dia masih disana dan dalam keadaan yang sama, maka semuanya akan aman.”


[Lalu Bagaimana dengan anaknya pak? Biar bagaimanapun dia tak salah sama sekali.]


“kau benar. Tapi apa dikata, semuanya sudah terjadi. Lagipula kita tidak tahu keberadaan dia sekarang dimana, masih hidup atau ikut mati bersama para penjahat yang telah membawanya.”


[Sepertinya ada kemungkinan besar anak Hesti itu selamat pak, karena saat mereka tertangkap tak ada dia disana.]


“mungkin saja begitu, tapi bisa juga sebelumnya mereka sudah membunuhnya atau di buang ke suatu tempat. Sudahlah soal Hesti tak perlu di bahas lagi, aku benar-benar tak ingin mengingatnya.”


[Baik pak]


Setelah itu panggilan pun berakhir, kakek Rusman menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba saja Kilasan kelam itu muncul, bayangan aksi penembakan, baku hantam, serta tangisan bayi membuat kakek Rusman langsung membuka matanya.


Saat ini ia sedang duduk di kursi busa yang ada di balkon kamarnya, di depannya sudah ada secangkir kopi hangat yang sempat di antar menantunya sebelum tidur.


Jarum jam di dinding sudah mengarah ke angka 8 malam, suasana di sana pun sudah sepi. Selesai makan malam tadi kakek Rusman langsung masuk kamar begitu menerima panggilan dari anak buahnya yang ia tugaskan memantau Alya, namun sebelum itu ia meminta Sarah untuk membuatkan kopi.


Permasalahan di masa lalu sebenarnya belum sepenuhnya selesai, namun kakek Rusman memilih mundur. Dalam pikirannya, ia hanya ingin hidup tenang di masa tuanya tanpa ada rasa dendam apapun. Namun nyatanya tak sesimple itu, kakek Rusman tak pernah bisa melepaskannya begitu saja. Yang namanya masalah tetap saja masalah, mau serumit apapun itu harus bisa di atasi. Meski nyawa menjadi taruhannya.


Masa itu, kakek Rusman tak memikirkan timbal balik dari perbuatannya. Pikirannya hanya tentang keselamatan dirinya saja, tanpa ia sadari jika di hidup ini ada hukum karma.

__ADS_1


Dan.. inilah yang terjadi, hanya demi kenikmatan sesaat ia rela masuk ke dunia hitam. Dunia yang penuh akan bahaya, dan tantangan sehingga berimbas merenggut keselamatan orang-orang terdekatnya.


‘tuhan.. tolong jagalah cucu-cucku.’ Lirihnya dalam hati.


__ADS_2