TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 90~Like Boss Like Assisten!


__ADS_3

Alya sudah menyelesaikan acara mandinya yang cukup mendebarkan, di karenakan ada sepasang mata bulat yang terus mengawasi gerak-geriknya.


Bayangkan saja, dari dia gosok gigi, cuci muka hingga saat ia ingin melepaskan bekas pembalutnya, Kevin selalu menatapnya. Tak sedetikpun pria itu alihkan pandangannya, dan itu sangat membuatnya risih. Entah sudah berapa kali Alya memperingatinya untuk berhenti menatapnya, namun pria itu selalu berkata.


“aku hanya sedang menjalankan peranku sebagai suami, yaitu menjaga istrinya dari bahaya.”


Yah, mungkin bisa dikatakan itu adalah benar. Kevin sedang menjaganya, karena biar bagaimanapun kondisi kakinya belum sepenuhnya sembuh meski sudah tak memakai alat bantu. Ditambah saat ini dirinya berada di tempat basah, Namun tetap saja wanita itu merasa malu karena aktivitas pribadinya di awasi.


Dan sekarang alya merasa sangat lega karena bisa bebas dari pengawasan sang suami, ia keluar dari kamar mandi dengan keadaan memakai piyama handuk. Rambut panjangnya di cebol hingga ke atas, dan hanya menyisakan beberapa anak rambut di bagian belakang kepala dan keningnya.


Sementara itu Kevin masih di dalam, dan tentunya suaminya itu sekarang sudah keluar dari tempat berendamnya menuju ruang shower untuk membilas tubuhnya.


Alya jalan menuju sofa, sebelah tangannya meraih paperbag yang tergeletak di meja kecil yang ada disana. Mengambil beberapa helai pakaian, lalu mulai memakainya. Untungnya dia sudah memakai pakaian dalam, dan mengganti pembalutnya waktu di kamar mandi.


Selesai dengan pakaian, Alya mulai merapikan rambutnya dengan sisir yang semalam ia beli. Tak hanya itu, Alya juga sempat membeli beberapa produk makeup dan parfum yang biasa ia pakai. Karena bagi seorang wanita rasanya aneh sekali pergi ke luar kota tanpa membawa alat tempurnya itu, tak berbeda jauh dengan Alya.


Meski Kevin tak pernah protes dengan penampilannya, bahkan cenderung lebih menyukai penampilannya yang polos. Tetap saja bagi Alya itu kurang, ditambah dengan statusnya sebagai seorang istri dari pewaris dirgantara. Apa kata orang lain nanti melihatnya buluk, sedangkan si suami glowing. Yang ada akan semakin banyak pelakor yang bermunculan, walaupun ia sudah tahu Kevin takkan mudah berpaling.


“aduh, aku lupa beli kaca lagi! Ini gimana mau dandan coba, kalau gak ada kaca?” gerutunya, seraya mengorek-ngorek isi paperbag dan tas Selempangnya.


“gak mungkin juga aku kembali masuk ke kamar mandi, Kevin sekarang pasti lagi mandi.” gumamnya.


Karena tak menemukan benda yang di maksud, dan dia juga menolak untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi. pada akhirnya Alya memakai kamera hp sebagai pengganti cermin, namun sayangnya ia malah mengambil hp suaminya.


Alya tak menyadari itu karena model dan warna ponsel itu sama dengan miliknya, ditambah dengan layarnya tak terkunci. Bukan sengaja tapi memang waktu kevin membelinya asal pilih saja, dan tak memperhatikan jika ponsel yang ia pilih setara dengan miliknya.


Gadis itu baru tahu dan terkejut saat melihat layar hp yang dia ambil bukanlah miliknya, karena wallpapernya berbeda. Namun detik berikutnya ia terlihat kembali biasa, dan melanjutkan rencananya tadi. Toh dia cuma pengen bercermin saja, bukan untuk mengecek isi ponsel suaminya. Setelah itu Alya pun mulai ritual dandannya, sembari menunggu Kevin keluar.


Namun tiba-tiba...


GLEDUG!


PYAAR!!


WUUSSS!!


mata Alya langsung melirik ke jendela, ia mendesah pelan saat hawa panas berubah dingin dan tak lama setelahnya hujan turun dengan derasnya. Ditambah dengan suara gemuruh dan petir menyambar, meski tak terlalu besar namun membuat rasa traumanya timbul.


Dengan suasana hati yang buruk dan tubuhnya sedikit gemetar, Alya kembali berdiri, kemudian jalan ke arah jendela. Niatnya tadi ingin menarik hordeng dan menutup pintu balkon, namun baru saja beberapa langkahnya itu langsung berhenti kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosok suaminya keluar terburu-buru dengan keadaan memakai handuk hanya sebatas bawah pusarnya saja.


Pria itu jalan ke pintu balkon, menutupnya rapat lalu berlari ke sudut ruangan. Jemarinya nampak menarik sesuatu di pojok jendela, dan secara otomatis semua gorden itu bergerak untuk menutupi semua jendela. Hal itu tentu saja membuat kamar menjadi gelap, namun dengan gerakan cepat Kevin menekan sakral lampu dan kamar itu pun kembali terang benderang.


“kevin.” panggil Alya yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah suaminya.


Mendengar itu Kevin langsung menoleh, wajah dan rambutnya masih sangat basah. Begitu pun dengan tubuhnya, yang penuh dengan tetesan air. Bergegas ia pun jalan cepat ke arah istrinya, lalu membawanya ke sofa dan duduk disana.


“maaf sayang, semalam aku lupa menutupnya.” ucapnya, seraya duduk berlutut di depan alya. Kedua tangannya yang basah nampak menggenggam tangan istrinya, seraya menatapnya penuh penyesalan.


“udah selesai mandinya?” tanya alya.


Kevin menggeleng.


“terus kenapa udah keluar?” tanya Alya lagi.


“tadi aku sempat dengar gemuruh, dan aku baru ingat pintu balkon dan jendelanya masih terbuka. Makanya aku langsung ambil handuk dan keluar, takut kalau gak langsung di tutup trauma kamu bisa kambuh.”


apa yang dikatakan Kevin itu benar adanya, dia memang mendengar gemuruh meski hanya samar-samar. Lalu dia ingat dengan trauma Alya, makanya tanpa basa-basi lagi dia keluar.


“kamu gak apa-apa kan?” tanya Kevin, seraya tangan dinginnya menyentuh sisi wajah istrinya.


Alya menggeleng, seraya tersenyum menenangkan. Karena saat ini ia melihat raut wajah suaminya yang nampak khawatir, jadi dia pun harus terlihat tenang dan baik-baik saja. Meski tak dipungkiri trauma itu sempat datang, namun setelah melihat kekhawatiran Kevin membuatnya sedikit lega.


“gak apa-apa, udah sana lanjutkan lagi mandinya.”


“beneran gak apa-apa? Wajahmu pucat loh, dan tubuh kamu juga gemetaran. aku panggil dokter aja ya?”


“gak perlu. Seriusan aku udah gak apa-apa kok, palingan bentar lagi juga udah kembali biasa.”


“tap--”


“sudah sana, kalau kelamaan nanti kamu bisa masuk angin.” potong Alya.


Kevin menghela nafas sejenak, lalu mengangguk setuju. ia pun bangkit dari posisinya, dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Alya pun kembali melanjutkan acara dandannya.


...💐💐💐...


Sementara itu ditempat berbeda, lebih tepatnya di sebuah restoran yang ada di pusat kota ada 3 orang sedang menikmati sarapannya.


Salah satu dari mereka ada sosok pria tampan bertubuh kurus dan memakai pakaian casual, rambut tebalnya yang selama ini selalu di buat klimis, kini dibiarkan berantakan. namun itu tak membuat ketampanannya tertutupi, bahkan sekarang berlipat ganda. Semua wanita yang melihat penampilannya saat ini pasti akan terkesima, termasuk dengan dua wanita yang ada di depannya. Namun sayangnya itu tak bertahan lama, begitu sikapnya yang ketus dan dingin. Siapa lagi coba, jika bukan Kenzo.


‘like boss like asisten!’ rutuk Jeniffer dalam hati, seraya menatap sinis wajah kenzo.


Jeniffer tak memungkiri jika paras Kenzo memang menawan, berkulit putih, tatapan matanya yang tajam, alis tebal, hidung mancung serta bentukan bibirnya yang ranum membuat siapa saja pasti akan terpesona. Termasuk dirinya. meski bentuk tubuhnya bisa terbilang kecil, namun pria itu memiliki postur tubuh tinggi.


Namun perlu di catat, dia hanya sekedar terpesona. Bukan berarti menyukai, apalagi sampai cinta.


Big No!


Karena hatinya sudah terpenuhi oleh bayang-bayang Kevin, dan itu sudah tertanam sejak lama. Tapi sungguh sayang, pria yang dicintainya tak pernah menyadari itu dan malah memilih ke lain hati.


Sungguh Miris!


Sementara itu Kenzo nampak menunduk, sambil menikmati makanannya. Sesekali pandangannya melirik ke arah jendela, yang memperlihatkan jalanan yang selalu ramai oleh kendaraan.


“jen, setelah ini kita akan langsung balik ke Jakarta kan?” tanya Amara tiba-tiba, dan hal itu mampu mengalihkan perhatian Jenifer dari kenzo.


“ck! Semalam kan sudah ku bilang, kalau selama wekkend aku akan berlibur kesini.” jawab Jenifer dengan ketus.

__ADS_1


“jadi kamu seriusan mau liburan disini, memangnya kamu tahu tempat apa saja yang bagus?” tanya Amara lagi.


Sejenak Jeniffer diam, seraya kembali menatap ke arah Kenzo, kemudian tersenyum smirk. “tak perlu mencari, kan pemandunya ada di depan kita.”


“hah! Maksudmu siapa?”


Jeniffer tak bersuara, dia hanya memberi kode lewat dagunya mengarah ke Kenzo. Dan Amara pun mengikutinya.


“kenzo?”


Mendengar namanya disebut membuatnya langsung mengangkat pandangannya, gerakan mulutnya yang sedang mengunyah pun otomatis berhenti.


“Lo pasti sudah sering di ajak jalan-jalan oleh Kevin ke kota ini kan, pasti Lo juga udah tahu seluk beluknya.” ucap Jeniffer.


“ah.. iya benar juga! Ken, setelah ini bawa kami ketempat wisata yang paling bagus ya.” ujar Amara dengan antusias.


“Gak!” jawab Kenzo ketus, lalu kembali melanjutkan makan.


“hey, ayolah. Bantu Jeniffer, dia belum pernah liburan disini.”


“kan ada kau!”


“Masalahnya aku belum terlalu hafal sama tempat-tempatnya, terakhir liburan disini pas waktu SMA aja. Memangnya kamu gak takut apa kalau kami kesasar, dan berakhir diculik?”


Kenzo kembali mengangkat pandangannya, lalu tersenyum smirk. “itu jauh lebih bagus, jadi saya tidak perlu repot-repot buat ngurus kalian!”


“dih, jahat banget jadi orang. Gak ada rasa perikemanusiaan sama sekali!” cetus Amara, seraya menatap sinis wajah kenzo.


Jeniffer yang mendengar ucapan Kenzo pun merasa jengkel, ia tak menyangka ternyata ada laki-laki yang lebih cuek dari Kevin. Dan lebih menjengkelkannya lagi, Kevin malah memasrahkan dirinya dan Amara ke laki-laki itu.


“kalau Lo gak mau temenin kita jalan-jalan, gue akan lapor ke Kevin kalau Lo udah nelantarin kami!”


Ancaman Jenifer terdengar tak main-main, dan itu sukses membuat perhatian Kenzo beralih sepenuhnya padanya. Ia tersenyum mengejek saat menyadari arti tatapan pria itu yang kesal, meyakini jika setelah ini Kenzo pasti tak akan berani menolak lagi.


Kenzo mendengus kasar sebelum akhirnya bersuara. “terserah!”


Senyum kemenangan pun terbit di wajah imut Jeniffer, begitupun dengan Amara yang terlihat sangat bahagia karena bisa liburan di kota yang terkenal dengan kota hujan itu.


Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan sarapannya, di selingi dengan obrolan ringan. Namun sayangnya itu berlaku untuk Jenifer dan Amara saja, sedangkan Kenzo hanya menyimak.


Drrttt..


Tak berselang lama terdengar suara getaran, dan itu berasal dari saku celana milik Kenzo. Segera ia pun merogohnya dan meraih benda pipih tersebut, setelahnya ******* pelan keluar dari bibirnya begitu melihat siapa yang menghubunginya.


“ya.” ucap Kenzo begitu panggilannya sudah tersambung.


entah bicara apa saja orang yang menghubunginya, namun dari mimik wajahnya ada sesuatu hal buruk yang sudah terjadi. Dan tanpa Kenzo ketahui jika Jeniffer melihat itu, kening mulusnya berkerut saat menyadari ada perubahan dari wajah Kenzo.


Wanita mulai kepo, apa hal yang membuat Kenzo seperti itu. Namun setelahnya dia malah membuang pikiran itu, dan meyakinkan diri sendiri untuk tidak perduli.


Setelahnya sambungan telepon itu pun Berakhir, dengan lesu ia kembali menyimpan ponselnya ke tempat semula.


“apa kalian masih lama?” tanya Kenzo, seraya menatap bergantian dua wanita yang ada di depannya.


“masihlah, kamu gak lihat makanan kami belum habis?” jawab Amara.


“oke kalau begitu.” balas Kenzo, lalu beranjak bangun dari kursinya.


“kau mau kemana?” kali ini Jeniffer yang bertanya.


Kenzo tak langsung menjawab, pandangannya melirik ke arah lain.


“saya ada urusan sebentar, kalian disini saja. Nanti saya akan balik lagi.” jawab Kenzo, lalu melangkah pergi.


Grep!


Namun sayangnya langkahnya terhenti begitu lengannya di cekal oleh jeniffer, membuat Kenzo mengalihkan perhatiannya pada wanita itu.


“jangan bilang Lo mau kabur?” tuduh Jeniffer.


“tidak.” elak Kenzo.


“gue gak percaya. Sekarang Lo kembali duduk!”


“ck! Saya tidak akan kabur, saya hanya ingin pergi sebentar. Ada urusan mendesak! Sudahlah, lepaskan saya!”


“gak ada! Lo gak boleh pergi kemana-mana, tanpa kami. Atau mau gue laporin ke Kevin sekarang juga?”


Mendengar itu membuat kekesalan Kenzo terhadap Jeniffer semakin meluap, namun ia tak bisa melampiaskan itu. Pada akhirnya dia hanya menyentak nafas kasar, dan memilih menurut. Dalam pikirannya nanti akan semakin rumit jika tuan mudanya itu mengetahui tingkahnya yang ingin meninggalkan temannya, meskipun itu hanya sebentar.


“kenapa sih tuan muda memiliki teman wanita menyebalkan seperti anda?” tanya Kenzo dengan nada tertahan, kini ia sudah kembali duduk di kursinya seraya menatap wanita itu tajam.


Jeniffer yang mendengar itu mendengus sebal, namun ia tak buka suara dan memilih melanjutkan makan.


Amara yang melihat adegan itu nampak menahan senyum, entah kenapa pikirannya mengatakan jika Jeniffer akan cocok jika memiliki pasangan hidup seperti Kenzo.


‘apa gue harus minta bantuan pada pak Kevin buat menjodohkan mereka berdua? kayaknya pak nattan juga tak keberatan jika harus punya menantu seperti kenzo.’


...💐💐💐...


Di kediaman keluarga dirgantara yang ada di Busan, nampak Selena tengah menuruni anak tangga. Penampilan wanita yang sedang hamil tua itu begitu rapi, wajahnya pun sudah dihiasi oleh makeup tipis dan sebelah tangannya sudah membawa tas Selempangnya.


Begitu sudah sampai di lantai dasar, Selena celingukan ke arah sekitar. Jika dipagi hari rumah itu memang selalu sepi, karena sebagian penghuninya sedang sibuk dengan urusan masing-masing, hanya ada beberapa pelayan yang mondar-mandir mengerjakan pekerjaannya.


Tak jauh dari posisinya, nampak pintu kamar kakek Fandy terbuka dan menampakkan si pemilik yang duduk di kursi rodanya. Dibelakangnya sudah ada suster Hana, kedua tangannya sudah menyentuh gagang penyangga kursi rodanya di bagian belakang. Pandangan kakek Fandy begitu intens, menatap penampilan cucu menantunya itu yang posisinya membelakanginya, lalu ia pun menyuruh perawatnya untuk mendekati Selena.


“kamu mau kemana Selena?” tanyanya, setelah sudah berada di sampingnya.

__ADS_1


Selena yang mendengar itu tentu saja kaget, ia pun menoleh dan tersenyum saat melihat sosok kakek Fandy.


“aku mau pergi keluar sebentar kek, tapi aku belum ijin sama mas rafa.” jawabnya.


“pergi kemana dan sama siapa? Usahakan kamu jangan pergi sendiri ya nak, kakek takut terjadi apa-apa sama kalian.” ucap kakek Fandy penuh kekhawatiran.


Semenjak mengetahui fakta tentang pernikahan diam-diamnya Kevin dan Alya, dan soal hubungan keduanya membuatnya selalu dilanda ketakutan. Kakek Fandy takut jika putranya akan kembali berbuat ulah, dan akan mencelakai gadis malang itu.


Tak pernah terpikirkan sebelumnya jika penyebab sakitnya cucu bungsunya 2 tahun lalu itu berawal dari ayah kandungnya sendiri, entah apa yang dipikirkan aji sehingga tega memisahkan 2 manusia yang saling Mencintai. Dia pikir dulu Kevin seperti itu mutlak karena kekasihnya itu menghianatinya, namun ternyata putranyalah dalang dari ini semua.


“enggak kok kek, aku bakal pergi sama Hani. Semalam udah janjian mau pergi belanja bareng, sekalian aku juga mau beli keperluan pribadi.”


Kakek Fandy yang mendengar itu manggut-manggut. “terus sekarang dimana haninya, apa dia belum datang?” tanyanya kemudian.


“udah ada di jalan.” jawab Selena.


“ya sudah kalian hati-hati aja ya, kalau bisa ajak aja Rafael buat nemenin kamu. Mumpung wekkend, kakek mau ke taman belakang dulu.”


Selena mengangguk. “iya kek.”


Setelah itu kakek Fandy menyeluruh perawatannya untuk berputar arah, menuju lorong dimana akan membawanya ke taman belakang rumahnya.


Sedangkan Selena kembali celingukan, seraya melangkah untuk mencari keberadaan suaminya. Entah pergi kemana suaminya itu, usai sarapan tadi Rafael sudah menghilang.


“mas, mas Rafa? Kamu dimana mas?” Selena berteriak sambil memanggil suaminya, namun tak kunjung ada jawaban.


“MAS!”


tetap saja senyap.


‘dia pergi kemana sih? mau nelpon juga tadi aku lihat kedua ponselnya ada di kamar!’ batinnya menggerutu.


Selena terus melangkah, sambil kepalanya celingukan. Bibirnya juga tak henti-hentinya berteriak memanggil suaminya, namun kunjung ada sahutan.


Hal itu membuat menarik perhatian beberapa pelayan yang mendengar dan melihat tingkah selena, hingga ada seorang pelayan datang menghampirinya.


“tuan muda sedang ada di depan nona, bersama tuan haris dan tuan Edwin.” ucapnya memberitahu, seraya menunduk.


Mendengar nama Haris di sebutkan membuat Selena mengernyit. “om Haris ada disini, sejak kapan?” tanyanya kemudian.


“kalau itu saya kurang tahu nona, tapi sepertinya belum lama.” jawab si pelayan.


“oh ya sudah terima kasih ya, aku mau ke depan dulu.” balas Selena seraya tersenyum, lalu berlenggang pergi.


Selepas Selena pergi, pelayan tadi juga ikutan pergi dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sedangkan Selena kini sudah berada di ruang tengah, namun ia sudah merasa lelah. Tak heran, selain karena kehamilannya yang membuatnya cepat lelah, rumah tersebut juga sangat luas. Jarak dari ruang tamu ke ruang tengah saja sangat jauh, mungkin jika diperkirakan ada 8 meter.


Kini ia sudah sampai diruang tamu, langkahnya di percepat menuju pintu utama yang sudah terbuka sedikit. Ia mendesah lega karena akhirnya menemukan keberadaan suaminya, dan benar kata pelayan tadi. Disana sudah ada Haris dan Edwin, ketiga pria dewasa itu duduk di kursi kayu yang ada di teras. Di depannya sudah ada meja bundar yang di isi tiga cangkir kopi, dan dua toples bening berisi makanan kering.


“Mas!” panggil Selena dengan nafas tersendat.


Rafael yang mendengar itu langsung menoleh ke belakang, wajahnya yang tadinya santai kini berubah pias setelah melihat ekpresi wajah Selena yang kelelahan. Bergegas ia pun berdiri, dan jalan cepat ke arahnya.


“kamu kenapa?” tanyanya.


“aku lelah.” jawab Selena apa adanya.


Rafael mengernyit. “memangnya kamu habis ngapain sampai lelah begitu?”


“aku tuh daritadi nyariin kamu mas, tapi gak ketemu-ketemu. Selesai sarapan kamu langsung hilang, nyatanya malah disini.”


Begitu mendengar ucapan Selena Bukannya merasa bersalah, Rafael malah terkekeh. “maaf Len, tadi habis sarapan aku pergi ke kebun depan. Mau ngecek ikan hias sekalian mau ambil buah stroberi yang sudah panen banyak, gak taunya om Haris dan Edwin datang. Kami ngobrol panjang, sampai lupa waktu.”


“kebiasaan kamu mah.” keluh Selena.


“maaf..”


Edwin dan haris yang mendengar percakapan pasutri itu tertawa pelan, kedua pria itu sudah tidak aneh lagi dengan sifat Rafael yang suka lupa waktu jika sudah membahas sesuatu. Terlebih yang mereka bahas itu tentang pekerjaan.


“marahin aja Len, bos memang suka gitu. Pelupa! Untungnya sama istrinya gak lupa.” celetuk Edwin, seraya menahan senyum.


“kalau dia beneran lupa, alamat gak bakal dikasih jatah!” balas Haris.


Kemudian kedua pria itu tertawa lepas, merasa puas setelah melihat raut wajah Rafael yang seperti menahan kesal. Sedangkan Selena hanya menghela nafas.


“mas, hari ini aku minta ijin ya sama kamu untuk pergi keluar sama hani.” ucap Selena, dan itu mampu mengalihkan perhatian suaminya padanya.


“kemana?”


“ke pusat perbelanjaan, gak jauh kok dari rumah. Sekalian aku juga mau beli keperluan pribadiku, tinggal dikit soalnya.”


Rafael mengangguk. “iya boleh, tapi maaf aku gak bisa nemenin. Ada urusan penting yang harus aku bahas dengan Edwin dan om haris.”


“iya gak apa-apa kok, nanti Hani kesini juga sama suaminya kok. Jadi mas gak usah khawatir.”


Tin!.. Tin!..


Tak lama setelah itu terdengar suara klakson dari arah luar pagar, seorang pengawal segera berlari menuju pagar, dan membukanya. Nampaklah sebuah mobil mewah warna merah marron mulai memasuki halaman rumah, dan berhenti tepat di depan teras.


“mas, mereka udah datang. Aku pergi dulu.” pamitnya, seraya menyentuh lengan sang suami.


Rafael mengangguk. “hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin.”


“iya mas.”


Lalu pandangan Selena mengarah ke Haris dan Edwin, dan mengangguk seraya berpamitan. Baru setelah itu ia beranjak pergi, dan masuk mobil.

__ADS_1


__ADS_2