
Siang hari Di kediaman keluarga Mahendra, nampak kakek Rusman sedang duduk santai di teras samping rumahnya sambil membaca koran. Seperti biasa dia selalu di temani oleh jaya, bodyguardnya.
Keadaan rumah saat itu sepi, Sarah sedang pergi arisan bersama teman-teman sosialitanya. Sementara Andreas pergi ke kampus, dan Bobby? Tentu saja ada di kantor.
Setelah sesaat yang lalu kakek Rusman memberi makan siang pada burung-burung peliharaannya, kini dia bisa bersantai.
Biasanya jika jam segini kakek Rusman suka tidur siang, namun entah kenapa dia tak merasa ngantuk sama sekali. Padahal semalam dia sempat begadang nonton bola bersama Andreas sampai pagi, dan dia baru tidur saat sudah terdengar adzan subuh.
Tring!
Terdengar notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang dia letakkan di meja kecil sampingnya, di layar datar itu terpampang ada nama Adnan sebagai pemilik kontak.
Kakek Rusman segera melipat korannya, lalu meraih ponselnya. Dia perlu memakai kacamata baca yang selalu dia kalungkan ke lehernya, wajar saja matanya sudah rabun karena faktor usia sehingga dia perlu kacamata itu untuk bisa membaca tulisan yang ada di dalam ponselnya.
Dalam pesan itu Adnan menuliskan untuk mengajaknya bertemu, dia ingin membicarakan soal informasi tentang kedua cucunya.
Tanpa ragu lagi kakek Rusman mengiyakannya, dan dia menyuruhnya untuk datang ke restoran langganannya.
...💐💐💐...
“pak, saya sudah menemukan kedua cucu Anda.” ucap Adnan.
Kakek Rusman yang mendengar itu tersenyum senang.
“benarkah? Kau tidak bohong kan?” tanyanya dengan rasa tak percaya.
“tidak pak, saya serius. Kedua cucu Anda memang sudah saya temukan dan keadaannya baik-baik saja, mereka juga sudah menikah!”
Lalu Adnan memberikan 2 lembar foto wanita ke hadapan kakek Rusman, seketika mata pria tua itu membola saat melihat foto-foto tersebut.
“ya tuhan.. ternyata mereka..”
“sesuai dengan kecurigaan anda pak, Selena Kharisma Putri yang dikabarkan menikah dengan anak sulung keluarga dirgantara adalah cucu Anda. Menurut info dari rumah sakit yang sama, Selena pernah memeriksakan diri ke dokter kandungan bersama Yuna, istrinya adinata.”
“Selena sudah hamil?” kaget kakek Rusman.
Adnan mengangguk. “sudah pak, usia kandungannya saat ini sudah 3 bulan. Sebelum pernikahan itu terjadi, Selena sudah berbadan dua.”
“itu Berarti sebentar lagi aku akan memiliki cicit?”
Kakek Rusman tidak perduli dengan masalah awal kenapa Selena bisa hamil duluan, yang penting saat ini dirinya merasa bahagia karena akan mendapatkan cicit dari keturunan Ferdinan.
“benar pak. Saya turut berbahagia atas berita ini, tapi sayangnya saat ini Selena dan Rafael sudah kembali ke korea dan sepertinya akan menetap disana.”
Kakek Rusman menggeleng. “tak apa-apa, yang penting aku sudah tahu kalau dia adalah cucuku dan ada suaminya yang akan menjaganya.”
“lalu bagaimana dengan adiknya?” tanya kakek Rusman kemudian.
“sama pak, adiknya juga sudah menikah. Dia menikah sehari sebelum pernikahan kakaknya di gelar, dan Inilah wajahnya sekarang.” jari telunjuk Adnan mengarah ke foto Alya.
Kakek Rusman pun menatapnya dengan mata berkabut, genangan air itu sudah banjir disana dan tanpa bisa di cegah lagi keluar membasahi pipinya yang keriput.
Bayi perempuan yang 20 tahun lalu dia lihat menangis di gendongan ayahnya, kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. seketika dada kakek Rusman merasa sesak saat menyadari senyuman Alya sangat mirip dengan senyuman Ferdinan.
“ya tuhan.. dia cantik sekali, persis seperti ibunya.”
“anda benar. Dia memang mirip sekali dengan Vanessa, dari segi manapun mereka berdua memang mirip layaknya anak kembar.”
“namanya siapa?”
“alya syaraswati, usianya 21 tahun dan dia menikah dengan anak bungsu dari keluarga dirgantara. Adiknya Rafael.”
Mendengar itu kening kakek Rusman mengernyit, dia pun menatap Adnan.
“Maksudmu.. Kevin?”
Kakek Rusman tahu tentang siapa Kevin dan riwayat keluarganya, terlebih tentang ayahnya. Selain itu dia juga masih ingat jika beberapa hari yang lalu pernah bertemu langsung dengan pria itu bersama Bobby, dirinya tak menyangka jika pria itu adalah cucu menantunya.
Namun yang membuat kakek Rusman bingung adalah kapan Kevin dan cucunya itu menikah, bukankah seingatnya pria itu akan menikah dengan anak dari keluarga Herlambang?”
“iya pak, Alya dan Kevin sudah menikah. Mungkin disini bapak bingung kenapa Kevin bisa menikahi Alya, padahal menurut berita dia sudah bertunangan dengan Mayra.”
Kakek Rusman langsung mengangguk.
“begini pak. Menurut info dari anak buahku mereka memang menikah diam-diam dan tanpa resepsi, acara itu di selenggarakan di villa milik Kevin sendiri yang ada di kota Bandung. Untuk alasan tepatnya saya tidak tahu, tapi menurut infonya Kevin dan Mayra ini di jodohkan dan Kevin sempat menolaknya. Namun karena alasan tak terlalu jelas, Kevin terpaksa menyetujuinya. Saya juga bingung kenapa sekarang Kevin kembali menolaknya dan memilih menikahi Alya.”
Kakek Rusman yang mendengar penjelasan Adnan, manggut-manggut.
“apa dia tinggal di Jakarta?”
“iya pak. Inilah kabar baiknya, ternyata mereka tinggal di sebelah apartemen saya.”
“benarkah?”
“iya pak, saya juga tak menyangka karena yang saya tahu unit sebelah selalu sepi dan hanya pelayan wanita saja yang datang setiap hari untuk membersihkan unit itu. Sebelumnya juga saya pernah bertemu langsung dengan Alya, waktu itu dia sedang bersama seorang lelaki bule berbadan kekar. Mungkin itu adalah bodyguardnya, jadi saya tak bisa berbicara banyak dengannya. dan tadi pagi saya juga bertemu dengan suaminya, namun disana tidak ada Alya. Perlu bapak ketahui Alya saat ini statusnya masih mahasiswa jurusan marketing.”
“dimana dia kuliahnya? Kebetulan kan dari kemarin juga Andreas baru masuk kuliah di kampus sini, siapa tahu mereka berdua kuliah di satu tempat.”
Adnan pun menyebutkan satu universitas yang terkenal elit di Jakarta, euphoria kakek Rusman semakin bergelora saat mengetahui satu fakta jika Alya dan Andreas memang satu kampus.
“apa bapak ingin menemuinya sekarang?” ajak Adnan.
Kakek Rusman diam, raut wajahnya nampak ragu. “apa dia akan menerimaku setelah tahu aku adalah kakeknya?” tanyanya.
“saya tidak tahu pak, tapi tak ada salahnya mencoba.” jawab Adnan.
“sebaiknya jangan dulu, aku belum siap bertemu dengannya dan mendapat kemarahannya. Tapi saya minta tolong, rekam setiap pergerakannya saat di luar rumah dan sewa beberapa bodyguard untuk bisa menjaganya dari kejauhan.”
Adnan mengangguk mengiyakan, ia tentu paham kenapa kakek Rusman meminta itu.
“bapak tak perlu risau, saya akan segera menyewa beberapa bodyguard profesional untuk menjaganya.”
“terima kasih Adnan, kamu sudah mau membantuku menemukan cucuku. Setelah ini aku akan transfer uang bonusan untukmu, tapi ingat satu pesanku jangan bicara apapun dulu ke bobby.”
“siap pak.”
“oh iya, aku baru ingat jika Nattan juga pernah melihatnya dirumah sakit dengan pria muda berjas. Apa pria itu... Kevin?”
__ADS_1
“iya pak. Saya sudah memeriksa rekaman cctv, dan disana memang ada mereka.”
“ada apa dengannya sehingga dia harus menemui dokter syaraf?”
“tulang kering bagian kanannya ada yang patah pak, harusnya dia di rawat intensif tapi Alya menolak. Maka dokternya menyuruhnya untuk kontrol setiap seminggu sekali, dan hari itu adalah kontrol pertamanya.”
“oh.. begitu.. kasihan sekali dia. Tapi Apa kamu tahu awal penyebab kenapa kakinya bisa cedera?”
“tidak pak. Apa perlu saya cari tahu?”
Kakek Rusman mengangguk antusias.
“baik, akan saya cari tahu.”
“sekali lagi saya ucapkan terima kasih padamu adnan.”
“sama-sama pak, lagian ini bukan seberapa daripada bapak yang dari dulu sudah membantu keluarga saya, bahkan sampai mau menyekolahkan saya Sehingga saya bisa seperti ini.”
Kakek Rusman tersenyum. “itu di karenakan kau sangat mirip dengan Ferdi, rasa semangatmu menjalani hidup dan sifat sabarmu menghadapi sikap arogan Bobby persis seperti dia. Jadi setiap aku melihatmu, aku seperti melihat Ferdi hidup kembali. teruslah seperti ini ya nak, jangan hanya karena kenikmatan dunia membuatmu menjadi tamak. Karena jika nanti kamu sudah kehilangan semuanya, rasa sakitnya akan jauh berlipat ganda. Seperti bapak yang harus menelan pahit karena kehilangan dua orang paling berharga dalam hidup bapak, yaitu istri dan anak.”
Adnan yang mendengar ucapan panjang kakek Rusman mengangguk mengerti.
“iya pak, saya akan mengingat ucapan bapak dan saya juga akan terus menanamkan rasa syukur atas hidupku. Bukan hanya untukku, tapi untuk pasangan dan anak-anakku kelak.”
...💐💐💐...
Sementara itu di kampus Alya sedang berada di kantin, ia duduk bersama Jessica yang sibuk makan snack. Sementara arina duduk di depannya sambil makan bakso bakar, di meja kantin yang panjang itu sudah penuh oleh jajanan dan 3 botol botol minum.
Alya menatap malas ke arah kedua sahabatnya yang sibuk dengan makanannya, sementara dirinya hanya bisa diam saja.
Diam bukan karena tak suka dengan makanan yang kedua sahabatnya bawa, namun ia sedang kesal. Lebih tepatnya Alya kesal dengan Jessica, karena teringat dengan ucapan gadis itu kemarin.
Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Jessica, dianya saja yang keceplosan mengucapkan kata gay di depan Kevin, sehingga dia mendapat hukuman dari suaminya.
Meski hukumannya tak terlalu parah, tapi akibatnya sekarang interaksinya dengan Kevin menjadi canggung.
Bagaimana tak canggung, Kevin melampiaskan kekesalannya dengan tubuhnya. Ditambah suaminya itu juga membahas kesalahpahaman yang sudah terjadi bertahun-tahun.
“udahlah Al, gak usah kesal begitu. udah terlanjur terjadi, percuma juga di sesali.” ucap arina santai sambil menatap Alya.
“iya nih, harusnya Lo merasa senang karena tahu Kevin benar-benar normal.” balas Jessica.
Alya memang sudah menceritakan apa yang sudah terjadi semalam, namun bukannya merasa prihatin, kedua sahabatnya itu malah tertawa dan menyuruhnya untuk terus menggoda Kevin.
“emangnya kapan gue bilang Kevin gak normal, kan Lo yang ngomong.” cetus Alya.
Jessica yang mendengar itu hanya nyengir kuda.
“jadi.. gimana perasaan Lo setelah lihat bentuk tubuh Kevin, sixpack ya? Pasti ada roti sobeknya ya?”
Mendengar pertanyaan Jessica membuat wajah Alya memerah, ia menjadi teringat kembali betapa indahnya badan suaminya itu. Setelah dari kemarin-kemarin dia begitu penasaran dengan bentuk tubuh kekar suaminya, kini tidak lagi.
Semalam Alya hampir saja mau pingsan saat tanpa aba-aba Kevin membuka baju dan celananya, apalagi begitu merasakan keperkasaan Kevin yang menggesek inti tubuhnya.
Arina yang menyadari perubahan wajah Alya tersenyum jahil. “pasti sudah terjadi sesuatu yang lebih dari apa yang Lo ceritakan tadi ke kita, iya kan?” tuduhnya.
“bohong banget!”
“beneran..”
“hem.. kalau begitu Lo terus Pepet Kevin, sayang banget kan punya suami ganteng dan kaya tapi malah di anggurin. Gue kasih tau ya, di luaran sana tuh banyak cewek yang mau berada di posisi Lo sekarang! Jadi jangan Lo sia-siakan!”
“bener banget! Pada dasarnya kelemahan cowok kaya cuma satu, yaitu wanita! Lo gak mau kan kalau Kevin sampai jajan di luar, hanya karena istrinya tak memberinya jatah!”
Alya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung kenapa dalam hal ini dia yang di salahkan. Lagipula siapa juga yang menolak, suaminya saja yang selalu memberi jarak.
“Baru cium dan pegang dada Lo aja, batangnya udah berdiri. Apalagi nanti setelah lihat Lo telanjang bulat, pasti dia langsung nerkam Lo.”
Suara Jessica mulai terdengar, gadis itu terus saja menyudutkan Alya. Menganggap jika Alya payah karena tidak berhasil menggoda Kevin.
Alya mendengus sambil bersedekap dada.
‘kalian gak tau aja kalau Kevin udah sering melihatku telanjang, dia malah biasa aja!’ gerutu Alya dalam hati.
Lama-kelamaan kesal juga, di anggap payah oleh kedua sahabatnya. Mereka tidak tahu saja apa rasanya jadi dirinya, setiap hari harus menghadapi sifat introvertnya Kevin, Belum lagi ia selalu terpana dengan visual suaminya yang semakin membuatnya jatuh cinta.
Eh, ngomong-ngomong soal Kevin, Alya baru ingat dengan bekal makan siangnya. Dia belum menelpon intan untuk menyuruhnya untuk memanaskan makanan yang sempat tadi pagi dia masak.
Dengan cepat Alya pun mengambil ponselnya dan menelpon intan. Sekali dua kali panggilannya belum terjawab, hingga kali ke 4 intan menjawabnya.
[Iya nona, maaf tadi saya sedang beberes.]
Suara intan terdengar, ia merasa tak enak saat menyadari Alya menelponnya sebanyak 3 kali.
“tidak apa-apa mba, oh iya mba tadi pagi kan aku sempat masak banyak. Sebelum berangkat ke kampus aku udah sisain makanan buat bekal makan siangnya Kevin, aku menaruhnya di rantang dan aku simpan di kulkas. Tolong mba panasin ya, nanti aku akan suruh kak Sean pulang dulu ke apartemen buat ambil, nanti dia akan mengantar makanannya ke kantor.”
[Oh.. baik non, akan saya panaskan.]
“makasih ya mba..”
[Iya non, sama-sama.]
Setelah itu sambungan telepon antara Alya dan intan berakhir, sementara Jessica dan arina yang mendengar itu saling pandang dengan senyum jahil.
“ciyee.. perhatian sekali sama suami..” ledek Jessica seraya menyenggol lengan Alya.
Alya memutar bola matanya malas, ia tahu sebentar lagi kedua sahabatnya itu akan meledeknya.
“yang jomblo gak usah iri!” cibirnya.
Dan akibat dari ucapannya itu membuat kedua sahabatnya yang memang masih tak memiliki pasangan merasa jengkel.
“iyain aja deh, yang udah punya lakik mah bebas.” cetus Arina.
“punya lakik sih punya, tapi sayangnya belum ngerasain belah duren. Payah!” cibir Jessica.
“kayak yang ngomongnya udah aja!” balas Alya sengit.
__ADS_1
“gimana mau rasain, orang dia aja masih ngarepin cowok orang! Hahaha..” ejek arina sambil tertawa.
Jessica yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya. “sialan Lo Rin! Gue sumpahin Lo bakal jatuh cinta sama cowok orang juga, biar bisa rasain apa yang gue rasain!”
“gak bakalan!” tangkis arina seraya memasukkan kembali bakso bakar ke mulutnya.
“siapa yang ngarepin cowok orang?”
DEG!
...💐💐💐...
Sesuai dengan permintaan Alya, setelah teleponnya berakhir intan langsung menjalankan apa yang di perintahkan Alya.
Di dalam kulkas wanita muda berusia 30 tahun itu melihat ada dua rantang yang terbuat dari plastik beda warna, di masing-masing penutup bagian paling atas tulisan nama kenzo dan Kevin.
Intan meyakini di dalamnya pasti menu makanannya berbeda, karena dia tahu makanan yang biasa Kenzo makan selalu berbanding terbalik dengan tuan mudanya makan.
Satu persatu intan mulai membuka rantang tersebut, kemudian dia menyiapkan wajan dan menyalakan kompor.
Tak perlu memakan banyak waktu semua makanan yang ada di dalam dua rantang itu sudah dia panaskan, dan kembali menaruhnya di rantang yang baru. Tak lupa intan juga kembali menempelkan tag nama di penutup bagian atasnya, agar nanti Sean tak keliru kasih.
Sekitar 10 menit kemudian terdengar suara langkah sepatu, intan melihat Sean sudah datang. Dia yang kala itu sedang mengelap kaca jendela bergegas masuk dapur, mengambil dua rantang yang tadi sudah dia siapkan lalu memberikannya pada Sean. Setelah itu Sean kembali pergi setelah mendapat dua rantang tersebut.
...💐💐💐...
Sedangkan di ruangannya, Kevin nampak menempelkan pipi kirinya ke meja kebesarannya yang terbuat dari kaca. Sebelah tangannya tengah menggenggam ponselnya, dan jemarinya terus bergerak mengscroll isi beranda akun Instagram Alya.
Yaps, saat ini dia memang sedang melihat-lihat isi akun Instagram istrinya itu. Tak henti-hentinya bibirnya melengkuh ke atas setiap melihat foto Alya, yang memang kebanyakan suka bersama teman-teman wanitanya.
Sebenarnya Kevin sedang menunggu pesan dari Alya, biasanya saat mereka jaman pacaran dulu Alya selalu spam chat. Tapi tidak untuk sekarang, Alya jarang melakukannya.
Entah apa yang ada di isi kepalanya saat ini, sehingga Kevin menginginkan Alya melakukan apa yang selalu dia lakukan semasa pacaran dulu. Mungkinkah Kevin ingin flashback, dia ingin melakukan apa saja yang terjadi di masa lalu? Tapi dia sungkan memulai duluan?
Entahlah, hanya tuhan dan dirinya sendiri yang tahu jawabannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar ketukan pintu, dengan suara malasnya Kevin mempersilahkan orang di balik pintu untuk masuk.
“permisi tuan muda, saya datang untuk membawa makanan pesanan nona muda untuk anda.”
Terdengar suara laki-laki, dan Kevin sangat mengenali suara itu. Siapa lagi jika bukan Sean, dia datang ke ruangan kevin sambil mentengteng satu rantang.
Dengan cepat Kevin mengangkat kepalanya, lalu menggerakkan jarinya maju mundur pertanda Sean harus mendekat.
“bawa sini.” Titahnya.
Sean pun menurut, dia memberikan rantang itu dan meletakkannya di meja. sesuai dengan tag nama yang ada di penutup bagian atasnya.
“cuma satu?” tanya Kevin seraya membuka satu persatu rantang tersebut dengan tak sabar.
Rasa laparnya semakin bergelora saat hidung mancungnya menghirup aroma makanan enak buatan istrinya. Selain menunggu chat dari Alya, dia juga menunggu makanan dari istrinya itu. Meski semalam mereka sempat ribut, tapi Kevin tetap akan menerima kiriman makanan dari Alya.
“tidak tuan, satunya sudah saya berikan pada kenzo.” jawab Sean.
“kalau begitu saya permisi tuan.” pamit Sean, dan balik badan.
Namun saat ingin melangkah, Sean harus berhenti dan kembali menatap Kevin begitu mendengar suaranya.
“tunggu!”
“ya, tuan.”
“jam berapa Alya selesai kuliahnya?”
“saya kurang tahu tuan, tapi sepertinya hari ini jadwal kelasnya lebih dari 2 karena saya sempat menguping pembicaraannya dengan teman-temannya.”
Kevin diam sejenak. ‘apa karena itu dia gak chat?’ batinnya menerka-nerka. “ya udah, Lo boleh Pergi.” ucapnya kemudian.
Kali ini Sean benar-benar pergi meninggalkan ruangan Kevin, dan Kevin melanjutkan acara makannya.
Drrttt..
Selepas kepergian Sean, ponsel Kevin yang tergeletak di meja bergetar. Mata Kevin menatapnya, ada nama Jenifer disana. Tanpa ragu lagi Kevin menggeser tombol hijau dan menekan loadspeakernya agar bisa terdengar suaranya, karena ia malas mengambilnya.
[Halo Vin, aku ganggu kamu gak?]
Suara jernifer terdengar ceria, seperti biasanya.
“sedikit. Kenapa?” ucap Kevin seraya menyuapkan nasi ke mulutnya.
Kevin saat ini terlihat begitu lahap menyantap makan siangnya, sampai-sampai kedua pipinya mengembung karena banyak lauk yang dia masukkan ke mulutnya.
[Aku mau mengajakmu makan siang bareng, sekalian ingin membicarakan soal pembangunan perumahan yang di Bogor. Tadi arsiteknya ngabarin aku katanya dia ingin menambahkan taman bermain di dekat perumahan, tapi dia ingin mendengar pendapatmu dulu]
Kevin tak langsung menjawab, dia tengah minum air mineral yang memang sengaja intan sediakan.
“kenapa dia bilangnya sama kamu, kenapa gak sama aku atau Kenzo saja?” heran Kevin.
[Dia udah coba hubungin kamu, tapi panggilannya selalu di alihkan. Sedangkan Kenzo nomornya gak aktif, makanya dia hubungi aku. Jadi gimana, kamu bisa gak luangkan waktu buat ketemu?]
Di seberang sana Jenifer yang kala itu sudah berada di restoran langganannya bersama teman kantornya sangat berharap Kevin bisa menemuinya, dia ingin menghabiskan waktu makan siangnya bersama pria pujaannya.
“sorry Jen, aku gak bisa. Aku sudah dapat kiriman makan siang dari istriku, dan soal ide arsiteknya kamu bisa bicarakannya dengan Kenzo. Aku serahkan sepenuhnya padanya.”
Jenifer yang mendengar itu merasa kecewa sekaligus patah hati, di benaknya ia merutuki perbuatan Alya yang selangkah lebih cepat darinya. Meski apa yang saat ini ia rasakan adalah salah, berani menyukai suami orang tapi Jenifer seakan tak perduli. Selama Kevin masih bersikap baik padanya, maka selama itu ia tak akan menyerah.
Sama halnya seperti sejak dulu, dari sekian banyaknya perempuan yang mendekatinya hanya dirinya yang bisa mengobrol santai dengan Kevin. Namun sayangnya itu hanya sekedar teman ngobrol saja, bukan untuk teman hidup. Karena Kevin malah jatuh ke pelukan Alya, gadis miskin dan yatim piatu.
[Oh begitu ya, maaf yah.]
"It's oke.”
[Ya udah kalau gitu aku tutup dulu, maaf udah ganggu waktu kamu.]
Kevin membalas ucapan Jenifer dengan deheman, kemudian dia langsung menggeser tombol merah lebih dulu.
__ADS_1
“mengganggu saja!” gerutu Kevin saat panggilannya sudah terputus.