
Waktu terus berjalan, detik dan jam terus bergulir. Hingga hari, bulan dan tahun pun terus berganti. Namun tak ada perubahan sama sekali dalam hubungan antara aji dan Tamara, lebih tepatnya soal hati masing-masing.
Menurut pandangan dari luar keduanya memang terlihat biasa saja, seperti tak ada masalah sedikitpun. Ditambah diantara mereka sudah ada Rafael sebagai pelengkap, yang kala itu masih berusia balita. Tentu saja bagi orang lain, menganggap mereka adalah keluarga yang rukun dan selalu bahagia.
Pada kenyataannya tidak sama sekali, mereka tak lebih dari sekedar dua orang yang tak saling kenal dan harus terjebak dalam pernikahan paksa. Kehadiran Rafael diantara mereka pun tak mampu membuat hubungan dua manusia itu lebih baik, justru lebih buruk.
Mungkin itu hanya berlaku bagi aji saja, tidak untuk Tamara. Wanita cantik yang memiliki garis keturunan bule itu nyatanya begitu mencintai suaminya, namun ironisnya sang suami belum bisa move on dari masa lalunya. Sehingga mengabaikan perasaan tulusnya, serta menolak takdir akan kehadiran putranya.
Selama proses perjuangannya, Tamara semaksimal mungkin melayani keinginan aji. Apapun yang suaminya minta selalu Tamara suguhkan, termasuk saat menginginkan tubuhnya.
Kendati begitu, mereka tak jarang beradu mulut. ketika entah yang keberapa kalinya, aji ketahuan selingkuh atau dengan sengaja aji mengabaikan Rafael yang memintanya main bersama.
Tak perduli seberapa dalam rasa sakitnya ketika suaminya ketahuan selingkuh, ia tetap memaafkannya dan berakhir melupakannya. Dengan harapan besar, suaminya bisa berubah.
Di sisi lain, dia juga harus terlihat baik-baik saja di depan anaknya. Ia tak mau Rafael tahu dengan keadaan yang ada, dan berakhir membenci ayahnya. Begitu pun saat dirinya dihadapkan pertanyaan beruntun dari kedua orangtuanya tentang perilaku aji, Tamara selalu memberi jawaban dusta agar image suaminya tetap aman.
Sekalinya dia sudah kepayahan, Tamara selalu meyakinkan mereka jika aji pasti akan berubah. Mencoba terus bersabar, entah sampai kapan.
“jika tahu bakal begini endingnya, mami gak bakalan setuju waktu daddymu ingin menjodohkan kalian.” keluh anjeli, setelah mendengar curhatan sang anak.
Sebagai seorang ibu, tentu saja anjeli merasa tak terima putrinya disakiti. Namun untuk menyesal pun percuma, semuanya sudah terlanjur terjadi. Ditambah diantara keduanya sudah ada anak yang usianya masih sangat kecil, terlalu beresiko jika meminta Tamara untuk pisah dari aji.
Belum lagi ia sudah tahu dengan fakta yang ada, yang ternyata Tamara sangat mencintai aji. Dalam benaknya sudah membayangkan bagaimana keadaan putrinya jika benar-benar pisah dari aji, dan dia tak mau hal itu terjadi.
“aku selalu percaya, suatu saat nanti mas aji pasti akan berubah dan membalas perasaanku. Mami bantu doain aku ya, semoga aku bisa kuat menjalaninya.” ujar Tamara, seraya menatap sang ibu.
“tanpa kamu minta pun, mami pasti akan mendoakanmu sayang. Lagian kasihan juga Rafa, dia masih terlalu dini untuk mengetahui fakta tentang orang tuanya.” balas anjeli, yang langsung mendapat respon dari Tamara dengan pelukan.
Ketekadan Tamara yang ingin membuat aji bisa beralih mencintainya dan berakhir melupakan Vanessa nyatanya bukan suatu yang di anggap sepele, ia butuh kekuatan ekstra untuk melakukan itu.
Suami tercintanya, meski dibalik kelakuannya yang suka main perempuan. Nyatanya pria itu masih memiliki rasa yang besar terhadap Vanessa. Meski tahun kian bergulir, aji masih saja mencintainya.
Pada awalnya Tamara tak paham dengan jalan pikiran aji, pria itu mengaku masih mencintai mantan kekasihnya tapi main dengan wanita lain. Bahkan sampai mengabaikan dirinya yang sudah jelas statusnya, secara hukum dan agama sah dia sentuh.
Namun aji justru memilih mendatangi tempat terlarang, dan berakhir main dengan pelacur. Tamara benar-benar tak paham.
“apa dengan kehadiran Rafa diantara kita masih tak mampu membuatmu berubah mas, sekeras itukah hatimu sehingga tak bisa melihat ketulusanku dalam mencintaimu.” lirih Tamara di suatu malam, kala menanti kepulangan suaminya yang sudah sebulan tak ada kabar.
Sejak awal Tamara tahu akan dijodohkan dengan aji, ia tak menolak sama sekali. Justru ia terlihat sangat senang, sehingga membuat anjeli yang melihatnya beramsumsi bahwa putrinya memiliki rasa dengan aji.
Pada kenyataannya tak begitu. Tamara memang sudah mengenal siapa aji, tapi itu hanya sekedar kenal saja. Itu pun lewat Vanessa.
Yah, pada masa itu Tamara memang sudah mengenal siapa Vanessa. Itu di akibatkan pada masa itu Vanessa sedang bekerja sama dengan perusahaannya, yaitu berkontribusi untuk mengantar makanan ketring secara rutin ke perusahaan tersebut.
Tamara yang memang pada dasarnya seorang wanita friendly, mampu akrab dengan Vanessa yang memiliki karakter pemalu. Mereka menjadi besti yang sangat kompak, hingga berujung ke persahabatan erat.
Nyatanya keakraban mereka bukanlah murni akibat menjalani kerjasama, ada sosok lain yang menjadi perekat keduanya. Siapa lagi jika bukan Ferdinan, sosok pria tampan, keturunan keluarga kaya dan memiliki senyuman semanis madu. Ferdinan dan Tamara memang sudah bersahabat sejak jaman kuliah waktu di luar negeri.
Dan disitulah awal perkenalan Vanessa dan Ferdinan hingga akhirnya keduanya memiliki rasa akibat sering berjumpa dan berakhir memutuskan menikah, yaitu lewat Tamara. Tanpa wanita itu, mungkin Vanessa tak akan bisa bertemu dengan pria sebaik dan selembut Ferdinan.
Begitu pun dengan Ferdinan, pria itu sungguh berterima kasih pada sahabatnya itu karena sudah mempertemukan wanita sehebat Vanessa. Wanita kedua yang dia cintai dan harus dia lindungi, selain ibu kandungnya sendiri.
Dari situ pula awal Tamara tahu jika Vanessa adalah mantan kekasih suaminya, yang dirinya tahu pria itu masih sangat mencintainya. Bukan secara tiba-tiba, tapi karena Vanessa sendiri yang menceritakannya setelah mengetahui siapa nama suami dari sahabatnya itu.
Setiap bertemu, Tamara memang suka curhat tentang rumah tangganya yang tak biasa. Namun selama itu Tamara tak pernah menyebutkan nama suaminya, sehingga Vanessa yang sering mendengarkan tak menduga sama sekali.
Kenapa Vanessa bisa tahu, itu dari Ferdinan. Dan sebetulnya pria itu pun tak tahu jika Vanessa adalah mantan kekasihnya aji, kala itu dia hanya sedang berkeluh kesah akibat kalah tender dari perusahaan aji.
Awalnya Vanessa terlihat biasa saja saat nama mantan kekasihnya di sebutkan, menurutnya itu biasa, karena aji dan ferdinan adalah pria pembisnis. Jadi, hal yang wajar jika keduanya bisa bertemu.
Namun setelah Ferdinan secara tak sengaja menyebutkan aji adalah suami dari Tamara, membuatnya menjadi kaget. Bukannya tak tahu, justru ia sudah tahu dari awal kalau aji memang sudah menikah. Karena alasan itu pula, membuat hubungan keduanya benar-benar tak bisa di pertahankan.
Kemudian ingatan Vanessa di hubungkan dengan curhatan Tamara, yang menyebutkan kelakuan buruk suaminya. Sungguh demi apapun, Vanessa yang mengetahui fakta itu merasa tak percaya.
Bagaimana bisa, laki-laki yang dulu dia kenal baik dan tulus mencintainya itu berubah menjadi pria brengsek. Bahkan, sampai mengabaikan anak dan istrinya hanya karena masih mencintainya.
“dulu, aku sama mas aji memang sempat ada hubungan. Itu pun hanya sebentar, karena ayahnya tak merestui.”
Vanessa mengakui itu di depan Ferdinan dan Tamara, setelahnya ia menceritakan sejarah kisahnya dengan aji. Vanessa mengatakan itu dengan jujur, tanpa ada terlewatkan sama sekali.
Bukan tanpa maksud apapun, dia hanya ingin Tamara dan ferdinan tahu fakta yang sebenarnya. Juga, ingin meyakinkan Ferdi yang kala itu sudah menjadi tunangannya bahwa dirinya sudah tak memiliki rasa sedikitpun terhadap aji.
“sejujurnya aku masih belum percaya, bahwa mas aji bisa berubah begitu. Padahal dulu dia baik dan perhatian loh, ya walaupun agak cuek.” ujar Vanessa, begitu menyelesaikan ceritanya.
Tak ada tanggapan lebih dari Tamara, dia cukup kaget dengan fakta yang ada. Dalam benaknya tak merasa heran, karena harus ia akui Vanessa memanglah pantas untuk di perjuangkan.
“sekarang aku paham kenapa mas aji gak bisa move on darimu, karena kamu memang wanita hebat Vanessa. Meski secara finansial kamu sangat kekurangan, tapi kamu kaya hati. Soal cantik sih relatif ya, yang jarang itu hatinya juga ikutan cantik.”
“hmm.. Pantas saja sahabatku ini bisa kepincut, bahkan sampai melawan ayahnya sendiri demi bisa terus bersamamu. Padahal sejak jaman kuliah dia pernah ngomong, kalau dia gak akan pernah mau menikah. Tapi nyatanya apa, dia malah udah lamar kamu.” ucap Tamara, seraya menatap tulus wajah cantik alami Vanessa.
Mendengar kata-kata itu membuat wajah Vanessa merona, ia menunduk malu. Sedangkan Ferdinan yang menyadari itu terkekeh geli, merasa gemas dengan tingkah Vanessa.
pandangan Tamara beralih menatap Ferdinan, ia menatap wajah sahabatnya itu dengan mimik serius.
“setelah ini kamu harus lebih kuat lagi Ferdi, karena aku yakin akan banyak bahaya menimpa kalian berdua. Ini sudah menjadi pilihanmu, maka kamu harus mempertanggung jawabkan konsukuensinya.”
__ADS_1
Ferdi bisu sejenak, kemudian mengangguk mengerti.
“apa kamu punya firasat buruk?” tanyanya kemudian.
Kini giliran Tamara yang membisu, kemudian menghela nafas. Entah kenapa dadanya merasa sesak, hatinya pun merasa resah.
“Aku bukannya menuduh, hanya saja permasalahanmu dengan keluargamu itu bukanlah hal biasa. Kendati begitu, aku sangat percaya kamu bisa menjaga vanessa dan keluarganya. Selain itu, aku juga punya firasat jika mas aji akan mengganggu Vanessa setelah tahu kamu menikahinya nanti. Entah itu soal pribadi ataupun pekerjaan. Kamu sendiri tahu kan seberapa kuasanya marga dirgantara?”
Ferdinan mengangguk pasti, kemudian tangannya merayap dan berakhir menggenggam tangan vanessa.
“tentu. Kamu tenang saja, selama aku masih diberi nafas, maka selama itu pula aku akan menjaganya. Aku jamin itu!”
“aku pegang kata-katamu itu.”
...💐💐💐...
Setelah mengetahui sejarah kisah cinta aji dan Vanessa, serta kejujuran hati Vanessa sendiri membuat tekad Tamara yang ingin meluluhkan hati suaminya semakin berkobar. Dia selalu percaya dengan kekuatan cinta tulusnya, bahwa ia mampu melunakkan hati keras suaminya.
Bukankah ada pepatah pernah mengatakan, sekeras batu pun bisa berlubang jika terus di tetesin air terus menerus. Apalagi ini hati, Tamara yakin usahanya akan berhasil. Tak masalah harus menunggu lama, dia akan terus melakukannya. Bahkan, sampai akhir hayatnya sekalipun.
Waktu terus bergulir, hari telah berganti. Hingga tahun pun sudah bergeser. Perjuangan Tamara yang ingin meluluhkan hati aji masih terus berlanjut, namun belum ada perubahan sama sekali. Aji tetap keras dengan hatinya, menutup matanya rapat-rapat.
Begitu pun dengan kelakuannya yang semakin menjadi-jadi, suaminya itu sudah jarang pulang. Dan yang lebih parahnya lagi, aji tak sekalipun menanyai keadaan Rafael.
Tamara sempat beberapa kali ingin menyerah dan berniat ingin meminta pisah, namun mengingat ada Rafael di sisinya membuatnya kembali bangkit. Ia tak mau anak satu-satunya itu menjadi korban, akibat keegoisannya.
Putranya itu kian hari semakin tumbuh dan tinggi, menjelma menjadi anak yang tampan versi dirinya. Meski ada bagian-bagian tertentu yang mirip aji, namun hampir 90 persen Rafael memang sangat mirip dirinya.
“papa belum pulang juga ya ma?” tanya Rafael di suatu pagi, sambil menikmati sarapannya.
“iya sayang.” jawab Tamara.
Penampilan pria kecil itu sudah rapi, seragam merah putih merekat sempurna ditubuh mungilnya. Kulitnya sangat putih, khas orang bule. Juga, dengan postur tubuhnya yang ramping dan tinggi menurun dari ayahnya.
Rafael sudah berusia 6 tahun, dan dia pun sudah masuk sekolah dasar. Hari ini adalah hari pertama dia masuk sekolah, dan Rafael ingin ayah dan ibunya yang mengantarkannya ke kelas nanti.
Namun sepertinya harapannya tak akan terlaksana, karena ayahnya tak ada dirumah. Akibatnya membuat wajahnya berubah muram, moodnya pun menjadi buruk.
“jangan sedih ya sayang, gak apa-apa gak ada papa. Kan masih ada mama yang nemenin rafa di sekolah nanti.”
“tapi aku pengen papa juga ikut, ma.” rengek Rafael.
“iya sayang, mama paham. Tapi kamu juga harus ngertiin keadaan papa ya, papa lagi sibuk sama pekerjaannya.” ujar Tamara, penuh kelembutan.
“selalu saja begitu alasannya!” cetus pria kecil itu, lalu menggembungkan pipinya yang merona tanda merajuk.
Tamara tentunya mengerti kenapa Rafael bisa begitu, karena memang aji tak pernah ada waktu buat anaknya itu. Ah, lebih tepatnya jarang ada waktu. Pernah sesekali aji menemani Rafael main, saat suaminya itu libur kerja.
Meski hanya beberapa menit saja, seenggaknya aji bisa melakukannya.
“ya sudah cepat habiskan sarapanmu, nanti telat lagi ke sekolahnya.” titah Tamara, yang langsung di iyakan oleh putranya.
Tiba di sekolah, Tamara langsung menuju kelas yang dituju. Layaknya seperti sekolah pada umumnya, disana sudah banyak para orang tua ataupun pengasuh yang berkumpul.
Jika biasanya orang kaya suka memasukkan anaknya ke sekolah elit, apalagi kalau dari kalangan bangsawan. Keluarga Tamara juga sebenarnya masuk dalam kategori keluarga bangsawan, se Asia pula.
Kendati begitu, keluarga besarnya tak terlalu otoriter. Baik itu soal pendidikan maupun pergaulan, mereka tetap melakoni kehidupan normal dan tentunya saling menghormati antar sesama manusia.
Tak ada perbandingan, levelan, ataupun saling mencaci. Semuanya berjalan sesuai yang ada, menjalani hidup sesuai garis takdir. Namun tetap saja bagi orang lain yang memandang, keluarga Tamara tetaplah bagaikan bongkahan emas yang siapa saja ingin sekali merebutnya.
Maka dari itu, Tamara memilih sekolah biasa untuk Rafael. Agar kelak putranya itu tak sombong, dan yang lebih penting adalah bisa bergaul dengan siapa saja.
“ma, aku mau duduk di depan aja. Gak mau dibelakang.” pinta Rafael saat memperhatikan Tamara sedang mencari bangku kosong.
Memang kebanyakan para calon siswanya memilih duduk di belakang, entah karena apa mereka enggan saat dipilihkan bangku depan.
Tamara menuruti permintaan sang anak, kemudian dia menuntun Rafael untuk jalan ke meja barisan ketiga yang sudah di isi oleh seorang anak perempuan.
“hanya meja ini yang tersisa, Rafa mau gak duduk di disini?” tanya Tamara dengan suara berbisik.
Tamara sedikit tahu dengan watak Rafael yang memang tak terlalu suka bergaul dengan teman wanita, maka dari itu dia nanya terlebih dahulu.
Rafael tak langsung bersuara, namun yang pasti mata sipitnya menatap objek yang membuatnya tertarik. Dengan tatapan polosnya, pria kecil itu memperhatikan gadis yang di perkirakan seusianya sudah duduk di bangku sebelah.
Sejenak Rafael celingukan kanan kiri, lalu mendongak untuk menatap sang mama. “dia sendirian ma?”
Tamara sedikit kaget dengan pertanyaan Rafael, dia pun baru menyadari bahwa gadis kecil itu terlihat sendirian tanpa dampingan orang dewasa.
“mama kurang tahu sayang, sudahlah lupakan saja. Mungkin orang tuanya sedang pergi sebentar. terus gimana nih? Mau gak duduk disini?”
“iya ma, Rafa mau.” jawabnya kemudian, membuat senyuman tipis Tamara terbit.
“halo gadis manis, bolehkah anak ganteng Tante ini duduk di sebelahku? Soalnya hanya kursi ini yang tersisa.”
Gadis kecil itu pun mengangguk. “boleh Tante.”
__ADS_1
“makasih sayang. Ayo Rafa, duduk disini.”
Rafael pun menurut, dia duduk di sebelah gadis kecil yang rambutnya di kuncir kuda dan ada bando pita melingkar di kepalanya. Setelah itu Tamara menyuruh Rafael untuk berkenalan dengan gadis kecil disebelahnya, lalu sedikit menasehatinya untuk bersikap baik.
...💐💐💐...
Hari ke hari kehidupan Tamara berjalan dengan normal, ia tetap menjalani perannya sebagai istri sekaligus ibu yang baik. Tak ada hari pun Tamara lewatkan untuk mengurus kedua pria kesayangannya itu, khususnya untuk suaminya.
begitu pun dengan perjuangannya demi mendapatkan perhatian aji, meski hingga detik ini belum ada perkembangan secara berskala.
Di balik itu, Tamara tetap melakoni pekerjaannya di dunia fashion. Tak sekali dua kali dia suka pulang telat, akibat banyaknya orderan gaun yang dia desain. Namun bukan berarti melalaikan kodratnya, di sela-sela kesibukannya Tamara masih bisa mengontrol perkembangan Rafael lewat kamera pengawas.
Berkat bantuan dari suster jaga yang anjeli kirim, membuat Tamara sedikit lega meninggalkan Rafael dirumah. Kendati begitu, Tamara tak sepenuhnya percaya. Dia tetap mengawasi kinerja suster tersebut, jujur saja dia sedikit parnoan dengan kasus penculikan anak yang kebanyakan dalangnya menyamar menjadi pengasuh.
Sedikit informasi. Selain memiliki perusahaan sendiri, Tamara juga seorang desainer gaun pengantin, bisnis itu sudah dia rintis sejak jaman kuliah. namanya pun sudah sangat terkenal di semua kalangan. Baik itu dalam kalangan artis, pejabat, maupun kalangan biasa.
Menurut penilaian dari orang yang pernah membeli produknya, hasilnya tak ada yang mengecewakan. Kemahirannya dalam mendesain gaun, serta sikapnya yang ramah dan friendly membuat bisnisnya sukses besar.
5 tahun pun telah berlalu, kesibukan Tamara tetap sama. Mengurus dua usaha di bidang yang berbeda, sekaligus mengurus suami dan putranya.
Awalnya Tamara memang bisa mengaturnya, namun kian hari dia menjadi keteteran juga. Meski sudah ada karyawan yang membantu, namun sepertinya itu tak berdampak baik. Bisa dilihat dari banyaknya komplenan para konsumen yang merasa kurang puas dengan hasilnya, mau tak mau Tamara pun harus turun tangan.
Akibat dari kesibukannya itu membuat intensitasnya dengan keluarganya berkurang, Tamara menjadi sering pulang larut malam. Karena setelah selesai dengan urusan butik, dia juga harus mengontrol perusahaannya.
Keputusan Tamara yang memiliki dua usaha dengan bidang berbeda itu memang sangat beresiko, namun untuk berhenti pun dia tak ingin. Sejak kecil dia sudah punya impian ingin menjadi desainer terkenal, tapi ia terlahir sebagai calon penerus perusahaan orang tuanya.
Tamara tak mau egois, dia tipe orang yang sangat menyayangi orang tuanya. Maka dari itu dia menyanggupi permintaan orang tuanya untuk mengelola perusahaan, sekaligus mendirikan butik.
Meski lelah, namun Tamara jalani kedua peran itu dengan senang hati. Toh, semua usahanya nanti juga akan dia wariskan pada anak dan cucunya nanti. Jadi, selama tubuhnya masih mampu, dia akan tetap terus jalani.
“hoek!.. Hoek!..”
Di suatu pagi, saat Tamara sedang jalan menuju dapur tiba-tiba perutnya merasa mual. Itu dikarenakan hidung mancungnya mencium aroma menyengat yang entah apa, namun yang pasti membuat wanita yang kini berusia hampir kepala empat itu mual.
“mama!” teriak Rafael saat melihat sang ibu jalan cepat ke kamar mandi belakang, sambil menutup mulutnya.
Usia Rafael kini sudah 12 tahun, ia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Postur tubuhnya pun semakin tinggi, orang lain yang melihatnya pasti akan mengira dia sudah berusia 15 tahun. Sesuai dengan usia anak SMP, tapi itu tidaklah benar. Pada kenyataannya Rafael masih anak SD, 2 tahun lagi baru dia akan masuk ke tingkat SMP.
Rafael yang kala itu berdiri di tengah anak tangga segera jalan cepat, mendekati sang mama yang sedang mengeluarkan sesuatu dalam mulutnya.
Hari ini adalah hari libur, baik Rafael maupun Tamara tak ada rencana keluar. Momen yang sudah ditunggu Rafael sejak la, yaitu ingin menghabiskan waktunya dengan sang mama.
Jangan tanya dimana aji, sudah jelas pria itu tak ada dirumah. Entah ada dimana pria itu kini berada, Rafael sendiri tak mau memikirkannya. Mungkin, bisa dikatakan Rafael sudah tak perduli lagi apapun mengenai papanya tersebut.
“jangan masuk, tetap di situ!” teriak Tamara, begitu menyadari kedatangan Rafael.
“mama kenapa?” tanya Rafael dengan suara lirih, wajahnya nampak sendu. dia cukup kaget dengan teriakan Tamara.
Selama ini Tamara tak pernah meninggikan suaranya, sekalipun saat dia berbuat nakal. Ibunya itu akan menasehatinya dengan suara lembut, tapi sekarang malah dia Kena bentakan. Perasaannya yang masih polos terasa terluka, berpikir sang ibu sudah berubah.
Dari arah belakang, nampak ada seorang pelayan jalan tergopoh-gopoh menghampiri Rafael.
“ada apa nih den? Juga, nyonya kenapa?” tanyanya dengan nada cemas.
Tamara tak langsung merespon, Kendati begitu dia sadar dengan keadaan. Bergegas, Tamara membasuh bibirnya dengan air keran dan mengangkat tubuhnya.
“gak ada apa-apa bi, aku hanya sedikit mual tadi.” ujarnya memberi jawaban.
Kemudian Tamara menghampiri Rafael, sebelah tangannya mengusap lembut kepalanya.
“maaf ya sayang, tadi mama gak maksud bentak kamu. Tadi mama lagi mual, takutnya nanti kalau Rafa lihat Rafa ikutan mual.”
Rafa bisu sejenak untuk mengusap sudut matanya yang sedikit basah, lalu ia mendongak.
“mama sakit?” tanyanya kemudian.
Tamara menggeleng.
“tapi muka mama pucat.”
“mungkin mama hanya kurang istirahat saja sayang, jangan terlalu dipikirin ya. Mending kita sarapan dulu yuk, kamu juga udah lapar pasti.” ajak Tamara.
Rafael mengangguk, setelahnya dia pun di giring oleh sang ibu untuk menuju ruang makan. Di ikuti oleh pelayan tadi dari belakang.
Namun baru saja dua langkah, Tamara kembali berhenti. Wajahnya berubah aneh, seperti menahan sesuatu.
“kenapa nyonya? Mual lagi?” tanya sang pelayan yang menyadari ekspresi wajah majikannya itu.
“iya bi, tolong bantu Rafa sarapan dulu.”
Setelah mengatakan itu Tamara kembali masuk ke kamar mandi, namun kali ini pintunya tertutup biar putranya tak ikut masuk.
“mama kenapa sih bi?” tanya Rafael, ia merasa bingung dengan tingkah ibunya.
“bibi juga kurang tahu den, ya sudah Aden sarapan dulu ya.”
__ADS_1
Rafael mengangguk setuju, dan mereka pun pergi menuju ruang makan yang masih satu tempat dengan dapur.