TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 100~Tak Berdaya


__ADS_3

“percaya sama omongan gue! Lo tetap disini jagain alya, karena akan kedatangan musuh disini!” potong Rangga lagi.


“musuh?”


“ya.”


Kevin bisu sejenak. “jangan bilang kalau--”


BRAK!!


“Arrrghhtt.. Tolooong!”


DEG!


Kevin tak mampu melanjutkan ucapannya setelah mendengar suara teriakan seseorang dari lantai atas, dan itu terdengar suara perempuan.


Secara serempak ketiga pria itu mendongak ke atas, dengan wajah yang sama-sama kaget.


“abaang.. Tolooong!”


Kembali terdengar suara lain, Rangga sangat mengenali suara itu.


“brengsek!”


Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, ketiga pria itu pun berlari. Menapaki anak tangga yang terbuat dari kayu itu, dengan perasaan tak menentu.


Sesampainya disana, mereka dibuat syok setelah melihat Tina, Fani dan Alya sudah dalam sandraan beberapa pria bertopeng dan memakai jaket yang Kevin sendiri sangat kenali.


Mereka adalah anggota geng motor bernama Zervanous, geng motor yang selama setahun ini sudah menjadi musuhnya dan sekarang mereka sudah berani menyentuh istrinya.


Anggota geng yang terdiri dari enam orang itu memang sudah berhasil menyusup masuk ke dalam villa Jeremi, setelah tadi sudah memantau keadaan lewat teropong yang sudah mereka persiapkan.


Mereka nekad naik ke lantai atas dengan cara menggunakan tali, lalu mengaitkan ujungnya yang sudah terpasang parit ke pagar balkon, kemudian satu persatu anggota mulai merangkak naik ke atas. Mereka tak sama sekali mendapat kesulitan saat melakukannya, karena memang sudah terbiasa.


Begitu berhasil, mereka semua mulai jalan mengendap-endap sembari mencari letak kamar target utama. Meski sempat salah masuk ke kamar yang di tempati oleh Tina dan Fani, pada akhirnya mereka berhasil menemukan kamar Alya yang kala itu pintunya sedikit terbuka.


Itu karena kesalahan Kevin sendiri yang tadi keluar kamar dengan tergesa-gesa, tanpa memperhatikan pintunya tak tertutup rapat. Pria itu terlalu panik setelah mendengar telepon dari anak buahnya yang menjaga Raka alias Ferdinan di kabarkan telah di bawa lari oleh anak buah Bobby, belum lagi setelah ia tahu ternyata pria itu bekerja sama dengan musuhnya.


Kenapa Kevin bisa tahu pelakunya adalah Roni, karena sebelumnya dia melihat rekaman cctv rumah sakit tersebut yang dikirimkan anak buahnya. Ia melihat penampakan Roni dan Bobby saat baru keluar dari pintu emergency di lantai 2 dan baseman belakang rumah sakit.


Dan soal kenapa Tina dan Fani bisa tertangkap, itu karena tadi mereka berteriak begitu pintu kamar mereka terbuka dan masuk beberapa orang memakai masker.


Para anggota geng Zervanous yang dilanda panik, pada akhirnya ikut meringkus kedua gadis itu berharap agar tak ada yang mendengar jeritannya. Walau sebelumnya mereka mendapat pukulan Tina, tapi yang namanya tenaga perempuan, tetap saja kalah.


Sedangkan Alya yang kala itu masih dalam keadaan linglung akibat baru bangun tidur tak bisa berbuat apa-apa, sekalinya sadar sudah berada dalam dekapan pria lain.


Namun itu baru sebagian, karena anggota geng yang tersisa sudah berpencar di seluruh sudut villa. Melumpuhkan semua penjagaan yang ada disana, termasuk Sean yang kini sudah tak sadarkan diri akibat terkena obat bius lewat bekapan sapu tangan.


Di depan semua anggota Zervanous ada Samuel, mingyu dan Nana. Mereka sebenarnya ingin menolong, namun tak bisa karena para penyusup itu membawa senjata tajam.


Selain itu Samuel juga takut jika berani nekad mendekat, maka mereka akan menyakiti istrinya yang tengah hamil.


“brengsek kalian semua, lepaskan istri gue!” Raung Kevin dengan wajah merona.


Mendengar itu, spontan saja semua mata yang ada disana menoleh ke arah suara. Nampak, Samuel dan mingyu sama-sama melotot saat melihat ekspresi wajah Kevin.


Mereka berdua jelas tahu bagaimana Kevin jika sudah emosi, terlebih dengan penyakit mentalnya yang belum sepenuhnya sembuh. Di tambah sekarang melihat istrinya berada dalam bahaya, Pasti setelah ini pria itu akan berubah menjadi serigala.


“sam, gimana ini?” bisik mingyu resah, seraya mencolek lengan Samuel dengan bahunya.


Samuel tak langsung bersuara, dia sendiri masih bingung harus bagaimana. Ingin menolong Alya, namun terancam istrinya akan celaka. Namun jika dia diam saja juga salah, Kevin pasti akan mengamuk dan itu akan berimbas pada tubuhnya.


Sementara itu Kevin sudah siap jalan mendekat, aura iblisnya sudah mengeruar di ruangan tersebut begitu melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat ketakutan.


Bagaimana tidak takut, alya melihat sosok suaminya yang menyeramkan. Berbanding terbalik dengan sikapnya yang beberapa menit yang lalu, lembut dan perhatian. Belum lagi di depannya sudah ada pisau dan cerurit, sekali ia gerak saja maka kulitnya akan tergores.


Namun langkah Kevin tiba-tiba terhenti begitu Dimas mencekal lengannya, di bantu oleh rangga. Membutuhkan sekuat tenaga untuk mereka berdua bisa menarik tubuh Kevin ke belakang, Karena pria itu terus berontak.


“Lepaskan gue!”


“Lo jangan nekad Vin, mereka itu bawa senjata Nanti Lo bisa celaka! Kalau Lo celaka, siapa yang nanti bakal jagain Alya!” seru Dimas, berusaha menenangkan sahabatnya itu.


“terus gue harus diam aja melihat istri gue ketakutan gitu?” balas Kevin dengan sentakan, lalu ia melirik ke Rangga.


“dan Lo! Apa Lo gak mau selametin adek Lo!”


“jelas saja gue mau selamatkan, tapi keadaannya sekarang sedang bahaya. Lo bisa lihatkan, mereka itu bawa senjata tajam. Dan perlu gue ingatkan Alya takut bukan hanya karena mereka, tapi juga sama Lo!” sahut Rangga dengan nada tertahan.


Kevin bisu sejenak, kemudian kembali menatap alya. dan benar apa kata Rangga, Alya menatapnya dengan tatapan takut.


“Gue gak perduli! Gue bisa nenangin dia nanti!”


Kemudian ia langsung menghempas kasar tangan Dimas dan Rangga, dan kembali jalan mendekati para geng Zervanous.


“Kevin berhenti, Lo jangan gila deh!”


Kali ini mingyu yang bersuara, namun tetap saja tak membuat sahabat satunya itu menghentikan langkahnya.


Saat jaraknya sudah semakin dekat, Kevin langsung berhenti dan wajahnya semakin kaku begitu mendengar ucapan dua anggota inti geng Zervanous.


“berhenti disana dan jangan bergerak, jika tidak ingin nyawa istrimu yang cantik ini akan melayang!” ancamnya, lalu menempelkan ujung pisaunya ke leher Alya.

__ADS_1


Hal itu membuat ekspresi Alya semakin tak karuan, matanya sedikit melebar dan tubuhnya pun bergetar.


“berlaku juga untuk kedua gadis manis ini, kami tak akan segan-segan untuk menyetubuhi mereka di depan kalian semua!”


DEG!


Seketika itu pula suasana menjadi tegang, semua orang yang ada disana mendadak menjadi patung. Beda halnya dengan Kevin dan Rangga yang kini berubah menjadi gelap, masing-masing garis wajah kedua pria tampan itu sudah memancarkan aura menyeramkan.


Di balik ketegangan itu Alya melirik kembali wajah suaminya, meski dalam keadaan takut ia memberi isyarat pada pria yang sangat di cintainya itu untuk diam lewat gerakan tangannya yang memakai jam tangan. untungnya Kevin bisa menangkap itu, namun ia malah menggeleng samar. Pertanda menolak.


Kevin tentu paham apa yang di maksudkan istrinya, meskipun nanti berhasil di bawa kabur Alya akan memberi sinyal padanya lewat jam tangan. Tapi Kevin tetap saja merasa cemas, ia sangat takut jika alya akan di apa-apakan oleh anggota geng Zervanous.


Melihat itu Alya langsung merubah arti tatapan dan ekspresi wajahnya, lalu melirik ke arah Tina dan Fani. berharap dengan begitu Kevin mau bekerja sama, dan syukurnya tak lama setelah itu Kevin menghela nafas lalu mengangguk kecil tanda setuju.


Meski hati dan pikirannya merasa resah, tapi Kevin memilih menurut. Ia pun membiarkan Alya dibawa pergi oleh anggota geng Zervanous, begitu pun dengan Fani dan Tina.


Bukan hanya Kevin, tapi Rangga juga sama. Pria itu pun memilih diam demi keselamatan adiknya, meski egonya ingin sekali maju dan menerjang semua anggota geng Zervanous. Begitu pun dengan semua teman-temannya.


Sementara itu para geng Zervanous membawa tubuh ketiga gadis itu untuk jalan dan menggiringnya turun ke lantai bawah. Selama mereka melakukan itu, tak henti-hentinya matanya memperhatikan Kevin dan teman-temannya, takut jika secara diam-diam menyerang. masing-masing tangannya pun menaruh senjata mereka di leher ketiga tawanannya, sebagai kode ancaman.


Sesampainya di bawah, ketiga gadis itu dikejutkan dengan keadaan dua pelayan yang sudah duduk bersimpuh di lantai. Tubuh mereka sudah di lilit dengan tali, dan mulutnya tersumpal kain. Disampingnya ada satu anak laki-laki dan Sean, keadaan mereka sama-sama terikat dan mulutnya tersumpal.


Lalu mata Alya liar ke sekeliling, mencari keberadaan Jeremi. Karena ia baru menyadari kalau sedari tadi pria itu tak ada, benaknya bertanya-tanya kemana kiranya Jeremi berada.


Para anggota Zervanous membawa Alya, Tina Fani ke ruangan yang agak luas. Dengan kasarnya mereka mendorong tubuh ketiga gadis itu hingga duduk bersimpuh di lantai, Fani nampak meringis saat lututnya merasa sakit, bahkan hampir menangis.


Sedangkan Tina menampilkan raut kesal, dalam benaknya merutuki perbuatan para anggota Zervanous itu. Ingin rasanya ia menendang mereka semua, namun ia juga takut karena ada pisau di depan lehernya.


Sementara Alya sendiri hanya diam saja, berusaha terlihat tenang meski dia juga sebenarnya sangat takut. Alya melakukan itu tentu saja sengaja, karena ia menyadari tatapan suaminya tak lepas darinya dan dia juga tak mau penyakit Kevin sampai kambuh kalau melihatnya ketakutan.


Gadis itu menyadari akan hal itu saat berada di lantai atas, ekspresi Kevin seperti seorang harimau yang ingin menerkam mangsanya. Dan dia juga menyadari raut kekhawatiran dari semua teman-temannya kecuali Rangga, karena Alya tahu pria itu sedang menahan amarahnya akibat adiknya di sandera.


“cepat fotokan dia, lalu kirimkan ke bos!” titah anggota geng inti Zervanous, yang langsung di iyakan oleh anggota lain.


Jepret!


Alya sudah berhasil di foto, dan langsung mengirimkan hasilnya ke kontak Roni.


Tak berselang lama satu geng Zervanous masuk, ia jalan cepat ke arah teman-temannya kumpul dan berkata.


“semuanya sudah beres.”


Bersamaan dengan itu Kevin dan Rangga turun, di ikuti oleh Samuel, Dimas, Nana dan mingyu. Mereka berenam jalan tergesa menuju ruangan dimana semua orang kumpul, dan tentunya Kevin terkejut saat melihat 2 pelayan villa dan Sean sudah dalam keadaan tak berdaya.


Dua pasang mata tajam Kevin langsung teralihkan ke seluruh anggota geng Zervanous, wajahnya kembali kaku dan kedua tangannya yang ada di sisi tubuhnya terkepal erat.


Kevin tahu betul Sean tak mudah di kalahkan, karena pria itu memiliki kestabilan tubuh yang sempurna. Belum lagi dengan ilmu bela dirinya yang sudah lulus uji, jadi rasanya akan sangat mustahil Sean kalah begitu saja. Kecuali jika mereka menyerangnya dengan licik, yah.. itu tentu saja.


Kevin hampir saja melupakan siapa Zervanous, geng motor yang memiliki seribu tipu muslihat untuk melumpuhkan calon korbannya.


“lalu kedua gadis ini?”


“tinggalkan! Target utama sudah berhasil tertangkap, jadi kita tak perlu mereka. Ayo cepat!”


Kedua anggota geng Zervanous langsung mengangkat kasar tangan Alya untuk berdiri, lalu menyeretnya keluar dari villa dan berakhir memasukkannya ke dalam mobil Van warna hitam yang sebelumnya sudah mereka persiapkan.


Sebelum benar-benar pergi, anggota inti yang tadi menyuruh anggota lain membawa Alya nampak melirik ke arah Kevin. Ia tersenyum sinis, lalu berkata.


“jika kau menginginkan istrimu selamat, maka datanglah ke markas dan temui ketua! Tapi kami tak bisa menjamin keadaannya akan tetap utuh, karena pasti kami akan menyentuhnya. Hahahaha..”


Setelah mengatakan itu, semua anggota geng Zervanous langsung pergi dari sana sambil terus tertawa. Sedangkan Kevin hanya bisa diam, seraya matanya menatap nanar mobil yang telah membawa istrinya.


Sementara itu Rangga dan mingyu langsung berlari ke arah Tina dan Fani, mengecek keadaan kedua gadis itu. Rangga menghela nafas lega karena keadaan adiknya baik-baik saja, beda halnya dengan fani yang kakinya sedikit terluka akibat mendapat benturan keras dengan lantai.


Sedangkan Samuel, dimas dan Nana jalan ke arah kedua pelayan villa dan Sean, mereka tengah melepaskan lilitan tali dan sumpalan di mulutnya.


Tanpa mereka semua sadari jika keadaan Kevin saat ini sedang tak baik-baik saja, terlebih penyakit mentalnya yang secara diam-diam mulai menguasai tubuhnya. Namun sebisa mungkin ia mencoba berpikir waras, tapi ujungnya berimbas pada organ vitalnya. Buktinya saja kini sebelah tangannya sudah meremas dadanya, wajahnya pun mulai pucat. Hingga akhirnya..


BRUK!


semua orang yang ada disana langsung menoleh saat mendengar itu, dan seketika suasana menjadi panik begitu melihat Kevin sudah tak sadarkan diri.


Samuel dan mingyu langsung bangkit dan berlari ke tempat Kevin berada, lalu mengangkat tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tengah.


Samuel nampak duduk di sisi sofa dan meraih sebelah tangan Kevin, mengecek denyut nadinya.


“bagaimana?” tanya mingyu dengan wajah khawatir.


“melemah.” jawabnya setelah sekian lama, membuat semua orang yang ada disana semakin dilanda kecemasan.


“sebaiknya kita langsung membawanya ke rumah sakit terdekat saja, agar bisa ditangani dengan cepat.” ujar seseorang dari belakang.


Hal itu membuat semua pasang mata melirik ke arah suara, dan melihat Jeremi dan Fani sudah berdiri di belakang mereka.


Rangga yang kala itu sedang membantu Nana dan tina untuk membuka ikatan tali di tubuh kedua pelayan villa dan Sean melihat kedatangan Jeremi, segera berdiri dan mendekatinya.


“hey kampret, Lo habis darimana saja hah! Kenapa baliknya lama banget?” sentaknya, seraya berkacak pinggang.


“gue udah lama sampainya, cuman tadi gue ngumpet!” balas Jeremi dengan santai.


Sebenarnya itu bukan sekedar alasannya saja, karena memang belum lama Rangga sampai villa, dia juga sudah sampai. Hanya saja saat dirinya ingin masuk ke halaman depan, dari kejauhan matanya tak sengaja melihat sekumpulan motor sport tengah jalan mendekat.

__ADS_1


Awalnya Jeremi tak merasa curiga sama sekali, karena memang di daerah dekat villanya suka mengadakan turnamen balapan. Bahkan ia sering menonton acara itu, dan beberapa kali ikutan balapan.


Namun semakin lama segerombolan motor itu mendekat, maka semakin jelas pula darimana geng motor itu berasal. Kedua matanya terbelalak kaget saat melihat bendera merah berlogo tengkorak kepala manusia di salah satu motor paling depan, dan ada tulisan Zervanous.


Jeremi memang bukan sepenuhnya anak geng motor, namun karena dia suka menonton dan berteman baik dengan beberapa ketua club' geng motor sehingga ia bisa tahu siapa saja mereka. Dan geng motor yang dia lihat kini adalah satu-satunya geng motor yang sangat ditakuti oleh semua kalangan, dan menjadi incaran para polisi.


Zervanous bukanlah geng motor biasa, yang hanya sekedar suka main balapan liar atau melakukan pembegalan. Namun mereka juga sindikat penjual beli narkoba dan organ tubuh Manusia, ditambah dengan pekerjaannya yang sebagai pengacara suka mendapat tawaran untuk mengungkap kejahatan mereka tentu sudah tak asing dengan nama geng motor tersebut.


Itulah kenapa dia memilih bersembunyi saat menyadari mereka berhenti tak jauh dari villanya, dan beberapa dari mereka mulai mengendap-endap masuk kesana.


“dasar penakut!” cibir Rangga.


“gue bukannya penakut, gue hanya lagi cari aman aja!” cetus Jeremi, ia merasa tak terima di katain penakut.


“sama aja itu!”


“gu--”


“sudah, cukup! Bisakah kalian tak usah bertengkar dulu, lihat keadaan Kevin sekarang!” sentak Samuel dengan lantang, seraya menuding jarinya ke wajah kevin. Dan hal itu membuat ucapan Jeremi tenggelam begitu saja, dan beralih menatap Kevin.


“ayo bantu gue angkat dia ke mobil!” titahnya, yang langsung di iyakan oleh semua teman-temannya.


Dengan cepat Rangga dan Dimas pun bergerak mendekat, ia membantu Jeremi untuk menggotong tubuh Kevin keluar dari villa menuju mobilnya. Di ikuti oleh yang lainnya, yang mengekor ke belakang.


...💐💐💐...


Sementara itu di markas Zervanous yang ada di kota Bandung, Roni nampak menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah Alya dengan senyum puas.


Rencananya untuk memperdaya Kevin lewat istrinya berjalan dengan sempurna, setelah ini ia akan tunjukkan kehancuran apa yang dulu pernah dia rasakan saat kehilangan adiknya.


“sama halnya dengan dirimu yang telah menghancurkan pusat duniaku, maka aku pun melakukan hal yang sama. Bukankah itu adil?”


Roni menggumamkan kata-kata itu dengan senyum sinisnya, namun kedua pasang matanya yang sipit nampak berkaca-kaca saat terbayang wajah cantik Alisa. Sosok adik kecilnya yang dulu dia jaga dan sayang sepenuh hati, kini telah tiada.


Hanya karena tak mampu menahan sakit hatinya akibat cintanya tertolak, Alisa memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa memikirkan jika dia masih memiliki seorang kakak yang begitu menyayanginya melebihi dirinya sendiri, dan seorang ibu yang entah sekarang ada dimana.


Bahkan Roni sendiri tidak tahu, apakah ibunya itu masih hidup atau sudah mati. Dia tidak tahu sama sekali, dan tak mau tahu. Semenjak ibunya memutuskan pergi meninggalkannya dan Alisa, semenjak itu pula ia membenci wanita yang telah melahirkannya itu.


Sebenarnya Roni bukanlah orang jahat, dia pria baik, perhatian dan sangat sayang dengan keluarganya. Namun semenjak orang tuanya bercerai, dan kasus ayahnya yang dihukum mati membuat watak baik Roni berubah. Ia menjadi pribadi yang arogan dan kejam, Di tambah dengan keadaan Alisa yang kala itu memiliki penyakit skizofrenia dan berakhir ibunya pergi meninggalkannya.


Selama ini setelah kematian ayahnya dan ditinggal oleh ibunya sendiri, penopang hidupnya adalah Alisa. Roni berusaha bertahan menjalani takdir hidupnya, bahkan ia rela masuk ke dunia hitam demi membiayai pengobatan sang adik.


Namun nyatanya apa? Tuhan malah mengambilnya dengan cara tragis, dan membuat hidup seorang Roni Abraham, Pria tampan berparas Asia dan berusia 28 tahun itu hidup dalam kesengsaraan.


Sejak remaja Roni memang sudah menjadi anak geng motor, namun itu hanya sekedar dijadikan hiburan semata. Sedangkan jika sedang berada di lingkungan sekolah dan rumahnya, Roni akan menjadi anak yang baik dan ramah.


Namun sayangnya itu tak bisa bertahan lama, dia berubah setelah keadaan suasana rumahnya yang juga ikutan berubah.


...💐💐💐...


Sementara itu di negara Korea, lebih tepatnya di Busan. Setelah sambungan teleponnya dengan Bobby usai, aji beranjak dari duduknya dan berlalu keluar.


Hal pertama yang ia lihat adalah beberapa pelayan yang sedang bekerja, sedangkan para anggota keluarganya tak ada.


Hari sudah beranjak ke siang, biasanya dia akan melihat Tamara sibuk memasak di dapur bersama pelayan. Begitu pun dengan sekarang, dan dia dan Fandy akan menunggu di ruang tengah sambil menonton tv.


Sedangkan Rafael suka berdiam di ruang kerjanya, sementara Selena biasanya ikut gabung dengannya dan sang ayah.


Namun sekarang sosok papa-nya dan selena tidak ada, aji pun menanyakan keberadaan mereka ke pelayan dan di jawabnya jika Fandy sedang istirahat di kamarnya. Sementara Selena sedang pergi bersama Hani dan Ardian.


“pergi kemana?” tanya aji dengan memasang wajah biasa, padahal dalam hati dia sedang menggerutu.


Rencananya untuk mencelakai menantunya itu sepertinya sedikit tertunda, dan mungkin setelah ini aji akan memikirkan cara yang bagus agar aksinya itu tidak ketahuan.


“saya tidak tahu, tuan besar.” jawab si pelayan, seraya menunduk.


“ya sudah, kau pergi sana.” usir aji, seraya mengibas-ibas sebelah tangannya.


Sang pelayan pun pergi, aji jalan menuju ruang tengah. Ia duduk di sofa panjang nan empuk itu, dan bersedekap dada.


Tak lama setelah itu Rafael muncul dari pintu samping sambil membawa bakul terbuat dari kayu bambu yang berisi buah strawberry hasil panenannya, dan itu bersebelahan dengan ruang tengah. Jaraknya cukup jauh, sehingga aji harus sedikit menyipitkan matanya agar perlihatannya jelas.


“kamu bawa apa itu?” tanya aji penasaran, begitu Rafael sudah berada di dekatnya.


sejenak Rafael berhenti dan melirik sang papa. “strawberry.” jawabnya singkat, lalu kembali melangkah.


“kamu memanen strawberry?” aji nampak terkejut. “bukankah kamu memiliki alergi terhadap strawberry?” lanjutnya, seraya berdiri.


Hal itu membuat Rafael kembali menghentikan langkahnya dan berbalik badan, mulutnya sudah siap membuka suara.


Tak!.. Tak!.. Tak!..


“Rafael! Rafael, kamu Dimana nak?”


Namun aksinya itu terhenti, begitu mendengar suara langkah sepatu dan teriakan seorang wanita. Rafael dan aji sangat mengenali suara itu, itu adalah suara Marissa.


“aku diruang tengah ma!” balas Rafael dengan teriakan.


Setelah itu suara derap langkah sepatu itu semakin jelas, dan tak lama setelahnya muncul Marissa tengah berlari kecil menghampirinya dengan wajah paniknya.


“ada apa ma?” tanya Rafael.

__ADS_1


“rafa, barusan mama dapat kabar dari Dylan kalau penyakit Kevin kambuh dan Alya di culik!”


DEG!


__ADS_2