
seketika hening, semua mata langsung tertuju ke arah Kevin dan Alya berdiri. Nampak Tuan Ryan menatap murka ke arah Kevin, wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras.
Sementara nyonya Desti langsung berdiri dari tempat duduknya, menatap nyalang pasangan itu. Lebih tepatnya ke wajah Alya, bola matanya terlihat narik turun seakan sedang menilai penampilan gadis yang katanya sudah Kevin nikahi.
“Kau yakin dengan keputusanmu itu? Mau kamu, melihat perusahaan kakekmu yang sudah dikelola sejak awal hancur seketika?” Ucap tuan Ryan sarat mengancam sambil tersenyum sinis.
Pria itu tentu tahu kelemahan Kevin hanya satu, yaitu kakeknya. Dia selalu berpikir Kevin tak akan berkutik jika membawa nama kakeknya, terlebih perusahaannya yang memang sedang di ambang kebangkrutan.
Tak ada raut ketakutan sama sekali dari wajah Kevin, malah dia seperti ingin menantang pria itu.
Kevin menundukkan kepalanya menatap sang istri. “Kamu diam saja disini.” Bisiknya, yang di jawab oleh Alya dengan anggukan kecil.
Kevin segera melepas rengkuhannya dari pinggang istrinya, lalu dengan gaya arogannya dia berjalan pelan ke ruang tengah yang jaraknya tak terlalu jauh dari posisi sebelumnya.
“Apa menurutmu dengan ancaman sampahmu itu saya akan takut? Cih, mimpi!” ucapnya setelah tiba disana.
Persetan dengan sopan santun, dia tak akan menunjukkan sikap seperti itu pada dua orang yang ada di depannya sekarang. Pada ayahnya sendiri saja dia berani kurang ajar, kenapa pada tuan ryan yang bukan siapa-siapanya tidak?
“sepertinya om sudah lupa jika dari awal saya sudah menolak perjodohan ini, tapi kalian berdua!”
Jari telunjuk Kevin mengarah ke wajah tuan Ryan dan Aji bergantian. “tetap saja ingin melanjutkannya! Jadi jangan salahkan saya jika pada akhirnya mengambil keputusan ini.” lanjutnya.
“oh, berarti kau menikah dengannya juga karena terpaksa? Bukankah dia itu mantan pacarmu yang pernah selingkuh dengan kakakmu, tapi kenapa kau malah lebih memilih menikahinya ketimbang harus menikahi putriku yang jelas-jelas jauh lebih baik darinya! Lihatlah, dari sisi penampilan dan rupanya pun sudah sangat jauh sekali. Sangat tidak cocok dengan posisimu yang seorang pewaris keluarga zein, memangnya kau tidak takut sama gunjingan orang nanti tentang istrimu?”
“aku tidak perduli dengan itu semua, terserah mereka mau berkata apa. Yang jelas aku tak akan menceraikannya sampai kapanpun! Dan.. soal perusahaan kakek, om tenang saja. Saya bisa mengatasinya sendiri! Apa om lupa dengan kemampuan saya?”
Mendengar itu tuan Ryan mendengkus. “Jangan sok hebat kamu ya, mentang-mentang dulu pernah menolong perusahaan haris, sekarang kamu sok berkuasa!”
“Ya memang bukan saya yang berkuasa dan saya juga tak merasa hebat, saya menolong om saya sesuai dengan kemampuan saya. Selain itu apa om lupa kalau saya punya seseorang yang paling berkuasa? Apa perlu saya ingatkan seberapa kuasanya dia? Kalau beliau mau, perusahaan yang selama ini om banggakan itu bisa saja dia rebut detik ini juga!”
Mendengar itu Tuan Ryan langsung bungkam, wajahnya mendadak pias. Dia tentu tahu siapa yang Kevin maksud, siapa lagi jika bukan nyonya Anjeli yang tak lain adalah nenek dari pihak Tamara. Pria itu juga tahu betapa berkuasanya wanita itu dalam dunia bisnis, dan menurut yang dia tahu Kevin adalah cucu kesayangannya. Jadi sudah di pastikan apapun yang Kevin inginkan pasti nyonya Anjeli langsung menurutinya, termasuk menghancurkan bisnisnya.
Karena alasan itu juga dia selalu mati-matian ingin menikahkan anaknya dengan Kevin, berharap bisa kecipratan kekayaannya. Tak perduli seberapa keras Kevin menolak, dia tetap melakukannya. Toh, Aji juga mendukung penuh dengan Rencananya.
Namun apalah daya kini, harapan hanya tinggal harapan. Pria itu malah menikahi wanita lain yang tak jelas asal usulnya.
“Kau itu masih anak bau kencur, tapi sudah berani mengancam ku?” Desis tuan Ryan.
Kevin menggeleng. “Tidak! Saya tak merasa mengancam anda, Tapi.. kalau om merasa ya.. itu urusan om! yang jelas saya tak akan menceraikan istriku, apalagi harus menikahi anak om yang murahan itu!”
“Apa maksudmu berkata seperti itu? Putriku bukan wanita murahan, dia gadis baik-baik!” pekik nyonya Desti.
Wanita itu tak terima putri kesayangannya di sebut wanita murahan.
Kevin merespon ucapan nyonya Desti dengan tertawa kecil, namun terdengar sangat menyeramkan bagi semua orang yang disana. Kecuali Alya.
“Oh ya?” Kevin menatap wajah nyonya Desti dengan tatapan merendahkan.
“Iyalah! Harusnya kamu itu bersyukur di jodohkan dengan putriku yang cantik dan berkelas, tak seperti.. ” Nyonya Desti menggantungkan ucapannya, dia menatap Alya dengan tatapan cemooh.
“wanita pilihanmu itu! Dari pakaiannya saja sudah norak, cantik pun tidak! gak ada pantas-pantasnya menjadi istrimu yang pewaris tunggal keluarga Zein.” Sambungnya dengan nada sinis.
Kevin tak bersuara, wajahnya semakin kaku dan ada kilatan merah di bawah matanya. Sebenarnya ia sudah berusaha menahan emosinya saat tuan Ryan menghina penampilan Alya, tapi Kevin sudah tak bisa menahannya lagi saat nyonya Desti juga ikutan menghinanya.
Kevin sendiri tak paham kenapa setiap ada orang lain yang memandang rendah Alya, hatinya selalu tak terima. Sama seperti kejadian kemarin, saat istrinya di tampar oleh Mayra. Meski dalam otaknya terus beranggapan kalau dia membencinya, namun tubuhnya justru bereaksi sebaliknya.
Ia sadar betul, semalaman penuh tidur sambil memeluk tubuh Alya. Aroma tubuh gadis itu seakan telah menghipnotisnya untuk terus menempel, padahal ia tahu Alya merasa tak nyaman.
Sedangkan, Marissa yang menyadari reaksi Kevin langsung mendekatinya, merangkulnya sambil berbisik. “Tenangkan dirimu nak, jaga juga emosimu. Ada istrimu disini, nanti dia akan takut jika melihatmu seperti ini.”
Seakan sadar, Kevin langsung memejamkan matanya sejenak dan membuang nafas panjang. perlahan dia melepaskan tangan Marissa dan jalan mendekati nyonya Desti, raut wajah Kevin saat ini sangat menyeramkan dan hal itu membuat nyonya Desti merinding.
“Dengarkan ucapanku baik-baik nyonya Desti yang terhormat, Istriku memang tak secantik dan semodis putrimu, yang selalu berpenampilan glamor dan suka memamerkan kekayaan orang tuanya. Itu pun hasil dari korupsi, Tapi setidaknya dia memiliki rasa sopan santun terhadap orang lain. jadi.. sebelum menghina orang lain berkaca dulu, dan ajarilah putrimu yang menurut anda baik dan sangat cantik itu!” Desis Kevin tajam.
Nyonya Desti yang mendengar itu diam, wajahnya merona. Dirinya merasa malu sekaligus marah dengan ucapan kevin. Wanita paruh baya itu tentu paham apa maksud ucapan Kevin, sejak dulu Mayra memang memiliki sikap sombong dan angkuh. Dia mengakuinya dan merasa malu, Mungkin karena itu Kevin tak pernah menyukainya.
Tapi dia merasa marah karena Kevin menuduh suaminya korupsi, selama ini dia selalu memantau keadaan perusahaan dan segala aktivitas suaminya. Semuanya baik-baik saja, tak ada kecurangan sama sekali. Bahkan perusahaannya kini sedang berkembang pesat, namun kenapa Kevin mengatakan suaminya itu korupsi?
“putri anda pasti tak mengatakan apa yang terjadi kemarin kan?” tebak Kevin.
“Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan, Suamiku tak pernah korupsi! Dan Emangnya apa yang terjadi kemarin?” Tanya nyonya Desti bertubi-tubi dengan wajah penasaran.
Kevin tersenyum smirk, sejenak Matanya melirik ke wajah tuan Ryan yang nampak pucat pasi.
“Sebaiknya anda tanya sendiri pada suami dan putri kesayanganmu tentang ucapanku tadi. Dan perlu ku tegaskan disini, jika sampai Mayra atau kalian semua mencoba mengganggu istriku, maka siap-siap saja hidup kalian akan hancur!” Ancam Kevin tak main-main.
Lalu dia mendelik tajam ke arah Aji. “Dan ini juga berlaku untuk papa, secuil saja papa menyentuhnya maka aku akan langsung menarik papa ke kandang Leon!”
“Leon? Siapa itu?” Tanya Marissa.
“Harimau peliharaanku!” jawab Kevin.
__ADS_1
Mendengar itu, semua orang yang ada disana nampak terkejut. terlebih aji yang nampak menelan ludah, putra bungsunya itu menatapnya dengan penuh dendam.
...💐💐💐...
Sementara itu di lantai atas, Dylan dan Rafael menatap semua adegan itu dengan perasaan bertanya-tanya. Terlebih Dylan, pria itu berpikir jika adiknya itu seperti sudah tahu semuanya. Tapi ada sewaktu-waktu Dylan melihat kebencian di mata kevin, jika tak sengaja mengungkit soal hubungan pura-puranya dengan Alya.
Saat ini mereka berdiri di pagar pembatas tangga yang ada sebelah kanan lantai dua. Setelah Tadi mendengar suara teriakan Kevin, dua pria itu langsung menghambur keluar dari kamar masing-masing dan ingin melihat apa yang terjadi.
"Bang, Lo curiga gak sih kalo Kevin itu udah tahu kebenarannya tapi dia gak bilang sama kita?" Tanya Dylan pada Rafael tanpa menatapnya.
Ditanya seperti itu Rafael mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu, kemudian dia berlalu pergi kembali masuk kamar.
Rafael memang sudah tahu tentang permasalahan di antara kedua adiknya itu, namun pada saat itu dia tak terlalu ingin tahu siapa wanita yang menjadi awal mula retaknya hubungan Kevin dan Dylan.
“Yee.. ditanya malah nyelonong aja, jawab dulu Napa!”
Dylan menyusul langkah Rafael hingga masuk kamar.
“Cari tahu aja sendiri, gue sibuk! Lo kan tahu sendiri nanti malam gue nikah?” Ucap Rafael, dia berdiri di depan meja rias.
sebelah tangannya meraba seluruh wajahnya, menggerakkan kepalanya kanan kiri, seperti sedang mengecek apakah ada komedo atau jerawat di wajahnya.
Dylan bola matanya malas. “Iya deh iya! Yang calon penganten mah sibuk terus! Kemarin Kevin, sekarang gantian Lo. tinggal gue sendiri yang jomblo, Hem!”
Rafael yang mendengar itu terkekeh, lalu berbalik badan.
“Makanya cepetan nikah biar gak sendirian terus.”
“Ck! Gampanglah itu, gue masih pengen bebas!”
“Bebas celup sana celup sini gitu maksudnya? Memangnya Lo gak takut kena penyakit apa?”
“Enggaklah, kan tiap main gue selalu pakai pengaman.”
Rafael geleng-geleng kepala mendengar jawaban adiknya. “Gue sumpahin gak lama setelah ini Lo bakal nidurin gadis perawan, biar batang Lo gak bisa hidup lagi!”
Dylan nampak kaget mendengar ucapan Rafael, apalagi melihat wajah kakaknya itu yang tak main-main.
Dia memang suka main perempuan tapi dia paling anti sama perempuan polos, alias yang masih perawan tingting. Menurutnya perempuan seperti itu adalah masalah besar buatnya, pasalnya dulu ada satu wanita di masa lalunya yang menyumpahinya jika sampai dia meniduri wanita yang masih perawan, maka kejantanannya tidak akan bereaksi lagi. Alias impoten!
Sebenarnya Dylan sendiri antara percaya dan tidak percaya, tapi apa salahnya untuk waspada.
BRUK!
Pria itu mendengkus sebal. “Becanda Lo gak lucu!” Ketusnya.
“iyalah, kan gue bukan pelawak.”
Dylan tak menyaut, pria itu hanya memasang wajah cemberut.
Drrtt..
Terdengar suara getaran, dua pria itu pun menoleh ke arah suara yang ternyata berasal dari ponsel Rafael yang tergeletak di kasur. Rafael pun jalan mendekati ranjang dan meraih ponselnya, wajahnya berubah dingin begitu melihat siapa yang menelponnya.
Dylan yang memang suka kepo dengan urusan kedua saudaranya itu jalan mendekat, melongokan wajahnya untuk melihat layar ponsel kakaknya.
“Lo masih ada hubungan sama dia?” Tanyanya dengan kening berkerut.
Pasalnya disana terpampang nyata ada nama Renata dengan emoticon love yang muncul dilayar ponsel Rafael.
Apa-apaan kakaknya itu, sudah tahu mau menikah tapi kenapa masih saja menyimpan kontak mantan. Oke, soal menyimpan nomor tak masalah. Tapi nama kontaknya itu loh ada love hatinya segala, semua orang yang melihat pun pasti akan langsung mengira bahwa mereka masih ada hubungan.
“Lo jangan salah paham dulu, gue sama Renata gak ada hubungan apa-apa.” Jawab Rafael dengan perasaan gugup.
“Terus kalo gak ada apa-apa kenapa nama kontaknya ada gambar love segala.”
“Y-ya itu karena gue gak sempat ganti aja.”
“Ngeles aja Lo kayak bajaj! Masa iya selama 6 tahun putus tapi nama kontaknya masih sama, bilang aja Lo itu masih cinta kan sama dia! Ngaku Lo?”
“Ck Enggaklah, seriusan gue belum sempat ganti! Lo kan tahu gue kayak apa, ditambah kesibukan gue di perusahaan.”
Dylan diam sejenak, kedua matanya menyipit menatap wajah kakaknya curiga.
“Lo jangan main-main ya bang, Selena itu kakaknya Alya. Dan Lo pasti udah denger kan ancaman Kevin tadi, jika Alya sedih maka siap-siap aja Lo menghadapi kemarahan Kevin. Oh.. bukan hanya Kevin, tapi gue juga bakal langsung pasang badan! Gak perduli Lo kakak gue atau bukan, gue bakal seret Lo ke ring tinju dan jadikan Lo samsak!” Ucap Dylan sambil mengepalkan tangannya tepat di wajah Rafael.
Rafael tak bersuara, pria itu nampak menelan ludah dan wajahnya pias. Dia tentu tahu bagaimana seramnya jika sisi ego adik bungsunya itu sudah muncul.
Pernah sekali Kevin memukul karyawannya sampai babak belur, bahkan hampir kehilangan nyawanya hanya karena karyawannya itu tak sengaja menumpahkan minuman panas ke pakaiannya. Kalau saja tak ada karyawan lain yang memisahkan, mungkin saat ini adiknya itu sudah di cap sebagai pembunuh.
Dan.. soal Dylan, dia juga jangan di anggap remeh. Kekuatannya tak kalah hebat dari Kevin, Dylan sudah menguasai jurus karate sabuk hitam waktu SMP dan dia juga sering mengikuti perlombaan tinju waktu kuliah.
__ADS_1
Sedangkan dirinya tak memiliki kemampuan apapun soal bela diri, jadi bisa di pastikan dia akan K.O jika harus melawan dua adiknya itu.
“Ya, gue tahu.” Ucapnya singkat.
Setelah itu dia pergi begitu saja dari kamarnya sambil mengangkat telepon dari Renata.
...💐💐💐...
“Hati-hati dijalan ya sayang, kabarin kalau udah nyampe apartemen.” Ucap Marissa pada menantunya yang kala itu sudah duduk dikursi depan.
Dua wanita berbeda generasi itu masih saling berpegangan tangan, seperti sepasang kekasih yang enggan berpisah. hanya pintu mobil yang sebagai pembatas.
Sedangkan Kevin tengah memasukkan kopernya dan koper Alya ke bagasi. Sejam yang lalu tuan Ryan dan nyonya Desti sudah pulang dengan harapan hampa, dan tentunya segudang amarah.
Tak lama Setelah itu Kevin pamit pada Marissa untuk pulang ke apartemen, dan mereka akan kembali bertemu di tempat pesta. Tak lupa mereka juga pamitan pada Fandy yang kala itu berada di kamarnya.
Awalnya Marissa menahannya, dia meminta Kevin untuk tetap tinggal disana sampai mereka kembali ke Korea. Wanita itu ingin mengenal Alya lebih dalam lagi, agar hubungan mereka terjalin baik.
Dari dulu Marissa ingin sekali memiliki anak perempuan, namun sejak melahirkan Dylan 25 tahun yang lalu dia tak kunjung hamil. Jadi begitu dia mendapatkan menantu, apalagi menantunya seperti Alya yang baik, penurut dan sedikit cerewet, dia sangat senang.
Terlebih umur Alya juga masih sangat muda, tak terlalu jauh dari umurnya yang sekarang sudah menginjak 45 tahun, rasanya cocok saja jika dijadikan teman ngobrol.
“Iya ma, nanti aku kabarin kalau udah sampai.” Saut Alya sambil tersenyum tipis.
“Udahlah ma, lagian nanti malam juga ketemu lagi kok.” Ucap Kevin menimpali.
Dia yang baru saja menutup pintu bagasi memutar bola matanya jengah melihat adegan itu. Bukan tak suka, hanya saja sikap mama sambungnya itu berlebihan.
“Iya-iya mama tahu kok. Kamu ini perusak suasana saja!” Rajuk Marissa.
Kevin tersenyum, jalan mendekat lalu memeluk wanita itu, kedua tangannya mengusap lembut punggungnya.
“Kami pamit ya.” Ucapnya seraya melepaskan pelukannya.
Marissa mengangguk mengiyakan.
“Kalau ada waktu mainlah sesekali ke Korea. Keluarga besar nenekmu pasti ingin mengenalnya.”
“Kan nanti juga mereka datang ke pernikahan bang Rafa, bahkan tadi malam grandma udah kasih tau aku kalau siang ini mereka akan sampai.”
“Iya sih, mama juga udah di kasih tahu. Ya sudah kalian pergilah, keburu siang nanti macet.”
Kevin mengangguk, kemudian dia berjalan mengitari setengah mobilnya dan masuk ke kursi pengemudi. Sedetik kemudian mobil itu berlalu meninggalkan pekarangan rumah.
Setelah mobil Kevin menghilang baru Marissa berbalik badan dan masuk rumah, diruang tamu dia berpapasan dengan aji. Pria itu jalan mendekatinya dengan kedua tangannya dia masukkan ke kantong celananya.
“Mereka sudah pergi?” Tanya aji basa-basi.
“Hm..” jawab Marissa dengan deheman, kemudian berlalu pergi.
Namun seketika langkahnya berhenti begitu mendengar ucapan suaminya.
“Aku mau ke makam Ara, apa kamu mau ikut?”
Marissa memutar balikan badannya, menatap suaminya dengan kening berkerut.
“Bukannya kamu sudah kesana?” Tanya Marissa heran.
Dia ingat betul kemarin pagi-pagi sekali suaminya itu ijin pergi dengan alasan ingin ke makam Tamara. Pada saat itu dia ingin ikut, tapi suaminya melarangnya. Tapi kenapa sekarang suaminya itu ingin pergi lagi kesana?
Mendengar itu Aji nampak salah tingkah.
“Iya memang tapi kamu kan belum kesana, tadi juga aku sudah tanya sama papa mau ikut apa gak dan katanya ikut.”
Marissa diam sejenak, dia menatap curiga pada suaminya.
“Papa jangan berbuat macam-macam ya, masih ingatkan sama ancaman Kevin?”
“Iya ma, papa masih ingat kok. Udah ah jangan curigaan gitu sama suami, dosa!”
Marissa yang mendengar itu mencebikkan bibirnya.
“Ya udah tunggu bentar, mama mau ganti baju dulu. Oh iya Rafael dan Dylan mana?”
“Dylan tadi papa lihat ada di kamar, dia gak akan ikut. Katanya kemarin udah kesana sama Kevin, kalo Rafael papa gak tahu. Udah cek dikamarnya juga kosong.”
Marissa manggut-manggut mengerti, kemudian dia kembali berbalik badan dan masuk kamarnya.
Sementara aji menghela nafas panjang setelah kepergian marissa.
‘huft.. aman.’ batinnya.
__ADS_1
lalu dia duduk di sofa sambil membaca majalah yang ada di kolong meja.