
waktu terus jalan, suasana pesta pernikahan Rafael dan Selena semakin ramai dengan bertambahnya para tamu undangan yang terus berdatangan. Sebagian besar dari para tamu itu adalah para pejabat, pengusaha dan rekan artis. Bahkan ada salah satu penyanyi naungan agensi GOLDEN ENTERTAINMENT yang ikut hadir dan menyumbang beberapa lagu, membuat suasananya semakin riuh dan menyenangkan.
Tak hanya dihadiri oleh orang-orang penting, para teman-teman SMA dan kuliah Kevin juga turut hadir ke pesta tersebut. Termasuk teman-teman sewaktu dulu pernah membully Alya juga ada disana, mereka menatap kehadirannya dengan tatapan tak suka dan cemoohan.
Alya sangat menyadari akan hal itu, dan boleh jujur dia ingin sekali menghilang dari tempat tersebut. Namun apalah daya, dia sudah menjadi bagian dari keluarga dirgantara. Ya.. meskipun tak suka dengan suasananya, dia harus tetap ada disana.
Dia masih teringat dengan ucapan Dylan waktu dirinya dan suaminya datang, kakak iparnya itu mengatakan jika sebelumnya sudah ada beberapa anak koleganya yang membicarakannya, bahkan ada yang menuduhnya sebagai pelakor.
Yah, memang benar. Disini dia memang pelakor, karena sudah berhasil merebut Kevin dari Mayra. Tapi mereka semua tak ada yang tahu keadaan yang sebenarnya, dia juga sebenarnya terpaksa melakukan itu. Yaitu ingin melindungi karir kakaknya.
Saat ini Alya dan arina sedang berdiri di sudut ruangan, pandangan mereka mengarah ke si penyanyi yang sedang membawakan lagu Romantis. Jessica tak ada bersamanya, gadis itu ikut kumpul bersama keluarganya. Sedangkan Kevin juga sama, suaminya itu sedang berkumpul dengan para teman-teman kuliahnya waktu di Inggris.
Mereka semua tak di undang secara khusus oleh Kevin, melainkan mereka adalah anak dari kolega bisnis papa dan kakaknya yang ikut datang bersama orang tuanya. Sebelumnya Kevin sudah mengenalkannya pada teman-temannya itu, dan Alya juga sempat ikut mengobrol namun tak lama, Setelah itu dia memilih berpisah dan pergi bersama Arina.
Saat tengah-tengah asyik menikmati syair lagu, mata arina tak sengaja melihat seseorang yang di kenalinya.
“Al.” Panggilnya seraya jarinya menusuk-nusuk ke lengan alya.
“Hm.” Sahut Alya, seraya menoleh.
“Lo lihat deh disana, bukannya itu Jennifer ya?” Tanya arina, dia menunjuk ke satu arah dengan dagunya.
Hati Alya berdesir saat nama itu disebutkan, lalu mengikuti arah yang di maksud Arina. Disana dia melihat ada sekelompok wanita cantik memakai gaun mahal tengah mengobrol, disana Alya juga melihat ada sosok wanita cantik yang tadi arina sebutkan.
Jujur saja Alya sempat kaget, dirinya tak menyangka akan bertemu kembali dengan Jeniffer setelah 2 tahun berlalu. Ingatannya kembali melayang ke waktu jaman SMA dulu, dimana hampir setiap hari dia selalu kena Bullyan.
Bukan karena Jeniffer adalah seorang pembully, sama sekali bukan. Hanya saja sosok Jeniffer ini bisa dikatakan adalah dalang utamanya, cuman bukan dia pemainnya. Melainkan orang lain.
Selain itu, sosok Jeniffer ini juga di anggap duri dalam hubungan Alya dengan Kevin. Karena kedekatannya dengan Kevin semasa SMA dulu, membuat Alya sering merasakan cemburu.
Banyak yang mengatakan masa SMA adalah masa yang paling indah dan sulit untuk dilupakan. itu memang benar. Alya memang tak pernah melupakan masa SMA-nya dulu. Kenangan manisnya hanya sedikit, selebihnya pahit seperti empedu.
Dimana bagian manisnya hanya terisi kisah cintanya dengan Kevin, kisah cinta yang semua orang anggap bagai cerita di buku dongeng.
Sedangkan di bagian pahitnya adalah masa-masa dimana dirinya dulu selalu di pandang sebelah mata oleh semua siswa sekolah karena berasal dari rakyat miskin, dan tak tahu asal usulnya.
“Iya bener, itu memang jeni.” Sahut Alya dengan suara pelan, wajahnya berubah sendu.
Alya sedih bukan karena bertemu kembali dengan Jeniffer, melainkan dia teringat dengan bingkai foto yang kemarin dia lihat di kamar Kevin. Ya, wanita dalam foto itu adalah Jeniffer.
“Ternyata dia udah balik ya, gue pikir dia masih di Belanda.” Ucap arina yang masih terus menatap ke arah jenifer.
“Gak tahu.” ucap Alya acuh.
Alya langsung memalingkan wajahnya saat wanita bernama Jenifer itu meliriknya, begitu pun dengan semua teman-temannya yang ikutan meliriknya sambil berbisik-bisik.
“Lo mesti hati-hati sama dia Al, jangan sampai kejadian waktu SMA terulang lagi.” ucap arina memperingati.
Alya yang mendengar itu diam sejenak, lalu kembali menatap Arina. “Sekalipun itu terjadi, gue gak ada hak buat larang kevin. Lagipula mereka kan emang berteman.”
“Gak ada sejarahnya seorang Kevin dirgantara berteman dengan wanita, apa Lo lupa Gimana sifatnya dulu?”
“Tapi dulu kan mereka memang sempat dekat, bahkan anak-anak lain pada bilang mereka itu pasangan kekasih.”
“Itu kan kata mereka dan selama ini gak ada bukti yang jelas jika mereka itu pasangan. Kalaupun benar mereka ada hubungan, untuk apa coba Kevin nembak Lo waktu itu?”
Alya bungkam, apa yang arina ucapkan memang benar. Dari banyaknya cewek cantik yang mengejarnya, Kevin lebih memilihnya untuk dijadikan kekasih. Dan Alya juga tahu selama masa itu Kevin yang selalu datang mendekatinya, padahal sudah ribuan kali dirinya menghindar. Namun nyatanya Kevin kembali datang, Selalu menolongnya kala siswa lain membully-nya, menawarkan pertemanan, hingga akhirnya pria itu menyatakan perasaannya.
“Apa Lo gak merasa sakit hati jika nantinya Kevin bersama wanita lain?”
Alya menggeleng. “Enggak, kan udah gue bilang kalau gu--”
“Berhenti bicara bohong, Gue tahu Lo masih mencintai Kevin.” Potong arina cepat.
Alya kembali menggeleng, sementara arina nampak menghela nafas.
“Mulut memang bisa berkata tidak, tapi mata Lo Enggak.” Ucap Arina, dan itu membuat Alya mematung.
“Emang kelihatan banget ya?” Tanyanya setelah sekian lama terdiam.
Arina mengangguk. “Banget! Mata Lo itu selalu berbinar-binar setiap berinteraksi dengan kevin.”
Untuk kesekian kalinya Alya terdiam, detik berikutnya dia pun mengangguk. “Ya, Lo benar! Gue memang masih mencintainya, tapi dia udah enggak.”
Arina yang mendengar kata-kata terakhir Alya tersenyum tipis. “Itu dia tugas Lo sekarang!”
Alya mengernyit. “Tugas?”
“Iya, tugas buat Kevin bisa mencintai Lo lagi.”
Alya menggeleng. “Itu mustahil Rin, gue tahu prinsipnya. Sekali dia benci sama orang, maka akan susah di maafin.”
“Alya, Dalam dunia ini tak ada yang namanya mustahil! Batu yang keras aja akan berlubang jika di tetesin air tiap hari, apalagi hati manusia. Gue yakin, lambat laun Kevin akan luluh kalau Lo jago menggodanya.”
“Menggoda bagaimana maksudnya?”
“ck! Masa Lo gak paham sih apa maksud gue?”
Alya tak bersuara, dengan wajah polosnya dia hanya menggeleng. Seketika membuat sahabatnya tepuk jidat.
“Goda dia dengan status Lo sebagai istri!” Jawab arina dengan nada berbisik.
“apa! Lo gila kali ya, mana mungkin gue berani berbuat kayak gitu?” pekik alya dengan mata membola.
“Dia lakik Lo, harusnya gak masalah kan?”
“Jelas masalah lah Rin, Kevin itu taunya gue udah gak suci lagi! Kalau gue goda dia terus dianya mau, ketahuan dong!”
“Itu malah lebih bagus lagi, biar Kevin tahu kalau Lo sama Dylan itu gak pernah ngapa-ngapain.”
“Tapi Rin--”
“Tapi apa? Soal om aji? Hiraukan aja dia! Lagian kan sekarang udah banyak anggota keluarga kevin yang berpihak sama Lo, sedangkan om aji hanya sendirian dan mengandalkan ancamannya aja. jadi Lo gak usah takut lagi. Dan asal Lo tahu aja, Gue pernah dengar dari Jessica perusahaan yang saat ini dikelola om aji itu sebenarnya sudah milik neneknya Kevin.”
“Benarkah? Bukannya itu perusahaan keluarga kakeknya ya?”
“katanya sih sebagian besar saham ZEOUS GRUP udah di beli sama neneknya. Jadi bisa dikatakan dia juga salah satu pemilik perusahaan itu. Cuma ya sekarang masih atas nama om aji, karena pada saat itu bang Rafael yang sebagai pewaris belum ingin menikah.”
“Kenapa harus nunggu bang Rafa nikah dulu?”
“Kalau itu Gue kurang tahu, emangnya Lo gak pernah Nanya soal ini ke Kevin?”
__ADS_1
“gak.”
“Udahlah, lupakan soal om aji dan perusahaan. Sekarang Lo harus ikuti ucapan gue tadi, Lo harus bisa bikin Kevin jatuh cinta sama Lo lagi! Atau Lo mau dia lari ke pelukan wanita lain?”
“Ya kalo itu yang dia inginkan, biarin. Toh, kita menikah juga karena keadaan!”
“Dasar bodoh! Kenapa Lo selalu pasrah gini sih Al, harusnya Lo itu manfaatin kesempatan yang udah Tuhan kasih, ini malah di sia-siakan dan berakhir nyiksa diri sendiri.” Cetus arina seraya menoyor kepala Alya.
“Gu-”
“Alya!”
tiba-tiba terdengar suara Jessica memanggilnya, dan hal itu sempat membuat para tamu menoleh ke arahnya. namun detik berikutnya mereka kembali acuh, sementara itu Alya dan arina melihat Jessica berlari kecil ke arahnya dengan wajah panik.
“Ada apa Jes, kenapa Lo teriak sambil lari gitu?” Tanya Alya dengan kening berkerut.
“Iya nih, bikin heboh aja!” Sahut Arina.
“Gawat Al, gawat!” Serunya setelah dekat dengan kedua sahabatnya.
“Gawat kenapa sih?” tanya arina lagi.
“I-hhh.. i-itu di depan pintu masuk gue lihat tadi ada Mayra, dia ngamuk pengen masuk tapi para penjaga melarangnya.” ucap Jessica dengan suara tertahan.
“Apa, Mayra datang!” Pekik Alya dengan mata membola.
“Lo gak lagi bercanda kan?” Tanya Arina yang ikutan kaget.
“Seriusan! Sebaiknya Lo kasih tahu Kevin sekarang, kayaknya dia bakal bikin ulah deh, Soalnya dia datang pake gaun pengantin gitu!”
“Apa! Wah, abis ditinggal nikah kayaknya stres tuh cewek hahaha...” Ucap arina yang di akhiri dengan tertawa.
“Sepertinya, tapi gue juga kasihan sih sama dia.” Sahut Jessica menimpali.
“yaelah, ngapain juga Lo kasian sama cewek modelan kayak dia! Pasti nih ya dia datang kesini pake baju gituan mau cari perhatian aja! Ya udah Al Lo cepat samperin Kevin sana, sebelum dia berhasil masuk!”
Alya mengangguk pasti, dengan segera dia pun jalan setengah pincang mendekati suaminya. Sementara itu arina langsung menarik tangan Jessica, gadis itu penasaran dan ingin melihat langsung.
“Kevin!” Panggil alya sedikit berteriak, pasalnya keadaan pesta itu cukup padat dan berisik.
Saking padatnya Alya sampai beberapa kali menabrak tubuh tamu lain dan hampir jatuh, namun untungnya dia bisa menahan diri.
Kevin yang kala itu duduk di kursi tamu bersama teman-temannya langsung menoleh saat samar-samar mendengar suara Alya, spontan dia pun langsung berdiri begitu melihat istrinya berjalan terseok-seok ke arahnya. Semua teman kuliah Kevin juga ikutan menoleh dengan wajah penasaran, namun mereka tak berani bertanya. Selain karena tak mengerti bahasanya, mereka juga tak mau ikut campur.
“Kamu kenapa?” Tanyanya sambil memperhatikan wajah Alya yang panik, dan dia juga mendengar istrinya itu meringis.
“Kaki kamu nyeri?” Tanyanya lagi, kali ini terdengar khawatir.
Alya menggeleng. “Enggak, bukan. Itu tadi kata Jessica dia melihat Mayra di depan pintu masuk, dia mengamuk karena tak di ijinkan masuk.” Jawabnya.
Mendengar itu sontak saja membuat Kevin terkejut. “Sialan! Ternyata dia berani juga berbuat ulah.” Umpatnya.
“sekarang gimana ini Vin, dia sudah ada di depan dan katanya dia datang pake gaun pengantin.”
“Hah! Gaun pengantin? Kamu serius?”
Alya mengangguk cepat. “Itu yang Jessica bilang tadi.”
Kevin diam sejenak, kening pria itu berkerut dalam.
Kevin kembali menatapnya, pria itu tersenyum sambil sebelah tangannya menyentuh sisi wajah Alya.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Ucapnya.
Setelah mengatakan itu Kevin merogoh kantong celananya dan meraih ponselnya, kemudian menelpon Kenzo. Dalam pembicaraan itu Alya tak mendengar dengan jelas karena suasana pesta itu sangat bising, namun gadis itu bisa menyimpulkan Kevin menyuruh orang yang di telponnya untuk mengurus Mayra.
Sekitar satu menit setelahnya Kevin menyudahi sambungan teleponnya dan kembali menyimpannya di tempat semula, kemudian Kevin menoleh ke arah teman-temannya. dia berpamitan dengan bahasa Inggris, dan langsung direspon baik oleh mereka.
Selepas itu Kevin menarik Alya pergi dari sana, mendekati Rafael yang berdiri di altar bersama Dylan dan Rendy.
“Bang.” Panggil Kevin saat sudah dekat.
Tiga pria yang tengah mengobrol itu menoleh ke arah suara, mereka melihat Alya dan Kevin berjalan cepat ke arahnya.
“Ada apa ini?” Tanya rafael dengan kening berkerut.
Rafael memang tipe pria yang peka, dia sudah tahu ada yang tidak beres begitu melihat raut wajah adiknya.
“Di luar ada Mayra!” Jawab Kevin ke inti.
“What? Ngapain dia disini?” Kali ini Dylan yang bertanya.
“Gak tahu, tapi kayaknya dia mau berbuat ulah. Kata Jessica dia ngamuk pengen masuk dan dia juga datang pakai gaun pengantin!” Jawab Kevin.
Mendengar jawaban Kevin membuat tiga pria dewasa itu semakin kaget, mereka tak menyangka hal seperti ini akan terjadi.
“Astaga! Cewek itu udah benar-benar gila! Dia datang sama siapa sih? Perasaan kita udah memblokir keluarga Herlambang datang?”
Ditanya seperti itu Alya dan Kevin sama-sama menggeleng.
“Ini pasti ada orang dalam, gak mungkin kan dia bisa masuk tanpa bantuan orang lain?” Tebak Rendy.
“Benar juga. Ya udah kalian tenang aja, gue bakal urus cewek gila itu.”
Dylan sudah siap ingin pergi, namun tertahan karena kedatangan Anjeli dan Kenzo.
“Grandma!”
Anjeli mengangguk tanda mengerti apa yang ingin Dylan ucapkan. “Kalian tetap disini, biar grandma dan Kenzo yang urus.” Ucapnya dengan suara dinginnya.
...💐💐💐...
Anjeli dan Kenzo sudah sampai di depan pintu masuk, dengan kedua tangannya melipat di perut, mata birunya menatap penampilan Mayra dari atas sampai bawah.
“Mau apa kau datang kesini?” Tanya Anjeli dengan wajah datarnya.
Mayra nampak tersenyum lebar saat melihat Anjeli. “Grandma, tolong ijinkan aku masuk. Tolong singkirkan dua penjaga sialan ini, dan coba grandma lihat apa yang sudah mereka lakukan padaku! Mereka menyakitiku grandma.”
Mayra mengucapkan kata terakhirnya dengan nada manja, sambil menunjukkan luka memar yang ada di tangannya.
Anjeli berdecih. “Apa peduliku? Mau mereka membunuhmu sekalipun, masa bodoh! Bahkan itu jauh lebih bagus, benalu sepertimu memang harus segera di musnahkan!”
__ADS_1
Mayra nampak tertohok dengan ucapan pedas Anjeli, dia tak menyangka wanita itu mengatakan itu dengan suara keras.
“Dan tadi kau bilang apa? Ijinkan kau masuk? Dengan pakaian seperti ini? Apa kau sudah tidak waras!” Sentaknya.
“Grandma, Aku mau bertemu dengan Kevin, dia harus menikahiku sekarang juga!” Seru Mayra.
“Menikahimu? Hahaha.. Yang benar saja! Apa kau sudah lupa kalau Kevin sudah menikah dengan wanita lain?”
“Wanita itu tak pantas untuk Kevin grandma, dia hanya cewek kampung yang matre!”
“Terus menurutmu yang pantas itu kamu, gitu?”
“Jelas dong grandma, aku wanita cantik dan berkelas. Kevin akan sangat beruntung memiliki istri sepertiku!” Ujar mayra dengan pedenya.
“Terus saja kau bermimpi! Sampai dunia runtuh pun itu tak akan terjadi.”
“Grandma jangan ngomong begitu, tolong grandma tolong nikahkan aku sama Kevin sekarang. Aku rela menjadi istri keduanya asal aku bisa menjadi istrinya.” Mohon Mayra dengan kedua tangan terkatup di depan wajahnya, dia seakan tak punya rasa malu sama sekali.
“Hah! Dasar wanita gila, pantas saja cucuku tak pernah menyukaimu. Ternyata sifat aslimu begini. Sebaiknya kau pergi dari sini atau kau akan tahu akibatnya!” Ancam Anjeli dengan mata melotot.
Namun bukannya takut, Mayra malah tetap keukeuh pada keinginannya. Dia terus memaksa Anjeli agar mengijinkannya masuk, dan hal itu membuat wanita tua itu jengkel.
“Sepertinya kau ingin sekali melihat orang tuamu menderita ya? Baiklah kalau itu maumu, akan ku turuti.”
“Kenzo, segera hubungi sekretaris ku. Katakan padanya untuk mendeportasikan perusahaan milik Ryan!” Titah Anjeli dengan suara sarkas.
“Baik, nyonya.”
Mayra yang mendengar itu nampak terkejut, matanya terbelalak. Bahkan tamu lain yang mendengar itu juga terkejut, mereka sangat tahu bagaimana kuasanya Anjeli.
Kini mereka merutuki tindakan Mayra yang sengaja datang disana dengan penampilan seperti pengantin, ditambah dengan keinginannya yang ingin menjadi istri keduanya Kevin.
“Grandma! Apa yang kau katakan? Kenapa kau ingin mendeportasikan perusahaan papaku?” Pekiknya dengan mata membola.
Anjeli tersenyum sinis. “Itulah akibatnya sudah mengganggu keluargaku!”
“Tapi grandma, aku hanya ingin mengambil hakku!” Teriaknya tak terima.
“Hak apa maksudmu? Hak ingin memperbudak cucuku, begitu? cih, jangan harap itu terjadi!”
“B-bukan begitu grandma, aku-aku hanya..”
“Hanya apa, hah? Kau pikir aku tak tahu akal busuk kau dan papamu itu, aku tahu kalian hanya ingin mengejar harta peninggalan Tamara saja kan?”
Mayra menggeleng, dia ingin maju mendekat. Namun dengan sigap dua penjaga itu menahannya.
“Lepaskan aku! Grandma aku mohon tarik kembali omongan grandma tadi, tolong jangan deportasi kantor papa!” Teriaknya.
“Kalau kau tidak mau, maka pergilah dari sini dan jangan pernah sekalipun ada niatan untuk mengganggu keluargaku, terutama Alya dan kevin! Jika ketahuan, maka aku akan melakukan lebih dari ini!”
“Tapi-”
“Semua keputusan ada ditangan mu.”
Mayra terdiam, wajahnya memerah dan kaku. Dia menatap Anjeli dengan tajam.
“bagaimana?” tanya Anjeli.
Mayra menghela nafas, sebelum akhirnya ia berteriak. “Baik, aku akan pergi dan aku janji tak akan mengganggu mereka lagi!”
Mendengar itu Anjeli tersenyum puas. “lepaskan dia.” titahnya pada dua pengawal yang sedari tadi menahan Mayra.
Kedua pengawal itu pun menurut, mereka melepaskan mayra.
“tunggu apa lagi? Pergi!”
Mayra diam Sejenak, matanya menatap tajam anjeli. Sebelum akhirnya dia berlalu pergi.
...💐💐💐...
“Bagaimana grandma? Apa dia udah pergi?” Tanya Kevin saat neneknya itu sudah kembali masuk dalam pesta.
“Sudah!” Jawab Anjeli seraya menjatuhkan bobot tubuhnya ke kursi tamu, kemudian membuang nafas kasar. “Dia itu benar-benar wanita gila, masa dia bilang akan memaksamu untuk tetap menikahinya dan dia rela jadi istri kedua.” Sambungnya dengan kesal.
Kevin tersenyum smirk. “Dia itu memang gila grandma, makanya aku tak pernah setuju dengan perjodohan ini.”
Anjeli nampak menatap wajah sang cucu, raut wajahnya pun berubah. “Harusnya kamu lakukan ini dari awal, gak harus nunggu setahun dulu.”
“Grandma Kan udah tahu kondisiku waktu itu kayak apa?”
Anjeli mengangguk. “Yah, grandma tahu. Dan dengan kejamnya papamu malah merencanakan ini semua, pantas saja bantuan grandma langsung ditolak. Ternyata Ryan sudah mengambil star duluan. Tapi.. sekarang udah gak kumat lagi kan?” Tanyanya, wajah tuanya terlihat khawatir.
Kevin tersenyum sambil menggeleng. “Tidak, grandma tenang saja. Untuk saat ini aku masih baik-baik saja.”
“Kamu harus tetap baik-baik saja, soal papamu dan keluarga Mayra biar grandma yang urus. Kamu cukup jaga istrimu dan keluarganya dengan baik.”
Kevin mengangguk mengiyakan. “Makasih grandma udah bantu Kevin mengatasi semuanya.”
“Tentu sayang, apapun akan grandma lakukan demi kebahagiaan cucu-cucu grandma.” Ucap Anjeli, sebelah tangannya menepuk-nepuk pelan punggung tangan Kevin.
“Oh iya dimana istrimu, kenapa tak ada bersamamu?” Tanya Anjeli sambil celingukan mencari sosok Alya.
“Alya sekarang sedang ada diruangan Kak Selena, disana juga ada keluarganya dan Arina kok.” Jawab Kevin.
“Ngapain dia disana?” Tanya Anjeli heran.
“Ah.. itu..”
Kevin baru sadar jika selain teman-temannya, tak ada orang lain lagi yang mengetahui jika Alya adalah adiknya Selena.
“Apa?”
“Emm.. sebenarnya Alya itu adiknya Selena.” Ucap Kevin dengan suara pelan.
“Hah! Adiknya Selena?” Anjeli terkejut.
“Iya grandma, tapi memang Alya menyembunyikan ini dari awak media.”
“Kenapa begitu?”
“Dia gak suka kehidupan pribadinya di usik, ya grandma tahu sendiri gimana kerasnya dunia entertain.”
__ADS_1
Anjeli yang mendengar itu manggut-manggut. “ternyata benar ya apa kata orang, Jodoh adalah cerminan diri! Kamu dan istrimu itu sama saja.”
Kevin yang mendengar itu nampak tersenyum, entah senyuman itu mengartikan apa.