
"Alya di culik oleh geng zervanous!"
DEG!
"apa! Di culik geng zervanous?" Pekik dylan, dan semua orang yang ada disana mengangguk mengiyakan.
Seketika itu pula wajah dylan berubah emosi dan rahangnya mengetat, dadanya pun nampak kembang kempis.
"Siapa zervanous? Berani sekali dia mengganggu keluarga dirgantara! Apa mereka satu komunitas dengan jakson?"
Dylan tahu kevin suka main balapan dan dia juga tahu kevin masuk dalam sebuah komunitas balap mobil liar, nama gengnya adalah Galaxy rider.
Dan soal nama zervanous.. ia baru kali ini mendengarnya.
"Bukan." Jawab jeremi, seraya menggeleng dan jalan mendekati dylan.
"Bisa dikatakan zervanous adalah musuhnya dari seluruh komunitas balap liar, karena terkenal akan kelicikannya." Sambungnya.
"Terus hubungannya dengan alya apa? A-apa kevin punya urusan serius sama mereka sampai nekad menculiknya?"
Dylan sangat meyakini jika masalah ini bukanlah hal sepele, terlebih ini menyangkutkan alya.
"Soal itu gue gak tau pasti, tapi.. besar kemungkinan mereka ada urusan penting dengan kevin. Makanya mereka sampai nekad membawa alya, secara lo tau kan kelemahan terbesar kevin itu apa?"
Dylan menghela nafas panjang kemudian mengangguk, ia tahu betul sebucin apa kevin terhadap alya. Meski di awal menikah kevin nampak cuek, namun sebagai lelaki ia tahu adiknya itu secara diam-dima masih kasih perhatian ke alya.
Sebelum insiden dimana kevin datang dan menyerangnya secara tiba-tiba, dylan sudah memperhatikan kelakuan mereka dari laporan mata-mata yang ia sewa. Siapa lagi, jika bukan sean.
Sementara itu Jeremi melirik ke arah rangga yang sejak tadi diam, ia memberi kode pada sahabatnya itu agar sudi menjelaskan.
"Ga, sebaiknya lo jelaskan semuanya ke dylan supaya paham." Ucapnya.
Seketika itu pula Semua pasang mata yang ada disana kini tertuju ke arahnya, termasuk juga dylan.
Sedangkan rangga sendiri tak langsung bersuara, wajahnya nampak begitu tenang.
"Tolong ga lo jelaskan pada kami semua, mau itu buruk sekalipun biar kami semua tahu apa yang harus dilakukan." Pinta samuel dengan sorot memohon.
Dari arah belakang mingyu jalan mendekat, ia jalan mendekati rangga dan menepuk bahunya.
"Katakan saja ga, kami siap mendengarkan." Ucapnya.
"Dendam." Sahut rangga singkat, namun mampu membuat semua orang yang ada disana terkejut.
"Dendam lagi?" Beo samuel dan jeremi, dan rangga mengangguk.
Sebagian dari mereka yang sudah mendengar cerita awalnya mungkin akan paham, namun tidak untuk yang belum tahu.
Dimas, mingyu dan dua wanita yang ada disana mengernyit tak mengerti. Termasuk dylan sendiri.
"Apa maksudnya dengan lagi? Dendam macam apa yang lo maksud?" Tanya mingyu, lalu ia menatap jeremi dan samuel dengan sorot bertanya.
Namun kedua sahabatnya itu bungkam dan saling lirik.
"Ribet kalau di ceritakan, intinya antara kevin dan roni memiliki dendam di masa lalu dan ini berkaitan juga dalam keluarga alya. Tapi kalian tenang saja, gue udah minta bantuan ke om marvin, dan mungkin nanti malam dia akan tiba disini." Jawab rangga.
Lalu pandangannya tertuju ke dylan. "Lo pasti kenal kan siapa om marvin?" Tanyanya.
Dylan mengangguk kaku, wajahnya terlihat bingung. Ia belum paham dengan kondisi yang terjadi, namun yang jelas itu pasti sangat penting.
"Lo kesini sama siapa?" Tanya rangga lagi.
"Sebenarnya sama darren, tapi dia gue tinggal dirumah utama." Jawab dylan.
Rangga terlihat manggut-manggut. "Sebaiknya lo juga kabarin bang rafa, suruh dia kesini buat jaga kevin. Kalau perlu bawa sekalian selena."
"Buat ap-"
"Gak ada pertanyaan apapun, lakukan saja apa yang gue bilang tadi. Itu pun kalau lo pengen lihat mereka selamat! " Potong rangga cepat, seraya merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
DEG!
Menyadari itu membuat dylan tak mampu menolak lagi, perasaannya menjadi tidak enak.
Meski bingung dan penasaran, pada akhirnya ia memilih menurut. Ia berdecak kesal saar nomor rafael tak bisa di hubungi, mencoba berkali-kali pun hasilnya sama.
Pamungkasnya ia menghubungi kontak ibunya, syukurnya wanita yang telah melahirkannya itu langsung menjawab. Tak ada yang mau di tutup-tutupi, dylan menjelaskannya secara rinci.
Sudah bisa ditebak, marissa terdengar panik saat penyakit kevin kambuh. Ditambah dengan kabar menantunya di culik, dylan pun mengatakan untuk memberitahu kakaknya dan selena untuk menyusul, karena dia akan membantu semua teman-teman kevin untuk membebaskan alya.
...πππ...
Sementara itu di markas zervanous, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang temaram. Nampak roni tengah duduk di sebuah sofa usang sambil bersedekap dada, matanya yang sipit menatap lurus ke arah ranjang besi yang sudah ditempati oleh tubuh ferdinan.
"Apa dia sudah benar-benar mati?" Gumamnya, seraya memiringkan sedikit kepalanya.
Sejak ia membawanya dari rumah sakit, ferdinan memang tak bergerak sedikitpun. Entah pria itu hanya sekedar pingsan atau memang benar-benar mati, roni tak tahu pastinya. namun yang jelas ia bisa merasakan suhu tubuhnya masih hangat.
Roni mengangkat kedua bahunya acuh, lalu menyenderkannya di sandaran sofa. Pria itu tak perduli tawanannya itu mati atau tidak, yang penting dia sudah menjalankan perintah bobby untuk membawanya pergi.
Kini sekarang dia sedang menunggu kedatangan pria itu, karena menurut rencana awal bobby akan melakukan sesuatu padanya sebelum benar-benar membunuhnya.
Tapi sekarang apa? Hampir satu jam dia menunggu, namun bobby tak menampakkan batang hidungnya. Bahkan saat roni berusaha menghubunginya, nomornya dalam keadaan tak aktif.
Roni tidak tahu saja tentang keadaan bobby sekarang yang tengah di kurung di sebuah ruangan bawah tanah, dan itu berada di kediaman milik kevin.
Kediaman yang selama ini dihuni oleh puluhan pelayan dan bodyguard, dan tentunya... satu ekor harimau putih.
Sebenarnya Tak ada yang menyuruh bobby harus di bawa kesana, pada saat itu iwan berinisiatif sendiri untuk mengamannya disana. Karena ia pikir pasti bobby tak akan berani berontak apalagi nekad kabur kalau di masukkan ke kandang harimau peliharaan milik keluarga dirgantara, sebelum nantinya sang tuan muda datang.
BRAK!
roni tersentak kaget saat pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, ia melirik sinis wajah orang yang sudah berdiri disana.
"Udah bosen hidup lu!" Sentak roni, dengan mata sedikit melebar.
__ADS_1
"Hehehe.. sorry bos. Kaget ya?"
Dengan tidak tahu malunya orang itu cengengesan dan melontarkan pertanyaan konyol, dan hal itu membuat roni geram.
"Pake nanya lagi!"
"Maaf deh maaf, gue hanya pengen ngasih tau kalau anak lain sudah datang!"
Mendengar itu ekspresi roni langsung berubah. "Benarkah? Apa mereka berhasil membawanya?"
"Sudah bos! Asli, tuh cewek bening banget klo lihat secara langsung. Mana semok lagi! Huh, si kevin pinter banget nyari bini! Di bandingin sama Mayra mah, ketinggalan jauh!"
Roni tak memperdulikan ocehan orang itu yang tak lain adalah anggota gengnya, ia lebih memilih langsung beranjak dan keluar dari ruangan tersebut.
Melihat sang ketua keluar, dia pun segera menyusul. Mereka jalan menuju ke tengah-tengah ruangan, dimana seluruh anggota gengnya berkumpul.
"Bos!" Seru salah satu anggota inti zervanous, begitu melihat kedatanvan roni.
Roni menanggapinya dengan senyuman smirk, seraya terus melangkah. Pandangannya tak lepas dari wajah alya yang merona, posisi gadis itu saat ini duduk bersimpuh di tanah dan wajahnya menunduk.
Saat sudah dekat, roni duduk berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan alya. Lalu tangan kanannya terulur, dan dengan sekali gerakan ia berhasil mengangkat wajahnya.
"Jadi ini ternyata wujud nona muda dirgantara." Ujar roni, sepasang mata sipitnya memindai garis wajah alya.
Roni tak menampik, apa yang tadi anggota gengnya katakan benar. alya memang terlihat cantik kalau lihat secara langsung, bahkan terkesan manis dan polos.
Sebagai lelaki normal dan dewasa, ia terpesona.
"Pantas saja si manja itu menjagamu begitu ketat, nyatanya kamu manis begini. Ah, gak sia-sia memang kevin ninggalin mayra kalau penggantinya lebih menggoda."
Arti tatapan roni mulai berubah, yang tadinya terpesona kini berubah nakal. Bahkan dengan beraninya ia meraba rahang alya dengan gerakan lembut, lalu merambat ke pipi dan lehernya.
Namun saat jarinya ingin menyentuh bibir ranumnya, alya langsung melengos. Tubuhnya nampak gemetaran dan berkeringat dingin, bayangan akan malam dimana ia hampir di nodai muncul di ingatan.
Sedangkan Roni yang melihat tingkah alya terkekeh, lalu sebelah sudut bibirnya terangkat hingga menampilkan senyum meremehkan.
"Sok jual mahal rupanya." Tandasnya.
Setelah itu roni lekas berdiri, dengan kedua tangan terlipat di perut ia memberi perintah yang membuat alya terkejut.
"Ikat dia, dan pasang bom itu ke tubuhnya."
"Siap bos!"
Drrtt..
Di saat para anak buahnya mengurus alya, roni merasakan kantong celananya bergetar. Ia segera merogohnya dan meraih benda pipih itu.
"Ada apa?" Tanyanya setelah panggilannya tersambung.
[Dia masuk rumah sakit, dan menurut infonya penyakitnya kambuh.]
Jawab seseorang di seberang sana, terdengar suara laki-laki.
Roni tak perlu bertanya lagi siapa yang di maksud, karena ia sudah tahu.
Seseorang di seberang sana tak menjawab, namun roni bisa mendengar helaan nafas panjangnya. Dan hal itu membuatnya semakin senang, bukan hanya karena mendapat kabar soal keadaan kevin, tapi juga senang karena sudah berhasil membuat orang kepercayaan musuhnya berkhianat.
"Kenzo.. apa kau sudah lupa dengan kesepakatan kita di awal?" Roni kembali bersuara, dan lagi-lagi ia mendapat jawaban helaan nafas.
Yah, orang yang saat ini tengah menghubunginya adalah kenzo. Pria yang selama ini menjaga kevin dan menjadi orang kepercayaannya, nyatanya malah menusuknya dari belakang. Ia telah menjadi sosok penghianat untuk orang yang telah banyak menolongnya, dan membantu derajat keluarganya.
Tak ada yang bisa menandingi kekuatan uang, semuanya bisa dilakukan. Termasuk merubah seaeorang yang baik, menjadi jahat.
[Tidak.]
"Baguslah kalau kau masih ingat, itu tandanya kau masih sayang sama keluargamu. Terus awasi mereka dan langsung lapor padaku hal apa saja yang mereka rencanakan. Sudah pasti mereka akan segera datang menyerang untuk membebaskan alya bukan?"
[Tentu saja! Makanya aku menelpon untuk memperingatimu, berhati-hatilah. Sebelumnya aku pernah katakan kan, keluarga dirgantara bukanlah tandinganmu!]
Namun sayangnya kata peringatan yang kenzo lontarkan tak berefek apa-apa untuk roni, ia tetap saja keras kepala untuk melawan dan menganggap remeh.
"Dan kau pikir gue bakal takut? Cih, jangan harap! Dalam kamus gue gak ada kata kalah!"
[Terserah, yang jelas aku sudah memperingatimu. Dan ya, jangan pernah berharap sekutumu itu akan kembali. Karena dia sudah terperangkap oleh jeratan para anak buah dirgantara, bahkan aku pun tak yakin dia akan selamat.]
"Apa maksudmu?"
[Bobby sudah tertangkap! Dan dia sekarang sudah berada dalam satu kandang bersama harimau peliharaan keluarga itu.]
Setelah mengatakan itu, kenzo langsung mengakhiri sambungan teleponnya.
Sedangkan roni nampak cengo, otaknya menolak keras jika bobby bisa tertangkap.
Tring!
Roni tersentak saat mendengar bunyi notifikasi pesan masuk, ibu jarinya menekannya dan wajahnya berubah tegang saat melihat isinya.
Roni seakan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dan menganggap itu hanyalah tipuan. Namun nyatanya itulah kebenarannya, ia melihat dengan jelas foto bobby tengah terbaring tak berdaya di dalam kandang besar yang terbuat dari besi berlapis emas bersama seekor harimau putih.
'Dia benar-benar tertangkap!'
...πππ...
Sementara itu di negara busan, lebih tepatnya di rumah utama dirganatara. Rafael nampak terpaku, wajah asia setengah bulenya begitu tegang setelah mendengar ucapan marissa.
"Apa maksud mama bicara seperti itu?" Tanya Rafael dengan irotasi suara santai.
Pria itu seakan tak mempercayai ucapan mama sambungnya tersebut, padahal jelas-jelas kemarin dia masih bisa mengobrol baik tentang bisnis dengan adik bungsunya itu. Kenapa sekarang tiba-tiba ia mendapat kabar penyakitnya kambuh?
Ditambah dengan kabar Alya yang di culik, dalam otaknya mulai berfikir siapa kira-kira pelaku yang berani menculik anggota keluarga dirgantara? Terlebih ini istri dari kevin, yang jelas saja semua orang tahu sebahaya apa pria itu jika sudah marah.
Kalau pun pelakunya adalah sang ayah, sudah jelas rafael akan tahu dahuluan.
Semenjak kejadian dimana kevin datang secara tiba-tiba dan menyerang dirinya 3 bulan lalu, semenjak itu pula Rafael mulai mengawasi semua gerak-gerik sang ayah.
__ADS_1
Termasuk soal dia yang meretas semua alat komunikasi canggihnya, serta memasang alat penyadap dan kamera cctv secara diam-diam diruang kerjanya yang ada dirumah serta di kantor. dari situ pula Rafael tahu kalau ternyata selama ini aji bekerjasama dengan mayra untuk memisahkan alya dari kevin, termasuk juga soal hubungan terlarang keduanya.
Saat awal mengetahui semua fakta itu, jujur saja rafael kaget dan tak menyangka. Meski ia sudah tahu dengan sifat ayahnya yang suka main perempuan, tapi ia tetap tak menyangka ternyata salah satu wanita simpanannya itu adalah calon menantunya sendiri.
Dari situ ia mulai berpikir, mungkinkah selain karena kedudukan. Alasan lainnya aji memaksa ingin menikahkan kevin dengan mayra, adalah agar hubungan keduanya terus berlanjut?
Entahlah, sampai sekarang rafael masih belum bisa memecahkan ada teori apa dibalik alasan sang papa yang begitu ingin menikahkan kevin dan mayra. Sampai-sampai pria paruh baya itu tak memperdulikan kondisi kevin, yang kala itu masih menjalani perawatan dirumah sakit jiwa.
Sementara itu marisa terlihat panik, selaras dengan deru nafasnya yang tersenggal akibat lari dari dapur menuju ruang keluarga.
Sesaat yang lalu ia mendapat panggilan dari dylan, dan mengabarkan soal keberadaanya yang sedang berada di jakarta dengan alasan urusan bisnis.
Marissa yang kala itu sedang sibuk memasak di temani oleh kedua pelayan, dibuat terkejut oleh ucapan sang anak yang menyatakan kalau kevin masuk rumah sakit yang ada di luar kota akibat penyakit anxiety-nya kambuh dan alya di kabarkan di culik oleh sekelompok geng motor.
Dylan juga mengatakan agar mama-nya itu untuk memberi tahu rafael tentang masalah ini, dan memintanya segera datang kesana untuk menjaga kevin. Sementara dirinya akan mencari keberadaan alya, bersama para sahabat kevin.
"Penyakit adikmu kembali kambuh rafa dan sekarang dia dirawat dirumah sakit yang ada di luar kota, sedangkan Alya di culik oleh sekelompok geng motor. menurut info dari temannya, tak lama setelah Alya di bawa pergi, Kevin langsung jatuh pingsan. Kamu jelas tahu kan, imun tubuh kevin akan melemah jika emosinya sudah berada di puncak?"
Sejenak Rafael membisu, soal itu ia jelas tahu. Memang antara dirinya dan kevin sama-sama memiliki daya tubuh lemah, tak seperti dylan yang memiliki fisik kuat. Meskipun kevin jago bela diri, tapi semua itu akan sia-sia jika emosinya sudah terpancing.
Belum lagi soal penyakit mentalnya yang suka kambuh, menjadi poin utama rafael untuk tidak mengkhawatirkan keadaan adik bungsunya itu.
"Mama sedang tidak bercanda kan?" Tanya Rafael lagi, dan kali ini suaranya terdengar bergetar.
Marisa menggeleng. "Tidak nak, sebaiknya kau cepat urus penerbanganmu kesana dan jaga adikmu. Soal alya, biar dylan dan teman-teman kevin yang urus."
"T-tapi.. gimana dengan selena ma, aku gak mungkin..."
Rafael tak melanjutkan ucapannya mengingat kalau disana ada ayahnya yang sedari tadi diam menyimak, dari ekor matanya rafael bisa melihat pria paruh baya itu nampak tenang-tenang saja saat mendengar kondisi kevin.
Seakan paham, Marisa mengangguk lalu menepuk pelan bahu Rafael.
"Gak apa-apa, ajak saja dia pergi bersamamu. Nanti mama akan telpon hani untuk mengantarnya pulang. Ah, tidak! Sebaiknya mama bantu kamu mengepak barang-barang selena, biar nanti dia langsung pergi ke bandara saja."
"Tapi ma, kata dok--"
"Mama tau sayang, tapi ini darurat! Lagian endingnya akan percuma saja, selena pasti akan menyusul kalau tahu kamu pergi karena adiknya di culik." Potong marisa.
"Kan mama bisa rahasiakan dulu."
"Apa kamu pikir mama masih bisa tenang mendengar anak dan menantu mama lagi dalam bahaya? Jelas saja tidak! selena pasti bisa membaca itu!"
Rafael membisu, Dalam otaknya mengiyakan ucapan marissa. Ia sangat bersyukur memiliki ibu sambung baik seperti marissa, kasih sayangnya begitu tulus dan di samaratakan.
"Sudah jangan banyak mikir, ayo mama bantu packing!" Sergah marissa.
Wanita itu langsung merebut bakul yang masih dalam dekapan rafael dan meletakkannya di meja, kemudian menariknya pergi.
Sementara aji yang melihat itu nampak tersenyum smirk, dalam otaknya sudah merencanakan ide licik.
"Tak apa-apa disini aku gagal untuk mencelakainya, tapi tidak saat disana. Aku akan melenyapkan kalian semua tanpa bersisa!" Desisnya.
Kemudian aji meraih ponselnya yang ada di saku celananya, jemari kekarnya menggulir layar datar itu untuk mencari kontak bobby. Ia berniat ingin menyuruh pria itu mempersiapkan senjata pamungkas, agar vanessa dan ferdinan beserta kedua anaknya lenyap seketika.
Pria itu tidak tahu saja jika saat ini bobby sudah terperangkap oleh rencananya sendiri, dan kini dalam genggaman jeratan para anak buah kevin.
Dan ia juga tak menyadari jika ucapannya barusan telah di dengar oleh kakek fandy, pria renta itu berada di belakangnya bersama suster hana.
"Bawa aku kesana." Bisik kakek fandy pada suster hana, yang langsung dilakukan olehnya.
Suster hana mendorong kursi roda yang di duduki oleh kakek fandy, mengarahkannya ke arah dimana aji berada.
Entah karena terlalu fokus dengan ponselnya atau memang tidak mendengar suara decitan, aji tak berekasi apapun saat langkah suster hana semakin dekat.
Grep!
Prak!
Dengan gerakan cepat dan kasar tangan kakek fandy menarik lengan bebas aji, alhasil membuat keseimbangan tubuh pria itu melemah. Tanpa membuang kesempatan yanga ada, kakek fandy merebut paksa ponsel sang anak dan berakhir membantingnya ke lantai.
Untuk seperkian detik aji membisu, dengan memasang wajah cengo. Kejadiannya terlalu cepat, sehingga ia tak membaca gerakan sang papa.
Saat sudah tersadar dari keterkejutannya, aji langsung melirik kakek fandy.
"Papa!" Pekiknya dengan mata membola.
"Jangan harap kau bisa menyakiti cucuku lagi ya aji, apalagi sampai memisahkannya dari istrinya. apa selama ini kau belum puas menyakiti darah dagingmu sendiri. Hah!" Sentak kakek fandy dengan keras, sampai urat lehernya muncul.
"Papa ini bicara apa sih, siapa yang menyakiti? Ak-"
"Berhenti berkelik aji, papa sudah tahu semuanya! Kau sengaja memisahkan alya dari kevin karena kau masih memiliki rasa dengan ibunya, dan jangan kau pikir papa gak tahu, kecelakaan yang dulu tamara alami itu adalah hasil dari perbuatanmu. Iya kan?"
DEG!
mendengar itu aji sama sekali tak bergerak, tubuhnya seakan terpaku ditempat. Wajahnya pun nampak pias, bersamaan dengan itu degupan jantungnya semakin menggila.
Dalam pikirannya, darimana ayahnya tahu soal perbuatannya itu.
Bukan hanya aji, namun suster hana yang mendengarnya secara langsung pun nampak terkejut. Mulutnya tertutup dengan kelima jarinya, dan matanya melirik ke aji dengan tatapan tak menyangka.
"Darimana papa tahu soal itu?" Tanya aji setelah sekian lama terdiam.
Kakek fandy tak langsung bersuara, ia menatap wajah putra semata wayangnya dengan nanar. Batinnya terguncang, dan hatinya terasa perih mengetahui sebuah fakta jika penyebab kematian menantunya puluhan tahun lalu adalah putranya sendiri.
"Papa tak menyangka punya anak sekejam kamu aji, bahkan kamu tega membunuh ibu dari kedua anakmu sendiri! Apa kamu tidak berpikir resikonya seperti apa? Dan setelah semua apa yang kamu lakukan dulu, kamu masih mau belum puas?" Ucap kakek fandy lirih.
"AKU TANYA PAPA TAHU DARIMANA ITU SEMUA!" teriak aji menggelegar, sehingga menggema ke seluruh sudut ruangan.
"Bahkan hewan sekalipun tak ada yang tega menyakiti anaknya sendiri, sedangkan kau, dengan tak berdosanya menyiksa batin kevin demi keuntunganmu sendiri. Ya tuhan.. Dosa apa aku dan ibumu di masa lalu, sehingga mempunyai anak berhati iblis sepertimu." Ucap kakek fandy lagi, mengabaikan pertanyaan aji.
"Papa!" Geram aji, seraya menatap tajam kakek fandy.
Namun kakek fandy tak perduli, ia langsung menyuruh suster hana untuk membawanya pergi menuju kamarnya.
Perasaan pria tua itu hancur, karena merasa sudah gagal menjadi seorang ayah dan kakek yang baik. Hidup putra semata wayangnya sudah di penuhi oleh ambisi dan dendam, sedangkan cucunya hidup dalam pesakitan akibat korban keegoisan ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Bahkan tanpa rasa bersalah sedikit pun, aji membuat kedua putranya yang kala itu masih kecil kehilangan ibu kandungnya.