TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 19~Viral


__ADS_3

“Kok Lo sendiri, dimana Alya? Gak bareng?” tanya arina saat jessica baru saja mendudukkan bokongnya ke kursinya.


“Bareng kok tapi dia lagi ada di toilet.” jawab jessica.


“Oh ya udah, eh Lo udah selesai sama tugas yang semalam gue bilang?”


Jessica mengernyit. “Tugas apaan ya?”


“Tugas biologi dari pak agus minggu kemarin, hari ini harus di kumpulin.”


Wajah jessica seketika pias begitu mendengar ucapan Arina, dia Lupa jika hari ini ada tugas dari dosennya yang terkenal killer dan lebih parahnya lagi dia belum mengerjakannya.


“Jangan bilang Lo lupa?” tebak arina.


“Sumpah demi Cha Eun woo nikah sama moon ga young Gue Lupa!”


Arina terlihat menghela nafas kasar, sambil menatap sebal sahabatnya yang memang sering pelupa itu.


“Lo gimana sih jes, semalam kan udah gue ingetin kalau hari ini kita ada tugas dari pak agus tapi Lo malah gak kerjain! Semalam Lo ngapain aja?”


“Ya sorry.. Gue kan lupa. Semalam dirumah ada acara sampai tengah malam, karena kecapekan gue langsung tidur.”


“Astaga..”


“Cantik cantik kok pikun!” celetuk seseorang membuat jessica menoleh ke arah belakang, begitu pula dengan arina.


mereka melihat seorang pria berparas Asia, tinggi, putih bersih, matanya sedikit belo dan beralis tebal. Namanya Tomi, Dia adalah salah satu mahasiswa jenius di kampus, juga terkenal nakal.


“Mon maap, Gue bukannya pikun ya tapi Lupa!” ucap jessica kesal.


“Sama aja!” sautnya santai sambil meneguk minuman kaleng.


“Jelas bedalah, dari kata dan penulisannya aja udah beda.”


“Tapi artinya tetap sama kan? Siap-siap saja bakal dihukum lari keliling lapangan sama dosen killer.” ucap tomi sambil menyeringai.


Wajah Jessica terlihat jengkel. “Lo-”


“Udah-udah jangan di bahas lagi, mumpung masih ada waktu mending sekarang Lo kerjain tugasnya sebelum kelas di mulai.”


Jessica hanya mengangguk dan dia pun mulai sibuk mengerjakan tugasnya.


TRING!


Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel milik jessica yang kala itu tergeletak di atas mejanya, dia pun meliriknya tertera ada nama selena disana.


{jessica ini kak Selena. Kakak minta tolong sama kamu lihatin Alya sudah makan atau belum. Soalnya waktu berangkat dia tak sempat sarapan.}~selena


“Rin.” panggil jessica.


“Hm.” saut arina tanpa menoleh, dia sedang pokus pada ponselnya.


“Ini kak Lena chat gue, katanya Alya belum sarapan dan dia nyuruh gue buat liatin dia makan tapi gue lagi sibuk, Mending Lo aja deh.”


“Ya, nanti kalau dia udah balik dari toilet gue bakal suruh dia makan. Kebetulan hari ini bunda bekalin makanan cukup banyak.”


“Oke.”


Setelah itu baik arina maupun jessica kembali sibuk dengan dunianya.


Namun tiba-tiba keadaan yang tadinya tenang kini berubah heboh, bersamaan dengan datangnya beberapa mahasiswa masuk ke kelas.


“Guys.. guys! Ada berita heboh!” Seru mahasiswa itu dengan wajah antusiasnya.


“Kabar apaan?” Timpal mahasiswa lain.


“Tadi gue lihat Alya, si cewek miskin itu di gendong Kevin di koridor!” Serunya lagi.


DEG!


Mendengar nama sahabatnya di sebutkan, arina yang tadinya cuek langsung melirik mahasiswa itu. Matanya sedikit melebar, sama halnya dengan Jessica, Keningnya terlihat berkerut dalam. Dia memang belum mengetahui jika Alya dan Kevin pernah ada hubungan.


“What? Lo serius! Jangan ngadi-ngadi deh.”


“Dua rius malah, dan sekarang mereka sedang ada di taman! Kalau gak percaya nih buktinya, gue udah rekam tadi. Mahasiswa lain juga pada foto mereka dan sekarang sedang heboh di Instagram.”


Kemudian mahasiswa itu menunjukkan video yang sempat dia rekam di ponselnya dan menunjukkannya pada mahasiswa yang sudah mengerubunginya.


“Wah.. ternyata benar, eh tapi Ngapain ya Kevin gendong si Alya?”


“Gak tahu, tapi kalo dilihat sebelum di gendong mereka kayak lagi berantem gitu. Kira-kira kenapa ya? Apa sebelumnya mereka saling kenal?”


“Lah, kalian gak pada tahu? Alya kan mantannya Kevin.”


“What? Beneran?”


“Beneran, mereka pacaran sejak SMA. tapi dua tahun lalu mereka putus karena Alya selingkuh sama kakaknya. Kalian tahu kan Dylan? CEO di ZN GROUP?”


Semua mahasiswa yang berkumpul itu mengangguk.


“Nah, itu.”


“Tapi bukannya Dylan itu punya pacar seorang artis ya?”


“Alah palingan settingan doang, biar karirnya melejit.. secara Dylan kan anak pemilik salah satu agensi terbesar di Korea, aslinya mah dylan itu seorang Casanova kelas kakap!”


“Bener.. bener.. gue juga pernah denger tuh kalau Dylan sering cek in ke hotel.”


“Wah.. kalau benar begitu gak tahu diri banget itu cewek! Udah pernah tidur dengan kakaknya, sekarang mau gaet adiknya.”


“padahal mukanya kelihatan polos banget.”


“Ku kira cupu ternyata suhu.”


“Jangan sampai deh Kevin CLBK sama dia.”


“Idih ya kali, dan kalo pun iya masa sih sama cewek macam alya. Udah mah miskin, asal usulnya gak jelas pula!”

__ADS_1


“Benar juga, masih mending Mayra kemana-mana!”


Arina yang mendengar ucapan mahasiswa lain terlihat diam, namun raut wajahnya terlihat geram. Dengan cepat dia pun membuka ponselnya dan membuka aplikasi Instagram, mulutnya menganga saat melihat sudah banyak foto dan video Alya dan Kevin. Bahkan berbagai hastag mereka pun menjadi trending topik nomor satu.


Jemari mungilnya menscrooll foto foto itu hingga dia berhenti di akun gosip yang cukup fenomenal, di sana ada artikel dengan judul Alya, Kevin dan Mayra terlibat cinta segi tiga.


‘apa-apaan ini? kenapa judul artikelnya begini?’ gumamnya dalam hati.


...💐💐💐...


Di sebuah kamar yang bernuansa putih gading, terlihat sosok Rafael sedang duduk di sofa single. Sebelah tangan kirinya tengah memegang piring, sementara tangan kanannya memegang sendok yang sudah berisi makanan. Di depannya ada sosok pria tua yang duduk di kursi roda, pria itu adalah Affandy Dirgantara yang tak lain adalah kakeknya.


Beberapa hari setelah sadar dari koma, kondisi memang Fandy berangsur membaik. Dia sudah bisa sedikit menggerakkan anggota tubuhnya dan kembali bicara.


setelah bertemu cucu bungsunya yang sekian lama tak pulang, perasaan pria itu bahagia. Terlebih kondisi Kevin yang baik-baik saja membuatnya lega, tak seperti pikirannya selama ini.


Sampai detik ini dia masih merasa bersalah pada cucunya tersebut, demi melindunginya dan perusahaan membuat Kevin harus menerima perjodohan ini.


Kebahagiaannya sempat redup, disusul kondisinya kembali lemah saat cucu sulungnya itu mengaku telah menghamili Selena, wanita yang dia tahu adalah mantan sekretarisnya. namun dia juga merasa bahagia karena pada akhirnya Rafael akan menikah.


Selama ini Fandy selalu memintanya untuk segera menikah untuk memenuhi syarat sebagai pewaris ZEOUS, tapi Rafael selalu beralasan jika belum ada wanita yang cocok. selain itu, dia juga akan tenang jika meninggal nanti akan ada yang menemaninya.


Kevin sebentar lagi akan menikah dengan Mayra, begitupula Rafael akan menikah dengan Selena. Kini hanya tersisa Dylan, yang belum memiliki pasangan.


Belum memiliki pasangan Bukan berarti lajang, tapi lebih tepatnya dia suka bermain wanita. Fandy memang belum pernah melihatnya secara langsung, tapi dia pernah mendengar percakapan Rafael dan anak buahnya di telepon jika dylan bisa menggandeng wanita yang berbeda setiap harinya, dan semuanya akan berakhir Diranjang.


Entah itu benar atau tidak tapi yang pasti Fandy sangat sedih mendengarnya, dia tak mau kehidupan cucunya akan sama seperti anaknya.


“Buka mulutnya kek.” pinta Rafael saat melihat mulut Fandy tertutup rapat.


Fandy hanya menggeleng tanpa bersuara, wajah keriputnya nampak pucat.


“Sudah kenyang?” tanya Rafael dan di angguki oleh Fandy.


Rafael meletakkan piring itu ke meja kecil samping kirinya, lalu meraih gelas yang sudah berisi air putih. menyuruh kakeknya untuk meminumnya, Fandy hanya menurut.


“Minum obat dulu yah, setelah itu istirahat.” ucap Rafael lagi, lalu tangan kekar itu meraih obat dan memberikannya pada kakeknya.


Setelah memberikan kakeknya obat, Rafael bangun dari duduknya. Dia memutar dan mendorong kursi roda itu menuju ranjang, di angkatnya tubuh ringkih kakeknya dan membaringkannya perlahan ke kasur, kemudian menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuh kakeknya sampai batas dada.


“Rafa..” panggil Fandy lirih saat cucu sulungnya itu ingin berbalik badan menuju tempat yang tadi dia duduki.


“Ya, kek.” saut Rafael kembali menatap kakeknya.


“Duduklah, kakek ingin bicara.” Pinta Fandy.


Rafael mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. “Kakek mau bicara apa?” Tanyanya.


“soal pernikahanmu dan adikmu.”


“Kakek gak usah pikirkan soal itu. Semuanya sudah beres, tinggal nunggu hari-H aja.” ucap Rafael sambil tersenyum tipis.


“Lalu, kamu masih pada keputusanmu yang akan menikah dengan gadis itu setelah pernikahan kevin?” tanya Fandy.


“Iya.” sahutnya.


Rafael mengernyit. “Maksud kakek apa? Kakek tak mengijinkan aku menikah dengan selena?” Tanyanya.


Fandy menggeleng. “Bukan itu maksud kakek, tapi apa gak bisa jika Kamu yang menikah duluan, setelah itu baru kevin. Biar bagaimana pun kamu adalah anak pertama dan sudah tradisi di keluarga kita anak tertua yang duluan menikah.”


“Bukankah sebelum perjodohan ini terjadi, kita semua sudah mendiskusikannya pada keluarga besar kalau tidak ada masalah jika kevin duluan menikah?”


“Iya memang tapi masalahmu dan masalah adikmu itu berbeda, kevin menikah karena perjodohan dan itu bisa di tunda kapan saja. sedangkan kamu menikah karena kekasihmu hamil, di tambah lagi dengan pekerjaan selena yang sebagai publik figur. Kakek hanya takut akan ada berita miring tentangmu jika harus menunggu kevin menikah.”


Rafael diam sejenak, matanya menatap wajah pucat kakeknya, lalu dia menggenggam kedua tangannya.


“Kakek gak usah pikirkan itu, biarkan saja mereka berkata apa yang penting kan Rafa tetap akan menikahi Selena dan bertanggung jawab atasnya.”


Fandy tersenyum tipis sambil mengangguk.


“kakek tahu kamu adalah pria yang bertanggung jawab, kakek sangat bersyukur karena kamu tidak menuruni sifat ayahmu yang suka main perempuan, kakek juga berharap kedua adikmu tidak akan seperti itu. tapi.. apa Kamu yakin gak mau mengubahnya?”


"Iya, kek. setelah itu rencananya kami akan mengadakan konferensi pers mengenai masalah selena.”


“Lalu bagaimana dengan keluarga Selena, apa mereka sudah mengetahuinya?”


“Sudah, semalam Rafa sudah menghubungi Selena kalau Lusa kita semua akan datang ke Indonesia untuk melamar.”


Fandy terlihat mengangguk samar, tangan tuanya terangkat dan mengusap lembut kepala Rafael.


“Kakek senang akhirnya kamu mau menikah juga dan kakek lebih senang lagi ternyata kamu menikahnya dengan wanita pilihanmu sendiri, walaupun awalnya kakek kecewa sama kamu karena sudah menghamilinya dulu.”


Terdengar helaan nafas panjang keluar dari bibir Fandy. “Seandainya saja Tamara masih hidup, dia pasti sangat senang bisa melihatmu dan kevin menikah.”


Rafael tersenyum kecut sambil menatap wajah kakeknya, Ada perasaan sedih dan sakit menjalar ke hatinya begitu mengingat mama-nya.


“Mama ara pasti bisa melihat kami di atas sana kek, dan Rafa yakin mama sekarang sedang tersenyum bahagia.” Lirih Rafael.


“Kau benar.”


“Ya sudah kakek istirahat yah dan jangan banyak pikiran, Rafa pergi keluar dulu.” pamit Rafael sambil meraih nampan.


Fandy hanya mengangguk mengiyakan ucapan cucunya.


Rafael pun berlalu keluar kamar kakeknya, dia berjalan menuju dapur, meletakkan piring dan gelas itu ke wastafel kemudian mencucinya.


Sejak kecil Rafael memang sudah didik untuk mandiri, terlahir sebagai anak tertua yang ditinggal mati oleh ibunya sejak kecil membuatnya seperti itu. Terlebih dia memiliki dua adik yang masih kecil dan sangat membutuhkan peran orang dewasa untuk menjaganya.


Setelah selesai cuci piring, Rafael keluar dari dapur. Sambil berjalan menuju kamarnya, Dia merogoh kantong celananya dan di raihnya benda pipih itu, jemarinya terlihat bergerak menggeser layar ponselnya.


Saat Rafael sedang Fokus dengan ponselnya, Dari kejauhan datang sosok pelayan wanita menghampiri Rafael.


“permisi Tuan muda, di depan ada nona Hani dan pak Edwin datang. Katanya mereka ingin bertemu dengan tuan muda.” Ucapnya.


Saat mendengar itu kening Rafael mengernyit. “hani dan Edwin? Ingin bertemu denganku?” ulangnya.


“iya, tuan.”

__ADS_1


“lalu Dimana mereka?”


“Diruang tamu, tuan.”


“baiklah, saya akan kesana.”


...💐💐💐...


Rafael berjalan di ke arah ruang tamu, disana ia melihat seorang wanita berpakaian modis dan bertubuh jenjang sedang duduk di sofa panjang, wanita itu adalah Farhani yang biasa di sapa Hani. dia adalah Adik sepupunya dari pihak mendiang Tamara, di depannya terdapat ada troli bayi warna hitam. Disana ada bayinya yang sedang tertidur.


sementara tak jauh dari posisinya, ada sosok pria tampan berpakaian Formal, putih bersih, tinggi, dan bertubuh ideal. Dia adalah Edwin, sekretarisnya.


Melihat kedatangan Rafael, sontak membuat hani berdiri begitu pula dengan Edwin. Dengan langkah tergesa-gesa Hani berjalan mendekati Rafael.


“Oppa, apa berita itu benar?” tanya hani to the poin.


“Berita apa?” jawab Rafael balik nanya, keningnya terlihat berkerut.


“Soal oppa mau menikah dengan selena, itu benar?” Tanyanya lagi.


Rafael nampak terkejut. “Kamu tau dari mana?”


“Semalam tante Risa mengatakanya, apa itu benar?”


“Ya.”


kemudian Rafael berjalan ke arah troli dan berjongkok. Dia tersenyum pada bayi itu sambil tangannya menyentuh tangan kecilnya.


“Jinjja!” Seru Hani, wajahnya terlihat senang.


Rafael melirik ke gadis itu sambil jari telunjuknya menempel di bibirnya. “Sstt! Pelankan suaramu Hani, nanti azura bangun.” Bisiknya.


Wanita itu nampak cengengesan. “Hehehe Mianhae oppa, aku terlalu excited denger kalian akan segera menikah!”


Rafael geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu, sementara Edwin yang sedari tadi diam kini ikut mendekati Rafael.


“seriusan bos? Bos buntingin Selena?” tanya Edwin, dia seakan tak percaya bosnya itu bisa melakukan seperti itu.


“Ya.. Begitulah.” jawabnya.


“Wah.. Wah.. saya gak nyangka ternyata diam-diam menghanyutkan. Saya tak menyangka Bos menjalin hubungan dengannya, sekalinya ketahuan malah udah bunting. pantas saja tiap saya sodorin cewek, bos selalu nolak. Ternyata udah ada pawangnya.” Ucap Edwin sambil terkekeh.


“bagus juga selera bos, masih mending sama selena sih daripada sama si Renata cewek matre itu.” Sambungnya, suaranya terdengar lirih saat mengucapkan nama Renata.


Rafael tak menjawab, wajahnya terlihat datar saat nama Renata di sebutkan.


Dulu sebelum wanita itu menikah dengan Chandra, mereka memang punya hubungan. Namun pihak keluarganya belum ada yang tahu, karena dia memang sengaja merahasiakannya. Dia akan mengenalkan wanita itu ke keluarganya jika hatinya sudah mantap.


Dan saat hari itu datang Renata malah minta putus, dia mengatakan jika dia tak bisa melanjutkan hubungan mereka dengan alasan dia sudah di jodohkan dengan anak teman papanya. Selain itu dia juga mengatakan kalau dia sudah tidak tahan dengan hubungan rahasia ini, dia selalu merasa Rafael tak pernah serius dengannya.


Karena hal itu membuat Edwin merasa tak enak, dia menyesal sudah mengenalkan Renata pada Rafael. Namun Rafael dengan tegas tak mempermasalahkannya, dan dia menganggap itu adalah takdir.


Rafael pikir hubungannya dengan Renata tak ada yang tahu, tapi ternyata sepupu dan kedua adiknya itu sudah mengetahuinya. Sayangnya mereka mengetahui hal itu setelah Renata dan Rafael sudah putus.


“Benar apa kata Oppa Edwin, selena memang lebih pantasnya bersanding dengan Oppa Rafa. Lena bukan hanya cantik di wajah tapi hatinya juga, selain itu dia juga sopan sama orang tua, oppa gak akan nyesel deh nikah sama dia. hanya saja aku gak suka dengan cara oppa ini!” Ucap Hani menggebu-gebu.


“Tak masalah selama pak bos mau bertanggung jawab, bukannya hubungan seperti itu sudah hal biasa di negara kita ini?” Saut Edwin.


“Iya sih. tapi.. ya sudahlah yang penting oppa sudah mau tanggung jawab.”


“Oh iya Oppa tau gak, dulu aku sama tante Risa pernah bernazar kalau oppa dan Lena pasti akan berjodoh! dan ternyata benar kalian akan menikah. Astaga.. Aku senang banget!”


“Itu berarti mereka benar-benar jodoh..” celetuk Edwin sambil terkekeh begitu pula dengan hani yang ikutan terkekeh.


Sementara Rafael membisu, dia tidak menyangka ternyata keluarganya begitu mengharapkan dirinya bisa bersatu dengan selena.


Memang benar, jauh sebelum perjodohan kevin dan mayra terjadi, Marissa pernah mengatakan kalau dia sangat menginginkan selena menjadi menantunya. Namun Rafael tak menanggapinya serius, lagipula pada saat itu dia masih di fase patah hati dan belum ada pikiran memiliki hubungan dengan wanita lain.


Kini Rafael mulai berpikir, Apakah mungkin benar yang di katakan Edwin, kalau dia dan selena memang berjodoh? Entahlah, Rafael sendiri belum bisa menafsirkannya.


Sedikit info, Sebelumnya selena memang sudah di kenal baik oleh keluarga Dirgantara karena sebelum selena bekerja sebagai model, dia pernah bekerja di Zeous Group sebagai sekretaris Rafael. namun itu hanya bisa bertahan satu tahun saja. Selena lebih tertarik menjadi Model ketimbang bekerja jadi karyawan kantoran, selain itu bayarannya juga lebih tinggi.


keinginan selena untuk menjadi model terkenal apalagi di negara Korea yang terkenal keras tidaklah mudah, dia sering di tolak oleh beberapa agensi besar, sekalinya Lolos itu hanya bertahan beberapa bulan saja. di agensi itu dia pernah mengalami pelecehan seksual dan bullyan oleh para seniornya saat masa pre-debut dan itu sempat membuat selena hampir depresi, namun untungnya tak terjadi. dia masih bisa berpikir jernih. di saat dia di ambang rasa putus asa, dia di pertemukan kembali dengan Rafael.


dari awal Rafael Memang sudah tahu tujuan selena datang ke negara itu adalah ingin menjadi model, selena pernah bercerita jika impian terbesarnya adalah dia ingin menjadi model terkenal, dia bahkan rela meninggalkan adiknya yang pada saat itu masih bersekolah di Indonesia demi bisa mencapai cita-citanya. Karena merasa kasihan, Rafael pun menyuruhnya untuk datang ke agensi milik keluarganya.


Pada awalnya selena sempat ragu, karena selama dia bekerja di kantor Rafael, dia tidak pernah tau jika pria itu memiliki agensi. Namun Rafael menjelaskan jika keluarganya memang memiliki agensi, namun agensi itu bukan dia yang mengelolanya melainkan sepupunya, setelah di jelaskan panjang lebar akhirnya selena percaya dan mendatangi agensi itu.


Respon pertama dari para staf tak beda jauh dari agensi lain yaitu menolaknya, tapi begitu mengingat yang membawanya adalah anak pemilik Agensinya sendiri akhirnya selena di Terima. dan dalam kurun waktu 3 Tahun impiannya yang ingin menjadi model terkenal terkabul hingga kini menjadi artis multitalent.


“Sepertinya bos harus mengadakan Konferensi pers deh.” ucap Edwin membuyarkan lamunan Rafael.


“Untuk apa?” Tanya Hani.


“Agar para haters tidak mengatakan hal buruk lagi tentang kalian, dan juga katakan pada mereka kalau anak yang selena kandung adalah anak bos, bukan anaknya Chandra!”


“Kalau itu kamu tenang aja, aku dan Rendy memang sudah merencanakan itu.” ucap Rafael sambil menyeringai.


“Baguslah kalau gitu, terus rencananya kapan kalian akan konfirmasi?” Hani kembali bersuara.


“Rencananya sehari setelah pernikahan kevin, aku dan Lena akan Mengadakan konferensi pers disana.”


Mendengar itu Edwin dan Hani hanya mengangguk tanpa kembali berkomentar.


Pembicaraan mereka pun terus berlanjut, membahas soal pernikahan hingga soal perusahaan. Hani juga membicarakan soal keadaan agensinya, namun lebih banyak mengeluh soal artisnya.


Obrolan yang cukup memakan 3 jam itu akhirnya berakhir, Hani pamit pulang karena waktu sudah mau sore dan dia harus ada dirumah sebelum suaminya pulang. Terlebih dia membawa anaknya, bisa ngamuk suaminya karena membawa bayinya keluar terlalu lama.


Sama halnya dengan Edwin yang harus pulang, bukan karena ada yang menunggu tapi karena memang ingin pulang saja. Lagipula siapa yang akan menunggunya? Dia di busan tinggal sendiri dan belum menikah, sementara orang tuanya tinggal di Gangnam.


Rafael mengantar Hani dan Edwin hingga ke teras depan, hingga mobil mereka mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. Setelah itu dia kembali masuk rumah.


Tok.. Tok.. Tok..


tak berselang lama kembali Terdengar suara ketukan pintu, Rafael yang kala itu baru saja menginjak tiga anak tangga seketika menoleh ke arah suara.


Raut wajahnya nampak kaget saat tahu siapa yang tengah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


“kau!”


__ADS_2