
Keesokan harinya, tepat pada jam 9 pagi Alya terbangun dari alam mimpi. Kedua alis tipis yang sudah terbentuk cantik sejak lahir itu bergerak-gerak, di ikuti dengan dua kelopak matanya berkedip-kedip.
Sebelah tangannya terangkat ke udara untuk menutupi wajahnya yang terkena paparan sinar matahari pagi, dan mulutnya melenguh seraya menggeliatkan tubuhnya.
Kini kedua mata Alya sudah sepenuhnya melebar, menatap semua sudut kamarnya sambil mengumpulkan nyawanya. Tak berselang lama Gadis itu terpekik dan langsung bangun dari pembaringannya saat menatap jam dinding, pertanda jika dirinya telat bangun.
Semalam Alya begadang, belajar sampai subuh. Ia ingat jika ada tugas dari dosennya, dan harus dikumpulkan besok.
Alya gelagapan. Mengingat hari ini ada jadwal kelas jam 10 nanti, belum lagi dia harus menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya.
“kenapa bisa telat bangun gini sih?” gerutunya kesal.
Bergegas Alya menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, menurunkan kedua kakinya dari ranjang. ia semakin kesal karena merasakan sakit di kakinya, belum lagi dengan tubuhnya yang masih pada pegal-pegal.
Dengan jalan pincang dan terus menggerutu Alya masuk ke kamar mandi, berusaha untuk cepat selesai agar bisa mengejar waktu.
Sekitar 40 menit kemudian Alya keluar dengan hanya memakai handuk, lalu melangkah ke lemari.
Selesai berpakaian, Alya segera berdandan. Lalu menyiapkan beberapa buku khusus pelajaran hari ini, dan memasukkannya ke tasnya. Baru setelah itu ia meraih kruknya dan berlalu keluar kamar.
Suasana apartemen kala itu terlihat sepi, itu sudah pasti. Kevin pasti sudah pergi ke kantor, dan intan juga belum waktunya datang. Sementara Sean.. ah, pasti pria yang memiliki badan kekar dan berparas bule itu sudah standby di baseman.
Meskipun begitu Alya tetap menghubungi pengawal sekaligus supir pribadinya itu, dan menanyakan keberadaannya.
“sebentar lagi aku akan turun.” ucap Alya saat menelpon Sean, dan pria bule itu hanya mengiyakannya.
Alya melangkah menuju rak sepatu yang berada di samping pintu, duduk di lantai kemudian meraih sepasang kets warna putih lalu memakainya.
Begitu sudah terpasang dengan sempurna Alya kembali bangun dan bergegas keluar, namun sepanjang langkahnya menuju lift ia kembali meraih ponselnya yang layarnya sedikit retak. Itu di karenakan akibat dari ulah Kevin yang semalam membanting ponselnya dengan cukup kuat, dan untungnya benda pipih itu masih bisa digunakan.
Alya menelpon Kenzo untuk menanyakan suaminya sudah sarapan atau belum, meski dalam pikirannya beranggapan Kevin pasti akan mampir ke tempat makan.
Sebenarnya Alya ingin menelpon Kevin langsung, tapi ia masih belum ada keberanian untuk melakukan itu. Raut wajah kemarahan Kevin semalam selalu terngiang-ngiang di pelupuk matanya, terlebih ia juga belum mampu menghadapi jika nanti suaminya itu meminta penjelasan tentang apa alasan utama ia membohonginya.
Tak membutuhkan waktu lama Kenzo langsung menerimanya, namun sebelum Alya berucap telinganya mendengar suara bising dari seberang sana. Sepertinya pria itu sedang berada di luar.
“ada apa nona telpon saya?” tanya Kenzo membuyarkan pikirannya.
“ah.. enggak, Emm.. aku hanya ingin tanya apa Kevin sudah sarapan?” jawab Alya di akhiri dengan balik nanya.
“sudah nona, sebelum berangkat tuan muda minum susu dan makan roti.” jawab Kenzo.
Alya yang mendengar itu menghela nafas berat, ia merasa bersalah karena telat bangun mengakibatkan suaminya tak sarapan dengan sempurna. Tapi ia juga merasa lega karena mendengar Kevin sudah sarapan, meski hanya sekedar minum susu dan makan roti.
“ya udah gak apa-apa, setidaknya perutnya tak kosong. Oh iya nanti buat makan siangnya kak Kenzo pesan aja ya, soalnya hari ini aku akan pulang sore lagi.”
‘lagi?’ batin Kenzo sambil mengernyit tak paham, namun ia tak terlalu memikirkannya. “baiklah Nona.” ucapnya kemudian.
Setelah itu Alya mengakhiri panggilannya, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Alya masuk dan menekan tombol paling bawah, mengarahkan kotak besi itu ke pintu emergency yang akan menyambung dengan basemen.
“di percepat aja kak Sean, soalnya aku udah telat banget.” ucap Alya saat sudah berada di dalam mobil.
Sean yang mendengar itu mengangguk patuh, setelah itu ia menjalankan mobilnya.
...💐💐💐...
Sementara itu di kampus Andreas sudah standby di dalam kelasnya, ia sudah duduk manis di kursi yang kemarin duduki seraya matanya tak henti-hentinya menatap jam tangannya dan pintu masuk bergantian.
“kenapa dia belum datang juga ya?” gumamnya dengan kening berkerut.
“apa dia gak akan masuk hari ini?” gumamnya lagi, namun sedetik kemudian ia menggeleng dan kembali melirik jam tangannya dan pintu.
Suasana Di dalam kelas sudah hampir sebagian mahasiswa sudah menempati kursinya masing-masing, karena memang waktunya sebentar lagi kelas akan di mulai. Namun ada juga beberapa mahasiswa lain masih berada di depan kelas, mengobrol soal mata pelajaran hari ini dan kehidupan pribadi masing-masing.
Sedangkan tak jauh dari tempat andreas duduk ada Jessica yang memperhatikan, Matanya dengan awas menatap Andreas dengan tatapan heran.
“rin, liat deh tuh cowok. Dari tadi gue perhatikan dia kayak lagi gelisah gitu.” Bisiknya pada arina.
Arina yang kala itu sedang membaca buku tebalnya mendongak ke Jessica, lalu melirik ke arah Andreas. Ia hanya menatapnya tanpa suara, kemudian mengangkat bahunya tanda tak perduli, setelahnya ia kembali fokus pada bukunya.
“dan juga dari tadi dia liatin jam dan pintu Mulu, atau jangan-jangan dia lagi nungguin orang lain ya?” Jessica kembali bersuara, namun arina tetap tak perduli.
Merasa di acuhkan, Jessica pun meliriknya dan dia mendengus sebal karena melihat gadis berambut sebahu itu fokus dengan bukunya. Ia tentu tahu sahabat satunya itu memang cuek, terlebih ini soal laki-laki. Sepanjang mereka bersahabat, belum sekalipun Jessica melihat atau mendengar arina dekat dengan lawan jenis.
Padahal jika hanya sekedar ingin dekat sebenarnya banyak yang mau, namun mereka tak berani karena sifat galaknya. Banyak sekali teman laki-laki Jessica yang tertarik padanya, bahkan ada yang meminta bantuannya untuk menjodohkannya. tapi Jessica selalu menolaknya, dan malah menyuruhnya untuk berjuang sendiri.
Mungkin jika cuek saja bisa di anggap biasa, karena wajar seorang gadis bersikap cuek pada laki-laki tak dikenal. Tapi arina juga memiliki sifat galak, suka membentak sama semua laki-laki yang mau mendekatinya.
Entah karena wataknya yang sudah begitu atau mungkin arina sengaja bersikap seperti itu untuk menjaga diri, Jessica tak tahu pasti.
Tapi di sisi lain Jessica juga merasa beruntung karena dengan sikapnya begitu, arina tak mudah di dekati oleh laki-laki yang kebanyakan berjuang pas di awal saja. Ia selalu berdoa semoga suatu saat nanti akan ada laki-laki baik yang berani mendekatinya, dan kebal dengan sifatnya yang galak itu.
“Lo kenapa sih Rin cuek banget sama cowok? Kalau Lo gini terus kapan coba punya pacarnya?” celetuk Jessica.
“buat apa punya pacar kalau cuma bikin sakit hati aja!” cetus arina tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.
“contohnya Lo sama Alya, tapi endingnya tetap sakit hati kan?” kali ini arina menatap Jessica.
“ya ampun Rin, permasalahan gue sama Alya itu beda. Alya sama Kevin udah jelas pernah pacaran, gue sama Dimas kan gak pernah! lagian ya, Gak selamanya pacaran itu akan berakhir patah hati, pasti ada senangnya lah. Nah buktinya bisa di lihat sekarang, Kevin dan Alya sempat pisah tapi pada akhirnya menikah juga kan?”
“tapi hanya sementara! Lo lupa?”
“apapun itu alasannya, mereka tetap kembali bersatu dan kali ini dalam ikatan sakral. Bisa aja ini sudah jalan takdir mereka, iya kan?”
Arina yang mendengar itu diam sejenak, otaknya mengiyakan perkataan Jessica. Meski ia belum sepenuhnya rela Alya menikah dengan Kevin, itu bukan karena arina membenci Kevin, melainkan ia hanya takut sahabatnya akan mendapat masalah yang lebih besar lagi.
Arina tak ingin Alya mengalami tekanan lagi dari ayah mertuanya, dan Berakhir sahabatnya itu akan kembali pergi meninggalkannya disini. Sumpah demi apapun arina tak mau itu terjadi lagi, Alya adalah sahabatnya sejak SMP dan ia sudah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri.
“Lo percaya gak kalau cinta sejati ada?” tanya Jessica.
“gak terlalu. Kenapa?” jawab arina di akhiri bertanya.
__ADS_1
“awalnya juga gue sempat gak percaya, Lo tahu kan gue pernah kecewa dalam hubungan dan pernah ada pikiran untuk tidak akan lagi jatuh cinta. tapi nyatanya gue malah kembali jatuh cinta, dan ngenesnya cowok yang gue suka udah milik cewek lain. Sejak saat itu gue kembali berpikir buruk jika cinta sejati itu tak akan berpihak sama gue, sampai gue lupa jika dirumah masih ada orang tua gue yang saling mencintai. ditambah setelah mendengar kisah cinta Alya dan Kevin yang penuh lika-liku, akhirnya gue percaya jika di balik rasa sakit yang kita derita, pasti ada hikmahnya. sejak saat itu gue meyakini bahwa apa yang gue rasakan ini pasti ada tujuannya, tuhan menguji dengan masalah dan kesedihan agar kelak ke depannya gue bisa jauh lebih baik lagi. Begitu pun dengan Alya dan kevin. mungkin untuk saat ini rasa cinta itu belum terasa, tapi gak tahu nanti. Bisa aja kelak mereka saling mencintai lagi, dan gue sangat berharap Kevin bisa melindungi alya.”
Arina membisu, ia menyimak semua perkataan panjang Jessica dengan khusyuk. Mungkin memang benar, semua yang terjadi sudah takdir. Tinggal sekarang tunggu hasil akhirnya saja, akankah bakal ending dengan bahagia atau sebaliknya.
“hampir 5 tahun kan ya, bayangin! Tiba-tiba disuruh Nikah dengan mantan yang selama 4 setengah tahun pernah memiliki kenangan manis, apalagi cowoknya macam kevin. Udah mah ganteng, jenius, tajir lagi! Oh tuhan.. nikmat mana lagi yang kau dustakan!”
Suara Jessica kembali terdengar, dan itu membuat lamunan arina Buyar.
“eleh.. lebay Lo ah!” cibir arina seraya meraup wajah Jessica dengan tangan mungilnya.
“gue gak lebay ya, emang itu faktanya! Di banding Dari kedua kakaknya, cuma Kevin yang mewarisi kekayaan mama kandungnya yang bangsawan itu. Alya beruntung banget bisa nikah sama dia, dan Lo pasti udah lihat kan interaksi keluarganya saat di pesta pernikahan kak Rafa? Mereka menerimanya Loh, gak kayak bapaknya itu!”
Arina yang mendengar ucapan terakhir Jessica nampak tersenyum miris, dalam pikirannya merasa heran dengan pria paruh baya itu kenapa begitu benci dengan Alya, padahal keluarganya saja sangat menerima kehadiran Alya.
Eh, ngomong-ngomong soal Alya, arina baru sadar sahabat satunya itu belum datang ke kampus. Ia pun langsung melirik ke jam tangannya, disana sudah mengarah ke setengah sepuluh.
“alya belum Dateng ya?” tanyanya pada Jessica, dan sepertinya gadis itu juga baru sadar.
“eh, iya ya. Duh, mana kelas bakal di mulai bentar lagi!” jawab Jessica panik.
“gue coba telpon deh.” usul arina, dan langsung di angguki oleh Jessica.
Arina meraih ponselnya yang ada di meja, dan mulai menelpon nomor Alya.
“gimana?” tanya Jessica.
Arina malah menggeleng. “gak aktif.” jawabnya.
“apa dia hari ini gak masuk ya?” tebak Jessica.
“gak tau gue.”
“kemarin kan Lo balik bareng sama dia, apa dia gak ngomong apa-apa gitu?”
Arina menggeleng, karena memang kemarin Alya tak bicara apapun kecuali dia selalu minta cepat pulang.
“gak ada! Tapi emang kemarin waktu di mall dia selalu bilang pengen cepat pulang, katanya takutnya Kevin dirumah nunggu lama.”
“ya iyalah, sekarang dia kan punya suami. Setiap dia mau pergi kemana dan sama siapapun harus ada ijin suami, Mana Lo mintanya pas udah sore lagi!”
“emang harus gitu ya? Udah kayak sama orang tua aja!”
“ye.. emang gitu aturannya, sosok suami adalah pengganti orang tua setelah menikah! Ngelawan suami, sama aja dengan durhaka!”
“Lo tahu darimana soal itu?”
“dari mama! Lagian apa Lo gak pernah denger ceramah ustadz apa, mereka kan suka ceramah soal pernikahan.”
“kagak! Kan kita bukan kaum Islam, ngapain dengerin ceramah begituan.”
“sekedar dengerin aja mah gak apa-apa kali, kan bagus juga bisa memperluas pengetahuan soal agama islam.”
“benar juga sih.”
“kok gue sih?”
“iyalah, kan Lo yang ngajak dia pergi ke mall dan gue duga pasti Lo mintanya maksa! Iya kan?”
Arina langsung nyengir kuda pertanda jika tebakan Jessica benar adanya.
“dasar Lo ya..”
“mau gimana lagi, waktu itu gue juga lagi di kejar waktu. Malamnya gue harus berangkat kerja, sedangkan sepatu gue udah rusak. Masa iya gue pergi kerja dengan keadaan sepatu mangap, kan gak lucu!”
“gue kan udah tawarin sepatu gue sama Lo, dirumah banyak tuh sepatu nganggur tapi Lo malah gak mau!”
“ukurannya beda bego!” seru arina. “lagian sepatu Lo kebanyakan berhak, gue mana bisa pake sepatu begitu!” lanjutnya dengan nada kesal.
Jessica menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia lupa jika arina adalah gadis tomboy yang selalu memakai sepatu snikers.
“ya gak apa-apa kali, itung-itung belajar jadi feminim.”
“ogah!”
“terus ini gimana dong?”
“mana gue tau.”
“telpon lagi coba, siapa tahu ada gangguan sama sinyalnya!”
“udah gue coba berkali-kali tapi tetap aja nomornya gak aktif.”
“apa jangan-jangan dia lagi sama Kevin ya?”
“gak mungkinlah, dia pasti udah ada di kantornya. Hari ini juga bukan weekend.”
Senyap sejenak. Kedua gadis itu terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga akhirnya mereka menghela nafas lega saat melihat sosok Alya masuk kelas.
Begitu pun dengan Andreas yang langsung senyum sumringah setelah melihat Alya jalan ke bangku Jessica, dan seketika wajahnya berubah datar begitu mendengar ucapan Alya.
“Jes, pindah!”
“hah!”
Jessica terbengong dengan mulutnya yang terbuka, ia tak paham dengan ucapan Alya.
“kita tukar tempat duduknya, gue disini dan Lo disana.” ucap Alya seraya jarinya mengarah ke kursinya, namun wajahnya tetap menatap Jessica.
Malas rasanya ia bertatap muka dengan Andreas, belum lagi mengingat soal chatnya yang semalam membuat Kevin mengetahui rahasianya.
“t-tapi--”
__ADS_1
“ayolah Jes, gue capek ini dan kaki gue juga sakit!”
“udah Jes turutin aja dulu, gak lihat apa wajah Alya yang pucat dan keringetan begitu.”
Tanpa kembali bersuara lagi, Jessica bangun dari kursinya dan menarik tasnya. Kemudian jalan ke kursi barisan ketiga, ia duduk di kursi Alya sebelumnya, tepat di samping Andreas yang nampak heran.
“bawa air minum gak Rin?” tanya Alya saat sudah duduk di kursinya.
Arina mengangguk, dan tanpa berbicara lagi ia merogoh tasnya dan mengeluarkan botol minum, lalu memberikannya pada Alya.
Alya menegak air minum itu hampir setengah, lalu kembali menyerahkannya pada arina.
“laper juga gak? Gue ada roti nih, isinya coklat.” tawarnya.
“boleh deh, belum sarapan juga nih gue.”
arina memberikan 2 bungkus roti pada Alya, yang langsung di buka oleh si empu dengan antusias.
“ada masalah ya, tumben Dateng telat?” tanya Arina begitu Alya menghabiskan satu bungkus roti.
Alya diam Sejenak. “gak ada. Gue hanya telat bangun aja, karena semalam gue begadang belajar.”
“tumben amat! Emang sebelumnya ngapain aja?” heran arina.
“semalam gue sama Kevin pergi ke rumah dokter Samuel, istrinya ngidam pengen makan seblak tapi mau hasil dari masakan gue. Terus kami pulangnya kemaleman, dan pas pulangnya gue baru ingat jika ada tugas. Jadi ya.. begitulah.”
Arina manggut-manggut percaya dengan penjelasan Alya. “terus tadi kenapa gue telpon tapi malah gak aktif?”
“oh itu, hp gue rusak! Tadi waktu di parkiran ada orang yang nyenggol gue sampai gak sengaja hpnya jatuh, dan mati.” ucap Alya jujur.
memang benar apa yang di ucapkannya, waktu dia baru keluar dari mobil entah datang darimana orang itu tiba-tiba saja datang dan menyenggol bahu Alya. Mengakibatkan ponselnya yang dia genggam jatuh ke aspal, hingga terbelah menjadi dua. Di tambah dengan layarnya yang semakin retak, akibat terinjak oleh orang yang menabraknya.
Namun si penabrak malah bersikap tak melihat itu, ia tetap melangkah pergi. Padahal Sean sempat meneriakinya dan berniat mengejarnya, namun di tahan oleh Alya dan malah menyuruhnya untuk membawa ponselnya ke toko hp agar bisa di perbaiki.
“gak bisa hidup lagi?”
Alya mengangguk.
“pantesan. Terus?”
“ya gue suruh kak Sean buat perbaiki.”
“ngapain perbaiki sih, beli aja lagi. Pasti Kevin kasih uang nafkah banyak kan?”
“selagi masih bisa diperbaiki, kenapa harus beli?”
“gengsi dong Al, masa iya istri dari Kevin dirgantara servis hp! Mending kalau hpnya aipon, ini mah android! Kalau sampai nanti netizen tahu, makin di hujat Lo, belum lagi para cewek-cewek disini!”
“ya gak usah di dengerin, nanti juga bakal capek sendiri.”
“gue jamin gak bakalan, mungkin sampai Lo punya anak cucu pun kayaknya mereka gak bakalan berhenti nyinyir!”
“berlebihan Lo ah..”
“ye.. di kasih tahu malah jawabnya gitu!” gerutu arina.
Sedangkan Alya hanya tersenyum mendengarnya, namun itu tak bertahan lama kala matanya tak sengaja bertabrakan dengan netra Andreas yang memang sedari tadi menatapnya. Wajah Alya berubah datar dan tatapannya sinis, lalu membuang pandangan ke depan.
Sebenarnya Alya tak sepenuhnya menyalahkan Andreas, hanya saja ia kesal dengan isi chat yang pria itu kirimkan. Seolah-olah jika keduanya memang memiliki hubungan khusus, belum lagi sebelum ini juga Kevin dan dirinya sempat bertengkar karena ulah Andreas yang selalu menempel padanya.
Jujur hingga saat ini Alya masih belum paham kenapa Kevin bisa semurka itu jika mengungkit soal Andreas, harusnya kan suaminya itu tak perlu marah jika dirinya dekat dengan pria lain.
Apakah Suaminya itu cemburu? Alya langsung menggelengkan kepalanya, rasanya tak mungkin Kevin cemburu padanya. Dia kan sudah tak mencintainya lagi?
Atau mungkin Kevin bersikap seperti itu hanya ingin menjaga nama baiknya, karena suaminya tahu hingga saat ini predikat pelakor masih melabeli dirinya di jagat Maya.
Yah, mungkin karena itu. Alya selalu mengoper pikirannya ke arah sana, dan membuang jauh-jauh rasa percaya dirinya yang menganggap Kevin cemburu pada Andreas.
...💐💐💐...
Di lain tempat Kevin terlihat berada di sebuah restoran western, bersama dengan Rangga. Mereka duduk di kursi barisan tengah, di mejanya sudah terdapat ada 2 cangkir kopi.
“jadi gimana, apa yang mau Lo katakan sama gue sampai ngajak ketemuan di jam kerja begini?” tanya Rangga duluan, karena sedari tadi Kevin hanya diam saja.
“Lo pasti udah tahu apa yang terjadi kan?” ujar Kevin balik nanya, alisnya nampak terangkat satu.
Rangga yang mendengar itu tak langsung menjawab, ia menghela nafas seraya bersedekap dada.
“gimana rasanya, enak gak?” tanya Rangga lagi, kali ini dengan nada jahil.
Namun Kevin malah mendengus dan memalingkan wajahnya, tapi jika di perhatikan ada semu merah di kedua pipinya.
“tapi Lo payah tau gak, masa belah duren di mobil. Mana di tempat terbuka lagi, Lo gak tau aja jika kuntilanak dan pocong peliharaan gue ngeliat itu semua?”
Mendengar kata itu membuat Kevin kembali menoleh pada Rangga, matanya membola kaget.
“Lo serius?”
“jelaslah gue bohong! Hahahaha..”
Seketika itu pula raut wajah Kevin kembali berubah datar, ia menatap sahabatnya itu dengan sebal.
“rese lu, gue lagi serius juga!”
“gue juga serius kali, gila aja Lo berbuat kayak gitu di mobil. Kayak gak ada hotel aja!”
“apa Lo masih bisa berpikir untuk berpindah tempat disaat emosi dan nafsu udah berada di ubun-ubun, lagian gue langsung matiin lampunya kok saat melakukannya.”
“tapi mobilnya bergoyang bego!”
Setelah itu hening, dua pria itu diam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
“terus setelah ini rencana Lo apa?”
“gue akan menceraikannya.”