TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)

TERPAKSA MENIKAH (Cinta Sang Pewaris)
BAB 107~Jalan Takdir (spesial aji)


__ADS_3

Banyak yang mengatakan dalam hidup kita akan merasakan jatuh cinta selama 3 kali, yaitu diantaranya first love, hard love dan terakhir unconditional love.


Yah, bagi sebagian orang pasti akan mengalami hal itu. Dengan kata lain tidak semua orang bisa merasakannya, atau mungkin..


hal itu sudah dirasakannya, namun tidak di sadari? Entahlah.


Hal seperti itu juga di alami oleh seorang pria yang kini sudah berusia kepala empat, namun masih terlihat tampan dan gagah. Pria tersebut bernama, setyoadji dirgantara.


kedengarannya mungkin sangat mustahil, terlebih ini untuk kaum laki-laki yang kebanyakan lebih mengandalkan logika ketimbang pakai hati. Apalagi untuk laki-laki seperti aji, yang sejak dulu suka bermain perempuan.


Bahkan saat status pernikahan awalnya dengan Tamara pun, aji sudah bermain dengan wanita lain. Hingga tanpa disadarinya, sampai memiliki anak diluar nikah.


Sepanjang hidupnya, aji sangat meyakini bahwa ia hanya merasakan jatuh cinta satu sekali. Lebih tepatnya pada 30 tahun yang lalu, dimana ia pernah merasakan perasaan itu untuk seorang gadis yang dari kalangan bawah.


Sayangnya hubungan keduanya tak bisa bersatu. Alasannya cukup jelas, yaitu karena perbedaan kasta. Memang terdengar biasa, namun cukup menyakitkan bagi yang mengalami.


Dan karena ini pula menjadi alasan utama kenapa dirinya berubah menjadi pria yang dulunya baik dan sangat menghormati perempuan, menjadi pria brengsek. serta memandang rendah dan menganggap kaum perempuan adalah manusia paling matrealistis.


Jatuh cinta bukanlah sesuatu yang bisa di salahkan, juga bukan perbuatan yang ditentang dalam norma agama. Namun namanya juga manusia, tidak semuanya memiliki hal yang sama.


Sama halnya dengan hati, manusia manapun, bahkan hewan sekalipun tak akan mampu mengatur pada siapa hati akan berlabuh.


Di ibaratkan seperti jelangkung, tanpa di undang dia akan datang sendiri dan merasuki tubuh manusia. Mengontrol sepenuhnya, sehingga pemilik tubuh tak berdaya. Kemudian dia akan pergi begitu saja setelah ada beberapa oknum yang merenggut paksa, karena di anggap bahaya.


Begitulah kisah cinta aji di masa lalu, disaat hati dan jiwanya sudah menemukan rumah barunya, dunia malah merenggutnya paksa. Ironisnya, meskipun dirinya tak rela, pada kenyataannya ia hanya bisa diam membisu.


Aji sangat pasrah dengan keadaannya kala itu, melepas kekasih hatinya untuk pergi jauh dari hidupnya. dan itulah menjadi titik awal rasa penyesalan terbesarnya, yang harus dia emban hingga detik ini.


Tak perduli berapa tahun ia habiskan, seiring dengan berjalannya waktu jaman terus berkembang. Perubahan fisiknya pun telah berubah, meski sedikit. Namun tidak untuk hatinya, yang seakan tertinggal di masa lampau.


Meskipun sekarang aji sudah 2 kali menikah dan memiliki 3 anak, namun selama itu dia tak benar-benar memiliki perasaan terhadap pasangannya. Dia sendiri sebenarnya tak paham, kenapa dia begitu. Hatinya seakan sudah mati, sehingga membuatnya tak bisa lagi merasakan kasih sayang yang tulus dari Tamara maupun Marissa.


Mungkinkah itu karena rasa patah hatinya di masa lalu dan kerapuhan dirinya yang tak bisa memperjuangkan gadis pujaannya, sehingga membuatnya menjadi pribadi yang egois? Bahkan dalam keluarganya, aji sudah di cap sebagai ayah yang kejam karena dengan tega menyakiti Kevin secara fisik maupun batin. Yang notabenenya adalah anak kandungnya sendiri?


Yah, bisa dikatakan itu benar. Hati nuraninya sudah benar-benar mati, tertutupi oleh amarah yang membara. Sehingga hanya rasa dendam yang tersisa.


Dendam terhadap ayahnya yang begitu egois menekankan keinginannya, juga dendam kepada Tuhan yang memberikannya takdir sekejam itu.


Di sisi lain dia juga harus menelan pil pahit, begitu mengetahui putra bungsunya mencintai seorang gadis yang nyatanya anak dari musuhnya bebuyutannya.


aji ingin melampiaskan kemarahannya terhadap sang ayah, sekaligus ingin menunjukkan betapa hancurnya dia dulu saat di paksa menikahi Tamara. Dan secara kebetulan, aji menyadari betapa Kevin sangat mencintai alya.


Layaknya sedang bercermin, aji seakan melihat dirinya sendiri di masa lalu lewat kevin. Bukan hanya fisiknya saja yang sama, tapi soal kesetiaan hatinya pun sama persis. Pria dewasa itu tentunya tak sepenuhnya buta, ia bisa melihat dengan jelas seberapa besar perasaan Kevin terhadap alya. Seperti halnya dirinya dulu sangat mencintai wanita di masa lalunya, namun sayangnya aji tak memperdulikan itu.


Makanya di masa sekarang aji bersikeras memaksa Kevin untuk menikahi Mayra, dan menyingkirkan Alya. Dengan tujuan ingin menunjukkannya pada Fandy, bahwa keadaannya dulu sama seperti kevin.


Walaupun di balik rasa sakit hatinya, ia ada rencana untuk mengambil semua harta milik mendiang Tamara yang kini sudah beralih atas nama putra bungsunya tersebut.


Aji melakukan itu bukan bermaksud tamak, ataupun tak menyayangi Kevin sebagai putranya. Dan sejujurnya aji tak pernah perduli dengan semua itu, selama harta itu jatuh ke tangan darah dagingnya sendiri. Juga, tentang latar belakang kehidupan Alya.


Namun pemikiran itu terasa lenyap begitu saja setelah tahu siapa Alya dan darimana gadis itu berasal, membuatnya berubah menjadi sosok ayah yang jahat. Rasa sakit hatinya semakin menganga begitu mengetahui sebuah fakta, jika Alya adalah anak dari wanita yang hingga saat ini masih ia cintai.


Awalnya memang aji tak permasalahkan itu, jujur saja ia sangat senang putra bungsunya yang memiliki karakter cuek itu akhirnya menyukai lawan jenis.


Sebagai seorang ayah, tentunya aji ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia tak mau putranya itu memilih wanita yang salah, yang nantinya membuat hidupnya berantakan. Cukup dirinya saja yang rusak, anak-anaknya jangan.


Maka dari itu, begitu mendengar Kevin tengah dekat dengan teman perempuannya, aji mulai mencari tahu tentang sosok Alya dan bagaimana lingkupan keluarganya.


Aji cukup kaget setelah mendapat info dari anak buahnya, yang menyatakan Alya adalah anak dari Vanessa. Mantan kekasihnya saat jaman dirinya baru di rekrut sebagai direktur di kantor Fandy.


Dalam sekejap mata suasana hatinya kala itu berubah suram, dadanya pun terasa sesak. ia tak menyangka Vanessa sudah menikah, dan memiliki dua anak perempuan. Namun bukan itu yang membuatnya terlihat murka, tapi setelah mengetahui siapa nama suaminya.


Ferdinan Raka Mahendra!


Yah, tentunya aji tak asing lagi dengan nama itu. Terlebih di dunia bisnis, nama Ferdinan sangat terkenal. Bukan hanya marganya saja, kini orangnya pun sudah masuk dalam blacklist aji untuk segera di musnahkan.


Sejak jaman ayahnya dulu, keluarga Mahendra memang sudah menjadi musuh bebuyutan dirgantara.

__ADS_1


Ah, bukan!


Lebih tepatnya saingan terberat Mahendra adalah dirgantara, karena kala itu reputasi perusahaan milik keluarga Ferdinan belum terlalu besar. Beda sekali dengan masa sekarang yang hampir setara.


Selain itu, baik Fandy maupun Rusman memang memiliki dendam pribadi yang kenyataannya aji sudah mengetahuinya. Ayahnya itu pernah mengatakan jika saat masa sekolah dulu rusman adalah rivalnya, baik itu dalam urusan pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.


Dan semenjak tahu siapa ayah kandung Alya dan siapa keluarganya, membuat pandangan aji terhadap Alya berubah. Ia mulai membenci sosok Alya dan berniat ingin menjauhkannya dari Kevin, padahal Tadinya ia sempat simpati dengan kehidupan Alya yang sebatang kara dan mengira Alya adalah gadis yatim piatu. Tapi nyatanya salah, gadis itu masih memiliki keluarga lengkap.


Tak bisa di pungkiri dalam benaknya pun merasa heran kenapa dan apa yang terjadi dengan keluarga itu, sehingga membuat cucu dari Rusman Mahendra itu hidup sengsara. Juga, dia sama sekali tidak tahu tentang pernikahan Ferdinand dan vanessa.


Entah dirinya yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan atau memang dirahasiakan sehingga tak tahu sedikitpun tentang hal itu, termasuk soal kecelakaan maut yang dialami keduanya.


Padahal setahunya selama ini kehidupan Rusman dan putra sulungnya dalam keadaan baik-baik saja, begitu pun dengan urusan bisnisnya yang semakin maju.


Ada kabar burung menyatakan jika hubungan antara Rusman dan Ferdinan renggang jauh sebelum insiden kecelakaan menimpa Ferdinan bersama istrinya terjadi, dan juga soal status pernikahan keduanya yang terkesan tertutup. Banyak yang beramsumsi jika dari pihak Rusman tak menyetujui itu, dikarenakan status sosial Vanessa yang rendah.


Aji pernah mendengar kabar itu, tapi waktu itu dia tak terlalu memikirkannya. Menurutnya, selama tak mengganggu intensitas kinerja perusahaannya. Maka hal itu di anggap tak penting.


Namun siapa sangka, wanita yang di nikahi Ferdinan adalah Vanessa. Meski benci, tapi aji akui Ferdinan jauh lebih berani ketimbang dirinya yang dulu. Rasa kecewa dan penyesalan mulai merasuki dirinya, saat melihat foto-foto kebersamaan mereka.


Tak perlu di jelaskan secara rinci, cukup melihat dari hasil penelitian dari anak buahnya, aji sudah menilai kehidupan Vanessa dan Ferdi memang sangat bahagia. Meski gaya hidup mereka kala itu masih sederhana dan tinggal dirumah kecil, namun aura kebahagiaan itu begitu terpancar di wajah keluarga kecil tersebut.


Aji tentu saja merasa kecewa, bukan karena Vanessa sudah mencintai pria lain. tapi kenapa dari banyaknya pria yang ada di dunia, kenapa harus Ferdi yang ia nikahi. Kenapa harus dari keluarga Mahendra yang Vanessa pilih sebagai suaminya, kenapa tuhan terasa begitu tak adil memberikannya jalan takdir.


Sepanjang tahun setelah mengetahui fakta itu, aji selalu menyalahkan Tuhan dan beramsumsi bahwa dirinya tak layak bahagia. Dalam benaknya selalu bertanya, Kenapa orang di bencinya justru memiliki kehidupan yang baik, sedangkan dirinya tidak.


Jika saja dulu aji tetap bersikeras menentang keinginan sang ayah dan melindungi Vanessa, mungkin saat ini ia sudah hidup bahagia dengan wanita dicintainya itu. Memiliki banyak anak dan cucu.


Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Khayalannya yang bisa hidup bahagia dengan Vanessa tak pernah bisa tercapai, dan itu akibat dari kebodohannya sendiri. Dia akui Nyalinya tak sebesar nyali Ferdinan, sehingga kini aji hanya bisa meratapi takdirnya.


Takdir?


Yah, takdir. Mau semuak apapun aji dengan keadaan yang ada, tetap saja ia harus bisa menerimanya. Bagaimana tidak, disaat ia tengah membubuhkan kebencian terhadap Vanessa dan Ferdi, nyatanya Tamara kenal baik dengan Ferdi. Bahkan, bisa dikatakan mereka adalah sahabat sejak masa sekolah.


Ditambah dengan keadaan yang sekarang, kedua putranya sudah menikah dengan anak-anak Vanessa dan Ferdi.


Entah ini sebuah karma yang harus dia terima, atau memang sudah jalan takdirnya begitu. Namun satu yang pasti, aji akan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka. Tak perduli dengan keadaan Kevin yang kala itu masih menjalani terapi akibat penyakit mentalnya, aji tetap melakukannya.


Bahkan, hingga detik ini pun aji masih terus berusaha mencari celah agar pernikahan Alya dan Kevin bisa kandas. Berbagai hasutan dan jebakan sudah aji turunkan, tentunya dengan bantuan Mayra.


Namun upayanya tak ada hasil, baik Kevin maupun Alya sama-sama tak terkecoh. Walaupun sepanjang usia pernikahan mereka yang baru jalan beberapa bulan selalu ada argumen kecil, tapi selalu berakhir damai.


Sudah pasti itu dikarenakan sifat keduanya yang bertolak belakang, Kevin si cuek dan keras kepala dan Alya si yang selalu mengalah. Ditambah keduanya pun sudah tahu dengan fakta yang ada, bahwa aji masih berusaha menghancurkan hubungan keduanya.


Untuk hubungan Rafael dan Selena, aji tak terlalu memusingkannya. Karena sejak awal dia memang sudah tahu, Rafael bukanlah pelaku yang sebenarnya. Selain itu, dia juga sudah tahu tentang siapa Selena sebenarnya yang ternyata bukan anak kandung dari ferdi dan Vanessa.


Hanya saja hingga saat ini aji masih dilanda kebingungan dengan pilihan Rafael, yang menurutnya sangat bodoh. kenapa putra sulungnya itu mau membantu Selena, sampai berbuat pengakuan palsu di depan keluarga besar dan media bahwa ia sudah meniduri Selena hingga hamil. Menepis segala berita buruk tentang Selena yang tadinya disangka sedang hamil anaknya Chandra.


Terlebih setelah mereka sudah menyandang sebagai suami istri, tingkah dan perilaku Rafael langsung berubah. Rafael yang selama ini aji tahu memiliki watak dingin dan irit bicara, berubah menjadi hangat dan cerewet. Rafael yang dulu suka ambil lemburan di kantor, dan suka menghabiskan waktunya dengan temannya kala libur. Kini sudah tak ada lagi, pria itu selalu pulang sesuai jam kerja pada umumnya dan mengurangi aktivitas di luar.


“mama perhatikan gak sih, sejak nikah kayaknya rafa berubah deh.” ujar aji pada Marissa di suatu hari.


Marissa yang kala itu tengah sibuk di dapur dengan segala peralatan masaknya mendengar perkataan sang suami, namun ia  tak langsung merespon. wanita itu mengernyit, seraya menoleh ke arah lawan bicaranya yang sedang duduk di kursi yang ada di ruang makan sambil menikmati kopinya.


“maksud papa berubah gimana?” balasnya, dengan nada bertanya.


“dia sering pulang cepat.” sahut aji.


“itu bagus dong!” ujar Marissa penuh senyuman, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


“tapi menurutku aneh, gak biasanya dia begitu.”


Sejenak, Marissa tersenyum tipis. Dalam pikirannya beramsumsi suaminya tak akan paham dengan perasaan Rafael, karena aji sendiri pun tak pernah begitu saat dirinya mengandung Dylan.


Bukan hanya dirinya, tapi saat Tamara masih hidup pun aji tak pernah ada waktu untuknya. Setiap ditanya selalu di jawab dengan alasan sibuk dengan urusan kantor, pun saat hari libur aji selalu menghabiskan waktunya diluar bersama wanita lain. Jadi sudah jelas, aji tak akan pernah faham bagaimana bahagianya perasaan Rafael saat itu.


“gak aneh kok pah, menurutku itu wajar. Kan sekarang dia bukan pria lajang lagi, ada istrinya yang menunggu kepulangannya. Mana lagi hamil muda pula, jelaslah Rafa bakal cepet pulang.”

__ADS_1


Aji yang mendengar ucapan Marissa hanya diam saja, namun otaknya merespon dengan baik. Dan apa yang dikatakan istrinya memang benar, perubahan Rafael cukup di anggap wajar bagi yang mengira kalau mereka bisa menikah atas dasar cinta.


Namun sayangnya aji sudah tahu dengan keadaan yang sebenarnya, bahwa diantara mereka tak ada rasa cinta sama sekali. Meskipun ia sendiri pun tahu, jauh sebelumnya Selena dan Rafael sudah saling mengenal.


Menurutnya, Rafael memang tak memiliki rasa sedikitpun terhadap Selena, begitu pun sebaliknya. Ia menganggap pernikahan putra sulungnya itu hanyalah sebagai alibi untuk menutupi skandal yang sebenarnya, dan sebagai seorang teman sekaligus mantan bos, Rafael ingin membantunya.


Beda halnya dengan Kevin dan Alya, aji tentu saja tahu diantara keduanya masih ada rasa dan itu sangat besar. Tak perlu bertanya ataupun di telisik lebih dalam lagi, cukup melihat dari kejauhan saja ia sudah mengerti. Kendati begitu, aji masih bisa merasakan ada aura kemarahan dan kekecewaan di sorot mata kevin.


BRAK!


Dari posisinya, aji nampak terperanjat kaget dan lamunannya seketika Buyar begitu mendengar suara yang cukup nyaring itu, pasang mata sipitnya melirik ke asal suara yang ternyata ada sebuah figura foto yang jatuh ke lantai marmer.


Dalam beberapa detik tatapan aji terpaku pada figura tersebut, ekspresi wajahnya pun begitu datar dan terlihat sedikit pucat. Di detik berikutnya nampak jakunnya narik turun, bersamaan dengan itu ia mulai merasakan hawa panas di kedua matanya.


‘tamara..’


batinnya berucap begitu lirih, kemudian beranjak dan jalan mendekat. Setelahnya ia meraih figura tersebut, dan menatap gambar seorang wanita yang tak lain adalah foto Tamara.


Saat ini aji sedang berada di ruangan khusus, suatu tempat yang hanya dirinya saja yang tahu. keadaan sekitar begitu temaram, karena sinar lampu nakas yang berada tak jauh dari posisinya berada.


Setelah kepergian sang ayah dan putra sulungnya, aji memang langsung pergi dari ruang tengah. Bahkan, Marissa yang melihat itu tak melarangnya. seakan tahu dengan suasana hati suaminya, wanita itu pun tak ingin mengganggu.


Jika suasana hatinya sedang tak baik, biasanya aji selalu melampiaskan itu dengan minum alkohol sampai mabuk. Jika tidak, dia akan menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan wanita lain.


Namun untuk sekarang sepertinya tidak, dia lebih memilih untuk berdiam diri diruangan temaram dan sunyi itu. Tempat yang bisa disebut seperti gudang, karena disana aji menyimpan begitu banyak barang-barang pribadinya.


Mungkin tak akan terlihat betapa luas dan rapinya ruangan tersebut, karena keadaannya sedikit gelap. Namun jika sakral lampu sudah dinyalakan, akan terpampang jelas sebuah ruangan yang notabenenya di isi oleh barang-barang mahal dan elegan dan sebagian besar pemilik barang-barang itu adalah Tamara.


Letak ruangan itu pun sangat tersembunyi, karena aji mendesainnya Serapi dan serapat mungkin agar tak terendus oleh keluarganya. Bahkan Fandy sendiri yang notabenenya pemilik asli rumah tersebut, tak tahu apapun soal ruangan tersebut.


Yah, ruangan itu memang masih berada di dalam rumah megah dirgantara. Hanya saja keberadaannya tak ada yang tahu, kecuali aji sendiri.


Aji masih berdiam diri di tempatnya, dengan keadaan yang sama. sepasang mata yang tadinya kering, kini berubah banjir dan secara perlahan bulir bening itu keluar membasahi pipi tirus dan sedikit merona itu.


Apakah aji sedang menangis? Mungkinkah pria yang memiliki watak keras dan egois itu bisa menangis, saat menatap figura mantan istrinya yang tak sengaja jatuh?


Yah, itu benar. Saat ini, detik ini, menit ini, jam ini, dan hari ini seorang setyoadji dirgantara sedang menangis sambil terus menatap figura Tamara Zain. Mantan istrinya yang 24 tahun lalu meninggal setelah beberapa menit melahirkan putra bungsunya akibat mengalami pendarahan hebat, bayi yang ia beri nama Kevin Zain dirgantara.


“aku tahu mas, sampai detik ini kamu belum bisa cinta sama aku. Tapi bisakah kamu hargai keberadanku? Biar bagaimanapun aku ini sudah sah menjadi istrimu, wanita yang sudah menjadi tanggung jawabmu di dunia maupun di akhirat.” ucap Tamara di suatu malam, kala itu aji baru saja pulang.


Bukan tanpa alasan Tamara bisa berkata begitu, itu dikarenakan semenjak menikah aji sudah bersikap cuek padanya. Bisa dikatakan Tamara seperti tak di anggap sebagai istrinya, meskipun keduanya sudah pernah berhubungan badan.


Kala itu aji tak banyak berkomentar, menurutnya selama ini ia sudah semaksimal mungkin menjalani perannya sebagai suami yang baik. Meski ia akui sifat cueknya sangat keterlaluan, mendatangi Tamara pas ada maunya saja. Selebihnya, dia akan bertingkah seperti tak mengenali Tamara.


“selama ini aku sudah mencoba menjadi apa yang kamu mau, juga dengan keluargamu. Apa kalian tak bisa melihatnya?” ujar aji dengan penuh kekesalan, kala Tamara selalu meminta perhatiannya.


“aku bisa melihatnya mas, tapi itu semua akan berakhir sia-sia jika pada akhirnya bukan aku yang menjadi satu-satunya. Apakah pelayananku selama ini kurang, atau aku kurang menarik di matamu sehingga kamu lebih suka menghabiskan malam-malam panjangmu sama ****** di luar sana!”


“tidak!”


“lalu kenapa kamu masih suka jajan diluar, sedangkan dirumah ada aku!”


“karena inilah hidupku! Ini gayaku! Seharusnya sebelum kau menyetujui pernikahan konyol ini, cari informasi dulu tentangku. Biar endingnya tak begini! Sekarang aku tanya padamu, apa kamu menyesal menikah denganku?”


Tamara menggeleng. “tidak sama sekali, karena aku tahu kamu bohong. Aku tahu siapa kamu mas, dan kamu bukanlah tipe pria yang suka main wanita. Justru kebalikannya, aku merasa sangat beruntung karena mami dan papi menikahkanku denganmu. Meski alasan utamanya adalah soal perusahaan, tapi percayalah mas, cintaku padamu begitu murni dan tulus.”


Aji yang mendengar ucapan panjang Tamara hanya bisa diam membisu, netra sipitnya menatap datar wajah ayu istri bulenya tersebut.


CUP!


Dalam kebisuannya, aji di buat tercengang kala Tamara jalan mendekat dan mengecup bibirnya kemudian mengalungkan kedua tangannya di lehernya.


“aku juga tahu soal perasaanmu yang masih ada nama wanita itu, dan aku tak akan marah soal itu. Karena aku sadar, aku hanyalah orang ketiga. Tapi bisakah aku ikut mengisinya, aku ingin ada namaku juga di dalam sini.” ujarnya kemudian, seraya sebelah tangannya menyentuh dada bidang sebelah kiri milik aji.


“mustahil!” elak aji dengan penuh penegasan.


“tak ada yang mustahil dalam dunia ini, aku berani jamin kamu akan jatuh cinta sama aku dan melupakannya.” balas Tamara dengan suara berbisik.

__ADS_1


__ADS_2