
“Ambilkan koperku yang ada di dalam lemari sana, dan masukkan semua perlengkapanku.”
Suster hana yang mendengar itu terkejut, ia pun menatap wajah kakek fandy.
“Kakek mau kemana?” Tanyanya.
“Saya akan ikut rafa pulang ke indonesia.”
“Berarti saya juga harus ikut dong?” Sahut suster hana, dengan matanya sedikit melebar.
“kamu keberatan?”
Mendengar itu suster hana langsung menggeleng, wajahnya berubah sumringah.
“Jelas saja saya tak merasa keberatan sama sekali, justru saya sangat senang. Karena sejak dulu ingin pergi ke negara itu, namun selalu terhalang biaya. saya pernah cerita kan sama kakek, kalau pacar saya kerja disana?”
Kakek fandy mengangguk mengiyakan, ia masih ingat suster hana sering curhat padanya soal pacarnya yang bekerja di salah satu perusahaan tekstil yang ada di jakarta.
Bukan hanya pada kakek fandy, suster hana juga suka curhat ke marissa. Karakternya yang suka bicara dan ceplas-ceplos membuatnya mudah akrab dengan siapapun, Termasuk kakek fandy dan marissa.
“Mau berapa hari kakek disana?” Tanya suster hana lagi, seraya jalan mendekati lemari.
“Kurang tahu, mungkin agak lama. Kau siapkan saja semua keperluan yang sering ku gunakan.” Jawab kakek fandy.
“Baik, kek.”
...💐💐💐...
di lantai atas, lebih tepatnya di kamar rafael dan marissa sudah selesai dengan urusannya. Dua koper dengan berukuran besar dan sama-sama warna hitam itu sudah terparkir manis di ujung ranjang, di atas salah satu koper itu nampak ada ransel mini warna coklat.
Rafael tak tahu pasti apa saja isinya, namun ia sempat memperhatikan marissa memasukkan keperluan pribadi selena ke dalam tas tersebut.
Pria itu tak perlu heran lagi kenapa marissa bisa begitu yakin apa yang dia persiapkan, itulah yang akan selena perlukan. Karena semenjak selena pindah ke rumah ini, semenjak itu pula marissa akrab dengan menantunya itu.
Tak sekali dua kali rafael selalu pergoki mama dan istrinya terlihat menghabiskan waktu bersama, entah itu hanya sekedar mengobrol sambil bersantai atau menemaninya memasak. Intinya, kedua wanita beda generasi itu selalu terlihat kompak.
“Sudah kau pesan tiketnya?” Tanya marissa.
Rafael yang kala itu duduk di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya, nampak mengangguk.
“Sudah ma.” Jawabnya, tanpa menoleh.
Jemari kekarnya begitu lincah berselancar di layar datar itu, seperti sedang mengetik.
“Ya sudah, kamu segera hubungi ardian dan suruh dia antar langsung ke bandara.”
“Nomornya gak aktif ma, sedari tadi rafa udah coba hubungi tapi gak nyambung-nyambung. rafa udah kirim pesan, tapi hanya ceklis satu.”
“Kalau hani?”
“Sama juga.”
“Ck! Lagi ngapain mereka berdua itu, kenapa sampai acara matikan ponsel. Ya sudah kamu hubungi selena, tapi jangan bilang apa-apa dulu.”
Rafael manut, ia pun menelpon nomor istrinya. Terdengar helaan nafas lega keluar dari mulutnya, begitu kontak selena tersambung.
[Halo, mas?]
Tak sampai menunggu lama, rafael mendengar sahutan dari sang istri.
“Kamu ada dimana? Masih di pusat perbelanjaan?”
[Enggak mas, aku lagi ada di kedai es krim.]
Mendengar kata es krim membuat kening rafael mengernyit. “es krim?”
[Iya mas, tadi hani ngajakin aku kesini. Katanya dia pengen makan yang dingin dan manis gitu, buat naikin moodnya yang rusak karena..]
[Selena!]
Bruk!
Tut..tut..
Belum sempat ucapan selena terselesaikan, rafael sudah mendengar suara lain yang memanggil selena dengan suara keras. Tak lama setelah itu terdengar suara benda jatuh dan keributan, dan panggilan pun terputus begitu saja.
Seketika itu pula rafael terlihat panik, beberapa kali ia memanggil kembali selena seraya menempelkan ponselnya ke telinga dan menatapnya secara bergantian. Namun hasilnya nihil, tak ada jawaban. Meski nomornya masih aktif.
Sementara itu marissa yang melihat tingkah rafael nampak heran, ditambah dengan ekspresi wajahnya yang tak enak.
“Kamu kenapa raf?” Tanyanya kemudian.
Rafael tak langsung menyahut, dia bangkit dari duduknya dan jalan tergesa menuju meja nakas. Dimana kunci mobil dan dompetnya berada.
“Rafa, jawab mama! Ada apa?” Seru marissa, seraya jalan mendekat.
“Aku harus pergi!” Ujar rafael, kemudian melenggang pergi keluar kamar.
“Rafa!”
Kali ini marissa berteriak, seraya jalan keluar kamar menyusul langkah rafael.
“Papa gak boleh pergi kemana pun, ingat sama kesehatan papa!”
“Apa pedulimu?”
“Jelaslah aku peduli, karena aku adalah anak papa. Satu-satunya keturunanmu! Kalau bukan aku yang perduli, siapa lagi?”
Saat sudah berada luar telinga marissa mendengar pekikan dari arah lantai bawah, wanita itu langsung memelankan langkahnya dan berakhir berdiri di balik pagar prmbatas. Pandangannya melirik lantai bawah, ia melihat suami dan ayah mertuanya tengah cekcok.
Tak jauh dari sana nampak ada suster hana dengan penampilan santai, tidak memakai seragam suster seperti biasa.
Namun yang menjadi curi perhatiannya adalah, kedua tangan suster hana tengah memegang gagang koper. Dalam benak marissa mulai bertanya-tanya, siapa kiranya pemilik koper tersebut dan mau pergi kemana suster hana?
Yang merasa bingung ternyata bukan hanya marissa, namun rafael pun begitu. Kini pria itu berdiri di antara tengah-tengah anak tangga, seraya menatap ayah dan kakeknya secara bergantian.
Kejadian seperti ini sebenarnya sudah sering terjadi, ayah dan kakeknya selalu ribut jika sedang berbeda pendapat. Namun sama seperti marissa, perhatian rafael juga terkecoh oleh keberadaan suster hana dan dua koper yang ada di depannya.
Otak jeniusnya mulai menerka-nerka, mungkinkah permasalahan diantara ayah dan anak itu memasuki ranah serius? Tapi tentang apa?
Mungkinkah soal kerjaan? Namun Rafael rasa itu mustahil. Karena setahunya usai pensiun, kakeknya itu sudah tidak ingin tahu apapun soal urusan kantor. kecuali, soal pengembalian barang terbitan zeous grup yang telah di curi.
Jujur saja jika soal itu yang menjadi pokok permasalahannya, rafael menjadi bingung. Karena situasinya tak memungkinkannya untuk memaksa kevin membantunya.
__ADS_1
“Sayangnya papa tak butuh perhatianmu!” Cetus kakek fandy, mata sipitnya menatap tajam putra semata wayangnya.
“Pa..”
“Kau pikir, setelah semua kedokmu terbongkar apa papa akan tetap menurut? Cih, jangan harap!” sela kakek Fandy dengan nada tinggi.
Menyadari itu, aji nampak panik. Dengan gusar ia jalan mendekati kakek fandy, kemudian berbisik.
“Papa jangan keras-keras ngomongnya, nanti--”
“Kenapa? Apa kamu takut jika rafael atau marissa tahu dengan semua rahasiamu?” Potong kakek fandy.
Sedangkan rafael dan marissa yang mendengar itu mengernyit tak paham, rahasia macam apa yang aji simpan sampai kakek fandy nampak murka.
“Apa maksud kakek bicara seperti itu?” Tanya rafael pada akhirnya.
DEG!
Tentu saja hal itu membuat kedua pria berbeda generasi itu terkejut, dengan kompak mereka menoleh ke arah suara.
Aji langsung melebarkan kedua matanya begitu melihat putra sulungnya sudah berdiri di anak tangga, jantungnya seakan jatuh dari tempatnya begitu menyadari di belakangnya juga ada istrinya yang tengah menatapnya curiga.
“Kenapa kalian diam?” Kedua iris mata rafael menatap papa dan kakeknya secara bergantian, dengan sorot nuntut jawaban.
Namun nyatanya kedua pria itu diam bagaikan patung hidup, tentunya dengan ekspresi yang berbeda.
“G-gak ada m-masalah apa-apa raf, ini hanyalah urusan orang tua. Gak terlalu penting.” Ucap aji dengan gugup.
Mendengar itu kakek fandy mendengus, lalu melengos seraya kedua tangannya yang ada di pangkuannya terkepal.
“Kakek..” rafael mengabaikan ungkapan aji, dan memilih memanggil kakek fandy.
Kakek fandy kembali menoleh dan menatap sang cucu, namun bukannya menjawab pertanyaan, ia malah mengucapkan kata yang melenceng.
“Kau sudah siap kan? Sebaiknya kita berangkat sekarang ke bandara.”
“Bandara? Ngapain?” Tanya rafael.
“Kakek akan ikut kamu pulang ke indonesia, kakek ingin menjenguk kevin.”
Marissa dan rafael yang mendengar ungkapan kakek fandy terlihat kaget, mereka tak menyangka jika pria tua itu juga mengetahuinya.
“Kakek tahu kalau penyakit kevin kambuh dan alya... di culik?” tanya Rafael lagi.
Kakek fandy mengangguk, seraya melirik ke arah aji.
“Ya. Dan kakek yakin, hal ini ada kaitannya dengan papamu.”
DEG!
mendengar itu bola mata rafael langsung bergeser ke arah papanya, dua pasang kelopak itu sedikit melebar. Begitu pun dengan marissa, bahkan wanita itu langsung turun ke lantai bawah dan mendekati suaminya.
“Apakah yang di ucapkan papa tadi itu benar, mas? Kamu adalah dalang dari aksi penculikan alya?” Tanyanya.
“Tidak!” Jawab aji tegas.
“Jangan bohong!” Sentak marissa.
“Aku tidak sedang berbohong, bukan aku yang menculiknya tapi orang lain!”
Persetan dengan tata krama terhadap suami, ia sudah lelah menghadapi tingkah arogan aji. Jika bukan demi menjalankan amanah terakhir Tamara untuk menjaga kedua anak dan ayah mertuanya, mungkin sejak dulu dia sudah memilih bercerai dari aji.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Tamara memang berpesan seperti itu. Tentunya setelah ia mengetahui penghianatan antara Marissa dan aji, yang baru Tamara ketahui saat sedang mengandung Kevin di usia 7 bulan.
Terlebih mengetahui tentang keberadaan Dylan yang di akui sebagai anak dari aji, membuat kesehatan Tamara kala itu sedikit terganggu. Meski sebelumnya ia sempat berusaha tegar dan menerima takdir, nyatanya alam seperti tak mengijinkannya untuk bertahan.
Sedangkan aji nampak menghela nafas, kemudian menggeleng. “Tidak, bukan aku.”
“Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi. Hah!! Satu-satunya orang yang ingin melihat alya pisah dari kevin itu cuma kamu, mas!”
“Sudah ku katakan, bukan aku pelakunya tapi orang lain!” Pekik aji sambil melotot.
“Dasar pendusta! Ayah biadab kau, mas! Sudah tahu tubuh kevin selalu lemah kalau emosinya terpancing, ditambah kau juga tahu soal penyakit mentalnya, tapi kamu selalu saja cari gara-gara sama dia! Aku tak menyangka ternyata ada seorang ayah kandung yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri, bahkan kau lakukan itu dengan keadaan sadar! Dimana hati nuranimu, mas?” ucap marissa penuh emosi, wajahnya pun sudah merona.
Mendengar ucapan panjang marissa yang penuh emosi membuat aji membeku ditempat, raut wajahnya yang tadi tegang kini perlahan berubah sendu.
Entah apa yang pria itu pikirkan, mungkinkah dia sudah sadar dengan semua perbuatannya selama ini, atau.. justru dia sedang pura-pura agar tak disalahkan terus? Entahlah.
Di sela-sela situasi itu, rafael kembali jalan. Ia menuruni anak tangga dengan langkah lebarnya, lalu mendekati ayahnya. Tanpa rasa sungkan sedikitpun ia mendorong bahunya, hingga pria paruh baya itu mundur beberapa langkah.
“Aku bersumpah! Di saksikan langsung oleh mama risa dan kakek, jika sesuatu terjadi hal buruk terhadap alya, maka aku tak segan-segan akan membunuhmu! Tak perduli jika kau adalah papahku sendiri, yang penting keadaan adikku kembali baik-baik saja!” Seru rafael, seraya mengarahkan jari telunjuknya tepat di wajah aji.
“Rafa! Jaga ucapanmu!” Teriak marissa dengan mata melotot, ia cukup kaget dengan ucapan rafael barusan.
“Jangan mendebat ma!”
“Tapi dia papamu nak, papa kandungmu. Seburuk apapun perbuatannya, dia tetap orang tuamu!”
“Persetan! Dia saja tak perduli dengan anak dan istrinya, jadi untuk apa aku harus berlaku sopan padanya?”
“Rafa..”
“Cukup ma, aku tak mau mendengar apapun lagi!”
Kemudian rafael berbalik badan, ia menatap marissa.
“tolong suruh pelayan untuk membawa koperku dan selena ke dalam mobil, Aku dan kakek akan langsung berangkat ke bandara setelah menjemput selena.”
Marissa menghela nafas, lalu mengangguk. “Berangkatlah, titip salam dari mama buat mereka.”
Kali ini rafael yang mengangguk, lalu jalan mendekati kakeknya. berdiri di belakang kursi roda, kemudian mendorongnya dan pergi dari sana. Di ikuti oleh suster hana di belakang, sambil kedua tangannya menarik koper miliknya dan kakek fandy.
Sementara marissa langsung memanggil pelayan untuk membantunya untuk membawa keluar koper milik anak dan menantunya, lalu memasukkannya ke bagasi mobil milik rafael.
Sedangkan di ruang tengah itu masih ada sosok aji yang berdiri di tempatnya, dengan ekspresi tak tentu. Ucapan rafael tadi terus terngiang-ngiang di telinganya, dan itu cukup mengusik sudut hatinya.
...💐💐💐...
Siang pun menjelang waktu Indonesia, jarum jam pun sudah mengarah ke angka 12.
Dylan beserta teman-temannya Kevin masih setia menunggu di depan ruang inap, karena mereka belum mendapatkan ijin dari dokter yang menanganinya untuk bertemu pasien.
Menurut info dari suster yang mengeceknya, Kevin masih dalam keadaan buruk. Pria itu terus berteriak untuk minta di lepaskan, bahkan tak sungkan mengamuk jika permintaannya tak di turuti.
__ADS_1
Dylan dan semua temannya tentunya paham kenapa Kevin bisa begitu, karena pikirannya terus tertuju pada Alya. Suami manapun pasti akan merasa khawatir dan cemas jika mengetahui istrinya di culik, terlebih pelakunya ada masalah dengannya.
Namun mereka juga jelas tahu membiarkan penderita anxiety sendirian di suatu ruangan cukup bahaya, terlebih pasiennya seperti Kevin yang memiliki emosi yang tinggi.
Khususnya Samuel, dokter muda itu bisa dikatakan adalah saksi bisu betapa rapuhnya seorang Kevin dirgantara tanpa sosok Alya di sampingnya. Ia masih ingat betul bagaimana hancurnya Kevin ketika mengetahui penghianatan Alya bersama Dylan, padahal kala itu dia juga tahu, jika semua itu hanyalah sandiwara.
Ditambah saat mendengar kabar Alya telah pergi entah kemana, dan sejak itu pula kevin sudah berlangganan di rumah sakit miliknya.
Untuk mengantisipasi agar Kevin tidak melukai dirinya sendiri, Dylan memberi usulan untuk mengikatnya di ranjang serta memberinya obat bius. Bukan maksudnya menyiksa, namun pikirnya itulah yang terbaik.
Setidaknya sampai ia bisa menyelamatkan Alya dari jeratan Roni, dan menghadirkannya ke hadapan sang adik dengan keadaan baik.
Ternyata usulan Dylan di setujui oleh semua temannya dan beranggapan hal yang serupa dengan dirinya, termasuk Samuel.
Namun sebelum sang dokter benar-benar melakukannya, Samuel sempat berpesan untuk membiusnya dengan dosis normal.
Dylan nampak menatap arlojinya, kemudian beralih melirik semua teman-teman adiknya.
“udah masuk jam makan siang, sebaiknya kalian makan dulu sana. Biar gue yang jaga disini.” ujar Dylan.
Mereka pun mengiyakan, karena memang sedari tadi sudah menahan lapar. Namun karena terlalu panik dengan kondisi Kevin, membuat mereka lupa sejenak.
setelahnya satu persatu dari mereka mulai beranjak, Hingga akhirnya tersisa Dimas dan Rangga yang masih setia disana, membuat Dylan kembali bertanya.
“kenapa kalian masih ada disini?”
“gak nafsu!” balas keduanya.
Mendengar itu Dylan menghela nafas, dirinya tahu bagaimana perasaan dua pria itu. Dibanding teman lainnya, Rangga dan Dimas yang paling dekat dengan Kevin.
Bahkan saat di kondisi terburuk pun, kedua pria itu tak pernah menjauhi Kevin. Khususnya Rangga, sejak TK mereka sudah berteman.
Jadi wajar jika melihat kondisi Kevin yang kembali buruk, membuat mereka menjadi seperti ini.
“gue tau kalian khawatir sama kondisi Kevin, tapi jangan sampai mengabaikan kesehatan kalian juga. Kalau kalian ikutan sakit, siapa yang akan bantu gue buat selamatkan alya?”
Sejenak senyap, Rangga dan Dimas tak langsung menyahut. Namun dalam otak masing-masing mencerna ucapan Dylan, dan itu memang benar adanya.
Meskipun Rangga sudah tahu apa yang akan terjadi, tetap saja sebagai sahabat dia merasa khawatir.
“makan dulu sana.” titah Dylan.
Dimas nampak mengangguk, lalu mengajak Rangga untuk pergi yang langsung di iyakan olehnya. Meski dengan berat hati dan pikiran berkecamuk, pada akhirnya kedua pria itu lebih memilih menurut.
Benar apa kata Dylan, khawatir memang boleh tapi jangan sampai mengabaikan kesehatan.
Drrtt..
Sepergian Rangga dan Dimas, Dylan merasakan saku celananya bergetar. Jelas saja ia tahu jika itu adalah ponselnya, pertanda jika ada yang menghubunginya.
Begitu sudah di raih, Dylan langsung menepuk jidatnya karena lupa tentang keberadaan Darren.
Yah, orang yang saat ini menghubunginya adalah Darren. Asisten sekaligus tangan kanannya, yang selama ini membantu mengurus perusahaannya yang ada di China.
“ya, ren.” ucap Dylan setelah panggilannya tersambung.
[Bos ada dimana sekarang?]
“gue sekarang lagi ada di rumah sakit yang ada di bogor.”
Mendengar kata rumah sakit membuat Darren di seberang sana kaget, pria itu yang kini berdiri di ruang tamu nampak melebarkan kedua mata sipitnya.
[Rumah sakit? Siapa yang sakit bos? Perasaan tadi keadaan bos baik-baik aja deh.]
“bukan gue yang sakit, tapi kevin.”
[Oh, saya kira bos yang sakit. Tapi.. Dia kenapa bos? Apakah ini soal penyakitnya?]
Dylan menanggapi tebakan Darren dengan deheman.
[Terus kapan bos bisa kembali ke Jakarta? Bos gak lupa kan kalau kedatangan kita kesini karena ada kerjaan?]
Sejenak Dylan menghela nafas, ia tentunya masih ingat apa tujuan utamanya bisa datang ke Jakarta. Namun kondisinya tak memungkinkannya untuk melanjutkan, jika di paksakan pun nantinya ia tak akan fokus.
“sebenarnya hal ini juga sedang gue pikirkan ren, gue gak bisa ninggalin Kevin sendirian.”
[Suruh Kenzo aja yang temenin bos, atau ambil pelayan atau pengawal yang bekerja di villa Kevin di Bogor. Bukankah dia punya banyak cabang villa di kota itu?]
‘kenzo? ah iya, Kenzo! kenapa gue mesti lupa sama tuh anak sih, dia pasti mau nemenin Kevin sampai bang Rafa datang.’ batin Dylan menggerutu, begitu mengingat soal Kenzo.
Namun detik berikutnya Dylan mengernyit, ia baru menyadari jika Kenzo tak ada disana.
Bukan apa-apa, hanya saja Dylan merasa heran. Biasanya Kenzo dan Kevin tak pernah terpisahkan, mereka selalu terlihat bersama selain karena urusan pekerjaan. Tapi kenapa sekarang Kenzo tak ada, apakah pria itu sedang ada urusan?
Ah, mungkin saja seperti itu. Lagi pula ini hari libur, pasti Kenzo sedang berkunjung ke rumah orang tuanya.
Dylan terlihat manggut-manggut saat memikirkan itu, karena ia tahu setiap weekend Kenzo selalu pulang ke kampung yang letaknya masih ada di area Jakarta.
“ya udah nanti gue bakal hubungin dia suruh kesini.”
[Dia lagi gak ada disana?]
“enggak. Gue duga sih dia lagi pulang ke rumah orang tuanya, kan ini weekend. Oh iya, gue minta Lo tetap stay di rumah ya. Soalnya Abang gue dan istrinya bakal datang, nanti kalau mereka minta nyusul kesini, turutin aja.”
[Baik, bos]
Setelah itu panggilan berakhir, Dylan duluan yang mematikannya dan menyimpan kembali ponselnya ke tempat semula.
Tak berselang lama, Dylan melihat ada seorang suster berhijab melintas sambil mendorong meja yang terbuat dari besi. Di atasnya sudah ada sepiring nasi dan semangguk sayur entah apa, dan satu botol air minum.
“jatah Kevin ya sus?” tanya Dylan seraya bangkit dari duduknya.
Suster tersebut mengangguk samar. “iya pak.”
“biar saya saja yang bawa ke dalam sus, sekalian mau lihat kondisinya. Boleh kan?”
Dylan menatap penuh ke arah sang suster, berharap keinginannya itu bisa di kabulkan.
“boleh pak, asal jangan membuat pikiran pasien terganggu.”
Seketika itu pula senyuman indahnya terbit di wajah tampannya, hatinya lega karena di ijinkan untuk menemui adiknya.
“baiklah saya mengerti, terima kasih.”
__ADS_1
“sama-sama pak, kalau begitu saya permisi.”
Dylan menanggapinya dengan anggukan pelan, kemudian beralih menarik meja besi tersebut.