
“kunjungan biasa?” ulang Kevin, matanya menyipit. “apa kamu tahu, semenjak aku memutuskan tinggal sendiri, baru kali ini dia datang dan dia datangnya pas aku gak ada.” sambungnya.
Mendengar itu Alya kembali menoleh ke arah Kevin, dia terkejut bukan main saat jaraknya begitu dekat dengan Kevin. Spontan dia pun sedikit memundurkan wajahnya, saat merasakan panas di seluruh wajahnya.
“O-oh ya, maaf.. A-aku gak tau.” ucap Alya jujur, karena memang dia tidak tahu soal itu.
“bilang sama aku sekarang, apa saja yang kalian bicarakan.” desak Kevin.
“tidak ada Vin, papa hanya berkunjung biasa aja. Ngobrol biasa layaknya anak dan orang tua.”
Kevin tak langsung menjawab, dengan dua jarinya Kevin meraih dagu Alya dan mengarahkannya tepat ke wajahnya. Sehingga kini keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.
“kamu pikir aku sebodoh itu bisa kamu tipu, hm? meski aku tak bisa mendengar apapun suara kalian tapi gerakan tubuhnya aku tahu, jika kalian membicarakan sesuatu yang penting.”
Perasaan Alya begitu mendengar Kevin tak bisa mendengar pembicaraannya dengan mertuanya merasa lega, untuk saat ini ia masih aman.
“i-itu hanya perasaan kamu aja Vin, aku sama papa aji gak bicara ap--.”
DEG!
jantung Alya bagaikan merosot ke dasar perut saat ibu jari Kevin mengusap bibirnya dengan gerakan lembut, apalagi begitu melihat senyuman miring yang Kevin tampilkan. Alya merasakan jika saat ini dirinya dalam bahaya.
“kamu yakin?” suara Kevin terdengar sensual, membuat Alya yang mendengarnya kalang kabut.
“i-iya.” ucap Alya dengan gugup, seraya sebelah tangannya mendorong dada Kevin agar menjauh.
Namun yang ada Alya malah semakin dekat ke tubuh Kevin, saat tangan Suaminya itu merengkuh pinggangnya.
“V-vin, k-kamu mau apa?” bukan hanya gugup, tapi suara Alya juga terdengar gemetar.
“aku ingin kamu bicara jujur.” bisik Kevin.
“T-tadi kan aku udah bilang jujur.”
“oh ya, berani bersumpah?”
Alya bungkam.
‘aduh.. gimana ini? gak mungkin aku bersumpah jika kenyataannya apa yang aku ucapkan tadi bohong, tapi kalau jujur juga bisa abis aku...’
“V-vin, A-aku--emm.. A-aku..”
“apa sesusah itu untuk berkata jujur?” potong Kevin dengan nada tertahan.
“bukan begitu maksudnya, tapi..”
“tapi apa?”
Alya kembali diam sambil menggigit bibir bawahnya, bola matanya yang bening bergerak gusar.
“kenapa diam, gak bisa jawab. Hm?”
“Em.. vin, aku.. aku..”
“ck, udahlah.” cetus Kevin, seraya menjauhkan dirinya dari Alya.
“kalau kamu gak mau jawab gak masalah, gak penting juga buatku! Terserah, kalian mau bicara apapun aku tak perduli!”
Setelah mengatakan itu Kevin beranjak dari duduknya, meninggalkan Alya yang mematung. Ia berjalan ke arah ruang kerjanya, dan berakhir menutup pintu.
Sementara Alya yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
‘maafin aku Vin, bukannya aku gaj mau jujur tapi.. mungkin inilah yang terbaik untuk kita. aku gak mau setelah kamu mengetahui semuanya, hubunganmu dengan ayahmu semakin buruk.’
Alya kembali mengarahkan pandangannya ke layar tv, sambil kembali mengemil. Namun kali ini gerakkannya sedikit cepat, seperti orang yang kelaparan.
Snack kentang berukuran besar dan bermerek potato itu berhasil dia habisksn tak sampai satu menit setelah kepergian Kevin, bibirnya yang tadi sempat bersih oleh remahan kripik kini kembali belepotan.
Alya meremas bungkus Snack tersebut hingga menjadi gumpalan, lalu dia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Membuang bungkusnya ke tempat sampah yang ada disana, kemudian beralih membuka kulkas dan mengambil satu kaleng susu beruang lalu menegaknya sampai tandas. Sehabis itu, ia kembali melemparnya ke tempat sampah.
Untuk beberapa saat Alya diam di depan pintu kulkas yang masih terbuka, matanya menatap botol kopi berjajar rapi di pintu rak kulkas bagian tengah. Keningnya berkerut, dalam sambil bertanya-tanya apakah semua kopi itu milik Kevin? Walaupun kopi yang dia lihat tak mengandung gula, tapi apa iya Kevin meminumnya?
‘atau.. semua kopi itu milik kak Kenzo atau kak Sean ya?’ batin Alya bertanya-tanya.
“kamu ngapain berdiri di depan kulkas sambil bengong gitu?”
__ADS_1
Alya terlonjak kaget saat mendengar itu, ia menoleh ke arah suara dan ternyata Kevin sudah berdiri tak jauh dari posisinya. Suaminya itu menatapnya dengan tatapan aneh.
Alya menggeleng. “k-kamu mau apa ke dapur, butuh sesuatu?” tanyanya kemudian.
Kevin tak menyahut pertanyaan Alya, pria itu kembali jalan mendekat lalu mendorong tubuh Alya untuk mundur. Tangannya nampak meraih dua botol yang tadi Alya lihat, setelahnya ia kembali pergi tanpa berkata apapun lagi.
“tunggu dulu vin.” dengan cepat Alya mencekal lengan kevin, sebelum langkah suaminya itu semakin banyak.
Sesaat Alya berdesis saat kakinya merasa nyeri, Namun tak ada respon apapun dari kevin, dia hanya menatap Alya dengan datar.
“apa.”
“kamu.. minum kopi?” tanya Alya dengan raut penasaran.
“ya.” jawab Kevin singkat.
“tapi kan kamu gak suka minum kopi vin.”
“bukan urusanmu.” Setelahnya kevin menghempaskan tangan Alya kemudian kembali melangkah dan masuk ke ruang kerjanya, Alya ingin mengejarnya namun tertahan kala mendengar suara kunci.
Dan.. Lagi lagi Alya hanya bisa diam sambil menatap kepergian suaminya, setelah itu Alya memutuskan untuk naik ke tangga menuju kamarnya dengan langkah pelan. Ia baru ingat kalau lepas makan tadi belum minum obat pereda nyeri, dan Kevin juga sepertinya lupa untuk mengingatkannya.
Sesampainya di kamar Alya duduk di sisi ranjang, membuka satu persatu bungkus obatnya. Kebetulan disana juga sudah ada satu gelas berisi air putih, yang sempat ia ambil dari dispenser. Di lantai itu memang sudah tersedia dispenser, Kevin memang sengaja menaruhnya disitu agar jika dirinya maupun Alya ingin minum tak perlu lagi turun ke bawah.
Setelah selesai minum obat, Alya beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Berniat untuk gosok gigi, kemudian kembali keluar dan langsung berbaring di ranjang.
...💐💐💐...
Sementara itu di ruang kerjanya Kevin nampak menatap layar hpnya yang sedang menayangkan tayangan video, apalagi jika bukan rekaman cctv yang ada di kamar istrinya.
Yah, meskipun dirinya sedang kesal dengan gadis itu, tetap saja dalam diamnya dia terus memantaunya meski dari jauh.
Kevin terus memperhatikan semua gerak-gerik Alya, sampai akhirnya istrinya itu terlihat sudah terlelap.
Sekitar 5 menit kemudian Kevin bangun dari posisinya yang kala itu sedang duduk di sofa yang ada di ruangannya, berjalan keluar kemudian berbelok ke sudut ruangan dekat dapur. Ia membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam, 2 menit setelahnya ia kembali keluar sambil membawa kardus besar yang entah isinya apa. Menaiki tangga, lalu masuk ke kamarnya dan di biarkan pintunya terbuka lebar.
Di dalam kamar, Kevin nampak membuka isi dalam kardus itu. Dan ternyata isinya adalah satu set lampu tidur yang sudah di preteli, ia memasang satu persatu alat itu hingga menjadi lampu tidur yang cantik.
Setelahnya ia kembali keluar dari kamarnya sambil membawa lampu tidur itu, dengan langkah pelan dan tak bersuara Kevin masuk ke kamar istrinya. Ia meletakkan benda itu di meja kecil samping ranjang, kemudian menghubungkan kabelnya ke lubang listrik.
Tanpa berucap apapun lagi, Kevin keluar dari kamar Alya dan tentunya dengan cara langkah pelan dan senyap. Bahkan saat menutup pintu pun pria itu melakukannya secara pelan, takut jika Alya akan terbangun dan mengetahui aksinya itu.
...💐💐💐...
Tepat pada jam 6 pagi Alya bangun, dia menguap sambil menggerakkan posisi tubuhnya yang tadinya tidur miring bagian kiri menghadap tembok, kini beralih ke kanan.
Sejenak gadis itu terdiam sambil berkedip-kedip, untuk mengumpulkan nyawanya yang masih di awang-awang. Begitu sudah terkumpul ia pun bangun dari rebahannya, matanya mengamati kamarnya yang masih sedikit temaram.
Alya memang takut dengan satu tempat atau ruangan yang gelap gulita, tanpa ada cahaya sedikitpun. Tapi jika dia berada diruangan temaram rasa takutnya sedikit berkurang, ditambah jika disana ada yang menemani maka rasa traumanya itu akan hilang. Dia hanya takut dengan ruangan yang sangat gelap dan sendirian.
Cukup lama terdiam akhirnya Alya beranjak dari posisinya, ia menurunkan kedua kakinya dan siap bangun. Namun atensinya terhenti kala matanya tak sengaja menatap satu benda asing berada di meja nakas, keningnya berkerut menatap benda tersebut.
“lampu tidur siapa ini, perasaan kemarin gak ada deh?” gumamnya.
Alya merasa aneh, di edarnya kembali semua sudut kamarnya. Dalam pikirannya beranggapan kalau saat ini dia tidak sedang berada di kamarnya, tapi begitu ditelisik lagi dia memang sedang berada di kamarnya.
“ini benar kamarku kok, tapi lampu ini...”
Ucapan Alya menggantung begitu mengingat jika lampu tidur sebelumnya sudah pecah kemarin, tapi kini sudah ada lampu tidur lain yang sudah terpasang disana.
“atau.. jangan-jangan Kevin yang masang ini?” duganya dengan Kening berkerut, tak lama setelahnya ia menutup bibirnya dengan sebelah tangannya sambil matanya melebar.
“astaga.. jika emang benar Kevin yang masang ini berarti dia udah tau dong soal lampu yang pecah itu?”
Alya segera bangun dari kasur, berjalan ke arah meja belajarnya. dia masih ingat jika bekas pecahan itu belum dia buang keluar, tapi masih ada tempat sampah samping meja belajar. Dan seketika matanya melebar kala melihat tempat sampah itu sudah bersih tak bersisa, bahkan plastik yang menjadi pembungkusnya pun sudah di ganti.
“mati aku! Pasti setelah ini Kevin bakal lebih marah lagi sama aku..” ucapnya dengan nada cemas sambil kedua tangannya menjambak rambutnya.
‘yang semalam aja belum kelar, ditambah sekarang! udah fix ini mah dia bakal marah besar!’
...💐💐💐...
Jam setengah 7 pagi Alya keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi, ia menyampirkan tas ranselnya di bahu kirinya. Sementara tangan kanannya memeluk dua buku yang cukup tebal, tak lupa dia juga membawa Kruk pemberian Kevin kemarin.
Hari ini ia sudah mulai masuk kuliah lagi, dan menurut info dari kedua sahabatnya ia dapat kelas jam 8 pagi.
__ADS_1
Saat Alya ingin menutup pintu kamarnya ia di kejutkan dengan suara pintu kamar Kevin yang terbuka dan menampilkan sosok suaminya yang juga sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya sambil mentengteng tas kerjanya, pandangan pria itu menunduk ke arah ponsel yang ada di genggamannya. Jemari kekarnya nampak sedang mengetik sesuatu, dan sepertinya pria itu tak menyadari kehadirannya.
Alya hanya diam mematung di tempat sambil memperhatikan, tak ada niatan untuk menyapa duluan. Bahkan sampai Kevin turun dari tangga pun, ia masih diam. Alya merasa takut jika menyapa duluan maka Kevin akan memarahinya, dan menyuruhnya untuk mengganti barang yang sudah dia rusak.
Bukannya dia tak mau bertanggung jawab, dia bisa saja menggantinya dengan uang tapi perlu di garis bawahi jika ia tak memiliki uang sebanyak itu.
Selama ini uang jajan yang selalu Selena atau Rendy beri selalu dia sisihkan untuk beramal sebesar 80%, sisanya dia pakai untuk dirinya sendiri.
Pada saat itu Alya tak pernah berpikiran untuk menabungnya, jadi dia selalu menghabiskannya.
Alya menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya sejenak, kemudian dia mulai jalan turun tangga dengan menggunakan Kruk.
...💐💐💐...
“selamat pagi nona muda.” sapa Sean dengan sedikit menundukkan wajahnya saat Alya sudah berada di lantai bawah.
Alya nampak mengangguk kaku, meski sudah beberapa kali mendapat julukan itu Alya tetap sama merasa risih.
“i-iya, pagi juga kak sean.” sahut Alya dengan kaku.
Sejak kemarin Alya memang sudah memutuskan untuk memanggil Sean dengan sapaan 'kak', karena usia pria tampan berparas bule itu usianya terlampau jauh darinya dan juga Kevin. Bahkan lebih tua dari kakak iparnya, Rafael.
Mata Alya mengedar ke seisi sudut apartemen yang nampak sepi, hanya ada mereka berdua disana dan hal itu membuatnya heran.
“kevin kemana ya kak?” tanya Alya pada Sean.
“tuan muda sudah pergi ke kantor bersama Kenzo, nona.” jawab Sean.
“hah, udah pergi? Terus dia gak sarapan dulu gitu?” pekik Alya kaget.
Niatnya tadi sebelum berangkat dia ingin membuatkan suaminya itu roti panggang dan susu hangat, tapi Kevin malah sudah pergi duluan.
“sudah nona, hanya minum susu.”
Alya mendesah pelan. “ya ampun.. mana kenyang cuma minum susu doang. ya sudah kak, kita berangkat sekarang aja. Aku ada kelas pagi.”
“baik, nona.”
Setelahnya mereka pun pergi keluar dari apartemen, dengan pelan Alya jalan di depan dan Sean mengikutinya dari belakang. Sebenarnya Alya tak suka jalan pakai tongkat begitu, tapi dia harus melakukannya. Jika tidak, maka suaminya akan lebih murka lagi.
Saat sudah di depan lift, dengan sigap Sean menekan tombol merah dan tak lama setelahnya pintu besi itu terbuka. Bersamaan dengan itu ada seorang pria muda berjas layaknya orang kantoran berlarian ke arahnya, dia ikutan masuk dalam lift.
“penghuni baru ya mba?” tanya pria itu tiba-tiba sambil menatap Alya, dia juga sempat melirik Sean yang berdiri di depannya.
Alya menoleh kemudian mengangguk. “iya, mas.” jawabnya.
“udah lama?” tanyanya lagi.
“baru kemarin.”
“oh.. salam kenal ya mba, nama saya adnan. Tetangga sebelah.” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Tanpa ragu lagi Alya menyambutnya dan menyebutkan namanya.
Senyap melanda, baik Adnan maupun Alya kembali diam. Interaksi mereka cukup sampai di situ, hingga pintu lift kembali terbuka dan mereka berpisah di parkiran.
Mata Alya melotot saat menatap mobil Pajero warna hitam sudah nangkring di parkiran yang biasa mobil Kevin tempati, dia pikir tadi akan berangkat ke kampus dengan mobil biasa, nyatanya salah.
“ini gak salah, aku pergi ke kampus pakai mobil ini?” tanya Alya pada Sean, namun matanya tak lepas dari mobil mewah yang ada di hadapannya.
“tidak, nona. Semalam tuan muda menyuruh saya untuk mengantar nona muda ke kampus pakai mobil ini.” jawab Sean seadanya.
“tapi ini terlalu mewah untukku, yang mobil biasa aja asal masih bisa jalan.”
“mobil biasa?”
“iya, contohnya mobil kijang atau Inova gitu.”
“maaf nona, mobil seperti itu tak ada di bagasi tuan muda. Ini juga mobil yang jarang di pakai tuan, tapi saya sudah membawanya ke bengkel dan tak ada yang rusak. Semuanya aman.”
Alya yang mendengar ucapan Sean membisu, ia terasa aneh dengan kata 'bagasi'. Mungkinkah suaminya itu memiliki banyak mobil, dan semuanya tersimpan di bagasi?
Ah.. mungkin saja seperti itu, bukankah semua orang kaya itu suka mengoleksi barang branded. Terlebih Kevin sudah kaya sejak lahir, jadi sudah tak heran lagi jika memang benar suaminya itu mengoleksi mobil mewah.
“ya sudahlah kita berangkat.” Alya jalan mendekati mobil yang pintu belakangnya sudah di buka oleh Sean.
__ADS_1
‘sumpah demi apapun aku belum terbiasa dengan ini semua, rasanya ini seperti mimpi!’